You are on page 1of 13

BAB II

DASAR TEORI
A. LANDASAN TEORI
1. Anatomi Vertebrae
Columna vertebralis terdiri atas 33 vertebrae, yaitu 7 vertebrae cervical, 12
vertebrae thorakal, 5 vertebrae lumbal, 5 vertebrae sakrum (yang bersatu
membentuk os sakrum), dan 4 vertebrae coccyx (tiga yang di bawahnya umumnya
bersatu). Struktur columna ini fleksibel karena columna ini bersegmen dan
tersusun atas vertebrae, sendi-sendi, dan bantalan fibrocartilago yang disebut
diskus intervertebralis.
Vertebrae terdiri atas korpus yang bulat di anterior dan arkus vertebrae di
posterior. Keduanya, melingkupi sebuah ruang yang disebut foramen vertebralis,
yang dilalui oleh medula spinalis dan bungkus-bungkusnya. Arkus vertebrae
terdiri atas sepasang pedikulus yang berbentuk silinder, yang membentuk sisi-sisi
arkus, dan sepasang lamina gepeng yang melengkapi arkus dari posterior. Arkus
vertebrae mempunyai 7 processus yaitu 1 processus spinosus, 2 processus
transversus, dan 4 processus articularis.

a. Vertebrae Lumbal
Vertebralis lumbalis atau ruas tulang pinggang adalah yang terbesar.
Badannya lebih besar dibandingkan badan vertebra lainnya dan berbentuk
seperti ginjal. Processus spinosusnya lebar, tebal, dan berbentuk seperti kapak
kecil. Processus transversusnya panjang dan langsing. Facet (zygapophyseal)

joint dari lumbal lebih ke posterior dari coronal plane, artikulasi ini dapat
dilihat dengan posisi oblik. Foramen intervertebralis dari lumbal berada
ditengah dari sagital plane.

Gambar 2.1 Right posterior oblique dari lumbal


(Ballinger, 2003:402)

Vertebra lumbal terdiri dari dua komponen, yaitu komponen anterior


yang terdiri dari corpus, sedangkan komponen posterior yaitu arkus vertebralis
yang terdiri dari pedikel, lamina, processus transverses, processus spinosus
dan processus artikularis. Setiap dua korpus vertebra dipisahkan oleh discus
intervertebralis dan ditahan serta dihubungkan satu dengan yang lain oleh
ligamentum.

Gambar 2.2 a) lumbal superior view. b) lumbal lateral view.


c) lumbal posterior view. d) lumbal anterior view
(Bontrager, 2010:322)

Foramina vertebralis lumbalis berbentuk segitiga, ukurannya sedikit


lebih besar dari milik vertebra thorakalis tapi lebih kecil dari vertebra
servikalis. Bagian bawah dari medulla spinalis meluas sampai foramen
vertebra lumbalis satu, foramen vertebra lumbal lima hanya berisi kauda
equina dan selaput selaput otak.

Processus transversus berbentuk tipis dan panjang kecuali pada


vertebra lumbal lima yang kuat dan tebal. Berukuran lebih kecil daripada yang
terdapat pada vertebra thorakalis.
Processus spinosus berbentuk tipis, lebar, tumpul dengan pinggir atas
mengarah ke arah bawah dan ke arah dorsal. Processus ini dapat diketahui
kedudukannya dengan cara meraba atau palpasi.
Processus artikularis superior meripakan facies artikularis yang cekung
dan menghadap posteromedial, sebaliknya facies artikularis inferiornya
cembung dan menghadap ke anterolateralis (Ballinger, 1995).

b. Vertebrae Sakrum
Sakrum atau tulang kelangkang berbentuk segitiga dan terletak pada
bagian bawah kolumna vertebralis, terjepit diantara kedua tulang inominata
(atau tulang coccyx) dan membentuk bagian belakang rongga pelvis(panggul).
Dasar dari sacrum terletak di atas dan bersendi dengan vertebra lumbalis
kelima dan membentuk sendi intervertebral yang khas. Tepi anterior dari basis
sacrum membentuk promontorium sakralis.

