Sie sind auf Seite 1von 24

MANAJEMEN Akuntansi

I.

INTRO
1.Management Accounting Inf. System
Mgt Process:

Planning Detailed actions to achieve a particular end

Controlling
Monitoring
plan
implementation
&
employing corrective action when necessary

Decision
making
Choosing
among
competing
alternatives
2.Management Accounting & Financial Accounting
Financial accounting is for external users and follows
restrictive rules and regulations. Managerial accounting is for
internal users (managers) who plan, control, and make
decisions.

3.A

Brief
Historical Perspective of
Management
Accounting

Beginnings between 1880 and 1925 Pre-1915,


management accounting focused on product costing,
that is, what products provided best profit

1925 to 1950, emphasis on inventory costing systems

Improvements to inventory costing in 1950s and 1960s

1980s
recognized
need
for
improvements
in
management accounting

4.Current Focus of Management Accounting


a. Need for innovation and relevant produces:

Activity based management


ABC Improves accuracy of assigning costs

Customer orientation
Strategic
positioning
to
maintain
competitive
advantage
Value chain framework to focus on customer value

Cross functional perspective


Understand
importance
of
value
chain
from
manufacturing to marketing to distribution to customer
service
b. Need for innovation and relevant produces (cont.)

Total quality management emphasized continuous


improvement

Time becomes a competitive advantage for the firm


who an compress the value chain

Improving efficiency for profit performance

E-business for cost reduction


5.The Role of The Management Accountant
Industrial value chain is critical for strategic cost
management. It links value-creating activities from raw
materials to disposal of final product by end-use customers.
Enhanced the role of the management accountant by

Tightening regulation of corporate governance

Establishing controls over management

Raising importance of managements assessment of


internal controls
6.Management Accounting and Ethical Conduct
The objective of profit maximization should be constrained by
the requirement that profits be achieved through legal and
ethical means.
II.

ACTIVITY COST BEHAVIOR


1.The basics of Cost Behavior

Perilaku biaya (cost behavior) adalah istilah untuk


menggambarkan apakah biaya input berubah apabila
terdapat perubahan aktivitas, dan bagaimana reaksi biaya
terhadap perubahan aktivitas.
Pola perilaku biaya merupakan bahan pertimbangan dasar
dalam:

menganalisa potensi biaya yang akan timbul di masa


yang akan datang, sehubungan dengan rencana
peningkatan,
penambahan,
penurunan
atau
penghilangan aktivitas tertentu; dan

menilai kewajaran nominal biaya yang timbul pada


periode tertentu dengan melihat trend atau pergerakan
aktivitas di periode yang sama.
Klasifikasi Biaya Berdasar Perilaku:
Biaya Tetap (Fixed Cost)
Adalah suatu biaya yang dalam jumlah total besarnya tetap
konstan dalam rentang yang relevan ketika tingkat output/
aktivitas berubah (tidak dipengaruhi oleh aktivitas/volume
kegiatan tertentu). Beberapa contoh biaya yang tergolong
biaya tetap (fixed cost), antara lain: Biaya Gaji, Biaya
penyusutan gedung,
Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel adalah biaya yang dalam jumlah total berubah
secara
proporsional
terhadap
perubahan
tingkat
aktivitas/volume kegiatan. Beberapa contoh biaya yang
tergolong biaya variabel (variable cost), antara lain:
Pengunaan persediaan bahan baku dan penolong, Biaya
tenaga kerja langsung (usaha manufaktur);
Biaya Campuran (Mixed Cost)
Mixed cost adalah biaya yang didalamnya memiliki komponen
biaya tetap dan biaya variabel. Sehingga biaya yang masuk
dalam kategori ini tetap hingga titik tertentu (porsi biaya
tetap) dan meningkat seiring dengan peningkatan aktivitas
setelahnya (porsi biaya variabel).. Contoh yang umum kita
kenal sebagai biaya campuran antara lain biaya telepon.
Ada 3 faktor yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan
pola perilaku suatu biaya.
a. Pertama, harus dipilih biaya yang akan diselidiki pola
perilakunya. Biaya ini merupakan variabel tidak bebas
(dependent variable) dan biasanya dinyatakan dengan
simbol y.
b. Kedua, harus dipilih variabel bebas (independent
variable), yaitu sesuatu yang menyebabkan biaya
tersebut berfluktuasi. Secara matematis, fungsi tersebut
dinyatakan, y = f(x).
c. Ketiga, harus dipilih kisaran kegiatan yang relevan
(relevant range of activity), dimana hubungan antara
variabel bebas dan tidak bebas yang dinyatakan dalam
fungsi biaya tersebut berlaku.
Time Horizon (ingat rentang yang relevan)
Menurut ekonom, dalam jangka panjang semua biaya
merupakan biaya variabel sedangkan dalam jangka pendek
minimal ada satu biaya tetap.
2.Activity, Resource Usage, and Cost Behavior
Sumber daya (Resource) adalah komponen ekonomi yang
memungkinkan seseorang atau sesuatu untuk melakukan
pekerjaan. Sumber daya hanya elemen ekonomi yang
dikonsumsi dalam melakukan kegiatan. Activity Capacity
(Kapasitas
kegiatan)
secara
sederhana
merupakan
kemampuan suatu perusahaan memperoleh sumber daya
untuk melakukan aktivitas. Practical Capacity (kapasitas
praktis) merupakan jumlah kapasitas aktivitas yang
dibutuhkan sehubungan dengan tingkatan dimana aktivitas
dilakukan secara efisien (tingkat efisiensi dari aktivitas yang
dilakukan). Unused Capacity adalah perbedaan/selisih antara
kapasitas yang diperoleh dengan kapasitas output yang
sebenarnya.
Sumber daya (Resource) dibagi menjadi dua yaitu :
Flexible Resource
Merupakan
persediaan
yang
sering
digunakan
dan
dibutuhkan, diperoleh dari sumber luar, dimana jangka
perolehannya tidak membutuhkan komitmen jangka panjang.
Misalnya, apabila perusaahan menggunakan Just In Time
bahan baku diperoleh dan digunakan saat dibutuhkan.
Committed Resource
Merupakan persediaan yang diberikan sebelum penggunaan.
Diperoleh dengan menggunakan kontrak baik secara eksplisit
maupun implisit untuk memperoleh sejumlah sumber daya,

terlepas dari apakah kuantitas dari sumber daya yang


tersedia tersebut digunakan secara penuh atau tidak.
Step-cost Function adalah fungsi yang menunjukkan tingkat
biaya konstan pada suatu rentang output kegiatan tertentu
dan kemudian meningkat ke tingkat biaya yang lebih tinggi
pada titik yang sama, dimana biaya tidak berubah untuk
rentang kegiatan yang sama. Beberapa biaya terutama biaya
tetap cenderung untuk mengikuti step-cost function.
Biaya unit rata-rata yang diperoleh dengan membagi
pengeluaran sumber daya dan kapasitas praktis dari suatu
aktivitas. Tingkat aktivitas digunakan untuk menghitung biaya
penggunaan sumber daya dan biaya aktivitas yang tidak
digunakan.

Tidak ada bentuk baku yang digunakan oleh para manajer


dalam menentukan biaya tetap dan variabel. Namun dalam
praktik yang lebih luas setidaknya terdapat tiga kemungkinan,
yaitu:
a. Beberapa manajer secara sederhana menentukan biaya
aktivitas tertentu ke kategori tetap dan lainnya ke
kategori variabel, tidak menghiraukan kemungkinan
adanya biaya campuran
b. Manajemen mengidentifikasi biaya campuran dan
membagi biaya-biaya ini ke dalam komponen tetap dan
variabel dengan memutuskan bagian biaya yang
merupakan biaya tetap dan variabel berdasarkan
pengalamannya.
c. Manajemen
menggunakan
pengalaman
dan
pertimbangan mereka untuk menyaring hasil estimasi
statistik.
Keunggulan dari penggunaan pertimbangan manajerial untuk
memisahkan biaya tetap dan variabel terletak pada
kesederhanaannya.

3.Methods for separating mixed costs into fixed and


variable components
Dengan memperkirakan biaya tetap dan biaya variabel per
unit, komponen tetap variabel dapat diperkirakan. Perilaku
biaya campuran pun dapat diprediksi ketika penggunaan
Soal exercise unreliable for midtest..kudu pake SPSS..
aktivitas berubah.
3-25 edisi 8 klo mau coba
Metode Tinggi Rendah
Keunggulan metode tinggi rendah adalah objektivitas. Dua III. BUDGETING FOR PLANNING & CONTROL
orang yang menggunakan metode tinggi rendah pada suatu 1.Description of Budgeting
data tertentu akan menghasilkan jawaban yang sama. Selain
HM: anggaran adalah suatu rencana kuantitatif dalam
itu, metode tinggi rendah memungkinkan manajer untuk
bentuk moneter maupun nonmoneter yang digunakan untuk
mendapatkan ketetapan yang cepat mengenai hubungan
menerjemahkan tujuan dan strategi perusahaan dalam satuan
biaya dengan hanya menggunakan dua titik.
operasi.
Kekurangan metode tinggi rendah yaitu biasanya tidak
Adapun manfaat anggaran adalah sebagai berikut:
seakurat metode-metode lain karena pertama, titik tinggi dan
Memaksa para manager untuk melakukan perencanaan
rendah
mungkin
merupakan outliner (berada
diluar
Menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk
jalur). Outliner menunjukkan biaya aktivitas yang tidak umum
memperbaiki pengambilan keputusan
terjadi. Sehingga rumus biaya biaya yang dihitung dengan
Menyediakan standar evaluasi kinerja
menggunakan dua titik ini tidak akan mencerminkan apa yang
Memperbaiki komunikasi dan koordinasi
biasanya terjadi. Metode scatterplot dapat menolong manajer
menghindari jebakan ini daripada hanya memilih dua titik
yang tampaknya mewakili pola biaya aktivitas umum. Kedua,
meskipun
titik-titik
tersebut
bukan
2.Preparing the Master Budget
merupakan outliner, pasangan titik lainnya mungkin lebih
Anggaran induk adalah rencana keuangan yang komprehensif
dapat mewakili.
bagi organisasi secara keseluruhan. Biasanya, anggaran induk
untuk jangka waktu satu tahun sesuai dengan tahun fiskal
Metode Scatterplot
perusahaan. Anggaran induk dapat dibagi menjadi anggaran
Tujuan grafik scatter adalah melihat apakah asumsi hubungan
operasional dan keuangan. Anggaran operasional (Operational
linear wajar atau tidak. Selain itu, beberapa titik yang
Budget) menggambarkan aktivitas yang menghasilkan
tampaknya tidak cocok dalam pola umum perilaku biaya
pendapatan bagi suatu perusahaan: penjualan, produksi, dan
mungkin terungkap dengan mengamati grafik scatter.
persediaan barang jadi. Hasil akhir dari anggaran operasional
Keunggulan dari metode scatterplot adalah memungkinkan
adalah suatu proforma atau perkiraan laporan laba rugi.
kita untuk melihat data secara visual. Kelemahan dari metode
Anggaran keuangan (Financial Budget) memerinci aliran
scatterplot adalah tidak ada kriteria objektif untuk memilih
masuk dan keluar kas serta posisi keuangan secara
garis terbaik. Kualitas rumus biaya bergantung pada kualitas
keseluruhan.
subjektif dari analisis. Metode scatterplot dan metode tinggi
rendah menghasillkan persamaan dengan perbadaan yang
Mempersiapkan Anggaran Operasional
besar dalam komponen biaya tetap dan variabel.
Anggaran operasional terdiri dari perkiraan laporan laba rugi
yang disertai dengan laporan pendukung berikut :
Metode Kuadrat Terkecil
Pengkuadratan deviasi ini menghindari masalah yang
Anggaran penjualan (sales budget) adalah proyeksi yang
disebabkan oleh bauran angka positif dan negatif. Karena
disetujui oleh komite anggaran yang menggambarkan
ukuran kedekatan adalah jumlah deviasi kuadrat titik-titik dari
penjualan Yang diharapkan dalam satuan unit dan uang.
garis, maka semakin kecil ukurannya, semakin baik garisnya.
Langkah pertama dalam membuat anggaran penjualan adalah
Garis yang lebih mendekati titik di banding garis lainnya
mengembangkan prediksi penjualan. Perkiraan penjualan
disebut garis kesesuaian terbaik, yaitu garis dengan jumlah
disajikan kepada komite anggaran untuk dipertimbangkan.
kuadrat deviasi terkecil.
Komite anggaran dapat memutuskan bahwa perkiraan terlalu
pesimis atau terlalu optimis dan merevisinya tepat.
Penggunaan Program Regresi
skip
Anggaran produksi (production budget) menggambarkan
4.Reliability of costs formulas
banyaknya unit yang harus diproduksi untuk memenuhi
Dalam menguji akurasi dari perkiraan biaya tersebut, ada 3
kebutuhan penjualan dan kebutuhan persediaan akhir. Untuk
(tiga) metode statistik yang digunakan, yaitu:
menghitung unit yang akan diproduksi, dibutuhkan penjualan
a. Hypothesis test of cost parameters;
unit serta unit untuk persediaan awal dan persediaan akhir
b. Goodness of fit;
barang jadi.
c. Confidence interval.
5.Multiple regression
Regresi Berganda (Multiple Regression) adalah sebuah Metode
statistik yang digunakan
untuk melakukan pengujian
hubungan antara sebuah variabel dependent (Fix cost)
dengan dua atau lebih variabel independent (Variabel Cost).
6.Managerial judgment

