You are on page 1of 8

Konsili, dasar dasar lahirnya kristen dan missionaris

Gaius Flavius Valerius Aurelius Constantinus


Konsili Nicea Pertama, yang diselenggarakan di Nicaea, Bithynia (sekarang znik di Turki),
dan yang dihimpunkan oleh Kaisar Romawi Konstantinus Agung (Gaius Flavius Valerius
Aurelius Constantinus) pada tahun 325, merupakan Konsili Ekumenis yang pertama[1]
dari Gereja Kristiani, dan hasil utamanya adalah keseragaman dalam doktrin Kristiani,
yang disebut Kredo Nicea. Dengan diciptakannya kredo ini, terbentuk suatu preseden
bagi konsili-konsili umum (ekumenis) para uskup (sinode-sinode) untuk menciptakan
pokok-pokok pernyataan iman dan kanon-kanon ortodoksi doktrinal guna mewujudkan
kesatuan iman bagi seluruh umat Kristiani.
Tujuan diselenggarakannya konsili ini adalah untuk menyelesaikan perbedaan pendapat
dalam Gereja Aleksandria mengenai hakikat Yesus dalam hubungannya dengan Sang
Bapa; khususnya, mengenai apakah Yesus memiliki substansi yang sama dengan Allah
Bapa ataukah sekedar memiliki substansi yang serupa belaka dengan Allah Bapa. St.
Aleksander dari Aleksandria dan Athanasius berpegang pada pendapat yang pertama;
sedangkan seorang presbiter populer bernama Arius, yang dari namanya muncul istilah
Arianisme, berpegang pada pendapat yang kedua. Konsili memutuskan bahwa
pendukung Arius telah keliru (dari kira-kira 250-318 peserta, seluruhnya kecuali 2 orang,
memberi suara menentang Arius[2]). Hasil lain dari konsili ini adalah kesepakatan
mengenai waktu perayaan Kebangkitan Kristus (Paskha dalam Bahasa Yunani; Paskah
dalam Bahasa Indonesia), hari raya terpenting dalam kalender gerejawi. Konsili
memutuskan untuk merayakan hari Kebangkitan Kristus pada hari Minggu pertama
sesudah bulan purnama pertama terhitung sejak vernal equinox, lepas dari Penanggalan
Ibrani (lihat pula Quartodecimanisme). Konsili memberikan wewenang kepada Uskup
Aleksandria (yang menggunakan Kalender Aleksandrian) untuk setiap tahun
mengumumkan tanggal perayaan Paskah kepada rekan-rekan uskupnya.
Konsili Nicea signifikan secara historis karena konsili ini adalah upaya pertama untuk
mencapai konsensus dalam Gereja melalui suatu permusyawaratan yang mewakili
keseluruhan umat Kristiani.[3] Konsili ini adalah kesempatan pertama bagi
pengembangan Kristologi teknis.[3] Lebih dari pada itu, Konstantinus, dengan
menghimpun dan memimpin konsili ini, menandakan adanya kendali kekaisaran atas
Gereja.[3] Suatu preseden telah ditetapkan bagi konsili-konsili umum berikutnya untuk
menciptakan kredo-kredo dan kanon-kanon.
Konsili Ekumenis dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur adalah pertemuan
seluruh uskup keseluruhan Gereja untuk membahas dan mengambil keputusan yang
menyangkut doktrin Gereja dan aturan praktisnya. Kata ekumene berasal dari bahasa
Yunani (oikumene), secara harafiah berarti didiami atau dihuni, berasal
dari istilah yang dipakai untuk menunjukkan wilayah Kekaisaran Romawi, karena konsilikonsili yang pertama dilaksanakan dalam teritori Kekaisaran Romawi. Kata ekumene
selanjutnya mengalami perluasan makna, menunjukkan seluruh tempat yang dihuni oleh
umat manusia, dengan kata lain, seluruh dunia.
Keseluruhan Gereja di sini dipahami oleh kebanyakan orang Kristen Ortodoks Timur
berarti mencakup seluruh yurisdiksi Ortodoks Timur dalam persekutuan penuh satu
asma lain. Ini tidak mencakup Gereja Katolik Roma atau para anggotanya dari Ritus
Timur. Segelintir kaum Ortodoks menganggap sebuah konsili sepenuhnya ekumenis
hanya apabila konsili itu melibatkan semua patriarkhat kuno, termasuk Roma. Namun ini
bukan pandangan arus utama Ortodoks. Demikian pula, Gereja Katolik Roma memahami

