Sie sind auf Seite 1von 10

Hubungan Preeklamsi Berat Dengan Kelahiran Preterm Di Rumah Sakit Umum

Provinsi Nusa Tenggara Barat 2013

Rosa Mutianingsih
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
email: rosamutianingsih@gmail.com

One is a developmental disorder of preterm birth fetal (preterm birth) which can be triggered
by many factors, one of which is the risk of severe preeclampsia. Complications of severe pre eclampsia can lead to preterm delivery risk 2.67 times larger, labor-made 4.39 more and have a higher
tendency to get a baby with low birth weight. While preterm birth itself has a variety of complications newborn survival. In the department of NTB incidence of severe preeclampsia in 2012 was
3.78%, while the rate of preterm birth as much as 6.47% in 2012. Purpose of this study was to determine the relationship with birth weight preterm preeclampsia.
Based on the time dimension is Case control study, using primary data. Its population is all
women giving birth who bore the period 1 June to 29 July 2013 in the maternity department of NTB
space as much as 397 sample population and there are two groups of cases were 39 mothers and
those under group with a ratio of 1:1 to the cases that have been dimach based parity case is 39
mother. Method of sampling of cases and controls with purposively sampled.
From the results of the data collection was carried out statistical analysis using Chi Square
test using SPSS version 16 sgnifikan level () = 0.05. Based on the results of Chi-Square test statistic seen significant values (p) = 0610 < to the factor in the effects of preterm birth weight and
preeclampsia compared to controls born at term ie in mothers with severe preeclampsia. It concluded there was no association with birth weight preterm preeclampsia.
Advised to all parties concerned to continue the prevention of mortality and morbidity
caused by severe pre-eclampsia and its complications is one preterm birth. Particular department of
NTB to continue to improve the handling of cases of severe preeclampsia, especially with all the
complications and the medical personnel to provide knowledge about the handling of severe preeclampsia.
Keywords: Preeclampsia Weight, Preterm Birth

1. PENDAHULUAN
Perkembangan anak di dalam
kandungan sangat tergantung pada kondisi kesehatan ibu. Kesehatan ibu yang
terganggu akan mengakibatkan gangguan pada perkembangan janin. Salah
satu gangguan perkembangan janin adalah preterm birth (kelahiran preterm).Kelahiran/persalinan preterm merupakan persalinan yang terjadi pada
usia kehamilan kurang dari 37 minggu
(antara 20 sampai <37 minggu) atau berat janin kurang dari 2500 gram. Kelahiran preterm di negara berkembang dapat
dipicu oleh banyak risiko antara lain
adalah infeksi genitourinaria, kehamilan
ganda, pregnancy induced hypertension

(PIH), Body Mass Index (BMI), inkompetensi serviks, riwayat pernah melahirkan preterm, abrutio plasenta, pekerja
berat dan merokok. Selain itu faktor risiko terjadinya kelahiran preterm adalah
preeklamsi/eklamsi, usia ibu < 20 atau >
35 tahun, jarak kehamilan dan bersalin
terlalu dekat, gravid, paritas, riwayat abortus, dan pendidikan ibu.
Insiden kelahiran preterm di Amerika Serikat lebih tinggi (12%) dibanding
negara berkembang selama 20-30 tahun
terakhir yakni sekitar (5%-7%) per 1000
kelahiran hidup. Kelahiran preterm berbeda dengan bayi berat lahir rendah
(BBLR), walaupun dalam kelahiran preterm sering disertai dengan berat badan
yang rendah. Bayi dengan BBLR dapat

