Sie sind auf Seite 1von 21

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka
1. Anatomi Kulit
Kulit merupakan jaringan tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dalam
berbagai kondisi lingkungan, sebagai barier infeksi, mengontrol suhu tubuh,
sensibilitas, fungsi imunologi, mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit,
dan kulit mempunyai nilai kosmetik (Andrews, 2004).
Kulit mempunyai berat sekitar 16% dari berat tubuh total dengan luas
antara 1,5 1,9 meter persegi. Tebal antara 1,5 5 mm tergantung letak, umur,
dan jenis kelamin ( Ratcliffe, 1983).
Kulit berasal dari dua lapisan yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis
yang merupakan lapisan epitel berasal dari ektoderm sedangkan lapisan dalam
yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan jaringan
ikat ( Junqueira et al, 2005).
Di bawah dermis terletak jaringan subkutis, suatu jaringan ikat jarang
yang banyak mengandung sel-sel lemak, panikulus adiposa. Subkutis tidak
termasuk bagian kulit, tetapi jaringan yang menghubungkan kulit secara longgar
dengan jaringan otot dibawahnya (Junqueira et al, 2005).
Gambar 2.1 Penampang Kulit

Keterangan gambar :
Penampang melintang kulit, epidermis tersusun dari yang paling permukaan yaitu
stratum corneum, lucidum, granulosum, spinosum, dan basale (Schultz et al,
2007).

Lapisan Kulit
a. Epidermis :
Secara mikroskopis kulit tersusun tiga lapisan : epidermis, dermis, dan
lemak subkutan.
Epidermis merupakan bagian terluar dari kulit yang terdiri dua lapisan
utama, yakni lapisan sel-sel tidak berinti yang bertanduk (stratum korneum)
dan lapisan dalam yaitu stratum malphigi. Stratum malphigi merupakan asal
sel-sel permukaan bertanduk setelah mengalami diferensiasi. Stratum
malphigi dibagi menjadi stratum basale, stratum lusidum, stratum spinosum,
dan stratum granulosum.
1) Stratum korneum

Berupa sel tanduk pipih tanpa inti dengan sitoplasma yang berisi
skleroprotein filamen yang disebut keratin.
2) Stratum lusidum

Berupa garis translusen yang terdapat pada kulit yang tebal.


3) Stratum granulosum :
Disusun oleh 3-5 lapis sel poligonal gepeng dengan inti di tengah dan
sitoplasma berisi oleh granula basofilik kasar dinamakan granula
keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin.
4) Stratum spinosum

Berupa berkasberkas filamen yang disebut tonofibril, sehingga filamen


filamen

tersebut

dianggap

mempunyai

peranan

penting

untuk

mempertahankan kohesi antar sel dan melindungi terhadap efek abrasi.


Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan
mempunyai stratum spinosum disebut juga sebagai lapisan malpighi.
5) Stratum basale

Lapisan ini terdiri dari sel-sel yang tidak berdiferensiasi yang aktifitas
mitosisnya hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel-sel
epidermis secara konstan. Selnya adalah keratinosit, membentuk keratin
berupa protein fibrosa. Sel lainnya adalah melanosit sebagai pembentuk
melanin. Epidermis diperbaharui setiap 15 30 hari dengan rata rata 19

hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usia, dan
faktor faktor lain.
b. Dermis :
Terletak dibawah epidermis yang terdiri dari jaringan ikat yang
menyokong epidermis berupa serabut-serabut kolagen, elastin, dan retikulin.
Dermis sebagai penghubung antara epidermis dengan jaringan subkutis.
Dermis terdiri atas dua lapisan :
1) Lapisan papiler : tipis, berupa serat kolagen dan jaringan ikat jarang.
2) Lapisan retikuler : tebal, terdiri atas jaringan ikat padat.
Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga
mengandung beberapa derivat epidermis yaitu :
a) Folikel rambut :
Adanya pertumbuhan sel sel epidermis ke dalam jaringan dermis dan
subkutan di sekeliling rambut.
Kelenjar sebasea yang berdekatan bersekresi ke folikel rambut.
b) Kelenjar keringat ekrin :
Struktur sekretori, bentuk seperti kumparan terletak pada jaringan
subkutan, dengan satu saluran yang menuju permukaan kulit.
c) Kelenjar keringat apokrin :
Kelenjar keringat apokrin, terutama di aksila dan inguinal dan
bersekresi ke folikel rambut.
c. Subkutis :
Merupakan lapisan dibawah dermis yang terdiri atas lapisan lemak yang
berfungsi sebagai bantalan kulit, mempertahankan suhu tubuh, dan tempat
penyimpanan

energi.

