Sie sind auf Seite 1von 11

ANALISIS KARAKTERISTIK SIFAT KIMIA AIRTANAH SUMUR

DANGKAL DI KABUPATEN SITUBONDO AKIBAT ALIRAN AIR ASAM


GUNUNG KAWAH IJEN

JURNAL ILMIAH
KONSERVASI SUMBERDAYA AIR

Diajukan untuk memenuhi persyaratan


memperoleh gelar Sarjana Teknik

Disusun oleh :
DANIS DWI KRISTANTO
NIM. 115060400111042

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PENGAIRAN
MALANG
2015

ANALISIS KARAKTERISTIK SIFAT KIMIA AIR TANAH SUMUR DANGKAL DI


KABUPATEN SITUBONDO AKIBAT ALIRAN AIR ASAM GUNUNG KAWAH IJEN
Danis Dwi Kristanto1, Emma Yuliani, ST., MT., PhD 2,
dan Dr. Eng.Donny Harisuseno, ST., MT 2
2

1
Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Dosen Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Universitas Brawijaya
Teknik Pengairan Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Indonesia
Jln. MT Haryono 167 Malang 65145 Indonesia
e-mail: daniskristanto@gmail.com

ABSTRAK
Keasaman Sungai Banyuputih yang berasal dari Danau Kawah Ijen, mempengaruhi
kualitas air sumur dangkal milik warga di sekitar sungai, tepatnya di Kecamatan Asembagus
(Desa Bantal dan Awar-awar) dan Kecamatan Banyuputih (Desa Banyuputih). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui karakteristik kimia air tanah sumur dangkal dan membuat peta area
penyebaran kandungan kimia di beberapa desa terdampak tersebut.
Menurut PerMenKes Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010, parameter fisik berstatus aman
dan parameter kimia pada sulfat dan klorida berstatus tidak aman dan terjadi resiko untuk
dikonsumsi. Metode analisis karakteristik kimia air tanah menggunakan metode Diagram Pie,
Diagram Trilinier Piper, dan Metode Kurlov. Dari hasil analisa, Karakteristik kimia air tanah
dangkal di lokasi penelitian bertipe non-karbonat alkali (keragaman primer) > 50%, sifat kimia
air tanah didominasi oleh alkali (Na2+) dan asam kuat (SO42-). Sifat asam yang berasal dari sulfat
dapat dikurangi kadar kandungannya dengan proses ion exchange.
Kata Kunci : Sumur dangkal, karakteristik Kimia Air Tanah, Aliran Air Asam Gunung Kawah
Ijen
ABSTRACT
Acidity Banyuputih River from Kawah Ijen lake, affecting water quality of shallow wells
owned by residents around the river, precisely in the district Asembagus (village Pillows and
Awar-awar) and the district of Banyuputih (Village Banyuputih). This study purpose to know the
chemical characteristics of shallow groundwater wells and make the area map the spread of
chemical constituents in the affected villages.
According from PerMenKes No. 492 / Menkes / Per / IV / 2010, the physical parameters
status of safety and chemical parameters of the sulfate and chloride status unsafe and there is a
risk for consumption. Methods of chemical characteristics analysis of the groundwater using Pie
Chart, Trilinier Piper diagram, and Kurlov Methods. Chemical characteristics of groundwater
type is non-carbonate alkali (primary diversity)> 50%, the chemical properties is dominated by
alkali (Na2 +) and strong acid (SO42-). Strong acid from sulfate can be reduced levels of
concentration with the ion exchange process.
Keywords : Shallow wells, Chemical characteristics of Groundwater, Acid Water Flow Kawah
Ijen Lake

