You are on page 1of 19

TUGAS AGAMA ISLAM

EKONOMI ISLAM

oleh : 1. ACHMAD RIZAL ISMAT PUTRA 2. ARSI YOTA IHSANINGRUM 3. NIKEN ENDRAS CAMARITA D III TEKNIK LISTIK 3A (01) (02) (22)

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI MALANG 2013

A. PENDAHULUAN Sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, pasar dan sistem perdagangan di kota itu dikuasai dan dimonopoli sepenuhnya oleh orang-orang Yahudi. Maju dan mundurnya masyarakat Madinah pada masa itu secara tidak langsung diatur oleh kapitalis Yahudi. Di dalam masyarakat terjadinya penindasan, penzaliman dan riba dimana-mana. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, sebagai pemimpin, Rasulullah tidak berdiam diri melihat kekacauan masyarakat Madinah yang bersumber pada eksploitasi oleh sistem ekonomi kapitalis. Langkah yang diambil Rasulullah adalah mengerahkan Sayidina Abdurrahman bin Auf, seorang hartawan, untuk membangun sistem ekonomi bertaraf Allah dan Rasul. Sayidina Abdurrahman bin Auf memulakan dengan membangun pasar yang dikelola seratus peratus oleh umat Islam sendiri berlokasi tidak jauh dari pasar Yahudi, yang kemudian diberi nama Suqul Anshar atau pasar Anshar. Semua orang Islam dihimbau untuk berjual beli dan melakukan semua aktivitas perdagangan di pasar itu tanpa bekerjasama sedikit pun dengan Yahudi dan tanpa terlibat dengan produk atau barang mereka. Dengan semangat perpaduan serta ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya umat Islam saat itu menumpukan perhatian semata-mata di Suqul Anshar. Bahkan bukan itu saja, karena dalam sistem ekonomi Islam tidak ada penindasan atau riba serta amat memberi kemudahan dan di dalamnya juga terdapat semangat perpaduan dan rasa ber-Tuhan yang tajam, maka banyak orang bukan Islam dan orang luar kota pun tertarik untuk berdagang ke Suqul Anshar. Hasil dari perjuangan itu maka dalam waktu singkat ekonomi Madinah beralih ke tangan umat Islam, sehingga ekonomi Yahudi yang sudah ratusan tahun, gulung tikar dan bangkrut bahkan mereka menjadi miskin dan akhirnya menutup pasar mereka. Oleh sebab itu jugalah sampai saat ini mereka sangat membenci dan dendam pada umat Islam dan sangat menginginkan secara ekonomi, umat Islam berada dalam kekuasaan mereka tanpa umat Islam menyadarinya. Perpaduan umat Islam pada masa itu dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, berhasil membangun ekonomi Islam dan sekaligus merobohkan musuh tanpa berperang. Seharusnya kita sebagai umat Islam mengambil teladan dan mengikuti sunnah Nabi kita sebagai satu strategi untuk membangun sistem ekonomi Islam.

Dalam sejarah, lahirnya ekonomi Islam pada masa-masa sekarang ini lebih disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor ajaran agama yang melarang riba dan menganjurkan sodaqoh. Kedua, timbulnya surplus dolar dari negara-negara penghasil dan pengekspor minyak dari Timur Tengah dan negara Islam dimana mereka pada akhirnya membutuhkan institusi keuangan Islam untuk menyimpan dana mereka. Dengan hancurnya komunisme dan sistem ekonomi sosialis pada awal tahun 90-an membuat sistem kapitalisme disanjung sebagai satu-satunya sistem ekonomi yang sahih. Tetapi ternyata, sistem ekonomi kapitalis membawa akibat negatif dan lebih buruk, karena banyak negara miskin bertambah miskin dan negara kaya yang jumlahnya relatif sedikit semakin kaya. Dengan kata lain, kapitalis gagal meningkatkan harkat hidup orang banyak terutama di negara-negara berkembang. Bahkan menurut Joseph E. Stiglitz (2006) kegagalan ekonomi Amerika dekade 90-an karena keserakahan kapitalisme ini. Ketidakberhasilan secara penuh dari sistem-sistem ekonomi yang ada disebabkan karena masing-masing sistem ekonomi mempunyai kelemahan atau kekurangan yang lebih besar dibandingkan dengan kelebihan masing-masing. Kelemahan atau kekurangan dari masing-masing sistem ekonomi tersebut lebih menonjol ketimbang kelebihannya. Karena kelemahannya atau kekurangannya lebih menonjol daripada kebaikan itulah yang menyebabkan muncul pemikiran baru tentang sistem ekonomi terutama dikalangan negara-negara muslim atau negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam yaitu sistem ekonomi syariah. Negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim mencoba untuk mewujudkan suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada Al-quran dan Hadist, yaitu sistem ekonomi Syariah yang telah berhasil membawa umat muslim pada zaman Rasulullah meningkatkan perekonomian di Jazirah Arab. Dari pemikiran yang didasarkan pada AlQuran dan Hadist tersebut, saat ini sedang dikembangkan Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah di banyak negara Islam termasuk di Indonesia. Ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah merupakan perwujudan dari paradigma Islam. Pengembangan ekonomi Syariah dan Sistem Ekonomi Syariah bukan untuk menyaingi sistem ekonomi kapitalis atau sistem ekonomi sosialis, tetapi lebih ditujukan untuk mencari suatu sistem ekonomi yang mempunyai kelebihan-kelebihan untuk menutupi kekurangan-kekurangan dari sistem ekonomi yang telah ada. Islam diturunkan ke muka bumi