Lapisan

ini

terdiri

atas

jaringan

ikat

yang

menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah


dan ukurannya berbeda beda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi
individu.
Pembuluh darah arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk
pleksus terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis, selain itu antara
dermis dan jaringan subkutis. Cabang cabang kecil meninggalkan pleksus

ini memperdarahi papila dermis, tiap papila dermis punya satu arteri asenden
dan satu cabang vena. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah, nutrisi
berasal dari dermis melalui membran epidermis ( Junqueira, et al, 2005).
2. Luka Lecet
a. Definisi
Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan yang
disebabkan trauma dari luar sehingga terjadi kerusakan jaringan kulit, membrana
mukosa, tulang dan organ tubuh lain (Marzoeki, 1993).
Luka lecet atau vulnus ekskoriasi adalah cedera pada permukaan epidermis
dengan kedalaman yang sampai mengenai papilla dermis (Marzoeki, 1993;
Damjanov et al, 1990). Papilla dermis mengandung pleksus arteri dan vena yang
memberi nutrisi pada epidermis, perdarahan pada luka yang sampai pada lapisan
ini (Damjanov et al, 1990). Luka ini banyak dijumpai pada kejadian traumatik
seperti kecelakaan lalu lintas, terjatuh, maupun gesekan dengan benda tajam
ataupun tumpul (Riyadina et al, 2009).
b. Jenis luka berdasarkan derajat kontaminasi (Marzoeki, 1993., Efron et al, 2007) :
1) Luka bersih
Luka bersih adalah luka yang tidak terdapat inflamasi dan infeksi, seperti luka
sayat operasi elektif dan steril dimana luka tersebut tidak berpotensi untuk
terinfeksi. Dengan demikian kondisi luka tetap dalam keadaan bersih.
Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
2) Luka bersih terkontaminasi
Luka bersih terkontaminasi adalah luka pembedahan pada saluran pencernaan
dan saluran perkemihan dalam kondisi terkontrol. Proses penyembuhan luka
akan lebih lama namun luka tidak menunjukkan tanda infeksi. Kemungkinan
timbulnya infeksi luka sekitar 3% - 11%.
3) Luka terkontaminasi
Luka terkontaminasi adalah luka yang berpotensi terinfeksi. Luka ini dapat
ditemukan pada luka terbuka karena trauma atau kecelakaan berupa luka lecet,
laserasi, fraktur terbuka, maupun luka penetrasi. Kemungkinan infeksi luka
10% - 17%.

4) Luka kotor
Luka kotor adalah luka lama, luka kecelakaan yang mengandung jaringan mati
dan luka dengan tanda infeksi seperti cairan purulen. Luka ini bisa sebagai
akibat pembedahan yang sangat terkontaminasi seperti abses atau luka lama.
c. Penyembuhan Luka
Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan
memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak
membersihkan sel dan benda asing serta perkembangan awal seluler sebagai
bagian dari proses penyembuhan luka. Proses penyembuhan terjadi secara normal
tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk
mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area luka yang
bebas dari kontaminasi dengan menjaga kebersihan, dapat membantu untuk
meningkatkan penyembuhan jaringan.
Penyembuhan luka didefinisikan sebagai suatu proses yang kompleks
dan dinamis sebagai akibat dari pengembalian kontinuitas jaringan dan fungsi
anatomi. Suatu penyembuhan luka di kulit yang ideal adalah dengan kembali
normalnya struktur, fungsi, dan anatomi kulit. Waktu penyembuhan luka
dipengaruhi oleh tipe luka dan lingkungan instrinsik maupun ekstrinsik,
penyembuhan luka bisa berlangsung (Schultz et al, 2007).
1) Proses penyembuhan luka yang alami (Gurtner, 2007; Schultz et al, 2007 ) :
Gambar 2.2 Fase inflamasi

Keterangan gambar :
Fase inflamasi berlangsung sampai hari ke -5, sel radang keluar dari pembuluh
darah secara diapedesis menuju daerah luka, dan timbul tanda-tanda radang
(Schultz et al, 2007 )

a) Fase inflamasi atau lag Phase


Berlangsung sampai hari ke-5. Akibat luka terjadi pendarahan. Ikut
keluar

trombosit

dan

sel-sel

radang.

Trombosit

mengeluarkan

prostaglandin, tromboksan, bahan kimia tertentu, dan asam amino tertentu


yang mempengaruhi pembekuan darah, mengatur tonus dinding pembuluh
darah, dan kemotaksis terhadap leukosit.
Terjadi vasokonstriksi dan proses penghentian darah. Sel radang
keluar dari pembuluh darah secara diapedesis dan menuju daerah luka
secara kemotaksis. Sel mast mengeluarkan serotonin dan histamin yang
meninggikan permeabilitas kapiler, sehingga terjadi eksudasi cairan
edema. Dengan demikian timbul tanda-tanda radang. Leukosit, limfosit,
dan monosit menghancurkan dengan memakan kotoran maupun kuman
melalui proses pagositosis.
Pertautan pada fase ini hanya oleh fibrin, belum ada kekuatan
pertautan luka sehingga di sebut fase tertinggal (lag phase).
Gambar 2.3 Fase proliferasi

Keterangan gambar :
Fase proliferasi berlangsung mulai hari ke-4 sampai 3 minggu, terjadi
proliferasi dan pembentukan fibroblast dari sel-sel mesenkim menghasilkan
mukopolisakarida dan serat kolangen yang mempertautkan tepi luka
membentuk jaringan granulasi (Schultz et al, 2007 ).
b)