Anggaran pembelian bahan baku langsung (direct


materials purchases budget) memberitahu jumlah dan
biaya bahan baku langsung yang dibeli dalam setiap periode,
jumlahnya bergantung pada perkiraan penggunaan bahan
baku dalam produksi dan persediaan bahan baku perusahaan
yang dibutuhkan. Perusahaan perlu menyiapkan anggaran
pembelian bahan baku langsung terpisah untuk setiap jenis
bahan baku yang digunakan.

Anggaran tenaga kerja langsung (direct labor budget)


menunjukkan jumlah jam tenaga kerja langsung yang
dibutuhkan dan biaya yang terkait yang berhubungan dengan
jumlah unit dalam anggaran produksi. Sama halnya dengan
bahan baku langsung, jam tenaga kerja langsung yang
dianggarkan ditentukan oleh hubungan antara tenaga kerja
dan output.
Anggaran overhead (overhead budget) menunjukkan
biaya yang diharapkan dari semua komponen produksi tidak
langsung. Tidak seperti bahan baku langsung dan tenaga
kerja langsung, tidak mudah mengidentifikasi hubungan
input-output untuk komponen overhead. Sebaliknya, terdapat
serangkaian aktivitas dan penggerak terkait.
Anggaran Persediaan Akhir Barang Jadi (ending
finished goods inventory budget) memberikan informasi
yang dibutuhkan untuk neraca dan juga berfungsi sebagai
input penting bagi penyusunan anggaran harga pokok
penjualan.

menetapkan dampak angggaran


(manajer).

pada perilaku

manusia

Anggaran Statis VS Anggaran Flexible


Anggaran statis belum bisa menjawab kebutuhan manajerial
tentang tingkat kinerja sesungguhnya dari seorang manajer.
Membandingkan biaya actual dan perkiraan biaya pada
tingkatan aktivitas yang sama sehingga akan berguna dalam
melakukan penilaian kinerja. Anggaran Statis memiliki
kekurangan dalam menilai kinerja dan kurang memberikan
umpan balik secara lebih sering untuk para manager. Maka
dari itu diperlukanlah Anggaran Flexible yang lebih
merepresentasikan kinerja manajer. Anggaran Flexible
(Hansen, Mowen: 443) adalah Anggaran yang memungkinkan
suatu perusahaan menghitung perkiraan biaya dalam suatu
tingkatan aktivitas. Kunci utama dari Anggaran Flexible adalah
pemahaman atas Biaya Tetap dan Variable. Penganggaran Ini
sendiri dibagi menjadi 2 macam yaitu penganggaran untuk
tingkat aktivitas yang diharapkan (scenario yang logis) dan
penganggaran untuk tingkat aktivitas actual.

Anggaran harga pokok penjualan adalah Schedule


terakhir yang diperlukan sebelum anggaran laporan laba rugi
dapat disiapkan.
Anggaran berikutnya yang akan disiapkan, yaitu
anggaran beban penjualan dan administrasi (selling
and administrative budget), menguraikan pengeluaran
yang direncanakan untuk aktivitas nonproduksi. Seperti
dengan overhead, beban penjualan dan administrasi dapat
dipecah menjadi komponen tetap dan variabel. Komponenkomponen seperti komisi penjualan, pengiriman, dan
persediaan bervariasi dengan aktivitas penjualan.
Menyiapkan Anggaran Keuangan
Anggaran yang tersisa dalam anggaran induk adalah
anggaran keuangan. Anggaran keuangan yang biasa
disiapkan adalah
Anggaran Kas: Dengan mengetahui waktu kemungkinan
terjadinya kekurangan dan kelebihan kas, seorang manajer
dapat merencanakan untuk meminjam uang tunai ketika
diperlukan dan untuk membayar kembali pinjaman selama
periode kelebihan uang tunai. Karena arus kas adalah nyawa
dari sebuah organisasi, anggaran kas adalah salah satu dari
anggaran yang paling penting dalam anggaran induk.
Anggaran Neraca dianggarkan tergantung pada informasi
yang terkandung dalam neraca saat ini dan anggaran lain di
anggaran induk. Anggaran Belanja modal.

Lihat perbedaan pengukuran kinerjanya


Perilaku dari Manajer bisa dikatagorikan menjadi 2 macam
yaitu goal congruence dan dysfuncitional behavior. Goal
congruence menurut Hansen and Mowen adalah sejalannya
tujuan manajerial dan tujuan organisasional. Dysfuncitional
behavior adalah perilaku individual yang pada dasarnya
bertentangan dengan tujuan organisasi. Maka dari itu untuk
membuat manajer berperilaku Goal congruence dibutuhkan
system penganggaran yang ideal. Untuk mewujutkan hal
tersebut ada beberapa fitur penting yang mendorong kearah
Goal congruence pada tingkatan yang wajar. Fitur tersebut
antara lain umpan balik yang sering atas kinerja,
Insentif uang dan nonuang, anggaran partisipatif,
standar yang realistis, kemampuan pengendalian
biaya, dan berbagai ukuran kinerja.
4.Activity Based Budgeting
Activity-based budgeting merupakan pendekatan baru dalam
proses penyusunan anggaran. Pendekatan ini merupakan
proses merencanakan dan mengendalikan aktivitas yang
diharapkan dapat mencapai efektivitas biaya dalam anggaran,
sehingga memenuhi beban kerja yang diramalkan dan tujuan
strategik yang telah disepakati.
Perbeda
an
Fokus
Penyusu
n
Anggara
n
(Budgete
es)
Tujuan

3.Using Budgets for Performance Evaluation


Ada dua hal yang patut dipertimbangkan agar Anggaran
dapat di gunakan untuk mengevaluasi kinerja. Dua hal
tersebut yakni, pertama menetapkan bagaimana jumlah yang
dianggarkan dibandingkan dengan hasil actual. Kedua

Traditional
Budgeting
Fungsi
Manajer Fungsional

Activity-Based
Budgeting
Sistem
Manajer system, Ketua
tim, Manajer fungsi
utama, Manajer fungsi
pendukung

Menjalankan bagian
dari sistem yang
ada,
Memenuhi
kebutuhan
fungsi,
Melaksanakan
pengendalian, Cost
control

Melakukan
improvement
terhadap
system,
Memuaskan
kebutuhan customers,
Meraih

Unit
pengang
garan
Fokus

Diekspresikan
sebagai
biaya
fungsional
atau
kategori
pengeluaran
Sumber daya yang
dibutuhkan

Orientasi

Historis

Peran
pemasok
dan
pelangga
n

Tidak secara normal


mempertimbangkan
pemasok
dan
pelanggan
dalam
penganggaran

Diekspresikan sebagai
biaya
pelaksanaan
aktivitas
Keluaran
pekerjaan
dilakukan
Countinuous
improvement

atau
yang

limits, they should be investigated if it is cost beneficial to do


so.
Total Variance = (AP X AQ) (SP X SQ)= Actual price x
Actual quantity Standard Price x Standard Quantity
4.Variance analysis:materials & labor.
Total variances provide more information if they are divided
into Price variances & Efficiency variances.
Materials usage variance tells whether a company used more
raw materials than expected.
MUV = (AQ X SP) (SQ X SP) = (AQ SQ)SP
Labor rate variance tells whether a company paid more than
expected for labor.
LRV = (AH X AR) (AH X SR) = (AR SR)AH

Melakukan koordinasi
dengan pemasok dan
mempertimbangkan
kebutuhan pelanggan
5.Variance analysis:overhead costs.
dalam
proses
Total overhead variance is the difference between actual and
penganggaran
applied variable overhead.
Tujuan
Memaksimalakan
Menyelaraskan
Total Variable Overhead = Actual Applied Overhead
pengend
kinerja manajer
aktivitas perusahaan
Variable overhead spending variance arises because prices
alian
secara keseluruhan
change. It includes things such as indirect materials, indirect
Dasar
Berdasarkan kinerja Berdasarkan
labor, electricity maintenance, etc. Increase or decrease in
anggara
manajer
kemanfaatan
these items is beyond control of managers.
n
kapasitas
Variable overhead efficiency variance measures change in
variable overhead consumption because relies on direct labor.
Efficiency Variance= (AH SH)SVOR
Activity-based budgeting dilandisi oleh lima mindset antara
Decompose total fixed overhead variance into spending &
lain :
volume variances.