ini dimaksudkan untuk mengatur hidup manusia guna mewujudkan ketentraman hidup dan kebahagiaan umat di dunia dan di akhirat sebagai nilai ekonomi tertinggi. Umat di sini tidak semata-mata umat Muslim tetapi, seluruh umat yang ada di muka bumi. Ketentraman hidup tidak hanya sekedar dapat memenuhi kebutuhan hidup secara melimpah ruah di dunia, tetapi juga dapat memenuhi ketentraman jiwa sebagai bekal di akhirat nanti. Jadi harus ada keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan hidup di dunia dengan kebutuhan untuk akhirat.

B. PENGERTIAN EKONOMI ISLAM Ekonomi Islam adalah sebuah madzhab (Pengertian Madzhab bisa dibagi 2. Ada arti menurut bahasa, ada arti menurut istilah. Berdasarkan bahasa atau dilihat dari kosakata, madzhab merupakan bentuk isim makan dari kata dzahaba, artinya jalan atau tempat yang dilalui, sedangkan menurut istilah ulama ahli fiqih, madzhab adalah mengikuti sesuatu yang dipercayai) ekonomi yang terjelma di dalamnya bagaimana Islam mengatur kehidupan perekonomian, dengan suatu paradigma yang terdiri dari nilai-nilai moral Islam dan nilainilai ilmu ekonomi, atau nilai-nilai sejarah yang ada hubungannya dengan masalah-masalah siasat perekonomian maupun yang ada hubungannya dengan uraian sejarah masyarakat manusia (Al-Shadr, 1968). Ekonomi Islam juga bisa didefinisikan dengan sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari Al Quran dan Sunnah, yang ada hubungannya dengan urusan-urusan ekonomi, seperti firman Allah :

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Baqarah : 29) Firman-Nya lagi :

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Luqman : 20) Kedua ayat di atas, dan banyak lagi semisalnya dalam Al-Quran, meletakkan prinsip ekonomi yang penting, memutuskan bahwa segala cara usaha pokok asalanya adalah boleh. Dan firman Allah :

Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Al-Baqarah : 275) Ayat ini meletakkan prinsip umum yaitu dihalalkannya berjual beli dan diharamkannya riba. Dan firman-Nya juga :

Bagi laki-laki ada bagian dari hasil usaha mereka, dan bagi wanita pun ada bagian dari hasil usaha mereka. (Al-Nisa : 32) Firman ini meletakkan prinsip umum, dengan keputusan bahwa hasil pekerjaan kembali kepada yang mengerjakannya, tidak ada perbedaan dalam soal ini antara laki-laki dan wanita. Dan firman-Nya :

Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu sekalian. (Al-Hasyr : 7) Firman ini meletakkan kendali umum, dengan memutuskan bahwa kepemimpinan harus dapat mengembalikan distribusi kekayaan dalam masyarakat manakala tidak ada keseimbangan di antara mereka yang dipimpinnya. Sabda Rasulullah SAW : Semua muslim atas muslim lainnya, haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hadits ini meletakkan prinsip umum, yakni haram menganiaya dengan menerjang hak atas harta orang Islam lainnya. Begitu seterusnya ayat-ayat dan hadits-hadits yang meletakkan prinsip-prinsip umum ekonomi yang penting. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip umum

adalah bahwa bahwa prinsip-prinsip ini tidak berubah ataupun berganti serta cocok untuk setiap saat dan tempat, tanpa peduli dengan tingkat kemajuan ekonomi dalam masyarakat.

