Sie sind auf Seite 1von 15

Basic Life Support

Mirna Damar Santi*, Donni Indra Kusuma**

ABSTRACT Many countries have guidelines on how to provide basic life support (BLS) which are formulated by professional medical bodies in those countries. The guidelines outline algorithms for the management of a number of conditions, such as cardiac arrest, choking and drowning. BLS generally does not include the use of drugs or invasive skills. Most laypersons can master BLS skills after attending a short course. BLS is also immensely useful for many other professions, such as daycare providers, teachers and security personnel and social workers especially working in the hospitals and ambulance drivers. Basic life support consists of a number of life-saving techniques focused on the medicine "CAB"s (previously known as ABC. was recently changed by the American Heart Association) of pre-hospital emergency care:

Circulation: providing an adequate blood supply to tissue, especially critical organs, so as to deliver oxygen to all cells and remove metabolic waste, via the perfusion of blood throughout the body.

Airway: the protection and maintenance of a clear passageway for gases (principally oxygen and carbon dioxide) to pass between the lungs and the atmosphere.

Breathing: inflation and deflation of the lungs (respiration) via the airway Key words : basic life support, American Heart Association

* Coassistant Anestesi FK Unissula 12 Desember 2010-12 Jan 2011 ** Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota Semarang

ABSTRAK. ABSTRAK Banyak negara memiliki panduan tentang cara untuk memberikan bantuan hidup dasar atau basic life support (BLS) yang dirumuskan oleh badan medis profesional di negara-negara. Pedoman garis algoritma untuk pengelolaan sejumlah kondisi, seperti serangan jantung, tersedak dan tenggelam. BLS umumnya tidak termasuk penggunaan obat atau keterampilan invasif. Kebanyakan awam dapat menguasai keterampilan BLS setelah mengikuti kursus singkat. BLS juga sangat berguna untuk profesi, seperti tempat penitipan anak penyedia, guru dan petugas keamanan dan pekerja sosial terutama yang bekerja di rumah sakit dan sopir ambulans. Dukungan hidup dasar terdiri dari sejumlah teknik yang menyelamatkan jiwa difokuskan pada " CAB "s (sebelumnya dikenal sebagai ABC baru-baru ini diubah oleh American Heart Association pra-rumah sakit perawatan darurat):

Sirkulasi : menyediakan pasokan darah ke jaringan, untuk memberikan oksigen ke semua sel dan membuang sampah metabolik, melalui perfusi darah ke seluruh tubuh.

Airway : perlindungan dan pemeliharaan jalan yang jelas untuk gas (terutama oksigen dan karbon dioksida) untuk melewati antara paru-paru dan atmosfer.

Pernapasan : inflasi dan deflasi paru-paru (respirasi) melalui jalan napas

Kata kunci: Bntuan Hidup Dasar, American Heart Association

PENDAHULUAN Bantuan hidup dasar atau basic life support (BLS) adalah pendekatan sistematik untuk penilaian pertama pasien, mengaktifkan respon gawat darurat dan juga inisiasi RJP yaitu resusitasi jantung paru. RJP yang efektif adalah dengan 2

menggunakan kompresi dan dilanjutkan dengan ventilasi. BLS boleh dilakukan oleh orang awam dan juga orang yang terlatih dalam bidang kesehatan. Ini bermaksud RJP boleh dilakukan dan dipelajari dokter, perawat, para medis dan juga orang awam. Keadaan di mana terdapat kegagalan pernafasan yang boleh menyebabkan systemic cardiopulmonary arrest (SCA) adalah seperti kecelakaan, sepsis, kegagalan respiratori, sudden infant death syndrome dan banyak lagi. Menurut American Heart Association, rantai kehidupan mempunyai hubungan erat dengan tindakan resusitasi jantung paru, kerana penderita yang diberikan RJP, mempunyai kesempatan yang amat besar untuk dapat hidup kembali. Pasien yang ditemukan dalam keadaan tidak sadar diri atau mengalami penurunan pernafasan selalu diasumsi mempunyai gangguan SCA terlebih dahulu. Terdapat beberapa pembaharuan pada pedoman pada tahun 2010 dan yang dahulu yaitu pada tahun 2005. Pada tahun 2010, terdapat pembaharuan yang besar di mana kompresi didahului sebelum ventilasi.