disebabkan oleh istilah kecil untuk usia


kehamilan (small of gestationage) yang
mengarah ke pertumbuhan janin terganggu (intra uterin growth restriction=IUGR). Keadaan ini tergantung pada umur kehamilan.World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun ada 13,7 juta bayi lahir
dengan low birth weight (LBW, berat
badan lahir <2,500 gram) dari hasil kehamilan aterm (umur kehamilan 37
minggu), 30 juta bayi lahir IUGR. Di
negara berkembang setiap tahun ada 6,8
juta bayi lahir dengan preterm dan LBW
sedangkan di Indonesia prevalensi LBW
ada (10,5%), IUGR ada (19,8%) dan kelahiran preterm ada (18,5%).
Bayi dengan kondisi prematureakan mengalami gangguan dalam kehidupan selanjutnya seperti asfiksia dan kematian neonatal.Akhir-akhir ini, angka
kematian bayi (AKB) sudah menjadi tolak ukur perbandingan sistem perawatan
kesehatan internasional. Sebagai contoh,
pada tahun 1995 Amerika Serikat berada
di peringkat 25 dunia di bawah Jepang,
Singapura, Jerman, dan sebagian besar
negara-negara Skandinavia (National
Center for Health Statistics, 1999). Negara-negara dengan angka kelahiran preterm yang lebih tinggi mempunyai angka
kematian bayi yang lebih tinggi.Selain
itu
kelahiran
preterm
sekurangkurangnya menyebabkan 2/3 kematian
bayi dini.
Sedangkan di Indonesia semua
AKB hasil Servei Demografi Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2012 lebih rendah dari
hasil SDKI 2007. Untuk periode 5 tahun
sebelum survey, AKB hasil SDKI 2012
di tingkat nasional adalah 32 kematian
per 1000 kelahiran hidup (KH). Sedangkan di provinsi NTB memperlihatkan AKB sebesar 57/1000 KH dan
lebih dari angka Nasional.
Penyebab langsung kematian bayi
di Indonesia diantaranya adalah asfiksia
(44-46%), infeksi (24-25%), BBLR (1520%), trauma persalinan (2-7%), dan cacat bawaan (1-3%). Untuk provinsi
NTB, BBLR merupakan penyebab kematian tertinggi (47%), diikuti asfiksia
(20%), infeksi (5%), cacat bawaan
(11%), dan lain-lain (17%).Tingginya

kasus kematian oleh karena BBLR sering dikaitkan dengan bayi lahir prematur.
Berdasarkan survey data di Rumah Sakit
Umum Provinsi NTB, diketahui kasus
neonatal di ruang NICU khususnya kejadian BBLR tahun 2012 sebesar 570 kasus (25.99%) dari 2193 bayi, dan sekitar
353 bayi atau 61,93% penyebab BBLR
ini adalah bayi lahir prematur.
Selain angka kematian bayi
(AKB), angka kematian ibu (AKI) juga
merupakan indikator status kesehatan
masyarakat. Dewasa ini AKI di indonesia masih tinggi dibandingkan dengan
negara ASEAN lainnya. Menurut data
SDKI 2007, AKI di Indonesia menurun
dari 307/100.000 KH pada tahun 2002
menjadi 228/100.000 KH pada tahun
2007.Sedangkan target yang diharapkan
berdasarkan Melenium Development
Goals (MDGs) pada tahun 2015 yaitu
102/100.000 KH. Hal ini berarti bahwa
AKI di Indonesia jauh di atas target yang
ditetapkan WHO atau dua kali lebih besar dari target WHO.
2. KAJIAN LITERATUR
Pada hasil penelitian di Southern Brazil
dilaporkan bahwa infant mortality rate
(IMR) ada 38,1 per 1000 kelahiran hidup
yang 6,3%nya adalah kelahiran preterm.
Di Bangladesh ada penelitian dari tahun
1993-1996 melaporkan bahwa IMR ada
107,3 per 1000 kelahiran hidup yang
17,1%nya adalah kelahiran preterm. Selain menyebabkan kasus kematian, 50%
kelahiran premature juga menyebabkan
gangguan neorologis pada masa kanakkanak. Studi longitudinal tentang bayi
premature menemukan bahwa satu dari
sepuluh bayi premature mengalami ketunadayaan permanen seperti penyakit
paru, paralisis serebri, kebutaan atau ketulian, terlepas dari berapapun usia kehamilannya. Sebanyak 50% bayi premature yang lahir sebelum usia kehamilan
26 minggu mengalami ketunadayaan,
25% dengan ketunadayaan berat, 80%
diantara bayi tersebut akan mengalami
gangguan fisik, psikomotor, dan intelektual.
Berdasarkan studi pendahuluan
yang dilakukan di Rumah Sakit Umum
Provinsi NTB tercatat angka kejadian

