You are on page 1of 5

Pancasila sebagai Sumber Nilai dan Paradigma Pembangunan | BLA...

1 of 5

http://adekomaria.wordpress.com/2013/01/17/pancasila-sebagai-sumbe...

BLANDED SPOT!!!*
*Blanded Spot!!! part II => Share my experience,
exercise, homework, all about education, knowledge and
many more :))

Pancasila sebagai Sumber Nilai dan


Paradigma Pembangunan
JANUARY 17, 2013 BY ADEKOMARIA
1. Pancasila berisi Nilai-Nilai Dasar
Pancasila berisi seperangkat nilai yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat. Nilai-nilai itu
berasal dari kelima sila Pancasila yang apabila diringkas terdiri atas:
a. Nilai Ketuhanan
b. Nilai Kemanusiaan
c. Nilai Persatan
d. Niali Kerakyatan, dan
e. Nilai Keadilan
Nilai-nilai Pancasila termasuk dalam tingkatan nilai dasar yang mendasari nilai instrumental dan
sekaligus mendasari semua aktivitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai
dasar bersifat fundamental dan tetap.
Diterimanya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional Indonesia memiliki konsekuensi
logis untuk menjadikan nilai-nilai pancasila sebagai landasan pokok bagi pengaturan
penyelenggaraan bernegara. Hal ini diupayakan dengan menjabarkan nilai pancasila ke dalam UUD
1945 dan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk selanjutnya menjadi pedoman
penyelenggaraan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pancasila dalam jenjang norma hukum berkedudukan sebagai norma dasar atau grundnorm dari
tertib hukum Indonesia. Sebagai norma dasar, pancasila mendasari dan menjadi sumber bagi
pembentukan hukum serta peraturan perundang-undangan di Indonesia. Pancasila menjadi sumber
hukum dasar nasional, yaitu sumber bagi penyusunan peraturan perundang-undangan nasional.
2. Makna setiap nilai dari Pancasila
a. Makna Ketuhanan Yang Esa
1) Pengakuan dan keyakinan bangsa Indonesia terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa
2) Menciptakan sikap taat menjalankan menurut apa yang diperintahkan melalui ajaran-ajarannya

21/10/2014 12:31

Pancasila sebagai Sumber Nilai dan Paradigma Pembangunan | BLA...

2 of 5

http://adekomaria.wordpress.com/2013/01/17/pancasila-sebagai-sumbe...

3) Mengakui dan memberikan kebebasan pada orang lain untuk memeluk agama dan mengamalkan
ajaran agamanya
4) Tidak ada paksaan dan memaksakan agama kepada orang lain
5) Menciptakan pola hidup saling menghargai dan menghormati antar-umat beragama
b. Makna Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
1) Kesadaran sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral dan tuntutan hati nurani
2) Pengakuan dan penghormatan akan hal asasi manusia
3) Mewujudkan kehidupan yang berkeadilan dan berkeadaan
4) Mengembangkan sikap saling mencintai atas dasar kemanusiaan
5) Memunculkan sikap tenggang rasa dan tepo selira dalam hubungan sosial
c. Makna Persatuan Indonesia
1) Mengakui dan menghormati adanya perbedaan dalam masyarakat Indonesia
2) Menjalin kerja sama yang erat dalam wujud kebersamaan dan kegotong-royongan
3) Kebulatan tekad bersama untuk mewujudkan persatuan bangsa
4) Mengutamakan kepentingan bersama di atas pribadi dan golongan
d. Makna Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan
Perwakilan
1) Pengakuan bahwa rakyat Indonesia adalah pemegang kedaulatan
2) Mewujudkan demokrasi dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial
3) Pengambilan keputusan mengutamakan prinsip musyawarah mufakat
4) Menghormati dan menghargai keputusan yang telah dihasilkan bersama
5) Bertanggung jawab melaksanakan keputusan
e. Makna Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
1) Keadilan untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi haknya
2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama
3) Menyeimbangkan antara hak dan kewajiban
4) Saling bekerja sama untuk mendapatkan keadilan
3. Pancasila sebagai sumber nilai
Pancasila sebagai cita-cita bangsa merupakan cita-cita kenegaraan yang harus diwujudkan dalam
kekuasaan yang melembaga atau terstruktur. Pancasila perlu diamalkan dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Pengalaman pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilakukan dengan cara
pengalaman secara objektif dan pengalaman secara subjektif.
a. Pengalaman secara objektif, yaitu melaksanakan peraturan perundang-undangan yang
berlandaskan pada pancasila
b. Pengalaman secara subjektif, yaitu menjalankan nilai-nilai pancasila secara pribadi dalam bersikap
dan bertingkah laku pada kehidupan berbangsa dan bernegara
Kelima nilai dasar pancasila bersifat fundamental tetap dan abstrak. Oleh karena itu, perlu
dijabarkan dalam bentuk nilai instrumental yang lebih bersifat konkret dan operasional. Jabaran dari
nilai dasar pancasila dituangkan dalam UUD 1945 beserta peraturan perundang-undangan yang ada
di bawahnya. Jadi, dengan menaati dan menjalankan ketentuan-ketentuan dalam UUD 1945 atau
peraturan perundangan-undangan di bawahnya merupakan bentuk pengalaman pancasila secara
objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pengalaman secara objektif membutuhkan dukungan kekuasaan negara untuk menerapkannya.
Semoga warga negara atau penyelenggara negara yang berperilaku menyimpang dari peraturan