Customer Value Mindset


Fixed overhead spending variance is the difference between
actual and budgeted fixed overhead. It includes things such as

Continuous Improvement Mindset


salaries, depreciation, taxes, and insurance. Increase or

Cross-functional Mindset
decrease in these items is beyond control of managers. Fixed

Employee Empowerment Mindset


overhead volume variance measures the effect of actual

Opportunity Mindset
output differing from output used to compute predetermined
standard fixed overhead rate.
Dibandingkan dengan traditional budgeting, activity-based
Volume Variance = Budgeted Applied fixed overhead
budgeting memiliki keunggulan sebagai berikut ini (disarikan
dari Connally dan Ashworth, 1994; Lukens, 1995; dan Cooper
6.Appendix: accounting for variances.
dan Kaplan, 1998)
Exercise 9-21 dan 9-29

Orientasi personel diarahkan ke pemenuhan kebutuhan


customers
V. SEGMENTED REPORTING

Fokus penyusunan anggaran pada perencanaan aktivitas, 1.Decentralization and Responsibility Centers
digunakan untuk menghasilkan value bagi customers
A responsibility accounting system measures the results of

Activity-based budgeting mendorong personel untuk


responsibility centers according to information managers need
mengimplementasikan cara berpikir berbasis sistem
to operate their centers.
(system thinking)
Firms decide to decentralize:

Mencapai
keunggulan
dengan
menghilangkan

For ease of gathering, using local information


pemborosan

To focus central management

Mencapai keunggulan dengan mengurangi beban kerja

To train & motivate segment managers,

To enhance competition & expose segments to market


Soal Exercise: 8-21, 8-27
forces
Responsibility Center: definition is a segment of the business
IV. STANDARD COSTING
whose manager is accountable for specified sets of activities.
1.Unit standards.

Major types of responsibility centers are:


Quantity Std definitions: Tell the amount of input that

Cost centers Manager responsible for cost only


should be used per unit of output. Quantity standards come

Revenue center Manager responsible for sales only


from experience, studies, & personnel. Price Std definitions:

Profit center Manager responsible for sales & costs


Tell the amount that should be paid for the quantity of input

Investment center Manager responsible for sales, costs,


used. Price standards come from operations, purchasing,
personnel, & accounting.
& capital investment
Ideal standards only work under perfect conditions.
Attainable standards can be achieved under efficient 2.Measuring the Performance of Profit Centers Using
operating conditions. Why adopt a standard cost system?
Variable and Absorption Income Statements
Two ways to calculate income are by absorption costing &
For planning & control
variable costing. They differ in the treatment of fixed factory
o
To improve performance measures
overhead.
o
To give manager more information by decomposing
total variances into price & usage variances

For product costing: To use unit cost system that is readily


available in pricing

2.Standard product costs.


Standard Cost Per Unit: Definition Is the sum of standards
costs for direct materials (DM), direct labor (DL), & overhead.
Total Budget Variance: Definition Is the difference between
actual cost & planned cost of production.
3.Variance analysis general description
The difference between actual & planned can be favorable
(actual price or usage < standard) or unfavorable (actual price
or usage > standard). Does not mean good or bad! If
variances are significant, that is if they are beyond our control

Akan lebih detail di pricing analysis. Intinya sih Under


absorption costing, fixed overhead is assigned to inventory
produced. Under variable costing, fixed overhead is a period
expense .
Segment Is a subunit of a company of sufficient importance to
warrant performance reports. DFEAre fixed expenses directly
traceable to a segment & therefore, avoidable. If segment
eliminated, so are expenses.

3.Measuring the Performance of Investment Centers


Using ROI
ROI relates operating profits to assets employed.

Margin is the ratio of operating to sales. Turnover tells how


many dollars of sales results from every dollar of invested
assets.
Advantage of ROI are Encourages managers to focus on :
Relationship
among
sales,
expenses
(&
possibility
investment if this is investment center)
Cost efficiency
Operating asset efficiency
Disadvantage of ROI

Can product a narrow focus on divisional profitability at


expense of profitability for overall firm

Encourages managers to focus on short run at expense of


long run
4.Measuring the Performance of Investment Centers
Using Residual Income and EVA
Residual income is the difference between operating income
and minimum dollar return on sales.
Residual Income = Operating income (Min. rate of return x
Ave. Operating Assets)

Advantage: Gives another view of project profitability

Disadvantages
o
Can encourage short run orientation
o
Direct comparisons are difficult
EVA is net income minus total annual cost of capital. Projects
with positive EVA are acceptable. Economic value added (EVA)
= Net income (% cost of capital x Capital employed)
Exercise 10-16 dan 10-17
VI. COST-VOLUME-PROFIT ANALYSIS
Analisis
CVP
akan
membantu
manajer
untuk
mengevaluasi berbagai macam alternatif solusi yang mungkin
dapat diambil dalam memutuskan suatu permasalahan.
Analisis CVP, pada dasarnya, merupakan alat pengujian
perilaku total revenue, total cost, danoperating income
sebagai perubahan yang terjadi pada level output tertentu,
harga jual, variable cost/unit, dan atau fixed cost suatu
produk. Manajer menggunakan analisis CVP untuk membantu
pertanyaan: Bagaimana total revenue dan total cost
dipengaruhi jika level output berubah (volume dalam CVP), ---sebagai contoh, jika kita menjual 1000 unit atau lebih? Jika
kita menaikkan atau menurunkan harga barang, bagaimana
pengaruhnya terhadap level output. Semua kondisi tersebut
merupakan konteks jika maka yang mana analisis CVP
merupakan alat bantu bagi manajemen untuk memberikan
alternatif solusi atas suatu kondisi yang tercipta.

Analisa break even adalah suatu cara atau teknik untuk


mengetahui kaitan antara produksi, penjualan, hargajual,
biaya, laba dan rugi. Dengan mengetahui perkaitannya,
analisa break even dapat digunakan untuk membantu
menetapkan sasaran perusahaan atau organisasi jasa.
Kegunaan lainnya antara lain :
a. Sebagai dasar untuk merencanakan kegiatan operasional
dalam usaha mencapai laba tertentu. Jadi dapat
digunakan untuk perencanaan laba atau profit planning
b. Sebagai dasar untuk mengendalikan kegiatan yang
sedang berjalan, yaitu untuk alat pencocokan antara
realisasi dengan angka angka dalam perhitungan break
even atau dalam chart break even atau sebagai alat
pengendalian atau controlling.
c. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga
jual, yaitu setelah diketahui hasil hasil perhitungannya
menurut analisa break even dan laba yang ditargetkan.
d. Sebagai
bahan
pertimbangan
dalam
mengambil
keputusan dengan terlebih dulu melihat berapakah titik
break even-nya.
BEP = Operating Income sama dengan 0
Ada 3 metode untuk menentukan BEP, yaitu:
a. Metode Equation
b. Metode Contribution Margin
c. MetodeGrafik
Metode Equation
Dalam metode ini, untukmenentukan BEP income statement
dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
Revenue VC FC = Operating Income
(SP x Q) (VCU x Q) FC = Operating Income
dimana:
SP : Selling Price
Q : Quantity
VCU : VC per unit
Metode Contribution Margin
Metode ini merupakan penerjemahan dari rumus pada
metode equation, sebagai berikut:
BEP (Q) = FC / CM per unit
BEP ($) = FC / CMR
Dengan contoh yang sama pada metode equation, akan
didapatkan hasil sebagai berikut:
Metode Grafik
Ada dua istilah yang dikenal dalam metode grafik, yaitu:
a) Total cost line : garis yang menunjukkan jumlah FC dan VC
dalam rentang unit terjual tertentu
b) Total revenue line : garis yang menunjukkan jumlah
pendapatan dalam rentang unit terjual tertentu.
Persinggungan antara total cost line dan total revenue line
adalah BEP point.

Untuk mengaplikasikan analisis CVP, perlu kiranya kita


mengetahui beberapa asumsi dasar yang melandasinya:

a.

b.

Perubahan tingkat revenue dan cost timbul hanya


disebabkan perubahan dalam jumlah unit produk( atau
jasa ) yang diproduksi dan dijual.
Total cost dapat dipisahkan menjadi bagian yang tetap
dimana bagian tersebut tidak akan berubah sejalan
dengan perubahan tingkat output, sedangkan bagian
yang variable berubah seiring dengan perubahan output.

c.

Secara grafis, hubungan keterkaitan perilaku total


revenue dan total cost adalah linear dengan tingkat
output dalam range yang relevan

d.

Harga jual, VC per unit, dan FC (dalam range dan waktu


yang relevan) diketahui dan konstan.

e.
f.
1.

Analisis mencakup produk tunggal ataupun produk yang


bervariasi secara proporsional adalah tetap konstan pada
tingkat unit yang terjual
Semua revenue dan cost dapat dijumlahkan dan
dibandingkan tanpa mempertimbangkan time value of
money.

Break-Even Point in Units

Target Operating Income


Dalam pembahasan materi ini, dijelaskan tentang kegunaan
analisis CVP bagi manajemen untuk menentukan kuantitas
unit yang mesti terjual bila kita menetapkan target laba
operasi yang hendak dikehendakinya. Cara menentukan
besarnya unit yang terjual, dapat kita peroleh melalui 3
metode yang telah dijabarkan sebelumnya, yaitu:
Metode Equation
Revenue VC FC = Operating Income (SP x Q) (VCU x Q)
FC = Operating Income
Metode Contribution Margin
BEP (Q) = (FC + TOI) / CM per unit
BEP (Rp) = (FC + TOI) / CMR
MetodeGrafik

2.
3.

Break-Even Point in Sales Dollars

Multiple Product Analysis


Analisis biaya volume laba cukup mudah diterapkan dalam
pengaturan produk tunggal. Namun, kebanyakan perusahaan
memproduksi dan menjual sejumlah produk atau jasa.
Meskipun kompleksiyas konseptual dari analisis CVP lebih
tinggi dalam situasi multiproduk, pengoperasiannya tidak
berbeda jauh. Beban tetap langsung (direct fixed
expenses) adalah biaya tetap yang dapat ditelusuri ke setiap
produk dan akan hilang jika produk tersebut tidak ada. Beban
tetap umum (common fixed expense) adalah biaya tetap
yang tidak dapat ditelusuri ke produk dan akan tetap muncul
meskipun salah satu produk ditiadakan.
Break-Even Point in Units
Di pembahasan sebelumnya, telah dibahas mengenai metode
perhitungan break-even point untuk produk tunggal. Untuk
produk jamak, ada lebih dari satu kontribusi marjin. Salah
satu solusinya adalah dengan menyediakan analisis terpisah
untuk setiap produk. Dengan cara ini bisa didapat break-even
points masing-masing jika pendapatan didefinisikan sebagai
marjin produk.
Solusi lainnya adalah mengkonversi produk jamak menjadi
produk tunggal. Jika hal ini bisa diaplikasikan, maka semua
metode produk tunggal CVP bisa langsung digunakan. Kunci
dari pengkonversian ini adalah dengan menentukan sales mix
barang yang akan dipasarkan.
Sales Mix dan Analisis CVP
Sales Mix (bauran penjualan) adalah kombinasi relative dari
berbagai produk yang dijual perusahaan. Sales mix dapat
diukur dengan unit yang terjual atau bagian dari pendapatan.
Jika sales mix masih tidak pasti, menentukan macam-macam
sales mix yang berbeda mungkin diperlukan. Dengan ini bisa
didapatkan gambaran kemungkinan hasil yang akan diterima
perusahaan. (mix dianggap 1 paket produk)
Sales Dollars Approach
Kompleksitas
pendekatan
break-even-point-in-units
meningkat seiring meningkatnya jumlah produk. Penerapan
analisis di atas pada perusahaan yang memiliki ratusan
produk bisa ditangani dengan komputer. Selain itu, banyak
perusahaan menyederhanakannya dengan menganalisa
kelompok produk daripada unit produk. Cara lainnya adalah
dengan mengganti pendekatan unit yang terjual dengan
pendekatan
sales-revenue.
Pendekatan
ini
dapat
menyelesaikan analisis CVP untuk produk jamak hanya
dengan ringkasan data yang ditemukan pada laporan laba
rugi perusahaan.