DEFINISI Bantuan Hidup Dasar atau basic life support (BLS) adalah tingkat

perawatan medis yang digunakan untuk pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa atau cedera sampai pasien dapat diberikan perawatan medis penuh di rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih, termasuk paramedis, dan oleh awam yang telah menerima pelatihan BLS. BLS umumnya digunakan dalam pra-rumah sakit dan dapat diberikan tanpa peralatan medis.7

INDIKASI Indikasi dalam pemberian bantuan hidup dasar : 1. Henti nafas Henti nafas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari korban atau pasien. Henti nafas dapat terjadi dalam keadaan seperti: Tenggelam atau lemas

Stroke Obstruksi jalan nafas Epiglotitis Overdosis obat-obatan Tesengat listrik Infark Miokard Tersambar petir Pada awal henti nafas, oksigen masih dapat masuk ke dalam darah untuk beberapa menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan resusitasi, ini sangat bermanfaat pada korban.

2. Henti Jantung Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernafasan yang terganggu merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba disertai kebiruan atau pucat sekali, pernafasan berhenti atau satusatu, dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar. 8

KONTRA INDIKASI : lebih dari 5-6 menit (mungkin lebih pada kasus tenggelam). Pada keadaan terminal penyakit yang tak bisa diobati. Dipertimbangkan karena tidak efektif pada trauma berat pada dada, trauma toraks internal, emboli udara masif, emboli pulmoner masif, pneumo toraks bilateral/tension, empisema berat serta tamponade jantung.1 TUJUAN BANTUAN HIDUP DASAR Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan untuk: Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.

Memberikan bantuan eksternal terhadapa sirkulasi dan ventilasi dari korban yang mengalami henti jantung atau henti jantung melalui resusitasi jantung paru (RJP).8

PEMBAHARUAN PADA BLS GUIDELINES 2010

Terdapat beberapa pembaharuan pada BLS 2010, berbanding dengan 2005. Beberapa perubahan yang telah dilakukan adalah seperti berikut: 1. Mengenali sudden cardiac arrest (SCA) dari mengenali respon dan pernafasan. 2. Look, Listen dan Feel tidak digunakan dalam algoritma BLS. 3. Hands-only chest compression CPR ditujukkan kepada siapa yang tidak terlatih 4. Urutan ABC diubah ke urutan CBA, chest compression sebelum breathing. 5. Health care providers memberi chest compression yang efektif sehingga terdapat sirkulasi spontan. 6. Lebih fokus kepada kualitas CPR. 7. Kurangkan penekanan untuk memeriksa nadi untuk health care providers. 8. Algoritma BLS yang lebih mudah diperkenalkan. 9. Chest compression merupakan tindakan ang sangat penting dalam CPR karena perfusi tergantung kepada kompresi. Oleh karena itu, chest compression merupakan tindakan terpenting jika terdapat pasien yang mempunyai SCA.8

BLS UNTUK ORANG AWAM Ketika menemukan korban dengan tak sadarkan diri dan tak bernafas hal pertama yang dilakukanorang awam ialah menelepon rumah sakit yang terdekat atau nomor darurat yang lain untuk memulai respon darurat. Instruksi dari rumah sakit haruslah jelas dan merekomendasi CPR untuk orang awam tersebut untuk membantu korban yang tidak bernafas karena kebanyakan pasien yang tidak bernafas adalah yang menghadapai SCA. Jika pasien tidak bernafas atau mengalami gangguan pernafasan, asumsi yang pertama adalah bahwa korban mengalami SCA. Untuk pemeriksaan nadi, orang awan tidak disarankan untuk

memeriksa nadi. Jika untuk orang yang terlatih, nadi diperiksa kurang dari 10 detik dan jika tidak teraba nadi maka chest compression harus dimulai.8

