Sie sind auf Seite 1von 16

PENGARUH VAKSINASI

TERHADAP KEKEBALAN TUBUH BAYI

Oleh :
Rahmatiah,S.Si,M.Si
Widyaiswara LPMP SulSel

tia_psdp@yahoo.com

[1 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruhvaksinasiterhadapkekebalantubuh
bayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

Daftar Isi
Abstrak....................................................................................................................................................3
Pendahuluan...........................................................................................................................................4
A.

PengertianVaksin.......................................................................................................................4

B.

Apaituvaksindanvaksinasi?.....................................................................................................4

C.

Jenisjenisvaksinasi....................................................................................................................4

D.

Vaksindansistemkekebalantubuh...........................................................................................4

PembahasanMateri................................................................................................................................6
A.

PentingnyaVaksinasi..................................................................................................................6

B.

BahanPenyusunVaksin.............................................................................................................8

C.

Kekebalantubuhyangterbentuksetelahdivaksinasi................................................................9

D.

Penelitiantentangkegagalanimunisasidanvaksinyangsetengahsetengah.........................13

E.

Keberhasilanvaksinmemusnahkancacar[smallpox]dibumi.................................................13

F.

DukungImunisasiPolioPemerintah........................................................................................13

G.

Efekyangtimbulsetelahimunisasi..........................................................................................15

Simpulan...............................................................................................................................................16
Referensi..............................................................................................................................................16

[2 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruhvaksinasiterhadapkekebalantubuh
bayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

Abstrak

Vaksinasi tidak menjamin kekebalan. Kekebalan alami terjadi hanya setelah seseorang pulih
dari penyakit yang sebenarnya. Selama sakit, mikroorganisme biasanya harus melewati banyak sistem
alami dalam pertahanan kekebalan tubuh hidung, tenggorokan, paru-paru, saluran pencernaan dan
jaringan getah bening sebelum mencapai aliran darah. Seperti halnya mikroorganisme memicu banyak
peristiwa biologis yang penting dalam membangun kekebalan alami. Ketika anak mendapat penyakit
baru, ia mungkin merasa sakit selama beberapa hari, lalu ia akan sembuh. Satu-satunya perbedaan
pada vaksinasi adalah anda melakukannya secara buatan, dengan cara yang lebih aman.
Hal ini karena sebagian besar penyakit tidak memberikan kesempatan untuk hidup di luar
serangan pertama. Pikirkan tentang penyakit seperti tetanus, cacar dan difteri. Jutaan orang di seluruh
dunia meninggal karena penyakit yang ditakuti ini sebelum vaksin dikembangkan. Penyakit lain telah
menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh individu yang masih hidup. Apakah Anda ingin
mengambil kesempatan kehilangan hidup atau menjadi cacat hanya untuk mencoba cara alami

Kata Kunci : Vaksinasi, kekebalan alami, kekebalan buatan,penyakit

Abstract

Vaccination does not guarantee immunity. Natural immunity occurs only after a person
recovers from the actual disease. During the illness, the microorganisms usually have to pass many
natural systems in the body's immune defenses nose, throat, lungs, gastrointestinal tract and lymph
tissue before it reaches the bloodstream. As well as microorganisms triggers many biological events
that are important in building a natural immunity. When a child gets a new disease, he may feel sore
for a few days, then he will be cured. The only difference is that you do vaccination artificially, with a
more secure way.

This is because most diseases are not giving a chance to live beyond the first attack. Think
about diseases such as tetanus, measles and diphtheria. Millions of people around the world die from
this dreaded disease before a vaccine was developed. Other diseases have caused permanent damage
to the body of individuals who are still alive. Do you want to take the chance of losing life or become
disabled just to try the 'natural way'

Keywords : Vaccination, natural immunity, artificial immunity, disease

[3 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruhvaksinasiterhadapkekebalantubuh
bayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

Pendahuluan

A. Pengertian Vaksin
Vaksin adalah antigenik yang diberikan kepada anak atau orang dewasa yang bertujuan untuk
merangsang atau menghasilkan system imun tubuh terhadap penyakit tertentu sehingga ketika anak
terpapar suatu penyakit maka vaksin akan bekerja untuk mengurangi pengaruh dari serangan tersebut
atau bahkan melindunginya secara total sehingga anak kebal terhadap penyakit tertentu.
Vaksinasi adalah aktifitas yang tidak asing lagi pada kalangan ibu-ibu yang memiliki bayi atau balita.
Kegiatan ini sesungguhnya adalah memberikan suatu zat tertentu pada tubuh si anak baik secara oral
atau pun injeksi. Tujuan dari vaksinasi adalah pembentukan kekebalan tubuh si anak bayi/balita sesuai
dengan vaksin yang disuplai.

B. Apa itu vaksin dan vaksinasi?


Vaksin adalah sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh
terhadap virus. Terbuat dari virus yag telah dimatikan atau dilemahkan dengan menggunakan bahanbahan tambahan lainnya seperti formalaldehid, thymerosal dan lainnya. Sedangkan vaksinasi adalah
suatu usaha memberikan vaksin tertentu kedalam tubuh untuk menghasilkan sistem kekebalan tubuh
terhadap penyakit /virus tersebut.