4.

Graphical Representation of CVP Relationship


Penggambaran visual dapat lebih memberikan pemahaman
kita tentang hubungan CVP. Sebuah representasi grafis dapat
membantu manajer melihat perbedaan antara biaya variabel
dan pendapatan. Ini mungkin juga membantu manajer
memahami dengan cepat bagaimana dampak peningkatan
atau penurunan penjualan akan memiliki pada titik impas.
Provit-Volume Graph
Provit-Volume Graph menggambarkan hubungan antara
keuntungan dan volum penjualan. Provit-Volume Graph adalah
grafik dari persamaan laba operasi [Operating Income =
(Price Unit) - (Unit variabelcost Unit) Fixed costs]. Dalam
grafik ini, Operating Income (keuntungan) adalah variabel
dependen, dan unit adalah variabel independen. Biasanya,
nilai-nilai variabel independen diukur dengan panjang sumbu
horisontal dan nilai-nilai variabel dependen sesuai panjang
sumbu vertikal.

Keuntungan dari Provit-Volume Graph, yaitu mudah untuk


ditafsirkan, namun gagal untuk mengungkapkan bagaimana
biaya berubah karena perubahan volume penjualan.
The Cost-Volume-Profit Graph
The Cost-Volume-Profit Graph menggambarkan hubungan
antara biaya, volume, dan keuntungan. Untuk mendapatkan
hubungan yang lebih rinci, maka perlu dua baris grafik
terpisah: garis total pendapatan dan garis total biaya. Garisgaris ini diwakili masing-masing dengan dua persamaan
berikut:
Revenue = Price Unit
Total Cost biaya = (Unit variabel cost Unit ) + Fixed cost

Cost-VolumedanCost-Volume-Profit grafik bergantung pada


beberapa asumsi :

Analisis fungsi linear pendapatan dan fungsi linear biaya.


Analisis ini mengasumsikan bahwa harga, fixed cost total,
dan variabel biaya per unit bisa diidentifikasi dengan
akurat dan tetap konstan selama rentang yang relevan.
Analisis ini mengasumsikan bahwa apa yang diproduksi
dijual.
Untuk analisis multidiasumsikan diketahui.

produk,

bauran

penjualan

Harga jual dan biaya diasumsikan diketahui dengan pasti.


5. Changes in the CVP Variables
Karena Perusahaan beroperasi di dunia yang dinamis, maka
mereka haruslah peka terhadap setiap adanya perubahan
harga, variable cost, dan fixed cost. Mereka juga harus
memperhitungkan efek dari resiko dan ketidakpastian. Kita
akan coba melihat efek pada break-even point terhadap
perubahan harga, unit variable cost, dan fixed cost. Kita juga
akan
mencoba melihat cara Manajer bisa mengendalikan resiko dan
ketidakpastian dengan konsep CVP.
Introduction Risk and Uncertainty
Hal penting dari asumsi menggunakan CVPanalisis yaitu
bahwa harga dan biaya dapat diketahui dengan pasti. Namun

terkadang, resiko dan ketidakpastian menjadi bagian dari


pengambilan keputusan bisnis dan harus diseleseaikan
dengan pendekatan khusus. Formally, resiko berbeda dengan
ketidakpastian, dimana penyebaran probabilitasnya dapat
diketahui.
Sedangkan
ketidakpastian,
penyebaran VII.
probabilitasnya tidak dapat diketahui. Untuk menyikapi resiko
dan ketidakpastian tersebut, Manajemen harus menyadari
sifat ketidakpastian atas harga, biaya, dan kuantitas yang
akan datang. Selanjutnya Manajemen mempertimbangkan
untuk melangkah dari break-even point menuju break-even
band.
Margin of Safety
Margin of Safety adalah unit yang dijual (atau perkiraan yang
akan dijual) atau pendapatan yang diterima (atau perkiraan
yang akan diterima) berada diatas titik break-even point.
Margin of Safetydapat dianggap sebagai ukuran sederhana
atas resiko. Akan selalu tedapat kondisi tidak terduga dimana
penjualan lebih rendah dari yang diharapkan. Manajemen
yang menghadapi situasi dimana Margin of Safety rendah,
maka harus segera mempertimbangkan untuk menambah
penjualan atau mengurangi biaya.
Operating Leverage
Operating Leverage terpaku pada keterkaitanfixed cost dan
variable cost, dimana terkadang terdapat situasi yang
memungkinkan untuk mengubah fixed cost menjadi variable
cost. Sehingga diharapkan dengan adanya perubahan
pengakuan fixed cost (atau perubahan aktifitas penjualan)
tersebut maka dapat meningkatkan perubahan terhadap
profit.
Degree of Operating Leverage dapat diukur dengan
menggunakan rasio contribution margin terhadap profit,
atau :
Degree of Operating Leverage = Contribution Margin / Profit
dimana semakin tinggi Degree of Operating Leverage maka
menunjukan bahwa perubahan terhadap aktifitas penjualan
semakin mempengaruhi profit.

6.

CVP Analysis and Activity Based Budgeting


Dalam Activity-Based Costing System, biaya dibagi ke dalam
kategori berbasis unit dan non-unit sesuai dengan activity
driver-nya. Bagaimanapun, analisis CVP dalam sebuah
kerangka kerja berbasis aktivitas harus dimodifikasi. Untuk
mengilustrasikannya, asumsikan bahwa biaya perusahaan
dapat dijelaskan oleh tiga variabel: activity driver tingkat unit,
unit yang terjual, activity driver tingkat batch, jumlah setup,
dan activity driver tingkat produk, dan engineering hours.
Persamaan biaya ABC kemudian dapat dinyatakan sebagai
berikut :

Perbandingan antara ABC break-even point dengan


conventional
break-even
point
mengungkapkan
dua
perbedaan yang signifikan. Pertama, perbedaan fixed cost.
Beberapa biaya yang sebelumnya diidentifikasi sebagai fixed
cost sebenarnya dapat bervariasi sesuai dengan non-unit cost
drivers-nya, pada contoh di atas adalah jumlah setup dan
engineering hours. Kedua, pembilang dari persamaan ABC
break-even point memiliki dua kondisi non-unit-variable cost:
satu untuk kegiatan yang berhubungan dengan batch dan
satu untuk kegiatan mempertahankan produk.
Menyediakan informasi biaya ABC untuk insinyur desain
mungkin akan membawa mereka pada satu pola yang
berbeda yang akan lebih menguntungkan bagi perusahaan.
Analisis CVP dan JIT

Exercice 17-20 dan 17-21

QUALITY COSTS AND PRODUCTIVITY


Menurut Hansen & Mowen, Cost of Quality (biaya kualitas)
adalah biaya-biaya yang timbul karena mungkin atau telah
terdapat produk yang kualitasnya buruk. Definisi ini
mengimplikasikan bahwa Cost of Quality berkaitan dengan
control activites dan failure activities. Control activities yaitu
suatu usaha untuk mencegah, mendeteksi kualitas yang
buruk (preventif), sedangkan failure activities merupakan
respon/tindak lanjut atas kualitas yang buruk (kuratif),
Masing-masing aktivitas ini menimbulkan biaya bagi
perusahaan. Control activites menimbulkan prevention cost
dan appraisal cost, sedangkan failure activites menimbulkan
internal failure cost dan external failure cost.
Kegiatan-kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Cost of
Quality terdiri dari 4 (empat) kategori biaya, yaitu:

Prevention Costs terjadi untuk mencegah kualitas yang


buruk pada produk atau jasa yang dihasilkan. Dengan
peningkatan prevention costs diharapkan internal failure
costs dan external failure costs turun. Contoh Prevention
Costs: quality engineering, quality training programs,
quality planning, quality reporting, supplier evaluation
and selection, quality audits, quality circles, field trials,
dan design reviews.

Appraisal Costs terjadi untuk menentukan apakah


produk dan jasa telah sesuai dengan persyaratannya atau
kebutuhan pelanggan. Fungsinya adalah untuk mencegah
disampaikannya produk cacat ke pelanggan. Contoh
Appraisal Costs: inspecting and testing materials,
packaging inspection, supervising appraisal activities,
product acceptance, process acceptance, measurement
(inspection
and
test)
equipment,
dan
outside
endorsements.

Internal Failure Costs terjadi karena produk atau jasa


yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi atau
kebutuhan pelanggan. Ketidaksesuaian ini dideteksi
sebelum produk dikirim ke pelanggan. Contoh Internal
Failure Costs: scrap, rework, downtime, reinspection,
retesting, dan design changes.

External Failure Costs terjadi karena produk atau jasa


yang dihasilkan gagal memenuhi persyaratan atau tidak
memuaskan kebutuhan pelanggan setelah produk
disampaikan kepada pelanggan. External Failure Costs
dapat menjadi biaya yang paling merugikan. Contoh
External Failure Costs: Costs of recalls, lost sales karena
kinerja produk yang buruk, returns and allowances karena
kualitas yang buruk, warranties, repairs, product liability,
customer dissatisfaction, lost market share, dan
complaint adjustment.

Internal Failure Costs dan External Failure Costs


hilang jika tidak ada produk cacat.

1.Measuring the costs of quality.


Biaya kualitas dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis biaya
yaitu:

Observable quality cost yaitu biaya kualitas yang dapat


diketahui jumlahnya dari catatan yang terdapat dalam
system akuntansi yang digunakan perusahaan. Contoh:
Biaya yang termasuk dalam Prevention Cost, Appraisal
Cost, Internal Failure Cost, serta beberapa biaya yang
termasuk dalam External Failure Cost kecuali Biaya
Kehilangan Pelanggan, Biaya Ketidakpuasan Pelanggan,
dan Biaya Kehilangan Pangsa Pasar.

Hidden quality cost adalah opurtinity cost atau kerugian


yang muncul karena rendahnya kualitas tetapi jumlah
biaya ini tidak dapat diketahui dari catatan akuntansi
perusahaan. Contoh: Biaya Kehilangan Pelanggan, Biaya
Ketidakpuasan Pelanggan, dan Biaya Kehilangan Pangsa
Pasar.
Jumlah Cost of Quality merupakan penjumlahan baik
observable quality cost maupun hidden quality cost.
Untuk menentukan jumlah hidden quality cost diperlukan
estimasi. Estimasi dapat dilakukan dengan cara berikut:
o
Multiplier Method; metode penentuan hidden quality cost
dengan cara yang sangat sederhana yaitu dengan
mengamsumsikan bahwa total biaya kegagalan eksternal

adalah biaya eksternal yang dapat diukur dikalikan


dengan multiplier tertentu.
Market Researsh Method; metode penentuan hidden
quality cost dengan melakukan penelitian pasar. Biasanya
dilakukan dengan melakukan Survei Pelanggan dan
Wawancara dengan anggota tim penjualan perusahaan
Taguchi Quality Loss Function; metode penentuan hidden
quality cost dengan mengasumsikan bahwa fungsi Cost of
Quality adalah merupakan fungsi kuadrat. Metode ini
mengasumsikan bahwa Cost of Quality yang tersembunyi
hanya terjadi atas unit-unit yang menyimpang dari batas
spesifikasi atas dan bawah.

