1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Tradisi khitan perempuan jika dirunut sejarahnya, awalnya adalah budaya asli dari Afrika yang diyakini sebagai sebuah upacara metamorfosa atau upacara peralihan masa, dari seorang anak perempuan yang masih remaja ke tahap perempuan dewasa. Khitan perempuan ini sudah dikenal sejak tahun 6 SM atau 6.000 tahun yang lalu, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya relief-relief tentang khitan perempuan di Mesir yang berasal dari tahun 2.800 SM, selain itu juga ditemukan mummi perempuan dengan klitoris yang terpotong. Khitan perempuan atau yang lebih dikenal dengan nama Female Genital Mutilation (FGM) adalah sebuah praktik budaya Afrika kuno yang mengatas-namakan agama samawi berupa pemotongan klitoris perempuan. Organ tersebut merupakan salah satu bagian sensitif dalam vagina yang sangat berarti bagi perempuan untuk mendapatkan kenikmatan seksual. Dalam prakteknya, pemotongan ini dilakukan oleh tukang khitan tradisional yang disebut dengan dayah (Prafitri, 2008). Istilah Female Genital Mutilation (FGM) diadopsi pada konferensi ketiga dari Komite Inter-Afrika untuk praktek-praktek tradisional yang mempengaruhi kesehatan perempuan dan anak di Addis Ababa, Ethiopia, sejak awal 1980-an (WHO, 2008).

2

Klitoris pada alat kelamin perempuan diasumsikan harus di potong agar dapat membangun konsepsi feminitas perempuan karena penyunatan ini merupakan hal yang essensial dari pemenuhan identitas perempuan. Masyarakat di Afrika, bahkan memiliki kepercayaan bahwa pemotongan klitoris pada alat kelamin perempuan penting untuk membedakannya dengan alat kelamin laki-laki (WHO, 2012). Pada tahun 1991 WHO merekomendasikan penggunaan istilah ini untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sejak itu, Female Genital Mutilation (FGM) menjadi istilah yang dominan dalam masyarakat internasional dan dalam literatur medis. Alexia Lewnes berpendapat bahwa kata "mutilasi" pada khitan perempuan membedakan prosedur dari khitan laki-laki dan menekankan tingkat keparahannya (UNICEF, 2005). Praktek khitan merupakan tradisi yang sudah lama dikenal masyarakat dan diakui oleh agama di dunia seperti yahudi, dan sebagian pengikut Kristen. Sedangkan dalam Islam tradisi khitan berawal dari Nabi Ibrahim as, yang dalam perspektif hukum merupakan symbol dan pertanda ikatan perjanjian suci (mistaq) antara hamba dengan Allah. Namun bagi penganut katolik Kristen dan yahudi, khitan memiliki dua tujuan; sebagai proses bedah kulit bersifat fisik, juga menunjukkan arti dan esensi kesucian (Lutfi, 2006). Female Genital Mutilation (FGM) diakui secara internasional sebagai pelanggaran hak asasi perempuan. FGM dianggap secara

3

mendalam mencerminkan ketidaksetaraan antara jenis kelamin, dan merupakan bentuk ekstrim terhadap diskriminasi perempuan. Hal ini juga hampir selalu dilakukan pada anak-anak prempuan sehingga juga merupakan sebuah pelanggaran terhadap hak-hak anak. Praktek FGM ini juga melanggar hak seseorang dalam integritas kesehatan, keamanan dan fisik, hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan, serta hak untuk hidup ketika hasil prosedur kematian ada di depan mata (WHO, 2008). Pada tahun 2008, World Health Assembly (WHA) atau Majelis Kesehatan Dunia mengesahkan resolusi tentang penghapusan FGM, menekankan perlunya tindakan terpadu di semua sektor kesehatan, pendidikan, keuangan, keadilan dan urusan perempuan (WHO, 2012). Sejak tahun 1975-1986 PBB mendesak LSM internasional untuk memberi perhatian serius kepada masalah seputar khitan perempuan, salah satu agenda aksi yang ditentukan pada konferensi PBB tentang perempuan pada tahun 1980 adalah rekomendasi untuk menghapus praktek Female Genital Mutilation (FGM). Pada tahun 1997, badan-badan PBB seperti World Health Organization (WHO) menentukan agenda bersama dengan United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan United Nations Population Fund (UNFPA) untuk 10 tahun ke depan dalam rangka menurunkan prevalensi FGM dan menghapus praktek ini secara tuntas dalam tiga generasi yang akan datang (Uddin, 2010).

4

Sunat perempuan di Indonesia mengacu pada sunat laki-laki, dikenal juga dengan istilah sirkumsisi atau khitan perempuan. Sedangkan istilah secara internasional adalah Female Genital Mutilation (FGM) atau Female Genital Cutting (FGC). Penggunaan istilah sendiri masih seringkali diperdebatkan. Istilah sirkumsisi yang bermakna cutting around secara spesifik prosedur medis pemotongan alat kelamin laki-laki atau sunat laki-laki (Yuliani, 2011). Berdasarkan penelitian Budiharsana (2004), yang dilakukan pada masyarakat di Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan, sebanyak 69% responden menytakan setuju jika anak perempuannya di sunat. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan Ida (2005) di Madura menunjukkan sebanyak 99,6% responden menyatakan pernah disunat dan melakukan sunat terhadap bayi-bayi perempuannya. Hasil penelitian dari Lembaga Studi Kependudukan dan Gender Universitas Yarsi pada tahun 2009 menunjukkan bahwa tindakan sunat perempuan dengan melakukan pemotongan genital sebesar 44% dan sisanya 56% hanya dilakukan secara simbolik yaitu dengan mengusap klitoris dengan betadin atau kassa (Uddin, 2010). Antara tahun 1996-2002, semakin banyak tenaga kesehatan yang melakukan sunat perempuan di Indonesia. Seringkali sunat perempuan sudah termasuk satu paket persalinan bersama dengan tindik telinga di beberapa klinik bersalin milik bidan (Yuliani, 2011).

