You are on page 1of 7

Orang tua yang merokok, resistensi nasal, dan rhinitis pada anak anak

Abstrak :
Tujuan : Untuk menentukan apakah rhinitis menahun yang dilaprkan oleh
orang tua atau resistensi nasal yang terperiksa dengan objekif lebih
banyak ditemukan pada anak anak dari keluarga yang merokok. Untuk
mengukur ukuran tonsil, jalan nafas nasofaringeal dan frekuensi operasi
saluran nafas bagian atas pada anak dengan orang tua yang merokok dan
yang tidak.
Metode : Sembilan puluh lima anak anak (umur 3-6 tahun, median 68
bulan) berpartisipasi pada studi cross-sectional klinis ini. Riwayat dari
gejala gejala hidung didapatkan, dan semua mengikuti pemeriksaan
THT, rhinomanometry anterior, dan cefalogram lateral. Kebiasaan
merokok dan anak yang mengorok saat tidur didapatkan dengan
menggunakan kuesioner yang diisi oleh para orang tua. Kami
membandingkan anak anak dengan orang tua yang merokok dan anak
anak yang orang tuanya tidak merokok pada studi ini.
Hasil : Merokok pada keluarga mengarahkan kepada meningkatnya resiko
rhinitis menahun pada anak anak sampai 2.76 kali lipat (aOR, 95%CI
1.00-7.67), namun dengan tanpa perbedaan yang berarti pada resistensi
nasal pada anak anak yang orangtuanya merokok dan yang
orangtuanya yang tidak merokok. Tidak ada hubungan antara ukuran
tonsil, jalan nafas nasofaringeal dan operasi saluran nafas bagian atas
dengan orang tua yang merokok.
Kesimpulan : Orang tua yang merokok berhubungan dengan gejala
gejala rhinitis yang menahun pada anak anak. Kemungkinan terlibatnya
tembakau pada lingkungan pernafasan anak anak harus dimasukkan
dalam daftar permasalahan pada konsultasi klinis dan evaluasi pada anak
anak yang diterapi dengan gejala gejala rhinitis dan obstruksi nasal.
Pendahuluan
Paparan terhadap lingkungan asap tembakau mengarah kepada masalah
pernafasan pada anak. Perokok pasif merupakan faktor resiko yang
dikenal dalam masalah mengorok pada anak anak dan orang dewasa
dan juga terlihat sebagai hal yang berbahaya pada olfaktorius.
Studi studi pada lingkungan yang padat dengan asap tembakau dan
rhinitis pada anak sangatlah sedikit. Satu studi baru baru ini
menunjukkan bahwa paparan terhadap asap tembakau pada awal
kehidupan meningkatkan resiko untuk sensitisasi IgE terhadap inhalan
indoor dan alergen makanan. Perokok pasif sepertinya berhubungan

