You are on page 1of 23

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir.Tampaknya alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak.Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara menunjukkan penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi. BBC beberapa waktu yang lalu melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat.Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir.Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari 9 juta orang (Judarwanto, 2005). Alergi merupakan suatu reaksi abnormal dalam tubuh yang disebabkan zat-zat yang tidak berbahaya. Alergi timbul bila ada kontak terhadap zat tertentu yang biasanya, pada orang normal tidak menimbulkan reaksi. Zat penyebab alergi ini disebut allergen. Allergen bisa berasal dari berbagai jenis dan masuk ke tubuh dengan berbagai cara. Bisa saja melalui saluran pernapasan, berasal dari makanan, melalui suntikan atau bisa juga timbul akibat adanya kontak dengan kulit seperti; kosmetik, logam perhiasan atau jam tangan, dan lainlain. Zat yang paling sering menyebabkan alergi: Serbuk tanaman; jenis rumput tertentu; jenis pohon yang berkulit halus dan tipis; serbuk spora; penisilin; seafood; telur; kacang panjang, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang-kacangan lainnya; susu; jagung dan tepung jagung;sengatan insekta; bulu binatang; kecoa; debu dan kutu. Yang juga tidak kalah sering adalah zat aditif pada makanan, penyedap, pewarna dan pengawet.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan oleh penyusun merumuskan masalah untuk dikaji. Masalah pokok dalam pembahasan ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Jelaskan pengertian darialergi ? 2. Jelaskan etiologi dari alergi ? 3. Jelaskan patofisiologi dari alergi ? 4. Jelaskan manifestasi klinik dari alergi ? 5. Sebutkan pemeriksaan diagnostik dari alergi ? 6. Sebutkan komplikasi dari alergi ? 7. Sebutkan penatalaksanaan darialergi ? 8. Sebutkan diagnosis banding dari alergi ? 9. Jelaskan dan sebutkan apa saja Asuhan Keperawatan yang bisa diberikan pada klien yang menderita alergi ? 1.3 Tujuan Masalah Dalam penyusunan makalah ini mempunyai tujuan sebagai berikut : 1.3.1 Tujuan Umum Diharapkan mahasiswa mempunyai kemampuan lebih untuk memahami Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem Hematologi pada alergi. 1.3.2 Tujuan Khusus Diharapkan mahasiswa dapat : 1. Memahami definisi dari alergi. 2. Memahami etiologi dari alergi. 3. Memahami patofisiologi dari alergi. 4. Memahami manifestasi klinik dari alergi. 5. Memahami pemeriksaan diagnostik dari alergi. 6. Memahami komplikasi dari alergi.
2

7. Memahami penatalaksanaan dari alergi. 8. Memahami diagnosis banding dari alergi. 9. Memahami Asuhan Keperawatan yang bisa diberikan pada klien yang menderita alergi. 1.4 Manfaat Masalah 1. Mahasiswa dapat memahami pengertian dari alergi. 2. Mahasiswa dapat memahami etiologi dari alergi. 3. Mahasiswa dapat memahami patofisiologi dari alergi. 4. Mahasiswa dapat memahami manifestasi klinik dari alergi. 5. Mahasiswa dapat memahami pemeriksaan diagnostik dari alergi. 6. Mahasiswa dapat memahami komplikasi dari alergi. 7. Mahasiswa dapat memahami penatalaksanaan dari alergi. 8. Mahasiswa dapat memahami diagnosis banding dari alergi. 9. Mahasiswa dapat memahami Asuhan Keperawatan yang bisa diberikan pada klien yang menderita alergi.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP DASAR Pengertian Alergi adalah suatu perubahan daya reaksi tubuh terhadap kontak pada suatu zat (alergen) yang memberi reaksi terbentuknya antigen dan antibodi.Namun, sebagian besar para pakar lebih suka menggunakan istilah alergi dalam kaitannya dengan respon imun berlebihan yang menimbulkan penyakit atau yang disebut reaksi hipersensitivitas. Hal ini bergantung pada berbagai keadaan, termasuk pemaparan antigen, predisposisi genetik, kecenderungan untuk membentuk IgE dan faktor-faktor lain, misalnya adanya infeksi saluran nafas bagian atas, infeksi virus, penurunan jumlah sel T-supresor dan defisensi IgA. Secara umum penyakit alergi digolongkan dalam beberapa golongan, yaitu: 1. Alergi atopik : reaksi hipersensitivitas I pada individu yang secara genetik menunjukkan kepekaan terhadap alergen dengan memproduksi IgE secara berlebihan. 2. 3. Alergi obat reaksi imunologi yang berlebihan atau tidak tepat terhadap obat tertentu. Dermatitiskontak : reaksi hipersensitivitas IV yang disebabkan oleh zat kimia, atau substansi lain misalnya kosmetik, makanan, dan lain-lain. Manifestasi klinik alergi paling sering tampak melalui 3 organ sasaran, yaitu saluran nafas, gastrointestinal dan kulit. Etiologi Ada beberapa jenis penyebab alergi yaitu : 1. Defisiensi limfosit T yang mengakibatkan kelebihan IgE. 2. Kelainan pada mekanisme umpan balik mediator. 3. Faktor genetik.