5

Tenaga kesehatan yang melakukan sunat perempuan dalam penelitian Population Council adalah 31,6%. Tenaga kesehatan yang dimaksud adalah bidan (30,2%), sisanya dokter dan perawat (1,4%) (Budiharsana dkk, 2004). Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial, bersama-sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengembangkan kebijakan serta mengemukakan pesan utama sebagai bagian dari kampanye nasional untuk melarang praktek Female Cutting atau sunat perempuan di fasilitas kesehatan atau di rumah-rumah penduduk yang dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan (Budiharsana, dkk, 2004). Di Jakarta (masyarakat Betawi), Padang, dan Makassar, khitan perempuan diharapkan akan mengurangi syahwat mereka, juga agar tidak menjadi perempuan nakal (binal) dan centil. Di Gorontalo dan Makassar, upacara khitan perempuan dilakukan dalam pesta yang menurut ukuran ekonomi sangat meriah. Pada masyarakat Betawi, mereka condong menutupi acara ini, artinya, tidak ada upacara apapun berbeda dengan khitan laki-laki yang banyak dirayakan (Lutfi, 2006). Dari penelitian Population Council yang didukung oleh USAID untuk meneliti praktik khitan perempuan di Indonesia memperlihatkan, khitan di Indonesia tidak seperti di Sudan yang menghilangkan seluruh klitoris dan menjahit rapat-rapat vagina. Di daerah Banten, Gorontalo,

Lebak.100 jiwa /km2. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Padang Sidempuan.914 jiwa sedangkan perempuan 1. 2004). Kabupaten Tangerang di sebelah Utara berbatasan dengan laut .632. Kelompok etnis utama di Banten adalah suku Banten. Muslim adalah agama mayoritas penduduk Banten dengan jumlah pemeluk mencapai 96% dari total penduduk (Budiharsana. Kabupaten Tangerang yang memiliki luas wilayah 959. Berdasarkan data sensus penduduk 2010 Badan Pusat Statistik (BPS). laju pertumbuhan penduduk mencapai 2. Pandeglang.78% /tahun dengan kepadatan 1. Kabupaten Tangerang adalah salah satu bagian dari wilayah provinsi Banten. Provinsi ini terletak di bagian barat pulau Jawa.01% penduduk perkotaan dan 32.99% penduduk pedesaan. menjadi provinsi baru pada tahun 2002. sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.454. dan berbatasan dengan DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat di sebelah timur.6 Makassar.707. dan Tangerang) dan dua kota (Tangerang dan Cilegon).166 jiwa. Propinsi Banten yang sebelumnya bagian dari Provinsi Jawa Barat. Jawa dan Betawi. Sunda (Priangan). Provinsi Banten secara administratif dibagi menjadi empat kabupaten (Serang. jumlah penduduk di Provinsi Banten sebanyak 10. Dengan prosentase 67. 2011). sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda. Di Provinsi ini.6 kilometer memiliki penduduk sebanyak 2.621 Jiwa dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki sebesar 1. maupun daerah lainnya ternyata praktik khitan perempuan amat beragam (Hariyanto.383.838.

wilayah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang dan di wilayah Timur berbatasan dengan Kota Tangerang. Masyarakat Kabupaten Tangerang berbahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah. serta terbentuknya Provinsi Banten (Humas Pemkab Tangerang. wilayah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor. . Masyarakat Kabupaten Tangerang memiliki kultur budaya campuran Betawi dan Priangan. pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang pun di pindahkan Bupati H. Pada awal tahun 2000.7 jawa. diberlakukannya perimbangan keuangan pusat dan daerah. Kabupaten Tangerang memiliki 29 Kecamatan. Pemindahan ini dinilai strategis dalam upaya memajukan daerah karena bertepatan dengan penerapan otonomi daerah. Agus Djunara ke Ibukota Tigaraksa. 28 Kelurahan dan 246 Desa. adanya revisi pajak dan retribusi daerah. 2012).

. Belum adanya data yang lengkap mengenai frekuensi praktik khitan perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa membuat peneliti ingin mengetahui data praktik khitan perempuan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku khitan pada anak perempuan.8 1. tentu saja informasi mengenai pelanggaran khitan perempuan oleh seharusnya sudah di dapatkan baik oleh nakes maupun oleh masyarakat.2 Rumusan Masalah Kota Tiga Raksa terletak di wilayah Kabupaten Tangerang dan merupakan ibu kota dan pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang. sudah seharusnya Kecamatan Tiga Raksa memiliki akses yang mudah dijangkau dan informasi pun seharusnya sudah mudah didapat. Dengan pertimbangan bahwa wilayah Kecamatan Tiga Raksa yang berstatus sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang.

Diketahuinya hubungan antara pendidikan orang tua dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa.3. Diketahuinya hubungan antara umur dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa.1 Tujuan Tujuan Umum Diperoleh gambaran perilaku khitan perempuan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa. Diketahuinya gambaran perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa.3. Diketahuinya hubungan antara pekerjaan orang tua dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa. 6. .3 1.9 1. Diketahuinya hubungan antara sikap orang tua dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa. 5. 2.2 Tujuan Khusus 1. 4. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan orang tua dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa. 3. 1.

Diketahuinya hubungan antara tenaga pelaksana khitan dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa. 11.10 7. 10. Diketahuinya hubungan antara biaya sunat perempuan dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa. 9. Diketahuinya hubungan antara dukungan tokoh masyarakat dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa. . 8. Diketahuinya hubungan antara jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa. Diketahuinya hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku khitan pada anak perempuan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa.

4. Bagi Kementerian Kesehatan Sebagai salah satu informasi bagi pemerintah agar mengetahui status kesehatan dan sebagai survey demografi penduduk terutama di wilayah kerja Kecamatan Tiga Raksa. Bagi Puskesmas Sebagai salah satu informasi untuk meningkatkan kinerja puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan agar lebih aktif memberikan promosi kesehatan kepada masyarakat mengenai keuntungan dan kerugian khitan perempuan. 2. Dan sebagai sarana antisipasi adanya langkah awal yang harus dilakukan oleh Dinas Kesehatan dalam rangka membuat kebijakan kesehatan selanjutnya. khususnya mengetahui keadaan masih maraknya kepercayaan dan perilaku masyarakat mengenai khitan perempuan. serta bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait guna kebijakan selanjutnya di bidang kesehatan.4 Manfaat 1. menyediakan tenagatenaga yang professional. 3. Bagi Institusi dan Mahasiswa Kebidanan Menambah referensi mengenai perilaku sunat perempuan yang masih marak terjadi di masyarakat dan sebagai tambahan informasi .11 1. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Sebagai salah satu informasi tentang gambaran keadaan sosio demografis penduduk Kecamatan Tiga Raksa mengenai kepercayaan penduduk dalam perilaku khitan pada anak perempuan.