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemanfaatan air tanah yang terus
meningkat seiring bertambahnya jumlah
penduduk
dan
keperluan
kebutuhan
penduduk, menjadikan hal kuantitas dan
kualitas air tanah merupakan hal yang perlu
mendapatkan perlakuan dan pemeliharaan
yang benar.
Danau Kawah Ijen tedapat rembesan
di dinding kawah bagian barat membentuk
hulu sungai Banyupahit menuju hilir sungai
Banyuputih dan meresap ke dalam air tanah
sumur dangkal penduduk milik warga.
Adanya karakteristik sifat asam pada sungai
Banyupahit-Banyuputih dan air tanah sumur
dangkal warga merupakan faktor dari
kandungan kimia yang berasal dari air Danau
Kawah Ijen
Menurut Fitrianingtyas et al. (2012),
Kecamatan Asembagus tepatnya di desa
Awar-awar dan Bantal dan Kecamatan
Banyuputih di desa Banyuputih di Kabupaten
Situbondo merupakan salah satu desa yang
terdampak oleh jalur air asam yang berasal
dari air Danau Kawah Ijen. Di daerah ini
terdapat beberapa masalah di sektor
kesehatan dan pertanian. Di sektor kesehatan
terdapat dampak pengeroposan pada gigi
pada sebagian besar penduduk di daerah
tersebut.
Identifikasi Masalah
Permasalahan utama yang terjadi di
Kecamatan Asembagus dan Banyuputih ini
adalah menurunnya kualitas air tanah sumur
dangkal karena berada di sekitar jalur air
asam Danau Kawah Ijen, dimana sumur
dangkal ini digunakan sebagai sumber alami
bagi kebutuhan rumah tangga masyarakat.
Menurut Susiati et al. (2002), penenelitian
yang dilakukan di sungai BanyuputihAsembagus, mengandung konsentrasi Cl- =
145 mg/l, SO42- = 442 mg/l, F- = 8 mg/l, dan
tingkat keasaman (pH) = 4,29. Menurut

Fitrianingtyas, et al. (2012), menjelaskan


bahwa kecamatan Asembagus (Desa Awarawar dan Desa Bantal) dan Banyuputih (Desa
Banyuputih) merupakan daerah terdampak
oleh air asam dari kawah ijen melalui
penelitiannya yang menentukan jalur aliran
air asam menggunakan data citra satelit
landsat dan DEM SRTM (Digital Elevation
Model Shuttle Radar Topography Mission).
Selain itu Badan Geologi Nasional (BGN)
juga menunjukan, kecamatan Banyuputih dan
Asembagus berada pada sekitar jalur
terdampak oleh aliran Danau Kawah Ijen.
Menurut hasil wawancara ketika
survey lapangan penurunan kualitas air tanah
sumur dangkal yang terjadi sangat
mempengaruhi kesehatan pada masyarakat
sekitar dan lingkungan khususnya pada
tanaman padi.
Oleh karena hal tersebut, studi
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
karakteristik kimia air tanah sumur dangkal
disekitar jalur terdampak aliran air asam dari
danau Kawah Ijen.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui karakteristik kimia air
tanah sumur dangkal pada bulan September
tahun 2014 dan membuat peta area
penyebaran kandungan kimia di daerah
penelitian.
Manfaat dari penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi kepada
Pengembangan
Ilmu
dan
Teknologi,
khususnya tentang Hidrogeologi mengenai
karakteristik kandungan kimia pada air tanah
dangkal di daerah terdampak air asam dan
dapat memberikan informasi dan masukan
kepada penduduk, petani, dan pemerintah
setempat tentang sebaran kandungan
parameter kimia pada air tanah dangkal di
daerah terdampak aliran air asam Gunung
Kawaj Ijen.

METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi Studi
Lokasi penelitian berada di daerah
terdampak jalur air asam Danau Kawah Ijen,
tepatnya di Kecamatan Asembagus (Desa.
Awar-awar dan Desa. Bantal) dan Kecamatan
Banyuputih (Desa. Banyuputih) Kabupaten
Situbondo Provinsi Jawa Timur. Letak
geografis Kabupaten Situbondo adalah 7 35
- 7 44 LS dan 113 30 114 42 BT.
Kabupaten Situbondo berbatasan dengan
Selat Madura di sebelah utara, sebelah timur
berbatasan dengan Selat Bali, sebelah selatan
berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso
dan Banyuwangi, serta sebelah barat
berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo.
Luas daerah penelitian 10,522 km2 atau
1.052,2 hektar. Daerah Lokasi penelitian
dapat dilihat pada gambar 1. dibawah ini

3. pH Meter Universal, untuk mengetahui


tingkat keasaman.
4. Termometer Raksa, untuk mengetahui
suhu.
5. Corong Pemisah, untuk memisahkan
sampel air dari wadah pengambilan ke
wadah sampel.
6. Kertas Saring 0,45 m, untuk menyaring
air dari wadah pengambilam ke wadah
sampel.
7. Wadah Sampel, tempat wadah sampel
yang akan diujikan ke laboratorium.
8. Ice Box, untuk pengawetan.
9. Larutan Asam Nitrat, untuk pengawetan
parameter logam sebelum diuji.
10. Botol Timbal, wadah pengambil air
sampel dari sumur.
Diagram Alir Pengerjaan
Langkah-langkah
pengerjaan
penelitian dapat dilihat pada diagram alir
pada gambar 2. dibawah ini.

Lokasi Studi

Mulai

Permasalahan Lingkungan

Studi Literatur

Gambar 1. Daerah Lokasi Penelitian


Data dan Peralatan yang Digunakan
Data :
1. Peta Rupa Bumi Sheet Trigonco 1708114.
2. Data Kandungan Kimia Hasil Uji
aboratorium.
Peralatan :
1. Global Position Satelite (GPS) Merk
Garmin 76CS x, untuk menentukan
koordinat sumur.
2. Roll Meter, untuk mengukur dimensi
sumur.

Penentuan Lokasi
Pengambilan Sampel
Pengambilan Sampel
(perlakuan dan tata cara sesuai dengan SNI
6989.58:2008)

Pengujian sampel ke Laboratorium

(Suhu, Kekeruhan, pH, Mg2+, Na+, Ca2+, Cl-, K+, F-, HCO3-, CO32-,SO42-)

Data Kandungan Kimia Hasil Uji


Laboratorium (mg/l)

Interpretasi Data Hasil Uji Laboratorium dengan


Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor
492/Menkes/Per/IV/2010 dan Organisasi Kesehatan
Dunia

A
ul
ai

A
ul
ai Air dan Analisis Resiko
Status Keamanan Mutu

Analisis dengan
Metode Diagram Pie

Analisis dengan Metode


Diagram Trilinier Piper

Analisis dengan
Metode Kurlov

Karakteristik Kimia Air Tanah

Pemetaan Kandungan Kimia Air Tanah


dengan Menggunakan Surfer 8
Kesimpulan dan Saran

Gambar 3. Peta Lokasi Studi


Selesai

Gambar 2. Diagram Alir Penelitian


HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan Lokasi Studi
Dari klasifikasi jenis tanah, jenis
litologi
dan
batuan
menurut
peta
hidrogeologi, dan peta geologi batuan dimana
ditunjukan arah aliran air tanah menuju ke
utara tepatnya Kecamatan Asembagus dan
tingkat kelulusan air tanah yang berpotensi
sedang sampai tinggi dan teksturnya yang
berupa pasir.
Dari hasil klasifikasi tersebut terhadap
sifat air asam yang terdapat pada sungai
Banyuputih, mempengaruhi karaketeristik air
asam yang terdapat di sumur penduduk di
lokasi penelitian karena terjadi rembesan dari
sungai Banyupahit yang merupakan hilir dari
sumber dari Danau Kawah Ijen. Dalam
penelitian ini diambil 6 titik lokasi
pengambilan sampel (Sumur gali penduduk)
yang tersebar di beberapa desa Kecamatan
Asembagus dan Banyuputih dengan luas
lokasi penelitian 10,555 Km2 . Peta lokasi
studi dapat dilihat pada gambar 3. dibawah
ini.

