Sie sind auf Seite 1von 8

PEMERIKSAAN RADIOLOGI (PENCITRAAN)

Pemeriksaan ini meliputi foto polos, foto dengan kontras, ultrasonografi, dan pemeriksaan dengan radionuklir.

Foto Polos Abdomen Foto polos abdomen atau KUB (kidney Ureter Bladder) adalah foto skrining untuk pemeriksaan kelainan-kelainan urologi. Foto polos abdomen dapat menentukan besar, macam dan lokasi batu radio-opaque. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat radioopaque dan paling sering dijumpai diantara batu jenis lain, sedangkan batu asam urat bersifat radiolusen. Batu kalsium:opak MAP: semiopak Sistin: non opak

Menurut Blandy, pembacaan foto yang sistematis harus memperhatikan 4 S yaitu: Side (sisi), Skeleton (tulang), Soft tissues (jaringan lunak) dan Stone (batu).
1. Side: diperiksa apakah penempatan sisi kiri dan kanan sudah benar. Sisi kiri ditandai

dengan adanya bayangan gas pada lambung sedangkan sisi kanan oleh bayangan hepar.
2. Skeleton: perhatikan tulang-tulang vertebra, sacrum, kosta serta sendi sakroiliaka.

Adakah kelainan bentuk (kifosis, skoliosis, atau fraktur) atau perubahan densitas tulang (hiperden atau hipodens) akibat dari suatu proses metastasis.
3. Soft tissues: perhatikan adanya pembesaran hepar, ginjal, buli-buli akibat retensi urine

atau tumor buli-buli, serta perhatikan bayangan garis psoas.


4. Stone: perhatikan adanya bayangan opak dalam system urinaria yang mulai dari ginjal,

ureter, hingga buli-buli. Bedakan dengan kalsifikasi pembuluh darah atau flebolit dan feses yang mengeras atau fekolit.

Selain itu perlu diperhatikan adanya bayangan radioopak yang lain, misalnya bayangan jarum-jarum (susuk) yang terdapat disekitar paravertebra yang sengaja dipasang untuk mengurangi rasa sakit pada pinggang atau punggung, atau bayangan klip yang dipasang pada saat operasi untuk menjepit pembuluh darah.

Pielografi Intra Vena (PIV) Pielografi Intra Vena (PIV) atau intravenous Pyelography (IVP) atau dikenal dengan Intra Venous Urography atau urografi adalah foto yang dapat menggambarkan keadaan system urinaria melalui bahan kontras radio-opak. Pencitraan ini dapat menunjukkan adanya kelainan anatomi dan kelainan fungsi ginjal. Bahan kontras yang dipakai biasanya adalah jodium dengan dosis 300 mg/kg berat badan atau 1 ml/kg berat badan (sediaan komersial). Pada menit-menit pertama tampak kontras mengisi glomeruli dan tubuli ginjal sehingga terlihat pencitraan dari parenkim (nefrogram) ginjal. Fase ini disebut sebagai fase nefrogram. Selanjutnya kontras akan mengisi system pelvikalises pada fase pielogram. Perlu diwaspadai bahwa pemberian bahan kontras secara intravena dapat menimbulkan reaksi alergi berupa urtikaria, syok anafilaktik, sampai timbulnya laringospasmus. Disamping itu foto PIV tidak boleh dikerjakan pada pasien gagal ginjal, karena pada keadaan ini bahan kontras tidak dapat diekskresi oleh ginjal dan menyebabkan kerusakan ginjal yang lebih parah karena bersifat nefrotoksik. Syarat-syarat seseorang boleh melakukan IVP yakni, Tidak memiliki riwayat alergi

Fungsi ginjalnya baik. Cara untuk mengetahuinya yakni dengan mengukur kadar BUN atau kreatininnya. Karena kontras itu bersifat nefrotoksik dan dikeluarkan lewat ginjal, jadi apabila ginjal rusak atau tidak berfungsi, akan sangat berbahaya bagi pasien.

Indikasi dilakukannya pemeriksaan IVP yakni untuk melihat anatomi dan fungsi dari traktus urinarius yang terdiri dari ginjal, ureter, dan bladder, yang meliputi

Kelainan congenital Radang atau infeksi Massa atau tumor Trauma

Tabel : Tahapan Pembacaan Foto PIV Menit 0 5 15 30 60 Uraian Foto Polos Perut Melihat fungsi ekskresi ginjal. Pada ginjal normal system pelvikaliseal sudah tampak Kontras sudah mengisi ureter dan buli-buli Foto dalam keadaan berdiri, dimaksudkan untuk menilai kemungkinan terdapat perubahan posisi ginjal (ren mobilis) Melihat keseluruhan anatomi saluran kemih, antara lain: filling defect,hidronefrosis, double system, atau kelainan lain. Pada buli-buli diperhatikan adanya identasi prostat, trabekulasi, penebalan otot detrusor, dan sakulasi buli-buli. Menilai sisa kontras (residu urine) dan divertikel pada buli-buli.