4. Faktor lingkungan : debu, tepung sari, tungau, bulu binatang, berbagai jenis makanan dan zat lain. Patofisiologi Gejala alergi timbul apabila reagin atau IgE yang melekat pada permukaan mastosit atau basophil bereaksi dengan alergen yang sesuai. Interaksi antara alergen dengan IgE yang menyebabkan ikat-silang antara 2 reseptor-Fc mengakibatkan degranulasi sel dan penglepasan substansi-substansi tertentu misalnya histamin, vasoactive amine,

prostaglandin, tromboksan, bradikinin. Degranulasi dapat terjadi kalau terbentuk ikat-silang akibat reaksi antara IgE pada permukaan sel dengan anti-IgE. Histamin melebarkan dan meningkatkan permeabilitas vaskular serta merangsang kontraksi otot polos dan kelenjar eksokrin. Di saluran nafas, histamin merangsang kontraksi otot polos sehingga menyebabkan penyempitan saluran nafas dan menyebabkan membran saluran nafas membengkak serta merangsang ekskresi lendir pekat secara berlebihan. Hal ini mengakibatkan saluran nafas tersumbat, sehingga terjadi asma, sedangkan pada kulit, histamin menimbulkan benjolan (urtikaria) yang berwarna merah (eritema) dan gatal karena peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan pelebaran pembuluh darah. Pada gastrointestinal, histamine menimbulkan reflek muntah dan diare.

ALERGEN(obat,makanan,cuaca,debu)

Reaksi imunitas (IgE)

Sel mast, makrofag, limfosit

Pengeluaran mediator kimia

Histamine,bradikinin,anafilaksin

Respiratorik
Kontraksi otot polos

gastrointestinal
Sekresi mukus
Pelebaraan

dermatitis atopic
Uritema Urtikaria gatal

Pemeabilitas kapiler

Muntah diare

Permeabilitas pembuluh darah

Bronkos spasme

Edema saluran

Produksi mukus

pembuluh darah

nafas

Edema mukosa bronkial

Asma

WOC ALERGEN(obat,makanan,cuaca,debu) Reaksi imunitas (IgE) Sel mast, makrofag, limfosit Pengeluaran mediator kimia

Histamine,bradikinin,anafilaksin Respiratorik
Kontraksi otot polos bronkospa sme Permeabilitas kapiler Edema sal. nafas sekresi mukus
Pelebaran Permeabilita s pembuluh darah

gastrointestinal
Muntah,diare eritema

dermatitis atopic
urtikaria gatal

Produksi mukus

anoreksia

pembuluh darah

gg. pola

Deficit volume cairan

Edema mukosa
bronkial asma

nutrisi

gg.
integrita s kulit

gg. rasa nyaman

gg. pola nafas

Manifestasi Klinik Asma. Urtikaria. Diare dan kram abdomen Muntah-muntah. Dermatitis atopik.

Pemeriksaan Diagnostik Pengukuran kadar IgE total dan spesifik dengan menggunakan metode ELISA atau RIA. Tes kulit untuk menetukan IgE spesifik dalam kulit pasien, seperti tes tusuk (prick test), tes tempel (pacth test) : Tes tusuk (Prick Test) Hasil tes negatif apabila tidak ada bentol atau eritema atau hasil tes sama dengan kontrol Hasil tes positif apabila terjadi bentul atau eritema o Positif 1 : bila didapatkan tidak ada bentul dan diameter eritema < 20 mm. o Positif 2 : bila didapatkan tidak ada bentul dan diameter eritema > 20 mm. o Positif 3 : bila didapatkan bentul dan eritema. o Positif 4 : bila didapatkan dengan psudopodia. Tes tempel (Patch Test) Tes negatif bila tidak ada reaksi terhadap zat yang ditempati yang menunjukkan alergi. Hasil tes positif o Positif 1 : bila ada eritema. o Positif 2 : bila ada eritema dan papula. o Positif 3 : bila ada eritema, papula dan vesikuler.