dengan meningkatnya gejala gejala gangguan nafas pada anak anak


dan juga orang dewasa. Kongesti nasal juga merupakan satu dari sekian
gejala utama pada rhinitis, biasanya diikuti dengan rhinorrhea dan
posnasal drip dengan bersin bersin, gatal gatal, dan gangguan pada
mata. Satu studi terdahulu menilai gejala gejala obstruksi nasal pada
anak anak yang terpapar dengan asap rokok dan menemukan adanya
tren yang mengarah pada lebih tingginya score obstruksi nasal yang
berhubungan dengan anak sebagai perokok pasif pada anak yang tidak
memiliki alergi. Pada sebuah studi epidemiologikal yang besar pada
remaja, baik perokok aktif maupun pasif mengarah kepada meningkatnya
resiko rhinoconjungtivitis. Gejala gejala rhinitis dan rhinokonjungtivitis
pada saat ini diasosiasikan dengan paparan terhadap lingkungan berasap
rokok dengan anak anak pra sekolah di Singapura. Namun, kurangnya
data terdapat pada prokok pasif dan gejala gejala rhinitis menahun dan
efek dari perokok pasif yang berkaitan dengan resistensi nasal masih
belum dieksplorasi lebih lanjut.
Bukti bukti yang bermunculan mengindikasikan bahwa paparan
terhadap lingkungan berasap rokok memiliki efek samping pada
kesehatan anak. Penelitian pada rhinitis utamanya mengandalkan laporan
orang tua dengan gejala gejala yang dimiliki oleh anak atau data
subjektif yang dilaporkan sendiri. Tujuan utama dari studi kami adalah
untuk menentukan apakah rhinitis menahun pada anak anak lebih
banyak ditemukan pada keluarga perokok dan apakah efek dari orang tua
yang merokok memiliki dampak pada saluran nafas bagian atas anak
dengan menggunakan pengukuran nasal yang objektif. Hubungan antara
orang tua yang merokok dan obstruksi nasal dievaluasi dengan
rhnomanometry anterior aktif (RMM) pada anak anak. Tujuan kedua
adalah untuk menentukan prevalensi keadaan atopik, operasi jalan nafas
bagian atas dan riwayat mengorok serta rhinitis alergi pada anak yang
hidup di keluarga yang merokok dan yang tidak. Kami juga menentukan
ukuran tonsil dan jalan nafas nasofaringeal pada anak anak ini untuk
melihat efek yang mungkin ada pada keluarga perokok.
Pasien dan metode
Studi prospektif klinis ini adalah bagian dari epidemiologi studi yang lebih
besar tentang gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan
pernafasan yang dilakukan di departemen otolaringologi dan bedah
kepala dan leher., universitas helsinki rumah sakit sentral. Random
sample dari 1400 anak diantara 3-6 tahun di ambil pada tahun 2005 dari
register populasi pusat di helsinki, mempresentasikansekitar 7% dari
semua anak di umur dan tempat tinggal tersebut. Keluarga pdari anak
anak ini kemudian menerima kuesioner yang mendeskripsikan mengenai

kualitas tidur anak, kesehatam secara umum dan kebiasaan merokok di


dalam keluarga dalam rumah. Pengingat dua kali disampaikan, dan kami
menerima kembali 1005 kuesioner (71,8%).
Riwayat dari orang tua yang merokok diasosiasikan dengan pertanyaan:
apakah orangtua merokok secara rutin? Jawab dengan pilihan ayah,
ibu. Paparan anak terhadap tembakau diasosiasikan dengan
pertanyaan: Apakah anak anda secara rutin terpapar terhadap asap
rokok di dalam rumah?. Riwayat mengenai alergi rhinitis ditanyakan
dengan pertanyaan: Apakah anak anda memiliki rhinitis alergi?. Riwayat
operasi sebelumnya ditanyakan dengan: Apakah anak anda pernah
mengalami operasi adenoidektomi/tonsilektomi/ timpanostomy? Jawaban
dari pertanyaan adalah ya atau tidak. Anak dianggap mengorok apabila
orang tua menjawab pertanyaan: Seberapa sering anak anda
mengorok?
Semua anak yang dilaporkan kadang atau selalu mengorok (response
alternatives 3-5, n = 194, 19.8%) diminta untuk berpartisipasi dalam studi
klinis dan dikategorikan sebagai pengorok. Anak anak yang tidak
mengorok (response alternatives 12; n = 788, 80.2%) yang orang tuanya
menyatakan keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam studi klinis ini
dikategorikan sebagai kontrol terhadap anak anak yang mengorok (n =
236). Akhirnya, 97 anak, 45 pengorok dan 52 anak yang tidak mengorok
mendatangi klinik pasien rawat jalan kami 1-6 bulan setelah
menyelesaikan kuesioner. Anak anak ini kemudian menjalani
pemeriksaan THT, dan riwayat dari gejala gejala gangguan nasal
kemudian diambil. Resistensi nasal kemudian diukur selama kunjungan
klinis dan Skin-Prick Test (SPT) dilakukan kecuali hasil tes sudah ada.
Radiografi lateral cephalometric dijadwalkan 1 bulan setelah kedatangan
anak anak tersebut.
Kriteria eksklusi adalah anomali fasial, syndrom medis dan penyakit kronik
yang mungkin meningkatkan kejadian sulit bernafas pada malam hari.
Anak anak dengan infeksi saluran nafas atas saat kedatangan ke klinik
juga dieksklusi kecuali yang bersangkutan dapat datang lagi di hari lain.
Secara umum, kedua tipe anak anak ini dieksklusi, satu pengorok
dengan Downs syndrome dan seorang anak yang tidak mengorok dengan
common cold akut dieksklusi. Kecuali seorang anak yang diadopsi yang
memiliki darah Afrika, semua anak anak merupakan ras Kaukasia dan
asli finlandia. Mereka tidak memiliki anomali pada wajah. Deviasi septum
nasi ditemukan pada 4 anak. 7 menggunakan obat inhalasi untuk asma. 5
anak menggunakan obat obatan yang dikonsumsi sekali sekali untuk
rhinitis alergi.

