You are on page 1of 17

LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK KEDOKTERAN BLOK LIFE CYCLE PEMERIKSAAN ANALISA SPERMA

KELOMPOK 2 HENDRA HERMAWAN DWITA YOGASWARI MEGA PUTRI K D TIA NURYANI G1A007050 G1A007051 G1A007052 G1A007053

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2008 BAB I PENDAHULUAN I. Judul Praktikum Pemeriksaan Analisa sperma

II.

Tanggal Praktikum Rabu , 09 Maret 2008

III.

Tujuan Praktikum 1. Mengetahui makroskopis dan mikroskopis sperma 2. Mengetahui bentuk normal dan abnormal sperma 3. Menginterpretasikan sperma

IV.

Dasar Teori Siklus hidup manusia, di pandang dari sifat sel yang dimilikinya, tidak berbeda dari mahluk hidup tingkat tinggi yang lainnya, dan dapat di golongkan ke dalam dua fase, yaitu fase haploid dan diploid. Fase diploid adalah dimulai dari zigot, sel telur yang telah dibuahi spermatozoa, sel tunggal asal mula manusia, hingga masuk akhil baligh. Fase haploid yaitu fase yang menghasilkan sel-sel gamet yang bersifat haploid atau disebut fase reproduksi, dimana manusia dapat menghasilkan sel kelamin yang bersifat haploid. Pada laki-laki, selama fase haploid menghasilkan sel kelamin jantan yang disebut spermatozoa (tunggalnya disebut spermatozoon) dan wanita menghasilkan sel gamet betina oosit yang lebih sering disebut sel telur atau ovum. Persatuan dua sel gamet bukan hanya menandai dimulainya manusia baru, tapi juga kembalinya ke fase diploid sehingga menjadi suatu siklus. Spermatogenesis adalah proses pembentukan spermatozoa, sel gamet jantan atau laki-laki. Proses ini berlangsung di bagian tubulus seminiverus testis. Testis terdapat dalam scrotum yang menjaga temperatur testis di bawah temperatur tubuh agar proses spermatogenesis berjalan optimum.

Spermatogonium akan mengalami pembelahan mitosis menghasilkan 2 sel anakan yang bersifat diploid. Satu sel anakan akan tumbuh menjadi spermatosit primer, sedangkan satu sel anakan yang lainnya kembali menjadi spermatogonium. Spermatosit primer membelah secara meiosis mengasilkan dua sel anakan yang bersifat haploid yang disebut spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder masing-masing meneruskan pembelahan meiosis menjadi sel anakan yang disebut spermatid. Jadi, dari dua spermatosit sekunder dihasilkan empat spermatid haploid. Setelah terbentuk empat spermatid, dilanjutkan ke proses

spermiogenesis, yaitu proses perubahan bentuk spermatid yang bulat menjadi struktur sel yang memiliki kepala dan ekor ter masuk proses pembentukan organel khusus sel gamet spermatozoa yang disebut acrosome. Fungsi sel gamet spermatozoa adalah menghantarkan material genetis jantan ke sel telur dan mengaktifkan program perkembangan sel telur. Fungsi menghantarkan materi genetis jantan ke telur di persiapan selama spermiogenesis, yaitu deferensiasi spermatid, membuat struktur pergerakan aksoneme, yaitu struktur yang sama dengan silia dan flagella yang dikenal dengan ekor spermatozoa. Akrosom di sintesis dari organel lisosom selama spermiogenesis. Akrosom adalah organel khusus spermatozoa yang

didalamnya mengandung enzim hidrolitik yang nantinya dapat menembus bungkus sel telur atau zona pelusida. Spermatogenesis dimulai ketika anak laki-laki mencapai akhil baligh. Dimana sistem reproduksi jantan siap bertanggung jawab dan berfungsi di tandai dengan di ekskresikanya hormon-hormon yang diperlukan agar berjalan lancar.

V.

Alat dan Bahan 1. Alat 1. mikroskop 2. pipet tetes 3. gelas/tabung ukur kaca 4. objek glass 5. cover glass 6. pipet leukosit 7. bilik hitung Neubauer Improved (NI)

b. Bahan 1. semen 2. NaCl fisiologis 3. aquadest 4. Larutan fikasasi etanol 95% : eter ( 1: 1) 5. Cat Giemsa

c. Pengumpulan bahan 1. Sediaan semen diambil setelah abstinensia minimal 48 jam sampai maksimal 7 hari dengan cara masturbasi 2. Sediaan semen idealnya dikeluarkan dalam kamar yang tenang dalam laboratorium. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka sediaan harus dikirim ke laboratorium dalam waktu maksimal 1 jam sejak dikeluarkan 3. Sediaan semen dimasukkan ke dalam botol/gelas kaca bermulut lebar, yang ditulisi identitas penderita, tanggal pengumpulan dan lamanya abstinensia 4. Sediaan semen dikirim ke laboratorium pada suhu 20-400C

VI.