C. Jenisjenis vaksinasi
Jenis-jenis vaksinasi yang ada antara lain vaksin terhadap penyakit hepatitis, polio, Rubella,
BCG, DPT, Measles Mumps-Rubella (MMR) cacar air dan jenis penyakit lainnya seperti influenza.
Di Indonesia sendiri praktek vaksinasi yang hampir selalu dilakukan pada bayi dan balita adalah
Hepatitis B, BCG, Polio dan DPT. Selebihnya seperti vaksinasi MMR adalah bersifat tidak wajib.
Ada pun vaksinasi terhadap penyakit cacar air (smallpox) termasuk vaksinasi yang sudah tidak
dilakukan lagi di Indonesia.

D. Vaksin dan sistem kekebalan tubuh


Pemberian vaksin dilakukan dalam rangka untuk memproduksi sistem immune (kekebalan
tubuh) seseorang terhadap suatu penyakit. Berdasarkan teori antibody, ketika benda asing masuk
seperti virus dan bakteri ke dalam tubuh manusia, maka tubuh akan menandai dan merekamnya
sebagai suatu benda asing. Kemudian tubuh akan membuat perlawanan terhadap benda asing tersebut
dengan membentuk yang namanya antibody terhadap benda asing tersebut. Antibodi yang dibentuk
bersifat spesifik yang akan berfungsi pada saat tubuh kembali terekspos dengan benda asing tersebut.
Pemberian vaksin pada bayi dikenal dengan istiah imunisasi dimana imunisasi merupakan
pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh
agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi

[4 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruhvaksinasiterhadapkekebalantubuh
bayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan
memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit
lain diperlukan imunisasi lainnya.
Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh
mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya.
Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap
terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak.
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka
penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian
pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B,
campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.
Jenis Imunisasi ada 2, yaitu pasif dan aktif. Imunisasi pasif dilakukan dengan memasukkan
antibodi yg berasal dari luar tubuh, misal dari ibu ke janin melalui plasenta atau dari luar.
Contoh imunisasi pasif lainnya adalah ASI yang mengandung banyak antibodi. Atau suntikan
imunoglobulin anti hep B. Sifat imunisasi pasif ini adalah temporer atau sementara karena misalnya
ASI, tidak mengandung antigen yang bisa merangsang pembentukan antibodi dalam tubuh bayi.
Sedang imunisasi aktif kita kenal dengan vaksinasi. Vaksinasi adalah persiapan biologis untuk
meningkatkan kekebalan tubuh (manusia/hewan) terhadap suatu penyakit. Biasanya dilakukan dengan
cara menginduksi (menyuntikkan) kuman, virus atau mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah
dilemahkan atau mati. Agen atau mikroorganisme (virus atau bakteri) yang dimasukkan dalam tubuh
melalui vaksinasi akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali benda asing yang
masuk, menghancurkan dan mengingatnya.

Dari uraian singkat tersebut perlu dibahas mengenai:

1. Apakah vaksinasi memberikan kekebalan pada balita terhadap penyakit

2. Bahan-bahan apa saja yang digunakan untuk membuat vaksin?

3. Apakah tubuh akan kebal terhadap penyakit tertentu setelah bayi mendapatkan vaksinasi?

[5 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruhvaksinasiterhadapkekebalantubuh
bayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

Pembahasan Materi

A. Pentingnya Vaksinasi
Beberapa pihak menganggap bayi tidak perlu divaksin karena sudah memiliki antibodi alami.
Tapi keputusan untuk vaksin bayi berpulang lagi pada orangtuanya, apakah anaknya mau divaksin
atau tidak. Sebenarnya perlukah bayi divaksin?"Sangat perlu karena sudah terbukti secara medis. Ada
penelitian yang menunjukkan kalau zaman dulu banyak kasus Polio, Hepatitis, Campak dan DPT, tapi
berkat imunisasi secara bertahap dan lengkap, penyakit ini jadi berkurang jumlahnya," ujar dr Rifan
Fauzie, SpA dari RSAB Harapan Kita Jakarta, saat dihubungi detikHealth, Rabu (20/6/2012).
Di Indonesia, mitos-mitos seputar vaksin masih banyak beredar luas di masyarakat. Kondisi ini
merupakan salah satu penghalang yang menyulitkan dokter dalam memberikan vaksin pada bayi atau
anak.Padahal imunisasi adalah salah satu cara yang paling tepat untuk mencegah berbagai penyakit
berbahaya, kecacatan dan kematian terutama pada bayi yang belum memiliki sistem kekebalan tubuh
yang baik.
"Kalau vaksin yang bisa mencegah 100 persen memang nggak ada, biasanya perlindungannya
sekitar 80-95 persen. Tapi efektif jika sudah diberikan pada anak," ujar dr Rifan yang juga anggota
IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia),dr Rifan mencontohkan negara seperti Amerika Serikat saja
yang anak-anaknya sudah mendapatkan gizi atau nutrisi yang baik tetap memerlukan imunisasi. Ini
karena penyakit itu bisa muncul dari lingkungan, kekebalan tubuh anak serta patogenisitas atau
keganasan kuman.
Sementara Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi, Sekretaris Satgas Imunisasi PP IDAI, dalam
penjelasannya ke detikHealth menuturkan dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna
Semua negara telah setuju menyatakan bahwa imunisasi bermanfaat untuk menurunkan angka
kesakitan, cacat dan kematian. Karenanya imunisasi harus dipertahankan terus agar penyakit yang
sudah tidak ada tidak muncul lagi.Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang imunisasi, justru
semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90 persen yang artinya lebih dari
90 persen anak atau bayi telah mendapat imunisasi.
Selain itu imunisasi juga menjadi bentuk perlindungan yang praktis karena sangat cepat
meningkatkan kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak. Dalam waktu 2-4 minggu setelah imunisasi
mulai terbentuk kekebalan untuk melawan kuman. Ada pro dan kontra di masyarakat tentang perlunya
bayi mendapat imunisasi.