Rhinitis menahun dideskripsikan sebagai baik adanya obstruksi nasal atau


rhinorrhea yang berlangsung tidak hanya sekali sekali. Gejala yang
timbul hanya sekalu sekali kemudian tidak dimasukan karena
kemungkinan merupakan infeksi viral. Tonsil di ukur dengan grading dari
Brodsky et al. (score 1-4).
Penilaian dari nasal resisten dilakukan dengan anterior RMM setelah
sekurang kurangnya dua minggu tanpa ada gejala infeksi saluran nafas
atas. Penilaian nasal (NR6-2; G.M. Instruments Ltd, Glascow, Scotland, UK)
dilakukan duduk setelah 15 menit periode aklimatisasi. Inspirasi nasal
resistensi dalam radius 200 dikalkulasikan dengan metode Broms dan
total nasal resistensi (Rna) dikalkulasikan dari kiri dan kanan sisi
perekaman. Penilaian dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari
Standardization Committee on Objective Assessment of the Nasal Airway.
Atopi dinilai via SPT. Orang tua dari 21 anak tidak menginginkan anaknya
mengikuti skin test. SPT dilakukan dengan mengikutsertakan 10 jenis
aeroallergen umum yang berhubungan dengan gejala alergi di helsinki:
Betula lutea, rumput tymothy, tumbuhan alnus, padi padian, tumbuhan
Baru cina, makanan dan bulu kucing, anjing, dan hamster,
Dermatophagoides farinae dan pteronyssinus. Test SPT yang positif
didefinisikan sebagai urtikaria dengan diameter minimal 3mm. Atopy
didefinisikan sebagai setidaknya 1 positif SPT.
Lateral cephalometrik radiografin terstandarisasi diambil di cephalostat
(Cranex C; Soredex Co., Tuusula, Finland) menggunakan garis horziontel
Frankfort yang paralel ke lantai. Landmarknya diidentifikasi menggunakan
cefalogram lateral didigitisasi dan direkam di program software komputer,
setelah variabel yang mendeskripsikan dimensi nasofaringeal dikalkulasi
(Viewbox 3.1, Cephalometric Software; dHal Software, Kifissia, Greece).
Perbesaran radiografi sebesar 10% dikoreksi.efek dari pertumbuhan
dimasukkan ke perbandingan statistik dengan membagi penilaian
nasofaring dengan jarak dari stella ke nasi.
Protokol penelitian disetujui oleh komite etika lokal dari Helsinki University
Central Hospital. Orangtua menandatangani informed consent tertulis,
dan persetujuan lisan adalah diperoleh dari anak-anak. Desain penelitian
juga disetujui oleh dewan review kelembagaan.
Perbedaan antara jumlah anak laki-laki dan perempuan dan antara jumlah
pasien menolak dan menerima SPT diuji dengan uji Chi-square.
Independent t-tes yang pertama kali digunakan untuk perbandingan data
demografi antara kelompok anak-anak dengan merokok atau nonmerokok orang tua. Karena usia secara signifikan lebih tinggi pada anakanak dengan merokok orang tua dibandingkan dengan anak-anak tanpa