Fase proliferasi atau fibroblast


Berlangsung dari hari ke-4 sampai dengan 3 minggu. Terjadi proses
proliferasi dan pembentukan fibroblast (menghubungkan sel-sel) yang
berasal dari sel-sel mesenkim. Fibroblast menghasilkan mukopolisakarida

10

dan serat kolagen yang terdiri dari asam amino glisin, prolin, dan
hidroksiprolin. Mukopolisekarida mengatur deposisi serat-serat kolagen
yang akan mempertautkan tepi luka.
Serat-serat baru dibentuk, diatur, mengkerut, yang tak diperlukan
dihancurkan, dengan demikian luka mengkerut atau mengecil.
Pada fase ini luka diisi oleh sel-sel radang, fibroblast, serat-serat
kolagen, kapiler-kapiler baru, yang membentuk jaringan berwarna
kemerahan dengan permukaan tak rata disebut jaringan granulasi.
Epitel sel basal ditepi luka lepas dari dasarnya dan pindah menutupi
dasar luka, tempat diisi hasil mitosis sel lain. Proses migrasi epitel hanya
berjalan kepermukaan yang rata atau lebih rendah dan tidak dapat naik.
Pembentukan jaringan granulasi berhenti setelah seluruh permukaan luka
tertutup epitel maka mulailah proses maturasi penyembuhan luka berupa
penyatuan kembali dan penyerapan yang berlebih.
Gambar 2.4 Fase remodeling

Keterangan gambar :
Fase remodeling berlangsung berbulan-bulan dan berakhir bila tanda radang
sudah hilang. Berupa parut dan sekitarnya berwarna pucat, tipis, lemas, tak
ada rasa sakit maupun gatal (Schultz et al, 2007 ).
c)

Fase remondeling atau fase resorbsi


Dapat berlangsung berbulan-bulan dan berakhir bila tanda radang
sudah hilang. Parut dan sekitarnya berwarna pucat, tipis, lemas, tak ada
rasa sakit, maupun gatal. Berlangsung dengan sintesis kolagen oleh
fibroblast hingga struktur luka menjadi utuh. Penyembuhan luka sebagai

11

suatu proses yang komplek dan dinamis sebagai akibat dari penyembuhan
kontinuitas dan fungsi anatomi.
Setelah permukaan kulit ditutupi oleh sel-sel epitel, sel-sel ini akan
kembali ke fenotipik yang normal. Epitelisasi yang berhasil, diperluas
dengan mempertahankan permukaan kulit agar tetap lembab dan tidak
kering. Keropeng alami mungkin cukup baik untuk tujuan ini, bahan
penutup yang tidak lengket sangat baik untuk mempertahankan permukaan
kulit tetap lembab dan dapat meningkatkan proses epitelisasi secara
bermakna.
2) Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
a) Faktor yang mempercepat penyembuhan luka terdiri dari :
i. Usia
Anak-anak dan orang dewasa lebih cepat proses penyembuhan luka
daripada orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis,
penurunan fungsi hati yang dapat mengganggu sintesis dari faktor
pembekuan darah.
ii.

Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian metabolisme pada
tubuh. Pada luka memerlukan diet kaya protein, karbohidrat, lemak,
vitamin, dan mineral (Fe, Zn). Bila kurang nutrisi diperlukan waktu
untuk memperbaiki status nutrisi setelah pembedahan jika mungkin.
Penderita gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan
lama karena suplai darah jaringan adipose tidak adekuat.

iii.

Infeksi
Ada tidaknya infeksi pada luka merupakan penentu dalam percepatan
penyembuhan luka. Sumber utama infeksi adalah bakteri. Dengan
adanya infeksi maka fase-fase dalam penyembuhan luka akan terhambat.

iv.

Sirkulasi dan Oksigenasi


Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Saat
kondisi fisik lemah atau letih maka oksigenasi dan sirkulasi jaringan sel
tidak berjalan lancar. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan

12

jaringan lemak yang memiliki sedikit pembuluh darah berpengaruh


terhadap kelancaran sirkulasi dan oksigenisasi jaringan sel.
Pada orang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak
lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama untuk sembuh. Aliran
darah dapat terganggu pada orang dewasa yang menderita gangguan
pembuluh darah perifer, hipertensi, atau diabetes melitus. Oksigenasi
jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan
pernafasan kronik.
v.

Keadaan luka
Keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas
penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu dengan
cepat. Misalnya luka kotor akan lambat penyembuhannya dibanding
dengan luka bersih.

vi.

Lokasi luka
Lokasi luka berhubungan erat dengan banyak sedikitnya vaskularisasi di
daerah tersebut. Vaskularisasi yang baik sangat dibutuhkan untuk
berlangsungnya reaksi inflamasi, reaksi ini bertujuan untuk debridement
jaringan yang mati dan mengontrol infeksi. Vaskularisasi pada tiap-tiap
bagian tubuh tidaklah sama sehingga proses penyembuhan akan berbeda.
Luka di daerah kepala, leher atau badan akan sembuh lebih cepat
daripada di ekstremitas (Hasselt, 2008).

vii.