Cara Kerja 1. Pemeriksaan makroskopis

a. Warna Normal Berwarna putih kelabu homogen, kadangkala didapatkan butiran seperti jeli yang tidak mencair. Abnormal Jernih jumlah sperma sangat sedikit Merah kecoklatan adanya sel darah merah Kuning pada penderita ikterus atau minum vitamin b. Bau Normal Bau khas seperti bunga akasia Abnoramal Bau busuk infeksi c. Likuefaksi (mencairnya semen) Sediaan diamati pada suhu kamar dan dicatat waktu pencairan Normal Mencair dalam 60 menit, rata-rata 15 menit d. Volume Diukur dengan tabung/gelas ukur dari kaca Normal Lebih dari 2 ml e. Konsistensi Cara : 1. Sampel diambil dengan pipet atau ujung jarum, kemudian biarkan menetes 2. Amati benang yang terbentuk dan sisa ampel di ujung pipet/jarum Normal Benang yang terbentuk < 2 cm atau sisa sampel di ujung pipet/jarum hanya sedikit f. pH Cara : 1. Teteskan sampel pada kertas pH meter

2. Bacalah hasilnya setelah 30 detik dengan membandingkan dengan kertas standar Normal pH 7,2 7,8 Abnormal pH > 7,8 infeksi pH < 7 pada semen azoospermia, perlu dipikirkan kemungkinan disgenesis vas deferens, vesika seminal, atau epididimis

2. Pemeriksaan mikroskopis a. Pemeriksaan estimasi jumlah sperma Cara : 1. Sampel diteteskan 1 tetes ke objek glass, kemudian tutup dengan cover glass 2. Diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa objektif, 10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal. Pemeriksaan dilakukan pada beberapa lapang pandang, pada suhu kamar 3. Jumlah rata-rata sperma yang didapat dikalikan dengan 106 4. Jumlah rata-rata sperma yang didapat, juga digunakan sebagai dasar pengenceran saat penghitungan dengan bilik hitung Neubauer Improved 5. Tabel 1. Pengenceran berdasarkan estimasi jumlah sperma

Jumlah sperma / lapang pandang (400x) < 15 15 40 40 200 > 200 b. Pemeriksaan Motilitas sperma Cara :

Pengenceran 1:5 1 : 10 1 : 20 1 : 50

a. Diteteskan 1 tetes (10 15 mikroliter) sampel ke objek glass, kemudian tutup dengan cover glass b. Diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa objektif, 10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal c. Pemeriksaan dilakukan dalam 5 lapang pandang pada 65 sperma, pada suhu kamar (180 240 C) d. Kecepatan gerak sperma normal adalah : 5 kali panjang kepala sperma atau setengah kali panjang ekor sperma atau 25 m/detik. e. Gerakan sperma dan diklasifikasikan sebagai berikut : i. jika sperma bergerak cepat dan lurus ke muka ii. jika geraknya lambat atau sulit maju lurus atau bergerak tidak lurus iii. jika tidak bergerak maju iv. jika sperma tidak bergerak f. Dilakukan pemeriksaan ulangan dengan tetesan sperma kedua c. Pemeriksaan morfologi sperma Cara : Diteteskan 1 tetes (10 15 mikroliter) sampel ke salah satu ujung objek glass Dengan objek glass kedua, dibuat apusan sampel seperti terlihat pada gambar

Sediaan dikeringkan di udara, selanjutnya difiksasi dengan etanol 95% : eter (1 : 1), biarkan sediaan kering

Kemudian cat d engan Giemsa selama 30 menit, bilas dengan air bersih, keringkan dan preparat siap diperiksa Diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa objektif, 10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal

Pemeriksaan morfologi dilakukan pada 65 sperma meliputi kepala, leher dan ekor, kemudian hasil yang didapat dibuat persentase

d. Pemeriksaan elemen bukan sperma Cara : Dilakukan penghitungan sel selain sperma seperti leukosit, sel epitel gepeng dan sel lain yang ditemukan. Pengitungan dilakukan dalam 100 sperma ditemukan berapa sel lain selain sperma Penghitungan : C=NxS 100 C : jumlah sel dalam juta / ml N : jumlah sel yang dihitung dalam 100 S : jumlah sperma dalam juta / ml sperma

e. Pemeriksaan hitung jumlah sperma Cara : Disiapkan hemositometer (pipet leukosit dan Bilik hitung NI) Dipasang bilik hitung NI dibawah miroskop dengan pembesaran 100x atau 400x, cari kotak hitung seperti terlihat dalam gambar. Gambar 3. Kotak dalam bilik hitung NI

Penghitungan dilakukan di kotak tengah yang terdiri dari 25 kotak sedang yang masing-masing didalamnya terbagi lagi menjadi 16 kotak kecil

Dihisap semen sampai angka 0,5, kemudian hisap pengencer aquadest/NaCl fisiologis sampai angka 11 digunakan pengenceran 1 : 20. (Pengenceran lain dapat digunakan sesuai Tabel 1. Pengenceran berdasarkan estimasi jumlah sperma)

Jumlah kotak sedang yang harus dihitung berdasar jumlah sperma yang ditemukan : Jumlah sperma dalam 1 kotak sedang < 10 hitung 25 kotak Jumlah sperma dalam 1 kotak sedang 10-40 hitung 10 kotak Jumlah sperma dalam 1 kotak sedang > 40 hitung 5 kotak

Dibuat rata-rata jumlah sperma Selanjutnya dihitung jumlah sperma dan faktor koreksinya

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN I. Hasil Praktikum

a. Pemeriksaan Makroskopis 1. Warna Normal, putih kelabu namun agak jernih dan terdapat butiran jeli yang tidak mencair 2. Bau Normal, baunya khas tetapi agak menyengat 3. Likuefaksi Normal, mencair pada 25 menit 4. Volume Normal, 2,5 mL 5. Konsistensi Normal, terbentuk sekitar 0,5 cm 6. pH Abnormal, pH 10 b. Pemeriksaan Mikroskopis 1. Pemeriksaan Estimasi Jumlah Sperma Pemeriksaan estimasi jumlah sperma kali ini dilakukan pada lima lapang pandang. Sperma yang telah dibuat apusan pada gelas objek, kemudian diamati dibawah mikroskop dengan pengaturan kondensor diturunkan dan cahaya minimal, hal ini dilakukan karena sample berwarna agak jernih. Berikut ini adalah data

pemeriksaan estimasi jumlah sperma : a. Perhitungan pada lapang pandang I = 50 b. Perhitungan pada lapang pandang II = 70

c. Perhitungan pada lapang pandang III = 75 d. Perhitungan pada lapang pandang IV = 65 e. Perhitungna pada lapang pandang V = 65 Rata-rata atau estimasi jumlah sperma yang

didapat adalah (50+70+75+65+65):5 = 65 Hasil yang didapat kemudian dikalikan denga 106, jadi hasilnya adalah 65x106. 2. Pemeriksaan Motilitas Sperma Pemeriksaan motilitas sperma adalah untuk menguji daya gerak sperma. Cara yang dilakukan sama dengan

pemeriksaan estimasi jumlah sperma, tapi yang diamati disini adalah gerakan daripada sperma itu sendiri. Gerakan pada sperma dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Sperma bergerak cepat dan lurus ke muka b. Sperma geraknya lambat atau sulit untuk maju lurus c. Sperma tidak bergerak maju d. Sperma tidak bergerak Pemeriksaan ini dilaksanakan pada lima lapang pandang yang berbeda. Hasilnya dapat diamati pada tabel berikut :