12 mengenai perkembangan kesehatan reproduksi khususnya tentang praktek sunat perempuan di masyarakat. Bagi Peneliti Sebagai wahana ilmu pengetahuan yang membuat peneliti semakin mengetahui tentang masalah kesehatan reproduksi terutama mengenai praktek sunat perempuan dan kelak dapat mengaplikasikan ilmu untuk kesinambungan penelitian. 6. Bagi Peneliti Lain Sebagai referensi bagi peneliti lain untuk terus mengembangkan penelitian berkesinambungan terutama tentang kesehatan reproduksi yang berkaitan tentang maraknya praktek sunat perempuan di Indonesia. 5. . Sebagai informasi mengenai kemajuan perkembangan kesehatan reproduksi agar bidan sebagai tenaga kesehatan yang akan ditempatkan bisa membuat inovasi yang tepat guna dan mendukung program pemerintah serta tidak luput dari perkembangan teknologi di bidang kesehatan.

cara radikal dimana klitoris. Khitan dalam istilah kedokteran disebut circumcision/sirkumsisi yaitu pemotongan praeputium atau kulit depan alat genital. baik pada laki-laki maupun perempuan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan Female Genital Mutilation (FGM) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai mutilasi alat kelamin perempuan sebagai penghapusan sebagian . labia minor. Female c. setiap acara. yang berarti tempat dipotong. dimana kulup dan glans klitoris serta daerah yang berbatasan dengan labia minora diangkat. 2008). Secara bahasa berasal dari kata-kata Khatana.. baik memotong pada bagian eksternal genitalia wanita atau infibulasi.1. jenis sirkumsisi pada wanita yang terdiri dari dua cara.1 Khitan Perempuan 2.1 Pengertian Sirkumsisi atau yang dalam bahasa awam disebut sunat/khitan adalah tindakan membuang sebagian prepusium penis (Pranata dkk. bentuk sirkumsisi pada wanita dimana kulup klitoris diangkat (Lutfi. al-Khitan. dan cara yang telah dimodifikasi.13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Khitan berasal dari bahasa Arab. 2006).. dan labia mayor diangkat dan jaringan tersisa diperkirakan. Pharaonic c. Sunna c..

2 Jenis Khitan Perempuan WHO (2012) membagi sunat perempuan dalam empat tipe: 1. Kelompok-kelompok lain seperti United Nations Population Fund (UNFPA) dan Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (USAID). klitoris dengan preputium. 2010).14 atau seluruh alat kelamin perempuan eksternal atau cedera lain ke organ genital wanita karena hal budaya atau lainnya (WHO. Klitoridektomi terbagi lagi dalam dua sub-tipe yaitu: tipe Ia yaitu penghapusan klitoris atau penghapusan preputium (lipatan kulit di sekitar klitoris) saja dan tipe Ib yaitu penghapusan kedua bagian. .1. Female Genital Mutilation (FGM) atau khita perempuan adalah prosedur atau tindakan pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari organ genital perempuan atau tindakan melukai lainnya terhadap organ genital perempuan baik untuk alasan budaya. 2. agama. 2008). Klitoridektomi Tipe I atau klitoridektomi adalah pengangkatan sebagian atau seluruh klitoris (bagian kecil. menggunakan istilah gabungan mutilasi alat kelamin perempuan/pemotongan sebagai Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/C). sensitif dan ereksi dari alat kelamin wanita). atau alasan lainnya tanpa alasan/indikasi medis (Kemenkes.

tipe IIb yaitu. sampai memotong ujung klitoris sampai mengeuarkan darah. penghapusan labia minora saja. 2011). Terdapat dua sub-tipe dari infibulasi. Terdapat bermacam-macam variasi sunat perempuan di Indonesia antara lain mulai dari menggores. Eksisi Pengangkatan sebagian atau seluruh klitoris dan labia minora. mencungkil. penghapusan dan aposisi dari labia minora. misalnya menusuk.15 2. Infibulasi Penyempitan lubang vagina melalui penciptaan “segel pembungkus”. menusuk. dengan atau tanpa eksisi dari labia majora (labia adalah “bibir" yang mengelilingi vagina). penghapusan sebagian atau seluruh klitoris dan labia minora. 3. 4. namun ada juga yang dilakukan secara simbolis (Yuliani. labia minora dan labia majora. Tipe dua terbagi atas tiga sub-tipe diantaranya: tipe IIa yaitu. Di Indonesia. dan memotong daerah genital. menggores. Semua prosedur berbahaya lainnya ke alat kelamin perempuan untuk tujuan non-medis. parsial atau total penghapusan klitoris. penghapusan dan aposisi dari labia majora. Segel dibentuk dengan memotong dan reposisi labia. diantaranya: Tipe IIIa. IIIb Type. . dengan atau tanpa pengangkatan klitoris. sunat perempuan yang dilakukan masuk dalam tipe empat. dan tipe IIc.

Di Selatan-timur Afrika. Di Afrika Barat.1. dan 18 persen di Republik Tanzania (UNICEF.000 perempuan dan/atau wanita telah atau beresiko FGM di Amerika Serikat (WHO. dan 80 persen di Ethiopia.16 2. Tingginya prevalensi sunat perempuan di Indonesia menurut Population of Council sebanyak 86-100% (Budiharsana dkk.3 Prevalensi Khitan Perempuan Sekitar 140 juta anak perempuan dan perempuan di seluruh dunia saat ini hidup dengan konsekuensi dari FGM. 99 persen di Guinea. Di Afrika yang diperkirakan 92 juta perempuan 10 tahun ke atas telah mengalami FGM. FGM ini kebanyakan dilakukan pada gadis-gadis muda kadang antara bayi dan usia 15. Di Afrika Utara dan Timur. 2004) menunjukkan bahwa praktek sunat tetap berlangsung di masyarakat. diperkirakan bahwa lebih dari 160. 2005). Tingkat prevalensi FGM global menampilkan hasil yang signifikan menurut variasi regional dan geografisnya. 71 persen di Mauritania. . 2012). tingkat prevalensi FGM cukup rendah dibandingkan wilayah Afrika lain yaitu 32 persen di Kenya. 17 persen di Benin dan 5 persen di Nigeria.Salah satu laporan yang ditugaskan oleh reporter Louise Slaughter. prevalensi bervariasi dari 97 persen di Mesir.