LANGKAH-LANGKAH RESUSITASI KARDIOPULMONAL Pada dasarnya resusitasi jantung mempunyai dua perkara yang harus adalah kompresi dada dan yang kedua adalah bantuan pernafasan dengan menggunakan nafas buatan. Sebelum menolong korban, hendaklah dinilai keadaan lingkungan terlebih dahulu. 1.Circulation dan Chest compression 2.Airway Kompresi dada dilakukan sebanyak 30 kali. Posisi kompresi dada, dimulai dari lokasi prosessus xyphoideus dan tarik garis ke lokasi 2 jari diatas prosessus xyphoideus dan melakukan kompresi dada di tempat tersebut. Untuk kompresi dada yang yang efektif, teknik push hard, push fast harus diterapkan. Kompresi sebanyak 100 kali per menit dengan kedalaman kompresi sebanyak 5cm dilakukan. Selain itu, waktu untuk paru-paru rekoil setelah kompresi juga harus ada. Perbandingan kompresi-ventilasi adalah 30:2. Menurut 2010 AHA GUIDELINES FOR CPR AND ECG, rekomendasi yang terbaik adalah memulai kompresi sebelum ventilasi. Ini adalah karena 30 kompresi dan kemudian 2 ventilasi membawa hasil yang lebih baik karen memperbaiki juga sirkulasi darah. Keterlambatan memberi kompresi dada harus dielakkan. Tambahan pula, kompresi dada boleh bersamaan dengan perbaikan jalan nafas karena reposisi mouth-to-mouth atau penyediaan bag-mask apparatus mengambil waktu. CPR yang dimulai dengan kompresi 30 kali dan kemudian ventilasi 2 kali mempercepat kompresi. Posisikan kepala dalam keadaan terlentang pada alas keras. Periksa jalan nafas korban dengan membuka mulut, masukkan 2 jari dan lihat jika ada benda asing atau darah. Pada korban tidak sadar, tonus otot menghilang sehingga lidah menyumbat laring. Lidah yang jatuh dapat menyebabkan jalan nafas tertututp. Triple manuver dilakukan yaitu dengan head tilt, dan jaw trust untuk membuka jalan napas.8

PELAKU BLS 1. Untrained lay rescuer (orang awam yang tidak terlatih) Untuk orang awam yang tidak berpengalaman, hands only RJP adalah sangat digalakkan dimana hanya kompresi dada yang dilakukan. 2. Trained lay recuer (orang awam yang terlatih) Harus memberikan kompresi dada untuk korban SCA dan jika

penolong cemas boleh memberi ventilasi, maka perbandingan 30:2 dapat dilakukan. 3. Healthcare Provider (penyedia layanan kesehatan)8

Resusitasi yang diberikan selalu tergantung kasus yang dihadapai. Contohnya, jika terlihat korban jatuh secara tiba-tiba, asumsi yang pertama karena SCA. Jika ada korban yang lemas atau korban yang mempunyai obstruksi jalan pernapasan dan mengalami kurang kesadaran, CPR juga diberikan. Ini dimulai dengan kompresi dada sebanyak 30 kali dan diteruskan dengan ventilasi. Jika menemukan korban yang tidak responsif atau tidak bernafas, asumsi SCA selalu dilakukan. 2010 AHA GUIDELINES FOR CPR AND ECC juga mengurangkan penekanan terhadap pemeriksaan pernafasan. Ini karema banyak yang tidak dapat mendeterminasi jika korban mempunyai pernafasan yang adekuat atau tidak. Untuk pemeriksaan nadi, hal yang juga diterapkan. Ini adalah karena pemeriksaan nadi mungkin mengambil waktu yang lama, untuk orang waham maupun untuk orang yang sudah terlatih. Makanya, jika nadi tidak dapt dirasakan dibawah 10 detik, maka kompresi dada dilakukan terus. 8

BASIC LIFE SUPPORT. A. Circulation Support. Berhentinya sirkulasi diketahui bila kita dapati hal-hal sbb : penderita tidak sadar. Apnea atau gasping Deathlike appearance (sianosis atau pucat).

Pada bayi dan anak kecil sebaiknya jangan meraba arteri karotis untuk meyakinkan hilangnya denyut nadi, karena mudah menekan jalan nafas atau menyebabkan laringospasme, lebih baik meraba a.brachialis, a.femoralis, aorta abdominalis, atau denyut jantung preordial. Cara meraba denyut arteri karotis untuk mengetahui hilangnya denyut nadi : 1. Pertahankan kepala tertengadah dengan satu tangan, sementara tangan lain mencoba meraba denyut arteri karotis. 2. Raba leher penderita pada sisi yang dekat dengan penolong, jangan sampai batas tengah, karena bisa menekan jalan nafas, rasakan denyut dengan jari telunjuk dan jari tengah, mula-mula lembut pada larings (Adam's aple) kemudian geser jari-jari tersebut kesamping tekan secara lembut kearah belakang leher; palpasi dengan telapak jari (jangan dengan ujung jari), denyut karotis teraba diantara trakea dan m sternokleidomastoideus. 2,3 External Cardiac Compression (pijat jantung luar) : Posisi penolong ada disamping penderita. Tentukan titik tepat untuk PJL (setengah jarak suprasternal basis xyphoid). Tumit telapak tangan penolong pada titik tersebut, tumit telapak tangan lain diletakkan diatasnya. Tekan dengan menggunakan sebagian berat badan, lurus kebawah, jaga lengan tetap lurus, sternum akan terdorong kearah tulang belakang 4-5 cm. Kombinasi ventilasi dan pijat jantung luar : Titik tumpu pijat jantung ditengah sternum Pijat jantung 30x dengan kecepatan 100 x/menit, diprioritaskan agar tidak ada sela dan beri nafas buatan 2xi2,3

