You are on page 1of 19

ANALISIS STRATEJIK

SINERGI SISTEM RESI GUDANG


DAN TEKNOLOGI INFORMASI / KOMUNIKASI
DI INDONESIA

Final Assignment

Manajemen Sistem Telekomunikasi

Oleh :

Herdian Kameswara B (0906495620)

MAGISTER MANAJEMEN TELEKOMUNIKASI

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO

UNIVERSITAS INDONESIA

2009
Abstraksi

Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat pada era globalisasi diperlukan kesiapan
dunia usaha untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat di bidang ekonomi khususnya
perdagangan. Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut, diperlukan instrumen
dalam penataan sistem perdagangan yang efektif dan efisien, sehingga harga barang yang
ditawarkan dapat bersaing di pasar global. Efisiensi perdagangan dapat tercapai apabila
didukung oleh iklim usaha yang kondusif dengan tersedianya dan tertatanya sistem pembiayaan
perdagangan yang dapat diakses oleh setiap pelaku usaha secara tepat waktu.

Sistem Resi Gudang merupakan salah satu instrumen penting dan efektif dalam sistem
pembiayaan perdagangan. Sistem Resi Gudang dapat memfasilitasi pemberian kredit bagi dunia
usaha dengan agunan inventori atau barang yang disimpan di gudang. Sistem Resi Gudang juga
bermanfaat dalam menstabilkan harga pasar dengan memfasilitasi cara penjualan yang dapat
dilakukan sepanjang tahun.

Elektronic Warehouse Receipt menumbuhkan harapan sebuah konsep integrasi secara elektronis
(berbasis web) yang berujung pada reduksi biaya dan meningkatkan efisiensi dengan
mempertukarkan informasi bisnis dalam form elektronik. Dengan adanya konsep ini, akan dapat
terpnuhi kebutuhan informasi dan sistem perdagangan yang dapat diakses oleh setiap pelaku
usaha secara tepat waktu.

Infrastruktur telekomunikasi yang menjamin keterhubungan antar komponen dalam sistem ini
memegang peranan yang vital untuk menuju tercapainya sistem perdagangan yang efektif dan
efisien. Faktor keamanan dan efisiensi biaya menjadi pertimbangan dominan dalam sistem yang
melibatkan para pelaku di sektor komoditas pertanian ini. Kondisi geografis Indonesia yang
menyebar dan terpisah antar pulau menjadi sebuah hal yang menarik untuk dikaji dalam
menyiapkan infrastruktur telekomunikasi untuk sistem resi gudang ini. 
1. SISTEM RESI GUDANG
1.1 Pengertian Resi Gudang

Resi Gudang (Warehouse Receipt) merupakan salah satu instrumen penting, efektif dan
negotiable (dapat diperdagangkan) serta swapped (dipertukarkan) dalam sistem pembiayaan
perdagangan suatu negara. Di samping itu Resi Gudang juga dapat dipergunakan sebagai
jaminan (collateral) atau diterima sebagai bukti penyerahan barang dalam rangka pemenuhan
kontrak derivatif yang jatuh tempo, sebagaimana terjadi dalam suatu Kontrak Berjangka. Dengan
demikian sistem Resi Gudang dapat memfasilitasi pemberian kredit bagi dunia usaha dengan
agunan inventori atau barang yang disimpan di gudang. Resi Gudang sebagai alas hak (document
of title) atas barang, dapat digunakan ebagai agunan, karena resi gudang dijamin dengan
komoditas tertentu , yang berada dalam pengawasan pihak ketiga (Pengelola Gudang) yang
terakreditasi. Dalam sistem resi gudang ini, pembiayaan yang dapat diakses oleh pemilik barang
tidak hanya berasal dari perbankan dan lembaga keuangan non-bank, tetapi juga dapat berasal
dari investor melalui Derivatif Resi Gudang.