diantaranya: 1. Hygiene dan Estetik  Pertimbangan untuk menghilangkan „kotoran‟ pada kelamin luar perempuan.  Untuk keindahan bentuk kelamin luar perempuan .4 Alasan Pelaksanaan Khitan Perempuan Menurut Budiharsana. terdapat beberapa alasan masyarakat masih berpegang teguh pada budaya khitan perempuan. Psikoseksual  Untuk mengurangi dan menghilangkan jaringan sensitif pada alat kelamin bagian luar wanita terutama klitoris   Mengurangi gairah seksual yang berlebihan pada wanita Mempertahankan kesucian dan keperawanan sebelum menikah dan kesetiaan selama menikah  Meningkatkan kepuasan seksual laki-laki 2. dkk (2004). Sosiologi   Meneruskan warisan budaya Mentasbihkan/pengesahan seorang gadis menjadi perempuan sebenarnya  Integritas sosial dan mempertahankan hubungan sosial 3.1.17 2.

perdarahan. Infertilitas . luka terbuka di daerah genital dan cedera pada jaringan genital dekatnya.18  Untuk meningkatkan kebersihan dan rasa estetis pada kelamin perempuan 4.1. Mitos   Untuk menambah kesuburan Untuk meningkatkan ketahanan/survival pada anaknya kelak 5. tetanus atau sepsis (akibat infeksi bakteri). retensi urin. shock. FGM tidak memiliki manfaat kesehatan dan merugikan perempuan serta anak perempuan yang menjadi korban FGM. Adapun konsekuensi jangka panjang meliputi:    Infeksi saluran kemih dan kandung kemih berulang Kista. komplikasi yang akan terjadi mencakup sakit parah. Agama  Beberapa komunitas muslim meyakini sunat perempuan sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan.5 Komplikasi Sunat Perempuan Menurut WHO (2012). Komplikasi akibat FGM dapat terjadi segera setelah dilakukannya tindakan FGM. 2.

wanita melakukan prosedur membuka dan menutup berulang-ulang. prosedur FGM yang dengan sengaja membuat segel segel atau menyempitkan lubang vagina (tipe 3 atau infibulasi) harus dipotong kembali agar lubang vaginanya kembali terbuka jika perempuan tersebut akan menikah untuk memungkinkan hubungan seksual dan melahirkan. diantaranya: 1. Hal ini meningkatkan risiko baik secara langsung dan jangka panjang. Kadang-kadang dijahit lagi beberapa kali. Maka dalam hal ini. Menurut IPPF dalam Budiharsana (2004). akibat FGM. terdapat beberapa komplikasi yang dapat terjadi bila dilakukan sunat terhadap anak perempuan. Misalnya.19  Peningkatan risiko komplikasi persalinan dan kematian bayi baru lahir  Meningkatnya kebutuhan untuk operasi kedepan. Komplikasi jangka pendek     Perdarahan Infeksi Tetanus Gangren . termasuk setelah melahirkan.

1. 2008). Secara khusus. medikalisasi terhadap FC telah dilakukan di . hal ini pun ternyata dianggap berbahaya dan bertentangan dengan etika dasar kesehatan (Yuliani. hal ini belum disebarluaskan (WHO. Medikalisasi FC telah dimulai di beberapa Negara. 2011). WHO mengeluarkan pernyataan resmi menyarankan bahwa FC harus dilakukan oleh profesional kesehatan namun. WHO meminta perhatian terhadap bahaya medikalisasi Female Circumsision (FC). Hal ini mungkin dimaksudkan untuk resiko kesehatan dibandingkan jika dikerjakan oleh dukun bayi atau tukang sunat tanpa pengetahuan kesehatan yang adekuat.6 Medikalisasi Medikalisasi artinya keterlibatan tenaga kesehatan dalam pelaksanaan sunat perempuan. Bidan di banyak klinik bersalin mulai menjadikan FC sebagai bagian dari paket jasa persalinan. Komplikasi jangka panjang      Nyeri yang persisten Disfungsi seksual Infeksi sistem kemih kronis Inkontinensia urin Infertilitas 2. Pada bulan Agustus 1982.20 2. Tetapi.

Bahaya medikalisasi FC. terhitung sekitar (28%) dari semua kasus FC. . Ada kecenderungan meningkat terhadap medikalisasi di Kutai Kertanegara (21% dari 215 kasus yang diamati). Sumenep di Pulau Madura (18% dari 275 kasus yang diamati).21 Padang (92% dari 349 kasus yang diamati) dan Padang Pariaman (69% dari 323 kasus yang diamati). dan Serang (14. 2. terletak pada kenyataan bahwa bidan cenderung menggunakan gunting dan pisau lipat untuk tindakan „simbolis‟ seperti menggosok dan menusuk bagian luar klitoris. ke 21 dan seterusnya (Lutfi. dkk. dan kelompok "berbahaya" yang melibatkan sayatan (49%) dan eksisi (22%) (Budiharsana. 2004). 2006).5% dari 344 kasus yang diamati). Praktek FC dapat dibagi menjadi dua kelompok utama: kelompok "simbolis" dimana tidak ada sayatan atau eksisi.7 Pelaksanaan dan Usia Dilakukannya Sunat Kelamin Perempuan Bagi mereka yang berpendapat bahwa khitan bagi perempuan itu makhrumah/mubah atau bahkan sunnah. jika tidak maka di hari ke 14.1. yaitu 7 hari setelah dilahirkan. maka waktu pelaksanaannya adalah tidak berbeda antara waktu pelaksanaan yang dianjurkan bagi laki-laki dengan waktunya untuk perempuan.

orang melihatnya sebagai bentuk pelestarian tradisi kerajaan pada masa lampau yang terkait dengan ritual hidup yang menandai kedewasaan seseorang (Mesraini. dll. hadis ini termasuk hadis da‟if atau lemah sebab ada periwayatnya yang diragukan. Berdasarkan hasil penelitian metode khitan perempuan yang dilakukan oleh muslimah Indonesia dan di luar Indonesia. Turmudzi. menggunting kuku. istihdad (mencukur bulu sekitar kemaluan). Muslim. ditegaskan. dan memendekkan kumis”.22 2. 2008).8 Sunat Perempuan Dalam Perspektif Islam Hukum khitan wajib hukumnya menurut mahzab Syafi‟i dan banyak ulama. Abu Dawud. malah ada yang memasukkan sebagai perkataan Ibn Abbas bukan Nabi (Hariyanto. Bahkan sunnah menurut Maliki dan mayoritas ulama. sunat atau khitan dipandang sebagai millah Ibrahim. 2011). dimana praktik ini sebagai ritual yang memaknai proses seseorang menjadi islam. Sampai hari ini sebagian besar masyarakat di Indonesia mengenal khitan sebagai bagian dari pengajaran dan penyiaran agama islam.1. “Lima perkara yang merupakan fitrah manusia yaitu khitan. 2002). Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari. Namun. Sedangkan lapisan sosial tertentu. Sedangkan pendapat Imam Syafi‟i sendiri menegaskan bahwa khitan bersfitat wajib baik bagi laki-laki maupun perempuan (Prafitri. Dalam Islam. Dalam hadis lain dinyatakan khitan merupakan sunah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan. dan ditemukan . mencukur bulu ketiak.

