You are on page 1of 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Arsitektur menurut Yulianto Sumalyo (2003) adalah bagian dari kebudayaan manusia, berkaitan dengan berbagai segala kehidupan antara lain: seni, teknik, ruang/tata ruang, geografi, sejarah. Oleh karena itu ada beberapa batasan dan pengertian tentang arsitektur, tergantung dari segi mana memandang. Dari segi seni, arsitektur adalah seni bangunan termasuk di dalamnya bentuk dan ragam hias. Dari segi teknik, arsitektur adalah sistem mendirikan bangunan termasuk proses perencananaan, konstruksi, struktur, dan dalam hal ini juga menyangkut aspek dekorasi dan keindahan. Arsitektur merupakan bagian dari kebudayaan manusia, dimana menurut Koentjaraningrat (2009) kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Arsitektur tidak akan jauh dari sebuah sistem gagasan (konsep) yang kemudian tertuang dalam sebuah wujud yang nyata yang terlihat dan dapat diraba, hasil karya dari arsitektur menjadikan sebuah kebudayaan yang tercipta dari pembelajaran setiap manusia dalam lingkup bermasyarakat. Arsitektur juga merupakan bahasa yang tertuang dalam bahasa seni yang merupakan kebudayaan dalam setiap peradaban masyarakat. Hidayatun (2005) menjelaskan bahwa arsitektur adalah cerminan dari kebudayaan, oleh karena itu, dari sebuah karya arsitektur, kita dapat mengetahui latar belakang budaya satu bangsa. Istana Alwazkhoebillah Kesultanan Sambas

merupakan sebuah cerminan kebudayaan yang tertuang dalam bentuk wujud bangunan, selain dalam bentuk wujud bangunan Kesultanan Sambas juga memberikan suatu dampak perkembangan dalam sebuah perkembangan wilayah yang menjadikan tatanan wilayah administrasi. Istana Alwazkhoebillah Kesultanan Sambas memiliki latar belakang sejarah dan kebudayaan yang menciptakan terlahirnya sebuah Istana, sistem gagasan (konsep) yang tertuang menjadikan ujud dari sebuah bangunan yang menjadi cikal bakal kebudayaan di masyarakat Sambas saat ini. Istana Alwazkhoebillah merupakan satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan suku bangsa ataupun bangsa, oleh karena itu Istana Alwazkhoebillah merupakan sebuah arsitektur tradisional yang ada dan tumbuh dalam suatu bangsa atau suku bangsa. Arsitektur tradisional merupakan satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan suatu suku bangsa ataupun bangsa. Oleh karena itu, arsitektur tradisional merupakan salah satu identitas dari suatu pendukung kebudayaan (Sugiyarto, 1981/1982). Arsitektur merupakan suatu cerminan kebudayaan yang memiliki latar belakang, dalam perkembangannya Istana Alwazkhoebillah Kesultanan Sambas tumbuh dan berkembang berdasarkan sebuah latar belakang sejarah dari dua periode, yakni pada masa Hindu dan Islam. Pada masa Kesultanan Sambas Hindu, Kesultanan Sambas lebih di kenal dengan Kerajaan Sambas Hindu, Kesultanan Sambas sebenarnya merupakan kelanjutan dari Kerajaan Hindu Ratu Sepudak atau Kerajaan Sambas tua, kerajaan ini berada di bawah pengaruh Kesultanan Johor. Pada waktu itu, Kesultanan Johor sedang menapak zaman keemasan di mana kerajaan ini memiliki daerah taklukan yang luas mulai