Hasil Pengujian Laboratorium


Data hasil pengujian fisik dan kimia
dari laboratorium dapat dilihat pada gambar
1. dan 2. dibawah ini.
Tabel 1. Data hasil Pengujian Fisik
Kekeruhan
Sumur
Suhu (0c)
(NTU)
Sumur 1
Sumur 2
Sumur 3
Sumur 4
Sumur 5
Sumur 6

0.419
0,501
0,365
0,377
0,110
0,376

27,5
27
28
26,5
28
27

Sumber : Hasil Uji Laboratorium

Tabel 2. Data hasil Pengujian Kandungan


Kimia
N
o

pH

Na+
mg/l

Mg2+
mg/l

Ca2+
mg/l

K+
mg/l

6,5

32,50

0,97

0,54

15,00

6,5

27,50

0,52

0,49

15,00

6,5

42,50

1,81

1,23

25,00

6,0

32,50

1,28

< LD

15,00

6.5

40,00

1,40

0,66

18,75

6,5

37,50

1,40

< LD

18,75

N
o

Clmg/l

HCO3mg/l

CO32mg/l

SO42mg/l

F(mg/l)

247,38

137,03

< LD

546,65

0,60

156,13

137,03

< LD

157,52

0,30

344,71

102,77

< LD

471,85

0,51

227,10

85,64

< LD

378,85

0,66

318,35

137,03

< LD

508,86

0,68

326,46

85,64

< LD

478,70

0,50

Sumber : Hasil Pengujian Laboratorium

Dari hasil pengujian di lapangan


maupun di laboratorium didapatkan hasil
pada pengukuran suhu berada dalam suhu
kamar yaitu dalam interval 26,5 0C sampai 28
0
C dimana suhu ini dalam keadaan normal.
Hasil pengujian pH (Keasaman) berada
dalam interval 6 sampai 6,5, dimana menurut
Suharyadi (1984:100), pH < 7 menyatakan
air bersifat asam. Air yang bersifat asam
terdapat pengaruh dari beberapa parameter
kimia dengan kandungan yang tinggi.
Menurut Bouwer (1978:349) air yang
mengandung sulfat > 250 mg/l bersifat asam,
dimana dapat diketahui pada sumur 1,3,4,5,
dan 6 di daerah penelitian kandungan sulfat
>250 mg/l sehingga berkarakteristik asam.
Menurut EPA (Environmental Protection
Agency) batas yang diijinkan kandungan
klorida pada air tanah < 250 mg/l dan klorida
merupakan jenis asam kuat. Dari hasil uji
laboratorium, pada sumur 3,5, dan 6
kandungan klorida melebihi batas yang
diijinkan yaitu > 250 mg/l sehingga bersifat
asam.
Kelayakan Status Mutu Air
Kelayakan status mutu air minum
menggunakan
Peraturan
Kementerian
Kesehatan Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010
tentang persyaratan kualitas air minum.
Secara keseleruhan parameter fisik dalam

status aman untuk dikonsumsi, sedangkan


pada parameter kimia khususnya sulfat dan
klorida terdapat beberapa sumur yang tidak
aman untuk dikonsumsi. Pada parameter
Fluorida statusnya aman untuk dikonsumsi.
Pada parameter sulfat aman untuk
dikonsumsi pada sumur 2 tetapi tidak pada
sumur 1,3,4,5, dan 6 yang dapat
menyebabkan resiko diare dan dehidrasi.
Pada parameter Klorida aman untuk
dikonsumsi pada sumur 1,2, dan 4 tetapi
tidak pada sumur 3,5, dan 6 yang dapat
menyebabkan gangguan pencernaan dan
korosif pada logam. Kebutuhan asupan
kalsium untuk manusia 1,5 2,2 mg/l.
Kandungan parameter kalsium di semua
sumur < 1,5 mg/l, hal ini menunjukan
kekurangan kalsium dalam tubuh manusia
dapat menyebabkan pengeroposan pada gigi.
Evaluasi Terhadap Paparan Kontaminan
Suatu metode untuk menentukan
tingkat resiko untuk jangka waktu kedepan
terhadap asupan kontaminan masuk kedalam
tubuh manusia.
I=