Obat
Obat anti inflamasi (seperti aspirin dan steroid), heparin, dan anti
neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik
yang lama dapat membuat tubuh seseorang rentan terhadap infeksi luka.
Dengan demikian pengobatan luka akan berjalan lambat dan
membutuhkan waktu yang lebih lama.

b)

Faktor yang memperlambat penyembuhan luka


Tidak adanya penyembuhan luka akibat dari kerusakan pada satu atau lebih
dari proses penyembuhan normal. Proses ini diklasifikasikan menjadi faktor
intrinsik dan ekstrinsik.

13

i. Faktor Intrinsik
Ketika luka terinfeksi, respon inflamatori berlangsung lama dan
penyembuhan luka terlambat. Luka tidak akan sembuh selama ada infeksi.
Infeksi dapat berkembang saat pertahanan tubuh lemah. Diagnosis dari
infeksi jika nilai kultur luka melebihi nilai normal. Kultur memerlukan
waktu 24-48 jam dan selama menunggu pasien diberi antibiotika spektrum
luas. Kadang-kadang benda asing dalam luka adalah sumber infeksi.
Suplai darah yang adekuat perlu bagi tiap aspek penyembuhan. Suplai
darah dapat terbatas karena kerusakan pada pembuluh darah. Hipoksia
mengganggu aliran oksigen dan nutrisi pada luka, serta aktifitas dari sel
pertumbuhan tubuh. Neutropil memerlukan oksigen untuk menghasilkan
oksigen peroksida untuk membunuh bakteri patogen. Demikian juga
fibroblast dan fagositosis terbentuk lambat. Satu-satunya aspek yang dapat
meningkatkan penyembuhan luka pada keadaan hipoksia adalah
angiogenesis.
ii. Faktor ekstrinsik
Faktor ektrinsik dapat memperlambat penyembuhan luka meliputi
malnutrisi, perubahan usia, dan penyakit seperti diabetes melitus.
Malnutrisi dapat mempengaruhi beberapa area dari proses penyembuhan.
Kekurangan protein menurunkan sintesa dari kolagen dan leukosit.
Kekurangan

lemak

dan

karbohidrat

memperlambat

semua

fase

penyembuhan luka karena protein dirubah menjadi energi selama


malnutrisi. Kekurangan vitamin menyebabkan terlambatnya produksi dari
kolagen, respon imun, dan respon koagulasi.
Penderita tua yang mengalami penurunan respon inflamasi yang
memperlambat proses penyembuhan. Usia tua menyebabkan penurunan
sirkulasi migrasi sel darah putih pada sisa luka dan fagositasis terlambat.
Ditambah pula kemungkinan penderita mengalami gangguan yang secara
bersamaan menghambat penyembuhan luka seperti diabetes melitus.
Merokok meningkatkan arteri sklerosis dan platelet agregasi. Lebih lanjut
kondisi ini membatasi jumlah oksigen dalam luka.

14

Penggunaan steroid memperlambat penyembuhan dengan menghambat


sintesis kolagen. Pasien yang minum steroid mengalami penurunan
kekuatan pertautan luka, menghambat kontraksi, dan menghalangi
epitelisasi.
3) Jenis-jenis penyembuhan luka
a) Penutupan luka primer
Penutupan ini akan merapatkan jaringan yang terputus dengan bantuan
benang, klip, dan verban perekat. Setelah beberapa waktu, maka sintesis,
penempatan, dan pengerutan jaringan kolagen akan memberikan kekuatan
dan integritas pada jaringan tersebut. Pertumbuhan kolagen tersebut sangat
penting pada tipe penyembuhan ini. Pada penutupan primer tertunda,
perapatan jaringan ditunda beberapa hari setelah luka terjadi. Penundaan
penutupan luka ini bertujuan mencegah infeksi pada luka-luka yang jelas
terkontaminasi oleh bakteri atau yang mengalami trauma jaringan yang
hebat.
Fase-fase dalam penutupan luka primer :
i. Fase inisial berlangsung 3-5 hari
Sudut insisi merapat, migrasi sel-sel epitel, dan mulai pertumbuhan sel.
ii. Fase granulasi (5 hari 4 minggu)
Fibroblast bermigrasi ke dalam bagian luka dan mensekresi kolagen.
Selama fase granulasi luka berwarna merah muda dan mengandung
pembuluh darah. Tampak granula-granula merah. Luka beresiko
dehisensi dan resisten terhadap infeksi. Epitel pada permukaan tepi luka
mulai terlihat. Dalam beberapa hari lapisan epitel yang tipis akan
bermigrasi menyeberangi permukaan luka. Epitel menebal, mulai
matur, dan luka mulai merapat. Pada luka superfisial, reepitelisasi
terjadi 3-5 hari.
iii. Fase kontraktur skar (7 hari beberapa bulan)
Serabut-serabut kolagen terbentuk dan terjadi proses remodeling.
Pergerakan miofibroblast yang aktif menyebabkan kontraksi area
penyembuhan, menutup defek, dan membawa ujung kulit tertutup

15

bersama-sama.