menyaingi kebesaran Majapahit di Jawa (Musa, 2003). Kerajaan Sambas tua pada awal mulanya merupakan pengaruh dari ekspedisi Pamalayu Majapahit pada abad ke 14 M, yang di awali oleh pemerintahan yang dipimpin Raden Janur dengan pusat pemerintahan di daerah bernama Paloh. Asal-muasal berdirinya pemerintahan di Paloh bermula dari kedatangan orang-orang majapahit di bawah pimpinan Raden Janur, setelah beberapa saat berinteraksi dengan warga lokal, mereka mendirikan pemerintahan baru dengan Raden Janur sebagai rajanya (Ratih, Tanpa Tahun). Pada pertengahan abad ke 15, pemerintahan di paloh dipindahkan ke Kota Lama, Benuah Bantanan-Tempapan, berjarak 36 kilometer ke arah barat kota Sambas sekarang. Pada tahun 1550 M, pemerintahan di Kota lama dipimpin oleh Ratu Sepudak dan kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Hindu Ratu Sepudak atau Kerajaan Sambas Tua (Ratih, Tanpa Tahun). Seiring berkembangnya Islam di Nusantara, pada tahun 1570 M, pengaruh Majapahit atas Kerajaan Sambas Tua mulai melemah. Di sisi lain, Kesultanan Johor di Semenanjung Malaka justru sedang menapak masa kejayaan, termasuk berambisi untuk menguasai kerajaankerajaan taklukan Majapahit di Sumatra dan Kalimantan, hingga pada akhirnya Johor berhasil menguasai Kerajaan Sambas Tua. Pada masa Kesultanan Sambas Islam, pengaruh Islam yang masuk ke Kerajaan Sambas Tua sebenarnya datang dari Kesultanan Brunei Darussalam yang dipimpin Sultan Muhammad Hasan. Sultan Muhammad Hasan mempunyai tiga orang putra, yaitu Pangeran Abdul Jalilul Akbar, Pangeran Muhammad Ali, dan Pangeran Raja Tengah, dimana Pangeran Raja Tengah (Sultan Tengah) inilah yang kelak menurunkan para penguasa Kesultanan Sambas (Fahmi, 2003).

Pada suatu ketika, dalam perjalan pulang dari Johor ke Serawak, kapal yang ditumpangi rombongan Sultan Tengah dihantam badai sehingga terdampat di wilayah kerajaan Sukadana di Kalimantan Barat. Kerajaan Sukadana pada masa itu masih menganut agama Hindu dengan rajanya yang bernama Raja Giri Mustika, kedatangan Sultan tengah disambut dengan suka cita oleh Kerajaan Sukadana yang berminat menjalin hubungan baik dengan Sultan Tengah yang terkenal pemberani itu. Dari perjumpaan ini atas perantara seorang ahli agama Islam bernama Syeh Syamsudin yang baru saja kembali dari Mekah, Sultan Tengah mengislamkan Raja Giri Mustika beserta sebagian besar rakyat Sukadana. Dan Sultan Tengah dinikahkan dengan adik dari Raja Giri Mustika yakni Ratu Surya Kesuma, dari pernikahan ini dianugerahi tiga orang putra dan dua orang putri, yaitu masing-masing bernama Raden Sulaiman, Raden Badarudin, Raden Abdul Wahab, Raden Rasymi Putri, dan Raden Ratnawati (Ratih, tanpa tahun). Dalam proses peng-Islaman ini menurut Bernard Sellato (1989) dalam Hasanuddin (2000) menjelaskan bahwa proses terbentuknya suku melayu menjadi salah satu suku pribumi asli di daerah Kalimantan Barat diawali dengan masuknya budaya Islam melalui daerah pemukiman hulu sungai besar seperti Sungai Kapuas, Sungai Landak, dan Sungai Sambas. Orang Dayak (suku lokal) yang menganut agama Islam secara langsung mengikuti pola hidup suku Melayu. Proses ini bagi orang Kalimantan Barat bukan Melayu dikenal sebagai proses masuk Melayu. Vlemming dalam Hasanuddin (2000) menerangkan bahwa suku dayak menganut kepeercayaan animisme sedangkan suku melayu identik dengan budaya Islam. Bagi masyarakat dayak, suku melayu adalah suku Dayak Muda atau masyarakat Dayak yang telah memeluk agama islam dan bagi