Dimana :
I = Intake atau asupan kontaminan harian
(mg/kg-hari)
C = konsentrasi kontaminan rata-rata selama
periode
pengamatan(mg/L
untuk
kontaminan air atau mg/m3 untuk
kontaminan dari udara)
IR =jumlah medium yang tertelan persatuan
waktu (L/hari)
FP = frekuensi paparan (hari/tahun)
WP = lama waktu paparan (tahun)
BT = berat tubuh yang terpapar (kg)
WR = waktu perata, dimana paparan dirataratakan (hari)
((Notodarmojo,2005;174)

Tabel 3. Contoh Rekapitulasi Analisa


Resiko untuk parameter Fluorida
pada sumur 1.

5,56%

0,11%

0,10
Klorida

3,04%
31,59%
27,73%

Karbonat
31,87%

Melalui perhitungan dengan rumus


tersebut, terjadi resiko pada parameter sulfat
dan klorida baik pada anak-anak maupun
pada orang dewasa ketika mengkonsumsi
sebanyak 2 l/hr dalam jangka waktu 30 tahun
kedepan. Pada parameter Fluorida tidak
terjadi resiko baik pada anak-anak maupun
orang
dewasa
ketika
mengkonsumsi
sebanyak 2l/hr air tersebut dalam jangka
waktu 30 tahun kedepan.
Resiko yang dapat terjadi dari
parameter sulfat yaitu diare dan dehidrasi,
sedangkan pada parameter Klorida dapat
menyebabkan gangguan pencernaan dan
karena bersifat korosi pada logam.
Karakteristik Kimia Air Tanah
Untuk mengetahui karakteristik kimia
air tanah yang ada di daerah penelitian
dengan menggunakan metode Diagram Pie,
Metode Diagram Trilinier Piper dan Metode
Kurlov.
Untuk
mengetahui
kompososisi
kandungan kimia yang terdapat pada tiap
sumur dengan menggunakan metode
Diagram Pie. Hasil penggambaran diagram
Pie dapat dilihat pada gambar 4 sampai 9
dibawah ini.
1,53%
13,98%

3,32%

0,10%

0,05%

55,78%

Natrium

Gambar 4. Diagram Pie pada Sumur 1

4,29% 0,18% 0,12%

2,53%
10,38%

34,82%

Klorida
Sulfat
Karbonat
Kalium

47,67%

Natrium

Gambar 6. Diagram Pie pada Sumur 3


2,03% 4,39% 0,00%

0,17%

11,57%
30,67%

Klorida
Sulfat
Karbonat
Kalium

51,17%

Natrium

Gambar 7. Diagram Pie pada Sumur 4


1,83%

3,90%

0,14% 0,06%

13,37*

31,06%

Klorida
Sulfat
Karbonat
Kalium

49,64%

Natrium

Gambar 8. Diagram Pie pada Sumur 5


1.98% 3.95% 0.15% 0,00%
9.03%

Klorida
34.42% Sulfat
Karbonat

25,24% Sulfat

Kalium

Kalium

Gambar 5. Diagram Pie pada Sumur 2

Klorida

Karbonat

Sulfat

Kalium
50.47%

Natrium

Gambar 9. Diagram Pie pada Sumur 6

Dari Gambar 4 sampai 9 dapat


dijelaskan bahwa semua sumur air tanah di
lokasi penelitian pada tipe anion menunjukan
kandungan nilai Sulfat (SO42-) Klorida (Cl-)
Bikarbonat (HCO3-) dan pada sampel
sumur air tanah di lokasi penelitian pada tipe
kation menunjukan nilai Natrium (Na+)
Kalium (K+) Magnesium (Mg2+) Kalsium
(Ca2+). Dari metode Diagram Pie dapat
diketahui bahwa sifat air pada di lokasi
penelitian memiliki karakteristik anion Sulfat
(SO42-) dan memliki karakteristik kation
Natrium (Na+) yang lebih dominan.
Untuk mengetahui sumber penyusun
kimia yang terdapat di daerah penelitian
dengan metode diagram Trilinier Piper..
Hasil pengerjaan menggunakan metode
diagram trilinier piper dapat dilihat pada
gambar
10.
dibawah
ini.
.

