Sie sind auf Seite 1von 14

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 2.1.1

Pekerjaan Ibu Definisi perkerjaan Pekerjaan adalah kegiatan rutin yang dilakukan seseorang yang dapat

menghasilkan uang (Depdikbud, 2005). Faktor pekerjaan juga mempengaruhi Ibu tidak memberikan ASI. Di tempat bekerja banyak kantor atau institusi kerja tidak mendukung program pemberian ASI. Tidak ada upaya penyiapan ruangan khusus untuk tempat menyusui atau atau memompa ASI Ibu bekerja, bahkan ada yang ditegur oleh atasan kerena dianggap terlalu sering memompa ASI di tempat kerja (Purwanti, 2008). Kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam angkatan kerja dan adanya emansipasi dalam segala bidang kerja dan kebutuhan masyarakat turunnya kesediaan menyusui dan lamanya menyusui, selain itu kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja seperti cuti melahirkan yang terlalu singkat dan tidak adanya ruang ditempat kerja untuk menyusui atau memompa ASI juga sangat mempengaruhi prilaku menyusui ekslusif pada Ibu (Siregar, 2010). Fenomena baru yang menjadi permasalahan rendahnya pemberian ASI ekslusif adalah tuntutan ekonomi dalam keluarga yang menyebabkan jumlah pekerja wanita terus meningkat. Hal tersebut akan memperkecil peluang Ibu bekerja untuk menyusui bayinya sehingga Ibu-ibu lebih memilih menggunakan susu formula atau memberikan makanan tambahan kepada bayinya (Purnamawati, 2008).

10

Bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI secara ekslusif selama paling sedikit 4 bulan dan bila mungkin 6 bulan, meskipun cuti hamil hanya 3 bulan. Dengan pengetahuan yang benar tentang menyusui, perlengkapan memerah ASI, dan dukungan lingkungan kerja, seorang Ibu yang bekerja dapat tetap memberikan ASI secara ekslusif (Roesli, 2010). Alasan mayoritas Ibu memberikan susu formula yaitu kenaikan partisipasi wanita dan emansipasi dalam segala bidang kerja, yaitu para Ibu sering keluar rumah, baik karena bekerja maupun tugas-tugas sosial sehingga susu formula dianggap satu-satunya jalan keluar dalam pemberian makanan bagi bayi yang ditinggalkan dirumah, padahal sebenarnya Ibu yang bekerja masih tetap dapat menyusui bayinya ketika ia pergi bekerja, atau menyusui bayinya sesering mungkin ketika ia berada di rumah (Khasanah, 2011).

2.2

Susu Formula

2.2.1 Definisi susu formula Susu formula merupakan susu sapi yang susunan nutrisinya diubah sedemikian rupa hingga dapat diberikan kepada bayi tanpa memberikan efek samping. Alasan pemakaian susu sapi sebagai bahan bakunya antara lain kerena banyaknya susu yang dapat dihasilkan oleh peternak sapi perah dan harganyapun relatif murah (Khasanah, 2011). Komposisi susu formula sebagian besar dibuat dari susu sapi yang dihasilkan setelah kasein diproses menjadi molekul berukuran lebih kecil sehingga dapat dicerna, yang kemudian disterilisasi untuk menghilangkan bakteri (Menurut Sinclair, 2010).

11

Penggunaan susu formula untuk bayi dibawah usia 6 bulan sebenarnya terikat pada peraturan tetentu. Susu formula hanya diberikan dengan pertunjuk dokter untuk kondisi dengan kondisi tertentu. Secara etis, dokter terikat untuk merekomendasi ASI karena kualitasnya yang sudah diketahui secara ilmiah. Hal ini sudah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI (Kepmenkes No.450/2003). Sayangnya, etika ini tampak dilanggar dengan terbuka. Tak ada aturan ketat dalam pembelian susu formula di toko-toko. Susu memang tak sama dengan obat yang dapat diikat dengan resep dokter. Jangankan susu, obat dengan resep saja sering bisa dibeli tanpa resep (Sri, 2008).