B. Airway management. Merupakan usaha penguasaan jalan nafas

Posisi penderita tak sadar, posisi prone (telungkup) harus dihindarkan karena sulit memberikan pertolongan, menyebabkan obstruksi jalan nafas secara mekanik, serta menurunkan compliance thorax. Membersihkan jalan nafas secara manual : A. crossed-finger maneuver, untuk mandibula relaksasi sedang. B. Finger behind teeth maneuver, untuk mandibula yang kaku. C. Tongue-jaw-life maneuver, untuk mandibula yang lemas. 2,3 CARANYA : Buka mulut dengan salah satu cara, sesuai dengan derajad mandibula. Benda asing cair dikeluarkan dengan 2 jari (telunjuk dan jari tengah dibalut secabik kain/saputangan/gass). Benda asing padat dalam farings dikait dengan ujung telunjuk, atau dijepit dengan 2 jari, telunjuk dan jari tengah. Keluarkan cairan dengan memiringkan kepala penderita. Perlu diingat, jangan memiringkan kepala pada korban kecelakaan, karena akan memperberat trauma pada medulla spinalis, kalau harus memiringkan penderita, miringkanlah keseluruhan penderita dengan membantu memegang kepala, leher dan dada posisi lurus. Menepuk (blows) punggung dan mendorong (trusts) perut sehingga kemungkinan penyebab obstruksi terlepas. Obstruksi benda asing dapat dicurigai pada : 1. Penderita sadar yang mendadak tak bisa bicara atau batuk dan/atau memberikan tanda mecekuk (mencengkam leher). 2. Pada penderita tak sadar, meskipun jalan nafas atas terkontrol baiki, namun paru tak bisa dikembangkan. 3. Bilamana kita saksikan sendiri terjadi inhalasi benda asing, cara yang dianjurkan : Pada penderita sadar, perintahkan untuk batuk, bila tidak keluar suruh buka mulut, korek dengan jari, mulut/faringsnya.

Bila gagal, pada penderita yang masih sadar, lakukan 3-5 kali tepukan di punggung diikuti dengan 3-5 kali tekanan pada perut dan kalau perlu diulangi, penderita dalam posisi berdiri/duduk.

Bila penderita tidak sadar, letakkan horizontal, hembus nafas pelan tapi kuat. Bila gagal lakukan tepukan punggung diantara skapula 35 kali diikuti dengan 3-5 kali tekanan diperut. Bila belum berhasil, ulangi: ventilasi,tepukan punggung,dorongan perut, mengorek mulut sampai berhasil atau sampai ada alat yang bisa dipakai untuk mengambil secara langsung. Jaw thrust akan membantu melebarkan hipofarings 2,3

Triple airway maneuver 20 % pendertia tak sadar dengan backward tilt of head jalan nafas belum terbuka secara baik. Penderita demikian perlu dilakukan triple airway maneuver dengan cara : Backward tilt of head. Membuka mulut. Mendorong mandibula kedepan (jaw thrust).