Gambar 10. Hasil Diagram Trilinier Piper


Tabel 4. Kesimpulan Metode Diagram
Trilinier Piper
Nama
Sumur
Sumur
1
Sumur
2
Sumur
3

Nama
Sumur
Sumur
4
Sumur
5
Sumur
6

94,4 % dominan
pada unsur Natrium
dan Kalium
95,9 % dominan
pada unsur Natrium
dan Kalium
92,2 % dominan
pada unsur Natrium
dan Kalium

Diagram
Anion
55,2 % dominan
pada
unsur
Sulfat
Tidak ada unsur
yang
terdominan
Tidak ada unsur
yang
terdominan

Karbonat

Non
Alkali

Karbonat

94,4 % dominan
pada unsur Natrium
dan Kalium
93,7 % dominan
pada unsur Natrium
dan Kalium
94,8 % dominan
pada unsur Natrium
dan Kalium

Diagram
Anion
50,3 % dominan
pada
unsur
Sulfat
Tidak ada unsur
yang
terdominan
Tidak ada unsur
yang
terdominan

Diagram Tipe
Penyusun Kimia
Non
Karbonat
Alkali
Non
Alkali

Karbonat

Non
Alkali

Karbonat

Menurut (Suharyadi, 1984:106), hasil


analisa selanjutnya diinterpretasikan tipe
kandungan kualitas air tanahnya dengan
memperhatikan kelompok dominan hasil
pengeplotan sampel air tanah pada jajar
genjang (gambar 10.) dengan gambar 11.
dibawah ini.

Gambar 11. Pembagian Klasifikasi Diagram


Jajaran Genjang
Pada Jajar genjang semua sumur air
tanah dangkal berada pada bagian sisi kanan
bawah, sehingga masuk dalam tipe nomor 7
dengan sifat non-karbonat alkali (kegaraman
primer) > 50%, dan sifat kimia airtanah
didominasi oleh alkali dan asam kuat.
Untuk menentukan tipe penamaan
kelas air yang terdapat pada sumur dan
daerah penelitian dengan menggunakan
metode kurlov dan hasilnya dapat dilihat
pada tabel 5. dibawah ini
Tabel 5. Hasil Analisa Metode Kurlov

Diagram Tipe
Penyusun Kimia
Non
Karbonat
Alkali
Non
Alkali

Diagram Kation

Sumber : Hasil Analisa

Kesimpulan
Diagram Kation

Kesimpulan

Dari hasil metode kurlov, pada sumur


1,3,4,5,dan 6 penamaan tipe kelas airnya
yaitu Natrium Sulfat Klorida, sedangkan
sumur 2 adalah Natrium Klorida Sulfat.
Dominasi penamaan tipe kelas air tanh di
daerah penelitian adalah Natrium Sulfat
Klordia.
Rekapitulasi kesimpulan dari tiga
metode dapat dilihat pada tabel 6 dibawah
ini.
Tabel 6. Rekapitulasi Analisa Tiga Metode
yang Telah Digunakan
Metode
Diagram Pie
Diagram
Piper

Trilinier

Klasifikasi Kurlov

Kesimpulan
Kandungan nilai sulfat (SO42-) dan Natrium
(Na+) lebih dominan.
Bertipe non-karbonat alkali (kegaraman
primer) > 50%, dengan sifat kimia airtanah
didominasi oleh alkali (Na+) dan asam kuat
(SO42-).
Tipe penamaan kelas airnya adalah Natrium
Sulfat Klorida.