sebagian orang Melayu, ini adalah pendatang dari sumatera, Sulawesi, dan berbaur dengan masyarakat asli Dayak (Lontaan, 1975). Dari bibinya yang menjadi permaisuri Sultan Johor, Sultan Tengah sering mendengar tentang Kerajaan Sambas Tua. Kerajaan Sambas Tua ketika itu memang masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Johor. Saat di Sukadana inilah Sultan Tengah semakin tertarik untuk mengunjungi Kerajaan Sambas Tua. Maka berangkatlah rombongan Sultan Tengah ke Kerajaan Sambas Tua yang terletak di Kota Lama, Benua Bantanan-Tempapan. Di Kota Lama, rombongan Sultan Tengah disambut hangat oleh Ratu Sepudak. Pemimpin Kerajaan Sambas Tua ini mempunyai dua anak perempuan. Putri yang pertama bernama Raden Mas Ayu Anom dinikahkan dengan Pangeran Prabu Kencana yang tidak lain adalah keponakan Ratu Sepudak sendiri. Sedangkan putri Ratu Sepudak yang kedua bernama Raden Mas Ayu Bungsu. Sultan Tengah sendiri kemudian mendirikan permukiman di Kota Bangun, yang terletak tidak jauh dari Kota Lama, pusat pemerintahan Kerajaan Sambas Tua. Pembangunan permukiman ini atas persetujuan Ratu Sepundak. Akan tetapi, belum seberapa lama Sultan Tengah bermukim di Sambas, Ratu Sepudak wafat. Sebagai penggantinya, maka diangkat Pangeran Prabu Kencana dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Sementara itu, putri kedua almarhum Ratu Sepudak, Raden Mas Ayu Bungsu, dinikahkan dengan putra sulung Sultan Tengah, yakni Raden Sulaiman. Pernikahan Raden Sulaiman dengan Raden Mas Ayu Bungsu dikaruniai seorang putra dan dua orang putri yang masing-masing bernama Raden Bima, Raden Ratna Dewi, dan Raden Ratna (Fahmi, 2003). Pada perkembangan selanjutnya, terjadi perselisihan antara Raden Sulaiman dengan Pangeran Mangkurat, keponakan almarhum Ratu

Sepudak. Pangeran Mangkurat merasa Ratu Anom Kesuma Yuda lebih dekat kepada Raden Sulaiman daripada dirinya yang notabene adalah orang asli kerajaan. Perseteruan itu semakin membesar ketika Kiai Setia Bakti, salah seorang abdi setia Raden Sulaiman, ditemukan tewas terbunuh yang ternyata pelakunya adalah orang-orang suruhan Pangeran Mangkurat. Untuk menghindarkan konflik internal, Raden Sulaiman menyingkir ke Kota Bangun, tempat Sultan Tengah mendirikan perkampungan ketika pertama kali tiba di Kerajaan Sambas Tua. Kabar bahwa Raden Sulaiman keluar dari Kota Lama didengar oleh beberapa petinggi negeri yang masih menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Sambas Tua, antara lain petinggi Nagur, Bantilan, dan Segerunding yang kemudian mengajak Raden Sulaiman pindah ke simpang Sungai Subah dan mendirikan negeri di Kota Bandir (Fahmi, 2003). Tiga tahun berselang, Raden Sulaiman pindah ke simpang Sungai Teberau di Lubuk Madung, dan kemudian pindah lagi ke muara tiga sungai (Sungai Subah, Sungai Teberau, dan Sungai Sambas Kecil), di Muara Ulakan (Fahmi, 2003). Di Muara Ulakan, Raden Sulaiman dinobatkan sebagai Sultan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin I. Sementara dua adik laki-laki Raden Sulaiman, yaitu Raden Baharudin dan Raden Abdul Wahab, masing-masing diangkat sebagai Pangeran Bendahara Sri Maharaja dan Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma (Fahmi, 2003). Dengan demikian, Kesultanan Sambas resmi berdiri di Muara Ulakan, berdampingan dengan Kerajaan Sambas Tua di Kota Lama. Di Muara Ulakan inilah Raden Sulaiman membangun Istana Alwazikhoebillah. Perkembangan Kesultanan Sambas juga tidak lepas dari era Kolonial dimana pada tahun 1609 M, Belanda membuka hubungan dagang dengan Kesultanan Matan di Kalimantan Barat. Dari situ, Belanda mendengar kabar