Pada penderita nafas spontan, posisi penolong pada vertex, jari 2-4/ 2-5 pada rami ascendens mandibula, dorong mandibula kedepan sehingga gigi bawah disebelah depan gigi atas (Esmarch's maneuver). Untuk pernafasan buatan, posisi penolong berada disamping kepala penderita. Pada penderita lemas, dapat dilakukan jaw thrust atau menarik mandibula kedepan . Neck lift tidak boleh dilakukan sama sekali. Pada bayi dan anak kecil, pegang anak dengan kepala kebawah, topang dagu dan leher dengan mulut dan satu tangan, lakukan tepukan dipunggung diantara skapula secara gentle, kemudian lakukan dorongan di dada (jangan diperut, karena akan menekan liver), posisi anak, kita letakkan terlentang diatas lengan kita, dorong dada dengan 2 atau 3 jari. Pada anak yang sadar dan obstruksi hanya sebagian/persial dan masih bisa bernafas spontan dengan posisi duduk/berdiri, jangan dilakukan tindakan dengan posisi kepala dibawah.2,3

10

C. Breathing support. Udara ekspirasi, mengandung 16-18% oksigen, cukup adekuat untuk resusitasi, dengan catatan paru penderita normal dan penolong meniupkan 2 kali tidal volume. Ini akan menghasilkan PaC02 30-40 mmHg dan Pa02 lebih dari 75 mmHg pada penderita. Ventilasi buatan jangan ditunda. Pada apnea akut, udara ekspirasi yang segera dihembuskan pada penderita, jauh lebih baik, dari pada konsentrasi tinggi tetapi diberikan kemudian. Ventilasi buatan langsung dengan udara ekspirasi : 1. Penderita tak sadar, tengadahkan kepalanya. 2. Penderita tidak bernafas kembangkan parunya dengan meniupkan udara ekspirasi kedalam mulut penderita. 3. Bila terasa ada obstruksi, tutup mulut penderita dan hembuskan udara ekspirasi kedalam hidung penderita. 4. Bila hasilnya tetap tak memuaskan, pastikan bahwa kepala tetap tengadah, dorong mandibula kedepan, tarik bibir bawah, coba sekali lagi meniup udara ekspirasi kedalam mulutnya. Ventilasi buatan dapat dilakukan dengan cara : Ventilasi dari mulut ke mulut. Ventilasi dari mulut ke alat. Ventilasi dengan alat : AMBU BAG1,2,3

Teknik ventilasi dari mulut ke mulut : 1. Tengadahkan kepala penderita, satu tangan penolong pada dahi, tangan lain dibawah leher. 2. Jika mulut tertutup, pindahkan tangan yang berada dibawah leher untuk menoparig dagu dan membuka mulut. 3. Ambil nafas dalam-dalam, tempelkan mulut penolong opada mulut penderita secara ketat (pada bayi dan anak kecil : tempelkan pada mulut dan hidung sekaligus), hembuskan nafas kuat-kuat pada penderita dewasa dan lembut pada anak; sewaktu menghembuskan nafas, hindari kebocoran udara lewat hidung derigan memencet lobang hidung dengan jari telunjuk dan ibu jari atau dengan menekankan pipi

11

penolong pada lobang hidung penderita. Lihat gerakan dada apakah mengembang dengan hembusan tadi. 4. Bila terlihat dada naik, lepaskan mulut penolong, hentikan tiupan, letakkan punggung tangan penolong dimuka mulut penderita dan merasakan ekshalasi pasif penderita. 5. Jika ekshalasi selesai, berikan lagi tiupan dalam. Komplikasi : Backward tilt of head (menengadahkan kepala) : Pada orang tua dengan aterostenosis, menegadahkan kepala maksimal,atau memalingkan kepala kesamping bisa menyebabkan gangguan sistem arteri vetebral-basilar, yang berakibat kerusakan batang otak. Pada kecelakaan lalu lintas, menengadahkan kepala maksimal memalingkan kepala ke samping akan memperberat kerusakan/ trauma medulla spinalis dan menyebabkan kelumpuhan, sehingga pada keadaan penderita demikian, hanya moderate backward tilt seperti pada triple airway maneuver yang dianjurkan. External Cardiac Compression (pijat Jantung Luar) : Osteochondral costae terenggang/terpisah. Fraktur kosta multipel, terutama pada orang tua. Fraktur sternum. Flail chest, pneumothoraks, kontusi paru. Tamponade jantung. 2,3

Inflation (hembusan /tiupan) : Lambung menggelembung. Paru robek, terutama pada bayi atau anak jika dilakukan tiupan/hembusan terlalu kuat, terjadi tension pneumothorax. 4,5,6 Monitoring. Monitoring untuk mengevaluasi berhasilnya resusitasi Paru Jantung adalah dengan : mencek pulsasi a. karotis. Pupil dapat dipakai untuk mengevaluasi apakah sirkulasi dan oksigenasi otak adekuat atau tidak.