2.2.2 Klasifikasi susu formula Umumnya susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran barasal dari susu sapi. Susu sapi adalah salah satu susu pilihan untuk bayi yang tidak memilikii riwayat alergi dalam keluarga, sedangkan untuk bayi yang memiliki riwayat alergi dalam keluarga, maka bahan dasar susu formula diganti menggunakan selain susu sapi (Khasanah, 2011). Menurut Anna (2010), di Indonesia beredar berbagai macam susu formula dengan berbagai merek dagang, akan tetapi susu formula dapat dibagi sebagai berikut: a. Susu formula adaptasi Susu formula adaptasi adalah susu formula yang disesuaikan dengan kebutuhan bagi bayi yang baru lahir sampai umur 6 bulan. Pada bayi umur di bawah 3-4 bulan, fungsi saluran pencernaan dan ginjal belum sempurna

12

sehingga pengganti ASI-nya harus mengandung zat-zat gizi yang mudah dicerna dan tidak mengandung mineral yang berlebihan maupun kurang. b. Susu formula awal lengkap Susu formula awal lengkap berarti susunan zat gizinya lengkap dan pemberiannya dapat dimulai setelah bayi dilahirkan. c. Susu formula follow-up Susu formula follow-up adalah susu formula lanjutan yang gunanya mengganti formula bayi yang sedang dipakai dengan formula tersebut. Susu formula follow-up diperuntukkan bagi bayi berumur 6 bulan ke atas dengan asumsi bahwa bayi yang berumur lebih dari 6 bulan memiliki fungsi organ-organ yang sudah memadai. d. Susu formula prematur Pada trimester (3 bulan) terakhir, janin dalam kandungan tumbuh sangat cepat. Jika bayi dilahirkan belum pada waktunya (prematur) maka berat dan panjangnya kurang dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan cukup bulan. Sebenarnya ASI yang keluar dari Ibu yang melahirkan bayi prematur telah disesuaikan dengan kebutuhan gizi bayi tersebut. Akan tetapi, jika kondisi tertentu yang tidak memungkinkan diberi ASI maka bayi dapat diberi susu formula khusus untuk bayi prematur. Susu formula prematur digunakan untuk bayi yang lahir prematur. Susu formula prematur komposisi zat gizinya lebih besar dibandingkan dengan formula biasa kerena pertumbuhan bayi prematur yang cepat sehingga membutuhkan zat-zat gizi yang lebih banyak. Susu formula tersebut

13

mengandung lebih banyak protein, dan kadar beberapa mineralnya (seperti, kalsium dan natrium ) yang lebih tinggi. e. Susu soya Adakalanya bayi tidak diberi ASI, melainkan susu formula sehingga terkadang ia menderita diare, batuk-batuk, atau reaksi lain setiap kali diberi susu formula yang dibuat dari susu sapi. Hal tersebut ada

kemungkinan bahwa ia tidak bisa menerima protein susu sapi sehingga menyebabkan alergi. Bahan dasar dalam susu soya diganti dengan sari kedelai yang diperuntukkan bagi bayi yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi, tetapi tidak alergi terhadap protein kedelai. Fungsinya sama dengan susu sapi yang protein susunya telah dipecah dengan sempurna sehingga dapat digunakan sebagai pencegahan alergi. Sedangkan menurut Sri (2008) banyak susu formula bertuliskan untuk 0-6 bulan. Susu formula yang ditujukan untuk bayi di atas 6 bulan dinamai susu lanjutan. Ada kesan ada susu formula Awalan yang ditujukan untuk usia sebelum itu. Sewaktu rekomendasi Depkes menyarankan ASI ekslusif 4 atau 6 bulan, produk susu formula masih sangat berlimpah di pasar. Bubur bayi juga muncul dengan label mulai 4 bulan, 6 bulan, 8 bulan, dan seterusnya. Setelah ASI ekslusif ditetapkan untuk 6 bulan, seharusnya tak ada produk susu 0 - 6 bulan dipasarkan secara terbuka.

2.2.3

Bahaya susu formula

14

Berbagai dampak negatif yang terjadi pada bayi akibat dari pemberian susu formula, antara lain: 1. Gangguan saluran pencernaan (muntah, diare) Judarwanto (2009) menjelaskan bahwa anak yang sering mendapatkan susu formula lebih sering muntah/gumoh, kembung, sering buang angin, sering rewel, gelisah terutama malam hari. Sering buang air besar (>3 kali perhari), tidak BAB setiap hari, feses berwarna hijau, hitam, berbau, sangat keras, cair atau berdarah, hernia umbilikalis (pusar menonjol), inguinalis (benjolan diselakangan, daerah buah zakar atau pusar) karena sering mengedan sehingga tekanan dalam perut meningkat. Gangguan ini merupakan biasanya reaksi bayi pada saat saluran pencernaan beradaptasi terhadap susu formula (Roesli, 2008) 2. Infeksi saluran pernafasan Bila gangguan saluran pencernaan terjadi dalam jangka panjang dapat mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA (batuk, pilek, panas, tonsillitis/amandel) berulang dan kadang setiap bulan atau lebih (Roesli, 2008) 3. Meningkatkan resiko serangan asma Para peneliti telah mengevaluasi terhadap efek perlindungan dari pemberian ASI, bahwa pemberian ASI melindungi terhadap asma dan penyakit alergi lain. Sebaliknya pemberian susu formula dapat meningkatkan resiko tersebut (Roesli, 2008). 4. Menurunkan perkembangan kecerdasan kognitif