Skar

yang

matur

selanjutnya

terbentuk,

tidak

mengandung pembuluh darah, dan pucat. Skar lebih terasa nyeri pada
fase granulasi.
b) Penutupan luka sekunder
Luka yang terjadi dari trauma, ulserasi, atau infeksi menghasilkan
sejumlah besar eksudat. Batas luka menjadi ireguler dengan kehilangan
jaringan yang cukup luas menyebabkan tepi luka tidak merapat. Reaksi
inflamasi dapat menghambat pada penyembuhan luka. Kegagalan
penutupan sekunder dari luka terbuka akan berakibat terbentuknya luka
terbuka kronis.
c) Penutupan luka tertier
Adalah penutupan luka primer yang tertunda. Terjadi karena luka setelah
terbentuk jaringan granulasi kemudian luka ditutup. Ini terjadi ketika luka
yang terkontaminasi, terbuka, dan ditutup setelah infeksi dikendalikan.
Dapat juga terjadi ketika luka primer terbuka mengalami infeksi dan
dibiarkan tumbuh jaringan granulasi, kemudian ditutup. Penutupan tersier
biasanya mengakibatkan skar yang lebih luas dan lebih dalam dari pada
penutupan primer atau sekunder.
4) Komplikasi penyembuhan luka
Meliputi infeksi, pendarahan, ulkus, dan keloid (Kozier, 1995), dapat
menyebabkan traumatic tattoage (Marzoeki, 1993).
3. MEBO
MEBO telah ditemukan dua dekade terakhir oleh Rong-Xiang Xu di
Beijing pada Chinese Burn Center.
Secara fisik MEBO berwarna kuning kecoklatan, mengandung bahanbahan alami, meliputi sarang lebah (beeswax), minyak wijen (sesame oil), 17
asam-amino, 14 asam lemak, 4 polisakarida. Bahan-bahan aktif dalam obat ini
adalah -sitosterol 0.25%, berberine, dan baicain. MEBO buatan China juga
mengandung bahan seperti Radix Scutellaria, Cortex Phellodendri, dan Rhizoma
Coptidis yang digunakan untuk menghilangkan rasa panas, racun, mengurangi
nyeri, dan meningkatkan regeneration sel (Xu, 2003).

16

MEBO merupakan kumpulan pertama dari rencana olahan pada ratusan


jenis buah yang dikeluarkan oleh industri nasional negara Cina. Penemu dari
teknik ini, menyampaikan hasil teknik terakhir yang mendukung kemajuan dunia,
yang disebut regenerasi stem cell in situ (Xu, 2003).
Manfaat dari regenerasi stem cell in situ adalah pada saat MEBO dioleskan
di atas luka membentuk kondisi yang lembab secara fisiologis kemudian Potential
Regenerative Cells (PRCs) dapat mengaktifkan residu luka menjadi stem cells,
diaktivasi, dissosiasi, proliferasi, dan differensiasi in situ menjadi struktur kulit
yang normal mencapai hasil secara klinis terjadinya regenerasi dari kulit (Xu,
2004). Jaringan nekrotik yang padat dapat diubah menjadi bentuk yang cair
(liquefaction), akibatnya akan menghilang efek dari MEBO.
Sebelum penjelasan mengenai proses liquefaction, perlu dijelaskan efek
farmakologi dari MEBO. Bentuk dapat berubah tergantung pada perubahan suhu
dari luka. MEBO pada suhu ruangan setelah dioleskan di atas luka dengan
ketebalan 1 mm, terdapat 2 lapisan yaitu lapisan luar MEBO menjaga bentuk
salep, sedang lapisan yang berhubungan dengan luka berfungsi menghangatkan
dan diubah menjadi bentuk cair. MEBO memiliki sifat lipofilik. Setelah
digunakan, cairan dari MEBO bereaksi dengan jaringan nekrotik dari luka
kemudian MEBO kehilangan sifat lipofiliknya dan bercampur dengan eksudat
serta membentuk liquid, selanjutnya campuran tersebut berpindah ke lapisan luar
dan dilepaskan dari kulit. Lapisan baru dari MEBO selanjutnya menjadi hangat
dan berubah menjadi bentuk liquid, selanjutnya terjadi proses hydrolysis,
enzymolysis, rancidity, saponification dan esterifikasi (Xu., 2004).
MEBO digunakan pada perawatan terbuka yang mengharuskan suasana
lingkungan yang moist untuk penyembuhan yang optimal dan re-epitelisasi tanpa
membutuhkan tambahan penutupan (loannovich et al, 2000). Disampaikan juga
MEBO menghilangkan rasa nyeri (Dham, 1999).

17

Manfaat MEBO
a. Epitelisasi
MEBO
meningkatkan

mempunyai
penyembuhan

efek

terapi

epitelisasi,

sebagai
dan

antibakteri,

memperbaiki

analgesik,

formasi

skar

(loannovich et al, 2000).