Pada dasarnya, perhitungan cost-volume profit analysis


berdasarkan pada analisa dari biaya tetap dan biaya variabel.
Namun, melalui laporan quality cost, kita dapat juga
menentukan biaya-biaya mana yang kita kurangi agar
menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan
target perusahaan.
Efek dari pelaporan biaya kualitas adalah keputusan akan
desain produk. Dengan mengetahui penyebab dan akibat
dari biaya kualitas, maka manajeman dapat menentukan
desain produk baru untuk menghindari beberapa masalah
yang berkaitan dengan kualitas produk. Diharapkan, dengan
adanya desain produk yang baru ini, perusahaan dapat
meningkatkan kualitas produk sekaligus dengan harga yang
bersaing.

2.Reporting quality cost information.


Pencatatan quality cost aktual secara detail berdasarkan
5. Controlling Quality Costs
kategorinya dapat memberikan dua masukan pandangan
Pendekatan tradisional lebih menekankan pada Acceptable
penting. Pertama, catatan tersebut mengungkapkan besarnya
Quality Level (AQL). AQL adalah tingkat kualitas yang masih
quality cost dalam setiap kategori yang memungkinkan para
dapat diterima. Pada traditional approach diasumsikan
manajer menilai dampak keuangannya. Kedua catatan
perusahaan akan membuat barang yang cacat(defect)
tersebut menunjukkan distribusi quality cost menurut kategori
beberapa persen dari barang yang diproduksinya. Misalkan
yang memungkinkan para manajer menilai kepentingan relatif
dari 100 barang yang dijual terdapat 5% atau 5 buah barang
dari setiap kategori.
yang cacat.
Ada dua pandangan mengenai quality cost optimal, yaitu
Pendekatan kualitas total tidak mengenal batas toleransi
pandangan tradisional dan pandangan kontemporer.
tingkat kerusakan yang masih dapat diterima (AQL).
Acceptable quality level View
Pendekatan ini menggunakan tingkat kerusakan mencapai 0
Pandangan tradisonal mengacu pada pencapaian acceptable
(Zero-Defects Standard.
quality
level
(AQL)
yang
mengasumsikan
terdapat
perbandingan terbalik antara control cost dan failure cost.
Insentif Untuk Peningkatan Kualitas: Nonmonetary Insentif dan
Ketika control cost meningkat, failure cost seharusnya
Monetary Insentif
menurun. Pandangan AQL mengizinkan, bahkan mendukung
Exercise 14-18 dan 14-20
diproduksinya produk cacat dalam jumlah tertentu.
Zero-Defect View
Pandangan kontemporer disebut juga Zero-Defect View, suatu
PRICING AND PROFITABILITY ANALYSIS
pandangan
yang
menyatakan
bahwa
akan
lebih VIII.
menguntungkan jika perusahaan dapat mengurangi unit-unit 1.Discuss basic pricing concepts.
Banyak faktor yang perlu dipertimbangan dalam penentuan
yang tidak sesuai hingga nol. Penyimpangan dari spesifikasi
harga. Pertimbangan ekonomi termasuk permintaan
ideal adalah merugikan dan batas toleransi spesifikasi tidak
pelanggan dan penawaran, elastisitas permintaan dan
memberikan manfaat apapun, bahkan dapat menipu.
struktur pasar. Secara umum, pelanggan membeli lebih
Strategi untuk mengurangi biaya kualitas cukup sederhana:
sedikit dengan harga tinggi daripada yang mereka lakukan
(1) mengambil serangan langsung terhadap failure costs
pada saat harga yang rendah Ketika permintaan inelastis ,
dalam upaya untuk membawanya ke nol; (2) berinvestasi di
perubahan harga relatif sedikit efeknya pada permintaan
kegiatan pencegahan yang benar untuk membawa
kuantitas, vice versa. Struktur pasar dan persaingan
perbaikan; (3) mengurangi appraisal costs sesuai dengan hasil
(persaingan sempurna, monopoli, oligopoli) mempengaruhi
yang dicapai; dan, (4) terus mengevaluasi dan mengarahkan
tingkat kebebasan perusahaan untuk mengubah harga.
upaya pencegahan untuk mendapatkan perbaikan lebih
lanjut. Strategi ini didasarkan pada premis bahwa:
Untuk setiap kegagalan ada akar penyebab.
Penyebab dapat dicegah.
Pencegahan selalu lebih murah.
3.Using quality cost information.
Tujuan utama pelaporan quality cost adalah memperbaiki dan
mempermudah perencanaan, pengendalian, dan pengambilan
keputusan manajerial. Sebagai contoh adalah dalam
memutuskan pengimplementasian program seleksi pemasok
guna memperbaiki kualitas bahan baku.
Pemanfaatan Quality Cost yang lain :
o
Pemanfaatan informasi quality cost pada scenario
penetapan harga digunakan ketika suatu perusahaan
ingin kembali merebut pangsa pasar yang hilang akibat
harga yang ditawarkan oleh pesaing/competitor lebih
murah. Penurunah harga bertahap case.
o
Penggunaan informasi quality cost dalam analisis produk
baru digunakan untuk melihat apakah produk baru yang
ditawarkan layak untuk diterima atau tidak. Kelayakan
produk tersebut, jika dihubungkan dengan informasi
quality cost, dilihat dari kemampuan desain tersebut
dalam meminimalkan quality cost.
4. Quality Cost Information and Decision Making
Pengambilan keputusan oleh manajemen dapat melalui 2
strategi, yakni: Strategi Harga dan Cost Volume Profit
Analysis.
Dalam menghadapi hal Strategi Harga, seorang manajer
bisa menjalankan beberapa strategi, misalnya : menemukan
bahan baku yang berkualitas dengan harga yang cukup
murah, menurunkan biaya kualitas, menyasar pasar
konsumen tertentu saja, misalnya medium dan high level,
meningkatkan iklan, dengan menaikkan biaya marketing , dan
lainnya.
o
Price gouging, terjadi pada saat perusahaan yang
memiliki kekuatan pasar menetapkan harga yang terlalu
tinggi pada produknya.

2.Calculate a markup on cost and a target cost.


Cost-Based Pricing
Pendapatan harus menutup biaya bagi perusahaan dalam
rangka membuat keuntungan, banyak perusahaan mulai
dengan biaya untuk menentukan harga. Artinya, mereka
menghitung biaya produk dan menambahkan keuntungan
yang diinginkan. Markup adalah persentase yang ditetapkan
pada biaya dasar; markup termasuk keuntungan yang
diinginkan dan biaya lain yang tidak termasuk dalam biaya
dasar. Perusahaan yang melakukan pekerjaan secara rutin
seringkali mendasarkan harga penawarannya pada biayanya.
Target Costing and Pricing
Target costing adalah suatu metode penentuan biaya produk
atau layanan berbasis pada harga (harga target) yang mana
pelanggan bersedia untuk membayarnya. Harga dulu baru
biaya menyesuaikan gimana caranya supaya dengan harga
segitu bisa nutup (efisiensi perusahaan diutamakan).
Kebijakan Penentuan Harga Lainnya
o
Penetration pricing, yaitu penentuan harga produk baru
pada low initial price, bahkan dapat lebih rendah
dibandingkan biaya, untuk membangun pangsa pasar
dengan cepat.
o
Price skimming, yaitu pemilihan harga yang relatif tinggi
untuk produk baru pada waktu pertama kali produk
tersebut diperkenalkan.
o
3.Discuss the impact of the legal system and ethics on
pricing.

o
Legal sistem USA skip..aja soal predatory, dumping
dll
o
Diskriminasi
harga
pada
dasarnya
tidak
diperkenankan kecuali memang didukung oleh analisis
biaya..nanti di exercise saja
o
4.Explain why firms measure profit, and calculate
measures of profit using absorption and variable
costing.
o
Laba adalah ukuran perbedaan antara apa yang
perusahaan usahakan dalam membuat dan menjual
produk atau jasa dan apa yang diterimanya. Sejauh
mana perusahaan menjadi lebih kaya/makmur
karena
terlibat
dalam
transaksi
merupakan
perbedaan dimaksud.
o
a. Alasan-Alasan Perusahaan Mengukur Laba/Keuntungan
o
Sangat Jelas, perusahaan tertarik dalam mengukur
laba. Bahkan, perusahaan diklasifikasikan menurut apakah
laba atau non-laba merupakan tujuan utama mereka.
Keuntungan diukur untuk sejumlah alasan. Alasan-alasan
tersebut termasuk menentukan kelangsungan hidup
perusahaan, pengukuran kinerja manajerial, menentukan
apakah
sebuah
perusahaan
mematuhi
peraturan
pemerintah, dan sinyal pada pasar tentang kesempatan
bagi orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Harus
dicatat bahwa untuk entitas Non-Profit sekalipun mereka
tetap ingin mengetahui laba melalui proses telaah
efisiensi sumberdaya apakah manfaat yang dihasilkan
organisasi sudah sesuai dengan sumber daya yang
dikeluarkannya.
o
b. Pendekatan Absorption-Costing untuk Mengukur Laba
o
Absorption costing, atau full costing, diperlukan
untuk pelaporan keuangan eksternal. Menurut GAAP, laba
merupakan konsep jangka panjang dan tergantung pada
perbedaan antara pendapatan dan biaya. Selama jangka
panjang, tentu saja, semua biaya adalah variabel. Oleh
karena itu, biaya tetap diperlakukan seolah-olah mereka
adalah variabel dengan menetapkan beberapa untuk setiap
unit produksi. Absorption costing ditetapkan untuk semua
biaya manufaktur, bahan baku langsung, tenaga kerja
langsung, variable overhead, dan bagian dari fixed
overhead ke setiap unit produk. Dengan cara ini, masingmasing unit produk menyerap sebagian dari fixed
manufacturing overhead di samping biaya variabel yang
dikeluarkan untuk memproduksi unit tersebut. Absorption
costing digunakan untuk menghitung tiga ukuran laba : laba
kotor, laba usaha, dan laba bersih.
o
c. Variable-Costing untuk Mengukur Laba
o
Sebuah pendekatan untuk mengukur profitabilitas
yang dapat menghindari masalah yang melekat dalam
membuat overhead tetap menjadi biaya variabel adalah
variabel costing . Variable Costing hanya menetapkan biaya
manufaktur tingkat unit yang variable ke produk, biaya ini
meliputi bahan baku langsung, tenaga kerja langsung , dan
overhead variabel . Fixed Overhead diperlakukan sebagai
biaya periodik dan tidak diinventariskan dengan biaya
produk lainnya . Sebaliknya , Fixed OH dibebankan pada
periode terjadinya. Biaya Marketing dan Biaya Administratif
tidak akan pernah dimasukkan sebagai biaya variable unit
meskipun
besarannya
tergantung
pada
tingkat
produksi/penjualan (variable).
o
Detail di exercise saja..

