You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Penyakit artritis rematoid merupakan suatu penyakit yang telah lama
dikenal dan tersebar diseluruh dunia serta melibatkan semua ras dan kelompok
etnik. Artritis rheumatoid sering dijumpai pada wanita, dengan perbandingan
wanita denga pria sebesar 3 : 1. kecenderungan wanita untuk menderita artritis
reumatoid dan sering dijumpai remisi pada wanita yang sedang hamil, hal ini
menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah
satu faktor yang berpengaruh pada penyakit ini.
Artritis Reumatoid (AR) salah satu dari beberapa penyakit rematik adalah
suatu penyakit otoimun sistemik yang menyebabkan peradangan pada sendi.
Penyakit ini ditandai oleh peradangan sinovium yang menetap, suatu sinovitis
proliferatifa kronik non spesifik. Dengan berjalannya waktu, dapat terjadi erosi
tulang, destruksi (kehancuran) rawan sendi dan kerusakan total sendi. Akhirnya,
kondisi ini dapat pula mengenai berbagai organ tubuh.
Penyakit ini timbul akibat dari banyak faktor mulai dari genetik
(keturunan) sampai pada gaya hidup kita (merokok). Salah satu teori nya adalah
akibat dari sel darah putih yang berpindah dari aliran darah ke membran yang
berada disekitar sendi.
Sebagian besar penderita menunjukkan gejala penyakit kronik yang
hilang timbul, yang jika tidak diobati akan menyebabkan terjadinya kerusakan
persendian dan deformitas sendi yang progresif yang menyebabkan disabilitas
bahkan kematian dini. Walaupun faktor genetik, hormon sex, infeksi dan umur
telah diketahui berpengaruh kuat dalam menentukan pola morbiditas penyakit
ini.hingga etiologi AR yang sebenarnya tetap belum dapat diketahui dengan pasti.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian
Artritis Reumatoid (Rheumatoid arthritis) is a chronic inflammatory disease
with primary manifestation poliartritis progressive and involve all the organs, jadi
merupakan suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis
progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. (Arif Mansjour. 2001)
Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang tidak
diketahui penyebabnya, dikarakteristikan oleh kerusakan dan proliferasi
membran sinovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis,
dan deformitas. (Doenges, E Marilynn, 2000 : hal 859)
Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan
manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.
(Kapita Selekta Kedokteran, 2001 : hal 536)
Artritis Reumatoid adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan
proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat
sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi
secara simetris. ( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165 )
2.2

Anatomi dan Fisiologi


Muskuluskeletal terdiri dari tulang, otot, kartilago, ligament, tendon, fasia, bursae
dan persendian.
a.

Tulang

Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada bagian intra-seluler. Tulang berasal
dari embryonic hyaline cartilage yang mana melalui proses osteogenesis
menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut Osteoblast.
Proses

mengerasnya

tulang

akibat

menimbunya

garam

kalsium.

Fungsi tulang adalah sebagai berikut:


1. Mendukung jaringan tubuh dan menbuntuk tubuh.
2. Melindungi organ tubuh (jantung, otak, paru-paru) dan jaringan lunak.
3. Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan
pergerakan )
4. Membuat sel-sel darah merah di dalam sumsum tulang (hema topoiesis).
5. Menyimpan garam-garam mineral. Misalnya kalsium, fosfor.
Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya :

Tulang panjang (femur, humerus ) terdiri dari satu batang dan dua epifisis.
Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat.epifisis dibentuk oleh
spongi bone (Cacellous atau trabecular )

Tulang pendek (carpalas) bentuknya tidak teratur dan cancellous (spongy)


dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.

Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri dari dua lapisan tulang padat
dengan lapisan luar adalah tulang cancellous.

Tulang yang tidak beraturan (vertebra) sama seperti tulang pendek.

Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar


tulang yang berdekatan dengan persendian dan didukung oleh tendon
danjaringan fasial,missal patella (kap lutut)

b. Otot
Otot dibagi dalam tiga kelompok, dengan fungsi utama untuk kontraksi dan
untuk menghasilkan pergerakan dari bagian tubuh atau seluruh tubuh. Kelompok
otot terdiri dari:

1. Otot rangka (otot lurik) didapatkan pada system skeletal dan berfungsi
untuk memberikan pengontrolan pergerakan, mempertahankan sikap dan
menghasilkan panas
2. Otot Viseral (otot polos) didapatkan pada saluran pencernaan, saluran
perkemihan dan pembuluh darah. Dipengaruhi oleh sisten saraf otonom
dan kontraksinya tidak dibawah control keinginan.
3. Otot jantung didapatkan hanya pada jantung dan kontraksinya tidak
dibawah control keinginan.
c.

Kartilago

Kartilago terdiri dari serat-serat yang dilakukan pada gelatin yang kuat. Kartilago
sangat kuat tapi fleksibel dan tidak bervascular. Nutrisi mencapai kesel-sel
kartilago dengan proses difusi melalui gelatin dari kapiler-kapiler yang berada di
perichondrium (fibros yang menutupi kartilago) atau sejumlah serat-serat kolagen
didapatkan pada kartilago.
d. Ligament
Ligament adalah sekumpulan dari jaringan fibros yang tebal dimana merupakan
ahir dari suatu otot dan dan berfungsi mengikat suatu tulang.
e.

Tendon

Tendon adalah suatu perpanjangan dari pembungkus fibrous yang membungkus


setiap otot dan berkaitan dengan periosteum jaringan penyambung yang
mengelilingi tendon tertentu, khususnya pada pergelangan tangan dan tumit.
Pembungkus ini dibatasi oleh membrane synofial yang memberikan lumbrikasi
untuk memudahkan pergerakan tendon.
f.

Fasia

Fasia adalah suatu permukaan jaringan penyambung longgar yang didapatkan


langsung dibawah kulit sebagai fasia supervisial atau sebagai pembungkus tebal,
jaringan penyambung yang membungkus fibrous yang membungkus otot, saraf
dan pembuluh darah.bagian ahair diketahui sebagai fasia dalam.
g. Bursae

Bursae adalah suatu kantong kecil dari jaringan penyambung dari suatu tempat,
dimana digunakan diatas bagian yang bergerak, misalnya terjadi pada kulit dan
tulang, antara tendon dan tulang antara otot. Bursae bertindak sebagai penampang
antara bagian yang bergerak sepaerti pada olecranon bursae, terletak antara
presesus dan kulit.
h. Persendian
Pergerakan tidak akan mungkin terjadi bila kelenturan dalam rangka tulang tidak
ada. Kelenturan dimungkinkan karena adanya persendian, tatu letah dimana
tulang berada bersama-sama. Bentuk dari persendian akan ditetapkan berdasarkan
jumlah dan tipe pergerakan yang memungkinkan dan klasifikasi didasarkan pada
jumlah pergerakan yang dilakukan.
Berdasarkan klasifikasinya terdapat 3 kelas utama persendian yaitu:

Sendi synarthroses (sendi yang tidak bergerak)

Sendi amphiartroses (sendi yang sedikit pergerakannya)

Sendi diarthoses (sendi yang banyak pergerakannya)

Perubahan fisiologis pada proses menjadi tua. Ada jangka periode waktu tertentu
dimana individu paling mudah mengalami perubahan musculoskeletal. Perubahan
ini terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja karena pertumbuhan atau
perkembangan yang cepat atau timbulnya terjadi pada usia tua. Perubahan
struktur system muskuloskeletal dan fungsinya sangat bervariasi diantara
individu selama proses menjadi tua. Perubahan yang terjadi pada proses menjadi
tua merupakan suatu kelanjutan dari kemunduran yang dimulai dari usia
pertengahan. Jumlah total dari sel-sel bertumbuh berkurang akibat perubahan
jaringan prnyambung, penurunan pada jumlah dan elasitas dari jaringan subkutan
dan hilangnya serat otot, tonus dan kekuatan. Perubahan fisiologis yang umum
adalah:

Adanya penurunan yang umum pada tinggi badan sekitar 6-10 cm. pada
maturasi usia tua.

Lebar bahu menurun.