b. Antibakteri
Pencegahan infeksi sesegera mungkin merupakan tindakan awal pada luka
untuk mendapatkan regenerasi sel yang optimal. MEBO bekerja pada kondisi
hiperosmolar untuk mencegah bakteri tumbuh. Pada saat yang bersamaan terjadi
perubahan kondisi biologi pada bakteri, penurunan toksisitas bakteri, peningkatan
sensitifitas bakteri terhadap antibiotik, dan mempertinggi imunitas lokal dan
sistemik (loannovich et al, 2000).
Pada studi penelitian, efek antibakteri pada MEBO dapat menghambat
pertumbuhan spora anaerob dan non spora anaerob. Proliferasi dan kekuatan
bakteri dihambat secara signifikan (Qu et al, 1998).
c. Efek Analgesik
Sebuah penelitian baru yang mengevaluasi efektifitas analgesik dari
MEBO dilakukan pada seratus lima puluh pasien dengan luka bakar derajat II,
baik secara konvensional dibandingkan dengan pengobatan MEBO. Profil nyeri
pasien dianalisis secara statistik dapat disimpulkan bahwa MEBO muncul untuk
mengurangi nyeri yang lebih besar untuk penilaian post dressing selama minggu
pertama setelah luka bakar (Ang et al, 2003).
Perbedaan dalam tingkat toleransi nyeri antara pasien yang diteliti meliputi
jenis kelamin dan perbedaan usia, sulit untuk memberikan bukti obyektif yang
benar-benar mencerminkan efek analgesik MEBO itu.
Bias mungkin saja terjadi dalam pengukuran tingkat nyeri sebagai acuan
peneliti mengandalkan respon menangis anak-anak seperti tenang, gelisah, dan
menangis keras atau lembut. Selain itu, sebagian besar percobaan yang diklaim
bahwa MEBO memiliki khasiat yang sangat baik (Xu, 2003).

18

d. Penurunan Penguapan Air


Pada periode awal luka, peningkatan permeabilitas kapiler adalah salah
satu perubahan patofisiologi utama. Hal ini menyebabkan kehilangan cairan tubuh
yang mengandung sejumlah besar protein plasma dan elektrolit, sehingga dengan
demikian semakin menurunkan volume darah sirkulasi yang dapat menyebabkan
syok akhirnya. Ini telah disampaikan bahwa luka sembuh lebih mudah dalam
kondisi lingkungan fisiologis lembab.
Oleh karena itu, pemeliharaan lingkungan luka pada kondisi lembab dapat
memfasilitasi proses penyembuhan luka secara fisiologis. Sebuah studi
eksperimental pada model kelinci menunjukkan bahwa MEBO menghambat
penguapan air dari luka dan dengan demikian kehilangan cairan tubuh menjadi
menurun. Ini menyatakan bahwa MEBO menguntungkan untuk mencegah nyeri
pada tahap awal luka dan menghambat dehidrasi hipertonik pada tahap lanjut (
Wang et al, 1999).
Selain mencegah penguapan air pada luka, MEBO juga dapat melindungi
jaringan di zona stasis dari kerusakan progresif. Meskipun jaringan terluka dalam
zona stasis dapat pulih dengan cukup cairan pengganti, kekeringan yang
berlebihan akan menyebabkan perubahan patologis yang irreversibel pada
jaringan. MEBO diharapkankan memiliki kemampuan sebum seperti untuk retensi
air untuk menjaga kelembaban luka tanpa mempengaruhi drainasenya. Tidak
hanya akan menghambat cairan biologis atas luka, tapi juga mencegah
pengeringan dari dermis yang terluka atau jaringan yang lebih dalam, sehingga
memungkinkan migrasi keratinosit di atas permukaan luka menjadi lebih cepat
tanpa hambatan (Kerstein, 1997).
Dalam sebuah penelitian, luka-luka dirawat dengan MEBO terbukti
memiliki permeabilitas yang lebih baik dan drainase yang memadai sehingga
dapat meningkatkan regenerasi luka. Vaseline tidak dapat menghambat penguapan
air dari luka ( Wang et al, 1999).

19

e. Penyembuhan Luka
MEBO mempunyai kemampuan penyembuhan luka. MEBO telah
ditunjukkan secara eksperimental untuk penyembuhan luka yang signifikan secara
statistik (Wang, 2000).
Studi di Cina menyarankan bahwa MEBO memiliki kemampuan
penyembuhan luka lebih baik daripada salep konvensional untuk luka bakar
(Wang, 2000).
4. Gentamicin 0,3% Ointment
Gentamicin adalah anti bakteri terutama tertuju pada basil gram negatif
aerobik. Gentamicin adalah golongan dari aminoglikosid, merupakan senyawa
yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik
pada inti hexsosa, berbentuk senyawa polikation yang bersifat basa kuat dan
mudah larut dalam air. Aktifitas aminoglikosid dipengaruhi oleh berbagai faktor
terutama perubahan pH, keadaan aerobik-anaerobik, dan keadaan hiperkapnik.
Aktifitas aminoglikosid lebih tinggi pada suasana alkali dibanding suasana asam.
Gentamicin bersifat bakterisidal cepat. Mekanisme kerja melalui berdifusi
lewat kanal air yang dibentuk oleh porin protein pada membran luar dari bakteri
gram-negatif masuk ke ruang periplasmik, sedangkan transport melalui membran
dalam sitoplasma membutuhkan energi. Fase transport yang membutuhkan energi
ini bersifat rate limiting, fase ini dapat diblok ion Ca, ion Mg, hiperosmolaritas,
penurunan pH, dan anaerobik. Setelah masuk sel, aminoglikosid ini terikat pada
ribosom 30S dan menghambat sintesis protein. Terikatnya aminoglikosid ke
dalam sel diikuti dengan kerusakan membran sitoplasma dan disusul kematian sel
mikroba (Sulistia, 2001).
Sediaan ointment berupa kandugan minyak lebih dominant dibanding
kandungan airnya. Jenis lemak yang dipakai sebagai campuran adalah vaselin,
Fungsi dari vaselin sebagai moisture pada ointment.
Vaselin banyak digunakan dalam berbagai kegunaan. Dibidang kesehatan
vaselin diperkenalkan sebagai ointment atau salep yang diindikasikan diantaranya
untuk luka bakar dan luka bedah. Ciri dari vaselin yang dimanfaatkan untuk