3. Pemeriksaan Morfologi Sperma 4. Pemeriksaan Elemen Bukan Sperma 5. Pemeriksaan Hitung Jumlah Sperma

BAB III II. PEMBAHASAN Pada percobaan yang kelompok kami lakukan, didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa sperma yang kami teliti adalah normal. Namun terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan teori kenormalan sperma, antara lain pada sperma menunjukan pH 10, warna yang putih abu namun agak jernih, bau seperti bunga akasia namun agak menyengat, dan konsistensi sperma yang hanya 0,5 cm. Namun secara keseluruhan, hasil pemeriksaan mikroskopis analisa sperma menunjukkan sperma normazoosperma karena jumlah sperma > 20 juta, motilitas > 50% dan morfologi >50%. Ketidaksesuaian hasil praktikum dengan teori dapat disebabkan kesalahan prosedur selama praktikum atau terpengaruhnya air mani yang diperiksa oleh pengaruh-pengaruh tertentu. Air mani memiliki karakteristik makroskopik yang khas meliputi : 6. koagulasi dan likuefaksi Air mani yang diejakulasikan akan berkoagulasi , melikuefaksi dalam 5 20 menit menjadi cairan agak pekat yang dipengaruhi oleh enzim proteolitik , agar sperma dapat bergerak leluasa. 7. Konsistensi Setelah berlikuefaksi, ejakulat memiliki daya membenang normal 3 10 cm dalam waktu 1 2 detik dimana semakin panjang dan lama benang yang dibentuk, semakin tinggi konsistensi sehingga menghambat gerak sperma. 8. Rupa dan bau Air mani berwarna putih kelabu seperti agar-agar. Setelah berlikuefaksi,terlihat jernih atau tidaknya tergantung jumlah spermatozoa yang dikandung. Bau Langu seperti bunga akasia . 9. volume Air mani bervolume 2-5 ml diluar angka itu biasanya kadar spermatozoa rendah. Jika volume kurang dari 1,5 ml tidak akan cukup menggenangi lendir yang menjulur dari serviks.Seseorang dinamakan aspermia bila tidak mengeluarkan semennya pada waktu ejakulasi. Dinamakan hipospermia bila volume semen kurang dari 1 ml dan dnamakan hiperspermia bila volume semen lebih dari 6 ml. 10. pH

Air mani yang baru diejakulasikan biasanya ber-pH 7,3-7,7. Bila dibiarkan lama terjadi penguapan CO2 yang menyebabkan peningkatan pH, bila pH > 8 memungkinkan peradangan mendadak kelenjar dan saluran genital, sedangkan bila pH < 7,2 peradangan menahun kelenjar. Contoh beberapa peradangan mendadak kelenjar dan saluran genital adalah 11. Fruktosa fruktosa terdapat pada semua air mani, kecuali pada azoospermia , duktus ejakulatorius yang tertutup, dan ejakulasi retrograd. Adapun air mani memiliki karakteristik mikroskopis : -- Penghitungan spermatozoa : Semen yang telah diaduk dengan baik diencerkan 1:50, 1:100, atau 1:200 tergantung pada kepadatan sperma. Setiap semen dilakukan dua pengenceran yang berbeda. Cairan pengencer terdiri dari NaHCO3 : 50 g, formalin (35%) ' 10 ml dan akuadestilata sampai 1000 ml. Penghitungan sperma dilakukan dengan memakai hemositometer, dan diperoleh dari nilai rata-rata dua pengenceran tadi. Perbedaan antara dua penentuan di atas tidak boleh lebih dari 10% untuk semen yang kepadatannya kecil atau tidak boleh lebih dari 20% untuk semen yang kepadatannya besar (60 juta/ml). -- Motilitas spermatozoa : Motilitas spermatozoa ditentukan secara kuantitatif dan kualitatif. Sperma motil dihitung sekurang-kurangnya dalam 10 lapangan pandangan yang terpisah dan persentase sperma motil dihitung dari motilitas, 4= motilitas sangat baik). -- Vitalitas spermatozoa : Vitalitas spermatozoa ditentukan dengan mempergunakan pewarnaan supravital : 0,5 % eosin Y dalam 0,15 m bufer fosfat, pH: 7,4. Dengan mikroskop fase kontras negatif sel mati akan berwarna kuning dan sel hidup berwarna kebiruan. Pewarnaan supravital mempunyai keuntungan karena dapat membedakan nekrozoospermia tulen atau tidak. -- Morfologi spermatozoa : Morfologi spermatozoa merupakan parameter yang panting untuk menilai kesuburan pria .Tetapi masih belum dapat keseragaman mengenai definisi bentuk "spermatozoa normal". -- Sel-sel lainnya. -- Agregrasi spermatozoa. nilai rata-rata di atas. Kualitas rata-rata motilitas sperma di bagi menjadi 0 sampai dengan 4 (0= tidak ada