Gambar 2.3 a) sacrum anterior view. b) sacrum lateral view


(Ballinger, 2003:404)

Kanalis sakralis terletak dibawah kanalis vertebralis (saluran tulang


belakang) dan memang lanjutannya. Dinding kanalis sakralis berlubanglubang untuk dilalui saraf sacral. Processus spinosus yang rudimenter dapat
dilihat pada pandangan posterior dari sacrum. Permukaan anterior sacrum
adalah cekung dan memperlihatkan empat gili-gili melintang yang
menandakan tempat penggabungan kelima vertebra sakralis.
Pada ujung gili-gili ini, disetiap sisi terdapat lubang-lubang kecil untuk
dilewati urat-urat saraf. Lubang-lubang ini disebut foramina. Apex dari
sacrum bersendi dengan tulang coccyx. Di sisinya, sacrum bersendi dengan
tulang ileum dan membentuk sendi sakro-iliaka kanan dan kiri(Evelyn, 1999).
2. Spondylosis Lumbal
a. Definisi
Spondylosis lumbal merupakan penyakit degeneratif pada corpus
vertebra

atau

diskus

intervertebralis

yang

mengakibatkan

makin

menyempitnya jarak antar vertebra sehingga mengakibatkan terjadinya


osteofit, penyempitan kanalis spinalis dan foramen intervertebralis, dan iritasi
persendian posterior. Rasa nyeri pada spondylosis ini disebabkan oleh
terjadinya osteoartritis dan tertekanan radiks oleh kantong durameter yang
mengakibatkan iskemik dan radang (Harsono dan Soeharso, 2005).
Kondisi ini lebih banyak menyerang pada wanita. Faktor utamayang
bertanggung jawab terhadap perkembangan spondylosis lumbal adalah usia,
obesitas, duduk dalam waktu yang lama dan kebiasaan postur yang jelek.
5

Pada faktor usia menunjukkan bahwa kondisi ini banyak dialami oleh orang
yang berusia 40 tahun keatas. Faktor obesitas juga berperan dalam
menyebabkan perkembangan spondylosis lumbar.
Spondylosis lumbal seringkali merupakan hasil dari osteoarthritis atau
spur tulang yang terbentuk karena adanya proses penuaan atau degenerasi.
Proses degenerasi umumnya terjadi pada segmen L4 L5 dan L5 S1.
Komponen-komponen vertebra yang seringkali mengalami spondylosis
adalah diskus intervertebralis, facet joint, corpus vertebra dan ligamen
b.

(terutama ligamen flavum) (Regan, 2010).


Tanda dan Gejala
Spondylosis lumbal merupakan suatu kelainan dengan ketidakstabilan
lumbal, sering mempunyai riwayat robekan dari diskusnya dan serangan nyeri
yang berulang -ulang dalam beberapa tahun. Nyeri pada kasus spondylosis
berhubungan erat dengan aktivitas yang dijalani oleh penderita, dimana
aktivitas yang dijalani terlalu lama dengan rentang perjalanan yang panjang.
Pasien biasanya berusia di atas 40 tahun dan memiliki tubuh yang
sehat. Nyeri sering timbul di daerah punggung dan pantat. Hal ini akan
menimbulkan keterbatasan gerak pada regio lumbal dan dapat menimbulkan
nyeri pada area ini. Pemeriksaan neurologis dapat memperlihatkan tanda tanda sisa dari prolaps diskus yang lama (misalnya tiadanya reflek fisiologis).
Pada tahap sangat lanjut, gejala dan tanda - tanda stenosis spinal atau stenosis
saluran akar unilateral dapat timbul (Appley, 2013).

B. TEKNIK PEMERIKSAAN VERTEBRAE LUMBOSACRAL


1. Persiapan pemeriksaan pasien
a. Pasien mengganti baju dan melepaskan benda-benda yang mengganggu

2.

3.

gambaran radiograf.
b. Petugas menjelaskan prosedur pemeriksaan kepada pasien.
Persiapan Alat dan Bahan
Alatalat dan bahan yang dipersiapkan dalam pemeriksaan vertebra lumbosakral
antara lain :
a. Pesawat sinar-X siap pakai
b. IP 43x35 cm
c. Marker untuk identifikasi radiograf
d. Grid atau bucky table
e. Alat fiksasi bila diperlukan
f. CR dan Alat pengolah film
Proyeksi Pemeriksaan
a. Proyeksi Anteroposterior
1) Tujuan
: Untuk melihat patologi lumbal, fraktur, proses neoplastic
dan scoliosis.
2) Posisi Pasien : Pasien tidur supine, kepala di atas bantal, knee fleksi.
3) Posisi obyek :
a) MSP tubuh pasien tegak lurus kaset/meja pemeriksaan.
b) Letakkan kedua tangan diatas dada atau di samping tubuh.
c) Tidak ada rotasi tarsal / pelvis.
4) Sinar
:
CR
: Vertikal tegak lurus kaset.
CP
:
a) Setinggi Krista iliaka (interspace L4-L5) untuk
memperlihatkan lumbal sacrum dan posterior Cocygeus.
b) Setinggi L3 (palpasi lower costal margin/4 cm di atas
crista iliaka) untuk memperlihatkan lumbal.
FFD

: 100 cm.