kelahiran preterm pada tahun 2011 sebanyak 196 kasus (8,36%) dari 2345 ibu
bersalin dan pada tahun 2012 mengalami
penurunan sebanyak 175 kasus (6,47%)
dari 2706 ibu bersalin. Sementara itu,
untuk kejadian preeklamsi berat pada tahun 2011 sebanyak 156 kasus (6,65%)
dan pada tahun 2012 menurun sebanyak
110 kasus (3,78%).
3. METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan observasional analitik karena peneliti hanya
mengobservasi tanpa melakukan perlakuan terhadap obyek yang akan diteliti.
RancanganPenelitian
Desain penelitian yang digunakan
dalam
penelitian
ini
adalah
observasional case control yaitu rancangan penelitian yang mengkaji hubungan
antara efek tertentu dengan faktor
resiko tertentu.
Dalam penelitian ini dimulai
dengan menetapkan kasus dan control
dengan criteria inklusi dan eksklusi
kemudian dilakukan penelusuran secara
retrospektif dari efek kefaktor resiko
yang ada dengan cara memantau langsung pada subyek penelitian.
Desainpenelitian yang digunakandalampenelitianiniadalahobservasionalcase controlyaitu rancangan penelitian
yang mengkajihubunganantaraefektertentudengan factor resikotertentu.
Dalampenelitianinidimulaidenganmenetapkankasusdancontrol dengan
kriteria inklusidaneksklusikemudiandilakukanpenelusuransecararetrospektifdariefekkefaktor resiko yang adadengancaramemantaulangsungpadasubyekpenelitian.
POPULASI PENELITIAN
Populasiadalahsejumlahbesarsubyek yang mempunyaikarakteristiktertentu.
Adapun populasi pada penelitian
ini adalah semua ibu yang melahirkan

diRumahSakitUmumProvinsi
Nusa
Tenggara Barat periode1Junisampai29
Juli 2013 sebesar 397 ibu .
PROSEDUR SAMPEL DAN SAMPEL PENELITIAN
Sampel adalah bagian (subset)
dari populasi yang dipilih dengan caratertentu hingga dapat mewakili populasinya.
Sampel dalam penelitian ini adaduayaitukelompokkasus yang mengalamifaktor resikodankelompokkontroltanpa faktor risiko.
1. Besar sampel
a. Untuk perkiraan besar sampel
kasus dalam penelitian ini adalahdengan menggunakan data
ibu
bersalin
preterm(usiakehamilan 20 - <37
minggu) tahun 2012 diambil
menggunakan rumus :
1= 2
=

z 2

+ z 1 1 + 2 2
1 2
Keterangan :
n = sampel
z = tingkat kemaknaan
z = power
P1 = perkiraan proporsi efek
pada kasus(dari pustaka):
= 0,04
P2= perkiranan proporsi efek
pada
kontrol
2=
(

P = (P1+P2)
Q = 1-P
Q1 = 1-P1
Q2 = 1-P2
Berdasarkan rumus besar sampeluntuk case controldi atas dengan menggunakan tingkat kemaknaan = 0,05 (z
= 1,96), z = 0,842 (untuk power 80%),
dan hasil penelitian terdahulu yaitu OR
3,48 (Chen et al.,1996), proporsi paparan
pada kelompok kasus P1= 0,04
0,04
2=
3,48(1 0,04) + 0,04
= 0,01183
P = (0,04+0,01183) = 0,02592
0,974 Q1 = 0,96 Q2= 0,988

Q=

1= 2

z 2

+ z 1 1 + 2 2
1 2

1 = 13,45 = 14
Dengan demikian besar sampel minimal
untuk kelompok kasusadalah 14 sampel.
Pada saat observasi sejak tanggal 1 Juni
29 Juli 2013 didapatkan sampel untuk
kasus sebesar 39 dan semua sampel
bersedia menjadi responden.
b. Sedangkan untuk kelompok kontroladalahibubersalin yang melahirkanbayiaterm (usiakehamilan 37 - 42 minggu)
yang diambil secara machberdasarkan
paritas terhadap kasus dengan perbandingan 1:1,sehingga besar sampel kontrol sebesar 39 kasus.Pengambilan sampel kelompok control
diambil secara purposive yaitu didasarkan pada pertimbangan tertentu dibuat oleh peneliti
sendiri dari keseluruhan kasus persalinan aterm.

Instrumen Penelitian
Intrumen penelitianyang digunakan
adalahdaftartilik (check list) yangdibuatolehpenelitiberdasarkantujuanpenelitian.