[6 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruhvaksinasiterhadapkekebalantubuh
bayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

Ada beberapa alasan yang menyebabkan orang tua ragu atau takut untuk memberikan vaksin
pada bayinya :

Vaksin berisi virus yang dilemahkan sehingga dikuatirkan akan memicu penyakit

Vaksin dianggap sebagai zat beracun yang justru membuat bayi tidak memiliki kekebalan
alami

Efek samping dari pemberian vaksin

Tafsir agama

Vaksin berisi virus yang dilemahkan yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh dengan tujuan
agar tubuh dapat membuat antibodi terhadap virus tersebut sehingga ketika suatu saat terinfeksi virus
maka tubuh sudah memiliki antibodinya sehingga dapat meminimalkan bahkan menangkal infeksi
dari virus tersebut.
Virus sendiri jika menginfeksi seseorang, sebagian besar dapat sembuh dengan sendirinya jika
orang terebut memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Daya tahan tubuh yang kuat didapat dari pola
makan yang sehat, dan pola hidup yang benar
Manfaat vaksin bagi bayi :

Perlindungan yang diberikan vaksin pada tubuh memang tidak 100%, perlindungannya sekitar
80 90% tapi masih lebih baik daripada tidak ada perlindungan sama sekali.

Imunisasi terbukti bermanfaat untuk menurunkan angka kesakitan, cacat dan kematian.

Karenanya imunisasi harus dipertahankan terus agar penyakit yang sudah tidak ada tidak
muncul lagi.

Imunisasi juga menjadi bentuk perlindungan yang praktis karena sangat cepat meningkatkan
kekebalan spesifik tubuh bayi dan anak. Dalam waktu 2-4 minggu setelah imunisasi mulai
terbentuk kekebalan untuk melawan kuman.
Bayi memilki kekebalan tubuh yang belum baik, dapat menjadi lebih kuat jika mendapat ASI

yang cukup dari ibunya, madu, dan makanan sehat lainnya. Pemberian vaksin pada bayi bertujuan
untuk memperkuat daya tahan tubuhnya karena beberapa virus dapat menyebabkan kerusakan fatal
pada organ tubuh.
Imunisasi memang memiliki efek samping tapi mana yang lebih berbahaya efek samping yang
ditimbulkan oleh imunisasi atau efek samping yang terjadi jika terinfeksi oleh virus. Pilihan ada
ditangan orangtua untuk memutuskan akan memberikan vaksin atau tidak pada anaknya.
Mungkin Anda bertanya-tanya mengapa orang mendapatkan vaksinasi jika mereka bisa mendapatkan
kekebalan dengan cara alami?, hal ini karena sebagian besar penyakit tidak memberikan kesempatan
untuk hidup di luar serangan pertama. Pikirkan tentang penyakit seperti tetanus, cacar dan difteri,
jutaan orang di seluruh dunia meninggal karena penyakit yang ditakuti ini sebelum vaksin
dikembangkan. Penyakit lain telah menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh individu yang
masih hidup.

[7 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruhvaksinasiterhadapkekebalantubuh
bayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

Apakah Anda ingin mengambil kesempatan kehilangan hidup atau menjadi cacat hanya untuk
mencoba cara alami? Hari ini, kita memiliki vaksin terhadap penyakit fatal seperti rubella, polio,
tetanus dan pertusis. Upaya juga untuk mengembangkan vaksin pertama melawan flu babi yang
ditakuti. Ketika Anda mendapatkan vaksin, maka anda akan mendapat perlindungan terhadap
sejumlah penyakit dengan cara yang aman dan nyaman. Ini adalah salah satu keajaiban ilmu
pengetahuan modern.
Meskipun vaksin memiliki tarif efektivitas yang sangat tinggi, mereka tidak benar-benar efektif
untuk 100% dari orang-orang yang menerima mereka. Misalnya, serangkaian penuh vaksin campak
akan melindungi 99 dari 100 anak-anak dari penyakit campak dan polio akan melindungi 99 dari 100
anak-anak dari penyakit polio. Ini berarti ketika ada wabah penyakit, jumlah yang sangat kecil untuk
orang dengan vaksin tidak bekerja masih mungkin dapat terserang penyakit. Karena hampir semua
anak-anak kita diimunisasi dan hanya sedikit yang tidak, itu bisa menjadi kasus yang selama epidemi
sebagian besar kasus terjadi di kalangan anak-anak yang diimunisasi. Namun, kenyataannya tetap
bahwa mereka yang belum menerima vaksin jauh lebih mungkin untuk menangkap penyakit.