21/10/2014 12:31

Pancasila sebagai Sumber Nilai dan Paradigma Pembangunan | BLA...

3 of 5

http://adekomaria.wordpress.com/2013/01/17/pancasila-sebagai-sumbe...

perundangan-undangan yang berlaku akan mendapatkan sanksi. Pengalaman secara objektif bersifat
memaksa serta adanya sanksi hukum.
Di samping mengamalkan secara objektif, secara subjektif warga negara dan penyelenggara negara
wajib mengamalkan pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam
rangka pengalaman secara subjektif, pancasila menjadi sumber etika dalam bersikap dan bertingkah
laku bagi setipa warga negara dan penyelenggra negara. Dengan demikian, etika berbangsa dan
bernegara bersumber pada nilai-nilai pancasila. Dalam hubungan dengan hal tersebut, MPR telah
mengeluarkan Ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Dalam
ketetapan tersebut dinyatakan bahwa etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat
merupakan penjabaran nilai-nilai pancasila sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan
bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah
mengakar dalam kehidupan masyarakat.
Etika Kehidupan Berbangsa, Bernegara, dan Bermasyarakat bertujuan untuk:
a. memberikan landasan etik moral bagi seluruh komponen bangsa dalam menjalankan kehidupan
kebangsaan dalam berbagai aspek
b. menentukan pokok-pokok etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, serta
c. menjadi kerangka acuan dalam mengevaluasi pelaksanaan nilai-nilai etika dan moral dalam
kehidupan berbangsa bernegara dan bermasyarakat
Etika kehidupan berbangsa meliputi etika sosial dan budaya, etika pemerintahan dan politik, etika
ekonomi dan bisnis, etika penegakan hukum yang berkeadilan, dan etika keilmuan dan disiplin
kehidupan.
Dengan berpedoman pada etika kehidupan berbangsa, penyelenggara negara dan warga negara
dapat bersikap dan berperilaku secara baik berdasarkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupannya.
Etika kehidupan berbangsa tidak memiliki sanksi hukum, tetapi semacam kode etik yaitu pedoman
etika berbangsa yang memberikan sanksi moral bagi siapa saja yang berperilaku menyimpang dari
norma-norma etik tersebut.
4. Pengertian Paradigma
Istilah paradigma awalnya dipergunakan dan berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan, terutama
dalam lsafat ilmu pengetahuan. Selain terminologis, istilah ini dikembang oleh Thomas S. Khun
dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientic Revolution (1970:49). Paradigma diartikan
sebagai asumsi dasar atau asumsi teoritis yang umum, sehingga paradigma merupakan suatu
sumber nilai, hukum, dan metodologi. Sesuai dengan kedudukannya, paradigma memiliki fungsi
yang strategis dalam membangun kerangka berpikir dan strategi penerapannya, sehingga setiap
ilmu pengetahuan memiliki sifat, ciri, dan karakter yang khas berbeda dengan ilmu pengetahuan
lainnya.
Istilah paradigma semakin lama semakin berkembang dan biasa dipergunakan dalam berbagai
bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan. Misalnya, politik, hukum, ekonomi, budaya, dan bidangbidang ilmu lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari, paradigma berkembang menjadi terminology
yang mengandung pengertian sebagai sumber nilai, kerangka piker, orientasi dasar, sumber asas,
tolal ukur, parameter, serta arah dan tujuan dari suatu perkembangan, perubahan, dan proses dalam
bidang tertentu, termasuk dalam pembangunan, gerakan reformasi maupun dalam proses
pendidikan. Dengan demikian, paradigma menempati posisi dan fungsi yang strategis dalam setiap
proses kegiatan, termasuk kegiatan pembangunan. Perencanaan, proses pelaksanaan, dan hasilhasilnya dapat diukur dengan paradigma tertentu yang diyakini kebenarannya.
5. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan
Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka mencapai masyarakat adil yang bermakmuran
dan makmur yang berkeadilan. Pembangunan nasional merupakan perwujudan nyata dalam
meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia sesuai dengan nilai-nilai dasar yang diyakini