Analisis
1) Analisisunivariabel
Analisisunivariabeldigunakanuntukmenganalisissecaradeskriptifkarakteristikmasing-masing variabel yaitujumlahpreeklamsiberat, tidakpreeklamsiberat, kelahiran preterm danjumlahkelahiranatermdengandistribusifrekuensi yang
akanditampilkandalambentuknarasidantabel.
2) Analisisbivariabel
Analisisbivariabeldilakukanuntukmengetahuihubungan 2 variabelpadakeduakelompokantaravariabel bebasdan variable terikat.Ujistatistik yang digunakanuntukmengetahuiadatidaknyahubunganantara 2 variabeladalahchi
square (X2). Analisismenggunakan
computer bantuan program sofware
SPSS
dengan
tingkat
sgnifikan
()=0,05.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 4.1 Distribusi Jumlah Ibu Bersalin Preterm Dan Aterm Di Ruang Bersalin
Rumah Sakit Umum Provinsi NTB Priode 1Juni 29 Juli 2013.
No
1
2
3

Jumlah IbuBersalin
Preterm
Aterm
Lainnya (posterm)
Total persalinan

Jumlah
55
305
37
397

Persentase (%)
13,85
76,83
9,32
100

Tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa didapatkan ibu bersalin dengan usia kehamilan
preterm sebanyak 55 kasus (13,85%) dari 397 ibu bersalin yang dirawat di ruang
Bersalin Rumah Sakit Umum Provinsi NTB priode1Juni29 Juli 2013.
Tabel 4.2 Distribusi Jumlah Ibu Bersalin Dengan Preeklamsi Berat Di Ruang Bersalin
Rumah Sakit Umum Provinsi NTB Priode 1 Juni 29 Juli 2013.
No

1
2

Tabel 4.2

Ibu Bersalin DenganPreeklamsi Berat /


Tidak
Preeklamsi Berat
Tidak Preeklamsi
Berat
Total

Jumlah

Persentase (%)

21

5,29

376

94,71

397

100

diatas menunjukkan bahwa didapatkan ibu bersalin dengan preeklamsi berat


sebanyak 21 kasus (5,29%) dari 397 ibu bersalin yang melahirkan di ruang
Bersalin Rumah Sakit Umum Provinsi NTB priode1Juni29 Juli 2013.

Tabel 4.3 Distribusi Jumlah Ibu Bersalin Preterm Dan Aterm Yang Dijadikan Sampel
Penelitian Di Ruang Bersalin Rumah Sakit UmumProvinsi NTB Periode 1
Juni 29 Juli 2013.
No
1
2

Tabel 4.3

Ibu Bersalin
Preterm
Aterm
Total

Jumlah
39
39
78

Persentase (%)
50%
50%
100

diatas menunjukkan bahwa jumlah sampel ibu bersalin dalam penelitian yang
memenuhi kriteria inklusi di ruang Bersalin Rumah Sakit Umum ProvinsiNTB
periode1Juni 29 Juli 2013 adalah sebanyak 39 ibu melahiran preterm dan 39
ibu melahirkan aterm.

Analisis Hubungan Preeklamsi Berat


Dengan Kelahiran Preterm
Analisis ibu bersalin dengan
kelahiran preterm terhadap factor resikopreeklamsi berat di Rumah Sakit Umum
Provinsi NTB priode 1 Juni 29 Juli 2013,
berdasarkan kriteria inklusi terkumpul
sampel sebanyak 39 ibudan sebagai kontrol
adalah ibu bersalin usiakehamilan aterm
yang di machberdasarkan paritas kelompok
kasus, dengan perbandingan 1 : 1 sebesar
39 ibu, dengan hasil sebagai berikut:
N
o