Tes provokasi untuk alergi makanan : Tes hidung Hasil tes positif bila dalam beberapa menit timbul bersin-bersin, pilek, hidung tersumbat, kadang-kadang batuk, pada mukosa hidung tampak bengkak.

Tes provokasi bronkial Tes yang sering dipakai adalah tes kegiatan jasmani, tes inhalasi antigen, tes inhalasi metakolin, tes inhalasi histamin.

Pengukuran kadar histamin dalam darah atau urin dengan metode ELISA atau HPLC.

Analisis immunoglobulin serum dapat menunjukkan peningkatan basophil dan eosinofil.

Biopsy usus Foto thorax Untuk melihat komplikasi asma dan sinus paranasal untuk mengetahui komplikasi rinitis.

Spirometri Untuk menentukan obstruksi saluran nafas baik beratnya maupun reversibilitas.

Komplikasi Dermatitis kontak alergi dapat menyebabkan infeksi sekunder akibat garukan berlebihan, pruritus. Mengi, edema

Penatalaksanaan 1. Terapi ideal adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eleminasi 2. Terapi simtomatis dilakukan melalui pemberian : Antihistamin dan obat-obat yang menghambat degranulasi sel mast dapat mengurangi gejala-gejala alergi. Kortikosteroid yang dihirup bekerja sebagai obat peradangan dan dapat mengurangi gejala suatu alergi. 3. Untuk gejala yang berat dan lama, bila terapi lain tidak memuaskan dilakukan imunoterapi melalui : Terapi desensitisasi berupa penyuntikan berulang allergen dalam jumlah yang kecil dapat mendorong pasien membentuk antibody IgG terhadap alergen.
9

2.2 ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian 1. Biodata Kaji biodata pasien mulai dari nama, alamat, usia, pendidikan, agama. 2. Keluhan Utama Klien pada umumnya mengeluh bersin-bersin, sesak nafas, gatal-gatal, timbul kemerahan di sekujur tubuhnya, bibir bengkak, tidak ada nafsu makan, mual muntah, diare, nyeri di bagian perut. 3. Riwayat Penyakit Sekarang Tanyakan pada klien, Apa yang menyebabkan gejala. Bagaimana gejala yang dirasakan.Dimana gejala yang dirasakan.Seberapakah tingkat keparahan yang dirasakan.Kapan gejala mulai timbul, seberapa sering gejala dirasakan. Dan tanyakan juga tindakan apa saja yang telah dilakukan serta obat apa saja yang telah dikonsumsi. 4. Riwayat Penyakit Dahulu Apakah klien pernah atau sedang menderita suatu penyakit lainnya dan pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. 5. Riwayat Penyakit Keluarga Kaji adakah keluarga klien yang sedang atau pernah mengalami penyakit yang sama dengan penyakit klien. Dan tanyakan apakah ada anggota keluarga klien yang mempunyai penyakit berat lainnya. 6. Aktivitas sehari-hari di rumah Kaji pola makan, minum, eliminasi BAB, eliminasi BAK, istirahat tidur dan kebiasaan klien. 7. Riwayat Psikososial-Spiritual Psikologis : apakah klien menerima penyakit yang dideritanya atau menarik diri ? Sosial : bagaimana interaksi klien terhadap lingkungan sekitar sebelum dan selama sakit dan apakah klien dapat beradaptasi dengan lingkungan baru (rumah sakit) ?

10

Spiritual

: apakah dan bagaimana klien mengerjakan ibadahnya saat sakit ?

Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum Tingkat kesadaran GCS Tanda-tanda vital

2. Pengkajian per sistem a. Kepala dan leher Hidung : Kaji ada tidaknya pernafasan cuping hidung. Mata : Kaji ada tidaknya konjungtiva berwarna merah

Telinga : Kaji ada tidaknya pembengkakan konka dan membran mukosa Mulut Leher : Kaji mukosa dan kebersihannya. : Ada tidaknya pembesaran vena jugularis.

b. Sistem Integumen Kulit Kuku : Kaji warna dan ada tidaknya bintik-bintik dan kemerahan. : Kaji bentuk dan kebersihannya.

c. Sistem Pernafasan Inspeksi : biasanya pada klien alergi terjadi sesak, adanya otot bantu nafas.