banyak dibangun oleh rumor yang tersebar di masyarakat soal manfaat khitan perempuan. maka metode itu dapat dilakukan. menyiksa dan merugikan perempuan. maka metode yang dinilai dokter membahayakan dan menzalimi perempuan ini adalah diharamkan. Jika dikemudian hari.8 Sunat Perempuan Dalam Perspektif Sosial Budaya Mereka yang melandasi khitannya karena tradisi. akibatnya dia akan menjadi anak yang centil dan nakal. termasuk perempuan. Dari penelitian Population Council yang didukung oleh USAID untuk meneliti praktik khitan perempuan di Indonesia memperlihatkan. Dan hukum islam di syariatkan untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia. membahayakan/merugikan perempuan. 2006). Sedangkan khitan perempuan yang boleh/mubah adalah metode yang disarankan dokter. namun itulah yang menjadi dorongan bagi mereka untuk mengkhitan anak perempuannya. bukan sebaliknya (Lutfi. Di sebagian besar daerah penelitian tertanam kepercayaan bahwa jika tidak disunat maka nafsu seksual anak perempuan ini akan berlebihan.23 adanya beberapa metode yang justru sangat menyakitkan. Meski manfaat yang mereka dengar dan yakini berbeda-beda pada beberapa daerah. 2006). . 2.1. Sedangkan di Bandung malah sebaliknya. perempuan disunat justru akan menambah gairah seksualnya (Lutfi. berdasarkan ditemukan penelitian metode yang seksama yang dan tidak berkesinambungan.

2.2 Perilaku 2. Banyak keluhan yang diterima dari kaum perempuan seperti mereka kehilangan kepuasan seksual (Hariyanto.1 Pengertian Perilaku adalah hasil atau resultan antara stimulus (faktor eksternal) dengan respons (faktor internal) dalam subjek atau orang yang berperilaku tersebut (Linggasari. maupun daerah lainnya ternyata praktik khitan perempuan amat beragam.24 khitan di Indonesia tidak seperti di Sudan yang menghilangkan seluruh klitoris dan menjahit rapat-rapat vagina. Di daerah Banten. 2008). Makassar. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidupitu untuk selanjutnya. 2011). 2003). Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetic (keturunan) dan lingkungan.2. . Suatu mekanisme pertemuan antara kedua faktor tersebut dalam rangka terbentuknya perilaku disebut proses belajar (learning process) (Notoatmodjo. Gorontalo. Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan. Padang Sidempuan.

Ia membedakan adanya dua respons yakni: 1. ialah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu yang disebut electing stimuli. ialah respon yang timbul akibat perangsang tertentu. mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku sunat perempuan di wilayah kerja . Respondent response atau reflexive respone. diantaranya: 2.3 Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Praktek Sunat Perempuan Terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan perilaku sunat pada anak perempuan. Sering disebut reinforcing stimuli. Dalam peneitian Yuliani (2011). Operant respone atau instrumental respone .3. 2.25 Menurut Skinner (1983) dalam Notoatmodjo (2010) merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). 2.1 Umur Hasil penelitian yang dilakukan Budiharsana (2004) dari semua responden yang berusia antara 15-90 tahun ada sebanyak 69% yang menyatakan setuju dengan sunat pada anak perempuannya. Perangsangan yang diberikan mendahuli respons yang ditimbulkan dan responsnya relatif tetap.

2% yang melakukan sunat pada anak perempuannya. bagimana menjaga kesehatan anaknya. Pendidikan memberikan kekuasaan.3.2 Pendidikan Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbang anak. maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara mengasuh anak yang baik. 2. Semakin bertambahnya tingkat pendidikan semakin tambah usianya dan semakin matang perkembangannya (Ghufron.26 Puskesmas Pagelaran Kabupaten Pandegelang tahun 2010. 1995). 2011). Karena dengan pendidikan yang baik. . maka tidak terdapat hubungan antara umur responden dengan perilaku sunat perempuan. kekuatan. pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. sedangkan diantara responden yang berusia 20-35 tahun ada sebanyak 69. Dengan hasil uji statistik Fisher exact test didapatkan nilai p=0. dan kepercayaan diri utk mengambil keputusan dan tanggung jawab terhadap suatu masalah kesehatan (Kurniawati. 2012).714. didapatkan hasil 80% responden yang berusia <20 tahun dan >35 tahun melakukan sunat pada anak perempuannya.

hidung. atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata.3. dan untuk mengetahui atau mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan. baik fisik. Pembahasan mengenai kondisi ekonomi perlu dibarengi dengan pembahasan tentang angkatan kerja dan kesempatan kerja. 2010).3 Pekerjaan Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan angkatan kerja dan kesempatan kerja di Indonesia.4 Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia. Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu mendorong kemajuan. sosial. 2. dan sebagainya) (Notoatmodjo. mental.3. dan spiritual (Profil Kesehatan Indonesia.27 2. 2010). telinga. pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan: 1. . Tahu Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Menurut Notoatmodjo (2010).

3. Sintesis Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari . 5. membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut. Aplikasi Aplikasi diartikan apabila ada orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. 4. mengelompokkan. Analisis Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau memisahkan. atau memisahkan. Memahami Memahami suatu objek bukan sekadar tahu terhadap objek tersebut. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis apabila orang tersebut telah dapat membedakan. tidak sekadar dapat menyebutkan tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.28 2.

2004). dengan semakin baik pengetahuan dan semakin banyak informasi yang didapat. diharapkan mempunyai tindakan yang baik pula dalam memecahkan masalah kesehatan khususnya mengenai sunat perempuan (Rusmana. baik-tidak baik.3. Hubungan positif pengetahuan dan tindakan telah diperhatikan dalam banyak studi seperti studi tiga komuniti.29 komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. 2. dan sebagainya) (Notoatmodjo. Evaluasi Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.5 Sikap Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu. 6. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang. 2010). setuju-tidak setuju. Tingkat pengetahuan akan mempengaruhi praktik seseorang terhadap perilaku tertentu. . Dengan kata lain.