Faktor
Resiko

Preeklamsiberat
Tidakpreeklamsi

Total

Efek
Preterm
Aterm
n
%
n %
1 30,
9
23,1
2
8
3
2 69,
76,9
0
7
2
3
3
100
100
9
9

f
2
1
5
7
7
8

Total
%

OR

0,610

1,481

26,9
73,1
100

Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwapada57ibubersalintidakpreeklamsi berat terdapat30kasus (76,9%) menyebabkan terjadinya
kelahiran
preterm,
danpada21ibubersalindenganpreeklamsi
berat
hanya 9 kasus (23,08%) menyebabkan kelahiran preterm, dengan Ratio Odds (OR =
1,481) yang artinya preeklamsi berat dapat
menyebabkan kelahiran preterem 1,5 kali
lebih banyak dibandingkan yang tidak mengalami preeklamsi berat.
Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-squarepadaTabel 1 dilihatdariterjadinyakelahiranpretermdiperoleh
nilai p=0,610> = 0,05sehingga Ha ditolak
dan
Ho
diterima.Sehinggadapatditarikkesimpulanbahwati
dak terdapat hubungan antarapreeklamsiberatdengankelahiranpreterm diruang bersalin
RSUP NTBperiode 1Juni29 Juli Tahun
2013.
a. Jumlah Persalinan Preterm Yang Di
Rawat Di Ruang Bersalin RSUP NTB
Priode 1 Juni 29 Juli 2013
Dari hasil penelitian yang telah
dilakukan menunjukkan bahwa, dari
397 ibu yang melahirkan di ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Provinsi
NTB periode 1 Juni - 29 Juli 2013 terdapat 55 kasus kelahiran preterm

(13,85%). Angka kejadian ini mengalami peningkatan dibandindingkan tahun 2011 dan 2012, dan sebagaimana
diketahui kelahiran preterm merupakan
suatu keadaan yang memiliki banyak
sekali komplikasi.
Adapun persalinan preterm didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37
minggu (antara 20 37 minggu) atau
dengan berat janin kurang dari 2500
gram.
Kelahiran preterm di negara berkembang dapat dipicu oleh banyak risiko antara lain adalah infeksi genitourinaria, kehamilan ganda, pregnancy
induced hypertension (PIH), Body
Mass Index (BMI), inkompetensi serviks, riwayat pernah melahirkan preterm, abrutio plasenta, pekerja berat
dan merokok. Selain itu faktor risiko
terjadinya kelahiran preterm adalah
preeklamsi/eklamsi, usia ibu < 20 atau
> 35 tahun, jarak kehamilan dan bersalin terlalu dekat, gravid, paritas, riwayat abortus, dan pendidikan ibu.2
Insiden kelahiran preterm di
Amerika Serikat lebih tinggi (12%) dibanding negara berkembang selama
20-30 tahun terakhir yakni sekitar (5%7%) per 1000 kelahiran hidup.3 Kelahiran preterm berbeda dengan bayi berat
lahir rendah (BBLR), walaupun dalam
kelahiran preterm sering disertai dengan berat badan yang rendah. Bayi
dengan BBLR dapat disebabkan oleh
istilah kecil untuk usia kehamilan
(small of gestationage) yang mengarah
ke pertumbuhan janin terganggu (intra
uterin growth restriction=IUGR). Keadaan ini tergantung pada umur kehamilan.World Health Organization (WHO)
memperkirakan bahwa setiap tahun ada
13,7 juta bayi lahir dengan low birth
weight (LBW, berat badan lahir <2,500
gram) dari hasil kehamilan aterm
(umur kehamilan 37 minggu), 30 juta
bayi lahir IUGR. Di negara berkembang setiap tahun ada 6,8 juta bayi lahir dengan preterm dan LBW sedangkan di Indonesia prevalensi LBW ada
(10,5%), IUGR ada (19,8%) dan kelahiran preterm ada (18,5%).4

Tingginya kasus kematian oleh


karena BBLR sering dikaitkan dengan
bayi lahir prematur. Berdasarkan survey data di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB, diketahui kasus neonatal di
ruang NICU khususnya kejadian
BBLR tahun 2012 sebesar 570 kasus
(25.99%) dari 2193 bayi, dan sekitar
175 bayi atau 30,70% penyebab BBLR
ini adalah bayi lahir prematur. 5
Di RSUP NTB sendiri kasus kelahiran preterm dalam waktu dua bulan
(1 Juni 29 Juli) sebanyak 39 kasus
(5,89%) merupakan angka kejadian
yang masih cukup tinggi. Oleh karena
itu beberapa faktor-faktor predisposisi
seperti riwayat kelahiran preterm sebelumnya, perdarahan antepartum, malnutrisi, kelainan uterus, hidramnion,
penyakit jantung atau penyakit kronik
lainnya, hipertensi, preeklamsi/eklamsi,
umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jarak kehamilan yang
terlalu dekat, infeksi, trauma, Antenatal
care yang kurang, pendidikan ibu endah, social ekonomi rendah, perokok
pasif, gemelli, kelainan kongenital,
IUGR, hidramnion, ketuban pecah dini
dan lain-lain, tidak dapat diremehkan,
karena semua faktor-faktor tersebut secara langsung atau tidak lansung merupakan salah satu penyebab tingginya
kejadian kelahiran preterm.