B. Bahan Penyusun Vaksin


Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma
(Persero) Bandung. Dengan maraknya kelompok anti-vaksin yang takut bersinggungan dengan babi,
Bio Farma pun menjawab ketakutan tersebut.Vaksinasi merupakan pemberian dalam jumlah kecil
mikroba yang sudah di-inaktivasi atau dilemahkan kepada orang sehat dengan tujuan untuk
merangsang

tubuh

orang

tersebut

membentuk

antibodi

(kekebalan)

terhadap

mikroba

tersebut."Masyarakat tidak perlu takut dengan adanya isu bahan dasar vaksin adalah babi, karena itu
tidak benar adanya. Vaksin terbukti dapat mencegah penyebaran penyakit menular dan berbahaya.
Hal ini terbukti dengan musnahnya penyakit cacar api dari muka dunia dikarenakan keberhasilan
program imunisasi cacar api pada tahun 1978," jelas dr Novilia Sjafri Bachtiar, M.Kes, Kepala Bagian
Evaluasi Produk PT Bio Farma (Persero), saat dihubungi detikHealth,Rabu (20/6/2012).
Kementerian Kesehatan dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun saat ini terus melakukan
sosialisasi ke berbagai daerah yang memiliki cakupan imunisasi yang masih rendah.dr Novilia
menegaskan tidak benar bahwa bahan dasar pembuatan vaksin dari babi. Vaksin terdiri dari virus dan
bakteri yang dilemahkan. Vaksin yang diedarkan kepada masyarakat pun sudah melalui proses yang
ketat dari segi kualitas, efektifitas dan keamanan vaksin. Di dalam negeri pengawasan dilakukan oleh
badan POM dan untuk ekspor dilakukan penilaian kualitas dan mutu vaksin oleh World Health
Organization (WHO). "Perihal kehalalan vaksin dipertanyakan sejak tereksposnya penggunaan tripsin
(enzim babi) pada vaksin polio. Untuk itu sudah ada fatwa MUI bahwa penggunaan vaksin OPV (Oral

[8 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruhvaksinasiterhadapkekebalantubuh
bayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

Polio Vaccine) maupun IPV (Inactivated Poliovirus Vaccines atau vaksin polio khusus)
diperbolehkan, bisa dilihat pada website MUI," lanjut dr Novilia.
Pembuatan semua vaksin di Indonesia sendiri dilakukan oleh PT Bio Farma (Persero). Kelima
vaksin dasar lengkap yakni Hepatitis B, Imunisasi BCG, Polio, Imunisasi DPT, Imunisasi Campak
juga

dibuat

Bio

Farma

dan

sudah

dibolehkan

Majelis

Ulama

Indonesia

(MUI).

Dari pihak PT Bio Farma (Persero) sendiri menekankan ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi,
yaitu:
1. Tripsin bukan bahan pembuat vaksin, tapi untuk harvest sel (panen) yang digunakan untuk
media virus. Tripsin merupakan bahan untuk melepaskan sel dari tempat merekatnya virus
pada media virus.
2. Tripsin kemudian dibuang dan ada proses pencucian, dan kemudian pelarutan dengan air
dalam jumlah yang sangat besar.
3. Pada produk final tidak ditemukan unsur tripsin."Untuk vaksin lainnya kita tidak
menggunakan tripsin seperti polio. Dengan demikian, bisa dijelaskan vaksin adalah suatu
medikasi yang sifatnya urgent, bukan pilihan seperti makanan," tutup dr Novilia.Sebagai
informasi, sejak tahun 1997 sampai saat ini, PT Bio Farma pun telah mengekspor produknya
ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam seperti Iran,
Pakistan, Malaysia, Mesir dan negara lainnya seperti India, Thailand, Afrika Selatan dan
lainnya.

C. Kekebalan tubuh yang terbentuk setelah divaksinasi


Vaksin pada dasarnya bertujuan membantu tubuh menghasilkan antibodi dan melindungi
terhadap penyakit. Namun beberapa kalangan menolak menerima vaksin atau memberikan vaksin
pada anaknya karena alasan bahan dasar vaksin adalah babi. Benarkah demikian? Vaksin adalah
bakteri atau virus yang telah dilemahkan, yang dimasukkan ke dalam tubuh baik secara injeksi
ataupun oral yang berguna untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh.Saat ini lebih dari 190
negara secara terus menerus melakukan imunisasi untuk bayi dan balita. Di negara tersebut terdapat
institusi resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin, yang beranggotakan dokter ahli penyakit infeksi,
imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, biostatistika dan lain-lain.
Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang imunisasi, justru semua negara berusaha
meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90 persen (artinya lebih dari 90 persen anak atau bayi
telah mendapat imunisasi). Tapi di berbagai negara, ada saja kelompok-kelompok tertentu yang
menentang pemberian vaksin. Salah satunya karena vaksin dianggap berbahan dasar babi.
Tidak benar bahwa bahan dasar pembuatan vaksin hanya dari babi. Vaksin terdiri dari virus
dan bakteri yang dilemahkan. Vaksin yang diedarkan kepada masyarakat sudah melalui proses yang