Skema resi gudang ini adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Skema sistem resi gudang

(sumber : Warehouse Receipts Systems, Rural Agricultural Finance Specialty Topic Series,
USAID )

Gambar di atas mengilustrasikan resi gudang termasuk dua provider layanan, yang tidak
termasuk dalam transformasi dan penjualan produk pertanian, tetapi menghasilkan sebuah
layanan yang penting untuk depositor dan manajer komoditas.
Layanan sertifikasi dan pemeriksaan membuat depositor dan peminjam dengan kepercayaan,
dimana pengelola gudang dapat memenuhi standar kebutuhan keamanan barang yang disimpan
di gudang tersebut. Layanan ini dapat diselenggarakan oleh agen yang disponsori pemerintah
(seperti di Amerika serikat dan Eropa timur seperti Bulgaria) atau oleh representatif atau
perusahaan privat internasional yang berfungsi sebagai agen dari grup yang berkepentingan
(stakeholder), seperti pada case di Afrika (Kiriakov, 2001 and Onumah, 2003). Dalam konteks
pergudangan, reputasi dari perusahaan pengontrol kolateral menghasilkan kepercayaan dimana
layanan sertifikasi dan pemerikasaan dilakukan untuk gudang. Gudang juga diasuransikan untuk
melindungi depositor dan peminjam dari kehilangan akibat bencana atau aktivitas kriminal.

1.2 Manfaat Resi Gudang

Penerapan Sistem Resi Gudang menawarkan serangkaian manfaat yang luas, bagi petani sendiri,
dunia usaha, perbankan dan bagi pemerintah. Manfaat tersebut antara lain :
Keterkendalian dan kestabilan harga komoditi. Sistem ini bermanfaat dalam menstabilkan harga
pasar, melalui fasilitasi penjualan sepanjang tahun.
• Keterjaminan modal produksi. Pemegang komoditi mempunyai modal usaha untuk
produksi berkelanjutan karena adanya pembiayaan dari lembaga keuangan.
• Keleluasaan penyaluran kredit bagi perbankan. Dunia perbankan nasional memperoleh
manfaat dari terbentuknya pasar bagi penyaluran kredit perbankan. Sistem resi gudang
dibanyak negara dianggap sebagai instrumen penjamin kredit tanpa resiko.
• Keterjaminan produktifitas. Jaminan produksi komoditi menjadi lebih pasti karena
adanya jaminan modal usaha bagi produsen/petani.
• Keterkendaliaan sediaan (stock) nasional. Sistem ini mendukung terbangunnya
kemampuan pemerintah untuk memantau dan menjaga ketahanan sediaan, melalui
jaringan data dan infromasi terintegrasi yang terbangun oleh Sistem Resi Gudang.
• Keterpantauan lalu lintas produk/komoditi. Sistem ini membangun kemampuan
pemerintah di pusat dan daerah untuk meningkatkan kualitas komoditi, upaya
perlindungan konsumen, pengendalian ekosistem, pengendalian lalu lintas produk
komoditi ilegal, dsb.
• Keterjaminan bahan baku industri. Sistem Resi Gudang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem pemasaran dan sistem industri yang dikembangkan negara
tersebut.
• Sistem Resi Gudang telah terbukti mampu meningkatkan efisiensi sektor agrobisnis dan
agroindustri, karena baik produsen maupun sektor komersial terkait dapat mengubah
status sediaan bahan mentah dan setengah jadi untuk menjadi produk yang dapat
diperjualbelikan secara luas.
• Efisiensi logistik dan distribusi. Sebagai surat berharga, Resi Gudang dapat dialihkan
atau diperjualbelikan oleh Pemegang Resi Gudang kepada pihak ketiga, bagi dipasar
yang terorganisir (bursa) atau di luar bursa. Dengan terjadinya pengalihan Resi Gudang
tersebut, kepada Pemegang Resi Gudang yang baru, diberikan hak untuk mengambil
barang sesuai dengan deskripsi yang tercantum di dalamnya. Dengan demikian akan
tercipta suatu sistem perdagangan yang lebih efisien dengan dihilangkannnya komponen
biaya pemindahan barang.
• Kontribusi fiskal. Melalui transaksi-transaksi Resi Gudang, Pemerintah memperoleh
manfaat fiskal yang salama ini bersifat potensial.
1.3 Sistem Resi Gudang di Indonesia

