You are on page 1of 4

ANALISIS

Di IDX alias BEI, sektor logam besi dan baja tidak begitu populer jika dibandingkan dengan
sektor logam lainnya seperti nikel dan timah. Penyebabnya karena Indonesia memang bukan
merupakan salah satu negara produsen besi terbesar di dunia, seperti India dan China. Karena
itu, pemain di bisnis besi dan baja ini di tanah air tidak begitu banyak. Krakatau Steel boleh
dikatakan adalah satu-satunya pemain besar di Indonesia di bidang ini. Seberapa besar? Pada
Iist halI 2010, Krakatau Steel mencatat total aset sekitar Rp 13.3 trilyun.

Meski sektor besi dan baja kurang populer di stock market, namun sektor ini sebenarnya
merupakan tulang punggung dari industrialisasi, dan bahkan pembangunan suatu negara dan
dunia secara keseluruhan. Tanpa adanya besi dan baja, maka tidak akan ada industri otomotiI,
industri elektronik, industri mesin, industri pesawat terbang, industri kilang minyak, industri
perabotan rumah tangga, dan lain sebagainya. Besi dan baja juga penting untuk
pembangunan, seperti untuk kerangka dan Iondasi rumah-rumah dan gedung bertingkat,
untuk jembatan dan jalan raya termasuk untuk tiang-tiang lampu penerang jalan, hingga
untuk mendirikan pabrik-pabrik. Benda-benda militer yang dibutuhkan untuk menjaga
kedaulatan negara seperti tank, senapan, hingga roket, juga dibuat dari besi dan baja. Pendek
kata, tanpa benda yang biasa kita sebut dengan besi dan baja` ini, maka dunia tidak akan
menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. Komputer atau handphone yang anda gunakan
untuk membaca blog ini juga tidak akan ada jika besi dan baja tidak pernah ada.

Karena konsumen utama dari besi dan baja ini adalah kalangan industri dan pembangunan
negara, maka kinerja para perusahaan besi dan baja mudah dipengaruhi oleh jumlah
permintaan besi dan baja dari dua bidang tersebut, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi
ekonomi. Alhasil jika industri lagi mandek sebentar karena krisis ekonomi, maka otomatis
pendapatan para perusahaan besi dan baja akan terpengaruh. Demikian juga jika
pembangunan suatu negara lagi rehat` sejenak kaena krisis moneter, maka perusahaan besi
dan baja mau tak mau harus ikutan libur atau mengurangi produksinya. Sebaliknya, jika
industri dan pembangunan lagi on Iire, maka para perusahaan besi dan baja akan kebanjiran
order, dan harga baja juga akan naik karena melonjaknya permintaan.
Ada beberapa poin mengenai Krakatau Steel yang perlu anda ketahui:
1. Karena sebagian besar produksi besi dan baja Krakatau Steel dijual ke pasar dalam negeri,
maka kondisi ekonomi nasional lebih berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan
dibanding kondisi ekonomi global.
2. Krakatau Steel hanya memproduksi besi dan baja mentah (crude steel) dengan berbagai
bentuknya, yang harus diolah kembali sebelum bisa digunakan sebagai bahan baku untuk
berbagai industri. Krakatau Steel bahkan belum bisa membuat baja anti karat alias
stainless steel. Akibatnya, Krakatau Steel tidak dapat menentukan harga jual produknya
sendiri, melainkan tergantung oleh harga baja dunia, karena perusahaan hanya bisa
menjual produknya ke perusahaan baja hilir dan bukan ke konsumen langsung. Mungkin
akan beda ceritanya jika Krakatau Steel menguasai sektor per-baja-an dari hulu hingga
hilir, sehingga mereka bisa langsung menjual produknya ke berbagai industri. Kalau
kejadiannya seperti itu, maka perusahaan akan dapat menentukan harga jual produknya
sendiri, sesuai kesepakatan antara perusahaan dengan pembeli, dan tidak lagi bergantung
pada harga baja dunia.
3. Pasokan bijih besi Krakatau Steel cukup cukup tergantung oleh impor. Perusahaan
memang juga mendapat pasokan bijih besi dari tambang kecil di Cilegon, tapi jumlahnya
sedikit. Kalau pasokan bijih besi impor ini tersendat, atau harganya dimahalin sama yang
punya barang, maka otomatis biaya operasional Krakatau Steel akan membengkak, dan
akhirnya menurunkan laba bersihnya.
Pendapatan Krakatau Steel setiap tahunnya ditentukan oleh tiga Iaktor berikut: 1. Kondisi
ekonomi, terutama ekonomi nasional, 2. Harga baja dunia, dan 3. Biaya operasional.