Absorption Costing memberikan kesempatan kepada


para manajer untuk memanipulasi laba dengan
memproduksi persediaan. Walaupun pada akhirnya
jika unit yang diproduksi terjual akan mendapatkan
operating income yang sama.Variable Costing
memiliki keunggulan dalam memberikan sinyal yang
lebih baik tentang kinerja perusahaan dan
manajemen. Variable Costing juga memberikan
informasi yang lebih berguna bagi manajemen dalam
pengambilan keputusan.

o
5.Determine the profitability of segments.

o
o
o
Menggunakan
berbagai
macam
Costing
dari
Absorption sampe ABC dianalisis apakah segmen tersebut
masih menguntungkan atau tidak. Di perbaiki atau ditutup
saja, The computation of segmental profit is clearly useful in
many management decisions. However, the allocation
problems inherent in computing profit on divisions,
segments, and product lines may mean that overall profit is
most useful in some contexts. It is certainly easiest to
compute, and it does have meaning.
o
6.Compute the sales price, price volume, contribution
margin, contribution margin volume, sales mix,
market share, and market size variances.
o
Varians sebagai suatu alat deteksi varians yang
terkait profit dihitung untuk menganalisis perubahan
laba dari satu jangka waktu ke jangka waktu yang
lain . Harga jual dan volume harga varians digunakan
untuk menganalisis perubahan pendapatan dengan
menguraikan pendapatan ke dalam harga dan
kuantitas penjualan . Varians kontribusi margin dan
pangsa pasar serta varians ukuran pasar juga
digunakan untuk menganalisis perubahan laba guna
mengetahui dampak serta penyebabnya
o
7.Discuss the variations in price, cost, and profit over the
product life cycle.
8.Describe
some
of
the
limitations
of
profit
measurement.
o
Limitations of profitability analysis
o
Focus on past performance
o
Emphasis on quantifiable measures
o
Impact on behavior
o
Successful firms measure far more than accounting
profit.
o
o
Exercise 19-13,19-14 dan 19-15
o
o
IX. ACTIVITY RESOURCE USAGE AND TACTICAL DECISION
MAKING
1.Describe the tactical decision-making model.
o
Tujuan keseluruhan dari pengambilan keputusan
strategis adalah memilih strategi alternatif sehingga
keunggulan bersaing jangka panjang dapat tercapai.
Pengambilan keputusan taktis (biasanya jangka
pendek dan maksimalkan kapasitas menganggur)
harus mendukung tujuan keseluruhan ini, walaupun
tujuan langsungnya berjangka pendek atau berskala
o
Lihat Fixed OH perbedaan perlakuannya..akibatnya di
kecil. Jadi, pengambilan keputusan taktis yang tepat
bawah ini:
berarti keputusan yang dibuat tidak hanya mencapai
tujuan terbatas, tetapi juga berguna untuk jangka
panjang. Decision model adalah serangkaian
prosedur yang jika diikuti akan mengarah pada suatu

keputusan. Sederhananya, model pengambilan


keputusan dideskripsikan melalui enam langkah,
yakni:

Steps three and four define tactical cost analysis.


Tactical cost analysis is the use of relevant cost data
to identify the alternative that provides the greatest
benefit to the organization. Thus, tactical cost
analysis includes predicting costs, identifying
relevant costs, and comparing relevant costs. Tactical
cost analysis, however, is only part of the overall
decision process. Qualitative factors also must be
considered.

2.Define the concept of relevant costs and revenues.


3. Biaya(revenue
juga)
relevan
merupakan
biaya/revenue masa depan yang berbeda pada setiap
alternatif. Semua keputusan berhubungan dengan
masa depan, sehingga hanya biaya/revenue masa
depan yang relevan dengan keputusan. Untuk
dikatakan relevan, suatu biaya/revenue tidak hanya
harus merupakan biaya/revenue masa depan, tetapi
juga harus berbeda dari satu alternatif dengan
alternatif lainnya.
4. Penyusutan, dalam hal ini merupakan alokasi biaya
9.
yang sudah dikeluarkan (sunk cost). Terlepas dari 10. Apply the tactical decision-making concepts in a
alternatif mana yang dipilih, biaya pembelian mesin
variety of business situations.
sudah terjadi. Biaya ini adalah sama di kedua
11. The activity resource usage model and the concept of
alternatif. Dengan demikian, biaya perolehan mesin
relevancy are valuable tools in making tactical
dan depresiasi yang terkait tidak menjadi faktor dalam
decisions. It is important to see how they are used to
keputusan make-orbuy.
solve a variety of problems.
5.Explain how the activity resource usage model is used
12.
in assessing relevancy.
13. Make or Buy
6. The activity resource usage model has two resource
14. Keep or Drops
categories: (1) flexible resources and (2) committed
15. Special Orders
resources. Recall from Chapter 3 that flexible
16. Decisions to Sell or Process Further
resources are those that are acquired as used and
17. Keputusan Bauran Produk
needed. Committed resources are acquired in advance
18. Penetapan Harga
of usage.
19.
o Sumber Daya Fleksibel Untuk kategori sumber daya ini, jika
20.
permintaan akan suatu aktivitas berubah di antara alternatif,
21. Exercise 18-11 dan 18-16
maka belanja sumber daya akan berubah dan biaya aktivitas
22.
tersebut adalah relevan untuk keputusan yang dimaksud.
23. FYI GBBP Chp 1,3,8,9,10,15Kelas Pak Daniel Ch
Jenis pengeluaran atau belanja sumber daya ini biasanya
3,8,14,17,18,19.
disebut biaya variabel. Kuncinya adalah bahwa sumber daya
yang dibutuhkan oleh perusahaan sama dengan jumlah
24.Neither a wise man nor a brave man
sumber daya yang ditawarkan.
o Sumber Daya Terikat: Sumber daya terikat dibeli sebelum
lies down on the tracks of history to
digunakan. Oleh karena itu, mungkin ada kapasitas yang
tidak digunakan yang akan mempengaruhi pembuatan
wait for the TRAIN of the future to run
keputusan taktis.
over him. D D. Eisenhower
7.
Sumber daya terikat untuk jangka pendek.
Sumber daya yang diperoleh sebelum penggunan
melalui kontrak implisit biasanya diperoleh dalam
25.
jumlah kasar.
8.
Sumber daya terikat untuk beberapa periode.
26.
Pengeluaran sumber daya periodik, seperti menyewa,
pada dasarnya tidak tergantung pada penggunaan
sumber daya.

27.
28.
29.
30.

31.

46.

32.

47.

33.

48.

34.

49.

35.

50.

36.

51.

37.

52.

38.

53.

39.

54.

40.

55.

41.

56.

42.

57.

43.

58.

44.

59.

45.
61.
62.
63. BUDGET
64. Exercise 8-21
65.
66.

67.
68.

69.

60. EXERCISE SILAHKAN DILENGKAPI

70.

71.
72.

73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.

1.

2 regresi..skip

ANALISIS COST VOLUME PROFIT


96. Problem 17-20

97.
98.
Contribution Margin per unit
= $900.000/100.000
99.
= $9
100.BEP:
Sales TVC TFC
=0
101.
20 Q 11 Q 765.000
=0
102.
9Q
= 765.000
103.
Q
= 85.000 unit
104.Profit saat penjualansebanyak 30.000 di atas BEP:
105.Operating Income
= Sales TVC TFC

106.
107.
108.
Contribution Margin Ratio
109.
BEP
110.
111.
Margin of Safety
112.
Operating Lavarage

=
=
=
=

(20 x 115.000) (11 x 115.000) 765.000


2.300.000 1.265.000 765.000
$270.000
2.
$9/$20 = 45%
= Fixed Cost/Contibution Margin Ratio
= 765.000/45%
= $1.700.000
3.
= 100.000 85.000
= 15.000 unit
4.
= Contibution Margin/Profit
113.
= 900.000/135.000
114.
= 6,67
115.
Increase in Profit
= 20% x 6,67
116.
= 133,4%
117.
New Profit Level
= (133,4% x 135.000) + 135.000
118.
= $315.000
5. Operating Income
= Sales TVC TFC
119.10% (P x Q)
= (P x Q) (VC x Q) TFC
120.10% (20Q)
= 20Q 11Q 765.000
121.20Q 11Q 2Q
= 765.000
122.7Q
= 765.000
123.Q
= 109.285 unit
124.
125.
126.6. Net Income
= Operating Income (1-Tax Rate)
127.
180.000
= Operating Income (1 0,4)
128.
0,6 Operating Income
= 180.000
129.
Operating Income
= 300.000
130.
131.
Operating Income
= Sales TVC TFC
132.
300.000
= 20Q 11Q 765.000
133.
9Q
= 1.065.000
134.
Q
= 118.333 unit
135.

136.
137.
1. Contibution Margin per Unit
= $4.050.000/120.000
138.
= $33,75
139.BEP:
Sales TVC TFC
=0
140.
62,5Q 28,75Q 3.375.000
=0
141.
33,75Q
= 3.375.000
142.
Q
= 100.000 unit
143.Contribution Margin Ratio
= 33,75/62,5
144.
= 54%
145.BEP
= Fixed Cost/Contribution Margin Ratio
146.
= 3.375.000/0,54
147.
= $6.250.000
2. Increase in CM (54% x 1.000.000)
= $540.000
148.Increase in Advertising Expense
= 100.000
149.Increase in Profit
= $440.000
3. Contributin Margin Ratio
= Contribution Margin/Sales
150.Contribution Margin
= CM Ratio x Sales
151.
= 54% x 540.000
152.
= 291.600
4. Net Income
= Operating Income (1 Tax Rate)
153.1.254.000
= Operating Income (1 0,34)
154.Operating Income
= 1.900.000
155.
156.Operating Income
= Sales TVC TFC
157.1.900.000
= 62,5Q 28,75Q 3.375.000
158.33,75Q
= 5.275.000
159.Q
= 156.296 unit
160.5. Margin of Safety
= 120.000 100.000
161.
= 20.000 unit

6.

Operating Lavarage
162.
163.
164.Increase in Profit
165.
166.

= Contribution Margin/Profit
= 4.050.000/675.000
=6
= 20% x 6
= 120%

167.
BIAYA KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS
168.
Exercise 14-18
169.In 2007, Major Company initiated a full-scale, quality improvement program. At the end of the year, Jack Aldredge, the
president, noted with some satisfaction that the defects per unit of product had dropped significantly compared to the
prior year. He was also pleased that relationships with suppliers had improved and defective materials had declined. The
new quality training program was also well accepted by employees. Of most interest to the president, however, was the
impact of the quality improvements on profitability. To help assess the dollar impact of the quality improvements, the
actual sales and the actual quality costs for 2006 and 2007 are as follows by quality category:
170.
171.
2006
2007
172.Sales
$8,000,000
$10,000,000
173.Appraisal costs:
174.
Packaging inspection
320,000 300,000
175.
Product acceptance
40,000 28,000
176.Prevention costs:
177.
Quality circles
4,000 40,000
178.
Design reviews
2,000 20,000
179.Quality improvement projects
2,000
100,000
180.Internal failure costs:
181.
Scrap
280,000 240,000
182.
Rework
360,000 320,000
183.
Yield losses
160,000 100,000
184.
Retesting
200,000 160,000
185.External failure costs:
186.
Returned materials
160,000 160,000
187.
Allowances
120,000 140,000
188.
Warranty
400,000 440,000
189.
190.All prevention costs are fixed (by discretion). Assume all other quality costs are unitlevel variable.
191.
Required:
192. 1. Compute the relative distribution of quality costs for each year. Do you believe that the company is moving in the right
direction in terms of the balance among the quality cost categories? Explain.
193. 2. Prepare a 1-year trend performance report for 2007 (compare the actual costs of 2007 with those of 2006, adjusted for
differences in sales volume). How much have profits increased because of the quality improvements made by Major
Company?
194. 3. Estimate the additional improvement in profits if Major Company ultimately reduces its quality costs to 2.5 percent of
sales revenues (assume sales of $25 million).
195.
196. Answer:
197. 1.
198.
199. 2006
200. 2007
201. Sales

202.