Aturan yang terkait dengan sistem resi gudang ini adalah UU no 9/2006 tentang Sistem Resi
Gudang. Dalam aturan ini, beberapa pengertian yang berkaitan dengan sistem resi gudang ini
antara lain :
1. Sistem Resi Gudang adalah kegiatan yang berkaitan dengan penerbitan,
pengalihan,penjaminan, dan penyelesaian transaksi Resi Gudang.
2. Resi Gudang adalah dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan diGudang
yang diterbitkan oleh Pengelola Gudang.
3. Derivatif Resi Gudang adalah turunan Resi Gudang yang dapat berupa kontrakberjangka
Resi Gudang, Opsi atas Resi Gudang, indeks atas Resi Gudang, surat berharga diskonto
Resi Gudang, unit Resi Gudang, atau derivatif lainnya dari Resi Gudang sebagai
instrumen keuangan.
4. Pengelola Gudang adalah pihak yang melakukan usaha pergudangan, baik Gudang milik
sendiri maupuri milik orang lain, yang melakukan penyimpanan, pemeliharaan, dan
pengawasan barang yang disimpan oleh pemilik barang serta berhak menerbitkan Resi
Gudang.
5. Badan Pengawas Sistem Resi Gudang yang selanjutnya disebut Badan Pengawas adalah
unit organisasi di bawah Menteri yang diberi wewenang untuk melakukan pembinaan,
pengaturan, dan pengawasan pelaksanaan Sistem Resi Gudang.
6. Lembaga Penilaian Kesesuaian adalah lembaga terakreditasi yang melakukan
serangkaian kegiatan untuk menilai atau membuktikan bahwa persyaratan tertentu yang
berkaitan dengan produk, proses, sistem, dan/atau personel terpenuhi.
7. Pusat Registrasi Resi Gudang yang selanjutnya disebut Pusat Registrasi adalah badan
usaha berbadan hukum yang mendapat persetujuan Badan Pengawas untuk melakukan
penatausahaan Resi Gudang dan Derivatif Resi Gudang yang meliputi pencatatan,
penyimpanan, pemindahbukuan kepemilikan, pembebanan hak jaminan, pelaporan, serta
penyediaan sistem dan jaringan informasi.

Saat ini, tujuh BUMN sepakat membentuk Indonesia Trade Forum (ITF) untuk memaksimalkan
fasilitas resi gudang untuk mencari kredit. Tujuh BUMN itu adalah Bank Mandiri, Bank Rakyat
Indonesia, BNI, Bank Ekspor Indonesia (BEI), Kliring Berjangka Indonesia, Bhanda Ghara
Reksa (BGR) dan PT Sucofindo..
Ketujuh BUMN itu juga sepakat untuk meningkatkan pendanaan dengan pola resi gudang untuk
mendapatkan pinjaman. Namun, sebelum meneken kredit, para pengusaha menggunakan skema
perjanjian tiga pihak yang dikemas dalam collateral management agreement atau perjanjian
manajemen agunan.
Dalam kerjasama itu, bank-bank BUMN akan berfungsi sebagai lembaga pembiayaan. PT
Kliring Berjangka Indonesia berfungsi sebagai pusat registrasi dan derivatif resi gudang.
Sedangkan PT Bhanda Graha Reksa dan PT Sucofindo berperan sebagai pengelola gedung dan
atau lembaga penilai kesesuaian.
Pola resi gudang pernah dipraktekkan oleh salah satu kelompok Unit Pengelolaan Jasa Alsintan
(UPJA) di Kecamatan Sliyeg, Indramayu dengan komoditas padi/gabah. Setidaknya ada empat
pihak yang terlibat dalam pola resi gudang, yaitu petani, pemilik gudang (UPJA), pengelola
dana, serta lembaga pembiayaan yang memberi dana talangan kepada petani. Sebagai pemberi
dana talangan adalah salah satu lembaga yang mengelola dana Corporate Social Responsibility
(CSR) dari Pertamina.
Selanjutnya setelah dikurangi harga penjualan gabah petani (harga pasar pada saat perjanjian resi
gudang), akan terdapat selisih harga atau keuntungan. Keuntungan tersebut selanjutnya dibagi ke
semua pihak yang terikat kontrak pola resi gudang dengan proporsi sesuai dengan kesepakatan.
Dari pengalaman yang telah berjalan di Sliyeg, proporsi pembagian keuntungan adalah petani
54%, pengelola gudang 8%, pengelola dana 19%, dan lembaga keuangan 19%.

Mekanisme pola resi gudang secara ringkas disajikan seperti di bawah ini :

Gambar 2. Mekanisme implementasi pola resi gudang

Petani menyimpan gabahnya ke pengelola gudang (dalam hal ini milik UPJA), selanjutnya petani
mendapat bukti penyimpanan dalam bentuk resi gudang. Resi gudang selanjutnya dijadikan
jaminan (seperti surat berharga) ke lembaga keuangan untuk mendapatkan talangan dana. Petani
mendapatkan dana senilai 70% dari total harga gabah yang dititipkan di gudang dengan harga
yang berlaku di pasar saat itu.
Setelah berjalan beberapa waktu (3-4 bulan), yaitu pada masa paceklik atau harga gabah di pasar
cukup tinggi, pemilik dana serta manajer/pengurus UPJA menjual gabah milik petani. Penjualan
biasanya dilakukan dengan sistem lelang untuk mendapatkan harga tertinggi.
Dari hasil penjualan tersebut petani dapat menebus dan mengembalikan pinjaman ke lembaga
keuangan.
1.4 Sistem Aplikasi Resi Gudang Indonesia
Sesuai dengan UU no 9/2006 tentang Sistem Resi Gudang, Resi Gudang adalah dokumen bukti
kepemilikan atas barang yang disimpan di Gudang yang diterbitkan oleh Pengelola Gudang. Dan
sesuai dengan UU tersebut, Pusat Registrasi (dijalankan oleh PT. Kliring Berjangka Indonesia
(Persero)/KBI) adalah lembaga yang ditunjuk untuk menyediakan seluruh sistem dan jaringan
informasi untuk kebutuhan Sistem Resi Gudang.

Sistem Informasi Resi Gudang ini menggunakan teknologi berbasis web dan penyimpanan data
dalam database yang terpusat, sehingga mampu menampilkan informasi secara realtime, baik
secara periodik maupun up-to-date sehingga informasi kritis dapat dengan mudah diakses oleh
manajemen sehingga aplikasi ini sangat membantu dalam menentukan kebijaksanaan efektif.
Sistem ini juga dibangun dengan Metode Modular, sehingga dengan mudah dikembangkan dan
disesuaikan (kustomisasi) dengan kebutuhan pengembangan Resi Gudang di Indonesia.
Pengembangan system aplikasi Resi Gudang terintegrasi dengan lembaga-lembaga terkait
lainnya sesuai dengan kebutuhan dalam system administrasi Resi Gudang di Indonesia, lembaga-
lembaga tersebut antara lain :

• Nasabah Resi Gudang (Individu, Keleompok Tani, Koperasi, UKM & Perusahaan)
• Pengelola Gudang
• Pusat Registrasi (KBI)
• Badan Pengawas (BAPPEBTI)
• Lembaga Penilaian Kesesuaian
• Lembaga Asuransi
• Lembaga Keuangan
• Penyedia Harga (Info Harga)

(sumber : siaran pers PT. Averin Informatika Teknologi)

Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat pada era globalisasi diperlukan kesiapan
dunia usaha untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat di bidang ekonomi khususnya
perdagangan. Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut, diperlukan instrumen
dalam penataan sistem perdagangan yang efektif dan efisien, sehingga harga barang yang
ditawarkan dapat bersaing di pasar global.

Efisiensi perdagangan dapat tercapai apabila didukung oleh iklim usaha yang kondusif dengan
tersedianya dan tertatanya sistem pembiayaan perdagangan yang dapat diakses oleh setiap pelaku
usaha secara tepat waktu.

Sistem pembiayaan perdagangan sangat diperlukan bagi dunia usaha untuk menjamin kelancaran
usahanya terutama bagi usaha kecil dan menengah, termasuk petani yang umumnya menghadapi
masalah pembiayaan karena keterbatasan akses dan jaminan kredit. Sistem Resi Gudang
merupakan salah satu instrumen penting dan efektif dalam sistem pembiayaan perdagangan.
2. PREVIEW TEORI
2.1 Sekilas tentang Manajemen Stratejik

Chandler (1962) menjelaskan strategi sebagai sebuah determinasi dari dasar goal jangka panjang
dan tujuan dari sebuah enterprise, dan adopsi dari penjabaran aksi dan alokasi sumber daya yang
dibutuhkan untuk meraih goal tersebut. (‘the determination of the basic long-term goals and
objectives of an enterprise, and the adoption of courses of action and the allocation
of resources necessary to carry out those goals’)
Bagian pertama dari definisi di atas berhubungan dengan setting objectives (tujuan). Di sini
termasuk di dalamnya :
• Statemen misi : mengkomunikasikan misi dari organisasi
• Visi : manajer harus dapat mengkomunikasikan sebuah visi dari apa saja
tentang keseluruhan dalam organisasi dan dimana ingin menjadi di masa depan; ini
menjabarkan aspirasi dari organisasi.

• Obyektif : mengkomunikasikan keluaran spesifik yang dibutuhkan untuk diraih,


seperti penjualan, turnover, pangsa pasar, tingkat pertumbuhan, dan sebagainya.

Strategi dapat dilihat sebagai rangkaian keputusan dan aksi yang diambil untuk meraih tujuan
yang telah ditetapkan. Keputusan dan aksi ini berdasarkan analisis dari elemen kunci dari proses
strategi, seperti gambar di bawah ini.

Gambar 3. Formulasi proses penyusunan strategi


Bagian analisa dari proses strategi ini menggabungkan analisa internal dan analisa eksternal.
Dari analisa ini, isu strategis kunci yang mana satu dari hal yang terpenting yang membutuhkan
atensi dan diberikan rating prioritas yang tinggi.
Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi opsi-opsi yang dapat diambil dan memilih strategi.
Setiap opsi dipelajari dalam hubungannya dengan isu kunci strategis yang teridentifikasi.
Evaluasi dari setiap opsi didasarkan oleh kriteria sebagai berikut :
• Suitability, opsi dapat dipakai, jika memungkinkan organisasi meraih tujuannya.
• Feasibility, opsi dimungkinkan di bandingkan dengan kemampuan, kompetensi dan
sumberdaya yang dimiliki oleh organisasi
• Acceptability, opsi harus disetujui oleh pemegang kepentingan (shareholder). Dan juga
oleh grup kepentingan yang lain ( direktur, shreholder, manager, costumer, dan lain-lain).
• Scope for gaining a competitive advantage, opsi harus menghasilkan keunggulan
performansi yang tinggi untuk keuntungan kompetitif dibandingkan para pesaing.

(Sumber : Introduction to E-business Management and Strategy Colin Combe Elsevier Ltd 2006)

2.2 Sekilas tentang Teknologi Informasi dan Infrastruktur Jaringan Komunikasi Data

Definisi menurut ITAA (Information Technology Association of America), Teknologi informasi


adalah pemanfaatan perangkat keras dan perangkat lunak berbasiskan komputer untuk
mengkonversi, menyimpan, melindungi, mengolah, mengirimkan, dan pengambilan informasi
secara aman. (The study, design, development, implementation, support, or management of
computer based information systems, particularly software application and computer hardware.)

Komponen dari teknologi Informasi itu adalah :

• Perangkat Keras , yaitu Komputer (Server dan workstation), Media penyimpanan,


Infrastruktur jaringan komunikasi data, dan Sarana pendukung (Sistem Tata Udara,
Sistem perlindungan tenaga listrik)

• Perangkat Lunak, antara lain Sistem Operasi computer, Aplikasi penyimpanan data
(database), Aplikasi pengolahan data (GIS, SIM, Web Portal).

• Data dan Informasi, antara lain Protokol EDI (Electronic Data Interchange), Format Data,
dan Informasi hasil olahan

Infrastruktur jaringan komunikasi data

ƒ Jaringan local (LAN), yang berfungsi menghubungkan sejumlah perangkat dalam


ruang terbatas (gedung yang sama, kompleks gedung yang sama)

ƒ Jaringan antar lokasi (WAN), yang berfungsi menghubungkan sejumlah jaringan


lokal dalam cakupan area yang luas (antar lokasi dalam satu kota, antar lokasi
kota yang berbeda, atau antar negara).

Ilustrasinya seperti pada gambar berikut ini.


Gambar 4. Multi-Service Network Architecture

Jaringan antar lokasi ini (WAN), terdiri dari :

• Jaringan komunikasi data publik (Internet), yang mempunyai karakteristik :

o Akses terbuka/Akses dari mana saja, Tingkat keamanan jaringan rendah, butuh
perangkat pelindung, Tidak ada jaminan kualitas komunikasi .

o Kelebihan : Akses dari mana saja dan Tidak tergantung pada satu penyedia jasa
(operator).

o Kelemahan : Tidak ada jaminan kualitas (bandwidth dan delay), Untuk saat ini,
terbatas hanya untuk jenis trafik unicast dan IPv4, tingkat keamanan rendah,
dibutuhkan perangkat/fitur tambahan untuk meningkatkan keamanan komunikasi

• Jaringan komunikasi data tertutup (virtual private network), dengan karakteristik :

o Akses tertutup/terbatas, Akses dari lokasi yang bisa dijangkau oleh penyedia jasa
komunikasi, Tingkat keamanan jaringan tinggi. Perangkat pelindung hanya
sebagai tambahan, Jaminan kualitas komunikasi dijamin oleh penyedia jasa (SLA)

o Kelebihan, Mendukung jenis trafik Unicast dan Multicast, sehingga


memungkinkan untuk menjalankan aplikasi multimedia, mendukung IPv4 dan
IPv6, dan jaminan kualitas (bandwidth dan delay) dari penyedia jasa (operator)

o Kelemahan, Lokasi dan layanan tergantung penyedia jasa (operator), dan Remote
access terbatas.
3. ANALISIS MANAJEMEN STRATEJIK

3.1 Visi, Misi dan Tujuan


Visi : Menjadi operator sistem resi gudang terpercaya di indonesia.
Misi : Tersedianya dan tertatanya sistem pembiayaan perdagangan yang dapat diakses oleh
setiap pelaku usaha secara tepat waktu.
Tujuan : Menjadikan sistem resi gudang sebagai basis pendukung industri pertanian dengan
memperkuat dukungan dari sisi infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information
Communication Technology - ICT)
3.2 Analisa Internal
Secara garis besar, pihak-pihak yang berperan dalam sistem resi gudang dapat digambarkan
sebagai berikut :

Gambar 5. Pihak-pihak yang berperan dalam sistem resi gudang di Indonesia

3.2.1 Strong :

• Kebijakan dari pemerintah sangat mendukung dan ada kemauan kuat dari pemerintah
untuk mensukseskan sistem resi gudang ini.

• Aturan perundang-undangan dan aturan pelaksanaan nya sudah cukup memadai.

• Desain infrastruktur informasi di tingkat pusat sudah memadai dan sedang dalam proses
pembangunan.

• Sudah diuji cobakan di level pengguna dan terbukti efektif untuk level komunitas.
3.2.2 Weakness :

• Desain infrastruktur sistem informasi terpusat, sulit untuk akomodir kebutuhan tiap
komunitas, apalagi kalau jumlah pengguna meningkat tajam.

• Infrastruktur telekomunikasi yang menghubungkan komunitas dengan pusat terkendala


oleh lokasi geografis yang luas.

• Belum diantisipasi sistem keamanan bila memakai jaringan internet sebagai infrastruktur
pendukung sistem informasi yang sedang dibangun.

• Sistem informasi di dalam komunitas (antara user, gudang, dan pengelola gudang) belum
terfasilitasi.

3.3 Analisa Eksternal

3.3.1 Opportunities :

• Sistem resi gudang sudah diakui dalam sistem derivatif perdagangan dunia.

• Berprospek cerah untuk Indonesia sebagai negara penghasil komoditas pertanian.

• Konsep dan kebijakan di Indonesia lebih maju dari beberapa negara berkembang yang
sudah menerapkan sistem resi gudang.

3.3.2 Threat :

• Tingkat kepercayaan sistem perdagangan derivatif dunia terhadap sistem resi gudang di
Indonesia masih sangat rendah.

• Hal ini disebabkan sistem informasi yang kurang memadai untuk memonitor proses dan
pergerakan pasar komoditas.

3.4 Identifikasi dan analisa strategi yang menjadi isu kunci (Identify and Analyse Key
Strategic Issues)

Terdapat dua isu kunci stratejik yang menjadi bahan pertimbangan utama, yaitu :

1. Sistem informasi yang memfasilitasi komunitas terutama di sisi user, pengelola gudang
dan bank setempat.

2. Infrastruktur telekomunikasi yang menghubungkan pengguna dalam komunitas, antar


komunitas, dan komunitas dengan pusat sistem informasi resi gudang.
3.5 Identifikasi dan pemilihan opsi stratejik (Identify and Choose a Strategic Option)

Opsi stratejik yang direkomendasikan untuk dipilih dalah sebagai berikut :

3.5.1 Pemilihan Sistem informasi yang memfasilitasi komunitas terutama di sisi user,
pengelola gudang dan bank setempat

3.5.1.1 Arsitektur Sistem Informasi

Gambar 6. Arsitektur Sistem Informasi Electronic Warehouse Receipt

Komponen utama yang ada dalam arsitektur ini antara lain :

• Back end terdiri dari mesin My SQL database dan server aplikasi Apache tomcat yang
berjalan dalam JVP and Serlets

• Client dapat terkoneksi melalui web browser konvensional

• JDBC (Java™ Database Connectivity) digunakan untuk koneksi dengan database

• Elektronic Warehouse Receipt (EWR)


3.5.1.2 Transaksi:

Berapa jenis transaksi di sini dilakukan oleh pengelola gudang, user, dan Bank.

Transaksi oleh pengelola gudang

1. Menerbitkan Elektronic Warehouse Receipt (EWR) ; Elektronic Warehouse Receipt


(EWR) baru dapat diterbitkan oleh pengelola gudang jika user membawa produknya
untuk didepositkan. Penerbitan dengan memasukkan (entry) detail produk seperti grade,
harga, berat, tanggal deposit, id pemilik, dan lain-lain ke dalam database.

2. Menghandle permintaan penarikan (withdrawal) Elektronic Warehouse Receipt (EWR) :


Pengelola gudang dapat menyetujui atau menolak permintaan penarikan Elektronic
Warehouse Receipt (EWR) untuk komoditas yang sudah diterbitkan EWR nya.
Permintaan dapat ditolak dalam hal EWR hilang atau tidak lagi dimiliki oleh user yang
membuat permintaan.

Transaksi oleh pengguna (User)

1. Menjual produk

2. Membeli produk

3. Mengajukan permintaan penarikan (withdrawal).\

4. Mengambil kredit dari Bank.

Transaksi oleh Bank :

Setiap Bank yang teregistrasi dapat menangani permintaan peminjaman dan pelunasan pinjaman.
Bank berposisi kolateral dalam produk bila pemilik barang mengambil pinjaman atau kredit.
Bank melepas kolateral bila pemilik melunasi pinjaman tersebut. Pengguna harus membuat
permintaan untuk menempatkan atau melunasi kolateral tersebut.
3.5.1.3 Diagram Aliran data

Gambar 7. Data flow diagram Electronic Warehouse Receipt

Dari skema sistem informasi di atas, dapat kita gambarkan ilustrasi secara implementasi adalah
sebagai berikut (studi kasus, India).

Masalah dalam sistem yang ada sekarang ini :

• Physical delivery of receipt, dimana tahap akhir dari transaksi, dapat mengakibatkan
biaya transaksi tambahan ( handling, transportasi, dan sertifikasi penyimpanan) dan juga
mengakibatkan loss dari pencurian, loss saat transit, atau counterfeiting (perampokan).

• Penerimaan gudang dapat digunakan sebagai pengaman untuk pengambilan pinjaman


dari bank. Pada kasus resi ini hilang, duplikat dari resi ini dapat diterbitkan kembali oleh
gudang yang sama. Metode ini dapat menimbulkan malpraktik dan pemalsuan.

Keuntungan dari Elektronic Warehouse Receipt (EWR) :

• E WR aman dari kecurangan dan pemalsuan. Informasi di simpan di pusat database.


Tidak ada seorangpun yang dapat membuat duplikat atau menggunakan resi yang telah
tidak berlaku (outdate).

• Memecahkan masalah keterbatasan karena faktor geografi .


• Dapat meraih kepercayaan (trust) yang lebih tinggi dari Bank, depositor, pemberi
pinjaman, produser, dan merchant terutama karena keamananya dari fraud dan
pemalsuan.

• Elektronic Warehouse Receipt (EWR) mensuplemen e bisnis sebagai pembeli yang dapat
diyakinkan tentang kualitas dan kuantitas dari komoditas yang ditawarkan.

(sumber : Integrated Electronic warehouse Receipt Management, S K Dwivedi Sanjay K


Diwakar, 4th International Convention CALIBER-2006, Gulbarga, 2-4 February, 2006)

3.5.2 Pemilihan infratruktur telekomunikasi yang menghubungkan pengguna dalam


komunitas, antar komunitas, dan komunitas dengan pusat sistem informasi resi
gudang.

Opsi yang dipilih adalah dengan menggunakan VPN dari operator FWA yang berbasis call on
demand, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 8. Virtual Private Network

Untuk infrastruktur dalam sistem resi gudang ini, dipilih yang melalui non internet. Secara lebih
detil, diilustrasikan pada gambar 9 di bawah ini.
Gambar 9. Perangkat PDSN untuk difungsikan menjadi VPN (Virtual Private Network)

Dari ilustrasi gambar 9 di atas, terlihat perangkat komunikasi data untuk operator FWA (yang
berbasis teknologi CDMA), yang dapat dijabarkan secara teknis sebagai berikut : perangkat
PDSN (packet data serving node) di setting tunnel private ke gateway VPN private atau
enterprise (misalnya LNS), dengan protokol MPLS L3 VPN, L2TP VPN, atau GRE VPN.
Teknologi ini biasa dipakai untuk layanan EDC (Electronic Data Capture) : ATM, cash register,
atau credit card.

Opsi ini dipilih dengan pertimbangan utama mengenai masalah kesiapan infrastruktur operator FWA ini
yang sudah hampir menjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Kebutuhan bandwidth di setting tidak
terlalu besar sehingga infrastruktur yang ada sudah langsung dapat dipergunakan tanpa dibutuhkan
penambahan investasi lagi di sisi operator telekomunikasi.
4. KESIMPULAN
Sistem resi gudang mempunyai prospek yang bagus dalam industri komoditas pertanian di Indonesia.

Isu stratejik kunci dalam pengembangan sistem ini adalah :

1. Sistem informasi yang memfasilitasi komunitas terutama di sisi user, pengelola


gudang dan bank setempat.

2. Infrastruktur telekomunikasi yang menghubungkan pengguna dalam komunitas, antar


komunitas, dan komunitas dengan pusat sistem informasi resi gudang.

Opsi yang dipilih dalam isu stratejik kunci di atas adalah :

1. Integrasi sistem informasi berbasis Elektronic Warehouse Receipt (EWR), dengan


berbasis web, yang ditujukan untuk komunitas / cluster, yang menghubungkan
interaksi antara pengguna, pengelola gudang, dan perbankan setempat.

2. Akses komunikasi data tertutup (Virtual Private Network) dengan operator FWA
(yang berbasis teknologi CDMA), dengan pertimbangan kapastias dan jangkauan
infrastruktur yang sudah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia.

Sinergi dari sistem perdaganan, gudang, dan sistem informasi / komunikasi modern sangat diperlukan
danaakan mempercepat laju perkembangan industri komoditas pertanian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Warehouse Receipts Systems, Rural Agricultural Finance Specialty Topic Series, USAID

Siaran pers PT. Averin Informatika Teknologi

Introduction to E-business Management and Strategy Colin Combe Elsevier Ltd 2006 :
Integrated Electronic warehouse Receipt Management, S K Dwivedi Sanjay K Diwakar, 4th
International Convention CALIBER-2006, Gulbarga, 2-4 February, 2006

Tujuh BUMN Bentuk ITF, Genjot Resi Gudang , tabloid kontan 06/13/07

Commodity exchanges – and how they will help leverage agricultural finance, Lamon Rutten,
www.ace-group.net

Sistem Resi Gudang dan Peranan Perbankan (UU No. 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi
Gudang), Bank Indonesia, Laporan Perkembangan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PEKDA)
Provinsi Sulawesi Utara Triwulan I Tahun 2007.

Salinan Undang-Undang Republik Indonesia No 9 tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang.

Salinan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 36 TAHUN 2007 tentang Pelaksanaan


Undang-undang No 9 tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang.

Salinan Peraturan Menteri Keuangan No 171/PMK.05/2009 tentang Skema Subsidi Resi Gudang
Pemanfaatan IT dalam Tata Kelola Data dan Informasi, Mochammad Irzan, 2009