Pasca miksi

Pada menit ke-5, organ yang dinilai yaitu perginjalan, yang meliputi nefrogram dan sistem pyelocalices (SPC). Nefrogram yaitu bayangan dari ginjal kanan dan kiri yang terisi kontras. Warnanya semiopaque, jadi putihnya sedang-sedang saja. Yang kita cermati pada menit ke-5 ini yaitu Letak/posisi ren. Normalnya, ren kanan lebih rendah dibanding ren kiri. Letak keduanya yaitu setinggi V.T12 V.L3 Ukuran ren SPC. Normalnya berbentuk seperti mangkuk (cupping). Namun apabila terjadi hidronefrosis, SPC akan berubah bentuk tergantung pada derajat hidronefrosisnya. Ada 4 grade hidronefrosis,
1) Hidronefrosis derajat 1. Calices berbentuk blunting, alias tumpul. 2) Hidronefrosis derajat 2. Calices berbentuk flattening, alias mendatar. 3) Hidronefrosis derajat 3. Calices berbentuk clubbing, alias menonjol. 4) Hidronefrosis derajat 4. Calices berbentuk ballooning, alias menggembung.

Gambaran batu, baik batu lusen atau opaq. Apabila ada batu, khasnya yaitu ada filling defek. Pada menit ke-5, contoh penyakit yang bisa diketahui yaitu penyakit-penyakit yang ada di ren, misalnya pyelonefritis, nefrolitiasis, hidronefrosis, massa/tumor renal, dll.

Pada menit ke-15 sampai 30, yang nampak yaitu SPC, kedua ureter, dan vesika urinaria. Tapi kita fokuskan pada pencitraan ureter dan vesika urinaria. Pada ureter, yang diamati yaitu 1) Jumlah ureter. Terkadang, ureter bisa hanya nampak 1 aja, padahal pasien tidak merasakan keluhan apa-apa, dan tidak ada pembesaran di proksimal. Berarti ureternya tetep normal ya, karena bagaimanapun juga ureter tu ada gerak peristaltiknya. Jadi bisa aja pas difoto tuh pas dia lagi kontraksi alias mengecil, jadi tidak nampak ketika difoto. 2) Posisi ureter
3) Kaliber ureter.

Maksudnya diameternya, ukurannya normal atau tidak, atau mengalami pembesaran. 4) Dinding ureter. Apakah dindingnya licin atau tidak, reguler atau irreguler. 5) Ada tidaknya sumbatan/obstruksi 6) Ada tidaknya batu, baik lusen maupun opaque. Kemudian nyatakan bentuk, jumlah, ukuran, dan letak batu.

Contoh penyakit pada menit ke 15-30 diantaranya: hidroureter, ureterolithiasis, ureteritis, cystitis, pembesaran prostat, massa vesikolithiasis, dll.

Sistografi

Adalah pencitraan buli-buli dengan memaki kontras, dimana dapat dilakukan beberapa cara antara lain: (1) melalui foto PIV, (2) memasukkan kontras melalui kateter uretra langsung ke buli-buli, dan (3) memasukkan kontras melalui kateter sistostomi atau melalui pungsi suprapubik. Dari sistogram dapat dikenali adanya tumor atau bekuan darah didalam buli-buli yang ditunjukkan oleh adanya filling defect, adanya robekan buli-buli yang terlihat sebagai ekstravasasi kontras keluar dari buli-buli yang lain. Pemeriksaan ini dapat untuk menilai adanya inkontinensia stress pada wanita dan untuk menilai adanya refluks vesiko-ureter.

Uretrografi Adalah pencitraan uretra dengan memakai bahan kontras. Bahan kontras dimasukkan langsung melalui meatus uretra eksterna melalui klem Broadny yang dijepitkan pada glans penis. Gambaran yang mungkin terjadi pada uretrogram adalah: (1) jika terdapat striktur uretra akan tampak adanya penyempitan atau hambatan kontras pada uretra, (2) trauma uretra tampak sebagai ekstravasasi kontras ke luar dinding uretra, atau (3) tumor uretra atau batu non opak pada uretra tampak sebagai filling defect pada uretra. Untuk menilai panjang striktura uretra dilakukan pengambilan foto (bipolar) sistouretrografi yaitu dengan melakukan pengambilan foto sistografi dengan memasukkan kontras melalui sistostomi bersama-sama dengan foto uretrografi.