Eksposi : Ekspirasi tahan napas.

Gambar 2.4 proyeksi anteroposterior


(Ballinger, 2003:449)

5) Kriteria
:
Anatomi yang tampak :
a) Vert. thoracal 12, vert. lumbal 1-5, dan sacrum coccyx.
b) Corpus vertebrae lumbal, intervertebral disk space, prosessus
spinosus dalam satu garis pada vertebra, prosessus transversus
kanan dan kiri berjarak sama.
c) Lumbosacral joint tidak terproyeksi dengan baik karena anatomi
sacrum yang kifosis.

Gambar 2.5 radiograf lumbosacral AP


(Ballinger, 2003:451)

b. Proyeksi Lateral
1)

Tujuan

: Untuk melihat fraktur, spondilolistesis, dan

osteoporosis
2)

Posisi pasien

: Pasien lateral recumbent, kepala di atas bantal,

knee fleksi, di bawah knee dan ankle diberi pengganjal.


3)

Posisi obyek

a) MSP pasien tegak lurus kaset/meja pemeriksaan.


b) Pelvis dan tarsal true lateral.
c) Letakkan pengganjal yang radiolussent di bawah pinggang agar
vertebra lumbal sejajar pada meja (palpasi prosessus spinosus).
4)

Sinar

CR

: Vertikal tegak lurus kaset apabila menggunakan lead

rubber dan 5o-8o caudad apabila tidak menggunakan lead rubber.


CP

:
a) Setinggi Krista iliaka (interspace L4-L5) untuk
memperlihatkan lumbal sacrum dan posterior
Cocygeus.
b) Setinggi L3 (palpasi lower costal margin/4 cm di
atas crista iliaka) untuk memperlihatkan lumbal.

SID

: 100 cm.

Eksposi : Ekspirasi tahan napas.

Gambar 2.6 proyeksi lateral


(Ballinger, 2003:453)

5) Kriteria :
Anatomi yang tampak :
a) Corpus L1-L5, lumbosacral joint, Foramen intervertebralis L1
-L4, space intervertebrae, dan prosessus spinosus.
b) Foramen intervertebrae L5 hanya terlihat pada proyeksi
oblique.

10

Gambar 2.7 radiograf lumbal lateral


(ballinger, 2003:453)

c. Proyeksi Anterior/Posterior Oblique


1) Tujuan
: Untuk melihat kelainan pada pars interartikularis (contoh :
Spondylosis).
2) Posisi Pasien : Pasien tidur semi prone (RAO & LAO) atau semi supine
(RPO & LPO).
3) Posisi obyek :
a)
Rotasikan tubuh 450 dan letakkan vertebra tegak lurus
kaset.
b)
c)

Knee fleksi untuk kestabilan dan kenyamanan.


Letakkan pengganjal di bawah vertebra dan pelvis dengan

spons yang radiolusen untuk membantu posisi.


4) Sinar
:
CR
: Tegak lurus kaset.
CP
: Setinggi L3 (palpasi lower costal margin/4 cm di atas
crista iliaka) dan pusatkan 5 cm medial dari SIAS.
FFD
:
100 cm.
11

Eksposi :

Ekspirasi tahan napas.

Gambar 2.8 proyeksi a) RPO. b) LAO


(Ballinger, 2003:458)

5) Kriteria
:
Anatomi yang tampak :
a) Vert. thoracal, vert. lumbal, dan vert. sacrum coccyx
b) Facet (zygoapophysial) joint, processus articularis dan
transversus, pedicle, T12-L1 dan L1-L2 joint space terlihat.
c) Tampak gambaran Scotty dog

12

b\

Gambar 2.9 a) radiograf lumbal RPO. b) scottie dog


(Ballinger, 2003:457-458)

13