tentang Kerajaan Sambas Tua di bawah pimpinan Ratu Sepudak yang kaya akan hasil hutan dan emas. Namun baru pada tanggal 1 Oktober 1696 M, wakil Belanda, Samuel Bloemaert, mengadakan perjanjian dagang dengan Kesultanan Sambas yang telah bercorak Islam (Ratih, tanpa tahun). Akhir tahun 1823 Belanda dan Inggris membahas pembagian wilayah atas nusantara dan Malaka. Pada tanggal 17 Maret 1824, Belanda dan Inggris menyepakati perjanjian yang dikenal sebagai Traktat London. Isi Traktat London pada intinya adalah penyerahan negeri-negeri di nusantara dari Inggris kepada Belanda. Sedangkan Inggris berhak atas Malaka beserta tanah jajahannya dan Singapura (Netscher, 2002). Dengan demikian, wilayah Kesultanan Sambas kembali dikuasai Belanda. Sultan Muhammad Ali Syafiuddin I wafat tahun 1828 dan digantikan Raden Ishak atau Pangeran Ratu Nata Kusuma. Tapi karena Raden Ishak belum dewasa, maka pemerintahan sementara dipegang oleh saudara Sultan Muhammad Ali Syafiudin I, Pangeran Bendahara Sri Maha Sultan dengan gelar Sultan Usman Kamaluddin (1828-1830) (Ratih, tanpa tahun). Sultan Usman Kamaluddin wafat tahun 1831 dan kepemimpinan dialihkan kepada adik Sultan Muhammad Ali Syafiudin I yang lain, Pangeran Tumenggung Jaya Kusuma bergelar Sultan Umar Akamuddin III (1830-1845). Ketika Sultan Umar Akamuddin III wafat tanggal 15 Desember 1845, Pangeran Ratu Nata Kusuma dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Abubakar Tajuddin II (Ratih, tanpa tahun). Dengan surat keputusan Gubernemen Hindia Belanda tertanggal 17 Januari 1848, putra sulung Sultan Abubakar Tajuddin II, Syafiuddin, diangkat sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati dan kemudian disekolahkan ke Jawa. Karena berselisih dengan pemerintah kolonial, Sultan Abubakar Tajuddin II diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat, pada tahun 1855. Belanda kemudian mengangkat Pangeran Ratu Negara

sebagai pengganti sultan dengan gelar Sultan Umar Kamluddin (1855-1866) (Ratih, tanpa tahun). Pada tanggal 23 Juli 1861, Pangeran Adipati pulang ke Sambas setelah menyelesaikan sekolahnya di Jawa. Kemudian, pada tanggal 16 Agustus 1866 beliau dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin II (1866 1922). Pada masa ini, Kesultanan Sambas mengalami masa kejayaan, salah satu wujudnya adalah dengan pembangunan Masjid Jami atau Masjid Agung Sambas pada tahun 1877 (Ratih, tanpa tahun). Selain membangun Masjid Jami, sebagai upaya untuk mengembangkan ajaran Islam, Sultan Muhammad Syafiuddin II juga mendirikan Madrasah Al-Sultaniyah. Sebelumnya, pada tahun 1872, Sultan telah membentuk Maharaja Imam sebagai institusi keagamaan tertinggi di istana. Untuk memimpin institusi yang memiliki otoritas terbesar dalam bidang kegamaan ini, Sultan menunjuk seorang ulama bernama Haji Muhammad Arif Nuruddin (Muhammad Rahmatullah,2003). Sebagai calon penggantinya, Sultan Muhammad Syafiuddin II mengangkat Raden Ahmad, sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Ahmad. Akan tetapi, Raden Ahmad, yang dikenal sangat gigih melawan penjajah Belanda, meninggal dunia dalam usia muda karena sakit. Dengan wafatnya Raden Ahmad, maka putra kedua Sultan Muhammad Syafiuddin II yang bernama Raden Muhammad Mulia Ibrahim ditetapkan sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Ratu Nata Wijaya. Saat Sultan Muhammad Syafiuddin II merasa sudah tidak mampu lagi memimpin pemerintahan, sementara putra mahkota dirasa belum cukup umur untuk menggantikannya, maka dipilihlah putra Sultan Muhammad Syafiuddin II dari istri selir, yang bernama Raden Muhammad Ariadiningrat, sebagai pemimpin Kesultanan Sambas untuk sementara dengan

