You are on page 1of 2

ASUMSI DALAM ILMU Secara sederhana ilmu berarti adalah pengetahuan yang sistematis, bermetode, memiliki dasar yang

menjadi kekuatan bukti pembenaran dalam menjelaskan kebenaran dari fakta yang ada di dunia nyata sehingga penjelasan atau jawaban yang dikemukaan oleh ilmu tersebut akan bersifat universal dengan runtutan penjelasannya juga akan memenuhi hukum sebab akibat(kausalitas). Namun demikian suatu fakta tidaklah langsung menghasilkan suatu ilmu, karena fakta yang baru pertama kali masuk ke dalam ruang pikiran manusia hadirnya adalah baru sebatas pengetahuan biasa. Untuk menginterpretasi fakta tersebut menjadi sebuah ilmu bisa saja akan menghasilkan banyak/beberapa kemungkinan jawaban yang benar terhadap fakta tersebut, bisa juga seseorang menginterpretasikan fakta tadi langsung sebagai sebuah keyakinan. Sampai di sini inilah istilah asumsi hadir. Artinya asumsi adalah dugaan awal sebelum memiliki kekuatan pembuktian lebih lanjut, tentu saja hal demikian akan mengarahkan proses munculnya pembuktian-pembuktian dan melahirkan gagasan/ide lebih lanjut dengan hasil akhir sebagai sebuah kebenaran yang bisa diterima dalam bentuk ilmu. Sehingga asumsi awal ini sangat terpengaruh terhadap latar belakang dari si peneliti(ilmuwan), latar belakang peneliti yang berbeda bisa akan menghasilkan bentuk asumsi awal yang berbeda. Dalam melahirkan ilmu diperlukan adanya asumsi untuk memberikan arah kemana selanjutnya permasalahan berdasarkan fakta tersebut dikaji. Dengan demikian fakta awal yang baru sebatas pengetahuan tadi selanjutnya bisa diterima sebagai sebuah ilmu apabila asumsiasumsi darinya dapat diterima seluruhnya dengan kekuatan pembuktian. Dengan catatan di sini bahwa pengetahuan(fakta awal) sebenarnya merupakan suatu kenyataan parsial/sebagian, pemisalan hal ini ada pada ilmu statistik dalam pengujian hipotesis(sebuah asumsi) yaitu ketika fakta berdasarkan sampel dites apakah diterima sebagai bagian dari populasi yang sebenarnya atau tidak diterima melalui uji chi kuadrat, jika diterima berarti hipotesis berdasarkan sampel tadi juka berlaku untuk populasi secara universal. Seperti contoh inilah sebuah asumsi berlanjut/mengerucut sampai akhirnya ada yang dapat diterima sebagai suatu kebenaran atau mungkin bisa ditolak dan justru yang diterima adalah hipotesis alternatif(asumsi lain). Sebagai contoh untuk bagaimana asumsi bisa berbeda adalah sebagai berikut: terjadi kecelakaan pesawat Sungkoi milik negara Rassui saat menabrak gunung Salag kota Bokor, provinsi West Japa. Datangnya fakta yang bersifat parsial ini akan melahirkan beberapa asumsi dari para pengamat tentang menjelaskan bagaimana kondisi pilot akibat kecelakaan itu, asumsi pertama pilot pesawat tersebut pasti meninggal dunia atau masih hidup saja saat itu dan asumsi kedua mengatakan bahwa sang pilot hidup dan mati sekaligus saat kondisinya belum diketahui. Setelah diperiksa ternyata latar belakang pengamat yang berasumsi berbeda, yang pertama adalah penganut kenyataan tunggal, sesuatu tidak mungkin berada dalam 2 kondisi yang sama sekaligus. Sedangkan yang kedua menganut teori peluang, dimana kemungkinan hidup dan mati adalah sama dan tidak ada yang benar dari salah satunya sampai datang fakta lengkap baru yang menjelaskannya. Dan setelah dilakukan evakuasi pilot tersebut ternyata sudah meninggal dunia sebelum pesawat kecelakaan akibat keracunan sianida bukan akibat kecelakaan pesawat, buktinya adalah dari dari kandungan racun sianida di sisa-sisa tubuhnya. Dalam berasumsi harus

disesuaikan dengan fakta yang ada, tidak boleh terlampau muluk-muluk hingga malah menyesatkan, padahal telah diketahui bahwa tujuan asumsi adalah mempermudah penyimpulan jawaban dengan mempersempit kajian dan kemungkinan jawaban yang ada terhadap masalah. Sebagaimana dalam film dokumenter Africans Forgotten Kingdom, menceritakan bagaimana ada dua latar belakang yang berbeda antara Karl Mauch dan Gertrude Caton
Thompson, masing-masing memberikan asumsi awal yang berbeda untuk satu fakta yang sama yaitu bangunan dari bebatuan di Zimbabwe. Karl yang tidak berlatar belakang keilmuan apapun sebagaimana yang diakui dalam komunitas keilmuan di sana dan hanya bermodal otodidak serta sangat bepegang teguh pada keyakinannya juga dorongan obsesi/ambisi di dalam dirinya dalam menemukan sesuatu ketika menemukan bangunan tersebut asumsi awalnya dari disesuaikan dengan sumber keyakinannya dalam Bible atau dengan kata lain dugaan/pandangan tersebut sudah telampau jauh melebihi fakta secuil yang diketahuinya. Meskipun hal ini tidak dapat disalahkan, namun akhirnya hal-hal ini menyebabkan Karl menjadi tidak objektif dan tidak bermetode sebagaimana disiplin ilmu tentang kepurbakalaan dalam menelaah penemuannya tersebut, sehingga hal ini menyebabkan Karl bersifat mencocok-cocokkan saat interpretasi fakta yang ada dengan asumsi miliknya, padahal seharusnya asumsilah yang mengikuti fakta-fakta yang ada apakah asumsi diterima atau tidak. Sehingga asumsi milik Karl mustahil untuk mencapai kekuatan pembuktian dan ditolak oleh komunitas keilmuan yang ada saat itu. Berbeda dengan Karl Mauch, Thompson memiliki latar belakang keilmuan kepurbakalaan, ia diterima dalam komunitas keilmuan di sana. Ketika melanjutkan penelitian bangunan di Zimbabwe yang sebelumnya telah dirintis oleh Mauch(gagal menemukan jawaban yang ilmiah) tersebut Thompson tidak mau langsung berspekulasi dan berpandangan terlampau jauh, dalam penelitiannya pandangan Thompson mengikuti setahap demi setahap fakta yang ditemuinya. Langkah ini membuat setiap jawaban/pandangan/asumsi darinya selalu mempunyai kekuatan bukti berdasarkan fakta yang ada tadi. Langkah ini tentu sesuai dengan prinsip asumsi dalam ilmu sebagaimana yang talah dituliskan sebelumnya.