15

Menurut penelitian Smith dkk (2003) dalam Roesli (2008), bayi yang tidak diberi ASI ternyata mempunyai skor lebih rendah dalam semua fungsi intelektual, kemampuan verbal, dan kemampuan visual motorik dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI. 5. Meningkatkan resiko kegemukan (obesitas) Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amstrong dkk (2002) dalam Roesli (2008) membuktikan bahwa kegemukan jauh lebih tinggi pada anak-anak yang diberi susu formula. Kries (1999) dalam Roesli (2008) menambahkan bahwa kejadian obesitas mencapai 4,5% 40% lebih tinggi pada anak yang tidak pernah diberikan ASI. Protein susu sapi sebagai zat asing bisa merangsang proses autoimmune didalam sel kelenjar pankreas (pabrik pembuat insulin anak). Gangguan insulin menjadi penyebab kencing manis. Bila kelenjar pankreas rusak, penyakit diabetes mellitus beresiko muncul saat anak dewasa kelak (Nadesul, 2007). 6. Meningkatkan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah Anak yang mendapat susu formula tekanan darahnya lebih tinggi daripada anak yang mendapat ASI. Para peneliti menyimpulkan bahwa pemberian ASI pada anak yang lahir prematur dapat menurunkan tekanan darah pada tahun berikutnya (Roesli, 2008). 7. Meningkatkan resiko infeksi yang berasal dari susu formula yang tercemar Dari kasus merebaknya wabah Enterobacteri zakazakii di Amerika Serikat, dilaporkan kematian bayi berusia 20 hari yang mengalami demam,

16

takikardia, menurunnya aliran darah, dan kejang pada usia 11 hari. Kuman ditemukan pada susu formula tercemar yang dipakai unit perawatan intensif neonatal tersebut ( Roesli, 2008). 8. Meningkatkan kurang gizi Pemberian susu formula yang encer untuk menghemat pengeluaran dapat mengakibatkan kekurangan gizi karena asupan kurang pada bayi. Secara tidak langsung, kurang gizi juga akan terjadi jika anak sering sakit, terutama diare, dan radang pernafasan (Roesli, 2008). 9. Meningkatkan resiko kematian Menurut Chen dkk (2004) dalam Roesli (2008), bayi yang tidak pernah mendapat ASI berisiko meninggal 25% lebih tinggi dalam periode sesudah kelahiran daripada bayi yang mendapat ASI. Pemberian ASI yang lebih lama akan menurunkan resiko mortalitas bayi. 10. Kandungan susu formula tidak selengkap ASI Menurut Khasanah (2011) Susu formula (susu sapi) tidak mengandung DHA seperti halnya pada ASI sehingga tidak bisa membantu meningkatnya kecerdasan bayi. Terdapat lebih dari100 jenis zat gizi dalam ASI antara lain AA, DHA, taurin, dan spingomyelin yang tidak terdapat dalam susu sapi. Meskipun, produsen susu formula mencoba

menambahkan zat gizi tersebut, namun hasilnya tetap tidak bisa menyamai kandungan gizi yang terdapat dalam ASI. Demikian pula susu formula bayi yang difortifikasi dengan zat besi, ternyata tidak meningkatkan pertumbuhan bayi, walaupun dapat membantunya dari penyakit anemia.