Auskultasi : adakah kemungkinan terdapat bunyi napas tambahan, biasanya terdengar mengi. d. Sistem Kardiovaskuler Palpasi : Kaji apakah nadi teraba jelas dan frekwensi nadi teratur.

Auskultasi : Kaji suara s1, s2 apakah ada suara tambahan. e. Sistem Pencernaan Inspeksi Palpasi Perkusi : Kaji bentuk abdomen, ada tidaknya lesi. : Kaji apakah ada nyeri tekan : Kaji apakah terdengar bunyi thympani

Auskultasi : Kaji bunyi peristaltik usus. f. Sistem Pergerakan Tubuh Kaji kekuatan otot klien.

11

g. Sistem Persarafan Kaji tingkat kesadaran klien dan GCS. h. Sistem Perkemihan Kaji apakah ada gangguan eliminasi urin. Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan terpajan allergen 2. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan produksi mukus berlebih 3. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih 4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah 5. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi dermal, intradermal sekunder 6. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri di abdomen 7. Cemas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang penyakitnya. Intervensi 1. Dx ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan terpajan allergen Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x15 menit, diharapkan pasien menunjukkan pola nafas efektif Kriteria Hasil : frekuensi pernafasan normal (16-20x/menit), pernafasan regular, tidak ada tanda-tanda sianosis. Intervensi : a. Kaji frekuensi, kedalaman penafasan dan ekspansi paru. Catat upaya pernafasan, termasuk penggunaan otot bantu nafas. b. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti krekels, mengi c. Rubah posisi kepala atau posisi head up d. Berikan oksigen tambahan

12

2. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan produksi mukus berlebih Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas pasien tidak terganggu Kriteria hasil : tidak adanya mukus, jalan nafas efektif Intervensi :

a. Posisikan pasien semi fowler b. Ajarkan teknik pernafasan diafragmatik c. Pemberian nebulizer d. Kolaborasi pemberian obat mukolitik

3. Dx defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kekurangan volume cairan dapat teratasi Kriteria hasil : pasien tidak mengalami diare, mual muntah, tidak ada tanda-tanda dehidrasi, turgor kulit kembali normal. Intervensi : a. Pantau TTV seperti peningkatan suhu, takikardia b. Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa c. Monitor intake dan output cairan d. Beri obat sesuai indikasi seperti antipiretik, antiemetik e. Berikan cairan infus sesuai kebutuhan 4. Dx gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi Kriteria hasil : membran mukosa tidak kering, wajah tidak pucat, konjungtiva tidak anemis, pasien mampu menghabiskan makanan yang diberikan

13

Intervensi : a. Observasi pemenuhan kebutuhan nutrisi b. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk makan c. Ajarkan pasien untuk menarik napas dalam, perlahan, dan menelan secara sadar untuk mengurangi mual dan muntah d. Berikan antiemetik dan atau analgesik sebelum makan atau sesuai jadwal yang dianjurkan e. Catat warna, jumlah, dan frekuensi muntah 5. Dx resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi dermal, intradermal sekunder Tujuan : setelah diberikan tindakn keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien tidak akan mengalami kerusakan integritas kulit lebih parah Kriteria hasil : tidak terdapat kemerahan, bentol-bentol dan odema. Tidak terdapat tanda-tanda urtikaria, pruritus dan angioedema. Kerusakan integritas kulit berkurang Intervensi : a. Kaji kulit adanya edema, area sirkulasinya terganggu atau pigmentasi b. Hindari obat intramaskular c. Ajarkan pasien menghindari paparan terhadap allergen yang telah diketahui 6. Dx gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri di abdomen Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan nyeri berkurang Kriteria hasil : Pasien menyatakan nyeri berkurang, skala nyeri 0 Intervensi : a. Kaji nilai nyeri atau ketidaknyamanan pada skala 0 sampai 10 b. Informasikan pada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri c. Posiskan pasien dengan posisi yang nyaman

14

7. Cemas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang penyakitnya Tujuan : setelah di berikan asuhan keperawatan diharapkan pasien tidak merasa cemas lagi. Kriteria hasil : pasien tidak betanya-tanya lagi tentang penyakitnya Intervensi :

a. Orientasi pasien dengan lingkungan b. Ajak keluarga untuk mengurangi cemas pasien c. Berikan penjelasan pada keluarga dan pasien mengenai penyakitnya Implementasi Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah dibuat untuk mencapai hasil yang efektif. Dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, penguasaan keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh setiap perawat sehingga pelayanan yang diberikan baik mutunya. Dengan demikian tujuan dari rencana yang telah ditentukan dapat tercapai.

