You are on page 1of 5

II.5.

PEMERIKSAAN KOTORAN ORGANIK DALAM AGREGAT HALUS

A. TUJUAN PERCOBAAN
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan adanya bahan organic dalam pasir
alam yang akan digunakan sebagai bahan campuran mortar atau beton. Kotoran
organic adalah bahan-bahan organik yang terdapat di dalam pasir dan menimbulkan
efek merugikan terhadap mutu mortar beton.
B. PERALATAN
1. Botol gelas tidak berwarna mempunyai tutup dari karet, gabus atau lainnya yang
tidak larut dalam larutan NaOH, dengan isi air sekitar 500 ml
2. Standard warna (Organic Plate)
3. Larutan NaOH 3%, 15 gr dengan 500 ml
C. BAHAN
Agregat Pasir Halus 500 gr
D. PROSEDUR

Masukkan benda uji ke dalam botol.


Tambahkan larutan NaOH 3% atau seberat 15 gram yang dicampurkan dengan

500 ml ke dalam botol yang berisi benda uji. Lalu, kocok campuran tersebut.
Tutuplah botol, lalu kocok lagi kuat-kuat, dan diamkan selama 24 jam.
Setelah 24 jam bandingkan warna cairan yang ada di dalam botol dengan warna
standar yang terdapat pada alat ukur warna.

E. TEORI DASAR
Agregat merupakan material granular, misalnya pasir, krikil, batu pecah dan kerak
tungku pijar yang dipakai bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk
suatu beton atau adukan semen hidrolik (SNI 03 2847 2002, Tata
Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung).
-

Agregat halus adalah butiran halus yang memiliki kehalusan 2mm 5mm.

Menurut SNI 02-6820-2002 , agregat halus adalah agregat dengan besar butir
maksimum 4,75 mm.

Menurut nevil (1997), agregat halus merupakan agregat yang besarnya tidak lebih
dari 5 mm, sehingga pasisr dapat berupa pasir alam atau berupa pasir dari
pemecahan batu yang dihasilkan oleh pemecah batu.

Menurut SNI 1737-1989-F , agregat adalah sekumpulan butir-butir batu pecah,


kerikil, pasir,atau mineral lainnya baik berupa hasil alam maupun hasil buatan.

Persyaratan agregat halus secara umum menurut SNI 03-6821-2002 adalah sebagai
berikut:
a. Agregat halus terdiri dari butir-butir tajam dan keras.
b. Butir-butir halus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca.
Sifat kekal agregat halus dapat di uji dengan larutan jenuh garam. Jika dipakai
natrium sulfat maksimum bagian yang hancur adalah 10% berat. Sedangkan jika
dipakai magnesium sulfat
c. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% (terhadap berat kering),
jika kadar lumpur melampaui 5% maka pasir harus di cuci.

ASTM C40 / C40M (Standard Test Method for Organic Impurities in Fine
Aggregates for Concrete)
Kandungan bahan organik yang berlebihan pada unsur bahan beton dapat
mempengaruhi kualitas beton. Kadar organik adalah bahan-bahan yang terdapat di
dalam pasir dan menimbulkan efek kerugian terhadap suatu mortar atau beton.
Bahan organik berasal dari pohon-pohon dan dedaunan yang telah tercampur
dalam pasir dan bisaanya sudah membusuk.
Standar untuk SNI adalah "Tidak ada kandungan Bahan Organik". Dalam PBI
1971 ditetapkan bahwa pasir yang akan dipakai untuk bahan bangunan tidak boleh
mengandung terlalu banyak zat organic, yang dapat dibuktikan dengan percobaan
warna dari Abrams Hander. Agregat halus yang baik adalah agregat halus yang
tidak mengandung bahan-bahan organik terlalu banyak yang dibuktikan dengan
percobaan warna dari Abrams-Harder, dengan syarat warna tingkat 1 dan 2.