12

Pada kerusakan otak, baik sedang terjadi atau telah terjadi, pupil akan dilatasi dan tidak bereaksi terhadap cahaya.

Pupil yang dilatasi tetapi dan beraksi terhadap menunjukkan oksigenasi otak yang adekuat.

Pupil yang dialatasi tetapi masih beraksi terhadap cahaya, menunjukkan bahwa kerusakan otak yang serius mungkin belum terjadi tetapi oksigenasi otak tidak adekuat.

Perlu diingat bahwa reaksi pupil mungkin hilang pada penderita dengan katarak, ataupun pada penderita yang diberikan obatobat narkotik, pupil akan mengecil, reaksi cahaya minimal dan sukar dideteksi.

Mengakhiri Resusitasi Paru Jantung: Mengakhiri Rasusitasi Paru Jantung adalah suatu keputusan medis, sebaiknya dilakukan oleh dokter, yang didasarkan atas penilaian status otak dan status kardiovaskuler penderita. Cardiac death : juga disebut irreversible cardiac arrest. Yaitu tidak timbulnya kembali aktivitas EKG setelah 30-60 menit. Brain death : juga disebut cerebral death. Ditandai dengan ketidak sadaran yang dalam, pupil melebar terfiksir, tidak adanya pernafasan. Pada waktu melakukan resusitasi Paru Jantung diketahui bahwa penderita dalam stadium terminal dari penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Penolong kelelahan dan tidak mampu lagi meneruskan resusitasi. Bila terjadi sirkulasi dan respirasi spontan dari penderita, tetapi meskipun demikian penderita jangan ditinggalkan sendiri, harus diawasi secara ketat, karena kegagalan kardiopulmoner bisa terjadi lagi. Tunggu sampai pertolongan yang lebih baik lagi datang menggantikan. 1,2,3

13

KESIMPULAN

Bantuan hidup dasar atau basic life support (BLS) adalah pendekatan sistematik untuk penilaian pertama pasien, mengaktifkan respon gawat darurat dan juga inisiasi RJP yaitu resusitasi jantung paru. BLS boleh dilakukan oleh orang awam dan juga orang yang terlatih dalam bidang kesehatan. Ini bermaksud RJP boleh dilakukan dan dipelajari dokter, perawat, para medis dan juga orang awam. BLS juga sangat berguna untuk profesi, seperti tempat penitipan anak penyedia, guru dan petugas keamanan dan pekerja sosial terutama yang bekerja di rumah sakit dan sopir ambulan. Resusitasi jantung paru adalah usaha yang dilakukan untuk apa-apa yang mengindikasikan henti nafas atau henti jantung. Kompresi dilakukan terlebih dahulu dalam kasus yang terdapat henti pernafasan atau henti jantung karena setiap detik yang tidak dilakukan kompresi merugikan sirkulasi darah dan mengurangkan survival rate korban. Prosedur RJP terbaru adalah kompresi dada 30 kali dengan 2 kali napas buatan. Sistem RJP yang dilakukan sekarang adalah adaptasi dan pembaharuan dari pedoman yang telah diperkenalkan oleh Peter Safar dan kemudiannya diadaptasi oleh American Heart Association.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Safar, P. Resusitasi Jantung Paru Pada Kegawatan Kardiovaskuler. Juni 2009. Available at http://medlinux.blogspot.com/2009/02/resusitasi-jantung-paru-pada-kegawatan 2. Laksana, Ery. Resusutasi Kardiopulmoner. Belajar Ilmu Anestesi. Semarang: Bagian Anestesiologi FK Undip; 2003; 34:100-93. 3. The International Liaison Company On Resuscitation. Adult Basic Life Suport. 2005 : 34-18. 4. The International Liaison Company On Resuscitation. Pediatric Basic Life Suport. 2005 : 166-156 5. The International Liaison Company On Resuscitation. Neonatal Resuscitation Guidelines. 2005 : 194-188 6. The International Liaison Company On Resuscitation. Pediatric Advanced Life Suport. 2005 : 186-167 7. Resuscitation Council (UK) Adult Basic Life Support . Available from URL : www.en.m.wikipedia.org/wiki/basic_life_support, diunduh tanggal 7 Januari 2012 8. Bantuan Hidup Dasar available at

http://www.scribd.com/doc/75668383/anestesi-referat#fullscreen:off

15