keseluruhan Gereja dalam arti hanya mereka yang berada dalam persekutuan penuh
dengan Gereja Katolik (Roma). Lagi-lagi, beberapa orang Katolik menganggap bahwa
sebuah konsili ekumenis harus melibatkan Gereja-gereja Timur, dalam pengertian
selengkap-lengkapnya. Seperti yang sering dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II, Gereja
perlu bernapas dengan kedua paru-parunya (namun beliau tidak merujuk kepada
gereja-gereja Ritus Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Roma).
Pertemuan-pertemuan yang lebih bersifat setempat disebut sinode, namun perbedaan
antara sinode dengan konsili tidak begitu jelas dan tajam. Namun demikian, kedua
Gereja ini, dan banyak Gereja Protestan, memang mengakui keabsahan Ketujuh Konsili
Ekumenis, kecuali Konsili Quinisext yang ditolak oleh Katolik namun dianggap sebagai
bagian dari Konsili ke-6 oleh Ortodoks.
Kata Yunani sinode () berasal dari kata sun (bersama-sama) dan hodos
(jalan), jadi sinode berarti berkumpulnya bersama-sama sejumlah orang yang memiliki
suatu kesamaan, dalam hal ini para uskup Kristen.
Kisah para Rasul mencatat Sidang Yerusalem, yang membahas ketegangan antara
mempertahankan praktik-praktik Yahudi dalam komunitas Kristen perdana dan orangorang Kristen baru yang berasal dari latar belakang non-Yahudi. Meskipun keputusankeputusannya diterima oleh semua orang Kristen dan tampaknya sesuai denagn
sejumlah definisi di kemudian hari tentang konsili ekumenis, tak satu Gereja Kristen pun
yang mencantumkannya dalam kategori konsili ekumenis mereka.
Konsili Efesus diselenggarakan di Efesus, Asia Kecil pada tahun 431 oleh Kaisar
Theodosius II, cucu Theodosius I. Diperkirakan ada 200 uskup yang hadir.
Penyelenggaraannya berlangsung dalam suasana panas karena silang pendapat dan
tuding-menuding antar peserta. Konsili ini merupakan Konsili Ekumenis Ke-3 dan
terutama berkaitan dengan bidaah Nestorianisme.
Nestorianisme menitikberatkan hakikat manusiawi Yesus dengan mengecilkan hakikat
ilahi-Nya. Konsili ini menolak dan menyatakan sesat ajaran Patriark Nestorius. Nestorius
mengajarkan bahwa Maria, bunda Yesus melahirkan seorang manusia, Yesus, bukan
Allah, Logos (Sang Sabda, Putera Allah). Logos hanya berdiam dalam Kristus,
sebagaimana dalam sebuah bait (Oleh karena itu, Kristus hanyalah Theophoros, kata
dari Bahasa Yunani untuk Pembawa Allah. Konsekuensinya, Maria harus disebut
Christotokos, kata Yunani untuk Bunda Kristus dan bukan Theotokos, kata Yunani untuk
Bunda Allah. Karena itulah nama tersebut menjadi suatu kontroversi Kristologis. Ada
pula nilai sejarahnya mengingat bahwa Efesus adalah kota dari Dewi Artemis, lihat juga
kis. 19:28.
Konsili ini menyatakan bahwa Yesus adalah satu pribadi, bukan dua orang yang
terpisah: sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, memiliki tubuh dan jiwa yang
rasional. Perawan Maria adalah Theotokos karena dia bukan melahirkan seorang
manusia melainkan melahirkan Allah sebagai seorang manusia. Persatuan kedua hakikat
Kristus terjadi sedemikian rupa sehingga yang satu tidak mengganggu yang lainnya.
Konsili ini juga menyatakan bahwa naskah Pengakuan Iman Nicea tahun 381 sudah
lengkap dan melarang segala bentuk perubahan (penambahan maupun penghapusan)
atasnya. Selain itu, Konsili juga mengutuk Pelagianisme
Dihasilkan 8 kanon :
Kanon 1 mengumumkan bagi seorang bidaah bernama Selestius (so Scholion),
anathema.