20

kepentingan kesehatan adalah tidak diserap oleh kulit tubuh, sehingga relatif lebih
aman (Polk, 2001).
Vaselin untuk kepentingan kesehatan mengandung bahan yang disebut
dengan lesitin, yang berfungsi sebagai bahan pengemulsi, dimana bahan
pengemulsi ini digunakan untuk mengekalkan lemak yang tersebar di dalam air
atau sebaliknya air yang tersebar di dalam lemak. Sumber pengemulsi bisa dari
tumbuhan atau hewan, lesitin yang berasal dari tumbuhan dalam berbagai produk
kecantikan atau kesehatan dicantumkan dengan istilah lesitin soya.
Praktek

kenyataannya

jarang

ditemukan

efek

samping

terhadap

penggunaan formula vaselin non antibiotik ini. Dasar kerja vaselin adalah
membantu dalam menjaga keseimbangan pH kulit tubuh sehingga mempercepat
tercapainya pemulihan penyembuhan luka yang lebih optimal.
Vaselin antibiotik termasuk dalam obat-obat antibiotik topikal, yaitu obat
yang biasa digunakan pada kulit untuk membunuh bakteri. Banyak bentuk dan
sediaan dari antibiotik topikal diantaranya adalah bentuk cream, ointment atau
salep, powder, dan sprey. Kandungan antibiotik yang dipakai pada obat jenis
topikal diantaranya adalah gentamicin, bacitracin, neomycin, mipirocin, dan
polimycin B (Polk, 2001).
Penggunaan umum dari topikal antibiotik adalah untuk membantu
melindungi kulit tubuh dari infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang didapat
melalui luka. Dalam melakukan perawatan luka tidak cukup dengan melakukan
tindakan sederhana dengan memberikan obat jenis topikal antibiotik, tetapi harus
memperhatikan tehnik atau prinsip perawatan luka yang dianjurkan. Pada
umumnya topikal antibiotik mulai diberikan beberapa saat setelah terjadi luka.
Topikal antibiotik dimaksudkan untuk digunakan hanya pada kulit dan hanya
beberapa hari dalam suatu waktu, jika luka tidak sembuh dalam waktu 5 hari,
maka antibiotik harus diganti. Topikal antibiotik tidak boleh digunakan pada area
luka yang luas atau luka yang terbuka (Enoch, 2003).
Efek samping ringan dari penggunaan topikal antibiotik pada umumnya
adalah iritasi, rasa nyeri, semacam rasa terbakar pada kulit, dan alergi.

21

Formula vaselin antibiotik Gentamicin 0,3% ointment merupakan bentuk


sediaan atau formula yang terdiri dari antibiotik, vaselin, yang diemulsikan
dengan air. Antibiotik yang terkandung dalam formula ini adalah gentamicin,
untuk luka bedah, sirkumsisi, infeksi kulit sekunder, dan pada luka terbuka.
Gentamicin sulphate tersedia hanya untuk pengobatan topikal sebagai salep kulit,
tetes telinga, dan salep mata, masing-masing dengan kadar 0,1 % dan 0,3%
(Sulistia, 2001).
5. Tulle
Terdiri dari dua macam :
a. Vaselin Non Antibiotik
Vaselin ditemukan oleh Robert Chesebrough pada tahun 1859, merupakan
turunan dari petroleum jelly, diambil dari oilrig residu yang disebut dengan rod
wax. Vaselin mulai dipatenkan atas penemuannya pada tahun 1872.
Formula vaselin non antibiotik lomatulle merupakan bentuk sediaan atau
formula yang terdiri dari vaselin diserapkan pada kasa pembalut steril tanpa
kandungan antibiotik. Indikasi penggunaannya adalah untuk luka bakar, luka
bedah, sirkumsisi, dan luka terbuka ( Mims, 2007 ).
Penelitian ini menggunakan tulle non antibiotik, menjaga luka terlindungi dari
kassa yang dipakai sebagai penutupan luka karena selain steril juga tidak
mengandung antibiotik harapannya tidak menyebabkan bias pada penelitian dan
mengurangi rasa nyeri pada waktu kassa dibuka saat evaluasi.
b.