Fleksi terjadi pada lutut dan pangkal paha

C. Etiologi Artritis Reumatoid


Penyebab utama penyakit reumatik masih belum diketahui secara pasti.
Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, hormonal dan
faktor sistem reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi
seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).
Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid,
yaitu:
1. Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.

2. Endokrin
3. Autoimmun
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta pemicu lingkungan
Pada saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan
infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin
disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid
yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.
D. Manifestasi Klinik Artritis Reumatoid

Ada beberapa gambaran / manifestasi klinik yang ditemukan pada penderita


reumatik. Gambaran klinik ini tidak harus muncul sekaligus pada saat yang
bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinik yang sangat
bervariasi.
1)

Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, kurang nafsu makan, berat badan

2)

menurun dan demam.


Poliartritis simetris (peradangan sendi pada sisi kiri dan kanan) terutama pada
sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan
sendi-sendi antara jari-jari tangan dan kaki. Hampir semua sendi diartrodial

3)

(sendi yang dapat digerakan dengan bebas) dapat terserang.


Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam, dapat bersifat umum tetapi
terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi
pada osteoartritis (peradangan tulang dan sendi), yang biasanya hanya

4)

berlangsung selama beberapa menit dan selama kurang dari 1 jam.


Artritis erosif merupakan merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran
radiologik. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan pengikisan ditepi

tulang .
5) Deformitas : kerusakan dari struktur penunjang sendi dengan perjalanan
penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, pergeseran sendi pada tulang telapak
tangan dan jari, deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa
deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. . Pada kaki terdapat
tonjolan kaput metatarsal yang timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendisendi yang besar juga dapat terserang dan mengalami pengurangan kemampuan
6)

bergerak terutama dalam melakukan gerakan ekstensi.


Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar
sepertiga orang dewasa penderita rematik. Lokasi yang paling sering dari
deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku) atau di sepanjang permukaan
ekstensor dari lengan, walaupun demikian tonjolan) ini dapat juga timbul pada
tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan petunjuk
suatu

penyakit

yang

aktif

dan

lebih

berat.

g. Manifestasi ekstra-artikular (diluar sendi): reumatik juga dapat menyerang


organ-organ lain diluar sendi. Seperti mata: Kerato konjungtivitis, sistem
cardiovaskuler dapat menyerupai perikarditis konstriktif yang berat, lesi

inflamatif yang menyerupai nodul rheumatoid dapat dijumpai pada myocardium


dan katup jantung, lesi ini dapat menyebabkan disfungsi katup, fenomena
embolissasi, gangguan konduksi dan kardiomiopati.
E. Patofisiologi Artritis Reumatoid
Membran syinovial pada pasien reumatoid artritis mengalami hiperplasia,
peningkatan vaskulariasi, dan ilfiltrasi sel-sel pencetus inflamasi, terutama sel T
CD4+. Sel T CD4+ ini sangat berperan dalam respon immun. Pada penelitian
terbaru di bidang genetik, reumatoid artritis sangat berhubungan dengan majorhistocompatibility-complex class II antigen HLA-DRB1*0404 dan DRB1*0401.
Fungsi utama dari molekul HLA class II adalah untuk mempresentasikan
antigenic peptide kepada CD4+ sel T yang menujukkan bahwa reumatoid artritis
disebabkan oleh arthritogenic yang belim teridentifikasi. Antigen ini bisa berupa
antigen eksogen, seperti protein virus atau protein antigen endogen. Baru-baru ini
sejumlah antigen endogen telah teridentifikasi, seperti citrullinated protein dan
human cartilage glycoprotein 39.
Antigen mengaktivasi CD4+ sel T yang menstimulasi monosit, makrofag
dan syinovial fibroblas untuk memproduksi interleukin-1, interleukin-6 dan TNF untuk mensekresikan matrik metaloproteinase melalui hubungan antar sel
dengan bantuan CD69 dan CD11 melalui pelepasan mediator-mediator pelarut
seperti interferon- dan interleukin-17. Interleukin-1, interlukin-6 dan TNF-
merupakan kunci terjadinya inflamasi pada rheumatoid arthritis.
Arktifasi CD4+ sel T juga menstimulasi sel B melalui kontak sel secara
langsung dan ikatan dengan 12 integrin, CD40 ligan dan CD28 untuk
memproduksi immunoglobulin meliputi rheumatoid faktor. Sebenarnya fungsi
dari rhumetoid faktor ini dalam proses patogenesis reumatoid artritis tidaklah
diketahui secara pasti, tapi kemungkinan besar reumatoid faktor mengaktiflkan
berbagai komplemen melalui pembentukan immun kompleks.aktifasi CD4+ sel T
juga