C. PRINSIP DASAR EKONOMI ISLAM Prinsip-prinsip yang mendasari ekonomi Islam : 1. Tauhid Tauhid merupakan dasar pijakan ekonomi syariah. Karena setiap muslim, dalam menjalankan kegiatan apapun, pijakan dan dasarnya adalah wujud dari penghambaan kepada Sang Khalik. Allah SWT berfirman :

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Ad-Dzariyat/ 51 : 56) Atas dasar prinsip itulah, seorang muslim dalam menjalankan aktivitas ekonominya pun mengacu pada aspek Tauhid ini, yaitu sebagai salah satu bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah SWT. 2. Maslahah dan Falah Dalam Islam, tujuan Syariah Islam atau yang biasa disebut dengan maqashid syariah adalah mewujudkan kemaslahatan untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi, yaitu FALAH. Falah dalam dimensi dunia berarti sebagai kelangsungan hidup, kebebasan dari kemiskinan, pengetahuan yang bebas dari segala kebodohan, serta kekuatan dan kehormatan. Sedangkan untuk dimensi akhirat falah mencakup kelangsungan hidup yang abadi, kesejahteraan abadi dan kemuliaan abadi. Maslahah adalah segala sesuatu yang mengandung dan mendatangkan manfaat. Dalam ushul fiqh didefinisikan sebagai jalbul manfaah wal darul mafsdah (menarik manfaat dan menolak kemadharatan. Sehingga dengan prinsip ini Islam menolak segala kativitas ekonomi yang mendatangkan mafsadah (kerusakan), karena bertentangan dengan maslahah.

3. Khalifah (Wakil Allah di Bumi) Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah (wakil Allah) di muka bumi, yang diantara tugasnya adalah mengelola alam dan memakmurkan bumi sesuai dengan titah dan syariah Allah. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam mengemban tugasnya sebagai khalifah, manusia bebas dan dapat berfikir serta menalar untuk memilih antara yang benar dengan yang salah, fair dan tidak fair dan mengubah hidupnya kearah yang lebih baik. Dan untuk mengemban tugas tersebut, manusia diberkahi dengan semua kelengkapan akal, spiritual dan material. Firman Allah SWT :

"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS. Al-Insan/ 76:3) Firman Allah SWT :

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Arra'd/ 13 : 11)

4. Al-Amwal (Harta) Berdasarkan konsep ekonomi Islam, Allah sebagai pemilik harta yang hakiki, sedangkan kepemilikan manusia bersifat relatif, artinya manusia hanyalah sebagai penerima titipan (pemegang amanah) yang kelak harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah SWT. Konsep ini bertolak belakang dengan konsep pemilikan harta dalam ekonomi konvensional, dimana dalam sistem ini kepemilikan harta bersifat absolut dan mutlak milik individu. 5. Adil (Keadilan) Allah yang menurunkan Islam sebagai system kehidupan bagi seluruh umat manusia menekankan pentingnya penegakan keadilan dalam setiap sektor, baik ekonomi maupun sosial. Komitmen syariah Islam terhadap keadilan sangat jelas, terlihat diantaranya dari banyaknya ayat-ayat dan hadits-hadits yang berbicara tentang keadilan, baik dalam Al-Qur'an maupun dalam Sunnah. Bahkan keadilan merupakan suatu persyaratan bagi seorang muslim, untuk menggapai derajat taqwa kepada Allah SWT. 6. Ukhuwah (Persaudaraan) Al-Qur'an dan Sunnah mengajarkan ukhuwah (persaudaraan) antara sesama manusia, khususnya sesama muslim. Karena pada dasarnya setiap mukmin adalah saudara bagi mu'min lainnya. Firman Allah SWT :