Kanon 2-5 mengumumkan bagi Nestorianisme, anathema.


Kanon 6 mengumumkan bagi mereka yang tidak menerima kanon-kanon Efesus,
ekskomunikasi.
Kanon 7 mengumumkan bagi mereka yang tidak menerima Konsili Nicea, anathema.
Kanon 8: Hendaklah hak-hak tiap provinsi dilestarikan murni dan tanpa cacat. Jangan
sampai berhasil upaya untuk memperkenalkan bentuk-bentuk yang bertentangan
dengan semuanya ini. Disebutkannya Kanon-Kanon para Rasul.
300px-konsili_khalsedonKonsili Khalsedon adalah sebuah konsili ekumenis yang
berlangsung dari tanggal 8 Oktober sampai 1 November tahun 451 di Khalsedon (sebuah
kota di Bithinia di Asia Kecil) yang kini merupakan bagian kota Istanbul di sisi Asia dari
selat Bosforus dan dikenal sebagai distrik Kadky. Konsili ini adalah yang ke-4 dari tujuh
Konsili Ekumenis dalam agama Kristen, dan oleh karena itu dianggap infalibel (tak
bercela)dalam definisi dogmatisnya oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks
Timur. Konsili ini menolak doktrin monofisitisme dari kaum pengikut Eutikus, dan
menetapkan Pengakuan Iman Khalsedon, yang menggambarkan kemanusiaan penuh
dan keilahian penuh dari Yesus, pribadi kedua dari Tritunggal Kudus.

Konsili Konstantinopel Kedua, (553); mengukuhkan kembali keputusan-keputusan dan


doktrin-doktrin yang dijelaskan oleh Konsili sebelumnya, mengutuk tulisan-tulisan baru
Arian, Nestorian, dan Monofisit.Konsili Konstantinopel Ketiga, (680681); menolak
Monothelitisme, mengukuhkan bahwa Kristus mempunyai kehendak manusiawi dan Ilahi.

Konsili Quinisext (= Kelima dan Keenam) atau Konsili di Trullo, (692); umumnya sebuah
konsili administrative yang mengangkat sejumlah kanon lokal ke dalam status ekumenis
dan menetapkan prinsip-prinsip disiplin para pejabat gerejawi. Konsili ini tidak dianggap
sebagai Konsili yang lengkap karena tidak menentukan masalah-masalah doktrin. Konsili
ini diterima oleh Gereja Ortodoks Timur sebagai bagian dari Konsili Ekumenis VI, tetapi
hal itu ditolak oleh Katolik Roma.

Konsili Nicea Kedua, (787); pemulihan penghormatan terhadap ikon-ikon dan mengakhiri
ikonoklasme pertama (Ditolak oleh banyak denominasi Protestan, yang sebaliknya lebih
memilih Konsili Konstantinopel 754, yang mengutuk penghormatan terhadap ikon-ikon.)