206. Appraisal costs:

207.

211. Prevention costs:

212.

8.000.00

000

203.

204.

360.

208. 4,
5
0
%

209.

8.

213. 0,
1
0
%

214.

218. 1
2,
5
0
%
223. 8,
5
0
%

219.

228. 2
5,
6
0
%

229.

000

216. Internal
costs:

failure

217.

221. External
costs:

failure

222.

226. Total

231.

00

1.000.0

680.
000

227.

000

2.048.

00

10.000.0

000

328.

160.
000

000

224.

820.

740.
000

.000

2.048

205.
210. 3
,
2
8
%
215. 1
,
6
0
%
220. 8
,
2
0
%
225. 7
,
4
0
%
230. 2
0
,
4
8
%

232.Dari tabel tersebut dapat kita lihat bahwa walaupun total quality cost tidak berubah tapi dengan naiknya sales maka
persentase quality cost terhadap sales pun menurun. Di sisil ain, proporsi distribusi quality cost pun terlihat membaik.
Terdapat pergeseran biaya dari failure cost ke control cost. Jadi, dari perbandingan quality cost tersebu tterjadi
peningkatan distribusi relatif quality cost menuju tingkat optimum.
233.
234.2.
238.Proyeksi
2007
236.2006
237.2007
dengan
distribusi
235.
relatif 2006
240.8.
242.10.00
244.10.00
239.Sales
241.
243.
245.
0
0.000
0.000

246.Appraisal
costs:

253.Prevention
costs:

260.Internal
failure
costs:

267.External
failure
costs:

274.Total

0
0.
0
0
0
247.3
6
0.
0
0
0
254.8.
0
0
0
261.1.
0
0
0.
0
0
0
268.6
8
0.
0
0
0
275.2.
0
4
8.
0
0
0

248.4
,
5
0
%

249.328.0
00

250.3
,
2
8
%

251.450.0
00,00

252.
4,50%

255.0
,
1
0
%

256.160.0
00

257.1
,
6
0
%

258.10.00
0,00

259.
0,10%

262.1
2
,
5
0
%

263.820.0
00

264.8
,
2
0
%

265.1.250
.000,
00

266.
12,50
%

269.8
,
5
0
%

270.740.0
00

271.7
,
4
0
%

272.850.0
00,00

273.
8,50%

277.2.048
.000

278.2
0
,
4
8
%

279.2.560
.000

280.
25,60
%

276.2
5
,
6
0
%

284.
281.Selisih
proyeksi
biayaaktual

2007

dengan

282.=
2.560.000
2.048.000

51
2.
00
0

283.=
285.
286.3.
287.Estimasi quality cost dengan persentase aktual
288.20,48% x 25.000.000
5.120.000
289.Estimasi quality cost dengan persentase 2,5%
290.2,5% x 25.000.000
625.000
291.Keuntungan tambahan
4.495.000
292.
293.
294.
295.
296.
Exercise 14-20
297.
298.In 2003, Milton Thayne, president of Carbondale Electronics, received a report indicating that quality costs were 31
percent of sales. Faced with increasing pressures from imported goods, Milton resolved to take measures to improve the
overall quality of the companys products. After hiring a consultant in 2004, the company began an aggressive program
of total quality control. At the end of 2007, Milton requested an analysis of the progress the company had made in
reducing and controlling quality costs. The accounting department assembled the following data:
299.
Internal
External
300.
Sales
Prevention Appraisal
Failure
Failure
301.2003 $500,000
$ 5,000
$10,000
$80,000
$60,000
302.2004 600,000
25,000
15,000
60,000
50,000
303.2005 700,000
35,000
30,000
35,000
25,000
304.2006 600,000
40,000
15,000
25,000
20,000
305.2007 500,000
50,000
5,000
12,000
8,000
306.
307.
Required:
308.
1.
Compute the quality costs as a percentage of sales by category and in total for each year.
309.
2.
Prepare a multiple-year trend graph for quality costs, both by total costs and by category. Using the graph,
assess the progress made in reducing and controlling quality costs. Does the graph provide evidence that quality has
improved? Explain.
310.
3.
Using the 2003 quality cost relationships (assume all costs are variable), calculate the quality costs that would
have prevailed in 2006. By how much did profits increase in 2006 because of the quality improvement program? Repeat for
2007.
311.
312.
Answer:
313.1.

314.
320.
Prev
ention

326.
aisal

Appr

332.
Inter
nal Failure

338.
Exte
rnal Failure

344.

350.
351.2.

352.
353.
354.3.

365.
366.

Total

315.
200
3
321.1
,
0
0
%

316.
200
4
322.4
,
1
7
%

317.
200
5
323.5
,
0
0
%

318.
200
6
324.6
,
6
7
%

327.2
,
0
0
%
333.1
6
,
0
0
%
339.1
2
,
0
0
%
345.
31,
0
0
%

328.2
,
5
0
%
334.1
0
,
0
0
%
340.8
,
3
3
%

329.4
,
2
9
%
335.5
,
0
0
%

330.2
,
5
0
%
336.4
,
1
7
%

319.
200
7
325.1
0
,
0
0
%
331.1
,
0
0
%
337.2
,
4
0
%

341.3
,
5
7
%

342.3
,
3
3
%

343.1
,
6
0
%

346.
25,
0
0
%

347.
17,
8
6
%

348.
16,
6
7
%

349.
15,
0
0
%

352.

Tahun 2006
355.
Biayajikamenggunakandistribusi 2003
356.
31% x 600.000 =
357.
Biayaaktual
358.
Profit
359.
360.
Tahun 2007
361.
Biayajikamenggunakandistribusi 2003
362.
31% x 500.000 =
363.
Biayaaktual
364.
Profit

186.000
100.000
86.000

155.000
75.000
80.000

1.

2.

3.

367.
PRICING AND PROFIT ANALYSIS
368.
Exercise 19-13 PRICE DISCRIMINATION
369.Bernese, Inc., manufactures and distributes a variety of health products, including velcrofastened wrist stabilizers for
people with carpal tunnel syndrome. Annual production of wrist stabilizers averages 200,000 units. A large chain store
purchases about 40 percent of Berneses production. Several thousand independent retail drugstores and medical supply
stores purchase the other 60 percent. Bernese incurs the following costs of production per box:
370.Direct materials
$2.20
371.Direct labor
1.05
372.Overhead
0.75
373.Total
$4.00
374.Bernese has one salesperson assigned to the chain store account at a cost of $65,600 per year. Delivery is made in
1,000 unit batches about three times a month at a delivery cost of $600 per batch. Four salespeople service the
remaining accounts. They call on the stores and incur salary and mileage expenses of approximately $39,900 each.
Delivery costs vary from store to store, averaging $0.45 per unit. Bernese charges the chain store $6.25 per box and the
independent stores $6.50 per box.
375.
Required:
376.Is Berneses pricing policy supported by cost differences in serving the two different classes of customer? Support your
answer with relevant calculations.
377.
378.Answer :
379.Cari Harga/Unitnya:
380.Chain store
381.
Sales
6,25
382.
Manufactoring cost per box
$4.00
383.
Cost of salesperson per box(65,600/80.000) 0.82
384.
Delivery cost per box (600*80/80.000)?
0.6
385.
Unit Cost
5.42
386.
Profit
0.83 ( 13,28%)
387.
388.Independent Stores
389.
Sales
6,5
390.
Manufacturing cost per box
$4.00
391.
Delivery
0.45
392.
Cost of salespeople per box ((4x39,900)/120.000)
1.33
393.
Unit Cost
5.78
394.
Profit
0,72 (11,07%)
395.
396.Praktek pricing dapat dibenarkan karena terjustifikasi oleh biaya yang berbeda, profit juga tidak signifikan berbeda
(judgment <3%)
397.
398.
Exercise 19-14. UNIT COSTS, INVENTORY VALUATION, VARIABLE AND ABSORPTION COSTING
399.Moyer Company produced 80,000 units during its first year of operations and sold 76,000 at $9 per unit. The company
chose practical activityat 80,000 unitsto compute its predetermined overhead rate. Manufacturing costs are as
follows:
400.Direct materials
$240,000
401.Direct labor
88,000
402.Expected and actual variable overhead
72,000
403.Expected and actual fixed overhead
36,000
404.
Required:
405.1. Calculate the unit cost and the cost of finished goods inventory under absorption costing.
406.2. Calculate the unit cost and the cost of finished goods inventory under variable costing.
407.3. What is the dollar amount that would be used to report the cost of finished goods inventory to external parties. Why?
408.Answer:
409.
Unit cost under absoption costing
410.Direct materials (240,000/80.000)
$3.00
411.Direct labor (88,000/80.000)
1.10
412.Variable overhead (72,000/80.000)
0.90
413.Variabel cost per unit
$5.00
414.Fixed overhead(36,000/80.000)
0.45
415.Absorption cost per unit
$5.45
416.the cost of finished goods inventory under absorption costing = (80.000-76.000)x$5.45=$21,800
417.
Unit cost under variable costing
418.Direct materials (240,000/80.000)
$3.00
419.Direct labor (88,000/80.000)
1.10
420.Variable overhead (72,000/80.000)
0.90
421.Variabel cost per unit
$5.00
422.the cost of finished goods inventory under variable costing = (80.000-76.000)x$5.00=$20,000
423.
the cost of finished goods inventory yang disajikanuntukpihakeksternalperusahaanadalah the cost of finished good inventory
yang dihitungberdasarkan absorption costing yaitus ebesar $21,800. Karenadengan menggunakan absorption costing, nilai
persediaan (asset) pada neraca akan meningkat. Untuk eksternal biasanya dipake yang absortion.
424.
425.
426.
Exercise 19-15 INCOME STATEMENTS, VARIABLE AND ABSORPTION COSTING
427.The following information pertains to Caesar, Inc., for last year:
428.Beginning inventory, units

429.Units produced
60,000
430.Units sold
57,400
431.Variable costs per unit:
432.Direct materials
$9.00

433.Direct labor
$6.50
434.Variable overhead
$3.60
435.Variable selling expenses
$3.00
436.Fixed costs per year:
437.Fixed overhead
$234,000
438.Fixed selling and administrative expenses
$236,000
439.There are no work-in-process inventories. Normal activity is 60,000 units. Expected and actual overhead costs are the
same.
440.
Required:
441.1. How many units are in ending inventory?
442.
2. Without preparing an income statement, indicate what the difference will be between variable-costing income and
absorption-costing income.
443.3. Assume the selling price per unit is $32. Prepare an income statement using:
444. a. Variable costing
445. b. Absorption costing
446.Jawaban:
1. Ending inventories = 60.000 57.400 = 2.600 units
447.
2. Perbedaan
yang
terjadipadasaatperhitungan
income
dengan
variable
costing
dengan
absorption
costing
adalahpadanilaihargapokokproduksi,
dimanapada
absorption
costing
memperhitungkanseluruhbiayaproduksisebagaihargapokokproduktanpamemperhatikanapakahbiayatersebutbersifattetapatau
variable.
Sedangkanpada
variable
costing
hanyabiayaproduksi
yang
bersifat
variable
yang
diperhitungkansebagaihargapokokproduksi.
448.
3. Unit cost:
449.
450. Direct materials
$9.00
451. Direct labor
$6.50
452. Variable overhead
$3.60
453.
Variabel cost per unit
19.10
454.
Fixed overhead(234,000/60.000)
3.90
455.
Absorption cost per unit
23.00
456.
457.
458.Income statement
459.
a. The income statement under variable costing:
460. Sales ($32x57.400)
$1,836,800
461. Less variable expenses:
462. Variable cost of goods sold (19.10x57.400)
(1,096,340)
463. Variable selling expenses ($3x57.400)
(172,200)
464. Contribution margin
568,260
465. Less fixed expenses:
466. Fixed overhead
($234,000)
467. Fixed selling and administratives
($236,000)
468. Operating income
$98,260
469.
b. The income statement under absorption costing:
470. Sales ($32x57.400)
$1,836,800
471.
Less: Cost of goods sold ($23x57.400)
1,320,200
472. Gross margin
516,600
473. Less: Selling expenses*
408,00
474. Operating income
$108,400
475.
476.
477. *selling expense = variabel selling expense+fixed selling and administrative expense
478.
($3x57.400) + 236,000 = $408,200
479.
480.