[9 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruhvaksinasiterhadapkekebalantubuh
bayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

ketat dari segi kualitas, efektifitas dan keamanan vaksin. Di dalam negeri dilakukan oleh badan POM
dan untuk ekspor dilakukan penilaian kualitas dan mutu vaksin oleh World Health Organization
(WHO), jelas dr Novilia Sjafri Bachtiar, M.Kes, Kepala Bagian Evaluasi Produk PT Bio Farma
(Persero), saat dihubungi detikHealth, Rabu (20/6/2012).
Dalam pembuatan vaksin, unsur binatang termasuk babi sering dipakai sebagai media untuk
membiakkan bibit vaksin dari kuman yang dilemahkan. Media ini berfungsi sebagai pemotong rantai
kimia tertentu, sehingga bersinggungan dengan bahan baku pembuatan vaksin. Namun dengan
berkembangnya teknologi, pembuatan vaksin pun sudah tidak lagi dibiakkan pada embrio anjing, babi
atau manusia.
Pendapat tersebut bersumber dari tulisan 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Teknologi
pembuatan vaksin telah berkembang sangat pesat, sehingga sangat jauh berbeda dengan pembuatan
vaksin pada tahun 1950an. Saat ini, tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio
anjing, babi atau manusia, tulis Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi, Sekretaris Satgas Imunisasi PP
IDAI, dalam penjelasannya pada detikHealth.
Menurut Dr. Soedjatmiko, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15-20 tahun lalu,
proses panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan
induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi induk bibit vaksin tersebut kemudian dicuci dan dibersihkan
total dengan cara ultrafilterisasi ratusan kali, sehingga vaksin yang diberikan kepada anak tidak
mengandung tripsin babi. Hal ini dapat dibuktikan dengan pemeriksaan khusus.
Majelis Ulama Indonesia menyatakan bahwa vaksin tersebut dapat dipakai, selama belum ada
penggantinya. Contoh vaksin meningokokus haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah
haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus, lanjut Dr. Soedjatmiko. Lagipula, vaksin
yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, pabrik
vaksin BUMN yang telah berpengalaman selama 120 tahun, dengan mayoritas karyawannya adalah
muslim.
Proses penelitian dan pembuatannya pun mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di
BPOM dan WHO. Dan sejak tahun 1997 sampai saat ini, PT Bio Farma pun telah mengekspor
produknya ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam seperti
Iran, Pakistan, Malaysia, Mesir dan negara lainnya seperti India, Thailand, Afrika Selatan dan lainnya.
Vaksin terbagi menjadi dua, yaitu vaksin mati dan vaksin hidup. Vaksin mati, berasal dari virus
atau bakteri yang dimatikan. Jenis vaksin ini menghasilkan antibodi pada tubuh karena ada antigen
didalamnya. Tidak membahayakan janin jika dilakukan pada ibu hamil. Vaksin hidup, berasal dari
virus atau bakteri yang dilemahkan. Virus ini dapat berpotensi menyebabkan penyakit itu sendiri,
seperti rubella atau tetanus.
Vaksinasi tidak menjamin kekebalan. Kekebalan alami terjadi hanya setelah seseorang pulih
dari penyakit yang sebenarnya. Selama sakit, mikroorganisme biasanya harus melewati banyak sistem

[10 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruh
vaksinasiterhadapkekebalantubuhbayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

alami dalam pertahanan kekebalan tubuh hidung, tenggorokan, paru-paru, saluran pencernaan dan
jaringan getah bening sebelum mencapai aliran darah. Seperti halnya mikroorganisme memicu banyak
peristiwa biologis yang penting dalam membangun kekebalan alami. Ketika anak mendapat penyakit
baru, ia mungkin merasa sakit selama beberapa hari, lalu ia akan sembuh. Satu-satunya perbedaan
pada vaksinasi adalah Anda melakukannya secara buatan, dengan cara yang lebih aman.
Vaksin atau imunisasi yang disarankan.

Ada beberapa vaksin atau imunisasi yang disarankan untuk diberikan pada ibu hamil, bayi dan
anak-anak, diantaranya :
1. DTaP-IPV-Hib (Difteri, Tetanus, Pertusis aseluler, Polio dan Hib).