Vaselin Antibiotik
Tulle antibiotik termasuk dalam obat-obat antibiotik topikal, formula vaselin

antibiotik daryant tulle merupakan bentuk sediaan atau formula yang terdiri dari
antibiotik, vaselin, yang diserapkan pada kasa pembalut steril. Antibiotik yang
terkandung dalam formula vaselin antibiotik daryant tulle adalah framycetin
sulphate 1 % ( neomisin B ) dan diindikasikan antara lain untuk luka bakar, luka
bedah, sirkumsisi, infeksi kulit sekunder dan pada luka terbuka. Framycetin
sulphate (neomisin B) tersedia hanya untuk pengobatan topikal sebagai salep,
tetes telinga, dan mata, masing-masing dengan kadar 1 % dan 5 % (Mims, 2007).

22

B. Kerangka Konsep

Luka Lecet
Faktor intrinsik dan ekstrinsik
Infeksi
Malnutrisi/ Hipoalbumin
Penyakit sistemik
Obat steroid
Merokok
Usia tua
Luka kotor

Faktor intrinsik dan ekstrinsik


Luka bersih
Nutrisi Baik
Usia muda

Gentamicin 0,3%
ointment

MEBO

gentamicin

vaselin

-sitosterol

antibiotik

Moist

Anti
inflamasi

Berberin

Epitelisasi

Baicalin

anti oksidant
anti biotik

Epitelisasi

TULLE

Sesame oil

moist

vaselin

beeswax

Gauses exchange

moist

Regenerasi sel

Epitelisasi

Gambar 2.5 Kerangka Konsep


Keterangan kerangka konsep :
Luka lecet adalah cedera pada permukaan epidermis dengan kedalaman
yang sampai mengenai papilla dermis yang mengandung pleksus arteri dan vena
yang memberi nutrisi pada epidermis. Penyembuhan terjadi secara spontan
umumnya memerlukan waktu antara 7 hari hingga 3 minggu, hal ini
dimungkinkan karena membrana basalis dan apendises kulit tetap utuh, diketahui
keduanya merupakan sumber proses epitelisasi.

23

Beberapa keuntungan prinsip moisture dalam perawatan luka, diantaranya


mencegah luka menjadi kering dan keras, meningkatkan laju epitelisasi, mencegah
pembentukan jaringan eschar, meningkatkan pembentukan jaringan dermis,
mengontrol inflamasi, dan memberikan tampilan yang lebih kosmetis. Dapat juda
mempercepat proses autolysis debridement, menurunkan kejadian infeksi,
mempertahankan gradient voltase normal, mempertahankan aktifitas neutrofil,
menurunkan nyeri, memberikan keuntungan psikologis, dan mudah digunakan.
Salep MEBO mengandung minyak wijen (sesame oil), -Sitosterol,
bacain, yang mempunyai efek sebagai analgesik, anti inflamasi, dan mampu
mengurangi pembentukan jaringan parut. Berberine sebagai anti bakterial dan
analgesik. Beeswax dapat dikombinasikan dengan berbagai jenis herbal sebagai
perangsang regenerasi sel. Amino acid, fatty acid, dan amylose yang memberikan
nutrisi untuk regenerasi dan perbaikan kulit terbakar (Xu, 2003). Kombinasi
bahan aktif tersebut akan mempermudah pengelupasan jaringan mati pada luka
(liquefaction), memicu proses regenerasi in situ, sekaligus berperan sebagai nutrisi
untuk proses penyembuhan luka. Suasana lembab yang dipelihara oleh MEBO
akan menyebabkan sel-sel mampu bertahan hidup, mampu melepaskan faktorfaktor pemicu pertumbuhan, sehingga proses penyembuhan berlangsung lebih
cepat dan lebih baik. Setelah terjadi reaksi biokimia berupa Hydrolisis,
Enzymolysis, Saponification Rancidity, Lipofication Esterification, 24 jam
pertama tampak adanya stem cell cytokeratin-19. Jumlah bertambah hingga
puncaknya pada hari ke 7-14, selanjutnya berkurang bersamaan dengan proses
penyembuhan luka.
Gentamicin adalah anti bakteri terutama tertuju pada basil gram negatif
aerobik dan merupakan golongan dari aminoglikosid. Gentamicin terdiri dari 2
atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan

glikosidik pada inti

hexsosa, berbentuk senyawa polikation yang bersifat basa kuat dan mudah larut
dalam air. Aktifitas aminoglikosid dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama
perubahan pH, keadaan aerobik-anaerobik, dan keadaan hiperkapnik. Aktifitas
aminoglikosid lebih tinggi pada suasana basa dibanding suasana asam.

24

Formula vaselin merupakan bentuk sediaan atau formula yang terdiri dari
vaselin yang diemulsikan dengan antibiotik. Indikasi penggunaannya adalah untuk
luka bakar, luka bedah, sirkumsisi, dan luka terbuka (Sulistia, 2001).
Pada kenyataannya jarang ditemukan efek samping kecuali alergi terhadap
penggunaan formula antibiotik ointment. Dasar kerjanya adalah membantu dalam
menjaga keseimbangan pH kulit tubuh, sehingga mempercepat tercapainya
pemulihan penyembuhan luka yang lebih optimal dan mencegah invasi bakteri.
C. Hipotesis
Perawatan luka lecet tertutup menggunakan MEBO dengan Tulle lebih
efektif dibandingkan perawatan terbuka menggunakan Gentamicin 0,3%
ointment.