21/10/2014 12:31

Pancasila sebagai Sumber Nilai dan Paradigma Pembangunan | BLA...

4 of 5

http://adekomaria.wordpress.com/2013/01/17/pancasila-sebagai-sumbe...

kebenarannya, dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa tujuan negara adalah Melindungi
segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tujuan pertama merupakan manifestasi dari
negara hukum formal. Adapun tujuan kedua dan ketiga merupakan manifestasi dari pengertian
negara hukum materiil, yang secara keseluruhan sebagai menifestasi tujuan khusus atau nasional.
Sementara itu, tujuan yang terakhir merupakan perwujudan dari kesadaran bahwa negara kita
hidup di tengah-tengah pergaulan masyarakat internasional.
Secara losos, pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional mengandung konsekuensi yang
sangat mendasar. Artinya, setiap pelaksanaan pembangunan nasional harus didasarkan pada
nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila dikembalikan atas dasar ontologism manusia,
baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Oleh karena itu, baik buruknya pelaksanaan
pancasila harus dikembalikan pada kondisi objektif manusia Indonesia.
Apabila nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pancasila sudah dapat diterima oleh manusia
Indonesia (rasional maupun empiris) maka kita harus konsekuen untuk melaksanakannya. Bahkan,
kita harus menjadikan pancasila sebagai pedoman dan tolak ukur dalam setiap aktivitas bangsa
Indonesia. Dengan kata lain, pancasila harus menjadi paradigma perilaku manusia Indonesia,
termasuk dalam melaksanakan pembangunan nasionalnya.
Berkaitan dengan kenyataan di atas dan kondisi objektif bahwa pancasila merupakan dasar negara,
dan negara adalah organisasi (persekutuan hidup) manusia maka tidak berlebihan apabila pancasila
menjadi tolak ukur atau parameter dalam setiap perilaku manusia Indonesia. Oleh karena itu,
pembangunan nasional harus dikembalikan pada hakikat manusia yang monopluralis.
Berdasarkan kodratnya, manusia monopluralis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. terdiri atas jiwa dan raga
b. sebagai makhluk individu dan sosial, serta
c. sebagai pribadi dan makhluk Allah
Dengan demikian, pembangunan nasional harus dilaksanakan atas dasar hakikat monopluralis.
Pendek kata, baik buruknya dan berhasilnya tidaknya pembangunan nasional harus diukur dari
nilai-nilai pancasila sebagai kristalisasi hakikat manusia monopluralis.
Sebagai konsekuensi dari pemikiran di atas, pembangunan nasional sebagai upaya meningkatkan
harkat dan martabat manusia harus meliputi aspek jiwa yang mencakup akal, rasa, dan kehendak
serta raga (jasmani) yang mencakup pribadi, sosial, dan aspek ketuhanan yang terkristalisasi dalam
nilai-nilai pancasila. Dengan demikian, pancasila dapat dipergunakan sebagai tolak ukur atau
paradigma pembangunan nasional di berbagai bidang, seperti politik dan hukum, ekonomi, hankam,
sosial budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kehidupan agama.
Adapun pokok-pokok pancasila sebagai paradigma pembangunan adalah sebagai berikut.
a. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan politik dan hukum meliputi:
1) pengembangan sistem politik negara yang menghargai harkat dan martabat manusia sebagai
subjek atau pelaku,
2) pengembangan sistem politik yang demokratis, berkedaulatan rakyat, dan terbuka,
3) sistem politik yang didasarkan pada nilai-nilai moral bukan sekedar kekuasaan,
4) pengambilan keputusan politik secara musyawarah mufakat, dan
5) politik dan hukum yang didasarkan atas moral ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan,
dan keadilan.
b. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan ekonomi meliputi:
1) dasar moralitas ketuhanan dan kemanusiaan menjadi kerangka landasan pembangunan ekonomi,