Konsili Konstantinopel Keempat, (869870); menggulingkan Patriarkh Photios dari


Konstantinopel (yang belakangan ditetapkan sebagai santo oleh Gereja Ortodoks) karena
sejumlah penyimpangan yang terjadi dalam pengangkatannya sebagai patriarkh
sedemikian rupa sehingga pendahulunya, St. Ignatius tidak secara sah disingkirkan.
Penyingkiran ini tidak dapat diterima oleh Gereja Ortodoks Timur pada masa itu, tetapi
terjadi dalam waktu beberapa tahun saja. Betapapun juga, setelah kematian St. Ignatius,
Photios diangkat kembali sebagai Patriarkh dan berdamai dengan Kepausan.

Konsili Sutri, (1046); memecahkan pertikaian tentang kepausan.

Konsili Lateran Pertama, (1123); membahas salah satu masalah yang mendesak pada
masa itu, persoalan hak-hak dari Gereja Katolik dan hak-hak Kaisar Romawi Suci
sehubungan dengan pengangkatan uskup.

Dua konsili berikutnya dianggap ekumenis oleh sebagian pihak di kalangan Gereja
Ortodoks tetapi tidak oleh orang Kristen Ortodoks Timur lainnya, yang sebaliknya
menganggap mereka sebagai konsili lokal yang penting . Namun mereka diakui secara
universal oleh semua Gereja Ortodok meskipun ekumenisitasnya tidak diakui.

Konsili Konstantinopel Keempat, (879880); memulihkan St. Photius ke Takhta Sucinya di


Konstantinopel dan mengutuk siapapun yang mengubah Pengakuan Iman NiceaKonstantinopel.

Konsili Konstantinopel Kelima, (13411351); mengukuhkan teologi hesychastic menurut


St. Gregorius Palamas dan mengutuk filsuf Barlaam dari Kalabria yang dianggap kebaratbaratan .

Sinode Yerusalem, (1672); mendefinisikan ortodoksi dalam hubungannya dengan Gereja


Katolik Roma dan Protestanisme, mendefinisikan kanon Ortodoks Yunani.

Konsili Lateran Kedua, (1139); kebanyakan mengulangi Konsili Lateran Pertama.


Pernikahan rohaniwan dinyatakan tidak sah, pakaian rohaniwan diatur, seranganserangan terhadap kaum rohaniwan diganjar dengan ekskomunikasi

Konsili Lateran Ketiga, (1179); membatasi mereka yang berhak memilih paus hanya para
kardinal, mengutuk simoni, melarang pengangkatan siapapun menjadi uskup sebelum
berusia 30 tahun.

Konsili Lateran Keempat, (1215); membahas transubstansiasi, keutamaan Paus dan


perilaku kaum rohaniwan. Juga memutuskan bahwa orang-orang Yahudi dan Muslim
harus mengenakan pakaian khusus untuk membedakan mereka dari orang-orang
Kristen.

Konsili Lyons Pertama, (1245); mengesahkan topi merah untuk para kardinal, dan pajak
untuk Tanah Suci

Konsili Lyons Kedua, (1274); berusaha mempersatukan Gereja dengan Gereja-gereja


Timur, menyetujui Ordo Fransiskan dan Dominikan, persepuluhan untuk mendukung
perang salib, prosedur konklaf.

Konsili Wina, (13111312); membubarkan Ksatria Templar

Konsili Pisa, (1409) tidak diberikan nomor urut karena tidak dihimpunkan oleh seorang
paus; konsili ini berusaha membatalkan skisma kepausan yang telah menciptakan
Kepausan Avignon.

Konsili Konstanz, (14141418); memecahkan pertikaian tentang kepausan.

Konsili Siena, (14231424) dicabut dari daftar karena belakangan dicap sesat;
merupakan puncak konsiliarisme, menekankan kepemimpinan para uskup yang
berkumpul dalam Konsili.