Evaluasi Evaluasi adalah suatu penilaian terhadap keberhasilan rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan klien. Hasil yang diharapkan pada klien dengan alergi adalah : a. Klien tidak mengeluh sesak lagi b. Pasien mengatakan kulitnya sudah tidak merah-merah lagi c. Pasien mengatakan tidak merasa mual,muntah dan mencret lagi d. Pasien mengatakan nyerinya sudah berkurang e. Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-sehari sesuai tingkat kemampuan, adanya laporan peningkatan toleransi aktifitas. f. Masukan nutrisi adekuat g. Klien beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan atau menunjukkan buktibukti ketidaknyamanan, tidak mengeluhkan perasaan tidak nyaman.

15

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Bidang studi Topik Sasaran Tempat Hari/Tanggal Waktu : Keperawatan Sistem Imun Hematologi 2 : Alergi pada Anak : Warga desa Bendul Merisi : Balai desa Bendul Merisi, Surabaya : April 2013 : 1 X 25 Menit

1. Tujuan Instruksional Umum Untuk meningkatkan pengetahuan ibu/keluarga tentang alergi pada anak. 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah diberikan penyeluhan ibu/keluarga dapat : a. Menyebutkan pengertian alergi b. Menyebutkan tanda dan gejala adanya gangguan alergi pada anak. c. Menjelaskan tentang cara penanganan, bila ditemukan adanya alergi pada anak 3. Sasaran Warga Bendul Merisi,Surabaya 4. Materi (terlampir) a. Pengertian alergi b. Tanda dan gejala adanya alergi c. Cara penanganan alergi.

16

5. Metode Ceramah Tanya jawab 6. Media Flip chart Leaflet 7. Kegiatan Penyuluhan

N WAKTU O 13 Menit

KEGIATAN PENYULUHAN

KEGIATAN PESERTA

Pembukaan: 1. Memberi salam pembukaan. 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan. 4. Menyebutkan materi penyuluhan 1. Menyambut salam dan men dengarkan 2. Mendengarkan 3. Mendengarkan 4. Mendengarkan 5. Menerima dan membaca

yang akan diberikan 5. Membagikan leaflet

2 15 Menit

Pelaksanaan : 1. Menjelaskan tentang pengertian 1. Mendengarkan memperhatikan 2. Mendengarkan memperhatikan 3. Bertanya dan menjawab dan dan

alergi pada anak. 2. Menjelaskan tentang tanda dan gejala alergi pada anak 3. Memberikan kesempatan pada ibu dan keluarga untuk bertanya disetiap bagian penyuluhan. 3 5 Menit Evaluasi :

pertanyaan yang diajukan

17

1. Menanyakan pada ibu dan keluarga tentang materi yang diberikan dan reinforcement kepada ibu dan keluarga bila dapat menjawab & menjelaskan kembali pertanyaan atau materi 4 2 Menit Terminasi : 1. Mengucapkan terima kasih kepada ibu dan keluarga atas perhatian yang diberikan 2. Mengucapkan salam penutup

1. Menjawab & menjelaskan pertanyaan

1. Mendengarkan 2. Membalas salam

8. PengorganisasianKelompok Penanggung Jawab Sekretaris Pembawa Acara Pembicara 9. Kriteria Evaluasi Kriteria struktur : Peserta hadir dibalai Desa Bendul Merisi,Surabaya Penyelenggaraan Merisi,Surabaya Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan saat penyuluhan. Kriteria Proses : Warga antusias terhadap materi penyuluhan. Warga konsentrasi mendengarkan penyuluhan. penyuluhan dilakukan di balai Desa Bndul : M. Affan Abror : Ita Nurdiana : Zelvyta Indria : Maulidia Alfiarista Sari, Andi Fachrudi

18

Warga mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara lengkap dan benar.

Kriteria Hasil : Warga mengetahui tentang pengertian alergi Warga mengerti tanda dan gejala alergi Warga dapat menjelaskan cara penanganan alergi.