21/10/2014 12:31

Pancasila sebagai Sumber Nilai dan Paradigma Pembangunan | BLA...

5 of 5

http://adekomaria.wordpress.com/2013/01/17/pancasila-sebagai-sumbe...

2) megembangkan sistem ekonomi yang berperikemanusiaan,


3) mengembangkan sistem ekonomi Indonesia yang bercorak kekeluargaan,
4) ekonomi yang menghindarkan diri dari segala bentuk monopoli dan persaingan bebas, dan
5) ekonnomi yang bertujuan keadilan dan kesejahteraan bersama.
c. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan sosial budaya meliputi:
1) pembangunan sosial budaya dilaksanakan demi terwujudnya masyarakat yangn demokratis,
aman, tenteram, dan damai,
2) pembangunan sosial budaya yang mengahargai kemajemukan masyarakat Indonesia,
3) terbuka terhadap nilai-nilai luar yang positif untuk membangun masyarakat Indonesia yang
modern, dan
4) memelihara nilai-nilai yang telah lama hidup dan relevan bagi kemajuan masyarakat.
d. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan pertahanan keamanan meliputi:
1) Pertahanan dan keamanan negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara
2) Mengembangkan sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta, dan
3) Mengembangkan prinsip hidup berdampingan secara damai dengan bangsa lain.
e. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi meliputi:
1) pengembangan iptek diarahkan untuk mencapai kebahagian lahir batin, memenuhi kebutuhan
materiil dan spiritual,
2) pengembangan iptek mempertimbangkan aspek estetik dan moral,
3) pengembangan iptek pada hakikatnya tidak boleh bebas nilai, tetapi terikat pada nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat,
4) pembangunan iptek mempertimbangkan akal, rasa dan kehendak
5) pembangunan iptek bukan untuk kesombongan melainkan untuk peningkatan kualitas, harkat,
dan martabat manusia
f. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan agama meliputi:
1) pengembangan kehidupan beragama adalah dengan terciptanya kehidupan sosial yang saling
menghargai dan menghormati
2) memberikan kebebasan dalam rangka memeluk dan mengamalkan ajaran agama
3) tidak memaksakan keyakinan agama kepada orang lain
4) mengakui keberadaan agama orang lain dengan tidak saling menjelekkan dan menghina
antarumat beragama
Bookmark the permalink.
Blog at WordPress.com. | The Sunspot Theme.
Follow

Follow BLANDED SPOT!!!*


Build a website with WordPress.com

21/10/2014 12:31