perokok di keluarga, analisis kovarians oleh karena itu digunakan untuk


membandingkan Data rinomanometri dan pengukuran nasofaringantara
kelompok-kelompok ini. transformasi logaritmik telah dilakukan untuk data
rinomanometri.
variabel klinis antara anak-anak di perokok dan non-perokok keluarga
dibandingkan dengan rasio odds yang disesuaikan menurut umur
menggunakan analisis regresi logistik. Semua analisis dilakukandengan
perangkat lunak statistik (NCSS dan LULUS 2004; NomorCruncher statistik
Systems, Kaysville, UT). -Nilai p <0,05 dianggap signifikan.
Hasil
Data demografis untuk 95 anak-anak ditunjukkan pada Tabel 1: 35 anak
(37%) tinggal dengan orang tua merokok. Lima puluh persen dari anakanak perempuan. Anak-anak dalam keluarga non-merokok yang lebih
muda dari mereka dalam keluarga merokok. Umur adalah Faktor
pengganggu yang signifikan dibandingkan dengan ini kelompok hanya
dalam jumlah adenoidectomies (p = 0,04).
Klinis dan kuesioner data yang ditunjukkan pada Tabel 1 dan 2. rhinitis
Perennial lebih umum pada anak-anak dengan perokok orangtua (37%)
dibandingkan pada anak-anak tanpa orangtua perokok dalam rumah
tangga (15%) (AOR 2,76). Merokok di keluarga tidak berhubungan dengan
resistensi hidung meningkat dalam semua anak-anak atau dalam
subkelompok mendengkur dan non-mendengkur anak-anak. Empat puluh
empat anak mendengkur dan 51 non-mendengkur anak-anak
berpartisipasi penelitian ini. Anak-anak ini tidak berbeda dalam usia,
tinggi badan, berat badan atau awal Rna.
Sejarah rhinitis alergi tidak berhubungan dengan merokok di dalam
keluarga. Atopi muncul di 35% dari anak-anak, tapi atopi tidak
berhubungan dengan merokok di keluarga (Tabel 2). Dalam rumah tangga
merokok, 14% dari orang tua dan 27% keluarga non-merokok menolak
SPT. Di antara orang tua dengan anak mendengkur 14% dan di antara
orang tua dengan anak non-mendengkur 29% menolak SPOT. Perbedaan
yang non signifikan.
Baik ukuran tonsil atau jumlah operasi saluran napas atas lebih tinggi
pada anak-anak dengan orang tua merokok (Tabel 2). Maupun yang
cephalometrik pengukuran mencerminkan lebar jalan napas nasofaring
pada tingkat adenoid yang jaringan yang terkait dengan merokok di
keluarga (Tabel 1). Hanya satu anak, anak laki-laki dengan dua orang tua
merokok, dilaporkan terkena secara teratur untuk asap tembakau,
menurut kuesioner orangtua.

