You are on page 1of 4

1

PROGRAM PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA DALAM


MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI IBUKOTA JAKARTA
(Ditinjau dari pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah/BOS)
oleh Joko Prasetiyo*
A. PENDAHULUAN
Pemerintah sungguh menyadari bahwa salah satu aspek penting dalam pembangunan di negara
kita adalah masalah pendidikan. Masalah pendidikan ini diatur dalam buku UUD 1945 yaitu dalam Bab
XIII, pasal 31 yang berbunyi:
1. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
2. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya.
3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan
nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.
4. Pemerintah memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20%
dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan
pendidikan nasional.
Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang bermutu (berkualitas, berwawasan luas,
terampil dan memiliki kemampuan yang dibutuhkan dalam rangka meniti masa depan yang lebih baik.
Wajar bila masalah pendidikan mendapat perhatian yang besar dari pemerintah karena dengan
pendidikan diharapkan akan tercipta manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
cerdas, terampil, berperilaku, berkemampuan dan mampu melaksanakan pembangunan. Hal ini juga
dipertegas oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kemampuan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan nasional adalah
pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap
tuntutan perubahan zaman.”
2
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti
pendidikan dasar. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut maka pemerintah wajib
memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD/MI dan
SMP/MTs serta satuan pendidikan yang sederajat).
Dengan adanya pengurangan subsidi bahan bakar minyak, amanat undang-undang dan upaya
percepatan penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun yang bermutu, Pemerintah
melanjutkan memberikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi SD/MI/SDLB/SMP/MTs/SMPLB
negeri/swasta dan pesantren salafiyah serta sekolah keagamaan non Islam setara SD dan SMP yang
menyelenggarakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.

B. ISI
Latar belakang dikeluarkannya kebijakan dana BOS adalah kebijakan pembangunan pendidikan
dalam kurun waktu 2004-2009 diprioritaskan pada peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan
dasar yang lebih berkualitas melalui peningkatan pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun
dan pemberian akses yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang selama ini kurang dapat
menjangkau layanan pendidikan dasar.
Kenaikan harga BBM beberapa tahun terakhir ini yang diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan
bahan pokok lainnya, akan menurunkan kemampuan daya beli penduduk miskin. Hal tersebut lebih
lanjut dapat menghambat upaya penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun karena penduduk
miskin akan semakin sulit memenuhi kebutuhan biaya pedidikan.
Salah satu indikator penuntasan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun diukur
dengan Angka Partisipasi Kasar (APK). Pada tahun 2005, APK tingkat SMP sebesar 85,22% dan pada
akhir 2006 telah mencapai 88,68%. Target penuntasan Wajar 9 Tahun harus dicapai pada tahun
2008/2009 dengan APK minimum 95%. Dengan demikian, pada saat ini masih ada sekitar 1,5 juta anak
usia 13-15 tahun yang masih belum mendapatkan layanan pendidikan dasar. Selain masalah pencapaian
target APK, permasalahan lain yan dihadapi adalah masih rendahnya mutu pendidikan yang antara lain
mencakup masalah tenaga kependidikan, fasilitas, manajemen, proses pembelajaran dan prestasi siswa.
Tujuan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bertujuan untuk membebaskan biaya
pendidikan bagi siswa yang tidak mampu dan meringankan bagi siswa yang lain, agar mereka
memperoleh layanan pendidikan dasar yang bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan Wajib
Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.
3
Sasaran program BOS adalah semua sekolah setingkat SD dan SMP, baik negeri maupun
swasta di seluruh propinsi di Indonesia. Program Kejar Paket A dan Paket B tidak termasuk sasaran
dari program BOS ini. Selain itu, Madrasah Diniyah Takmiliyah (Suplemen) juga tidak berhak
memperoleh BOS, karena siswanya telah terdaftar di sekolah reguler yang telah menerima BOS.
Mulai tahun pelajaran 2007/2008 (mulai Juli 2007), SMP Terbuka (reguler dan mandiri) dan
Madrasah Diniyah Formal yang menyelenggarakan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun
termasuk dalam sasaran program BOS. Besar dana BOS yang diterima oleh sekolah/madrasah/ponpes
dihitung berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan:
1. SD/MI/SDLB/Salafiyah/sekolah agama non Islam setara SD sebesar Rp. 254.000,-/siswa/tahun.
2. SMP/Mts/SMPLB/SMPT/Salafiyah/sekolah agama non Islam setara SMP sebesar Rp.
354.000,-/siswa/tahun.
Dan untuk tahun ajaran 2009/2010 besar dana BOS yang diterima oleh
sekolah/madrasah/ponpes dihitung berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan:
1. SD/MI/SDLB/Salafiyah/sekolah agama non Islam setara SD sebesar Rp. 400.000,-/siswa/tahun
untuk kota dan kabupaten sebesar Rp. 397.000,-.
2. SMP/Mts/SMPLB/SMPT/Salafiyah/sekolah agama non Islam setara SMP sebesar Rp.
575.000,-/siswa/tahun untuk kota dan kabupaten sebesar Rp. 570.000,-.

C. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Pemberian dana BOS seperti yang telah disebutkan di atas digunakan hanya untuk membiayai
biaya operasional non personil sedangkan biaya lain dalam bidang pendidikan seperti biaya personil,
investasi, biaya progam dan lainnya masih diperdebatkan untuk dibebankan kepada orangtua. Padahal
biaya diluar biaya operasional tersebut diharapkan dapat ditanggung oleh pemerintah daerah akan tetapi
Fauzi Bowo (Gubernur DKI Jakarta) menyatakan mendukung seminar untuk menemukan kesepahaman
tentang persoalan seputar biaya pendidikan antara pemerintah, kepala sekolah, guru dan masyarakat.
Dan dalam seminar tersebut Fauzi Bowo (Gubernur DKI Jakarta) memberikan pengarahan tentang
Pungutan Biaya Sekolah.
Peningkatan yang telah terjadi dengan adanya dana BOS yang telah dilakukan oleh PemProv
DKI Jakarta dapat kita telaah sebagai berikut:
a. Peningkatan kesejahteraan pendidik.
b. Peningkatan kualitas sarana pendidikan.
c. Peningkatan mutu sekolah dengan standarisasi.
4
d. Peningkatan prasarana pendidikan.
Akan tetapi peningkatan yang telah disebutkan di atas seperti pisau bermata dua yang bertolak
belakang dimana; peningkatan kesejahteraan pendidik bukannya menjadikan kualitas mendidik
menjadi lebih baik akan tetapi menyebabkan pendidikan sebagai salah satu lahan subur dalam mencari
uang, contohnya banyak sarjana yang bukan berasal dari dunia pendidikan tergiur untuk mengajar dan
menjadi PNS dengan kesejahteraan seperti sekarang. Peningkatan kualitas sarana pendidikan tidak
sejalan dengan peningkatan mutu mengajar, contohnya masalah sertifikasi guru yang terkesan hanya
memberikan ‘SIM’ mengajar untuk guru yang kualifikasinya kurang baik. Peningkatan mutu sekolah
dengan standarisasi terkesan dipaksakan dimana sekolah dengan prestasi biasa saja dipaksakan untuk
menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN) atau Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Dan peningkatan
prasarana pendidikan menjadi kurang berarti contohnya masalah buku pelajaran yang diunduh melalui
situs internet bukannya membuat harga buku menjadi lebih murah malah membuatnya menjadi lebih
mahal dengan kualitas yang kurang baik.
2. Saran
Banyak masalah yang komplek dalam meningkatkan mutu pendidikan kita sekarang akan tetapi
kita harus tetap optimis dalam membangun masa depan yang lebih cerah melalui pendidikan yang lebih
baik, oleh karena itu penulis memberikan saran sebagai berikut:
a. Peningkatan kesejahteraan pendidik sudah seharusnya sejalan dengan kualitas dan mutu
pendidik dimana pendidik harus profesional dimana latar belakang pendidikan guru haruslah
sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi guru haruslah terus diasah dengan pelatihan ataupun
seminar sehingga peningkatan kualitas pendidik dapat terpenuhi.
b. Sarana pendidikan yang lebih baik seharusnya membuat guru dan siswa menjadi nyaman dalam
melakukan kegiatan belajar mengajar yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan kualitas
kompetensi baik guru maupun siswa.
c. Standarisasi sekolah seharusnya dinilai dari prestasi yang telah dilakukan oleh guru maupun
siswa sekolah tersebut sehingga tidak terkesan dipaksakan dimana sekolah yang belum siap
dengan ‘gelar’ SSN/SBI lebih siap dan matang menyandang gelar tersebut.
d. Prasarana pendidikan seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah yang nota bene
Pemprov DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk hal tersebut karena APBN kita yang 1000
trilyun dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup tinggi sehingga orangtua siswa tidak
menanggung biaya tambahan melalui punggutan yang dibebankan oleh sekolah.
--Semoga sekolah gratis bukan hanya slogan--
* Pemerhati Pendidikan dan Dosen Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta/UNJ.