Sekarang mari kita lihat kinerja Krakatau Steel. Pada tahun 2005, perusahaan mencetak laba
bersih Rp 184 milyar. Pada 2006, angka ini justru jeblok menjadi minus Rp 135 milyar, alias
rugi. Padahal pendapatan perusahaan sendiri justru naik dari Rp 11.6 trilyun menjadi Rp 12.1
trilyun. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena membengkaknya biaya pokok dan
operasional, dari total Rp 11.0 trilyun menjadi Rp 12.3 trilyun. Mungkin ketika itu harga bijih
besi lagi mahal-mahalnya, sedangkan harga baja lagi biasa-biasa saja.

Pada 2007, kinerja perusahaan kembali pulih dengan mencetak laba bersih Rp 313 milyar.
Pada 2008, laba bersih Krakatau Steel tetap tumbuh menjadi Rp 460 milyar meski dunia
mulai keracunan krisis global, dan belanjut menjadi Rp 495 milyar pada 2009. Dan terakhir
pada 1H10 kemarin, Krakatau Steel mencetak laba bersih Rp 998 milyar. So, secara historis
Krakatau Steel senantiasa mencatat peningkatan kinerja yang cukup menggembirakan sejak
tahun 2007. Pertanyaaannya, bagaimana kedepannya?

Kenaikan laba bersih yang cukup signiIikan pada 1H10 ditopang oleh meningkatnya
permintaan baja seiring dengan membaiknya perekonomian, dan karena naiknya harga baja
dunia (persis seperti yang kita bahas diatas). Lalu bagaimana jika kebetulan permintaan baja
lagi seret, dan harganya juga lagi murah? Maka tentu pendapatan perusahaan akan tertekan.
Jadi meski kinerja perusahaan dalam tiga tahun terakhir terbilang baik, namun tidak ada
jaminan sama sekali kalau kinerja perusahaan kedepannya akan sama baiknya. Semuanya
tergantung pada kondisi ekonomi, perkembangan harga baja, dan juga biaya operasional,
terutama harga bijih besi sebagai bahan baku pembuatan baja.
Bila PE Ratio nya kecil, berarti harga saham itu masih murah. Demikian ssebaliknya,
semakin besar PE Rationya, semakin mahal harga saham itu. Murah atau mahalnya suatu
saham tidak bisa dilihat dari harga itu sendiri. Harga yang tinggi belum tentu mencerminkan
kemahallan suatu saham.
Catatan perdagangan saham penutupan harga saham Jaya Pari Steel Rp 810 dengan PE Ratio
7,8 kali. Sedangkan harga Gunawan Dianjaya Rp 197 dengan PE Ratio 7,9 kali, bandingkan
dengan Krakatau Steel yang PE Rationya 9,9 kali.
PE Ratio Krakatau Steel masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan perusahaan
perusahaan sejenis. Bahkan, dibandingkan dengan perusahaan baja dikawasan regional,
seperti Posco (Korea Selatan) dan Tata Steel (India), PE Ratio Krakatau Steel juga masih
tinggi. Rata-rata PE Ratio perusahaan baja saat ini di kisaran 8,7 8,8 kali untuk proyeksi
laba 2011`.
Selama semester I 2010, pendapatan Krajatau naik menjadi Rp 9 triliun dibandingkan
periode yang sama 2009 yang hanya Rp 7,8 triliun. Namun, laba bersih produsen plat baja
canai dingin ini menurun menjadi dari sebelumnya Rp 1,1 triliun.
Pesaingnya, Jaya Pari Steel adalah perusahaan nasional yang memproduksi plat baja canai
panas dengan ketebalan 8 25 milimeter. Jaya Pari didirikan tahun 1973 dan memulai
kegiatan operasionalnya pada 1976. Saat ini, total kapasitas produksi emiten dengan kode
perdagangan JPRS mencapai 66.000 metrik ton plat per tahun.
Selama semester I 2010, pendapatan Jaya Pari naik hingga Rp 237,03 miliar atau tumbuh
150,3 persen dibandingkan 2009 Rp 94,6 miliar. Laba bersih juga meningkat signiIikan dari
minus Rp 29,7 miliar menjadi Rp 38,6 miliar, atau meningkat lebih dari 100 persen.
Sedangkan Gunawan Dianjaya adalah perusahaan yang didirikan pada 1989 dan bergerak
dalam bisnis pelat baja, dimana sekitar 70 persen dari total penjualan merupakan ekspor
dengan pembeli dari kontraktor galangan kapal, produsen alat berat, pedagangan baja
internasional, dan perusahaan konstruksi.
Hingga semester I-2010, emiten berkode GDST berhasil membukukan laba bersih Rp 119
miliar. Angka ini meningkat signiIikan dibandingkan semester I 2009 yang masih
membukukan rugi Rp 209 miliar. Penyebab positiInya kinerja perseroan adalah penjualan
bersih yang tumbuh 7,57 persen menjadi Rp 893 miliar dari posisi pertengahan tahun
sebelumnya sebesar Rp 830 miliar.