didapatkan kasus preeklamsi 4,78 %,


kasus eklamsia 0,51% dan angka
kematian perinatal 10,88 perseribu.
Penelitian yang dilakukan oleh
Soejoenoes pada 1983 di 12 Rumah
Sakit Pendidikan di Indonesia,
didapatkan kejadian preeklamsi dan
eklamsi 5,30 % dengan kematian
perinatal 10,83 perseribu atau (4,9) kali
lebih besar dibandingkan dengan
kehamilan normal.
Preeklamsi berperan dalam kematian intrauterine dan mortalitas perinatal.Penyebab utama kematian neonatus akibat preeklamsi ialah insufisiensi
plasenta dan solusio plasenta.Retardasi
partumbuhan dalam rahim juga sering
dijumpai pada ibu yang menderita
preeklamsi. Tanpa perawatan dan manajemen yang tepat, preeklamsi akan
menyebabkan beberapa komplikasi kesehatan yang serius termasuk persalinan preterm dan kejadian kematian.Risiko terbesar selama hamil dengan diagnosa preeklamsi akan mengganggu kehamilan yang akan mempengaruhi (5%) kehamilan pertama dan perawatan efektif hanya dengan intervensi medis berupa persalinan (baik induksi persalinan maupun seksio sesaria)
yang dapat mengurangi risiko bagi
bayi.
c.

b.

Jumlah Angka Kejadian Preeklamsi


Berat Yang Di Rawat Di Ruang Bersalin RSUP NTB Priode 1 Juni 29
Juli 2013
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas dilihat bahwa dari total populasi penelitian terdapat ibu melahirkan yang mengalami preeklamsi berat sebanyak 21
kasus (5,29%). Hal ini masih tergolong
tinggi karena melihat bahwa komplikasi yang diakibatkan oleh preeklamsi
dapat mengakibatkan kematian ibu dan
bayi.
Angkakejadian preeklamsi di
dunia sebesar 0-13%, di Singapura
0,13-6,6% sedangkan di Indonesia 3,48,5%. Dari penelitian Soejoenoes di 12
rumah sakit rujukan Indonesia pada
1980 dengan jumlah sample 19.506,

Analisis Hubungan Preeklamsi Berat Dengan Kelahiran Preterm


Berdasarkan Tabel 4.4 di atas
terlihat bahwa dari 39 ibu bersalin dengan usia kehamilan pretern setelah dilakukan penggalian ke belakang tentang faktor penyebab kelahiran preterm, terdapat 9 kasus (23,1%) disebabkan oleh preeklamsi berat, dan pada 39 ibu bersalin dengan kelahiran
aterm sebagian besar tidak disebabkan
oleh preeklamsi berat yaitu 27 kasus
(69,2%).
Dari hasil uji statistik dengan bivariat menggunakan Chi-Square test
didapatkan nilai p=0,610 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa p >
yang berarti H0 diterima dan Ha ditolak atau tidak terdapat hubungan antara

preeklamsi berat dengan kelahiran preterm.