mengekspresikan

osteoclastogenesis

yang

secara

keseluruhan

ini

menyebabkan gangguan sendi. Aktifasi makrofag, limfosit dan fibroblas juga

menstimulasi angiogenesis sehingga terjadi peningkatan vaskularisasi yang


ditemukan pada synovial penderita reumatoid artritis.

F. Pemeriksaan Diagnostik
Faktor Reumatoid : positif pada 80-95% kasus.
Fiksasi lateks: Positif pada 75 % dari kasus-kasus khas.
Reaksi-reaksi aglutinasi : Positif pada lebih dari 50% kasus-kasus khas.
LED : Umumnya meningkat pesat ( 80-100 mm/h) mungkin kembali normal
sewaktu gejala-gejala meningkat
Protein C-reaktif: positif selama masa eksaserbasi.
SDP: Meningkat pada waktu timbul prosaes inflamasi
JDL : umumnya menunjukkan anemia sedang.
Ig ( Ig M dan Ig G); peningkatan besar menunjukkan proses autoimun sebagai
penyebab AR.
Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak,
erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan ( perubahan awal )

berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan


subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara bersamaan.
Scan radionuklida : identifikasi peradangan sinovium
Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan irregularitas/
degenerasi tulang pada sendi
Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari
normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning ( respon inflamasi, produkproduk pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas
dan komplemen ( C3 dan C4 ).
Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan
panas.
Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang
simetris yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap
sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau
gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen.
Kriteria Artritis rematoid menurut American Reumatism Association ( ARA )
adalah:
1) Kekakuan sendi jari-jari tangan pada pagi hari ( Morning Stiffness ).
2)

Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya pada satu
sendi.

3)

Pembengkakan ( oleh penebalan jaringan lunak atau oleh efusi cairan ) pada
salah satu sendi secara terus-menerus sekurang-kurangnya selama 6 minggu.

4) Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain.


5) Pembengkakan sendi yanmg bersifat simetris.
6) Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor.
7) Gambaran foto rontgen yang khas pada arthritis rheumatoid
8) Uji aglutinnasi faktor rheumatoid
9) Pengendapan cairan musin yang jelek
10) Perubahan karakteristik histologik lapisan sinovia
11) gambaran histologik yang khas pada nodul.

Berdasarkan kriteria ini maka disebut :


Klasik : bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6
minggu
Definitif : bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6
minggu.
Kemungkinan rheumatoid : bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurangkurangnya selama 4 minggu.
G. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medik pada pasien RA diantaranya :
a) Pendidikan : meliputi tentang pengertian, patofisiologi, penyebab, dan prognosis
penyakit ini
b) Istirahat : karena pada RA ini disertai rasa lelah yang hebat
c) Latihan : pada saat pasien tidak merasa lelah atau inflamasi berkurang, ini
d)
e)
f)

bertujuan untuk mempertahankan fungsi sendi pasien


Termoterapi
Gizi yaitu dengan memberikan gizi yang tepat
Pemberian Obat-obatan :
Anti Inflamasi non steroid (NSAID) contoh:aspirin yang diberikan pada dosis

yang telah ditentukan.