Pielografi Retrograd (RPG) Adalah pencitraan system urinaria bagian atas (dari ginjal hingga ureter) dengan cara memasukkan bahan kontras radio-opak langsung melalui kateter ureter yang dimasukan transuretra. Indikasi pembuatan foto adalah: (1) jika ada kontra indikasi pembuatan foto PIV atau (2) PIV belum bias menjelaskan keadaan ginjal maupun ureter, antara lain pada ginjal non visualized.

Pielografi Antegrad Adalah pencitraan system urinaria bagian atas dengan cara memasukkan kontras melalui system saluran (kaliks) ginjal. Bahan kontras dimasukkan melalui kateter nefrostomi yang sebelumnya sudah tepasang, atau dapat pula dimasukkan melalui pungsi pada kaliks ginjal.

USG (Ultrasonografi) Prinsip pemeriksaan adalah menangkap gelombang bunyi utra yang dipantulakan oleh organ-organ (jaringan) yang berbeda kepadatannya. Pemeriksaan ini tidak invasive dan tidak menimbulkan efek radiasi. USG dapat membedakan antara massa padat (hiperekoik) dengan massa kistus (hipoekoik), sedangkan batu non opak yang tidak dapat dideteksi dengan foto rontgen akan terdeteksi oleh USG sebagai echoic shadow. USG dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu pada keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita yang sedang hamil. USG ginjal merupakan pencitraan yang lebih peka untuk mendeteksi batu ginjal dan batu radiolusen daripada foto polos abdomen. Cara terbaik untuk mendeteksi BSK ialah dengan kombinasi USG dan foto polos abdomen. USG dapat melihat bayangan batu baik di ginjal maupun didalam kandung kemih dan adanya tanda-tanda obstruksi urin. Ultrasonografi banyak dipakai untuk mencari kelainan-kelainan pada ginjal, buli-buli, prostat, testis, dan pemeriksaan pada kasus keganasan. Pemeriksaan pada ginjal dipergunakan:
1. Untuk mendeteksi keberadaan dan keadaan ginjal (hidronefrosis, kista, massa, atau

pengkerutan ginjal) yang pada pemeriksaan PIV menunjukkan non visualized, 2. Sebagai penuntun pada saat melakukan pungsi ginjal atau nefrostomi perkutan, dan 3. Sebagai pemeriksaan penyaring pada dugaan adanya trauma ginjal derajat ringan. Pada buli-buli, USG berguna untuk menghitung sisa urine pasca miksi dan mendeteksi adanya batu atau tumor di buli-buli. Pada kelenjar prostat, melalui pendekatan transrektal (TRUS) dipakai untuk mencari nodul pada keganasan prostat dan menentukan volume/besarnya prostat. Jika didapatkan

adanya dugaan keganasan prostat. TRUS dapat dipakai sebagai penuntun dalam melakukan biopsy kelenjar prostat. Selain itu pemeriksaan TRUS dapat pula digunakan untuk menentukan volume vesika urinaria, mengukur sisa urin dan keadaan patologi lain seperti divertikel, tumor dan batu. Dengan TRUS dapat diukur besar prostat untuk menentukan jenis terapi yang tepat. Pada USG ditemukan: Pembesaran kelenjar pada zona sentral Nodul hipoechoid atau campuran echogenic Kalsifikasi antara zona sentral Volume prostat > 30 ml

Pada testis, berguna untuk membedakan antara tumor testis dan hidrokel testis, serta kadang-kadang dapat mendeteksi letak testis kriptorkid yang sulit diraba dengan palpasi. Pada keganasan, selain untuk mengetahui adanya massa padat pada organ primer, juga untuk mendeteksi kemungkinan adanya metastasis pada hepar atau kelenjar para aorta.

CT Scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) Kedua pemeriksaan ini banyak dipakai dalam bidang onkologi untuk menentukan penderajatan (staging) tumor yaitu: batas-batas tumor, invasi ke organ di sekitar tumor, dan mencari adanya metastasis ke kelenjar limfe serta ke organ lain.

Sistigrafi Dengan menyuntikan bahan isotop (radioaktif) yang telah diikat dengan bahan radiofarmaka tertentu, keberadaan isotop di dalam organ dideteksi dengan alat kamera gama. Sintigrafi mampu menunjukkan keadaan anatomi dan fungsi suatu organ. Pemeriksaan ini sekarang banyak digunakan di bidang urologi, antara lain untuk mengetahui faal ginjal (renografi), mengetahui anatomi ginjal pada pielonefritis kronis, untuk mencari adanya refluks vesiko-ureter pada reflux study, mendiagnosis varikokel, torsio testis, dan dibidang onkologi untuk mencari metastasis karsinoma prostat pada tulang.