19

ALERGI
Pengertian Alergi Alergi adalah suatu perubahan daya reaksi tubuuh terhadap kontak pada suatu zat (alergen) yang memberi reaksi terbentuknya anti gen dan antibodi. Alergi adalah merujuk pada reaksi berlebihan oleh sistim imun kita sebagai tanggapan pada kontak badan dengan bahan-bahan asing tertentu. Berlebihan karena bahan-bahan asing ini umumnya dipandang oleh tubuh sebagai sessuatu yang tidak membahayakan dan tidak terjadi tanggapan pada orang-orang yang tidak alergi. Tubuh dari orang-orang yang alergi mengenali bahan asing itu dan sebagian dari sistim imun diaktifkan. Bahan-bahan alergi disebut "allergens". Contoh-contoh dari allergens termasuk serbuk sari, tungau, jamur-jamur, dan makanan-makanan. Untuk mengerti bahasa alergi adalah sangat penting untuk mengingat bahwa allergens adalah bahan-bahan yang asing terhadap tubuh dan dapat menyebabkan reaksi alergi pada orang-orang tertentu. Penyebab Alergi Salah satu penyebab alergi adalah genetik. Anak-anak dari salah satu orang tua yang menderita alergi, maka mereka berpotensi menderita alergi oleh 15 30%. Anak-anak dengan kedua orang tua menderita alergi, dan kemudian anak tersebut kemungkinan 50-75% terpengaruh oleh alergi. Tetapi alergi juga dapat terjadi bahkan jika kedua orang tua tidak menderita alergi. Gejala alergi pada anak dapat terjadi saat anak memiliki reaksi hipersensitif terhadap lingkungan, seperti perubahan suhu udara, udara yang buruk, udara lembab dan suhu udara panas atau dingin. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan alergi adalah: makanan (seperti susu, telur, udang, ikan, kacang-kacangan), obat, kelelahan, stres, debu rumah, spora jamur, serbuk sari, asap kendaraan, asap rokok, udara lembab, udara panas, bau cat, perubahan cuaca, serangga (seperti semut, nyamuk, tawon, ulat).

20

Gejala Alergi gejala alergi yang terjadi dalam tubuh dapat dibedakan dari bagian di mana alergi itu terjadi. Beberapa bagian tubuh sering dipengaruhi oleh alergi yang ada:

Sistem pernafasan. Gejala alergi pada sistem pernapasan adalah batuk, pilek, hidung tersumbat, bersin, sesak napas, mengi suara, mimisan, sakit telinga, kemerahan telinga, tenggorokan gatal, suara serak.

Sistem pencernaan. Gejala alergi terhadap sistem pencernaan: nyeri perut, diare, sulit buang air besar, kembung, dan sering kentut.

Kulit. Gejala alergi pada kulit bisa kulit gatal, kulit merah berbintik-bintik, kulit menebal, eksim, kulit menjadi kebiruan / hitam, bibir menjadi bengkak.

Mata. Gejala alergi pada mata adalah: mata gatal, mata merah, mata berair, mata belekan, warna kehitaman di bawah mata, bintitan.

Cara Penanganan Alergi Untuk cara penanganan alergi adalah sebagai berikut : Hindari penyebab dari alergi (misal : makanan (seperti susu, telur, udang, ikan, kacang-kacangan), obat, kelelahan, stres, debu rumah, spora jamur, serbuk sari, asap kendaraan, asap rokok, udara lembab, udara panas, bau cat, perubahan cuaca, serangga (seperti semut, nyamuk, tawon, ulat) Kenali tanda-tanda alergi Beri anti alergi bila sudah tersedia dan bila belum bawa kebalai pengobatan terdekat.

21

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Alergi adalah suatu perubahan daya reaksi tubuh terhadap kontak pada suatu zat (alergen) yang memberi reaksi terbentuknya antigen dan antibodi. Secara umum penyakit alergi digolongkan dalam beberapa golongan, yaitu: alergi atopik, alergi obat, dan dermatitis kontak. Saran Perawat mempunyai peran, fungsi, tanggung jawab, dan hak pada klien yang ditanganinya, maka sebaiknya kita sebagai perawat harus mengetahui dan memahami tindakan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem imunitas seperti pemeriksaan diagnostik dan pemeriksaan penunjang lainnya,agar nantinya kita bisa menjadi perawat yang professional. Sangat diharapkan agar terhindar dari alergi dilakukan dengan menghindari penyebab dari alergi misalnya meghindarialergen seperti debu dan makan-makanan yang membuat individu alergi.

22

DAFTAR PUSTAKA

Kresno, Siti Boedina. 1996. IMUNOLOGI : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium.Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi, Ed. 3. Jakarta: EGC. Subowo. 2010. Imunologi Klinik, Ed. 2. Jakarta : Sagung Seto.

23