Walaupun secara statistik tidak
bermakna, namun hal ini terbukti bahwa preeklamsi berat dapat menyebabkan kelahiran preterm.Berdasarkan teori menjelaskan bahwa kejadian kelahiran preterm yang dipengaruhi oleh
preeklamsi/eklamsi akibat terjadinya
spasmus pembuluh darah.Menurunya
aliran darah ke plasenta mengakibatkan
gangguan fungsi plasenta.Spasme arteriol yang mendadak dapat menyebabkan asfiksia berat. Jika spasme berlangsung lama akan mengganggu pertumbuhan janin. Jika terjadi peningkatan tonus dan kepekaan uterus terhadap
rangsangan dapat menyebabkan partus
prematurus.Menurunnya aliran darah
ke plasenta mengakibatkan gangguan
fungsi plasenta.Pada hipertensi yang
agak pertumbuhan janin terganggu, pada hipertensi yang lebih pendek bisa
terjadi gawat janin sampai kematian
karena kekurangan oksigensi.Kenaikan
tonus uterus dan kepekaan terhadap perangsang sering didapatkan pada preeklamsi dan eklamsi, sehingga mudah terjadi partus prematurus.
Studi epidemiologi dari berbagai
jurnal yang ada telah menunjukkan
bahwa insidensi kelahiran prematur dihubungkan dengan indikasi terminasi
pada pasien dengan preeklampsia. Kelahiran prematur ini memiliki banyak
efek pada mortalitas dan morbiditas
neonatal, namun pada bayi prematur
dengan ibu yang mengalami preeklamsi dikhawatirkan bayi akan mengalami
stress oksidatif yang akan berakibat
pada patogenesis terjadinya panyakit
yang berat pada neonatus. Hal ini kemungkinan akan terjadi pada janin
dengan ibu yang mengalami preeklamsi. Berdasarkan randomised controlled
trials, bayi harus diterminasi pada usia
kehamilan antara 34 hingga 36 minggu
pada pasien dengan preeklampsia ringan atau sedang namun hal ini harus dilakukan dengan manajmen yang baik.13
Pada penelitian yang telah dilakukan peneliti menunjukkan tidak ada
hubungan bisa dikarenakan keterbatasan jumlah sampel yang diambil dalam

penelitian dimana jumlah sampel hanya


39 sampel. Selain itu, keterbatasan
waktu dan tempat penelitian bisa merupakan faktor penyebab lain karena
dalam penelitian dilakukan pengumpulan sampel dengan data primer selama
2 bulan dan dalam satu rumah sakit rujukan yang memiliki fasilitas lengkap/tenaga profesional yang cukup dalam menangani kasus preeklamsi berat
sehingga komplikasi yang disebabkan
oleh preeklamsi berat seperti kelahiran
preterm dapat dicegah dan bisa dipertahankan sampai aterm.
Berbeda dengan penelitian yang
dilakukan (Meis,dkk) dalam menganalisis kelahiran sebelum usia gestasi 37
minggu yang dilakukan di NICHD Maternal Fetal Medicine Unit Network,
lama penelitian 3 tahun sehingga didapatkan hasil kelahiran preterm yang diindikasikan 43%-nya disebabkan oleh
preeklamsi berat. Selain itu penelitian
yang dilakukan oleh Ratna Dewi
(2007) tentang Preeklamsi dan Eklamsi
Dengan Risiko Kelahiran Preterm di
Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
menggunakan data skunder dari tahun
2001 - 2006 (6 tahun), rancangan penelitian case control, sampel yang didapatkan 70 kasus dan 120 kontrol (1:2)
dengan hasil terdapat hubungan yang
signifikan antara preeklamsi berat dengan kelahiran preterm (p=0,03) dan
mempunyai resiko 3,66 kali lebih besar
untuk melahirkan preterm dibandingkan dengan tidak preeklamsi berat.
Menurut teori dalam Arfian
(2002), pada kondisi kehamilan normal
terjadi proses apoptosis yang berperan
dalam pergantian sitotrofoblas dan
pembaruan permukaan sinsitium dari
villi korialis, lalu dikeluarkan protein
Bcl-2 yang berperan untuk menghambat apoptosis. Tetapi karena eksresi
protein Bcl-2 menurun, maka proses
apoptosis pada sel sinsitiotrofoblas plasenta meningkat, sehingga terjadi preeklampsia berat atau dapat dikarenakan
oleh penyempitan arteri spiralis sampai
200, sedangkan pada kehamilan normal
arteri spiralis yaitu 500, menyebabkan
penghambatan respon yang adekuat
terhadap peningkatan aliran darah, jadi