Konsili Basel, Ferrara dan Firenze, (14311445); rekonsiliasi dengan Gereja Ortodoks,
namun tidak diterima pada tahun-tahun berikutnya oleh orang-orang Kristen Timur.
Dalam Konsili ini, juga dicapai kesatuan-kesatuan lain dengan berbagai Gereja Timur.

Konsili Lateran Kelima, (15121517); mengusahakan pembaruan Gereja.

Konsili Trente, (15451563, terputus-putus); tanggapan terhadap tantangan-tantangan


dari Calvinisme dan Lutheranisme, memaksakan penyeragaman liturgi dalam Ritus
Roma (Misa Trente), dengan jelas menetapkan kanon.

Konsili Vatikan Pertama, 1870; memperjelas doktrin infalibilitas kepausan; ditolak oleh
Gereja Katolik Lama

Konsili Vatikan Kedua, (19621965); pembaruan terhadap liturgi Roma sesuai dengan
norma yang murni dari para Bapak Gereja , dekrit-dekrit pastoral tentang hakikat
Gereja dan hubungannya dengan dunia modern, pemulihan teologi tentang komuni,
peningkatan studi Kitab Suci dan Alkitab, kemajuan ekumenis menuju rekonsilias dengan
Gereja-gereja lain.

Penerimaan terhadap Konsili

Gereja Katolik Roma

Baik Gereja Katolik Roma maupun Gereja Ortodoks Timur mengakui tujuh Konsili pada
tahun-tahun permulaan Gereja, tetapi Gereja Katolik juga mengakui empat belas konsili
yang dihimpunkan pada tahun-tahun kemudian oleh Paus, yang otoritasnya ditolak oleh
Gereja Ortodoks Timur karena mereka menganggap Roma saat ini berada di dalam
skisma. Status dari konsili-konsili ini di hadapan rekonsiliasi Katolik-Ortodoks akan
tergantung pada apakah orang menerima eklesiologi Katolik Roma (keutamaan paus)
atau eklesiologi Ortodoks (kerekanan dari otosefalus atau pimpinan Gereja-gereja).
Dalam kasus yang pertama, Konsili-konsili yang lainnya akan mendapatkan status
ekumenis. Dalam kasus yang belakangan, mereka akan dianggap sebagai sinode-sinode
lokal yang tidak memiliki otoritas di antara Gereja-gereja otosefalus yang lainnya.

Tujuh konsili pertama dihimpunkan oleh kaisar (mula-mula oleh Kaisar Roma Kristen dan
belakangan yang disebut Kaisar Bizantium, yaitu Kaisar-kaisar Romawi yang beribu kota
di Timur). Kebanyakan sejarahwan sepakat bahwa kaisar-kaisar menghimpunkan Konsili
untuk memaksa para uskup Kristen untuk memecahkan masalah-masalah yang
memecah-belah dan untuk mencapai konsensus. Mereka berharap bahwa
mempertahankan kesatuan di dalam Gereja akan menolong mempertahankan kesatuan
wilayah Kekaisaran. Hubungan antara Kepausan dengan keabsahan Konsili-konsili ini
merupakan dasar dari banyak pertikaian antara Gereja Katolik Roma dan Gereja
Ortodoks Timur dan bagi para sejarahwan.

Gereja Ortodoks Timur

Sejauh menyangkut sejumlah Gereja Ortodoks Timur, sejak Konsili Ekumenis Ketujuh
tidak ada lagi sinode atau konsili dengan cakupan yang sama dengan Konsili Ekumenis
manapun. Rapat-rapat lokal dari para pejabat hierarkhi dinamai pan-Ortodoks, tetapi
semua ini pada umumnya hanyalah sekadar rapat-rapat para pejabat hierarkhi lokal dari
yurisdiksi Ortodoks Timur manapun yang menjadi bagian dari masalah lokal yang
spesifik. Dari sudut pandangan ini, tidak ada Konsili yang sepenuhnya pan-Ortodoks
(Ekumenis) sejak 787. Malangnya, penggunaan istilah pan-Ortodoks membingungkan
bagi mereka yang bukan menjadi bagian dari Gereja Ortodoks Timur, dan hal ini
membawa kepada kesan-kesan yang keliru bahwa semua ini adalah Konsili Ekumenis
ersatz dan bukan semata-mata konsili lokal yang kepadanya para pejabat hierarkhi
Ortodoks yang ada di dekatnya, apapun juga yurisdiksinya, diundang.