17

11. Pemborosan Pemberian susu formula secara tidak langsung juga menambah anggaran untuk membeli susu formula. Hal ini tidak akan jadi masalah ketika Ibu berasal dari keluarga menengah ke atas. Akan tetapi, Ibu yang berasal dari ekonomi lemah mungkin tidak mampu membeli cukup susu untuk bayinya. Dampaknya, ia mungkin memberikan susu formula dalam jumlah lebih sedikit, atau menaruh sedikit susu maupun bubuk susu ke dalam botol. Akibatnya bayi yang diberi susu botol sering kelaparan dan kekurangan gizi (Khasanah, 2011) 12. Terlalu banyak garam Susu sapi mengandung garam terlalu banyak yang kadang-kadang menyebabkan hipernatremia (terlalu banyak garam dalam tubuh) dan kejang, terutama bila bayi terkena diare. Selain itu, kadar garam yang tinggi akan memperberat kerja ginjalnya (Roesli, 2010)

2.2.4

Saat bayi terpaksa diberi susu formula ASI jelas asupan terbaik bagi bayi. Namun, adakalanya kondisi Ibu tidak

memungkinkan untuk memberikan ASI kepadanya. Pada kondisi seperti itulah, dengan amat terpaksa ibu harus rela memberikan susu formula kepada bayinya. Akan tetapi, susu formula tak bisa disamakan dengan ASI karena tak ada satupun susu formula yang kandungan gizinya dapat menyamai ASI, terutama karena protein hasil olahan tubuh ibu sama sekali berbeda dari protein olahan tubuh bayi (Khasanah, 2011)

18

Menurut Weni (2009), ada beberapa bagian keadaan yang

tidak

memungkinkan Ibu untuk menyusui bayinya, walaupun produksinya cukup. Di antaranya adalah sebagai berikut: 1. Berhubungan dengan kesehatan Ibu, sebagaimana uraian sebagai berikut: a. Adanya penyakit yang diderita sehingga dilarang oleh dokter untuk menyusui, yang dianggap baik untuk kepentingan Ibu (misalnya,

gagal jantung, atau HB rendah). b. Ibu menderita sakit tertentu, misalnya kanker atau jantung dan harus menjalani pengobatan segera. Dalam hal ini, berarti Ibu harus mengkonsumsi obat-obatan yang dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi. c. Bagi Ibu menyusui yang, menderita AIDS tidak diperkenankan menyusui bayinya karena dapat menulaarkan virus HIV kepada bayinya melalui ASI. Walaupun demikian, ada yang tidak sependapat bahwa ASI sebagai media penularan HIV. Hal tersebut dikarenakan ada laporan yag mengatakan bahwa Ibunya positif mengandung HIV, tetapi anaknya tidak pernah HIV positif, akibat perbedaan pendapat ini, maka WHO (badan kesehatan dunia) menyerahkan kepada tiaptiap Negara untuk memilih sendiri apakah akan melarang maupun menganjurkan Ibu untuk menyusui atau tidak. d. Begitu juga dengan Ibu menyusui yang menderita hepatitis, dalam hal ini, pandangan mengenai boleh tidaknya seorang Ibu dengan hepatitis B menyusui anaknya juga serupa dengan AIDS. Seorang Ibu dengan

19

hepatitis B dapat menyusui bayinya setelah bayinya diberi imunisasi hepatitis B. 2. Air susu ibu tidak keluar sama sekali sehingga satu-satunya makanan yang dapat menggantikan ASI adalah susu sapi. 3. Ibu meninggal sewaktu melahirkan atau waktu bayi masih memerlukan ASI. 4. ASI keluar tetapi jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi bayi sehingga perlu tambahan, seperti susu formula. 5. Ibu kecanduan narkotika dan zat dan adiktif lainnya atau NAPZA

(narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya). 6. Adanya anggapan bayinya menolak atau diare kerena minum ASI, dan sebagainya, meski kasus ini sangat jarang terjadi. Sedangkan Menurut Simkin (2008) ada beberapa situasi di mana menyusui tidak dianjurkan yaitu Jika Ibu adalah penderita HIV positif dan tinggal di Negara berkembang, Ibu menderita tuberkulosis yang tidak dirawat, Ibu menggunakan obat-obat terlarang seperti heroin, kokain, methapetamin, Ibu menjalani bedah payudara yang besar, membuatnya hampir tidak mungkin untuk menyusui bayinya, Ibu tidak merasa nyaman, tidak suka atau tidak bahagia menyusui bayinya. Menurut Notoatmodjo (2007) semua orang telah mengakui bahwa air susu Ibu tidak perlu diragukan lagi sebagai makanan bayi paling baik. Akan tetapi kadang-kadang oleh suatu sebab tertentu Ibu harus menambah atau mengganti ASI ini dengan makanan lain, seperti susu formula. Keadaan yang mengharuskan