perfusi plasenta yang menurun akan


berdampak lepasnya radikal bebas dan
iskemia plasenta yang merangsang peningkatan apoptosis. Semua kejadian
yan disebutkan diatas terjadi seiring
dengan makin tuanya usia kehamilan.14
Hal ini menyebabkan pre-eklampsia
sering terjadi pada kehamilan aterm.8
Pelaporan Parkland Hospital dalam Arfian (2002) menyatakan bahwa
pre-eklampsia terjadi pada kelompok
usia kehamilan 32 minggu (preterm)
sebanyak 10%, sedangkan sisanya
(90%) terjadi pada kelompok usia kehamilan 36 minggu (aterm). Ibu yang
mengalami pre-eklampsia berat berisiko 26,27 kali ketika usia kehamilan
28 minggu daripada yang berusia kehamilan 28 minggu (Utama, 2008).
Oleh karena itu, menurut ACOG
(2002), Report (2000), Group (2000),
Lowdermilk & Jensen (2005), sebaiknya menjelang trimester II-III ibu hamil harus lebih berhati-hati untuk mencegah komplikasi yang lebih berbahaya
lagi, karena pre-eklampsia berkontribusi signifikan untuk intra uterin fetal
death (IUFD), dan mortalitas perinatal.
5. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat ditarik dalam
penelitian ini sesuai dengan tujuan dan
uraian pada bab-bab sebelumnya :
1. Jumlah ibu bersalin dengan usia kehamilan preterm yang dirawat di Ruang
bersalin Rumah Sakit Umum Provinsi
NTB periode 1 Juni 29 Juli 2013, sebanyak 55 kasus (13,85%) dari 397 ibu
bersalin, 39 ibu yang memenuhi kriteria inklusi dan dijadikan sampel penelitian.
2. Jumlah ibu bersalin dengan preeklamsi
berat yang dirawat di Ruang bersalin
RSUP NTB periode 1 Juni 29 Juli
2013, sebanyak 21 kasus (5,29%) dari
397 ibu bersalin.
3. Tidak ada hubungan antara preeklamsi
berat dengan kelahiran preterm di
ruang bersalin RSUP NTB periode 1
Juni 29 Juli 2013 dimana nilai p >
(p=0,610).

6. DAFTAR PUSTAKA
Saifudin AB, dkk. 2006. Panduan Praktis
Kebidanan Maternal Dan
Neonatal.Yayasan
Bina
Pustaka Sarwono Prawirihardjo. Jakarta
Kramer, M.S. (2003) The Epidemiology of
Adverse Pregnancy Outcomes:<http://www.ncbi.nlm
.nih.gov/entrez/query.fcgi?d
b=pubmed&cmd=Retrieve&dopt= Abstra ...>
[Accessed 7 April 2013].
Cunningham FG et al. 2006.Obstetri Williams Edisi 21 Vol 2.Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Dinas Kesehatan Provinsi NTB. 2012. Laporan Tahunan Seksi Kesehatan Ibu Dan Anak Bidang
Bina Kesehatan Masyarakat
2011. Dikes Prov NTB . Mataram
Prawirohardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka, Sarwono Prawirihardjo.
Jakarta
News-Medical.Net. (2005) Hypertension
And Uric Acid Contributes
To Premature Delivery. [Internet].
Available
from:http://www.newsmedic
al.net/?id=14140 [Accessed
14 April 2013]
Ila Istiani Hasyim. 2010. Hubungan Preeklamsi Berat Dan Eklamsi

Dengan Berat Badan Lahir Rendah.Poltekkes Kemenkes Mataram. Mataram


Doddy Ario Kumboyo, dkk. 2008. Standar
Pelayanan Medik SMF
Obstetri dan Ginekologi.

Rumah Sakit Umum


Mataram. Mataram
Bothamley, Judy. dkk. 2012. Patofisiologi
Dalam Kebidanan. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta
Sastroasmoro, Sudigdo. 2008. Metodelogi
Penelitian Klinis. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodelogi
Penelitian
Kesehatan.
Rineka Cipta. Jakarta
Ligia Maria Suppo de Souza, dkk. (2011).
Preeclampsia: Effect on
the Fetus and Newborn.BMJ
2004:<http://www.bmj.co
m/content/338/bmj.b2255
[Accessed 22 Agustus
2013].
Arfian, S. 2002. Perbandingan Indeks Pulsasi Arteri Umbilikalis
pada Pre-eklampsia dan
Kehamilan Normal. Surabaya: Fak.Universitas
Airlangga,
RSUD
Dr.Soetomo (diakses dariwww.scribd.comkehami
lan Normal tanggal 21
Agustus 2013)