Pemeriksaan plasma semen -- Viskositas : Viskositas ditentukan sekuantitatif mungkin, yaitu dengan cara menghisap plasma semen dengan pipet kecil dan waktu yang dibutuhkan oleh setetes semen yang jatuh dari pipet tersebut dihitung (dalam detik). Radius pipet harus dibakukan (standardisasi). Dianjurkan memakai pipet dengan volume 0,1 ml dan panjang dari ujung pipet sampai batas 0,1 ml tersebut ialah 12 cm. Pipet tersebut dapat distandardisasi dengan minyak silikon MS 200, viskositas 20 cSt. Tiga tetes minyak tersebut meninggalkan pipet dalam waktu 5 - 0,2 detik adalah keadaan Perkembangan manusia dimulai dengan adanya pembuahan , proses dimana terjadi pertemuan antara spermatozoid dengan oosit yang menghasilkan zygot.Spermatozoid pada bayi baru lahir dikelilingi oleh sel penunjang seperti sel folikuler yang kemudian akan menjadi sel sustentafuler atau sel sertoli. Adapun proses pembentukan spermatozoid yang disebut spermatogenesis. Dimulai dari sel benih primordial berkembang menjadi spermatogonia yang terdiri dari 2 jenis , yaitu spermatogonia A dan spermatogonia B. Pada spermatogonia A terjadi mitosis pembentukan sel induk,setelah itu akan terbentuk spermatogonia B yang akan berkembang menjadi spermatosit primer secara mitosis.Pada masa profase yang diikuti oleh meosis I akan terjadi pembentukan spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder akan mengalami meosis II dan akan menjadi spermatid yang haploid,yang akan melakukan spermiogenesis dimana terjadi transformasi spermatid menjadi spermatozoa. Perubahan ini meliputi : a. inti, b. a. c. d. kondensasi intibuatan semen pembentukan leher ,bagian tengah ,dan ekor peluruhan sitoplasma pembentukan akrosom yang menutupi lebih dari setengan permukaan

setelah terbentuk sempurna, spermatozoa memasuki lumen tubuli semineferi. Oleh dinding tubuli semineferi yang berkontraksi,Spermatozoa didorong ke arah epididimis dan disimpan untuk sementara sampai siap dikeluarkan. Hal-hal yang dapat menyebabkan ==> ntar dicari proses penyemenana oleh ....

Secara mikroskopik apabila ditemukan sel radang menandakan adanya peradangan kadang pula ditemukan Trichomonas vaginalis atau Candida albican. Air mani yang dibiarkan lama akan membentuk kristal spermin fosfat kadang terdapat pulau aglutinasi spermatozoa. I. Pemeriksaan Estimasi

Hasil Praktikum pemeriksaan estimasi sperma = Jumlah rata-rata sperma yang di dapat x 106 = 140 + 160 2 II. Pemeriksaan Motilitas Sperma Jumlah sperma yang berhasil diamati pada pemeriksaan motilitas sperma adalah 140 sperma, yang terdiri atas 50 sperma yang termasuk klasifikasi A, 20 buah sperma klasifikasi B, 30 buah sperma klasifikasi C, dan 40 buah sperma klasifikasi D. Perhitungan persentase masing-masing klasifikasi adalah sebagai berikut : Klasifikasi A : 50 140 20 140 x 100% = 35,7 % = 150 x 106

Klasifikasi B :

x 100% = 14,3 %

Klasifikasi C :

30 140

x 100% = 21,4 %

Klasifikasi D :

20 x 100% = 28,6 % 140

Hasil Pemeriksaan menunjukkan bahwa motilitas sperma tidak normal karena sperma yang bergerak aktif dan lurus (klasifikasi A) < 50 %

III.

Pemeriksaan Morfologi Sperma Sperma 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Normal Kepala Abnormal Leher

Ekor

Terdapat 7 sperma normal, maka persentase sperma normal : 7 20 x 100% = 35%

Sperma yang dikategorikan normal pada pemeriksaan morfologi sperma bila sperma yang memiliki morfologi lengkap > 50%. Maka dapat disimpulkan morfologi sperma probandus tidak normal.

IV.

Pemeriksaan Jumlah Penghitungan jumlah sperma dilakukan di kotak tengah yang terdiri dari

25 kotak sedang yang masing-masing di dalamnya terbagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Pada praktikum kali ini jumlah sperma yang ditemukan dalam 1 kotak

sedang < 10 sperma, sehingga penghitungan sperma dilakukan sampai 25 kotak sedang. Jumlah keseluruhan sperma dari 25 kotak sedang berjumlah 120 sperma. Pengenceran yang digunakan adalah 1:20, sehingga berdasarkan tabel 2, faktor koreksinya adalah 5. Maka, jumlah sperma adalah: 120/5 x 106 = 24 x 106 = 24 juta/ ml

V.

Pada pemeriksaan elemen lain bukan sperma tidak ditemukan elemen lain.

VII.

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA