Sie sind auf Seite 1von 68

HABITAT SARANG ELANG JAWA (Nisaetus bartelsi)

DI KAWASAN RESORT SALAK 1


TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK

NANI

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS


SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014 M/ 1435 H

HABITAT SARANG ELANG JAWA (Nisaetus bartelsi) DI


KAWASAN RESORT SALAK 1
TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Sains Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

NANI
1110095000053

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS


DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2014 M/1435 H

HHAABBIITTAATT
SSAARRAANNGGEELLAANNGGJJAAWWAA((NNiissaa
eettuuss bbaarrtteellssii))DDII
KAAWWAASSAANN RREESSOORRTT SSAALLAAKK l1
TTAAMMAAN
N
NNAASSIIOONNAALLGGUUNNUUNNGGHHAALLI
IMMUUNN--SSAALLAAKK
SSkkrrii
ppssi i
SSeebbaaggaai i SSaallaahh SSaatutu SSyyaarraatt Unnttuukk
Meemmppeerorolelheh GGeelalarr SSaarrjjaannaa SSaaiinnss
JJuurruussaann BBiioolologgi i FFaakkuultlatas s SSaaiinnss ddaann TTeekknnoolologgi
i
UUnniivveerrssiitatass IIssllaamm NNeeggeeriri
SSyyaarriiffHHididayaaytautlulallhah JJaakkaarrttaa

Olleeh
h ::
Naan
ni i

1110
111 0009955000
00000553 3

Mennyyeettuujujui i :

Peem
mbbiim
mbbii
nngg II

Dr. Fahma Wijayanti, M.Si


NIP : 196903172003122000

Pemb
Pem biirmnbbiningg III

rs. Paa~skal Sukandaarr., M..SSii


Drs

NIIP..19159150130235215981291802110001 001

Meng
en geettaahhuuii :
Kettuuaa JJuurusaann
Biioollo
ogii
FaFkualktausltaSsaSinasindsandaT
neTkoekno
olnoogliogi

Dr. Dasumiati, M.Si

NINPI.P.19179370390293213
9199990930230200202

ii

PENGESAHAN UJIAN

Skripsi yang berjudul Habitat Sarang Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) Di


Kawasan Resort Salak 1 Taman Nasional Gunung Halimun-Salak telah diuji dan
dinyatakan lulus pada sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Senin, 01
September 2014. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Jurusan Biologi.
Menyetujui,
Penguji I

Penguji II

Dr. Megga Ratnasari Pikoli, M.Si


NIP. 197203222002122002

Dr. Dasumiati, M.Si


NIP. 197309231999032002

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Fahma Wijayanti, M.Si


NIP . 196903172003122000

Drs. Paskal Sukandar, M.Si


NIP. 195103251982101001

Mengetahui :
Dekan Fakultas Sains Dan Teknologi

Ketua Jurusan Biologi

Dr. Agus Salim, M.Si


NIP. 197208161999031003

Dr. Dasumiati, M.Si


NIP. 197309231999032002

iii

PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI
ADALAH

HASIL

KARYA SENDIRI

YANG

BELUM

PERNAH

DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA


PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Jakarta, Juli 2014

Nani
1110095000053

iv

ABSTRAK
Nani. Habitat Sarang Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di Kawasan Resort
Salak 1 Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Di bawah bimbingan Dr.
Fahma Wijayanti, M.Si dan Drs. Paskal Sukandar, M.Si
Elang Jawa merupakan top predator endemik di pulau Jawa yang terancam
punah. Keberlangsungan hidup Elang Jawa bergantung pada kondisi habitat dan
lingkungan sekitar sarangnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
karakteristik habitat sarang Elang Jawa di kawasan Resort Salak 1 Taman
Nasional Gunung Halimun-Salak. Penelitian dilaksanakan pada bulan MaretApril 2014 di kawasan Resort Salak 1 TNGHS. Metode penelitian menggunakan
metode survei. Data yang diambil berupa data faktor fisik, vegetasi, karakteristik
pohon sarang dan sarang Elang Jawa. Hasil penelitian Elang Jawa menempati tiga
lokasi yaitu blok Handeulem, Lembah Hamerang Sintok dan Surya Kencana
Sukamantri. Habitat sarang Elang Jawa di blok Handeuleum menempati hutan
tanaman di ketinggian 767 m dpl dengan menggunakan pohon Huru (Phobea
grandis) sebagai pohon sarangnya. Blok Lembah Hamerang Sintok menempati
hutan alam di ketinggian 1014 m dpl dengan menggunakan pohon Suren Gunung
(Toona sureni) sebagai pohon sarangnya. Habitat sarang Elang Jawa di Surya
Kencana Sukamantri menempati hutan alam di ketinggian 1026 m dpl dengan
menggunakan pohon Renghas (Gluta renghas) sebagai pohon sarangnya. Pohon
sarang yang digunakan merupakan pohon tertinggi di wilayah tersebut yaitu
pohon Huru (P. grandis) dengan tinggi 35 m , Suren Gunung (T. sureni) 40 m dan
Renghas (G. renghas) 43 m. Sarang berada di lereng timur dan menghadap
lembah. Komposisi sarang terdiri dari tumbuhan epifit Pakis Sarang Burung
(Kadaka) dan ranting pohon Rasamala, Pasang dan Manii.
Kata kunci : Elang Jawa, Habitat, Sarang, TNGHS

ABSTRACT
Nani. Habitat of Javan-Hawk Eagle Nest (Nisaetus bartelsi) in regional of
Salak resort 1, the National Park of Halimun-Salak mountain. Advisor Dr.
Fahma Wijayanti, M.Si and Drs. Paskal Sukandar, M.Si
Javan-Hawk Eagle is a top predator endemic in Java which is endangered
by extinction. The survival of Javan-Hawk Eagle depends on the habitat and
environmental conditions around the nest. The purpose of this study was to
investigate the characteristics of Javan-Hawk Eagle habitat around the nest in the
regional of the National Park of Halimun-Salak mountain. The research was
conducted in March-April 2014 in the regional of Salak resort 1 TNGHS. The
method of this research was survey methods. The data were taken physical factor
data, vegetation, characteristics of nest tree and Javan-Hawk Eagle nest. The
results of the study Javan-Hawk Eagle occupies three locations Handeulem
blocks, Valley Hamerang Sintok and Surya Kencana Sukamantri. Javan-Hawk
Eagle nesting habitat in Handeuleum block plantation forests occupy at an altitude
of 767 m above sea level using a tree Huru (Phobea grandis) as a nest tree. Block
Valley Hamerang Sintok occupy nature forest at an altitude of 1014 m above sea
level using a tree Mount Suren (Toona sureni) as a nest tree. Javan-Hawk Eagle
nesting habitat in Surya Kencana Sukamantri occupy nature forest at an altitude
of 1026 m above sea level using Renghas tree (Gluta renghas) as a nest tree.
Neest tree used was the tallest tree in the area of the tree Huru (P. grandis) with a
height of 35 m, Suren Mountain (T. sureni) 40 m and Renghas (G. renghas) 43 m.
The nest was located on the eastern slopes and overlooks the valley. The
composition of the nest consists of epifit bird nest fern plant (Kadaka) and tree
branch Rasamala, Pasang and Manii.
Keyword : Javan-Hawk Eagle, Habitat, Nest, TNGHS

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan hidayah dari-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan
penulisan skripsi ini dengan judul Habitat Sarang Elang Jawa (Nisaetus
bartelsi) di Kawasan Resort Salak I Taman Nasional Gunung HalimunSalak. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat-syarat kelulusan guna
memperoleh gelar Sarjana Sains pada Jurusan Biologi Fakultas Sains dan
Teknologi.
Selama penelitian dan penulisan skripsi ini penulis mendapatkan masukan
dan tambahan-tambahan dari beberapa pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini
dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak dan Ibu atas dorongan, semangat, kepercayaan dan doa yang tiada
henti. Kakak tersayang Nanang Kasim yang senantiasa memberikan
dorongan dan bantuannya dalam terlaksananya penelitian ini.
2. Dr. Agus Salim, M.Si selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi.
3. Dr. Dasumiati, M.Si selaku Ketua Jurusan Biologi Fakultas Sains dan
Teknologi UIN Syarif Hidayatullah
4. Dr. Fahma Wijayanti M.Si selaku pembimbing I dan dosen yang telah
memberikan banyak inspirasi, diskusi yang bermanfaat, masukan, kritik
dan saran sehingga memberikan motivasi untuk menyelesaikan skripsi
ini..

vii

5. Drs. Paskal Sukandar M.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan


banyak masukan, kritik, saran dan dorongan dalam menyelesaikan skripsi
ini.
6. Apdus Salam S.Si yang senantiasa memberikan dorongan semangat, doa,
waktu,

kehadirannya,

dan

selalu

mengingatkan

penulis

untuk

menyelesaikan skripsi ini.


7. Ranti, Adi dan Fadil yang telah membantu dan menemani dalam suka dan
duka saat pengambilan data di lapangan serta teman-teman Suaka Elang,
Mas Gunawan, Kang Duduy, Kang Opink, Kang Deden, Kang Zaini
Rakhman dan teman-teman lainnya yang senantiasa menjadi teman
diskusi dan memberikan masukan-masukannya dalam penulisan skripsi
ini.
8. Sahabat Ranti, Farida, Jane, Chaca, Putri dan Wenni dan teman-teman
Biologi 2010 lainnya yang menjadi motivator dalam menyelesaikan
penelitian ini.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Ibu dan Bapak serta
teman-teman semua dengan berlipat ganda. Akhir kata penulis menyadari bahwa
tulisan ini masih belum sempurna, namun demikian penulis berharap semoga
karya ilmiah yang sederhana ini bermanfaat bagi pengembang ilmu pengetahuan
dan semua pihak yang memerlukan.
Jakarta, Juli 2014

Penulis

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................


i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ...........................................
ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN ...........................................................
iii
LEMBAR PERNYATAAN ........................................................................
iv
ABSTRAK ...................................................................................................
v
KATA PENGANTAR .................................................................................
vii
DAFTAR ISI ................................................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................
xi
DAFTAR TABEL .......................................................................................
xii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xiii
BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang .....................................................................

1.2

Rumusan Masalah ................................................................

1.3

Tujuan Penelitian .................................................................

1.4

Manfaat Penelitian ...............................................................

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Biologi Elang Jawa ..............................................................

2.2

Status Elang Jawa ................................................................

2.3

Ekologi Elang Jawa ..............................................................

2.3.1 Habitat Elang Jawa ...

2.3.2 Sumber pakan Elang Jawa

10

2.3.3 Penyebaran Elang Jawa

11

2.3.4 Wilayah jelajah Elang Jawa..

11

2.3.5 Perilaku Elang Jawa .

12

2.4

Analisis Vegetasi .................................................................

14

2.5

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) ...........

16

ix

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Waktu dan Lokasi Penelitian ..............................................

18

3.2

Alat dan Bahan Penelitian.....................................................

19

3.3

Jenis Data .............................................................................

19

3.4

Survei pendahuluan ..............................................................

19

3.5

Metode Pengumpulan Data ..................................................

20

3.5.1

Pengukuran faktor fisik lingkungan .........................

20

3.5.2 Analisis vegetasi ......................................................

21

3.5.3

Diagram profil vegetasi ............................................

22

3.5.4

Sarang Elang Jawa ...................................................

23

Analisis Data .

24

3.6
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1

Faktor Lingkungan Fisik ......................................................

26

4.2

Habitat Sarang Elang Jawa ..................................................

28

4.2.1

BAB IV

Struktur vegetasi pohon pada habitat Sarang Elang


Jawa ..........................................................................

28

4.2.2

Pohon sarang Elang Jawa .........................................

32

4.2.3

Sarang Elang Jawa ...................................................

39

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1

Kesimpulan ..........................................................................

45

5.2

Saran ....................................................................................

45

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

47

LAMPIRAN ...................................................................................................

50

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Morfologi Elang Jawa (Sozer, 2013)..

Gambar 2. Peta lokasi penelitian habitat sarang Elang Jawa...

18

Gambar 3. Desain metode point center quarter method......

21

Gambar 4. Plot pengambilan data diagram profil vegetasi.........

22

Gambar 5. Grafik Indeks Nilai Penting (INP) di Handeulem..

29

Gambar 6. Grafik Indeks Nilai Penting di Lembah Hamerang Sitok...

30

Gambar 7. Grafik Indeks Nilai Penting di Surya Kencana, Sukamantri.

31

Gambar 8. Diagram profil vertikal vegetasi pohon di sekitar habitat


sarang Elang Jawa pada blok Handeulem..

35

Gambar 9. Diagram profil vertikal vegetasi pohon di sekitar habitat


sarang Elang Jawa pada blok Lembah Hamerang Sitok.....

36

Gambar 10. Diagram profil vertikal vegetasi pohon di sekitar habitat


sarang Elang Jawa pada blok Surya Kencana

37

Gambar 11. Pohon sarang Elang Jawa di Handeulem (a) dan di Surya
Kencana (b)........................

38

Gambar 12. Sarang Elang Jawa di Surya Kencana (a) dan di Lembah
Hamerang Sitok (b)............

42

xi

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Faktor fisik lingkungan di sekitar habitat sarang Elang Jawa

26

Tabel 2. Data pohon sarang Elang Jawa...

33

Tabel 3. Data sarang Elang Jawa di kawasan Resort Salak 1...

40

xii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi pohon di sekitar habitat
sarang Elang Jawa.

50

Lampiran 2. KR, FR dan DR vegetasi pohon...

51

Lampiran 3. Elang Jawa (a), Elang Hitam (b) dan Elang Ular Bido (c) di
Resort Salak 1 TNGHS...

52

Lampiran 4. Arsitektur pohon Phobea grandis, Toona sureni (a) dan Gluta
renghas (b) (Onrizal, 2013)

xiii

53

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keanekaragaman

hayati yang tinggi dengan luas wilayah 1,3% dari seluruh luas muka bumi
memiliki 10% flora berbunga dunia, 12% mamalia dunia, 17% jenis burung dunia,
dan 25% jenis ikan dunia. Kondisi iklim yang tropis di Indonesia menyebabkan
adanya berbagai tipe habitat yang berbedabeda. Adanya tipe habitat yang
berbedabeda tersebut dapat ditemukan berbagai jenis flora dan fauna yang
beranekaragam. Salah satu fauna yang ada di Indonesia yaitu burung. Burung
merupakan aset dalam kelangsungan dan kesejahteraan bagi makhluk hidup yang
lainnya, karena keberadaan burung ini bermanfaat dalam menjaga kestabilan
ekosistem, dimana burung mempengaruhi siklus jaring jaring makanan atau
rantai makanan. Dengan demikian bila ada gangguan terhadap jenis burung maka
akan mengganggu jaringjaring makanan dalam ekosistem tersebut (Prawiladilaga
dkk, 2003).
Beberapa keanekaragaman jenis burung di Indonesia diantaranya berupa
jenis-jenis burung pemangsa (elang), yakni terdapat 75 jenis yang terdiri dari
Pandionidae (1 spesies), Accipitridae (65 spesies), dan Falconidae (9 spesies).
Tujuh belas spesies di antaranya termasuk elang endemik dan salah satunya
adalah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) (Sukmantoro dkk., 2007).

Elang Jawa merupakan salah satu pemangsa puncak (top predator) dalam
siklus rantai makanan di ekosistem hutan karena perannya dalam mengatur
populasi satwaliar lain yang menjadi mangsanya. Dengan demikian Elang Jawa di
dalam ekosistem hutan berfungsi sebagai burung karnivora yang ikut menjaga
keseimbangan ekosistem alam. Elang Jawa merupakan jenis burung endemik dan
terancam punah. Pada lingkungan yang terganggu, Elang Jawa merupakan jenis
binatang pertama yang tersingkir atau bahkan menghilang, karena gangguan
apapun yang merusak habitatnya akan berpengaruh langsung terhadap Elang Jawa
dan dapat menghambat proses pembiakannya (Prawiladilaga, 1999). Status
konservasi Elang Jawa menurut IUCN (International Union for Conservation of
Nature) Red List (2013) masuk dalam kategori Endangered yaitu status
konservasi yang diberikan kepada spesies yang risiko kepunahan di alam liar
tinggi dalam waktu 20 tahun atau 5 generasi dan memiliki risiko kepunahan lebih
besar dari 20 %.
Keberlangsungan hidup Elang Jawa bergantung pada kondisi habitat dan
lingkungan sekitar sarangnya. Penyempitan, terfragmentasinya habitat dan
maraknya perdagangan Elang Jawa mempengaruhi tingkat populasi dari Elang
Jawa tersebut. Habitat sarang digunakan oleh Elang Jawa pada musim kawin dan
musim bertelur (breeding). Apabila habitat sarangnya terganggu maka akan
mempengaruhi keberhasilan dari penetasan telur Elang Jawa. Elang Jawa sendiri
dalam satu tahun hanya bertelur 1 butir (Prawiladilaga dkk., 2003). Oleh karena
itu habitat sarang Elang Jawa perlu dijaga agar populasi dari Elang Jawa tersebut
tetap terjaga.

Habitat Elang Jawa menurut Prawiladilaga dkk., (2003) mendiami daerah


hutan tropis, dari daerah pantai hingga ketinggian 3000 m dpl. Habitat Elang Jawa
umumnya berada di hutan primer, tetapi terkadang dapat ditemui pula di hutan
sekunder yang berdekatan dengan hutan primer. Elang Jawa menggunakan
beberapa jenis pohon sebagai pohon sarangnya diantaranya seperti pohon
Rasamala, Pasang, Cemara, Puspa dan Ki Sireum. Berdasarkan pada penelitian
sebelumnya mengenai habitat sarang Elang Jawa oleh Prasetyo (2002) di kawasan
Cibulao Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP), habitat sarang
Elang Jawa berada pada hutan hujan tropis di ketinggian 1.300 m dpl. Lokasi
pohon sarang Elang Jawa berada pada lereng hutan dan menggunakan pohon
Pasang (Quercus sp.) sebagai pohon sarangnya.
Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) merupakan Taman
Nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis pegunungan terluas di Pulau
Jawa. TNGHS merupakan salah satu habitat bagi Elang Jawa, hal ini disebabkan
kondisi alamnya yang masih cukup baik dengan memiliki hutan alam dan
berbagai hutan produksi yang terjaga

(Prawiradilaga dkk., 2003). Berdasarkan

informasi yang didapat dari Suaka Elang (2013) di kawasan Taman Nasional
Gunung Halimun-Salak wilayah Resort Salak 1 khususnya di blok Sukamantri
ditemukan 2 sarang aktif Elang Jawa.
Menurut Setiadi dkk., (2000) dan Prawiradilaga dkk., (2003), datadata
mengenai aspek bioekologi seperti habitat, wilayah jelajah dan populasi Elang
Jawa di kawasan TNGHS masih belum memadai. Oleh karena itu, perlu diadakan
studi mengenai Elang Jawa di kawasan TNGHS ini. Salah satu studi yang perlu

dilakukan yaitu mengenai habitat sarang Elang Jawa. Hasil mengenai lokasi dan
kodisi habitat sarang Elang Jawa ini diharapkan dapat menjadi informasi dalam
konservasi Elang Jawa dengan dilakukannya monitoring dan pengawasan serta
pelestarian habitat sekitar sarang demi menjaga dinamika dan keberlangsungan
hidup Elang Jawa yang ada pada wilayah tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini
diharapkan dapat melihat kondisi habitat sarang Elang Jawa sebagai bahan
masukan dan pertimbangan dalam pengelolaan satwa raptor khususnya Elang
Jawa di wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.
1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana karakteristik habitat sarang Elang Jawa di Kawasan Resort

Salak 1 Taman Nasional Gunung Halimun-Salak ?


1.3

Tujuan Penelitian
Mengetahui karakteristik habitat sarang Elang Jawa di Kawasan Resort

Salak 1 Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.


1.4

Manfaat Penelitian
Memberikan informasi mengenai karateristik habitat sarang Elang Jawa di

kawasan Resort Salak 1 Taman Nasional Gunung Halimun-Salak untuk


pengelolaan usaha konservasi raptor dan habitatnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Biologi Elang Jawa


Elang Jawa memiliki ukuran tubuh 6070 cm dengan bobot tubuhnya

berkisar 2,5 kg. Panjang rentangan sayap 110130 cm dan panjang ekor 2426
cm.

Pada bagian kepalanya memiliki jambul tipis yang terdiri dari 24 bulu.

Panjang jambul Elang Jawa berkisar hingga 12 cm dan berwarna coklat hitam.
Pada elang dewasa, jambul, mahkota dan garis kumis berwarna hitam. Iris
berwarna kuning emas (Prawiladilaga dkk., 2003).
Bulu pada bagian dada, perut dan paha Elang Jawa berwarna keputihan
dengan bintikbintik hitam yang tebal. Paruh Elang Jawa berwarna hitam,
sedangkan panjang sayap pada Elang Jawa dewasa 349358 mm (Sozer dan
Nijman, 1995). Ekor Elang Jawa pada bagian atas terlihat berwarna coklat tua dan
pada bagian bawah terlihat berwarna abu-abu. Pada ekornya terdapat empat buah
pita berwarna hitam, namun pada umumnya hanya terlihat tiga buah pita karena
pita yang terdapat pada pangkal ekor sering tersembunyi. Kaki Elang Jawa relatif
pendek berwarna kuning terang, kokoh serta tertutup bulu (Prawiladilaga, 1999).
Penampakan ventral ketika terbang berwarna karat kekuning-kuningan
dengan bintik-bintik hitam didada, berpalang hitam di perut dan sayap. Pada elang
muda bagian atas berwarna cokelat gelap, mahkota berbintik-bintik hitam, jambul
hitam. Ketika terbang bagian ventral tampak kekuningan, bulu sayap primer
berwarna abu-abu dengan pangkalnya hitam (Ferguson-Lees dan Christie, 2005).

70 cm

Gambar 1. Morfologi Elang Jawa (Sozer, 2013)


Klasifikasi Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah sebagai berikut
(Gamauf, 2005) :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Sub Filum

: Vertebrata

Kelas

: Aves

Ordo

: Falconiforme

Sub Ordo

: Accipitres

Famili

: Accipitridae

Sub Famili

: Aquilinae

Genus

: Nisaetus

Spesies

: Nisaetus bartelsi Stresemann, 1924

Berdasarkan hasil penelitian Gamauf dkk (2005) adanya ketetapan bahwa


Elang Jawa termasuk Nisaetus bartelsi dan bukan termasuk Spizaetus bartelsi
untuk bagian Asia tenggara. Hal ini berdasarkan data molekuler perbaikan
taksonomi dan perubahan DNA pada genus Spizaetus dan beberapa taksa lainnya.

Tidak hanya Elang Jawa, genus Nisaetus untuk Asia tenggara meliputi N.
nipalensis, N. alboniger, N. cirhattus, N. nanus, N. lanceolatus, N. pinskeri, dan
N. philippensis.
2.2

Status Elang Jawa


Elang Jawa menurut kriteria IUCN (International Union for Conservation

of Nature) masuk ke dalam daftar jenis burung yang terancam (Checklist of


Threatened Bird Species) dengan kriteria genting (endangered). CITES
(Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna an
Flora) menyatakan Elang Jawa masuk dalam daftar Appendiks II sebagai satwa
yang hanya boleh diperdagangkan dari hasil penangkaran dan dalam jumlah
terbatas (Setiadi dkk., 2000).
Elang Jawa di Indonesia dikategorikan ke dalam kelompok satwa yang
dilindungi

dengan

undang-undang.

Peraturan-peraturan

yang

memuat

perlindungan terhadap Elang Jawa adalah (Setiadi dkk., 2000) :


a. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 43 Tahun 1978 (Lembaran
Negara Tahun 1978 Nomor 51), 15 Desember 1978. Tentang Pengesahan
CITES.
b. SK. Menteri Pertanian No. 775/Kpts/Um/12/1979; Departemen Pertanian,
tanggal 5 Desember 1979.
c. Undang-undang Republik Indonesia No. 5 tahun 1990; 10 Agustus 1990;
mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

d. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 4 tahun 1993; tentang Flora dan
Fauna Nasional, yang menetapkan Elang Jawa sebagai Satwa Kebanggan
Nasional, tanggal 3 Januari 1993.
e. SK. Menteri Kehutanan No. 771/Kpts-II/1996; Departemen Kehutanan, 17
Desember 1996.
f. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1999; Presiden
Republik Indonesia, 27 Januari 1999 : tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan
dan Satwa.
2.3

Ekologi Elang Jawa

2.3.1

Habitat Elang Jawa


Elang Jawa merupakan jenis burung yang habitatnya dapat dijumpai di

berbagai hutan primer, sekunder dan bahkan hutan produksi (Prawiradilaga,


1999). Hutan primer merupakan habitat ideal bagi Elang Jawa untuk wilayah
berburu dan tempat perkembangbiakannya. Hutan sekunder dimanfaatkan oleh
Elang Jawa sebagai tempat berburu dan bersarang, tetapi lokasi hutan sekunder
tersebut

tetap

berdekatan

dengan

hutan

primer

yang

mendukung

perkembangbiakannya (Rov, 1997). Elang Jawa diketahui hidup di habitat hutan


hujan tropis mulai dari ketinggian 0 m sampai dengan 3000 m dpl, walaupun lebih
terkonsentrasi pada ketinggian 500 m sampai dengan 2000 m dpl (Setiadi dkk.,
2000).
Habitat Elang Jawa terdiri dari habitat bersarang, habitat beristirahat dan
habitat berburu. Habitat bersarang merupakan habitat yang digunakan saat musim
breeding sebagai tempat meletakkan telur, mengerami dan mengasuh anaknya

hingga mampu terbang sendiri. Habitat tempat bersarang yang digunakan selama
setahun adalah daerah berbukit, hutan tropis dataran rendah, serta hutan hujan
tropis bagian atas (Sozer dkk., 2012). Sarang Elang Jawa dapat dijumpai di tepi
hutan primer ataupun hutan yang terganggu. Pada tingkat tertentu Elang Jawa
dapat bertoleransi pada keberadaan manusia, seperti halnya pada wilayah hutan
sekunder ataupun hutan produksi. Lokasilokasi penemuan Elang Jawa teramati
tetap berdekatan dengan hutan primer yang luas untuk kebutuhan berburunya
(Szer dan Nijman, 1995).
Pohon yang disukai Elang Jawa untuk membuat sarang atau pohon sarang
adalah Rasamala (Altingia excelsa). Namun terdapat pohon-pohon lainnya yang
dijadikan pohon sarang oleh Elang Jawa diantaranya seperti Pasang (Quercus sp
atau Lithocarpus sp), Pinus (Pinus merkusii), Kitambang (Eugenia cuprea) dan
Puspa (Schima wallichii) (Rov, 1997). Dari jenisjenis pohon tersebut dapat
dilihat Elang Jawa suka menempatkan sarangnya pada pohon-pohon kayu yang
tinggi, agak rapat dan berkanopi cukup lebar. Sarang Elang Jawa dibangun dan
digunakan hanya pada musim perkembangbiakan yaitu untuk bertelur, mengeram,
dan perawatan anak hingga anak bisa terbang (Prawiradilaga, 1999).
Sarang dibangun pada pohon sarang yang dipilih, yaitu pohon yang
tertinggi ditempat tersebut dengan percabangan yang mencuat pada bagian tajuk
untuk menempatkan sarangnya (Sozer dkk., 1999). Sarang Elang Jawa biasanya
berbentuk seperti mangkuk dan dibuat pada dahan dengan ketinggian 30 m dari
permukaan tanah atau bisa lebih dari 30 m (Prawiradilaga, 1999).

Habitat beristirahat merupakan habitat yang digunakan sebagai tempat


bertengger dan tidur

Elang Jawa. Elang Jawa beristirahat dan tidur di habitat

berhutan. Pohon yang digunakan pada habitat beristirahat biasa disebut dengan
pohon monitoring. Pohon monitoring merupakan pohon yang letaknya lebih tinggi
dari pohon sarang dengan percabangan sedikit. Pohon yang sering dijadikan
sebagai pohon monitoring oleh Elang Jawa yaitu pohon Pasang (Quercus sp.)
(Prasetyo, 2002).
Habitat berburu Elang Jawa merupakan hutan primer dan hutan sekuder
yang berdekatan dengan hutan primer. Menurut Afianto (1999) Elang Jawa
melakukan aktifitas berburu dan mencari pakan di daerah yang letaknya berada di
bagian lembah dan dekat aliran sungai.
2.3.2

Sumber pakan Elang Jawa


Elang Jawa dalam rantai makanan di alam menduduki posisi puncak yaitu

sebagai pemangsa. Berbagai jenis mamalia berukuran kecil hingga seperti


kelalawar, bajing, tupai, tikus, burung serta reptilian tercatat sebagai mangsanya.
Ukuran mangsa terbesar Elang Jawa adalah anak monyet, tetapi mangsa yang
paling disukai adalah bajing dan tupai (Prawiladilaga, 1999).
Pada umumnya karakteristik jenis pakan Elang Jawa yaitu merupakan
jenisjenis burung yang tidak gesit bergerak, terutama jenis yang ukurannya
sedang sampai besar (25-50 cm), burung-burung tersebut hidup di tempat dengan
penutupan tajuk yang tidak terlalu tertutup. Mamalia yang dimangsa oleh Elang

Jawa memiliki karakterisktik mamalia yang hidup di pohon/aboreal, sedangkan


reptil merupakan sejenis ular dan kadal (Utari, 2002).
2.3.3

Penyebaran Elang Jawa


Elang Jawa (N. bartelsi) merupakan burung yang memiliki penyebaran

terbatas (endemik) di Pulau Jawa (MacKinnon, 1995). Elang Jawa diketahui hanya
tersebar di Pulau Jawa dan hidup di seluruh hutan primer di Pulau Jawa dari
dataran rendah sampai dataran tinggi yaitu 2003000 m dpl (MacKinnon dan
Phillips, 1993). Burung pemangsa ini sering ditemui di dataran tinggi di bawah
1500 m dpl terutama pada lereng pengunungan atau perbukitan. Penyebaran Elang
Jawa di Pulau Jawa yaitu berada di daerah Ujung Kulon, Gn. Halimun, Gn. Salak,
Gn. Gede Pangrango, Gn. Papandayan, Gn. Patuha, Gn. Segera, Karang Anyar,
Gn. Slamet, Gn. Besar, Gn. Prahu, Gn. Merapi, Gn.Wilis, Gn. Arjuno, Gn. Iyang,
TN. Meru Betiri, Kalibaru, Ijen dan TN. Alas Purwo (Sozer dan Nijman, 1995).
2.3.4

Wilayah jelajah Elang Jawa


Setiap individu atau kelompok spesies dalam habitatnya pasti memiliki

wilayah jelajah. Wilayah jelajah merupakan wilayah yang dijelajahi dalam jalur
pergerakan aktifitas hariannya (Ehrlich dkk., 1988). Menurut Thiollay dan
Meyburg (1989), wilayah jelajah dari Elang Jawa sekitar 20-30 km

dan

berdasarkan pengamatannya di Alas Purwo dipekirakan wilayah jelajah dari Elang


2

Jawa lebih luas sekitar 124-155 km . Hasil penelitian Supriatna dkk., (1998) di
kawasan Cibuloa didapati wilayah jelajah Elang Jawa lebih sempit yaitu 21,3 ha,

sedangkan Sozer dan Nijman (1995) menyatakan luas daerah jelajah Elang Jawa
2

diperkirakan memiliki luas 12 km /pasang.


Wilayah jelajah ini merupakan bagian dari wilayah untuk mendapatkan
suplai makanan, minuman, tempat bersarang, tempat berkembangbiak/kawin, dan
tempat berlindung ataupun bersembunyi (Alikodra, 2002). Suatu wilayah jelajah
ditandai oleh suatu individu atau kelompok spesies dengan menandainya
menggunakan urin, feses (kotoran), dan sekresi lainnya.
2.3.5

Perilaku Elang Jawa


Setiap individu dari suatu spesies memiliki perilaku diri dalam beraktifitas

dan beradaptasi dengan lingkungannya. Seperti halnya Elang Jawa untuk


mempertahankan teritori dari burungburung pemangsa lainnya, ia akan
bertengger pada dahan pohon yang tinggi pada wilayah teritorinya (MacKinnon,
1995). Beberapa perilaku Elang Jawa diantaranya yaitu :
a. Soaring
Soaring merupakan kegiatan terbang melayang dan berputar tanpa
mengepakkan sayapnya. Soaring ini hanya dilakukan saat naiknya udara panas.
Menurut Afianto (1999) Elang Jawa melakukan soaring untuk mengajarkan
anaknya terbang, untuk menarik perhatian pasangannya pada saat musim kawin
dan untuk menentukan wilayah teritorinya.

b. Gliding
Gliding merupakan bentuk terbang meluncur tanpa adanya aktifitas
mengepakan sayap. Perilaku ini biasa dilakukan saat elang ingin terbang
dengan menempuh jarak yang cukup jauh.
c. Display/Undulating
Terbang undulating merupakan terbang naik turun secara periodik dengan
arah horizontal. Aktivitas dilakukan untuk menarik perhatian pasangannya,
menunjukan wilayah teritori dan mengusir individu lainnya dari wilayah
teritorinya (Afianto, 1999).
d. Perilaku berburu
Elang Jawa memiliki dua macam teknik dalam berburu mangsanya.
Teknik yang pertama yaitu dengan cara bertengger (pearching) pada dahan,
ranting ataupun cabang pohon di dalam hutan pada area perburuannya (Bartels
1931 dalam van Balen 1996; Prawiradilaga 1999). Elang Jawa akan menunggu
hingga terlihat adanya mangsa atau pergerakan yang dilakukan oleh mangsa,
kemudian elang akan terbang (flying) dan meluncur (diving) dan menyergap
mangsa dengan kedua cakarnya (Prawiradilaga, 1999). Teknik kedua yaitu dengan
terbang rendah (ambush hunting) dan berputar-putar (soaring) sambil mencari
gerakan mangsa di atas tajuk pohon (Szer dan Nijman, 1995). Apabila mangsa
sudah terlihat maka elang segera meluncur dan menyambar mangsa yang berada
di dahan pohon atau lantai hutan (Prawiladilaga, 1999).

e. Perilaku berkembangbiak
Menurut Sozer dkk., (1999), perilaku kawin Elang Jawa teramati pada
bulan Februari, Juli dan Agustus dan masa bertelurnya antara bulan Januari
hingga Juli. Perilaku berkembangbiak terlihat pada masa awal pembuatan sarang.
Perilaku Elang Jawa saat kawin dimulai dengan terbang bersama selama beberapa
menit kemudian mereka hinggap pada suatu dahan di pohon sarang atau pada
pohon lain yag dekat dengan pohon sarang. Elang Jawa betina akan merundukan
tubuhnya hingga posisi hampir datar dengan membuka dan mengepakkan
sayapnya. Elang Jawa jantan akan menaiki dari belakang dengan sayap terbuka
pula. Setelah kawin elang jantan akan bertengger sebentar lalu terbang
(Prawiradilaga, 1999). Sepasang Elang Jawa menghasilkan sebutir telur tiap
musim kawinnya. Masa pengeraman telur sekitar 44-48 hari (van Balen, 1996).
2.4

Analisis Vegetasi
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan terdiri dari beberapa

jenis, seperti herba, pohon dan perdu yang hidup bersama-sama pada suatu tempat
dan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain, serta lingkungannya
dan memberikan ciri fisiognomi (kenampakan luar) vegetasi. Struktur vegetasi
dibedakan menjadi tiga aspek yaitu : (a)

struktur vertikal (yaitu stratifikasi

menjadi lapisan-lapisan tajuk), (b) struktur

horizontal (yaitu distribusi spasial

populasi jenis dan individu) dan (c) struktur kuantitatif (yaitu kelimpahan tiaptiap jenis tumbuhan dalam suatu komunitas) (Irwanto, 2007).
Analisis vegetasi merupakan cara mempelajari susunan atau komposisi
jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Tujuan analisis vegetasi salah satunya

yaitu untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP). INP merupakan parameter
kuantitatif yang dapat dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi spesiesspesies dalam suatu komunitas tumbuhan (Indriyanto, 2006). Selain untuk
mengetahui INP, analisis vegetasi juga untuk melihat stratifikasi. Stratifikasi atau
pelapisan tajuk merupakan susunan tetumbuhan secara vertikal di dalam suatu
komunitas tumbuhan atau ekosistem hutan.
Stratifkasi yang terdapat pada hutan hujan tropis dapat dibagi menjadi lima
stratum berurutan dari atas kebawah yaitu :
a)

Stratum A yaitu lapisan tajuk hutan paling atas yang dibentuk oleh
pepohohan yang tingginya lebih dari 30 m. Bentuk tajuk pada stratum A
lebar, tidak bersentuhan kearah horizontal dengan tajuk pohon lainnya
dalam stratum yang sama.

b)

Stratum B yaitu lapisan tajuk kedua dari atas yang dibentuk pepohonan
yang tingginya 20-30 m. Bentuk tajuk pada stratum B membulat atau
memanjang dan tidak melebar .

c)

Stratum C yaitu lapisan tajuk ketiga dari atas yang dibentuk oleh pohon
yang tingginya 4-20 m. Pepohonan pada stratum C mempunyai bentuk
tajuk yang berubah-ubah tetapi membentuk suatu lapisan tajuk yang tebal.

d)

Stratum D yaitu lapisan tajuk keempat dari atas yang dibentuk oleh spesies
tumbuhan semak dan perdu yang tingginya 1-4 m.

e)

Stratum E yaitu tajuk paling bawah yang dibentuk oleh spesies-spesies


tumbuhan penutupan tanah yang tingginya 0-1 m.

2.5

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS)


Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) merupakan salah satu

kawasan konservasi Indonesia yang berfungsi selain melindungi flora dan fauna
yang ada di dalamnya juga mempunyai fungsi lain yaitu sebagai pengatur tata air,
pendidikan, penelitian, sumber plasma nutfah, pengembangan budidaya, rekreasi
dan pariwisata. Kawasan TNGHS secara administratif terletak di dua propinsi
yaitu Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten serta berada di tiga kabupaten yaitu
Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak.
Kawasan TNGHS dahulu merupakan Taman Nasional Gunung Halimun
(TNGH) yang ditetapkan melalui SK Menhut No. SK 282/Kpts-II/Menhut/1992
pada tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 hektar. Tanggal 23 Maret
1997, TNGH ditetapkan sebagai salah satu unit pelaksana teknis di Departemen
Kehutanan. Seiring dengan tingginya proses degradasi hutan di Indonesia, maka
pada tahun 2003 kawasan hutan Gunung Salak, Gunung Endut, dan kawasan
sekitarnya dialih fungsikan dari kawasa hutan produksi dan hutan lindung yang
dikelola oleh perum Perhutani menjadi kawasan konservasi dengan SK Menhut
No. SK 175/Kpts-II/Menhut/2003. Tanggal 10 Juni 2003 TNGH diganti menjadi
Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) dengan luas 113.36 ha
(Hartono dkk., 2007).
Gunung Salak merupakan bagian dari TNGHS yang memiliki luas 7.110 ha
dengan ketinggian 2200 m dpl, 3000 ha merupakan kawasan resort salak 1.
Kawasan ini terletak 24 km arah selatan kota Bogor. Tipe hutan di kawasan ini
dikategorikan sebagai hutan hujan tropis (Rombang dan Rudyanto, 1999).

Vegetasi hutan di dalam kawasan Gunung Salak sangat bervariasi. Vegetasi hutan
pada ketinggian 500 1000 m dpl, ditemui Rasamala (Altingia excelsa), Puspa
(Schima wallichii), Saninten (Castanopsis javanica), Kiriung Anak (C.
acuminatissima) dan Pasang (Querqus sp.). Vegetasi pada ketinggian 10001500
m dpl dapat dijumpai Ganitri (Elaeocarpus ginitrus), Acer laurinum, Kiwates
(Eurya acuminate), Antidesma bunius, Kigember (Ficus sp.), Kayu Putih
(Cinamomus sp.), Kileho (Saurauia pendula) dan Kimerak (Calliandra
calothyrsus). Vegetasi pada ketinggian

di atas 1500 m dpl didominasi oleh

Jamuju (Dacrycarpus imbricartus), Kibima (Podocarpus blumei), Hamirung


(Vernonia arborea) dan Kiputri (Podocarpus neriifolius) (Hartono dkk., 2007).
Variasi curah hujan rata-rata di wilayah ini berkisar antara 4.000 mm sampai
6.000 mm/tahun. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober-April dengan curah
hujan antara 400 mm600 mm/bulan, sedangkan musim kemarau berlangsung
dari bulan Mei-September dengan curah hujan 200 mm/bulan. Suhu udara ratarata bulanan 31,5C dengan suhu terendah 19,7C dan suhu tertinggi 31,8C.
Kelembaban udara rata-rata 88% (Hartono dkk., 2007).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian mengenai habitat sarang Elang Jawa ini dilakukan pada bulan

Maret 2014-April 2014 di Kawasan Resort Salak 1 Taman Nasional Gunung


Halimun-Salak, khususnya pada daerah Sukamantri yaitu pada blok Handeulem,
Lembah Hamerang Sintok dan Surya Kencana.

Gambar 2. Peta lokasi penelitian habitat sarang Elang Jawa

18

19

3.2

Alat dan Bahan Penelitian


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah teropong binokuler,

klinometer Sunto, kamera SLR Nikkon D90, kompas Brunton, GPS Garmin
(Global Positioning System), weather meter Kestrel 3000, lux meter, soil tester,
buku panduan lapangan, peta topografi kawasan Taman Nasional Gunung
Halimun Salak khususnya Resort Salak 1, alat tulis, tabel pengamatan, meteran,
tali raffia dan Autocad 2007. Bahan yang digunakan yaitu plastik sampel dan
label.
3.3.

Jenis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei dengan

mengumpulkan beberapa jenis data yang ada di lapangan. Jenis data yang diambil
meliputi data faktor fisik

lingkungan, data habitat dan pohon sarang serta

deskripsi sarang. Faktor fisik yang diambil berupa data suhu udara dan
kelembaban udara, kecepatan angin, intensitas cahaya, kemiringan lahan, dan
ketinggian tempat. Data habitat yang diambil mencakup vegetasi pohon dan jarak
sumber air dari pohon sarang. Data pohon sarang yang diambil berupa jenis pohon
yang digunakan untuk bersarang, tinggi pohon dan keliling pohon, sedangkan
deskripsi sarang yang diambil mencakup tinggi sarang, posisi sarang pada pohon,
bentuk dan ukuran sarang, serta komposisi material sarang.
3.4

Survei Pendahuluan
Survei pendahuluan dilakukan untuk mengetahui lokasi sarang Elang Jawa

yang berada di kawasan Resort Salak 1 Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Informasi lokasi sarang diperoleh dengan bertanya kepada petugas Taman


Nasional Gunung Halimun-Salak dan petugas Suaka Elang, serta masyarakat yang
berada di Resort Salak 1. Setelah diperoleh informasi mengenai keberadaan
sarang Elang jawa maka dilakukan survei lokasi sarang tersebut. Setiap lokasi
disurvei selama 1-2 hari.
3.5

Metode Pengumpulan Data

3.5.1

Pengukuran faktor fisik lingkungan


Data faktor fisik lingkungan yang diambil berupa data suhu udara,

kelembaban udara, kecepatan angin, intensitas cahaya, kemiringan lahan dan


ketinggian lokasi penelitian. Data suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan
angin diperoleh menggunakan weather meter Kestrel 3000. Penggunaan weather
meter dengan menekan tombol on yang tersedia dan ditekan tombol navigasi
untuk memilih jenis data yang akan digunakan, kemudian dibaca dan dicatat nilai
hasil pengukuran yang tertera pada layar Krestel 3000 tersebut. Pengambilan data
intensitas cahaya mengunakan Lux meter yaitu dengan menekan tombol on,
setelah itu lux meter tersebut dikalibrasi hingga tertera angka 0 (nol) pada layar,
kemudian dipilih range pengukuran pada tombol range switch. Diarahkan
sensor lux meter ke area terbuka dan dicatat nilai yang tertera pada layar lux meter
tersebut.
Data kemiringan lahan diambil menggunakan kompas Brunton, sedangkan
untuk ketinggian lokasi sampling menggunakan GPS (Global Positioning
System). Pengambilan data fisik lingkungan dilakukan pada siang hari sebanyak 1
kali selama 5 menit di sekitar pohon sarang pada saat sampling analisis vegetasi,

kecuali pengambilan data suhu, pH, kelembaban tanah dan intesistas cahaya
dilakukan 3 kali pengukuran kemudian hasil dirata-ratakan.
3.5.2 Analisis vegetasi
Lokasi sampling analisis vegetasi dan penentuan titik awal transek
ditentukan menggunakan purposive sampling dengan melihat adanya pohon
sarang Elang Jawa di lokasi tersebut.

Metode yang digunakan untuk analisis

vegatasi yaitu metode Point Centered Quarter Method. Pelaksanaan metode ini
sebagai berikut : garis transek dibuat sepanjang 60 m di sekitar pohon sarang.
Transek dibuat pada masing-masing lokasi sarang kemudian ditentukan 6 titik
sampling dengan interval jarak 10 m pada garis transek tersebut. Dibuat garis
tegak lurus dengan garis transek, sehingga tiap titik menghasilkan 4 quarter. Tiap
quarter dicari satu jenis pohon atau anakan pohon yang terdekat. Data yang
dicatat meliputi : jarak, nama, dan keliling pohon dari permukaan tanah setinggi
1,5 m. Berdasarkan data tersebut dihitung nilai densitas, frekuensi, dominansi dan
nilai penting tiap-tiap jenis pohon (Mitchell, 2007).
Vegetasi pohon
IV

II

Pohon sarang

III

10 m

60 m

Gambar 3. Desain metode point center quarter method


Jenis pohon yang tidak diketahui namanya, diambil batang dan daunnya
serta buahnya untuk diidentifikasi. Identifikasi sampel pohon yang belum

diketahui jenisnya dilakukan dengan mencari informasi nama lokal pohon tersebut
pada warga sekitar dan disesuaikan dengan literatur.
3.5.3

Diagram profil vegetasi


Diagram profil vegetasi dibuat untuk mengetahui stratifikasi pohon yang

berada disekitar habitat sarang Elang Jawa. Cara kerja pembuatan diagram profil
yaitu dibuat transek berukuran 60 x 10 meter sejajar dengan garis hutan. Transek
yang digunakan sama dengan transek pada analisis vegetasi. Lebar jalur (10 m)
sebagai sumbu Y dan panjang transek (60 m) sebagai sumbu X.

10 m (Y)

60 m (X)

Gambar 4. Plot pengambilan data diagram profil vegetasi


Setiap pohon (tumbuhan berdiameter > 20 cm) dan anakan pohon
(tumbuhan berdiameter 10 20 cm) yang berada pada transek tersebut dicatat
nama jenis pohon dan diukur masing-masing jarak posisi pohon terhadap titik
kordinat X dan Y. Diukur keliling pohon setinggi dada, tinggi total pohon dan
tinggi bebas cabang serta digambar bentuk percabangan batang dan bentuk
tajuknya. Selanjutnya diukur proyeksi (penutupan) tajuk terhadap permukaan
tanah dari sisi kiri, kanan, depan dan belakang pohon dan digambarkan bentuk
profil vertikal menggunakan software Autocad 2007.

3.5.4

Sarang Elang Jawa


Sarang Elang Jawa diperoleh datanya dengan dideskripsikan bentuk,

ukuran, tinggi sarang, posisi sarang pada pohon serta komposisi sarang. Deskripsi
bentuk, komposisi, posisi sarang dilakukan dengan mengamati sarang Elang Jawa
tersebut menggunakan monokuler dan didokumentasikan menggunakan kamera.
Data mengenai tinggi diperoleh menggunakan klinometer, kemudian diestimasi
panjang dan lebar sarang . Data yang didapat disesuaikan dengan studi pustaka
beberapa penelitian mengenai sarang Elang Jawa. Data mengenai pohon sarang
seperti tinggi pohon sarang dan tinggi sarang diperoleh menggunakan klinometer
Sunto. Keliling pohon diukur menggunakan meteran.
Pengukuran tinggi pohon dan tinggi sarang menggunakan klinometer
Sunto dengan membidik ke ujung batang (B) atau bebas cabang dan dibaca skala
sudut (derajat) atau % sudut (sudut dalam persen). Kemudian diarahkan bidikan
ke pangkal batang (A) dan dibaca besaran sudut (derajat) atau % sudut. Sebelum
membidik ditentukan jarak pembidik dengan objek yang akan dibidik (Jd). Dicatat
setiap skala yang didapat pada bidikan di bagian pangkal dan pada bagian ujung
pohon. Data yang diperoleh dihitung sebagai berikut :
- jika menggunakan skala ukur derajat (derajat-sudut)
T = (tg tg ) x Jd
- jika menggunakan skala ukur persen (% sudut)
T = [(%MB - %MA)/100]x Jd
Keterangan :
T

= Tinggi pohon
= Besaran sudut pada ujung batang/bebas cabang


MA
MB
Jd

= Besaran sudut pada pangkal batang


= Nilai % sudut pada pangkal batang
= Nilai % sudut pada ujung batang/bebas cabang
= Jarak pembidik dengan objek yang akan dibidik

3.6 Analisis Data


Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam
bentuk tabel serta diagram dengan menggunakan Microsof Excel 2007, sedangkan
data analisis vegetasi sebagai berikut (Mitchell, 2007) :
a.Jarak rata-rata individu pohon ke titik pengukuran (D)

Keterangan :
D = jarak rata-rata individu ke titik pengukuran
d = jarak individu pohon ketitik pengukuran disetiap kuadran
n = banyaknya pohon
b. Kerapatan mutlak

c. Kerapatan mutlak pada setiap spesies (K)

d. Kerapatan Relatif (KR)

e. Frekuensi (F)

f. Frekuensi Relatif (FR) :

g. Dominansi (D)

h. Dominansi Relatif (DR)

i. Indeks Nilai Penting (INP)

: KR + FR + DR

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Faktor Fisik Lingkungan


Penelitian habitat sarang Elang Jawa dilakukan di Kawasan Resort Salak 1

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Sarang aktif maupun tidak aktif Elang
Jawa di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak terdapat di tiga blok
yaitu Handeulem dekat kali Cisaat, Lembah Hamerang Sintok dan di Surya
Kencana, Sukamantri. Sarang aktif merupakan sarang yang masih digunakan
setiap tahun ataupun 2 tahun sekali oleh Elang Jawa untuk tempat bertelur,
mengerami telurnya dan mengajarkan anaknya hingga mampu terbang. Sarang
tidak aktif merupakan sarang yang sudah ditinggalkan dan tidak digunakan oleh
Elang Jawa (Deden, 2014). Hasil pengukuran faktor fisik lingkungan tertera pada
tabel 1.
Tabel 1. Faktor fisik lingkungan di sekitar habitat sarang Elang Jawa
Faktor Fisik
Lingkungan
Suhu Udara (C)
Kelembaban Udara (%)
Kecepatan Angin (m/s)
Ketinggian (m dpl)
Kemiringan Lereng (%)

Handeulem
25,6 0,1
74,0 0,1
0,3 0,1
767
54

Lokasi
Lembah Hamerang,
Sintok
23,8 0,1
71,0 0,1
0,3 0,1
1014
65

Surya Kencana
23,5 0,1
75,0 0,1
0,5 0,1
1026
70

Faktor fisik lingkungan merupakan faktor yang secara langsung maupun


tidak langsung mempengaruhi keberadaan Elang Jawa karena Elang Jawa

26

27

merupakan hewan yang apabila lingkungannya tercemar ataupun mengalami


kerusakan maka ia akan tersingkir dan terhambat perkembangbiakannya (Widodo,
2004). Berdasarkan hasil pengamatan di tiga lokasi habitat sarang Elang Jawa
memiliki suhu udara berkisar 2325 C dengan kelembaban udara 7175 %
(Tabel 1). Hasil pengukuran faktor fisik ini sesuai dengan kategori TNHGS yang
merupakan hutan hujan tropis yang memiliki suhu udara rata-rata bulanan 31,5 C
dengan suhu terendah 19,7 C dan suhu tertinggi 31,8 C dengan kelembaban
udara rata-rata 88 % (Hartono dkk., 2007). Menurut Sozer dkk, (2012) habitat
Elang Jawa menempati hutan hujan tropis sehingga dari hasil pengukurun suhu
2325 C dengan kelembaban udara 7175 % tersebut merupakan suhu yang
sesuai untuk habitat Elang Jawa.
Kecepatan angin di sekitar habitat sarang Elang Jawa yaitu hanya berkisar
dari 0,30,5 m/s. Kecepatan angin di habitat sarang Elang Jawa berada pada
kisaran tersebut dikarenakan letak habitat sarang Elang Jawa ini berada di lereng
yang tertutupi oleh bukit-bukit di sekitarnya, sehingga hembusan angin tidak
banyak pada lokasi tersebut. Kecepatan angin ini juga diduga berperan terhadap
anak Elang Jawa saat belajar terbang. Anak Elang Jawa saat belajar terbang
mengandalkan angin di sekitar sarang untuk mengangkat tubuhnya dan belajar
mengepakkan sayapnya, sehingga apabila kecepatan angin yang kencang akan
mempersulit anak Elang Jawa saat belajar terbang (Widodo, 2004).
Habitat sarang Elang Jawa di kawasan Resort Salak 1 berada pada lereng
yang curam yaitu dengan kemiringan lahan 54 hingga 70. Hal ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya oleh Afianto (1999) di Gunung Salak, bahwa lokasi sarang

Elang Jawa memiliki topografi dengan tingkat kesulitan yang tinggi bagi para
pengamat burung dengan memiliki kemiringan lahan mencapai 86. Kemiringan
lahan tersebut sesuai dengan karakter dari Taman Nasional Gunung HalimunSalak yang bentang alamnya secara umum memiliki topografi berbukit-bukit dan
bergunung-gunung dengan kemiringan lahannya terbanyak (75,7 %) lebih dari 45
(TNGHS, 2012). Elang Jawa memilih tempat bersarang pada lereng gunung yang
curam untuk menjaga keamanan telur dan anaknya dari mangsa hewan lain dan
pemburuan liar.
4.2

Habitat Sarang Elang Jawa

4.2.1 Struktur vegetasi pohon pada habitat sarang Elang Jawa


Vegetasi pohon di sekitar habitat sarang Elang Jawa diperoleh dengan
melakukan analisis vegetasi di sekitar pohon sarang Elang Jawa. Analisis vegetasi
dilakukan menggunakan metode point center quarter method. Analisis vegetasi
ini dilakukan pada masing-masing lokasi yang terdapat pohon sarang Elang Jawa
yaitu pada blok Handeulem, Lembah Hamerang Sintok dan Surya Kencana,
Sukamantri. Analisis vegetasi ini dilakukan untuk melihat Indeks Nilai Penting
suatu jenis vegetasi. Indeks nilai penting (INP) merupakan indeks kepentingan
yang

menggambarkan

pentingnya

peranan

suatu

jenis

vegetasi

dalam

ekosistemnya. Apabila INP suatu jenis vegetasi bernilai tinggi yaitu mendekati
300 %, maka jenis tersebut sangat mendominasi di ekosistem tersebut. Nilai INP
tertinggi pada masing-masing lokasi yaitu pada Handeulem terdapat pada pohon
Huru (Phobea grandis) dengan nilai INP sebesar 100,45 %, pada lokasi Lembah
Hamerang, Sintok nilai INP tertinggi pada Suren Gunung (Toona sureni) sebesar

62,38 % dan pada lokasi Surya Kencana INP tertinggi pada Renghas (Gluta

INP ( % )

renghas) sebesar 41,95 % ( Lampiran 1).


150

100,45
60,53

100
50

83,95

8,74

11,5

16,84

18

Jenis Pohon

Gambar 5. Grafik Indeks Nilai Penting (INP) di Handeulem


Selain itu analisis vegetasi juga dilakukan untuk melihat jenis-jenis pohon
yang berada disekitar pohon sarang yang mungkin dapat digunakan oleh Elang
Jawa sebagai pohon sarangnya. Analisis vegetasi di blok Handeulem didapati 7
jenis pohon diantaranya yaitu Huru (P. grandis), Nangsi (V. rubescens), Pulus (D.
stimulans), Seuseurehan (P. anduncum L.), Karemi, Undi Gunung dan pohon
Rame (Gambar 5). Blok Handeulem ini merupakan hutan tanaman yang
dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai lahan tanam sayuran lalap-lalapan atau
pohpohan, sehingga tidak banyak terdapat jenis vegetasi pohonnya pada blok
Handeulem ini. Dari tujuh jenis pohon yang terdapat di Handeulem, P. grandis
memiliki INP tertinggi yaitu 100,45% hal ini dikarenakan P. grandis memiliki
nilai dominansi relatif yang tinggi dibandingkan dengan jenis pohon yang lainnya
(Lampiran 2).

INP ( % )

70

62,38

60 50,99
50
40
30
20

23,75

28,18

19,72
10,42

9,26

21,45
8,86

10

18,11
9,36

10,428,57 9,26
9,26

Jenis Pohon

Gambar 6. Grafik Indeks Nilai Penting di Lembah Hamerang Sintok


Vegetasi pohon di blok Lembah Hamerang Sintok terdapat 14 jenis pohon
diantaranya yaitu Pasang (Querqus sp.), Suangkung, Calik Angin (M.
paniculatus), Hamerang (F. alba), Benying Cai, Nangsi (V. rubescens), Karemi,
Ki Huut (T. laxiflora), Suren Gunung (T. sureni), Ki Bancet (T. montana), Hantap
(S. oblongata), Mara (M. tanarius), Benying (F. fistulosa), Seuseurehan (P.
anduncum) dan Kurai (Lampiran 1). Indeks nilai penting (INP) tertinggi terdapat
pada pohon Suren Gunung (T. sureni) yaitu 62,38 % dan terendah pada pohon
karemi dengan nilai 8,86 % (Gambar 6).
Blok Lembah Hamerang, Sintok ini merupakan hutan alam yaitu hutan
hujan tropis yang berada pada zona pengunungan bawah (submontana) di
ketinggian 1014 m dpl. Banyaknya jenis vegetasi pohon pada lokasi Lembah

Hamerang dibandingkan dengan Handeulem dikarenakan pada lokasi ini masih


dalam kawasan hutan alam dengan kemiringan lahan yang curam, jauh dari
aktifitas serta gangguan manusia seperti penebangan pohon dan pengalihan fungsi
lahan.

INP ( % )

60
40

37,41
22,83

25,24

31,65

36,85

41,95
32,32

25,41 25,48

20,87

20
0

Jenis Pohon

Gambar 7. Grafik Indeks Nilai Penting di Surya Kencana, Sukamantri


Jenis pohon yang terdapat di blok Surya Kencana, Sukamantri terdiri dari
Ganitri (E. ganitrus), Hamerang (F. alba), Huru (P. grandis), Kemenyang (S.
benzoin styraceae), Kokosan Monyet (D. aliaceum), Manii (M. eminii), Nangsi
(V. rubescens), Pulus (D. stimulans), Renghas (G. renghas) dan Salingkup
(Lampiran 1). INP tertinggi terdapat pada pohon Renghas (G. renghas) yaitu
41,95% dan terendah pada pohon Salingkup dengan INP sebesar 20,87% (Gambar
7).

Hasil analisis vegetasi ini dapat diketahui bahwa jenis pohon yang memiliki
nilai INP tertinggi di masing-masing lokasi merupakan jenis pohon yang
dimanfaatkan oleh Elang Jawa sebagai tempat bersarang pada musim breeding.
Pohonpohon yang digunakan oleh Elang Jawa diantaranya P. grandis, T. sureni
dan G. renghas (Tabel 2). Ketiga pohon tersebut pada masing-masing lokasi
memiliki nilai INP tertinggi yaitu masing masing P. grandis 100,45 %, T. sureni
62,35 % dan G. renghas 41,95 % (Gambar 5, 6 dan 7). Elang Jawa memanfaatkan
jenis pohon yang memiliki nilai INP tertinggi karena pohon tersebut merupakan
pohon yang memiliki dominansi relatif tertinggi dibandingkan jenis pohon lain
disekitarnya (Lampiran 2). Pemilihan pohon dengan dominansi relatif tertinggi
maka dapat diketahui bahwa Elang Jawa memilih jenis pohon yang memiliki luas
basal area yang lebih besar dibandingkan jenis pohon lain sekitarnya. Hal ini
sesuai dengan Afianto (1999) yang menyatakan karakteristik pohon sarang Elang
Jawa merupakan pohon terbesar dan tertinggi, pohon tersebut mencuat melebihi
tajuk pohon sekelilingnya (emergent tree).
4.2.2 Pohon sarang Elang Jawa
Pohon sarang adalah pohon yang digunakan oleh Elang Jawa pada saat
musim kawin dan mengerami (breeding). Elang Jawa memiliki karakteristik
tersendiri dalam memilih pohon yang akan dijadikan pohon sarangnya, karena
pohon sarang merupakan tempat penting bagi perkembangan telur dan anaknya
hingga tumbuh dewasa. Data mengenai pohon yang digunakan oleh Elang Jawa di
kawasan Resort Salak 1 tertera di Tabel 2. Pada setiap lokasi di Resort Salak 1,
Elang Jawa menggunakan jenis pohon yang berbeda sebagai pohon sarangnya.

Dapat diketahui bahwa Elang Jawa memilih pohon sarang berdasarkan unsur
pilihan seperti letak dan situasi pohon, sehingga setiap pohon sarang yang
digunakan tidak sama pada setiap wilayah yang berbeda.
Tabel 2. Data pohon sarang Elang Jawa
Parameter
Pohon Sarang
Tinggi Pohon
Keliling Pohon
Titik Koordinat
Ketinggian
Kemiringan Lahan
Lokasi

35 m

Lokasi
Lembah Hamerang
Suren Gunung (T.
sureni)
40 m

Surya Kencana
Renghas (G.
renghas)
43 m

270 cm
S 0618'30.0"
E 10645'13.1"
767 m dpl
54
Hutan tanaman

197 cm
S 0640'35.8"
E 10645'17.4"
1014 m dpl
65
Hutan alam

198 cm
S 0640'57.2"
E 10645'06.8"
1026 m dpl
70
Hutan alam

Handeulem
Huru (P. grandis)

Menurut Afianto (1999) karakteristik pohon sarang Elang Jawa merupakan


pohon terbesar dan tertinggi, pohon tersebut mencuat melebihi tajuk pohon
sekelilingnya (emergent tree) dengan arsitekstur tajuk pohon relatif terbuka
dengan cabang yang mendatar serta pandangan dari sarang terbuka kearah
lembah. Berdasarkan hasil penelitian di Resort Salak 1 dilihat dari diagram profil
vertikal vegetasi pohon di sekitar habitat sarang, karakteristik pohon sarang yang
dipilih merupakan pohon tertinggi dan mencuat dibandingkan dengan pohon di
sekitarnya (emergent tree) (Gambar 8, 9 dan 10). Hal ini diperkuat dengan hasil
perhitungan INP yang tertera pada gambar 5, 6 dan 7, hasil perhitungan Indeks
Nilai Penting (INP) vegetasi tingkat pohon di habitat sekitar sarang Elang Jawa
pada tiga blok yaitu Handeulem, Lembah Hamerang Sintok dan Surya Kencana,
Sukamantri menunjukkan bahwa jenis pohon sarang yaitu pohon Huru (P.

grandis), Suren Gunung (T. sureni) dan Renghas (G. renghas) merupakan jenis
yang dominan dengan nilai INP tertinggi.
Pohon sarang di tiga blok yaitu Handeulem, Lembah Hamerang Sintok dan
Surya Kencana, Sukamantri menempati pohon yang tingginya >30 m dengan
tajuk pohon yang relatif terbuka (gambar 11). Elang Jawa memilih pohon dengan
karakteristik pohon yang tinggi dibandingkan dengan pohon sekitarnya dan
memiliki tajuk yang terbuka untuk mempermudahkan Elang Jawa dalam
beraktifitas seperti melakukan gliding, berburu, membawa ranting dan pakan pada
musim breeding serta memudahkan induk Elang Jawa dalam menjaga dan
mengajarkan anaknya untuk terbang.
Elang Jawa di kawasan Resort Salak 1 pada blok Lembah Hamerang dan
Surya Kencana menempati hutan alam sedangkan pada blok Handeulem
menempati hutan tanaman yang letaknya tidak jauh dari hutan alam. Pohon sarang
Elang Jawa masing-masing berada pada ketinggian 767 m dpl, 1014 m dpl dan
1026 m dpl. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh
Prawiradilaga (2003) yang menyatakan bahwa Elang Jawa menghuni hutan hujan
tropis dan lebih senang tinggal atau bersarang pada daerah dengan ketinggian 200
hingga 2000 m dpl. Elang Jawa sangat bergantung pada hutan alam, selain itu
tercatat menggunakan hutan tanaman yang berdekatan dengan hutan alam. Hal ini
dikarenakan pada hutan alam tersedianya jenis-jenis pakan Elang Jawa seperti
bajing, tupai pohon, kelalawar buah, jenis reptilian hingga anak monyet
(Prawiradilaga, 2003).

35

Keterangan :
1. Rame
2. Huru (Phobea grandis)
3. Karemi
4. Nangsi (Villebrunea rubescens)

5.
6.
7.
8.

Pulus (Dendrochnidae stimulant)


Pulus (Dendrochnidae stimulant)
Seuseurehan (Piper anduncum)
Pulus (Dendrochnidae stimulans)

9. Undi Gunung
10. Nangsi (Villebrunea rubescens)

Gambar 8. Diagram Profil Vertikal Vegetasi Pohon Di Sekitar Habitat Sarang Elang Jawa Pada Blok Handeulem

Keterangan :
1. Karemi
2. Pasang (Querqus sp.)
3. Benying Cai
4. Nangsi (Villebrunea rubescens)

5.
6.
7.
8.

Suren Gunung
Seuseurehan (Piper anduncum)
Ki Bancet (Turpinia montana)
Hamerang (Ficus alba)

9.
10.
11.
12.

Mara (Macaranga tanarius)


Benying (Ficus fistulosa)
Seuseurehan (Piper anduncum)
Nangsi (Villebrunea rubescens)

Gambar 9. Diagram Profil Vertikal Vegetasi Pohon Di Sekitar Habitat Sarang Elang Jawa Pada Blok Lembah Hamerang
Sitok

Keterangan :
1. Suren Gunung
2. Hamerang (Ficus alba)
3. Pulus (Dendrochnidae stimulans)
4. Kokosan Monyet (Dysoxylum aliaceum)
5. Pulus (Dendrochnidae stimulans)

6.
7.
8.
9.
10.

Renghas (Gluta renghas)


Ganitri (Elaeocarpus ganitrus)
Manii (Maesopsis eminii)
Huru (Phobea grandis)
Salingkup

11. Huru (Phobea grandis)


12. Manii (Maesopsis eminii)

Gambar 10. Diagram Profil Vertikal Vegetasi Pohon Di Sekitar Habitat Sarang Elang Jawa Pada Blok Surya Kencana

38

Gambar 11.Pohon sarang di Handeulem (a) dan di Surya Kencana (b)


Menurut Prawiradilaga (2003) Elang Jawa menggunakan pohon Rasamala,
Pasang, Cemara, Puspa dan Ki Sireum sebagai pohon sarangnya, sedangkan
berdasarkan penelitian Prasetyo (2002) di Cibulao TNGGP Elang Jawa
menggunakan pohon Pasang sebagai pohon sarangnya. Elang Jawa di kawasan
Resort Salak 1 TNGHS memilih pohon sarang yang berbeda dengan hasil
penelitian Prawiradilaga dan Prasetyo yaitu dengan menggunakan pohon Huru (P.
grandis), Suren Gunung (T. sureni) dan Renghas (G. renghas). Hal ini
dikarenakan pohon-pohon tersebut memiliki karakteristik yang sesuai dengan
syarat sebagai habitat sarang Elang Jawa. Menurut Widodo (2004) karakteristik
habitat Elang Jawa yaitu pohon sarang memiliki arsitektur tajuk yang terbuka
menghadap lembah, pohon tertinggi di wilayah tersebut dan berada di daerah
berbukit.

Hasil penelitian arsitektur pohon yang digunakan oleh Elang Jawa pada
pohon Huru (P. grandis) dan Suren Gunung (T. sureni) yaitu menggunakan model
rauh, sedangkan pohon Renghas (G. renghas) dengan arsitektur pohon model
scarrote. Kedua model arsitektur pohon tersebut merupakan pohon yang memiliki
batang pokok yang tidak terbagi dengan percabangan yang ritmik. Cabang batang
mendatar sehingga memudahkan Elang Jawa dalam meletakkan sarangnya
(Lampiran 4).
Bila dilihat dari diagram profil vertikal vegetasi di sekitar pohon sarang,
pada blok Handeulem tidak terlihat pohon jenis lain yang berpotensi sebagai
pohon sarang. Hal ini dikarenakan pada blok tersebut hanya pohon Huru (P.
grandis) yang memiliki tingginya mencuat dibandingkan dengan jenis pohon
lainnya (Gambar 8). Begitu pula pada blok Lembah Hamerang, pohon tertinggi
hanya terdapat pada pohon Suren Gunung (T. sureni) (Gambar 9). Pohon tertinggi
di blok Surya kencana tidak hanya terdapat pada Suren Gunung, tetapi terdapat
pula pohon Hamerang dan Ganitri (Gambar 10). Pohon tersebut diduga mampu
berpotensi sebagai pohon sarang Elang Jawa.
4.2.3 Sarang Elang Jawa
Elang Jawa menggunakan sarangnya pada saat musim berbiak (breeding)
sebagai tempat bertelur, mengerami telurnya, membesarkan anaknya dan
mengajarkan anaknya hingga mampu terbang sendiri. Sarang dibangun pada
pohon sarang, biasanya sarang berbentuk seperti mangkuk dan dibuat pada dahan
dengan ketinggian 30 m dari permukaan tanah (Prawiladilaga, 1999). Hasil

penelitian di dapati 2 sarang Elang Jawa. Satu sarang Elang Jawa aktif di blok
Lembah Hamerang Sintok dan satu sarang tidak aktif di blok Surya Kencana
Sukamantri, sedangkan pada blok Handeulem hanya ditemukan bekas pohon
sarang Elang Jawa yang aktif digunakan pada tahun 1995 hingga 2005.
Berdasarkan informasi dari Deden pemandu TNGHS, ketidakaktifan atau tidak
digunakannya lagi sarang Elang Jawa pada blok Handeulem dikarenakan pada
tahun 2005 sarang Elang Jawa ini dipanjat dan dicuri anakan Elang Jawa oleh
pemburu burung (Wawancara pribadi, 2014). Terganggunya habitat sarang Elang
Jawa dengan adanya peburuan Elang Jawa menyebabkan Elang Jawa
meninggalkan sarangnya dan bepindah tempat bersarang.
Tabel 3. Data sarang Elang Jawa di kawasan Resort Salak 1
Parameter
Bentuk
Posisi Sarang
Pada Pohon
Posisi bdsr
Arah Mata
Angin
Komposisi
Sarang
Panjang
Sarang
Lebar Sarang
Tinggi Sarang
pada pohon
Pohon Sarang
Jarak dari
sumber air
Status Sarang

Lokasi
Handeulem
Lembah Hamerang
Tidak ada
Bundar
Cabang Ke-4 terdapat
sarang
pada 3 Cabang
Menghadap Timur

Surya Kencana
Bundar
Cabang ke-3 terdapat
pada 2 cabang
Menghadap Timur

Kadaka, ranting rasamala, Kadaka, ranting dan


pasang dan manii,
daun
seuseurehan, kehejoan
100 m
80 cm
80 cm
30 m

80 cm
30 m

Huru
(Phobea
grandis)
13 m

Suren Gunung (Toona


sureni)

Renghas (Gluta
renghas)

10 m

25 m

Tidak ada
sarang

Sarang aktif

Sarang tidak aktif

Sarang Elang Jawa pada blok Lembah Hamerang merupakan sarang yang
masih aktif digunakan oleh Elang Jawa. Lokasi sarang Elang Jawa pada blok
Lembah Hamerang berada pada lereng timur dengan kemiringan 65 dengan
menggunakan pohon Suren Gunung (T. sureni) sebagai pohon sarangnya (Tabel
2). Tinggi sarang pada pohon yaitu 30 m dari tanah dengan lebar sarang 30 cm
dan panjang sarang 1 m. Sarang Elang Jawa berbentuk bundar dengan komposisi
sarang yaitu tumbuhan epifit kadaka, seusurehan, kahejoan dan ranting-ranting
pohon puspa, rasamala dan ranting manii (Gambar 12 b ). Posisi sarang pada
pohon terdapat pada strata A di percabangan ke-4 dengan ditopang oleh 3 cabang.
Sarang Elang Jawa yang tidak aktif pada blok Surya Kencana Sukamantri
memiliki karakteristik sarang yang sama dengan sarang Elang Jawa yang aktif di
blok Lembah Hamerang Sintok, hanya saja sarang ini menggunakan pohon
Renghas (G. renghas) sebagai pohon sarangnya dan letak sarang pada pohon
terdapat pada cabang ke-3 dengan ditopang oleh 2 cabang (Tabel 3). Pemilihan
penempatan sarang Elang Jawa pada percabangan pohon tersebut diduga
berdasarkan kekuatan dan kekokohan batang pada percabangan tersebut untuk
menopang tubuh Elang Jawa yang besar. Berdasarkan hasil penelitian cabang
yang digunakan oleh Elang Jawa memiliki diameter sekitar 1015 cm. Selain itu
posisi cabang yang terbuka mengarah ke lembah juga diduga sebagai alasan Elang
Jawa dalam memilihan pecabangan pohon yang digunakan untuk meletakkan
sarangnya.

Gambar 12.Sarang Elang Jawa di Surya Kencana (a) dan di Lembah Hamerang
Sintok (b).
Kedua sarang Elang Jawa di kawasan Resort Salak 1 menempati lereng
yang menghadap ke Timur dan posisi sarang menghadap kelembah yang terbuka,
hal ini diduga Elang Jawa menempatkan sarangnya pada posisi tersebut agar
sarang Elang Jawa terkena langsung matahari pagi yang dapat menghangatkan
sarangnya pada masa pengeraman. Selain itu posisi sarang yang seperti itu
memudahkan Elang Jawa mengamati lokasi sekelilingnya dan dapat dengan
langsung memanfaatkan panas matahari dan area terbuka untuk meluncur dari
sarang maupun menuju sarang. Kondisi habitat sarang Elang Jawa yang
menempati lereng dengan arah lembah yang terbuka ini dimaksudkan juga untuk
meminimalkan energi yang dikeluarkan oleh Elang Jawa saat beraktifitas.
Aktifitas terbang Elang Jawa yang sering dilakukan yaitu gerakan gliding
dan gerakan soaring. Hal ini karena Elang Jawa dalam melakukan aktifitas
terbangnya tidak hanya mengandalkan kekuatan sayapnya saja, tetapi Elang Jawa
memerlukan energi thermal, angin dan udara yang bergerak keatas untuk dapat
melambung tinggi serta meluncur tanpa menggunakan energi yang besar
(Widodo, 2004). Dengan area lembah yang terbuka mempermudahkan aktifitas

Elang Jawa dalam memanfaatkan energi thermal matahari untuk meluncur dan
terbang, karena ukuran tubuh Elang Jawa yang besar maka dengan mengepakkan
sayapnya akan membutuhkan energi yang besar sedangkan dengan adanya energi
thermal yang ia dapat akan mengefisiensi energi yang dikeluarkan. Selain itu
Elang Jawa menempati lereng yang mengarah ke lembah untuk mempermudahkan
aktifitas berburu dan mencari pakannya. Menurut Afianto (1999), Elang Jawa
melakukan aktifitas berburu dan mencari pakan di daerah yang letaknya berada di
bagian lembah dan dekat dengan aliran sungai. Elang Jawa tidak memilih pohon
khusus untuk melakukan aktifitas bertengger saat akan berburu.
Salah satu karakteristik dari habitat sarang Elang Jawa ini sarang Elang Jawa
dekat dengan aliran sungai. Pohon sarang Elang Jawa di blok Handeulem berada
di dekat aliran sungai Cisaat, jarak pohon sarang dengan aliran sungai Cisaat ini
13 m. Sarang Elang Jawa pada blok Lembah Hamerang dan Surya Kencana pun
lokasinya tidak jauh dari aliran sungai. Sarang Elang Jawa pada blok Lembah
Hamerang Sintok berada di dekat aliran sungai Cinangading Sukamantri, lokasi
sarang dengan aliran sungai hanya berjarak 10 m, begitu pula pada blok Surya
kencana. Lokasi sarang Elang Jawa pada blok Surya Kencana hanya berjarak 25
m dari air terjun Surya Kencana, Sukamantri (Tabel 3). Habitat sarang Elang Jawa
berada di dekat aliran sungai dikarenakan air merupakan salah satu faktor
pendukung kelangsungan hidup Elang Jawa dalam hal pendinginan pada proses
evaporasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Alikodra (2002) bahwa satwaliar
memerlukan air untuk pencernaan makanan dan metabolisme, mengangkut bahanbahan sisa dan untuk pendinginan dalam evaporasi. Kawasan TNGHS sendiri

memiliki nilai penting sebagai daerah tangkapan air dengan sungai-sungai yang
selalu berair disepanjang musim (TNGHS, 2012). Aliran sungai di sekitar habitat
sarang Elang Jawa selain sebagai pendinginan pada proses evaporasi tetapi juga
sebagai tempat mencari pakan Elang Jawa. Menurut Afianto (1999), Elang Jawa
melakukan aktifitas berburu dan mencari pakan di daerah yang letaknya berada di
bagian lembah dan dekat dengan aliran sungai. Jenis pakan yang diburu oleh
Elang Jawa diantaranya yaitu tupai, bajing, anak monyet, tikus dan sejenis
reptilian (Prawiladilaga, 2003).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Elang Jawa di kawasan Resort Salak 1 menempati hutan alam dan hutan
tanaman yang berdekatan dengan hutan alam pada hutan hujan tropis di
ketinggian 767 hingga 1026 m dpl dengan kemiringan lahannya mencapai 70.
Karakteristik habitat sarang Elang Jawa yaitu pohon sarang yang digunakan
merupakan pohon yang tertinggi dengan tajuk yang terbuka (emergent tree)
dibandingkan dengan pohon-pohon di sekitarnya. Pohon sarang yang digunakan
yaitu pohon Huru (P. grandis), Suren Gunung (T. sureni) dan pohon Renghas (G.
renghas). Sarang Elang Jawa berada pada lereng timur menghadap ke area lembah
yang terbuka dan dekat dengan aliran sungai. Karakteristik sarang Elang Jawa
menggunakan tumbuhan epifit seperti Kadaka sebagai tempat bersarangnya dan
komposisi sarang terdiri atas ranting-ranting pohon yang kuat seperti Rasamala,
Pasang dan Manii.
5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai habitat sarang Elang Jawa
dan aspek bioekologi lainnya dari Elang Jawa, guna mendukung data mengenai
keberadaan dan kondisi habitat Elang Jawa di habitat aslinya. Perlu dilakukannya
monitoring sarang-sarang Elang Jawa untuk mengetahui perkembangan populasi
dan keberadaan Elang Jawa di habitat aslinya. Selain itu perlu adanya edukasi
45

46

mengenai raptor endemik seperti keberadaan Elang Jawa dan manfaatnya di alam
sehingga kelak dapat menjaga kelestariannya di alam.

DAFTAR PUSTAKA

Afianto, M.Y. 1999. Studi Beberapa Aspek Ekologi Elang Jawa (Spizaetus
bartelsi Stresemann, 1924) Di Gunung Salak. Skripsi. Bogor. Fakultas
Kehutanan.Institut Pertanian Bogor.
Alikodra, H.S. 2002. Pengelolaan Satwaliar. Bogor. Fakultas Kehutanan IPB.
Deden. Pemandu Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Wawancara pribadi.
Bogor. Maret 2014.
Ehrlich, P.R., S.D. David, dan Wheye Darryl. 1988. Territoriality.
http://www.stanfordalumni.org/biosit/text/essays/Teritoriality.html. Di akses
pada tanggal 30 September 2013.
Ferguson-Less, J. dan D.A. Christie. 2005. Raptor of the World-Princenton Field
Guides. New Jersey. Princenton University Press.
Gamauf, A, J.O. Gjershaug, K. Kvaly, N. Rv dan E. Haring. 2005. Molecular
phylogeny of the hawk-eagles (genus Spizaetus). Zool. Med. Leiden 79-3
(21): 179-180.
Hartono, T., H.Kobayashi, H. Wijaya dan M. Suparmo. 2007. Taman Nasional
Gunung HalimunSalak : Menyikap Kabut Gunung Halimun Salak.
Bogor. JICA.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta. PT Bumi Aksara.
Irwanto. 2007. Analisis Vegetasi Untuk Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung
Pulau Margesu, Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku. Tesis.
Yogyakarta. Program Studi Ilmu Kehutanan. Universitas Gadjah Mada.
IUCN. 2013. IUCN Red List of Threatened Species. Versi 2013.2.
<www.iucnredlist.org>. Diakses pada tanggal 03 Januari 2014.
MacKinnon, J. dan K. Phillips. 1993. A Field Guide to The Birds of Borneo,
Sumatra, Java And Bali. New York. Oxford University Press Inc.
MacKinnon J. 1995. Panduan Lapangan Pengenalan Burung di Jawa dan Bali.
Yogyakarta. Gajah Mada University Press.
Michell, K. 2007. Quantitative Analysis by the Point-Centered Quarter Method.
Geneva. Departmen of Mathematics and Computer Science Hobart and
William Smith Colleges.
47

48

Onrizal. 2013. Morfologi pohon (4JPL). Di dalam : Pelatihan Pengenalan Jenis


Pohon Bagi Petugas dan Kader Konservasi Taman Nasional Gunung Leuser.
2013, Medan, 12-14 Desember 2013. Universitas Sumatera Utara.
Prasetyo, D.K. 2002. Studi Habitat Sekitar Sarang Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
Di Kawasan Cibulao Taman Nasional Gede-Pangrango Jawa Barat. Skripsi.
Semarang. Fakulitas MIPA. Universitas Diponegoro.
Prawiradilaga, D. M. 1999. Elang Jawa : Satwa Langka. Seri Pendidikan
Konservasi Keanekaragaman Hayati. Biodiversity Conservation Project.
Bogor. P3B-LIPI/PKA-DEPHUTBUN/JICA.
Prawiradilaga, D. M., T. Muratte, A. Muzakir, T. Inoue, Kuswandono, A. A.
Supriatma, D. Ekawati, M. Y. Afianto, Hapsoro, T. Ozawa, dan N.
Sakaguchi. 2003. Panduan Survei Lapangan dan Pemantauan Burungburung Pemangsa. Jakarta. PT. Binamitra Mega Warna.
Rombang, W. M. dan Rudyanto. 1999. Daerah Penting bagi Burung di Jawa dan
Bali. Bogor. PKA/Birdlife International-Indonesia Programme.
Rov, N. 1997. Conservation Biology of Javan Hawk-eagle, Progress report
prepared for the Indonesian Institude of Sience (LIPI) and the Ministry of
State for Environment (LH).
Setiadi, A.P., Z. Rakhman, P.F. Nurwatha, M. Muchtar dan W. Raharjaningtrah.
2000. Status, Distribusi, Populasi, Ekologi dan Konservasi Elang Jawa
Spizaetus bartelsi Stresemann 1924 Di Jawa Barat Bagian Selatan. Laporan
akhir. Bandung. BP/FFI/Birdlife International/YPAL-HIMBIO UNPAD.
Sozer R. dan V. Nijman. 1995. Behaviour Ecology, Distribution and Conservation
of Javan Hawk-eagle Spizaetus bartlesi Stresemann, 1924. Netherlands.
Institute of Systematics and Population Biology University of Amsterdam..
Sozer,R., V. Nijman, I. Setiawan. 1999. Panduan Identifikasi Elang Jawa
Spizaetus Bartelsi. Seri Pendidikan Konservasi Keanekaragaman Hayati .
Biodiversity Conservation Project. Bogor. LIPI/PKA-DEPHUTBUN/JICA.
Sozer. R., V. Nijman, I. Setiawan dan Z. Rakhman. 2012. Panduan Inventarisasi
Elang Jawa Nisaetus bartelsi. Bogor. Raptor Indonesia.
Sukmantoro, W., M. Irham, W. Novarino, F. Hasudungan, N. Kemp dan M.
Muchtar .2007. Daftar Burung Indonesia No. 2 . Bogor. Indonesian
Ornithologists Union.
Supriatna, A., E. Gunawan, M. Iskandar, S. Nuraeni, dan U. Suparman. 1998.
Laporan Pengamatan Elang Jawa (Spizaetus bartelsi Stresemann, 1924).
Bogor. KPB CIBA.

Thoilay, J. M.dan B.U. Meyburg. 1989. Forest Fragmentation and The


Conservation of Raptor. Survey on The Island of Java.
TNGHS. 2012. Zonasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kabandungan,
Sukabumi.
Utari, B.D. 2002. Kajian Potensi Pakan Elang Jawa (Spizaetus bartelsi
Stresemann 1924) Di Gunung Salak . Skripsi. Bogor. Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor.
Van Balen, S., 1996. Javan HawkEagle (Spizaetus bertelsi). Bogor.
PHPA/BirdLife Indonesia Programme.
Widodo, T. 2004. Populasi dan Wilayah Jelajah Elang Jawa (Spizaetus bartelsi
Stresemann, 1924) di Gunung Kendeng Resort Cikaniki Taman Nasional
Gunung Halimun. Skirpsi. Bogor. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi pohon di sekitar habitat sarang
Elang Jawa
Lokasi
Handeulem

Lembah Hamerang
Sintok

Surya Kencana

Jenis Vegetasi
Huru
Karemi
Nangsi
Pulus
Rame
Seuseurehan
Undi Gunung
Pasang
Suangkung
Calik Angin
Hamerang
Benying Cai
Nangsi
Karemi
Ki Huut
Suren Gunung
Kibancet
Hantap
Mara
Benying
Seuseurehan
Kurai
Ganitri
Hamerang
Huru
Kemenyang
Kokosan Monyet
Manii
Nangsi
Pulus
Renghas
Salingkup

Nama Ilmiah
Phobea grandis
Villebrunea rubescens
Dendrochnidae stimulans
Piper anduncum (L)
Querqus sp.
Mallotus paniculatus
Ficus alba
Villebrunea rubescens
Tarena laxiflora
Toona sureni
Turpinia Montana
Sterculia oblongata R. Br
Macaranga tanarius (L.)
Ficus fistulosa
Piper anduncum (L.)
Elaeocarpus ganitrus
Ficus alba
Phobea grandis
Styrax benzoin styraceae
Dysoxylum aliaceum
Maesopsis eminii
Villebrunea rubescens
Dendrochnidae stimulans
Gluta renghas

INP (%)
100,45
8,74
60,53
83,95
11,50
16,84
18,00
50,99
19,72
10,42
23,75
9,26
28,18
8,86
21,45
62,38
9,36
18,11
9,26
10,42
8,57
9,26
22,83
37,41
25,24
31,65
36,85
32,32
25,41
25,49
41,95
20,87

Lampiran 2. KR, FR dan DR vegetasi pohon


Lokasi
Handeulem

Lembah
Hamerang

Jenis Vegetasi
Huru
Karemi
Nangsi
Pulus
Rame
Seuseurehan
Undi Gunung
Pasang
Suangkung
Calik Angin
Hamerang
Benying Cai
Nangsi
Karemi
Ki Huut
Suren Gunung
Kibancet
Hantap
Mara

Surya
Kencana

Benying
Seuseurehan
Kurai
Ganitri
Hamerang
Huru
Kemenyang
Kokosan Monyet
Manii
Nangsi
Pulus
Renghas
Salingkup

Nama Ilmiah
Phobea grandis
Villebrunea rubescens
Dendrochnidae
stimulans
Piper anduncum (L)
Querqus sp.
Mallotus paniculatus
Ficus alba
Villebrunea rubescens
Tarena laxiflora
Toona sureni
Turpinia Montana
Sterculia oblongata R.
Br
Macaranga tanarius
(L.)
Ficus fistulosa
Piper anduncum (L.)
Elaeocarpus ganitrus
Ficus alba
Phobea grandis
Styrax benzoin
styraceae
Dysoxylum aliaceum
Maesopsis eminii
Villebrunea rubescens
Dendrochnidae
stimulans
Gluta renghas

KR (%)

FR (%)

4,17
4,17
29,17
41,67

4,17
4,17
29,17
41,67

DR
(%)
92,11
0,41
2,19
0,61

4,17
8,33
8,33
16,67
4,17
4,17
8,33
4,17
12,5
4,17
8,33
8,33
4,17
8,33

4,17
8,33
8,33
16,67
4,17
4,17
8,33
4,17
12,5
4,17
8,33
8,33
4,17
8,33

3,16
0,17
1,34
17,66
11,39
2,09
7,09
0,93
3,18
0,52
4,78
45,71
1,02
1,44

4,17

4,17

0,93

4,17
4,17
4,17
4,17
16,67
8,33
12,5

4,17
4,17
4,17
4,17
16,67
8,33
12,5

2,09
0,23
0,93
14,49
4,07
8,58
6,65

12,5
8,33
12,5
12,5

12,5
8,33
12,5
12,5

11,85
15,65
0,41
0,49

4,17
8,33

4,17
8,33

33,62
4,20

Lampiran 3. Elang Jawa (a), elang hitam (b) dan elang ular bido (c) di Resort
Salak 1 TNGHS

Lampiran 4. Arsitektur pohon Phobea grandis, Toona sureni (a) dan Gluta
renghas (b) (Onrizal, 2013)