Keluarga dengan penghasilan yang cukup akan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk memanfaatkan pelayanan sunat perempuan dan dalam menentukan pemilihan tenaga yang melakukan praktik sunat perempuan. 2011). sebagai berikut: 1. . Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Bertanggung jawab (responsible) 2. Kecenderungan untuk bertindak. dan 3. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.3. Kepercayaan (keyakinan). Menghargai (valuting) 4. Menanggapi (responding) 3. sikap juga mempunyai tingkatan berdasarkan intensitasnya.6 Biaya Penghasilan rata-rata keluarga tiap bulan merupakan variabel yang sangat berperan dalama mengambil keputusan suatu masalah.30 Allport dalam Notoatmodjo (2010) menjelaskan bahwa sikap mempunyai 3 komponen pokok yaitu: 1. Seperti hanya pengetahuan. ide. Menerima (receiving) 2. karena mampu membiayai praktik sunat perempuan (Yuliani. 2. dan konsep terhadap suatu objek.

8 Dukungan Keluarga Menurut teori WHO dalam Notoatmodjo (2010).3.7 Jarak Jarak rumah dengan fasilitas pelayanan kesehatan sangat menentukan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Orang memerlukan dukungan masyarakat . tempat pelayanan yang lokasinya tidak strategis atau sulit dicapai oleh para ibu menyebabkan berkurangnya akses ibu untuk melakukan sunat pada anak perempuannya (Yuliani. 2.3.31 2. 2. Karr dalam Notoatmodjo (2010) di dalam kehidupan seseorang di masyarakat. 2011). adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai (personal references) yang telah terlebih dahulu melakukan atau turun temurun melakukan sebuah perilaku. merupakan alasan determinan perilaku yang dilakukan oleh individu.3. perilaku orang tersebut cenderung memerlukan legitimasi dari masyarakat sekitarnya. Hal ini meliputi antara lain keterjangkauan lokasi tempat pelayanan tersebut. Apabila perilaku tersebut bertentangan atau tidak memperoleh dukungan dari masyarakat.9 Dukungan Tokoh Masyarakat Menurut Snehandu B. maka ia akan merasa kurang atau tidak nyaman. Begitu pula dengan tempat pelayanan sunat perempuan. Demikian pula untuk berperilaku kesehatan.

Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu: 1. . seorang individu memerlukan contoh dari tokoh masyarakat untuk memperkuat terjadinya perilaku (Notoatmodjo. yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behaviour causes). paling tidak.3 Teori Perilaku Manusia 2. 2007). tidak menjadi gunjingan atau bahan pembicaraan masyarakat. tersedia atau tidak tersedianya fasilitasfasilitas atau sarana-sarana keselamatan kerja. 2. Faktor pemungkin (enabling factor).3. yang mencakup lingkungan fisik. yang mencakup pengetahuan. Faktor predisposisi (predisposing factors). Untuk berperilaku sehat. pelatihan dan sebagainya.1 Teori Green Menurut teori Lawrance Green (1980) dalam Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh dua faktor pokok.32 sekitarnya. sikap dan sebagainya. misalnya ketersedianya APD. 2.

ketersediaan fasilitas. sikap. Faktor penguat (reinforcement factor). Teori Green mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. peraturan-peraturan. tradisi. dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. 2010). faktor-faktor ini meliputi undangundang. . yakni faktor perilaku dan faktor di luar perilaku. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok. kepercayaan. Di samping itu. sikap.33 3. pengawasan dan sebagainya (Notoatmodjo. 2008). Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan. dan perilaku petugas terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku (Linggasari.

2 Kerangka Teori FAKTOR PREDISPOSISI     Umur Pendidikan Pekerjaan Pengetahuan FAKTOR PEMUNGKIN    Biaya Jarak Tenaga Pelaksana PERILAKU MANUSIA MENURUT GREEN FAKTOR PENGUAT   Dukungan Keluarga Dukungan Tokoh Masyarakat Sumber: Green dalam Notoatmodjo. 2010 .34 2.3.

dan pengetahuan ibu. jarak. faktor predisposisi diantaranya umur ibu. Adapun penjabaran kerangka konsep yang dimaksud pada penelitian adalah sebagai berikut: . faktor pemungkin diantaranya biaya. dan faktor penguat diantaranya dukungan keluarga. Variabel dependennya adalah perilaku khitan pada anak perempuan. Tiga faktor yang digunakan sebagai variabel independen yaitu. dan terdapat tiga faktor yang digunakan sebagai variabel bebas (independen) berdasarkan teori perilaku menurut Green dalam Notoatmodjo (2010) untuk diketahui ada atau tidaknya hubungan antara variabel independen tersebut dengan variabel dependen yang ada yaitu perilaku khitan pada anak perempuan. agama.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel. pekerjaan ibu.35 BAB III KERANGKA KONSEP 3. yaitu variabel dependen dan variabel independen. pekerjaan suami. dan dukungan tokoh masyarakat. dan tenaga pelaksana. jumlah anak perempuan. pendidikan ibu.

Dukungan Keluarga 2. Dukungan Masyarakat Tokoh . 3. Jarak 3. 2. 5. 4. Biaya 2. 6.36 Varibel Independen FAKTOR PREDISPOSISI 1. Umur Pendidikan ibu Pendidikan suami Pekerjaan ibu Pekerjaan suami Pengetahuan Ibu Variabel Dependen PERILAKU FAKTOR PEMUNGKIN 1. Tenaga Pelaksana KHITAN PADA ANAK PEREMPUAN FAKTOR PENGUAT 1.

sederajat PT SLTA yang diselesaikan oleh ibu 3. Rendah: SDSLTP tamat atau tidak tamat 2.2 Definisi Operasional Definisi No Variabel Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala 1. Tinggi: sederajat. Bekerja Nominal . Tidak bekerja/IRT 2. PT sederajat Ordinal yang diselesaikan oleh suami 4. <20->35 tahun 2. Rendah: SDOrdinal SLTP tamat atau tidak tamat 2.37 3. Pekerjaan ibu Mata pencaharian/kegiat an pokok ibu yang menghasilkan uang Kuesioner Wawancara 1. Pendidikan suami Jenjang formal sekolah tertinggi Kuesioner Wawancara 1. 20-35 tahun Ordinal dilakukan pengumpulan data yang dihitung sejak tanggal lahir sampai ulang tahun terahir 2. Tinggi: SLTA sederajat. Pendidikan ibu Jenjang formal sekolah tertinggi Kuesioner Wawancara 1. Umur Usia pada Responden saat Kuesioner Wawancara 1. akademi. akademi.