481.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN TAKTIS
482.
1) Problem 18.11
483.
Diketahui: Income Statement sebagai berikut:
484.

2)

485.Automobile
486.LifeInsurance
Insurance
487.Sales
488.$4.200.000
489.$12.000.000
490.(-) Variable Expenses
491.3.830.000
492.9.600.000
493.Contribution Margin
494.$370.000
495.$2.400.000
496.(-) Direct Fixed Expenses
497.400.000
498.500.000
499.Segment Margin
500.$(30.000)
501.$1.900.000
502.(-) Common Fixed Expenses (allocated)
503.100.000
504.200.000
505.Operating Income (loss)
506.$(130.000)
507.$1.700.000
508.
509.
510.
511.
Jika Automobile Insurance dihentikan, sales dari Life-Insurance menurunsebesar 15%.
512.
Ditanya:
513.
1.Jika Automobile Insurance dihentikan, bagaimanapengaruhnyapada income?
514.
2.Diasumsikanbahwa advertising budget dinaikkansebesar $50.000 akanmenaikkan sales pada: Automobile
Insurance sebesar 10% dan Life Insurance sebesar 3%. Apakah advertising budget sebaiknyaditingkatkan?
515.
Penyelesaian:
516.
1.Perludiketahuibahwa Common Fixed Expense tidakrelevan, sehinggatidakdisertakandalamkomputasi.
517.
518.Meneruskan
520.Menghentika
522.Perbedaan
519.(A)
n
Jika
521.(B)
Meneruska
n (A-B)
523.Sales
524.$16.200.000
525.$10.200.000
526.$6.000.000
527.(-)
Variable
528.
13.430.000
529.8.160.000
530.5.270.000
Expenses
531.Contribution
532.$2.770.000
533.$2.040.000
534.$730.000
Margin
535.(-) Direct Fixed
536.900.000
537.500.000
538.400.000
Expenses
539.Segment Margin
540.$1.870.000
541.$1.540.000
542.$330.000
543.
544. Jadi, jika Automobile Insurance dihentikan, akanterjadiperubahanpadapengaruhbersihberupakerugiansebesar
$330.000.
545.
546.
2.Dengan asumsibahwa advertising budget dinaikkansebesar $50.000 akanmenaikkan sales pada: Automobile
Insurance sebesar 10% dan Life Insurance sebesar 3%, makaperhitungannyamenjadisbb:
547.
548.Automobile
549.LifeInsurance
Insurance
551.
552.
550.Sales
$4.620.000a
$12.360.000d
554.
555.
553.(-) Variable Expenses
4.213.000b
9.888.000e
556.Contribution Margin
557.$407.000
558.$2.472.000
560.
561.
559.(-) Direct Fixed Expenses
450.000c
550.000f
562.Segment Margin
563.$(43.000)
564.$1.922.000
565.(-) Common Fixed Expenses (allocated)
566.100.000
567.200.000
568.Operating Income (loss)
569.$(143.000)
570.$1.722.000
571.
572.
573.
574.
Keterangan: KomputasipadaAutomobile Insurance
a
575.
Sales: 1.1*$4.200.000 = $4.620.000
b
576.
Variable Expenses: 1.1*$3.830.000 = $4.213.000
c
577.
Direct Fixed Expenses: $400.000+$50.000 = $450.000
578.
KomputasipadaLife-Insurance
d
579.
Sales: 1.03*$12.000.000 = $12.360.000
e
580.
Variable Expenses: 1.03*$9.600.000 = $9.888.000
f
581.
Direct Fixed Expenses: $500.000+$50.000 = $550.000
582.
Dari
perhitungan
di
atas,
dapatditemukanbahwaterjadipenurunan
income
sebesar
$13.000
($130.000$143.000) pada Automobile Insurance dankenaikan income sebesar $22.000 ($1.700.000$1.722.000)
pada Life-Insurance.Secara total, menaikkan advertising budget sebesar $50.000 memberikankenaikanpada total
income sebesar $9.000.
583.
Konklusi: Ya, advertising budget sebaiknya ditingkatkan.
584.
Problem 18.16
585.
Diketahui: Gray Dentistry Services memiliki dental laboratory untuk memproduksi porcelain crowns dan
gold crowns. Unit Cost untuk memproduksi crowns sbb:
586.
587.
Porcelain
588.
Gold
589.
Direct Material
590.
$60
591.
$90
592.
Direct Labour
593.
20
594.
20
595.
Variable Overhead
596.
5
597.
5
598.
Fixed Overhead
599.
22
600.
22
601.
Total
602.
$107
603.
$137
604.
605.
-Detail Fixed Overhead: Salary (supervisor) sebesar $30.000
606.
Depreciation sebesar $5.000
607.
Rent (lab facility) sebesar $20.000
608.
-Overhead ditetapkan berdasarkan Direct Labour hours (ratenya: 5500 DL hours)
609.
610.
-Local Dental Lab menawarkan kepada Gray:
611.
$100 untuk Porcelain dan $132 untuk Gold

612.
-Jika tawaran diterima, equipment Gray akan di-scrapped.
613.
-Sebagai informasi, Gray menggunakan 1,500 Porcelain Crowns dan 1,000 Gold Crowns setiap tahunnya.
614.
615.
Ditanya:
616.
1.Bagaimana keputusan Gray? Akankah Gray memutuskan untuk membuat atau menjual? Tunjukkan
perhitungannya!
617.
2.Faktor kualitatif apa yang harus dipertimbangkan Gray dalam membuat keputusan ini?
618.
3.Anggaplah lab facility dimiliki dan $20.000 merupakan depresiasi. Bagaimana pengaruhnya pada analisis (1)?
619.
4.Merujuk pada data semula, asumsikan volume crowns: 3,000 porcelain dan 2,000 gold. Haruskah Gray
membuat atau membeli crowns? Jelaskan hasil perhitungannya!
620.
621.
Pembahasan:
622. Perlu diketahui bahwa depresiasi merupakan biaya tertanam (sunk cost), sehingga biaya depresiasi tidak
relevan.
623.
624.
1.Keputusan Membuat atau Membeli
625.
626.
Alternatif
627.
Perbedaan
biaya untuk membuat
628.
629.
Membuat
630.
Membeli
632.
633.
DM
180.000a
634.

635.
$180.000
637.
636.
DL
50.000b
638.

639.
50.000
641.
640.
VOH
55.000c
642.

643.
55.000
645.
644.
FOH
50.000d
646.

647.
50.000
650.
648.
Biaya
649.

282.000e
651.
(282.000)
Pembelian
652.
Total Biaya 653.
$335.000
654.
$282.000
655.
$53.000
Relevan
656.
Keterangan: Komputasi
a
657.
Direct Material (DM): (1,500*$60) + (1,000*90) = $180.000
b
658.
Direct Labour (DL): (1,500*$20) + (1,000*20) = $50.000
c
659.
Variable Overhead (VOH): 2*(5500DLhours*$5) = $55.000
d
660.
Fixed Overhead (FOH): $30.000(Salary) + $20.000(Rent) = $50.000
e
661.
Biaya Pembelian: Porcelain: 1,500*$100 = $150.000
662.
Gold: 1,000*$132 = $132.000
663.
Total: $150.000+$132.000 = $282.000
664.
Jadi, tawaran dari Local Dental Lab harus diterima.
665.
666.
2.Faktor kualitatif yang harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan ini adalah:
667. -Kualitas komponen yang dibeli secara eksternal
668. -Keandalan sumber pasokan
669. -Perkiraan kestabilan harga selama beberapa tahun berikutnya
670.
671.
3.Jika lab facility dimiliki (bukan disewa) dan $20.000 merupakan depresiasi, maka pengaruhnya:
672. Penurunan pada Fixed Overhead (FOH) sebesar $20.000.
673. Dengan kata lain, FOH menjadi $30.000.
674. Jadi, total biaya relevan untuk membeli menjadi: $315.000.
675. Keputusan Gray: Membeli, karena dari segi biaya, alternatif membeli (S282.000) lebih efisien daripada alternatif
membuat ($315.000).
676.
677.
4.Keputusan Membuat atau Membeli
678. Asumsi: Volume Crowns: 3,000 Porcelain dan 2,000 Gold.
679.
680.
681.
Alternatif
682.
Perbedaan
biaya untuk membuat
683.
684.
Membuat
685.
Membeli
687.
688.
DM
360.000a
689.

690.
$360.000
692.
691.
DL
100.000b
693.

694.
100.000
696.
695.
VOH
55.000c
697.

698.
55.000
700.
699.
FOH
50.000d
701.

702.
50.000
705.
703.
Biaya
704.

564.000e
706.
(564.000)
Pembelian
707.
Total Biaya 708.
$565.000
709.
$564.000
710.
$1.000
Relevan
711.
Keterangan: Komputasi
a
712.
Direct Material (DM): (3,000*$60) + (2,000*90) = $360.000
b
713.
Direct Labour (DL): (3,000*$20) + (2,000*20) = $100.000
c
714.
Variable Overhead (VOH): 2*(5500DLhours*$5) = $55.000
d
715.
Fixed Overhead (FOH): $30.000(Salary) + $20.000(Rent) = $50.000
e
716.
Biaya Pembelian: Porcelain: 3,000*$100 = $300.000
717.
Gold: 2,000*$132 = $264.000
718.
Total: $150.000+$132.000 = $564.000
719.
Jadi, Gray seharusnya memilih untuk membeli.
720.
721.
722.
723.
724.
725.
726.
727.
728.
729.
730.

731.
732.
733.
734.
735.
736.
737.
738.
739.
740.
741.
742.
743.
744.
745.
746.

747.STANDAR COSTING

748.

749.
750.
751.

752.
753.

754.

755.
756.
757.
758.
759.
760.
761.
762.
763.