Yang lainnya, termasuk teolog abad ke-20 Metropolitan Hierotheos (Vlachos) dari
Nafpaktos, Rm. John S. Romanides, dan Rm. George Metallinos (kesemuanya berulangulang merujuk kepada Konsili Ekumenis Kedelapan dan Kesembilan), Rm. George
Dragas, dan Ensiklik Para Patriarkh Timur 1848 (yang merujuk secara eksplisit kepada
Konsili Ekumenis Kedelapan dan yang ditandatangani oleh para Patriarkh dari
Konstantinopel, Yerusalem, Antiokhia, dan Alexandria serta Sinode-sinode Suci dari
ketiga patriarkh yang pertama), menganggap sinode-sinode lainnya di luar Konsili
Ekumenis Ketujuh sebagai konsili yang ekumenis. mereka yang menganggap konsili-

konsili ini ekumenis seringkali menggambarkan keterbatasan dari Konsili Ekumenis


hanya pada yang tujuh itu sebagai akibat dari pengaruh Yesuit di Rusia, sebagian dari
apa yang disebut sebagai Pembuangan Ortodoksi di Barat.

Protestanisme

Banyak Gereja Protestan (khususnya Gereja-gereja yang tergolong pada tradisi


magisterial, seperti Lutheranisme dan Anglikanisme) menerima ajaran-ajaran dari
ketujuh Konsili yang pertama, tetapi tidak mengakui wibawa Konsili itu pada tingkat yang
sama seperti yang diberikan oleh Gereja Katolik dan Ortodoks Timur.

Sebagian Gereja Protestan, termasuk sejumlah Gereja fundamentalis dan nontrinitarian,


mengutuk Konsili Ekumenis karena alasan-alasan lain. Independensi atau
kongregasionalisme di antara kaum Protestan mencakup penolakan terhadap struktur
pemerintahan (atau otoritas apapun yang mengikat) di atas jemaat-jemaat lokal. Karena
itu ketaatan kepada keputusan-keputusan dari konsili-konsili dianggap semata-mata
bersifat suka rela dan Konsili harus dianggap mengikat sejauh bahwa doktrin-doktrin
tersebut diambil dari Kitab Suci. Banyak dari Gereja-gereja ini menolak gagasan bahwa
ada suatu otoritas lain di luar para penulis Kitab Suci yang dapat secara langsung
memimpin orang-orang Kristen lain melalui otoritas ilahi yang asli; setelah Perjanjian
Baru, demikian mereka menyatakan, pintu-pintu pewahyuan telah ditutup. Mereka
menganggap doktrin-doktrin baru yang bukan berasal dari kanon Kitab Suci yang telah
disegel tidak mungkin dan tidak perlu entah diusulkan oleh Konsili Gereja ataupun oleh
nabi-nabi yang lebih baru. Para pendukung Konsili berpendapat bahwa Konsili tidak
menciptakan doktrin-doktrin baru melainkan semata-mata menerangi doktrin-doktrin
yang sudah ada di dalam Kitab Suci yang telah terlupakan.

Persekutuan Ortodoks Oriental hanya menerima Nicea I, Konstantinopel I dan Konsili


Efesus.

Gereja Asiria

Gereja Asiria di Timur hanya menerima Konsili Nicea Pertama dan Konsili Konstantinopel
Pertama.