Biaya Semua dana atau uang yang harus dikeluarkan responden untuk melakukan khitan pada anak perempuan Kuesioner Wawancara 1.100. Pengetahuan ibu Segala sesuatu yang diketahui ibu mengenai sunat pada anak perempuan Kuesioner Wawancara 1. Biaya murah. Kurang bila < median = 6 2.000 Ordinal 8. Jauh (≥ 3 km) (catatan: jarak yang bisa dijangkau kendaraan umum) Ordinal . Pekerjaan Suami Mata pencaharian/kegiat an pokok ibu yang menghasilkan uang Kuesioner Wawancara 1. bila dana yang dikeluarkan >Rp. Dekat (< 3km) 2. Biaya mahal. Tidak bekerja 2.38 5.000 2.100. Bekerja Ordinal 6. Baik bila > median = 6 Ordinal 7. Jarak Pernyataan responden tentang jarak yang harus ditempuh untuk mendapatkan pelayanan khitan anak perempuan Kuesioner Wawancara 1. bila dana yang dikeluarkan <Rp.

Ada.39 9. Tenaga kesehatan (dokter. apabila suami atau anggota keluarga tidak memberikan perhatian/tidak menyuruh responden untuk melakukan khitan pada anak perempuannya Ordinal . perawat) 2. Tenaga non-Nakes (dukun sunat. paraji) Ordinal 10. Tenaga pelaksana Tenaga yang dipercaya oleh responden untuk melakukan khitan pada anak perempuannya Kuesioner Wawancara 1. apabila suami atau anggota keluarga memberikan perhatian/menyuru h responden untuk melakukan khitan pada anak perempuannya 2. Tidak ada. Dukungan keluarga Perhatian/tindakan menyuruh dari anggota keluarga terhadap responden dalam praktek khitan pada anak perempuan Kuesioner Wawancara 1. bidan.

hanya dari keluarga . Tidak ada dukungan apabila ibu melakukan sunat pada anak perempuan tidak dipengaruhi/ tidak mendapat dukungan baik dari tokoh formal dan informal. Dukungan tokoh agama/tokoh masyarakat Contoh perilaku dari tokoh agama/masyarakat tentang perilaku sunat perempuan baik tersirat mauun tersurat Kuesioner Wawancara 1. Ada apabila ibu melakukan sunat pada anak perempuan dipengaruhi/men dapat dukungan baik dari tokoh formal dan informal Ordinal 2.40 11.

Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. Ada hubungan antara umur ibu dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. 8. 6. Ada hubungan antara jarak ke tempat pelayanan khitan perempuan dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. 5. Ada hubungan antara adanya tenaga pelaksana dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. Ada hubungan antara biaya khitan perempuan dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. 10. 2. Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. 9. Ada hubungan antara Pekerjaan ibu dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. . 4. 7.41 3.3 Hipotesis 1. Ada hubungan antara pendidikan suami dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. Ada hubungan antara Pekerjaan suami dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa. 3.

. Ada hubungan antara dukungan tokoh agama/tokoh mayarakat dengan perilaku sunat pada anak perempuan di wilayah kerja Pukesmas Kecamatan Tiga Raksa.42 11.

1 Populasi dan Sampel Populasi Populasi penelitian ini adalah ibu-ibu yang memiliki anak perempuan berusia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa tahun 2012. 4. 4.43 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.2 Sampel Sampel adalah sebagian kecil populasi yang digunakan dalam uji untuk memperoleh informasi statistik mengenai keseluruhan populasi .3.1 Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian atas hasil survey yang bersifat deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel independen dan variabel dependen.3 4. Kabupaten Tangerang. 4.3. Waktu penelitian ini akan dilakukan pada bulan Februari 2013.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tiga Raksa.

2005). maka besarnya sampel yang menjadi objek penelitian dihitung dengan menggunakan rumus: ( ( )) ( ) n Z1-α/2 : besar sampel yang dibutuhkan : nilai standar pada α tertentu. 4. Karena keterbatasan waktu dan sumber daya yang ada pada penulis. bila tingkat kepercayaan yang diinginkan 95% nilainya 1.96 (tingkat kesalahan 5%) P : Proporsi/prevalensi variabel pada penelitian terdahulu (bila tidak diketahui tentukan 50%) d : Presisi/derajat keakuratan (tingkat kesalahan sampel terhadap populasi) . Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah bagian dari ibu-ibu yang memiliki anak perempuan berusia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa tahun 2012.2.44 (Chandra.3.1 Penghitungan Besar Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah bagian dari ibu-ibu yang memiliki anak perempuan berusia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tiga Raksa tahun 2012.

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rancangan pengambilan sampel secara kluster (Cluster Sampling) yaitu dengan merandom semua posyandu untuk diambil 9 posyandu. maka besar sampel minimal yang diperlukan sebanyak 82. dan pengambilan sampel ibu yang mempunyai anak usia 0-5 tahun dilakukan secara langsung dengan purposive sampling yaitu memilih sampel sesuai kriteria sampel yang dibutuhkan di tiap-tiap posyandu yang terpilih. sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 90 sampel.1 ( ) ( ) ( ) Setelah dilakukan penghitungan.96 (derajat kepercayaan 95%) P d : 69% (Budiharsana.2 yang dibulatkan menjadi 82 sampel. 2004) : 0. maka sampel ditambah 10% dari jumlah sampel minimal. Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya sampel yang drop out (DO).45 Berikut adalah pengambilan sampel yang dilakukan pada penelitian penulis: Z1-α/2 : 1. Setiap posyandu yang terpilih diambil 10 sampel .

Surat perijinan dikeluarkan oleh pihak Prodi Kebidanan Harapan Kita untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dengan tembusan Puskesmas Tiga Raksa. Kuesioner digunakan untuk mengukur faktor-faktor independen terhadap faktor dependen.2 Instrumen Penelitian Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang diberikan kepada sampel penelitian yaitu ibu-ibu yang mempunyai anak perempuan berusia 0-5 tahun yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Tiga Raksa yang berjumlah 51 orang. sehingga jumlah sampel yang diambil sesuai dengan hasil penghitungan besar sampel yaitu 90 sampel. . Proposal dipertimbangkan oleh pembimbing proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang bila sudah cukup baik. 4.4. peneliti terlebih dahulu membuat proposal penelitian.4. 4. peneliti bisa langsung melakukan penelitian.46 dengan cara Simple Random Sampling. Setelah membuat proposal. peneliti harus membuat surat perijinan lokasi penelitian. Setelah surat disetujui oleh pihak yang berwenang.4 Teknik Pengumpulan Data 4. barulah peneitian dapat mulai dilaksanakan.1 Persiapan Penelitian Sebelum penelitian dilakukan.