DTaP-IPV-Hib (Difteri, Tetanus, Pertusis aseluler, Polio dan Hib / Haemophilus influenzae
type B) adalah vaksin kombinasi yang diberikan dalam satu jarum. Ini adalah perlindungan
terbaik anak Anda dapat memiliki terhadap 5 penyakit ini. Vaksin kombinasi yang sangat
efektif dan tidak menimbulkan efek samping lebih banyak daripada jika diberikan oleh jarum
terpisah. Anak-anak harus menerima vaksin atau imunisasi ini pada usia 2 bulan untuk
membantu melindungi mereka terhadap penyakit ini. Biasanya diberikan pada saat yang sama
dengan vaksin pneumokokus dan meningokokus. Imunisasi DPT / DtaP-IPV-Hib diberikan
dalam seri untuk membantu membangun kekebalan yang kuat terhadap penyakit ini. Anakanak menerima dosis pada: 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 18 bulan, 4-6 tahun (kecuali Hib).
Perlindungan yang terbaik adalah jika anak Anda memiliki seluruh seri pada usia yang
dianjurkan. Tapi itu tidak pernah terlambat untuk memulai. Boosters tetanus dan difteri
dianjurkan setiap 10 tahun.
2. Hepatitis B.Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati. Kebanyakan orang yang terinfeksi
dapat sembuh sepenuhnya. Namun, hingga 10% dari anak-anak dan orang dewasa yang
terinfeksi kronis (seumur hidup) hepatitis B. Vaksin Hepatitis B diberikan sebanyak tiga kali,
yaitu saat bayi lahir, berumur satu dan enam bulan. Vaksin ini efektif mencegah terjadinya
penyakit hepatitis.
3. Human Papillomavirus (HPV) adalah infeksi yang sangat umum dan ditularkan melalui
kontak seksual. Diperkirakan bahwa lebih dari 70% orang akan memiliki minimal satu infeksi
HPV genital dalam hidup mereka. Beberapa jenis infeksi HPV menyebabkan hampir semua
kasus kanker serviks. Vaksin HPV paling efektif apabila diberikan pada perempuan sebelum
mereka mulai aktivitas seksual dan risiko eksposur terhadap HPV. Maka disarankan kepada
pasangan yang akan menikah untuk melakukan serangkaian imunisasi HPV untuk mencegah
kanker serviks. Selanjutnya imunisasi ini diberikan pada saat trimester pertama kehamilan
atau anda juga bisa berkonsultasi dengan bidan atau dokter kandungan mengenai imunisasi
apa saja yang harus dilakukan saat hamil.

[11 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruh
vaksinasiterhadapkekebalantubuhbayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

4. BCGImunisasi ini Bacillus Calmette Guerin, adalah jenis imunisasi yang diberikan pada bayi
untuk mencegah penyakit TBC, penyakit ini sering menyerang anak dibawah usia 12 tahun.
Oleh sebab itu imunisasi BCG sangat diperlukan. Vaksin atau imunisasi ini juga mengurangi
resiko tuberkulosis berat seperti meningitis TB (radang selaput otak yang disebabkan oleh
bakteri TB). Imunisasi BCG biasanya diberikan pada bayi ketika usianya 2 3 bulan,
imunisasi ini dilakukan hanya satu kali karena imunisasi ini berisi kuman atau bakteri hidup
dan membuat antibodi yang dihasilkan cukup tinggi.
5. Campak, Virus Campak mudah menjangkiti anak-anak, terutama anak dibawah usia lima
tahun. Campak biasanya akan memicu komplikasi berupa pnemonia, radang telinga dan
radang otak, bahkan banyak anak yang harus cacat seumur hidup akibat campak, seperti
mengalami kebutaan atau tuli.Maka imunisasi campak sangat penting diberikan pada anak
sebagai tindakan pencegahan, biasanya diberikan saat anak berusia 9 bulan dan 6 tahun,
namun apabila pada usia 15 bulan si kecil sudah mendapatkan vaksin MMR, Campak 2
tidak diberikan. Vaksinasi campak dilakukan saat usia bayi 9 bulan dikarenakan antibodi
bawaan dari ibu (imunisasi pasif) masih ada hingga usia 9 bulan, dan setelah itu menghilang,
sehingga perlu vaksinasi.

Imunisasi tidak menjamin 100%.

Tidak ada yang obat yang bisa menjamin 100% kesembuhan dan menjamin 100% pencegahan.
Semua tergantung banyak faktor, salah satunya adalah daya tahan tubuh kita. Begitu juga dengan
imunisasi, sehingga beberapa orang mempertanyakan imunisasi hanya karena beberapa kasus
penyakit campak, padahal penderita sudah diimunisasi campak.

Semua obat pasti ada efek sampingnya

Bahkan madu, habbatussauda, dan bekam juga ada efek sampingnya, hanya saja kita bisa
menghilangkan atau meminimalkannya jika sesuai aturan. Begitu juga dengan imunisasi yang dikenal
dengan istilah KIPI [Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi]. Misalnya, sedikit demam, dan ini semua sudah
dijelaskan dan ada penanganannya.

Anak yang tidak imunisasi lebih sehat?