Obat-obat untuk Reumatoid Artitis :

Acetyl salicylic acid, Cholyn salicylate (Analgetik, Antipyretik, Anty

Inflamatory)
Indomethacin/Indocin(Analgetik, Anti Inflamatori)
Ibufropen/motrin (Analgetik, Anti Inflamatori)
Tolmetin sodium/Tolectin(Analgetik Anti Inflamatori)
Naproxsen/naprosin (Analgetik, Anti Inflamatori)
Sulindac/Clinoril (Analgetik, Anti Inflamatori)
Piroxicam/Feldene (Analgetik, Anti Inflamatori)

H. Komplikasi
1. Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya proses granulasi
di bawah kulit yang disebut subcutan nodule
2. ada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot
3. Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli
4. Terjadi splenomegali

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1.

Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien tergantung pada keparahan dan keterlibatan organorgan lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya
eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis
lainnya.
Pengkajian 11 Pola Gordon

1) Pola Persepsi Kesehatan- Pemeliharaan Kesehatan


a) Apakah pernah mengalami sakit pada sendi-sendi?
b) Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya?
c) Riwayat keluarga dengan RA
d) Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun
e) Riwayat infeksi virus, bakteri, parasit dll
2) Pola Nutrisi Metabolik
a)

Jenis, frekuensi, jumlah makanan yang dikonsumsi (makanan yang banyak


mengandung pospor(zat kapur), vitamin dan protein)

b) Riwayat gangguan metabolic


3) Pola Eliminasi
a) Adakah gangguan pada saat BAB dan BAK?
4) Pola Aktivitas dan Latihan
a) Kebiasaan aktivitas sehari-hari sebelum dan sesudah sakit
b) Jenis aktivitas yang dilakukan
c) Rasa sakit/nyeri pada saat melakukan aktivitas
d) Tidak mampu melakukan aktifitas berat
5) Pola Istirahat dan Tidur
a) Apakah ada gangguan tidur?

b) Kebiasaan tidur sehari


c) Terjadi kekakuan selama 1/2-1 jam setelah bangun tidur
d) Adakah rasa nyeri pada saat istirahat dan tidur?
6) .Pola Persepsi Kognitif
a) Adakah nyeri sendi saat digerakan atau istirahat?
7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
a) Adakah perubahan pada bentuk tubuh (deformitas/kaku sendi)?
b) Apakah pasien merasa malu dan minder dengan penyakitnya?
8) Pola Peran dan Hubungan dengan Sesama
a) Bagaimana hubungan dengan keluarga?
b) Apakah ada perubahan peran pada klien?
9) Pola Reproduksi Seksualitas
a) Adakah gangguan seksualitas?
10) Pola Mekanisme Koping dan Toleransi terhadap Stress
a) Adakah perasaan takut, cemas akan penyakit yang diderita?
11) Pola Sistem Kepercayaan
a) Agama yang dianut?
b) Adakah gangguan beribadah?
c) Apakah klien menyerahkan sepenuhnya penyakitnya kepada Tuhan
2. Diagnosa Keperawatan & intervensi
1)

Nyeri berhubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi


cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
Dapat dibuktikan oleh : Keluhan nyeri, ketidaknyamanan, kelelahan, berfokus
pada diri sendiri, Perilaku distraksi/ respons autonomic Perilaku yang bersifat
hati-hati/ melindungi. Hasil yang diharapkan/ kriteria evaluasi pasien akan:

Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol


Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai
kemampuan.
Mengikuti program farmakologis yang diresepkan
Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program
kontrol nyeri.

Intervensi dan Rasional


a.

Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor
yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal (R/ Membantu dalam
menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program

b.

Berikan matras/ kasur keras, bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai
kebutuhan (R/Matras yang lembut/ empuk, bantal yang besar akan mencegah
pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang
sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang
terinflamasi/nyeri)

c.

Tempatkan/ pantau penggunaan bantl, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat,


brace. (R/ Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi
netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat mengurangi
kerusakan pada sendi)

d.

Dorong untuk sering mengubah posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat tidur,
sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang menyentak. (R/
Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi,
mengurangi gerakan/ rasa sakit pada sendi)

e.

Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu
bangun dan/atau pada waktu tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres
sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi,
dan sebagainya. (R/ Panas meningkatkan relaksasi otot, dan mobilitas,
menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada
panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan)

f.
g.