Mormonisme

Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir menolak Konsili Ekumenis pada
abad-abad pertama karena apa yang mereka anggap sebagai upaya manusia yang sesat
tanpa bantuan ilahi untuk memutuskan masalah-masalah doktrin seolah-olah doktrin
harus diturunkan melalui perdebatan demokratis atau politik ketimbang melalui

pewahyuan. Penghimpunan Konsili seperti itu bahkan dianggap sebagai cukup bukti
bahwa Gereja Kristen yang asli telah jatuh ke dalam kemurtadan dan tidak lagi secara
langsung dipimpin oleh otoritas ilahi. Mereka menganggap penghimpunan Konsili seperti
itu, misalnya, oleh seorang Kaisar Roma, yang belum dibaptiskan (apalagi tidak
ditahbiskan) sebagai sebuah tindakan yang absurd dan menegaskan bahwa kaisar-kaisar
itu menggunakan Konsili untuk menunjukkan pengaruh mereka dalam membentuk dan
melembagakan agama Kristen sesuai dengan selera mereka.

Gereja-gereja Nontrinitarian

Konsili yang pertama dan konsili-konsili yang berikutnya tidak diakui oleh Gereja-gereja
nontrinitarian: Arian, Unitarian, Saksi-Saksi Yehuwa dll.

Hubungan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur

Dalam beberapa puluh tahun terakhir banyak teolog Katolik Roma dan bahkan sejumlah
Paus telah berbicara tentang ketujuh Konsili pertama sebagai ekumenis dalam
pengertian lengkap dan selayaknya, mendapatkan penerimaan oleh Gereja Timur
maupun Barat. Lebih dari itu, Paus Yohanes Paulus II, dalam ensikliknya Ut Unum Sint
(Agar mereka kiranya menjadi satu), mengundang orang-orang Kristen lainnya untuk
membicarakan bagaimana keutamaan Uskup Roma selayaknya diterapkan sejak
sekarang. Beliau berkata bahwa masa depan mungkin dapat menjadi pembimbing yang
lebih baik daripada masa lalu. Dalam CARAini, Uskup Roma memungkinkan
pengembangan sebuah eklesiologi yang akan lebih dapat diterima oleh Timur dan Barat,
yang akan memungkinkan rekonsiliasi antara Gereja Katolik Roma dan Gereja-gereja
Ortodoks dan akan memberikan pemahaman bersama tentang wibawa Konsili yang
disebut ekumenis.

Saling ekskomunikasi pada 1054 antara Paus Roma dan Patriarkh Konstantinopel
dibatalkan pada 1965 oleh para pengganti mereka pada masa itu. Sementara Gerejagereja ini kini berusaha menciptakan rekonsiliasi, pemulihan persekutuan yang penuh
pun akan membutuhkan waktu.

Demikian pula pada 11 November 1994 dalam pertemuan antara Mar Dinkha IV,
Patriarkh Babilonia, Selucia-Ctesiphon dan seluruh wilayah Timur (Chicago, Illinois),
pemimpin Asiria atau Gereja Nestorian, dan Paus Yohanes Paulus II dari Gereja Katolik
Roma di Vatikan, ditandatanganilah sebuah Pernyataan Kristologis Bersama,
menjembatani sebuah skisma yang berasal dari Konsili Ekumenis Ketiga di Efesus.
Pemisahan dari Gereja Koptik dari Gereja Katolik yang esa, kudus dan apostolik setelah
Konsili Ekumenis Keempat di Khalsedon dibahas dalam sebuah Deklarasi Bersama
antara Paus Paulus VI dan Paus dari Alexandria Shenouda III di Vatikan pada 10 Mei
1973 dan dalam sebuah Pernyataan Persetujuan yang disiapkan oleh Komisi Bersama
untuk Dialog Teologis antara Gereja Ortodoks dan Gereja-gereja Ortodoks Oriental di
Biara Anba Bishoy di Wadi El-Natroun, Mesir pada 24 Juni 1989.