Ada pengakuan bahwa anaknya yang tidak diimunisasi lebih sehat dan pintar dari yang
diimunisasi. Maka kita jawab, bisa jadi itu karena faktor-faktor lain yang tidak terkait dengan
imunisasi, dan perlu dibuktikan. Banyak orang-orang miskin dan kumuh anaknya lebih sehat dan
lebih pintar dibandingkan mereka yang kaya dan pola hidupnya sehat. Apakah kita akan mengatakan,
jadi orang miskin saja supaya lebih sehat? Kita tahu sebagian besar anak Indonesia diimunisasi dan
lihatlah mereka semuanya banyak yang pintar-pintar dan menjuarai berbagai olimpiade tingkat

[12 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruh
vaksinasiterhadapkekebalantubuhbayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

internasional. Apakah kita kemudian akan mengatakan, ikut imunisasi saja supaya bisa menjuarai
olimpiade tingkat internasional? sehingga, jangan karena satu dua kasus, kemudian kita
menyamakannya pada semua kasus.

D. Penelitian tentang kegagalan imunisasi dan vaksin yang setengah


setengah
Umumnya penelitian-penelitian ini adalah penelitian tahun lama yang kurang bisa dipercaya,

mereka belum memahami benar teori imunologi yang terus berkembang. Kemudian tahun 2000-an
muncul kembali yaitu peneliti Wakefield dan Montgomerry yang mengajukan laporan penelitian
adanya hubungan vaksin MMR dengan autism pada anak. Ternyata penelitian ini tidak menggunakan
paradigm epidemiologik, tetapi paradigma imunologi atau biomolekuler yang belum memberikan
bukti shahih. Bukti juga masih sepotong-potong. Baik pengadilan London maupun redaksi majalah
yang memuat tulisan ini akhirnya menyesal dan menyatakan bukti yang diajukan lemah dan kabur.
[Pedoman Imunisasi di Indonesia hal 366-367].

E. Keberhasilan vaksin memusnahkan cacar [smallpox] di bumi


Bukan cacar air [varicella] yang kami maksud, tetapi cacar smallpox. Yang sebelumnya
mewabah di berbagai negara dan sekarang hampir semua negara menyatakan negaranya sudah tidak
ada lagi penyakit ini.
Following their jubilant announcement in 1980 that smallpox had finally been eradicated from the
world, the World Health Organization lobbied for the numbers of laboratories holding samples of the
virus to be reduced. In 1984 it was agreed that smallpox be kept in only two WHO approved
laboratories, in Russia and America
Setelah pengumuman gembira mereka pada tahun 1980 bahwa cacar akhirnya telah diberantas dari
bumi, WHO melobi agar jumlah laboratorium yang memegang sampel virus bisa dikurangi. Pada
tahun 1984, disepakati bahwa (virus) cacar hanya disimpan di dua laboratorium yang
disetujui WHO, yaitu di Rusia dan Amerika.
Lihat bagaimana dua negara adidaya saat itu yang saling berperang berusaha mendapatkan ilmu
ini dengan menyimpan bibit penyakit tersebut. Jika ini hanya main-main dan bohong belaka, mengapa
harus diperebutkan oleh banyak negara dan akhirnya dibatasi dua Negara saja. Lihat juga karena
vaksinlah yang menyelamatkan dunia dari wabah saat itu, dengan izin Allah Taala.

F. Dukung Imunisasi Polio Pemerintah


Kita tidak boleh memaksa, kita hanya bisa mengarahkan. Sama dengan wabah cacar, maka
polio juga menjadi sasaran pemusnahan di muka bumi. Oleh karena itu, semua orang harus ikut serta

sehingga virus polio bisa musnah di muka bumi ini. Jika ada beberapa orang saja yang masih

[13 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruh
vaksinasiterhadapkekebalantubuhbayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