Berikan masase yang lembut (R/meningkatkan relaksasi/ mengurangi nyeri)


Dorong

penggunaan

teknik

manajemen

stres,

misalnya

relaksasi

progresif,sentuhan terapeutik, biofeed back, visualisasi, pedoman imajinasi,


hypnosis diri, dan pengendalian napas. (R/ Meningkatkan relaksasi, memberikan
rasa kontrol dan mungkin meningkatkan kemampuan koping)Libatkan dalam
aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu. (R/ Memfokuskan kembali
perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan
perasaan sehat)

h.

Beri obat sebelum aktivitas/ latihan yang direncanakan sesuai petunjuk. (R/
Meningkatkan realaksasi, mengurangi tegangan otot/ spasme, memudahkan untuk
ikut serta dalam terapi)

i.

Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat) (R/ sebagai


anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan
meningkatkan mobilitas.)

j.

Berikan kompres dingin jika dibutuhkan (R/ Rasa dingin dapat menghilangkan
nyeri dan bengkak selama periode akut)

2.

Gangguan

mobilitas

fisik

berhubungan

dengan

deformitas

skeletal,

nyeri, penurunan kekuatan otot.


Dapat dibuktikan oleh : Keengganan untuk mencoba bergerak/ ketidakmampuan
untuk dengan sendiri bergerak dalam lingkungan fisik. Membatasi rentang gerak,
ketidakseimbangan koordinasi, penurunan kekuatan otot/ kontrol dan massa
( tahap lanjut ). Hasil yang diharapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :
Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur.
Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau
kompensasi bagian tubuh.
Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas
Intervensi dan Rasional:
a.

Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi (R/
Tingkat aktivitas/ latihan tergantung dari perkembangan/ resolusi dari peoses
inflamasi)

b. Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan jadwal aktivitas untuk
memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak
terganmggu.(R/ Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh
fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan
kekuatan)

c.

Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikiqan juga latihan resistif dan
isometris jika memungkinkan (R/ Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi,
kekuatan otot dan stamina umum. Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan
kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi)

d.

Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan/


bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, mis, trapeze (R/
Menghilangkan

tekanan

pada

jaringan

dan

meningkatkan

sirkulasi.

Mempermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Tehnik pemindahan yang


tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit)
e.

Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat, brace (R/
Meningkatkan stabilitas ( mengurangi resiko cidera ) dan memerptahankan posisi
sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor)

f.

Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher. (R/ Mencegah fleksi leher)

g.

Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan
berjalan (R/ Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas)

h.

Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan


pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda. (R/ Menghindari cidera
akibat kecelakaan/ jatuh)

i.

Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi. (R/ Berguna dalam memformulasikan


program latihan/ aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam
mengidentifikasikan alat)

j.

Kolaborasi: Berikan matras busa/ pengubah tekanan. (R/ Menurunkan tekanan


pada jaringan yang mudah pecah untuk mengurangi risiko imobilitas)

k.

Kolaborasi: berikan obat-obatan sesuai indikasi (steroid). (R/ Mungkin


dibutuhkan untuk menekan sistem inflamasi akut).
3. Gangguan Citra Tubuh / Perubahan Penampilan Peran berhubungan dengan
perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan
penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.
Dapat dibuktikan oleh : Perubahan fungsi dari bagian-bagian yang sakit.
Bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada kekuatan masa lalu, dan

penampilan.Perubahan pada gaya hidup/ kemapuan fisik untuk melanjutkan


peran, kehilangan pekerjaan, ketergantungan pada orang terdekat. Perubahan
pada keterlibatan sosial; rasa terisolasi. Perasaan tidak berdaya, putus asa.
Hasil yang diharapkan / kriteria Evaluasi-Pasien akan :
Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk
menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan
keterbatasan.
Menyusun rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi dan Rasional
a.

Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa


depan. (R/Berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/ kesalahan
konsep dan menghadapinya secara langsung)

b.

Diskusikan arti dari kehilangan/ perubahan pada pasien/orang terdekat.


Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien dalam memfungsikan gaya
hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual. (R/Mengidentifikasi bagaimana
penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan
menentukan kebutuhan terhadap intervensi/ konseling lebih lanjut)

c.

Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana orang terdekat menerima


keterbatasan. (R/ Isyarat verbal/non verbal orang terdekat dapat mempunyai
pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri)

d.

Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan. (R/ Nyeri


konstan akan melelahkan, dan perasaan marah dan bermusuhan umum terjadi)

e.

Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu


memperhatikan perubahan. (R/ Dapat menunjukkan emosional ataupun metode
koping maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut)

f.

Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi
perilaku positif yang dapat membantu koping. (R/ Membantu pasien untuk
mempertahankan kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri)

g.

Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal


aktivitas. (Meningkatkan perasaan harga diri, mendorong kemandirian, dan
mendorong berpartisipasi dalam terapi)

h.

Bantu dalam kebutuhan perawatan yang diperlukan.(R/ Mempertahankan


penampilan yang dapat meningkatkan citra diri)

i.

Berikan bantuan positif bila perlu. (R/ Memungkinkan pasien untuk merasa
senang terhadap dirinya sendiri. Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa
percaya diri)

j.

Kolaborasi: Rujuk pada konseling psikiatri, mis: perawat spesialis psikiatri,


psikolog. (R/ Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan selama
berhadapan dengan proses jangka panjang/ ketidakmampuan)

k.

Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan obatobatan peningkat alam perasaan. (R/ Mungkin dibutuhkan pada sat munculnya
depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemapuan koping yang lebih
efektif)
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal,
penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
Dapat dibuktikan oleh : Ketidakmampuan untuk mengatur kegiatan sehari-hari.
Hasil yang diharapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :

Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan


kemampuan individual.
Mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan
perawatan diri.
Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat memenuhi
kebutuhan perawatan diri.
Intervensi dan Rasional:
a.

Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum timbul awitan/ eksaserbasi


penyakit dan potensial perubahan yang sekarang diantisipasi. (R/ Mungkin dapat
melanjutkan aktivitas umum dengan melakukan adaptasi yang diperlukan pada
keterbatasan saat ini).

b.

Pertakhankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan. (R/


Mendukung kemandirian fisik/emosional)

c.

Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi /rencana


untuk modifikasi lingkungan. (R/ Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian,
yang akan meningkatkan harga diri)

d. Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi. (R/ Berguna untuk menentukan
alat bantu untuk memenuhi kebutuhan individual. Mis; memasang kancing,
menggunakan alat bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk
mandi pancuran)
e.

Kolaborasi: Atur evaluasi kesehatan di rumah sebelum pemulangan dengan


evaluasi setelahnya. (R/ Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin
dihadapi karena tingkat kemampuan aktual)

f.

Kolaborasi : atur konsul dengan lembaga lainnya, mis: pelayanan perawatan


rumah, ahli nutrisi. (R/ Mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk
persiapan situasi di rumah)
5. Kebutuhan pembelajaran mengenai penyakit, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/ mengingat, kesalahan
interpretasi informasi.
Dapat dibuktikan oleh : Pertanyaan/ permintaan informasi, pernyataan kesalahan
konsep. Tidak tepat mengikuti instruksi/ terjadinya komplikasi yang dapat
dicegah. Hasil yangdihapkan/ kriteria Evaluasi-Pasien akan :

Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/ prognosis, perawatan.


Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup
yang konsisten dengan mobilitas dan atau pembatasan aktivitas.
Intervensi dan Rasional
a.

Tinjau proses penyakit, prognosis, dan harapan masa depan. (R/ Memberikan
pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi)

b.

Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui


diet,obat-obatan, dan program diet seimbang, l;atihan dan istirahat.(R/ Tujuan
kontrol penyakit adalah untuk menekan inflamasi sendiri/ jaringan lain untuk
mempertahankan fungsi sendi dan mencegah deformitas)

c.

Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis,istirahat,


perawatan pribadi, pemberian obat-obatan, terapi fisik, dan manajemen stres. (R/
Memberikan struktur dan mengurangi ansietas pada waktu menangani proses
penyakit kronis kompleks)

d.

Tekankan

pentingnya

melanjutkan

manajemen

farmakoterapeutik.

(R/

Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung pada ketepatan dosis)


e.