Standar warna yang digunakan no. 3, jika warna lebih muda dari warna standar,
yaitu no. 1 dan no. 2, maka dapat disimpulkan pasir mengandung sedikit zat
organic dan dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Sedangkan, jika warnanya
lebih tua dari standar warna, yaitu no. 4 dan seterusnya, maka agregat tersebut
banyak mengandung bahan organic dan tidak layak digunakan sebagai bahan
bangunan.
Agregat yang tidak memenuhi syarat percobaan ini bisa dipakai apabila
kekuatan tekan adukan agregat tersebut pada umur 7 dan 28 hari tidak kurang dari
95% dari kekuatan adukan beton dengan agregat yang sama tapi dicuci dalam
larutan 3% NaOH yang kemudian dicuci dengan air hingga bersih pada umur yang
sama. Kandungan kadar organik tinggi dapat mengurangi kekuatan semen
terutama berbahaya untuk kekuatan beton. Dalam mortar bahan organik akan
mengurangi kekuatan ikatan dan akan terlihat sebagai noda coklat atau kuning di
acian dan cat.
Hasil pengukuran warna larutan NaOH 3% dengan bahan uji bisa menjadi
pertimbangan untuk pemakaian bahan tersebut ke depannya. Dan setiap hasil
dalam pengukuran tersebut juga ada deskripsi bahan uji itu seperti apa,
Kandungan bahan organik :
-

Warna pembanding 1&2

: dapat digunakan tanpa dicuci

Warna pembanding 3&4

: harus dicuci dahulu

Warna pembanding 5

: tidak boleh digunakan

F. LAPORAN
-

Analisis Percobaan
Percobaan ini dilakukan dengan cara mencampurkan Larutan NaOH 3% sebagai
zat pengukur dengan bahan uji (agregat pasir halus). Larutan NaOH 3% berasal
dari massa NaOH padat yang 3/100 dari volume air pelarutnya. Dalam hal ini, 15
gr NaOH / 500 ml air. Setelah tercampur dalam wadah uji (botol), wadah yang

berisikan campuran tersebut pun dikocok-kocok untuk menghilangkan rongga


udara di dalamnya dan agar campuran larutan NaOH 3% dan bahan ujinya
tercampur secara merata. Percobaan yang bertujuan untuk memeriksa kandungan
kotoran organic dalam agregat halus ini diakhiri dengan menutup botol yang
sudah diisi campuran bahan uji dengan larutan NaOH 3% dan telah dikocokkocok. Hal ini untuk menghindari masuknya material-material kecil yang berasal
dari udara yang dapat mempengaruhi kadar bahan organic dalam larutan tersebut,
sehingga dapat mempengaruhi pengukuran warna.Wadah yang tertutup itu harus
didiamkan selama 24 jam untuk memaksimalkan pencampuran dan menunggu
reaksi larutan NaOH3% tersebut terhadap bahan uji. Larutan tersebut akan
berubah warnanya sesuai kandungan bahan organik yang ada didalamnya setelah
didiamkan selama 24 jam.
-

Analisis Hasil
Setelah didiamkan selama 24 jam, terlihat perubahan warna pada larutan tersebut.
Dan hasilnya setelah dibandingkan, warna larutan tersebut sama dengan warna
no.2 pada standard warna (organic plate). Itu menandakan bahwa bahan uji
tersebut masih layak dipakai sebagai bahan bangunan karena batas kelayakan
bahan bangunan terhadap kandungan sampah organik di dalamn yaitu berada pada
no.3 standard warna. Jika lebih dari itu dikatakan tidak layak begitu juga
sebaliknya.

Analisis Kesalahan
Dikarenakan data praktikum yang digunakan pada percobaan ini bukan berupa
angka atau nilai, maka kita tidak bisa menentukan seberapa besar kesalahan
relative atau literaturnya. Namun pada setiap percobaan pasti ada kesalahan yang
kita lakukan tanpa disengaja, misalnya :
o Salah pengukuran akibat ketelitian mata yang terbatas terhadap
pengukuran volume air yang digunakan.
o Ada beberapa massa bahan uji yang hilang akibat terjatuh dari wadah
ketika dipindahkan sehingga mempengaruhi komposisi bahan uji yang
akan diukur.
o Proses penutupan wadah yang kurang rapat sehingga masih ada celah bagi
udara untuk masuk kewadah dan mempengaruhi pengukuran.

G. KESIMPULAN
Hasil menunjukkan bahwa warna dari campuran larutan NaOH 3% dengan bahan uji
berupa pasir (agregat halus) sama dengan warna yang tertera pada no.2 pada standard
warna sehingga dapat disimpulkan bahwa bahan uji tersebut masih layak untuk
digunakan sebagai bahan material bangunan karena memiliki kandungan sampah
organik yang masih dibawah ambang batas sesuai standard warna yaitu no.3.

H. REFERENSI
-

American Society for Testing and Materials. Standards Test Method for Organic

Impurities in
Fine Aggregates for Concrete, No. ASTM C 40-04. Annual Book of AST,

Standards, Vol 04.02.


BadanStandarisasiNasional. Metode pengujian kotoran organic dalam pasir untuk
campuran mortar atau beton, SNI 03-2816-1992