You are on page 1of 5

15

4. KEADAAN UMUM TEMPAT USAHA

4.1

Sejarah dan Perkembangan Usaha Usaha pengasapan ikan bandeng (Chanos chanos) ini dimulai pada

tahun 2000. Sejarah pendirian usaha pengasapan ikan bandeng ini berawal ketika pak Achmadi belajar dari seseorang teman yang kemudian

diaplikasikannya di rumah. Pada awalnya masih belum sempurna hasilnya seperti masih terlalu gosong atau kurang matang. Metode pengasapan pada saat itu cara pengasapan ikan bandeng masih menggunakan rak sederhana yang dibuat dari kayu dan pemasarannya menggunakan kotak kaca kecil dengan menggunakan sepeda angin. Pemasarannya pun masih disekitar kota sidoarjo saja. Namun pada hari-hari tertentu pemasaran dilakukan sampai sekitar perbatasan Surabaya sidoarjo atau sekitar daerah Waru. Setelah bertemu dengan seorang dosen fakultas perikanan maka diaplikasikan alat pengasapan sederhana berbentuk seperti drum. Hingga pada tahun 2011 pak Achmadi mendapat bantuan alat pengasap berupa lemari pengasapan dari sebuah program dosen untuk pengabdian masyarakat. Alat tersebut digunakan sampai sekarang dengan beberapa perubahan baik dari segi bentuk dan cara pengasapannya. Dari usaha yang dilakukan tentu ada hambatan dan tantangannya, adapun tantangan dan hambatan yang dialami selama usaha berlangsung : 1. a) Internal Permodalan Dikarenakan sebagai usaha dengan status perseorangan, kadang kala dalam menjalani usaha ini terjadi kekurangan modal sehingga

mempengaruhi kapasitas produksi ikan bandeng asap, permodalan diharapkan terus bertambah untuk mengembangkan usaha dengan

16

pembelian alat-alat produksi, perluasan usaha, promosi produk dan persaingan pasar. b) Pemasaran dan promosi pasar Pemasaran pada awalnya dilakukan dengan cara berjualan keliling dengan menggunakan sepeda angin. Namun setelah memiliki kios di dekat rumah dan dekat tempat produksi maka penjualan dilakukan di kios yang berukuran 2x2 m. Pemasaran dilakukan dengan memajang ikan asap pada etalase yang ada di kios tersebut dan promosi hanya dilakukan lewat mulut ke mulut saja. 2. Eksternal Permasalahan yang dihadapi adalah kurangnya jaringan usaha dalam memasarkan produknya, dan semakin banyaknya saingan yang mulai muncul. Sehingga dalam melakukan kegiatannya harus mempunyai jaringan yang kuat, baik dari pemerintah (instansi terkait) maupun non pemerintahan dan juga komitmen untuk mengembangkan usaha.

4.2

Lokasi dan Tata Letak Tempat Usaha Lokasi usaha ini bertempat di Kelurahan Sidoklumpuk Kecamatan

Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, letak usaha terletak di kota dan dekat dengan alun-alun kota. Yang merupakan tempat strategis untuk pemasaran Tempat pengolahan ikan Bandeng Asap berada didapur sendiri yang terletak dibelakang rumah. Dan letaknya hanya beberapa meter dari stand penjualan ikan bandeng asap yang berada di pinggir jalan.

17

4.3

Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Tenaga kerja pada produksi ikan bandeng asap ada 5 orang, tiga

diantaranya adalah keluarga Pak Achmadi sendiri yang terdiri dari Bapak Achmadi, Ibu Achmadi dan anak mereka yang pertama. Sedangkan 2 orang pekerja adalah pekerja yang dipanggil saat ada pemesanan atau saat produksi dengan jumlah yang besar. Menurut Gendrowati (2004), ada beberapa cara perhitungan atau pertimbangan dasar penyusunan upah dan gaji antara lain sebagai berikut : a) Sistem upah menurut prestasi kerja yaitu sistem pemberian upah yang didasarkan atas prestasi dari pekerja, atau per unit produk yang diselesaikannya. b) Sistem upah menurut lama kerja yaitu sistem pemberian upah yang didasarkan pada waktu yang digunakan untuk bekerja, dari waktu karyawan datang sampai karyawan pulang. Kelemahan sistem ini ialah tidak mendorong karyawan untuk memaksimalkan penggunaan tenaganya, dan upah sama rata bagi buruh yang rajin dan yang malas. c) Sistem upah menurut senioritas yaitu sistem pemberian upah yang didasarkan pada kedudukan karyawan pada perusahaan tersebut, karyawan yang baru saja masuk kerja upahnya berbeda dengan karyawan yang sudah lama bekerja pada perusahaan tersebut. d) Sistem upah menurut kebutuhan yaitu sistem pemberian upah yang didasarkan pada kebutuhan karyawan, tentunya dengan diimbangi kerja karyawan yang profesional.

18

4.4

Struktur Organisasi Unit Usaha Struktur organisasi pada unit usaha ini bertujuan berdasarkan

kekeluargaan, kebanyakan tugas dilakukan secara bersama. Bapak Achmadi dan anaknya yang melakukan bagian proses produksi sedangkan ibu Achmadi bertugas memasarkan produk di kios yang mereka miliki. Menurut Soebroto (2003), struktur organisasi usaha kecil menengah (UKM) memiliki tipikal konfigurasi sederhana (simple structure) yang dalam perkembangannya kemudian bisa berubah menjadi struktur fungsional (functional structure). Rekruitmen karyawan biasanya berasal dari sumber-sumber yang berada di lingkungan sekitar, sanak keluarga, teman maupun sebatas tetangga terdekat. Kondisi seperti ini akan lebih cenderung mengarah pada kultur kerja yang lebih berorientasi pada orang (man centered atau people oriented), tidak

atau sedikit sekali menjalankan formalitas-formalitas organisasi, serta seleksi pekerja lebih didasarkan pada aspek sosial, ekonomi, budaya yang melatarbelakangi bukannya kemampuan ataupun keahlian

profesional yang diperlukan (job centered atau task oriented). Mereka yang direkrut diharapkan bisa dan mau melakukan banyak hal ( general skill), fleksibel dan terbiasa menghadapi dinamika lingkungan yang terus dan senantiasa berubah. Struktur biasanya akan terfokus pada figur pemimpin (leader) sekaligus merupakan pemilik modal yang memegang peran paling dominan dan cenderung menjalankan organisasi dengan kepemimpinan bergaya komandan. Semakin kecil ruang lingkup ukuran (size) kegiatan usaha tersebut akan cenderung mendekati konfigurasi seperti yang telah digambarkan, dan begitu sebaliknya. Dalam hal ini sebuah struktur organisasi yang dirancang lebih formal akan diperlukan

19

untuk aktivitas usaha yang besar dengan maksud untuk menunjukkan tugas, fungsi, peran maupun tanggung jawab dari mereka yang memiliki pengetahuan mengenai industri yang dikelola, ketrampilan yang lebih terspesialisasi, banyak pengalaman usaha dan memiliki jaringan kerja dengan dunia usaha yang lain.