Anjurkan mencerna obat-obatan dengan makanan, susu, atau antasida pada


waktu tidur. (R/ Membatasi irigasi gaster, pengurangan nyeri pada HS akan
meningkatkan tidur dan m,engurangi kekakuan di pagi hari)

f.

Identifikasi efek samping obat-obatan yang merugikan, mis: tinitus, perdarahan


gastrointestinal, dan ruam purpuruik. (R/ Memperpanjang dan memaksimalkan
dosis

aspirin

dapat

mengakibatkan

takar

lajak.

Tinitus

umumnya

mengindikasikan kadar terapeutik darah yang tinggi)


g. Tekankan pentingnya membaca label produk dan mengurangi penggunaan obatobat yang dijual bebas tanpa persetujuan dokter. (R/ Banyak produk mengandung
salisilat tersembunyi yang dapat meningkatkan risiko takar layak obat/ efek
samping yang berbahaya)
h.

Tinjau pentingnya diet yang seimbang dengan makanan yang banyak


mengandung vitamin, protein dan zat besi. (R/ Meningkatkan perasaan sehat
umum dan perbaikan jaringan)

i.

Dorong pasien obesitas untuk menurunkan berat badan dan berikan informasi
penurunan berat badan sesuai kebutuhan. (R/ Pengurangan berat badan akan
mengurangi tekanan pada sendi, terutama pinggul, lutut, pergelangan kaki,
telapak kaki)

j.

Berikan informasi mengenai alat bantu (R/ Mengurangi paksaan untuk


menggunakan sendi dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih
nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan)

k.

Diskusikan tekinik menghemat energi, mis: duduk daripada berdiri untuk


mempersiapkan makanan dan mandi (R/ Mencegah kepenatan, memberikan
kemudahan perawatan diri, dan kemandirian)

l.

Dorong mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada sat istirahat maupun
pada waktu melakukan aktivitas, misalnya menjaga agar sendi tetap meregang ,
tidak fleksi, menggunakan bebat untuk periode yang ditentukan, menempatkan
tangan dekat pada pusat tubuh selama menggunakan, dan bergeser daripada
mengangkat benda jika memungkinkan. ( R: mekanika tubuh yang baik harus
menjadi bagian dari gaya hidup pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri
).

m. Tinjau perlunya inspeksi sering pada kulit dan perawatan kulit lainnya dibawah
bebat, gips, alat penyokong. Tunjukkan pemberian bantalan yang tepat. ( R:
mengurangi resiko iritasi/ kerusakan kulit )
n.

Diskusikan pentingnya obat obatan lanjutan/ pemeriksaan laboratorium, mis:


LED, Kadar salisilat, PT. ( R; Terapi obat obatan membutuhkan pengkajian/
perbaikan yang terus menerus untuk menjamin efek optimal dan mencegah takar
lajak, efek samping yang berbahaya.

o.

Berikan konseling seksual sesuai kebutuhan ( R: Informasi mengenai posisiposisi yang berbeda dan tehnik atau pilihan lain untuk pemenuhan seksual
mungkin dapat meningkatkan hubungan pribadi dan perasaan harga diri/ percaya
diri.).

p.

Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: yayasan arthritis ( bila ada). (R:


bantuan/ dukungan dari oranmg lain untuk meningkatkan pemulihan maksimal).

REFERENSI
Hollmann DB. Arthritis & musculoskeletal disorders. In: Tierney LM, McPhee
Papadakis MA (Eds): Current Medical Diagnosis & Treatment, 34 th ed
Appleton & Lange, International Edition, Connecticut 2005, 729-32.
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta
Doenges E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta
Smeltzer, Suzzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. .Jakarta:
EGC.
Marilynn E. Doenges dkk. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta : EGC,
1999. EGC. 2002
Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 jilik 2. Jakarta
Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000.
Carpenito, Lynda Juall. Diagnosa Keperawatan. Jakarata : EGC, 1999.
http://nursingbegin.com/askep-artritis-reumatoid/
http://nurse87.wordpress.com/2009/12/12/asuhan-keperawatan-rheumatoidartritis/