5.3 Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara waancara terhadap ibu-ibu yang mempunyai anak perempuan berusia 0-5 tahun dalam bulan Februari 2013 pada saat dilakukan wawancara di Kecamatan Tiga Raksa. dan konsistensi sehingga data yang salah atau meragukan dapat dikoreksi. . kejelasan.1 Pemeriksaan Data (Editing) Penyuntingan terhadap variabel yang sudah dikode untuk memeriksa kelengkapan.47 4. 4.5.3 Entry Data Data-data yang sudah terorganisir dimasukkan dalam software SPSS atau bisa dihitung manual untuk didapatkan hasil penelitian. 4. Pengumpulan data ini untuk mendapatkan data primer mengenai angka perilaku khitan perempuan di wilayah kerja Puskesmas Tiga Raksa.4. 4.5.2 Pemberian Kode (Coding) Memberikan kode agar memudahkan dalam pengelolaan data dan dapat digunakan sebagai pedoman dalam melakukan analisis data. 2005) yaitu sebagai berikut: 4.5 Pengolahan data Data yang telah terkumpul diolah melalui 4 tahapan (Chandra.

Adapun analisis bivariat yaitu analisis dengan menggunakan table silang antara variabel independen dan dependen (Chandra.48 4. Rumus Kai Kuadrat: ( ) Keterangan: ӽ2 = Kai Kuadrat O = Nilai Observasi E = nilai Ekspektasi Dengan derajat kebebasan: dk = (k-1) (b-1) dk k b = derajat kebebasan = jumlah kolom = jumlah baris . Analisa univariat dilakukan untuk mengetahui table distribusi frekuensi dari berbagai karakteristik variabel yang diteliti. Analisis bivariat yang dilakukan merupakan uji analisis terhadap data kategorik dengan kategorik sehingga uji statistic yang tepat yaitu menggunakan uji Kai Kuadrat dengan menggunakan derajat kemaknaan (α) sebesar 5%. 2005).6 Analisa Data Analisis data yang digunakan yaitu analisa univariat dan bivariat.

49 Adapun bila didapat nilai Ekspektasi <5 pada tabel 2x2 maka analisis data menggunakan uji statistic Fisher Exact. Rumus Fisher Exact: ( ) ( ) ( ) ( ) .

Chandra. Sosiologi Kesehatan. 7. 2012. Jakarta: UI-Press. Budiharsana. Implications and Possible Interventions to Uphold Women’s Health Rights. Kurniawati. 8. 10. Rini. Budiman. Depok: Skripsi FKM UI. Ghufron. 2006. 9. 3. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Population Council. Nur. . 2011. 2010. Mesraini. M. 2010. Ahmad Fathullah. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pemakaian Alat Perlindungan Diri dengan Keselamatan Kerja. 2005. Jakarta: EGC. Depok: Skripsi FKM UI. Lutfi. Meiwita. Fauzi.50 DAFTAR PUSTAKA 1. Fiqh Khitan Perempuan. 2004. Jakarta: Yayasan Jurnal Permpuan. 2008. 1995. 4. Research Report: Female Circumcision in Indonesia Extent. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Epistemologis Mahasiswa: Ringkasan Disertasi. Praktik Khitan Perempuan di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Tebo Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten Tebo Provinsi Jambi Tahun 2010. Linggasari. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 5. Jakarta: Al-Mughni Press. Metodologi Penelitian Kesehatan. Permenkes Nomor 1636 Tahun 2010 tentang Sunat Perempuan. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Lib-UGM. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Notoatmodjo. Soekidjo. 2002. dkk. 6. Muzaham. Khitan Perempuan: Antara Mitos dan Legitimasi Doktrinal Keislaman.

Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Khitan Perempuan. 2008. Jakarta: CV.00 WIB Melalui: http://www. Basilica Dyah. Profil Provinsi Banten. 2007. Australian National University.humasprotokol. Depok: FIB UI. 2003. Oong. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Diakses tanggal 07 Oktober 2012 pukul 20. Rusmana. Sagung Seto.go. __________________. . 2012. Profil Kabupaten Tangerang. Jawa Barat Tahun 2003.bantenprov. Putranti. 2003. Prafitri. Pemerintah.id/2012/07/profil-provinsi-banten/ 15. Sagung Seto. 2012.00 WIB Melalui: http://www.bantenprov. Provinsi Banten.id/2012/07/profil-kabupatentangerang/ 14. Kajian Terhadap Praktik Khitan Pada Anak Perempuan di Wilayah Puskesmas Sindangkerta Kecamatan Pagelaran Kabupaten Cianjur. 19. Yoga. Pranata. 2004. 16. 17. 2008. 18. Ford Foundation. Jakarta: Rineka Cipta. 2004. Sirkumsisi yang Aman dan Efisien. dkk. __________________.humasprotokol. Kabupaten Tangerang. PDII-LIPI: Laporan Penlitian Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada. Jakarta: Rineka Cipta. Soetjiningsih. Depok: Skripsi FKM UI. Pemerintah. 13. Jakarta: CV. 12. Sunat Laki-laki dan Perempuan Pada Masyarakat Jawa dan Madura. Ratih Andita.51 11. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Diakses tanggal 07 Oktober 2012 pukul 20.go.

2005. . UNFPA. UNIFEM. UNESCO. 23. Sunat Perempuan Madura (Belenggu Adat. Female Circumcision : A Social. Jakarta : Yarsi University Press. Female Genital Mutilation/Cutting: A Statistical Exploration. 22. Eliminating Female Genital Mutilation: an Interagency Statement UNAIDS. 21. UNHCR. New York: UNICEF. WHO. Ani. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Khitan Perempuan di Wilayah Kerja Puskesmas Pagelaran Kabupaten Pandegelang Tahun 2010. Cultural. Swiss: WHO Press. dan Hak Asasi Manusia. Normativitas Agama. 2011. UNICEF.52 20. Geneva. 2008. UNECA. Uddin. Depok: Skipsi FKM UI. UNHCHR. 2010. UNICEF. 2008. 2012. 24. Zamroni. Jurnalis. UNDP. Health and Religious Perspectives. Yuliani. Imam. Yogyakarta: UGM. WHO.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.