20

Ibu menggantikan ASI kepada bayi atau anaknya dikarenakan Air Susu Ibu (ASI) tidak keluar, ASI keluar tetapi tidak mencukupi kebutuhan bayi, Ibu meninggal sewaktu melahirkan atau waktu bayi masih memerlukan ASI, ASI keluar tetapi jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan bayi, ASI keluar tetapi Ibu tidak dapat terus menerus menyusui bayinya karena Ibu berada diluar rumah (bekerja di kantor, kebun atau tugas lainnya. Berikut perbandingan kadar Gizi dalam ASI dengan susu sapi murni. (Notoatmodjo, 2007): Tabel 2.1 Perbandingan Kadar Gizi Dalam ASI dengan Susu Sapi Murni. Kadar Zat Gizi dalam Setiap 100 ml Mazam Zat Gizi ASI Susu Sapi (Murni) Protein lemak Lemak Laktosa Kalori Kapur Besi Vitamin A Vitamin B1 Vitamin C 1,2 gr 3,8 gr 7,0 gr 75 kal 30 mg 0,15 gr 53 KI 0,11 mg 4,3 mg 3,3 gr 3,8 gr 4,8 gr 66 kal 125 mg 0,10 mg 34 KI 1,8 mg

Namun perlu tetap dingat bahwa ASI adalah sumber makanan bayi yang paling tepat untuk bayi. Tubuh Ibu akan memproduksi ASI paling banyak pada malam hari dan pagi hari, karena itu Ibu sebaiknya tidak menghentikan menyusui pada waktu-waktu tersebut.

2.3

Promosi Susu Formula

21

2.3.1

Definisi promosi susu formula Promosi yaitu sebuah istilah pemasaran yang merupakan upaya-upaya

suatu perusahaan untuk mempengaruhi para calon pembeli agar mereka mau membeli (Marlina 2007). Distribusi iklan dan promosi susu formula berlangsung terus. Bahkan meningkat tidak hanya di televisi, radio, dan surat kabar, melainkan juga sudah dipromosikan di tempat-tempat praktik swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat (Suwandi, 2011). Dari berbagai pemantauan lembaga swadaya masyarakat (LSM), iklan susu formula di berbagai media massa sangat berpotensi merusak pemahaman Ibu tentang perlunya ASI bagi bayi. Iklan tersebut akan mempengaruhi persepsi yang keliru tentang susu formula dan ASI. Ibu-ibu hanya memahami dan menangkap informasi yang sepenggal-sepenggal dari penyajian iklan yang singkat. (Anna, 2010). Promosi susu formula bertujuan membentuk persepsi bahwa bayi akan sehat dan cerdas apabila diberi susu formula. Berbagai jenis zat gizi oleh produsen susu formula pun ditambahkan, seperti Omega-3, DHA, probiotik, dan lain sebagainya. Dengan penambahan zat gizi tersebut, dibuat kesan seolah-olah ASI bernilai lebih rendah dibandingkan susu formula sehingga Ibu-ibu menjadi ragu untuk menyusui bayinya (Suwandi, 2011). Promosi lainnya yang dibuat produsen susu adalah kesan gaya hidup modern bagi Ibu yang memberikan susu formula kepada bayinya. Iklan dengan latar belakang kehidupan keluarga menengah dengan Ibu berkarir mengesankan

22

seolah-olah bayinya tetap sehat dan montok dengan diberikan susu formula (Anna, 2010). Pada kenyataannya, kesan kepraktisan dan kemudahan didalam penyiapan susu formula tidak sederhana jika dibandingkan dengan menyusui bayi. Sebenarnya ASI merupakan makanan yang siap langsung diberikan kepadanya tanpa harus melakukan penyiapan khusus. Produsen susu secara implisit juga mempromosikan bahwa peran ayah dalam perawatan bayinya dapat dilakukan melalui pemberian susu formula. Promosi susu formula seharusnya diiringi juga dengan promosi mamfaat dan penggunaan ASI. Sebagian kelompok tertentu seperti bayi tanpa orang tua, dan Ibu yang sakit atau mempunyai masalah dalam produksi ASI, masih membutuhkan susu formula bayi sehingga keseimbangan promosi tersebut dianggap sebagai salah satu srategi yang baik. Dengan demikian, di dalam menentukan pilihannya konsumen sudah didasarkan atas pengetahuan yang benar dan tidak salah interpretasi tentang satu sisi keunggulan susu formula (Khasanah, 2011).