Diskusi
Temuan utama kami adalah bahwa abadi rhinitis terjadinya adalah hampir
tiga kali lipat pada anak-anak dengan orang tua merokok, mempengaruhi
lebih dari sepertiga dari anak-anak. Temuan ini konsisten dengan temuan
asap tembakau lingkungan dan gejala rinitis pada tahun sebelumnya di
prasekolah anak usia (12). Namun, dalam penelitian ini, orang tua
merokok tampaknya tidak menyebabkan peningkatan atopi. Itu hubungan
antara atopi dan merokok pasif telah kontroversial (2). Dalam penelitian
kami, 21 orang tua pasien kami ' menolak SPT, yang mungkin bias yang
hasil kami dan membuat gambar kesimpulan tentang hubungan antara
merokok pasif dan atopi sulit. Berdasarkan karya Vinke et al. (21),
merokok pasif dapat menyebabkan peningkatan sel IgE dan eosinofil di
mukosa hidung anak-anak non-atopik. Kita menduga bahwa peningkatan
rhinitis abadi ditemukan di ini studi di rumah tangga dengan merokok
orangtua mungkin jika nonallergic asal.
Asap tembakau lingkungan telah dikaitkan dengan mengurangi volume
hidung di rhinometry akustik anak berusia 7-12 (22). Di sini, tidak ada
hubungan muncul antara resistensi hidung dan merokok dalam keluarga.
merokok orang tua ' telah terbukti menjadi faktor risiko untuk
mendengkur di anak-anak mereka (4,6,23). Di bagian epidemiologi ini
studi, ibu yang merokok dilaporkan di 14% dari mendengkur anak-anak
dan hanya 8% pada anak-anak non-mendengkur (6). Untuk mendengkur
anak, merokok oleh kedua orang tua adalah dua kali umum seperti dalam
keluarga anak-anak non-mendengkur (6). Konsisten dengan studi
sebelumnya, para orang tua di epidemiologi yang bagian dari penelitian
ini dilaporkan secara signifikan lebih sering gejala rinitis di mendengkur
anak dibandingkan pada non-snorers (4,6,23). Penilaian efek dari merokok
orangtua pada Rna objektif dalam mendengkur dan non-mendengkur anak
adalah Oleh karena itu menarik. Namun, kami tidak menemukan
perbedaan perlawanan hidung antara anak dengan orang tua merokok
dan anak-anak tanpa perokok dalam keluarga di sub-kelompok anak-anak.
Seseorang dapat berasumsi bahwa hidung tersumbat dan gejala rhinitis
karena merokok pasif dapat menyebabkan peningkatan dalam
pengobatan yang tidak perlu dan pengobatan anak-anak. Kami
menemukan ada penelitian sebelumnya menyelidiki adenotonsillar atau
ukuran jalan napas nasofaring pada anak-anak dengan merokok orang
tua, meskipun merokok dapat menyebabkan hiperplasia dalam jaringan
limfoid nasofaring (24). Di sini, tidak ukuran tonsil atau pengukuran jalan
napas nasofaring tampak, namun, untuk dipengaruhi oleh merokok dalam
keluarga, juga tidak merokok orangtua mempengaruhi jumlah
adenotonsillectomy, yang pada 30% sangat tinggi; angka ini konsisten

dengan jumlah adenoidectomies dilakukan di Finlandia, yang tercermin


dari pengumpulan data kami pada tahun 2005 (25). Temuan ini juga
menunjukkan bahwa prevalensi lebih tinggi dari rhinitis abadi dalam
keluarga merokok bukan karena hiperplasia adenoid.
Kami sebelumnya melaporkan bahwa sepertiga dari anak usia 1-6 tahun
di Helsinki hidup dengan orang tua merokok (6). Meskipun 35 keluarga
memiliki perokok dalam keluarga di penelitian ini, hanya satu anak
dilaporkan terkena asap tembakau secara teratur, menunjukkan bahwa
orang tua tampaknya menyadari paparan asap tembakau anak benar.
Namun, kami tidak menilai tembakau paparan asap obyektif dengan
pengukuran cotinine (10). Hasil kami perlu lebih lanjut konfirmasi.
Bias seleksi adalah mungkin, karena hanya 7% dari random sampel anakanak mengunjungi klinik kami. Namun, kuesioner dikirim ke populasi awal
difokuskan terutama pada tidur dan mendengkur, dan hidung gejala yang
bertanya tentang hanya pada kunjungan ke klinik. Hal ini membuat tidak
mungkin bahwa orang tua dengan masalah hidung akan diwakili dalam
belajar. Mendengkur tampaknya tidak menjelaskan perbedaan dalam
rhinitis abadi.
Kesimpulan
Rhinitis abadi hampir tiga kali lipat pada anak-anak dengan merokok
orang tua. Orang tua mungkin tidak menyadari sejauh mana mereka
paparan anak untuk asap tembakau di rumah. Peran dari asap tembakau
lingkungan harus dipertimbangkan dalam konseling orangtua dan di
evaluasi non-mendengkur anak-anak yang dirawat karena gejala rhinitis
dan hidung halangan.