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS Al-Hujurat/ 49 : 10) Implikasi dari prinsip ini dalam perekonomian Islam terutama tercermin dalam tanggung jawab dan usaha bersama dalam pengentasan kemiskinan. Seperti konsep jaminan sosial yang merupakan fardhu kifayah yaitu menjadi tanggung jawab sekelompok masyarat atau negara. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang melapangkan kesulitan dunia seorang mu'min, maka Allah akan melapangkan baginya

kesulitan hari akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang mu'min maka Allah akanmenutupi aibnya pada hari kiamat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim & Turmudzi). 7. Akhlak (Etika) Akhlak merupakan salah satu inti dari ajaran Islam. Islam telah menuntun

seorang muslim untuk bersikap ihsan, menjaga amanah, sabar, jujur, rendah hati, tolong menolong, kasih sayang, malu, ridho, dsb. Karena ekonomi Islam merupakan bagian dari ibadah muamalah, maka setiap aktivitas harus dilandasi oleh norma dan etika Islam. Dan hal inilah yang membedakan antara system ekonomi Islam dengan system ekonomi yang lain. 8. Ulil Amri (Pemerintah) Dalam Islam, negara bertanggung jawab untuk memelihara aqidah Islam dan melaksanakan hokum-hukum Allah secara sempurna di tengah-tengah kehidupan termasuk melaksanakan pengaturan disegala bidang, termasuk ekonomi. Negara bertanggung jawab atas pengadaan kebutuhan hidup masyarakat. Dan masyarakat pun harus mematuhi ketentuan sang pemimpin sepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang digariskan dalam agama Islam. Allah SWT berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benarbenar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa/ 4 : 59) 9. Berjamaah (Kerjasama Sinergy) Prinsip kerjasama merupakan satu prinsip penting dalam ekonomi Islam. Pentingnya kerjasama ini juga dapat kita lihat dari "pahala" yang Allah berikan terhadap

amal ibadah yang dilakukan dengan cara "berjamaah", seperti shalat yang pahalanya 27 derajat lebih baik dibandingkan dengan shalat sendiri-sendiri. Dalam beraktivitas ekonomi, dengan berjamaah akan dapat menghasilkan output yang lebih maksimal. Sehingga satu usaha syariah, sesungguhnya merupakan bagian dari usaha syariah lainnya. Asuransi Syariah merupakan bagian dari Bank Syariah, demikian juga sebaliknya. Kemudian ditunjang lagi dengan segala usaha yang berasaskan syariah. Jika "keberjamaahan" ini dapat berjalan dengan baik, insya Allah hasil yang akan di dapatkan oleh ekonomi syariah akan semakin baik dan semakin maksimal.

D. SISTEM EKONOMI ISLAM Sistem ekonomi Islam adalah sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari Al-Quran dan sunnah, dan merupakan bangunan perekonomian yang didirikan atas landasan dasar-dasar tersebut yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan keadaan saat ini. Sistem ekonomi Islam sangat berbeda dari ekonomi kapitalis maupun sosialis. Ekonomi Islam bukan pula berada di tengah-tengah antara keduanya, karena sangat bertolakbelakang dengan sistem ekonomi kapitalis yang lebih bersifat individual, sistem ekonomi sosialis yang memberikan tanggung jawab penuh kepada warganya serta komunis yang lebih condong kepada kebijakan pemerintah. Sedangkan ekonomi Islam menetapkan bentuk perdagangan serta penentuan yang boleh dan tidak boleh ditranskasikan seperti pengaturan laba dan riba. Menekankan kebijakan untuk kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil kepada semua pelaku ekonomi, serta kebersamaan dan kekeluargaan yang harus dimiliki dan diterapkan, sehingga rasa individu untuk memenangkan kompetisi dan persaingan dengan berbagai cara bisa diminimalisir. Sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang mandiri dan terlepas dari sistemsistem ekonomi lainnya. Adapun yang membedakan sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya, adalah : 1. Asumsi dasar dan norma pokok dalam proses maupun interaksi kegiatan ekonomi yang diberlakukan. Dalam sistem ekonomi Islam, yang menjadi asumsi dasarnya adalah syariat Islam.

2. Prinsip ekonomi Islam adalah penerapan asas efisiensi dan manfaat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan alam. 3. Motif ekonomi Islam adalah mencari keseimbangan dunia dan akhirat dengan jalan beribadah.

E. HAKIKAT HARTA DAN KEKAYAAN DALAM ISLAM Sudah menjadi naluri manusia bahwa dia suka kepada harta kekayaan. Karena dengan harta kekayaan yang ada pada dirinya, dia mempunyai kekuasaan untuk dapat membeli sejumlah barang atau jasa dalam rangka memenuhi berbagai hidupnya. Naluri ini dijelaskan Allah, sebagaimana firman-Nya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa yang diinginkan, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kedua pilihan, binatang-binatang ternak sawah dan lading. Itulah kesenangan hidup di dunia ; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). (QS.3 : 14) Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS.89 : 20) Kesukaan harta yang berlebihan menyebabkan manusia berkecenderungan bersifat kikir. Sisi lain ada manusia yang bersifat boros dalam menggunakan harta. Sikap boros dalam membelanjakan harta akan menjurus pada kemewahan hidup. Hal ini menyebabkan terjadinya ketimpangan dan tindak kejahatan dalam masyarakat, karena hilangnya rasa keadilan dan kesejahteraan. 1. Kedudukan harta dalam Islam a. Harta kekayaan pada hakekatnya adalah milik Allah. Firman Allah : Ingatlah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. (QS.10 : 55). b. Harta kekayaan sebagai amanah Tuhan (QS. 8 : 27 -28 ) Al Quran mengatakan : Carilah negeri akhirat dengan kekayaan yang dianugrahkan Tuhan kepadamu, dan janganlah lupa bagaimana di dunia ini. (QS.28 : 77). Kata amanah dalam bahasa sehari-hari berarti mempercayakan sesuatu kepada orang lain dengan kejujuran untuk dijaga dan akan dikembalikan kepada pemilik dalam keadaan persis sama (sejauh mungkin) dengan ketika dititipkan. Karena semua benda adalah milik Yang Maha Kuasa (31 : 26 ; 42 : 2), Allah memiliki alam semesta (kekayaan) secara absolute, sebab Allah Maha Alamin, yang

diciptakan-Nya dengan tujuan keadilan (28 : 76, 84) yang diserahkan kepada manusia (33 : 72). Dengan amanah tersebut secara jelas Sang Pencipta (Allah sebagai pemberi amanah) mengharapkan manusia (sebagai penerima amanah) menggunakan harta kekayaan yang diperoleh sesuai dengan mkasud dan tujuan yang sebenarnya. c. Harta sebagai ujian manusia (QS. 18 : 46 ; 8: 27-28. 63 :9-10 ; 34 : 37) Pada hakekatnya kekayaan adalah hak semua orang (2 : 29), maka ia tidak boleh terpusat di tengah segelintir orang. Dalam memegang harta kekayaan manusia akan diuji dalam penggunaannya. Apakah dengan adanya kekayaan manusia semakin dekat dengan Allah atau semakin jauh melupakan diri dari Tuhan. Jika diuji dengan kekurangan harta kekayaan apakah manusia tetap sabar dengan semakin dekat dengan Allah dan semakin kerja keras ataukah semakin putus asa dan buruk sangka kepada Allah. d. Alat beribadah (QS. 2 : 261-262) Dengan harta kita bisa melaksanakan ibadah dengan baik dalam arti ibadah yang luas, yang vertical dan horizontal. Dengan harta kita berusaha menciptakan keharmonisan diri dengan Tuhan dan dengan sesama ciptaan-Nya. 2. Cara mempergunakan harta kekayaan Cara penggunaan harta kekayaan tergantung dari pribadi masing-masing akan tetapi Allah telah menetapkan aturan agar harta yang dimiliki seseorang bisa fungsional untuk kebaikan diri dan masyarakat secara keseluruhan. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah sebagian dari rizki yang telah kami berikan kepadamu, sebelum datang hari, yang pada hari itu tidak ada lagi pershaba-tan yang akrab dan tidak ada syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim. (QS. 2 : 254 ) Al-Quran tidak melarang manusia mengumpulkan harta benda, akan tetapi penyalahgunaan kekayaan menyebabkan manusia buta terhadap nilai-nilai luhur dikecam keras oleh Al Quran (QS.102 : 1-8 ; 104 : 1-4). Al-Quran menganjurkan bahwa harta kekayaan harus didistribusikan kepada yang yang berhak. Kelompok masyarakat yang tidak diperkenankan menjadi terlalu kaya, sememntara kelompok lainnya menderita kemiskinan, hal ini akan menyebabkan ketimpangan sosial.

Kekayaan tidak boleh berputar hanya dalam lingkaran orang-orang kaya. (QS. 59 : 7) Lebih lanjut cara penggunaannya adalah : a. Pemilikan pribadi dibenarkan hanya jika penggunaan hak itu tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat. b. Seseorang dibenarkan mempergunakan harta kekayaan dalam batas-batas tertentu, yaitu dalam batas tidak kurang dan tidak melebihi rata-rata penggunaan dalam masyarakat. Allah berfirman : Dan mereka yang apabila mempergunakan hartanya tidak berlebihan dan tidak pula berkekurangan, melainkan berada dalam keseimbangan antara keduanya. (QS.25 : 67). c. Penggunaan harta kekayaan yang berlebihan (tabdzir atau israf) bertentangan dengan prikemanusiaan. Berikanlah kepada keluarga orang miskin dan orang yang terlantar, dan janganlah kamu berlebih-lebihan (mewah) sekali. Sebab yang berlebih-lebihan itu adalah kawan-kawan seta, sedang setan itu ingkar kepada Tuhannya. (QS.17 : 26-27). d. Kemewahan selalu menjadi provokasi terhadap pertentangan golongan dalam masyarakat yang berakhir distruktif (menghancurkan) (QS.12:16). Sebaliknya penggunaan kurang dari rata-rata masyarakat, akan merusakan diri sendiri dalam masyarakat, disebabkan membekunya sebagian dari kekayaan umum yang dapat digunakan untuk menfaat bersama (QS.47:38). e. Penggunaan harta kekyaan adalah untuk kepentingan umum. Firman Allah : Dan berikanlah kepada mereka (orang-orang yang miskin) itu dari harta Tuhan yang telah diberikan-Nya kepada kamu. (QS.26:33). Dan orang-orang itu pada hara mereka terdapat hak yang pasti bagi orang miskin yang meminta-minta maupun yang tidak meminta-minta. (QS.70 : 24-25). 3. Fungsi harta kekayaan a. Sebagai sarana pemenuhan amanah ketuhanan (melaksanakan anjuran agama, terutama proses aktualisasi harta dalam mengurangi jurang kemiskinan yaitu Zakat.

b. Sebagai alat menjaga kehormatan dan kewibawaan seseorang, karena dengan memiliki harta kekayaan dapat menghindaritindakan yang tidak sesuai dengan agama. Misalnya : meminta-minta, pencurian, rentenir, atau riba. c. Sarana untuk mensucikan diri di hadapan Allah, sebab harta kekayaan adalah amanah maka harus dikembangkan sesuai dengan tujuannya, infak, sadaqah, zakat dan lain sebagainya. Contoh yang konkrit, dengan harta kekayaan, seseorang bisa melaksanakan ibadah qurban, panggilan Tuhan seperti ibadah haji. d. Untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, karena harta dan kekayaan merupakan indikator kebahagiaan walaupun relatif (QS. 2:201 ; 28:77) Firman Allah : Sesungguhnya Alllah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka, dengan memberikan syurga untuk mereka. (QS.9 : 111).

F. PENGELOLAAN ZAKAT 1. Pengertian Pengelolaan Pengeloaan zakat adalah kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat. Sedangkan istilah zakat sendiri berasal dari kata zaka yang artinya tumbuh dengan subur. Dan yang dimaksud dengan zakat adalah kadar harta tertentu yang wajib diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Jadi, dalam pengelolaan zakat dapat dipikirkan cara-cara pelaksanaannya dengan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan tujuan zakat ialah meningkatkan taraf hidup anggota masyarakat yang lemah ekonomi dan mempercepat kemajuan agama Islam menuju tercapainya masyarakat yang adil, maju dan makmur diridhoi oleh Allah SWT. Apabila tidak mencukupi dana yang dikumpulkan melalui zakat (2,5 kg) maka Islam memberikan pemungutan tambahan terhadap harta kekayaan masyarakat. Seperti yang ditegaskan oleh hadits Nabi Muhammad :

.
"Sesungguhnya di dalam harta kekayaan itu ada selain zakat."

Pada intinya Islam membukakan pintu kesejahteraan pemerataan ekonomi menuju ke masyarakat yang adil dan makmur. Disini selain harta kekayaan disalurkan untuk zakat, harta itu bisa disalurkan misalnya lewat shadaqah dan infaq. 2. Asas Pengelolaan Pengelolaan zakat berasaskan iman dan takwa, keterbukaan dan kepastian hukum sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 3. Tujuan Pengelolaan Tujuan pengelolaan zakat adalah: a. Meningkatkan pelayanan dalam menunaikan zakat, sesuai dengan tuntutan zaman. b. Meningkatnya fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial. c. Meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat. 4. Organisasi Pengelola Zakat Berdasarkan pasal 6-10 UU No. 38 Tahun 1999, pasal 1 s.d. pasal 12, pasal 21, 22, 23 dan 24 Keputusan Menteri Agama No. 581 tahun 1999, organisasi pengelolaan zakat dapat dilakukan oleh Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). BAZ dan LAZ mempunyai tugas pokok mengumpulkan, mendistribusikan dan mendayagunaan zakat sesuai dengan ketentuan agama. Dalam melaksanakan tugasnya LAZ dan BAZ bertanggung jawab kepada pemerintah sesuai dengan tingkatannya (pasal 8 dan 9 undang-undang dan pasal 1 Keputusan Menteri Agama). a. Badan Amil Zakat (BAZ) BAZ adalah organisasi pengelola zakat yang dibentuk oleh pemerintah terdiri dari unsur masyarakat dan pemerintah dengan tugas mengumpulkan, mendistribusikan, mendayagunaan zakat sesuai dengan ketentuan agama. Badan Amil Zakat meliputi BAZ Nasional, BAZ Propinsi, BAZ Kabupaten/Kota, BAZ Kecamatan. Badan Amil Zakat terdiri atas ulama, kaum cendekia, tokoh masyarakat, tenaga professional dan wakil pemerintah. Mereka harus memenuhi persyaratanpersyaratan antara lain : memiliki sifat amanah, adil, berdedikasi, professional dan berintergritas tinggi. Masa tugas pelaksanaannya selama tiga tahun. Tanggung jawab, wewenang dan tata kerja BAZ meliputi :

Ketua badan pelaksana BAZ bertindak dan bertanggung jawab untuk dan atas nama Badan Amil Zakat baik ke dalam maupun keluar. Dalam melaksanakan tugasnya masing-masing BAZ menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi di lingkungan masing-masing, serta melakukan konsultasi dan memberikan informasi antar BAZ di semua tingkatan.

Setiap pimpinan satuan organisasi di lingkungan BAZ bertanggung jawab mengkoordinasikan bawahannya masing-masing dan memberikan bimbingan serta petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahan.

Setiap pimpinan satuan organisasi di lingkungan BAZ wajib mengikuti dan mematuhi ketentuan serta bertanggung jawab kepada atasan masing-masing dan menyampaikan berkala tepat pada waktunya.

Setiap kepala divisi/bidang/seksi/urusan BAZ menyampaikan laporan dengan kepala BAZ melalui sekretaris, dan sekretaris menampung laporan-laporan tersebut serta menyusun laporan-laporan berkala BAZ.

Setiap laporan yang diterima oleh pimpinan BAZ wajib diolah dan digunakan sebagai bahan untuk penyusunan laporan lebih lanjut dan untuk memberikan arahan kepada bawahannya.

Dalam melaksanakan tugasnya setiap pimpinan satuan organisasi BAZ dibantu oleh kepala satuan organisasi di bawahnya dan dalam rangka pemberian bimbingan kepada bawahan masing-masing wajib mengadakan rapat bekala.

Dalam melaksanakan tugasnya BAZ memberikan laporan tahunan kepada pemerintah sesuai dengan tingkatannya. Pembentukan dan Tempat Kedudukan Badan Amil Zakat Tingkat Nasional dibentuk oleh Presiden dan usul Menteri Agama. BAZ Nasional berkedudukan di Ibu Kota Negara. Tingkat Propinsi dibentuk oleh Gubernur dan usul Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi. BAZ Propinsi berkedudukan di ibu kota Propinsi, Tingkat Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota dan Departemen Agama Kabupaten/Kota. Berkedudukan di ibu kota Kabupaten/Kota.

Tingkat Kecamatan dibentuk oleh camat atau usul Kantor Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan. Berkedudukan ibu kota Kecamatan. Susunan BAZ disemua tingakatannya sama yaitu : Dewan Pertimbangan, Komisi Pengawas dan Badan Pelaksana. Sedangakan Tugas BAZ dari Nasional sampai Kecamatan sebagai berikut : Menyelenggarakan tugas administratif dan teknis pengumpulan,

pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Mengumpulkan dan mengolah data yang diperlukan untuk penyusunan rencana pengelolaan zakat. Menyelenggarakan bimbingan di bidang pengelolaan, pengumpulan,

pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Melaksanakan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat, menyusun rencana dan program pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, pendayagunaan dan pengembangan pengelolaan zakat. (tingkat

Kabupaten/Kota dan Kecamatan) Menyelenggarakan tugas penelitian dan pengembangan, komunikasi informasi, dan edukasi pengelolaan zakat. (tingkat Nasional dan propinsi) b. Lembaga Amil Zakat (LAZ) Lembaga Amil Zakat adalah intitusi pengelolaan zakat yang sepenuhnya dibentuk atas prakarsa masyarakat dan oleh masyarakat yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial dan kemaslahatan umat Islam. Lembaga Amil Zakat dikukuhkan, dibina dan dilindung pemerintah. Dalam melaksanakan tugasnya LAZ memberikan laporan kepada

pemerintah sesuai dengan tingkatannya (pasal 31 Keputusan Menteri Agama). Pengukuhan LAZ dilakukan oleh pemerintah atas usul LAZ yang telah memenuhi persyaratan. Pengukuhan dilaksanakan setelah terlebih dahulu dilakukan penelitian persyaratan. Pengukuhan dapat dibatalkan apabila LAZ tersebut tidak lagi memenuhi persyaratan. Pemerintah yang dimaksud adalah : Di pusat dilakukan oleh Menteri Agama. Di daerah propinsi dilakukan oleh Gubernur atas usul Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi.

Di daerah Kabupaten/Kota oleh Bupati/Wali Kota atas usul Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota. Di daerah Kecamatan oleh Camat atas usul Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan. Lembaga Amil Zakat yang diusulkan kepada pemerintah untuk mendapat

pengukuhan, harus memenuhi syarat-syarat sebagi berikut (pasal 22 Keputusan Menteri Agama) : Berbadan hukum Memiliki data muzaki dan mustahiq Memiliki program kerja Memiliki pembukuan Melampirkan surat pernyataan bersedia diaudit

5. Potensi Zakat di Indonesia Potensi zakat di Indonesia menurut Menteri Agama Said Aqiel Munawar per tahunnya mencapai Rp. 7,5 triliun. Sementara hasil survei yang dilakukan PIRAC (public interest Research and Advocacy Center) mengenai Pola dan Kecenderungan Masyarakat Berzakat di 11 kota besar menyebutkan bahwa nilai zakat yang dibayarkan para muzakki berkisar antara Rp. 124.200/tahun. Sedangkan nilai zakat yang dibayarkan berkisar antara Rp. 44.000 sampai Rp. 339.000 per tahun. Dari data tersebut PIRAC memperkirakan jumlah dana ZIS yang tergalang di Indonesia berjumlah sekitar Rp. 4 triliun. Besarnya potensi dana ZIS ini dikarenakan ajaran agama menjadi motivasi utama masyarakat untuk berderma. Hal ini tercermin dari salah satu hasil survei Potensi dan Perilaku Masyarakat dalam Menyumbang yang dilakukan PIRAC di 11 kota besar di Indonesia. Salah satu temuan menarik dari survei yang melibatkan 2.500 orang responden tersebut adalah dominannya peran ajaran agama dalam mempengaruhi seseorang untuk menyumbang. Hampir seluruh responden (99%) mengaku

menyumbang karena dorongan ajaran agama. Kegiatan keagamaan juga mendapatkan porsi sumbangan yang cukup besar karena sebagian besar dari responden (84%) mengaku pernah menyumbang untuk organisasi keagamaan atau kegiatan keagamaan.

Hanya sebagian kecil saja (16%) yang mengaku dalam setahun terakhir ini tidak pernah menyumbang oraganisasi atau kegiatan keagamaan. Sedangkan rata-rata jumlah sumbangan untuk organisasi atau kegiatan kegamaan pun relatif besar yaitu mencapai Rp. 304.679 per tahun atau setara dengan US$ 34 (jika 1 US$ = Rp. 10.000,-). Potensi ini akan bisa diaktualkan manakala langkah-langkah dan upaya sistematis dilakukan dengan amanah, profesional dan penuh tanggungjawab. Langkah-langkah tersebut antara lain mencakup: Sosialisasi, kelembagaan dan pendayagunaan.

G. KESIMPULAN Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem ekonomi Islam mengatur dan memberikan pedoman bagi kehidupan perekonomian umat Islam yang didasarkan pada Al-Quran dan sunnah. Dalam pelaksanaannya sistem ekonomi Islam lebih mengedepankan prinsip keseimbangan dan keadilan dengan tujuan untuk menghindari adanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Disamping itu, menciptakan suatu harmonisasi antar umat Islam juga menjadi cita-cita dari sistem ekonomi Islam.