gelar Sultan Muhammad Ali Syafiuddin II (1922 1926) (Fahmi, 2003). Sultan Muhammad Syafiuddin II wafat pada tanggal 12 September 1924. Pada tanggal 9 Oktober 1926, menyusul kemudian Sultan Muhammad Ali Syafiuddin II yang meninggal dunia karena sakit. Dikarenakan putra mahkota masih belum dewasa, maka pemerintahan Kesultanan Sambas untuk sementara dipegang oleh lembaga bernama Bestuur Commisie yang terdiri dari sejumlah pejabat tinggi Kesultanan Sambas dan wakil pemerintah Hindia Belanda (Fahmi, 2003). Namun, Istana Alwatzikhoebillah yang terlihat sekarang ini, baru dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin (1931-1943), sultan ke-15 Kesultanan Sambas. Pembangunan istana tersebut relatif singkat, yaitu dari tahun 1933 sampai tahun 1935. Konon, biayanya yang mencapai 65.000 gulden itu merupakan pinjaman dari Kesultanan Kutai Kartanegara.

1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah dibahas sebelumnya, bahwa arsitektur Istana Alwazkhoebillah Kesultanan Sambas merupakan Kesultanan yang terbentuk dari dua periode yakni periode Hindu dan Islam. Dimana pada masa periode Hindu Kesultanan Sambas dikenal dengan Kerajaan Sambas Tua dan pada periode Islam dikenal dengan Kesultanan Sambas. Kesultanan Sambas juga memiliki kedekatan sejarah dengan Kesultanan Brunei Darussalam, Kesultanan Johor, Kesultanan Serawak, Kesultanan Sukadana, dan Kerajaan Hindu Ratu Sepudak. Terbentuknya sebuah wujud fisik dari sebuah arsitektur Istana Alwazkhoebillah Kesultanan Sambas bila melihat dari latar belakang yang telah dibahas sebelumnya dipengaruhi oleh arsitektur Melayu yang di wakili dari

kedekatan sejarah Kesultanan Brunei Darussalam, Kesultanan Johor, dan Kesultanan Serawak. Arsitektur Alwazkhoebillah Kesultanan Sambas juga bisa dipengaruhi oleh arsitektur Hindu yang di wakili dari kedekatan sejarah dari Kerajaan Sukadana dan Kerajaan Sambas Kuno (Kerajaan Hindu Ratu Sepudak). Akan tetapi bila melihat kembali pada latar belakang sejarah dari Kesultanan Sambas Islam ini merupakan sebuah pemerintahan baru dengan sistem pemerintah yang berbeda dengan Kerajaan Sambas Tua yang terbentuk sendiri dan berbeda wilayah dari kekuasaan Kerajaan Sambas Tua yang kemudian kekuasaan Kerajaan Sambas Tua tersebut menyerahkan kekuasaan kepada Kesultanan Sambas Islam. Arsitektur Alwazkhoebillah juga bisa terpengaruh oleh suatu keadaan dimana kekuasaan dan politik dari penguasa pada masa penjajahan (Kolonial) mempengaruhi arsitektur Istana Alwazkhoebillah kesultanan Sambas. Pada masa penjajahan atau kolonial Belanda, bila melihat dari latar belakang sejarah yang telah dibahas, bahwa terdapat masa dimana kekuasaan Sultan pada Kesultanan kosong tanpa diisi oleh Raja atau Sultan. Pada latar belakang sejarah yang telah dibahas sebelumnya pada tahun 1926-an kekosongan jabatan tertinggi pemerintahan Kesultanan Sambas dipegang oleh lembaga bernama Bestuur Commisie yang terdiri dari sejumlah pejabat tinggi Kesultanan Sambas dan Wakil Pemerintah Hindia Belanda. Dari hipotesis-hipotesis yang telah diuraikan berdasarkan latar belakang yang telah dibahas sebelumnya, maka didapatkan rumusan masalah untuk penelitian ini, adalah: Bagaimanakah konsep Arsitektur Istana

Alwazkhoebillah Kesultanan Sambas apabila melihat dari arsitekturarsitektur yang mempengaruhinya?

1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah

dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini secara umum adalah merumuskan dan mendiskripsikan konsep dari arsitektur Istana Alwazkhoebillah Kesultanan Sambas.

1.4. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian tentang Arsitektur Istana Alwazkhoebillah Kesultanan Sambas di Kalimantan Barat adalah sebagai berikut: 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang Arsitektur Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas khususnya di Kalimantan Barat. 2. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberi masukan bagi pemerintah daerah Istana Kesultanan sehingga menjadikan persfektif keragaman antar Istana-Istana Kesultan di Kalimantan Barat.