membawa virus ini kemudian menyebar, maka program ini akan gagal. Di Indonesia pemerintah
mencanangkannya dengan Indonesia Bebas Polio. Mengingat penyakit in sangat berbahaya dengan
kemunculan gejala yang cepat.
Mungkin kita harus belajar dari kasus yang terjadi di Belanda. Di sana, ada daerah-daerah yang
karena faktor religius, mereka menolak untuk divaksin, biasa disebut "Bible Belt", mereka tersebar di
beberapa daerah di Belanda. Akibatnya, terjadi outbreak (wabah) virus Measles antara tahun 19992000 dengan lebih dari 3000 kasus virus Measles dan setelah diteliti ternyata terjadi di daerah-daerah
yang didominasi oleh orang-orang Bible Belt. Padahal kita tahu, sejak vaksin Measles berhasil
ditemukan tahun 1965-an [sekarang vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella)], kasus Measles sudah
hampir tidak ada lagi.
Maka ini menjadi pelajaran bagi kita, ketika daya tahan tubuh kita tidak memiliki pertahanan
tubuh spesifik untuk virus tertentu, bisa jadi kita terjangkit virus tersebut dan menularkannya kepada
orang lain bahkan bisa jadi menjadi wabah. Karena bisa jadi, untuk membangkitkan daya tahan
spesifik terhadap serangan virus tertentu yang berbahaya, sistem imunitas kita kalah cepat dengan
serangan virusnya, sehingga bisa barakibat fatal. Dan inilah yang sebenarnya bisa dicegah dengan
imunisasi. Itulah mengapa pemerintah sangat ingin agar imunisasi bisa mencakup hampir 100% anak,
agar setiap orang mempunyai daya tahan tubuh spesifik terhadap virus tersebut. [dua paragraf di atas
adalah tambahan dari editor dr. Muhammad Saifudin Hakim, Jazahumullahu khair atas tambahan
ilmunya]
Keberhasilan teori dimana teori tersebut menjadi dasar teori imunisasi. Imunisasi dibangun di
atas teori sistem imunitas (sistem pertahanan tubuh) dengan istilah-itilah yang mungkin pernah
didengar seperti antibodi, immunoglubulin, sel-B, sel-T, antigen, dan lain-lain. Teori inilah yang
melandasi ilmu kedokteran barat yang saat ini digunakan oleh sebagian besar masyarakat dunia. Dan
sudah terbukti.
Bagaimanakah sebuah obat penekan sistem imunitas bekerja seperti kortikosteroid, bagaimana
obat-obat yang mampu meningkatkan sistem imun. Bahkan habbatussauda pun diteliti dan sudah ada
jurnal kedoktean resmi yang menyatakan bahwa habbatussauda dapat meningkatkan sistem imun.
Semua dibangun di atas teori ini. Dan masih banyak lagi, misalnya vaksin bisa ular. Bagaimana
seorang yang digigit ular berbisa kemudian bisa selamat dengan perantaraan vaksin ini. Vaksin
tetanus, rabies, dan lain-lainnya
Demikian yang dapat kami jabarkan, kami tidak memaksa harus mendukung imunisasi. Tetapi
silahkan para pembaca yang menilai sendiri. Yang terpenting adalah kami telah menyampaikan cara
menyikapi pro dan kontra imunisasi. Kami juga tetap berkeyakinan bahwa pengobatan nabawi adalah
yang terbaik, seperti madu, habbatussauda, dan lain-lain. Sehingga jangan ditinggalkan hanya karena
sudah diimunisasi.

[14 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruh
vaksinasiterhadapkekebalantubuhbayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

G. Efek yang timbul setelah imunisasi


Beberapa bayi menunjukkan beberapa reaksi setelah mendapatkan imunisasi, beberapa efek
yang timbul seperti :

Demam, biasanya terjadi setelah imunisasi BCG, namun Anda tidak perlu khawatir, karena
demam tidak akan berlangsung lama. Jika demam si kecil tak kunjung turun konsultasikan
segera dengan dokter anak.

Nyeri atau sakit pada bagian bekas imunisasi, nyeri setelah imunisasi juga tidak akan
berlangsung lama.

Bengkak dan benjolan kemerahan pada bagian bekas imunisasi, bengkak akan hilang dalam 1
sampai 2 minggu setelah imunisasi. Anda dapat mengompres area bengkak dengan air hangat
agar si kecil merasa nyaman. Jika benjolan membesar dan bernanah konsultasikan segera pada
dokter.
Jadi kesimpulannya VAKSINASI ITU PENTING!

[15 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruh
vaksinasiterhadapkekebalantubuhbayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215

Simpulan
1. Vaksinasi tidak memberikan jaminan kekebalan 100 % namun dengan vaksinasi beberapa
penyakit yang mematikan seperti TBC, batuk rejan, dipteri,polio, radang paru-paru hingga
campak bisa dicegah dan memberikan perlindungan terhadap bayi .
2. Bahan penyusun vaksin berasal dari virus yang dilemahkan dikembangkan sesuai kemampuan
tubuh untuk beradaptasi dan sesuai standar internasional.Vaksin ini dikembangkan oleh biofarma
dan telah diekspor ke lebih dari 120 negara termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas
muslim
3. Tubuh akan memberi proteksi terhadap bayi yang telah divaksinasi sehingga mencegah terjadinya
cacat permanen pada bayi. Vaksinasi sangat penting, kita tidak bisa mengambil resiko karena
berharap tubuh membentuk sendiri kekebalan alami

Referensi

1. Bahan vaksin biofarma

http://health detik.com./read/2012/06/20 Bifarma menjawab ketakutan akan vaksin

2. Imunisasi buat Bayi, haruskah? Kompasiana

http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2013/12/05/imunnsasi-buat-bayi-haruskah615786.html
3. Perlukah Bayi diberi Vaksin-Anak dan Ibu
http://www.anakk.ibu.com/anak/perlukan-bayi-diberi-vaksin/
4. Masih perlukah Bayi divaksin? detik Health
http://health.detik.com/read/2012/06/20/120131/1945997/775/masih-perlukah-baayi-divaksin
5.

http://www.bbc.co.uk/history/british/empire_seapower/smallpox_01.shtml

6. Vaksinasi masih perlukah? (bag-2)


http://purbakuncara.com/vaksinasi-masih-perlukah

[16 ]
ArtikelebuletinLPMPSulsel.ISSN23553189.06April2015
http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=343:pengaruh
vaksinasiterhadapkekebalantubuhbayi&catid=42:ebuletin&Itemid=215