Sumber : Hasil Analisa

Dari hasil kesimpulan ketiga metode


diatas yang telah digunakan, Senyawa
kimiawi yang dapat terbentuk di lokasi
penelitian adalah Na2SO4. Apabila senyawa
ini larut dalam air maka akan terurai,
sehingga memisahkan Na+ dan SO42- dan
membentuk H2SO4. Senyawa H2SO4 dimana
didalamnya mengandung unsur sulfat (SO42-)
inilah yang menyebatkan air bersifat asam.
Kandungan sulfat yang tinggi menurut MDH
(Minnesota Departement Of Health) dapat
dikurangi dengan proses pertukaran ion (ion
exchange).
Pemetaan Kandungan Kimia Air Tanah
Pemetaan kandungan kimia air tanah
ini dilakukan berdasarkan koordinat yang
telah didapatkan ketika survey di lokasi
penelitian dengan menggunakan GPS (Global
Position system) dan data kandungan kimia
hasil uji laboratorium. Pemetaan dengan
menggunakan paket program surfer 8,
sehingga dihasilkan peta area penyebaran
seperti contoh pada gambar 12 dibawah ini.

Gambar 12. Peta Area Penyebaran kandungan


Parameter Sulfat

Setelah semua peta area penyebaran


kandungan parameter jadi, selanjutnya dapat
di tentukan klasifikasi parameter kandungan
tertinggi di daerah penelitian seperti tabel 7
dibawah ini.
Tabel 7. Rekapitulasi Kandungan Parameter
Tertinggi di Daerah Penelitian.
Parameter
Sulfat
(SO42- 540
mg/l)
Bikarbonat
(HCO3- 132
mg/l)
Fluorida
(F- 0,68 mg/l)
Kalium
(K+ 22 mg/l)
Kalsium
(Ca2+ 1,00
mg/l)
Klorida
(Cl 300
mg/l)
Magnesium
(Mg2+ 1,75
mg/l)
Natrium
(Na+ 39 mg/l)

Daerah
Kandungan
Tertinggi
Sumur 1
Sumur 1 dan 2
Sumur 5
Sumur 5

Nama Desa

Desa Awarawar

0,1384
Km2

Desa Awarawar
Desa
Banyuputih
Desa
Banyuputih

2,6802
Km2
0,09081
Km2
0,9499
Km2
0,2352
Km2

Sumur 3

Desa Bantal

Sumur 3

Desa Bantal

Sumur 3

Desa Bantal

Sumur 5 dan 6

Desa
Banyuputih

Sumur 3

Desa Bantal

Sumur 3

Desa Bantal

Sumur 5

Desa
Banyuputih

Sumber : Hasil Analisa

Total
Luasan
Area
Sebaran.

0,4096
Km2
0,5990
Km2
2,7272
Km2
0,1759
Km2
0,5168
Km2
0,0392
Km2

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari
penelitian ini adalah:
1. Pengujian pH (keasaman) di semua sumur
berada dalam interval 6 sampai 6,5
sehingga air bersifat asam. Air bersifat
asam dipengaruhi oleh parameter sulfat
dan klorida karena >250 mg/l. Pada
parameter sulfat > 250 mg/l terdapat pada
sumur 1,3,4,5, dan 6 dan parameter
klorida > 250 mg/l terdapat pada sumur
4,5, dan 6.
2. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor
492/Menkes/Per/IV/2010,
parameter fisik berstatus aman untuk
dikonsumsi dan pada parameter kimia
Klorida sumur 1,2, dan 4 status mutu
airnya aman, tetapi sumur 3,5,dan 6 tidak
aman untuk dikonsumsi pada anak-anak
dan orang dewasa dari hasil analisa resiko.
Resiko yang dapat terjadi yaitu gangguan
pencernaan dan korosif pada logam. Pada
parameter Sulfat (SO42-) hanya sumur 2
yang aman untuk dikonsumsi, tetapi sumur
1,3,4,5, dan 6 tidak aman untuk
dikonsumsi pada anak-anak maupun orang
dewasa dari hasil analisa resiko. Resiko
yang dapat terjadi yaitu diare dan
dehidrasi. Pada parameter Fluorida semua
sumur dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
Kalsium yang rendah dapat menyebabkan
pengeroposan pada gigi manusia.
3. Karakteristik kimia air tanah di lokasi
penelitian tipe penyusun kimianya bertipe
non-karbonat alkali (kegaraman primer) >
50%, dengan sifat kimia airtanah
didominasi oleh alkali (Na+) dan asam
kuat (SO42) dan tipe penamaan kelas
airnya adalah Natrium sulfat klorida.
Senyawa kimiawi yang dapat terbentuk di
lokasi penelitian adalah Na2SO4. Apabila
senyawa ini larut dalam air maka akan
tedisosiasi, sehingga memisahkan Na+ dan
SO42- dan membentuk H2SO4. Senyawa

