You are on page 1of 4

Faktor Psikososial

Faktor psikososial adalah faktor yang mempengaruhi seseorang secara psikologis dan sosial.
(Franz, 1997 & Helson, 1997 dalam Papila , 2008).
Faktor psikososial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian
ASI eksklusif ( Kurniawan, 2012). Menurut de Jager et al.(2013) faktor piskososial memiliki
peranan penting dalam pemberian ASI eksklusif yaitu memepertahankan kemampuan ibu
dalam pemberian ASI eksklusif. Menurut Kronborg (2004) faktor psikososial lebih
berpengaruh terhadap durasi pemberian ASI dibandingkan faktor demografi. Pada faktor
psikososial lebih memungkinkan diberikan intervensi dibandingkan faktor demografi.
Menurut Shahla (2010) faktor- faktor yang berpengaruh dan dapat dimodifikasi terhadap
pemberian ASI sampai bayi berusia enam bulan adalah intensi, self-efficacy, dan dukungan
keluarga yang merupakan bagian dari faktor psikososial.
Penelitian yang berhubungan dengan intensi, self-efficacy, dukungan keluarga dan
pengetahuan terhadap pemberian ASI eksklusif
Menurut Rampel (2004) intensi yang kuat dalam menyusui berhubungan dengan pemberian
ASI selama enam bulan dan tidak memiliki intensi dalam menyusui tidak berhubungan
dengan pemberian ASI selama enam bulan. Menurut Cabiesces et al, 2013) ibu dengan
intensi kuat untuk menyusui bayi memiliki kemungkianan lebih keceil untuk memberikan
makanan selain ASI. Intensi dalam menyusui merupakan indikator yang kuata dalam inisiasi
dan durasi menyusui pada seluruh kelompok wanita di Australia sehingga fokus terhadap
intensi dalam menyusui merupakan strategi yang penting untuk meningkatkan angka dan
durasi pemberian ASI (Forster et al. 2006)

Penelitian yang dilakukan Yuliani (2010) menunjukkan 135 ibu (56,5%) pada kategori berniat
untuk memberikan ASI eksklusif. Hampir dari setengah responden tidak berniat untuk
memberikan ASI eksklusif. Untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif perlu adanya suatu
pendekatan sehingga ibu menyusui mempunyai intensi yang kuat dalam memberikan ASI
eksklusif.
Menurut Dennis (2002) self-efficacy merupakan faktor determinan yang penting terhadap
pemberian ASI eksklusif.

Self-efficacy menyusui memiliki hubungan yang kuat dengan

durasi pemberian ASI eksklusif dan kesulitan awal saat menyusui memiliki hubungan negatif
dengan self-efficacy menyusui dan dan durasi pemberian ASI eksklusif (Blyth et al., 2002).
Menurut Kronborg & Vaeth (2004) ibu yang memiliki self-efficacy yang tinggi akan mungkin
untuk memberikan ASI eksklusif dan menyusui dalam jangka waktu yang lebih lama.
Berdasarkan penelitian de Jager et al. (2013) self-efficacy menyusui merupakan faktor yang
paling kuat yang berhubungan dengan durasi pemberian ASI eksklusif. Menurut teori selfefficacy menyusui ibu dengan self-efficacy yang tinggi cenderung memulai pemberian ASI
eksklusif, tetap menyusui walaupun mengalami kesulitan, menyemangati diri sendiri, dan
bereaksi lebih positif dan dapat mengatasi kesulitan (Dennis,1999).
Self-efficacy dan intensi merupakan faktor psikososial yang saling berhubungan dalam
pemberian ASI eksklusif. Semakin tinggi self-efficacy seseorang terhadap kemampuannya
dalam menyusui semakin besar kemungkinan intensi untuk memberikan ASI eksklusif.
Menurut Kronborg & Vaeth (2004), self-efficacy dan intensi bukan satu-satunya faktor
predikti dalam pemberian ASI eksklusif tetapi intensi dan self-efficacy saling mempengaruhi.
Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan pemberian
ASI eksklusif (Biswas, 2013). Dukungan keluarga akan memotivasi ibu untuk memberikan

ASI eksklusif sehingga dukungan keluarga yang rendah akan mengurangi motivasi ibu dalam
pemberian ASI eksklusif (Misriani,2012)
Menurut Biswas anggota keluarga yang paling berperan dalam pemberian Asi eksklusif
adalah suami. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Roesli (2005). Akan tetapi masih
banayk suami yang berpendapat salah bahwa menyusui menrupakan urusan ibu dan bayinya.
Mereka mengaanggap cukup sebagai pengamat pasif saja. Suami mempunyai peran yang
sangat penting dalam keberhasilan menyusui karena suami akan turut menentukan kelancaran
refleks pengeluaran ASI yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu.
Dukungan sosial keluarga terdiri empat dimensi yaitu dukungan informasional, dukungan
instrumental, dukungan emosional, dan dukungan penilaian. Menurut Intan, (2013) dukungan
informasional dan dukungan emosional menunjukkan adanya hubungan dengan perilaku
pemberian ASI eksklusif dan dukungan instrumental dan penilaian tidak memiliki hubungan
dengan perilaku pemberian ASI eksklusif.
Menurut Wulandari (2008) pengetahuan memiliki hubungan yang bermakna dengan
pemberian ASI esklusif. Pengetahuan yang baik tentang pemberian ASI ekslusif akan
membentuk sikap yang mendukung terhadap pemberian ASI eksklusif. Akan tetapi, dalam
pemberian ASI eksklusif tidak cukup hanya sekedar tahu dan paham. Ibu menyusui harus
memiliki kesadaran tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif (Ludin, 2009). Sehingga,
penyampaian informasi mengenai ASI eksklusif harus disertai dengan meningkatkan
kesadaran ibu akan pentingnya manfaat pemberian ASI eksklusif.
Pengetahuan akan memberikan pengalaman kepada ibu tentang cara memberikan ASI
eksklusif dengan baik dan benar (Adwinanti,2004) . Pengetahuan yang rendah tentang
gangguan pemberian ASI eksklusif akan membentuk penilaian yang negatif dan merubah
perilaku ibu dalam menyusui.

Menurut Kronborg & Vaeth (2004) pengetahuan tentang manfaat dan teknik menyusui perlu
diberikan kepada ibu yang menyusui untuk pertama kali.