H2SO4 dimana didalamnya mengandung


unsur sulfat (SO42-)
inilah yang
menyebatkan air bersifat asam.
4. Berdasarkan peta area penyebaran
kandungan kimia, kandungan tertinggi
pada parameter sulfat berada di daerah
sumur 1 di desa Awar-awar. Kandungan
tertinggi pada parameter bikarbonat berada
pada daerah sumur 1,2, (desa Awar-awar)
dan 5 (Desa Banyuputih). Kandungan
tertinggi
pada
parameter
fluorida
padasumur 5 di desa Banyuputih.
Kandungan tertinggi pada parameter
kalium berada pada daerah sumur 4 di
desa Banyuputih. Kandungan tertinggi
pada parameter kalsium berada pada
daerah sumur 3 di desa Bantal. Kandungan
tertinggi pada parameter klorida berada
pada daerah sumur 3 (desa Bantal),5, dan
6 (desa Banyuputih). Kandungan tertinggi
pada parameter magnesium berada pada
daerah sumur 3 di desa Bantal. Kandungan
tertinggi pada parameter natrium berada
pada daerah sumur 3 (desa Bantal) dan 5
(desa Banyuputih)
Saran
Diharapkan bagi pemerintah untuk
meneliti sifat kimia dan fisika air tanah
secara berkala di Kabupaten Asembagus dan
Banyuputih, agar dapat mengambil solusi
lebih lanjut agar dapat menurunkan
kandungan kimia yang berada diatas batas
maksimum yang ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
EPA.(2012). Sulfate in Drinking Water.
http://water.epa.gov/drink/conta
minants/unregulated/sulfate.cfm,
20 Desember 2014
Fitrianingtyas, Z., et al. (2009). Studi
Perkiraan Jalur Aliran Air Aki
Menggunakan Data Citra Satelit
Landsat dan SRTM.
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-

Undergraduate-25471-studiperkiraan-jalur-aliran-air-akimenggunakan-data-citra-satelitlandsat-dan-srtm-studi-kasusgun.pdf, 6 Juni 2014.


Kolay. (2007). Soil Genesis, Classification
Survey and Evaluation. Atlantic
Publisher and distributors. India.
Notodarmojo., 2005. Pencemaran Tanah
Dan Air Tanah. Bandung:
Penerbit ITB.
Sriwana, T., Kadarsetia, E. (1999). Kimia Air
Danau Gunung Kawah Ijen dan
Sekitarnya Jawa Timur,
Menjelang Letusan Tahun 1999.
www.bgl.esdm.go.id/publication/in
dex.php/dir/article_download/420,
6 Juni 2014.

Suhayadi. (1984). Geohidrologi ( Ilmu Air


Tanah). Jurusan Teknik Geologi
Fakultas Teknik Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Susiati,H., et al. (2000). Inventarisasi
Komposisi Isotop Alam Untuk
Identifikasi Ancaman Bahaya
Sebaran Polutan Magmatik
Sepanjang Kali BanyupahiBanyuputih. digilib.batan.go.id/eprosiding/.../Pengolahan.../heni_su
siati_190.pdf, 6 Juni 2014.