Prospek IPO Krakatau Steel

Perusahaan terbuka yang bergerak di bidang natural resources, pada umumnya harga
sahamnya mudah dipengaruhi oleh harga komoditas yang menjadi produk utamanya tersebut.
Penyebabnya sama: karena perusahaan-perusaahaan tersebut hanya bergerak di sektor hulu,
mengambil hasil alam kemudian langsung menjualnya, atau mengolahnya menjadi barang
setengah jadi kemudian menjualnya, tanpa mengolahnya sampai tuntas hingga menjadi
barang-barang yang siap pakai. So, kalau harga komoditas lagi naik, maka biasanya harga
saham perusahaan yang bersangkutan juga akan naik. Misalnya Medco Energi (MEDC) yang
mudah dipengaruhi harga minyak bumi, atau International Nickel (INCO) yang dipengaruhi
harga logam nikel, atau PT Timah (TINS) yang dipengaruhi harga logam timah, dan
seterusnya. Alhasil, bagaimana dengan pergerakan harga sahamnya di market dalam jangka
panjang, naik dan turun, tergantung dari naik turunnya harga komoditas yang mereka
produksi.

Secara Iundamental, kinerjanya pada 1H10 terbulang cukup bagus. Namun karena kinerja
Krakatau Steel ini kedepannya mudah di pengaruhi oleh harga baja, maka otomatis harga
sahamnya di market nanti juga akan mudah naik dan turun, tergantung dari harga baja.

Sebenarnya, kondisi ekonomi nasional dan biaya operasional juga akan berperan penting
terhadap perkembangan harga saham Krakatau Steel di market. Namun dua poin tersebut
ukurannya agak rumit, sehingga sulit untuk diamati naik turunnya. Berbeda dengan harga
baja yang ukurannya simpel dan jelas: sekian dollar per ton, sehingga harga baja inilah yang
akan lebih berpengaruh terhadap harga saham Krakatau Steel dibanding dua poin lainnya.

Mungkin itu sebab nya, kalau kita cermati press release atau pengumuman yang rutin
dikeluarkan oleh perusahaan, banyak diantaranya yang berjudul, harga baja diprediksi bakal
naik`, atau harga baja diperkirakan akan kembali naik`, harapan tentu agar investor ramai
ramai menginvestasi dana mereka

Salah satu alasan utama Krakatau Steel tidak bisa dijadikan sebagai pilihan long term adalah,
karena perusahaan memiliki rasio proIitabilitas yang lemah. Pada 1H10, nilai laba bersih
Krakatau Steel memang mencapai 11 dari penjualannya. Namun dalam 5 tahun terakhir,
nilai penjualan rata-rata Rp 15 trilyun. Tapi laba bersihnya? Rata-rata cuma Rp 300 milyar,
alias hanya 2 dari penjualan. Kenapa begitu? Ya balik lagi ke masalah bahan baku:
Perusahaan harus mengimpor bijih besi dari luar negeri, sehingga biaya produksi menjadi
mahal. Pertanyaannya, emang Indonesia gak punya tambang bijih besi yang memadai?
Jawabannya, punya! Kebanyakan terletak di Kalimantan. Dan meski jumlah produksinya tak
sebanyak India dan China, tapi cukuplah untuk menyuplai kebutuhan bijih besi Krakatau
Steel. Toh kapasitas produksi Krakatau Steel juga cuma sekitar 2.5 - 3 juta ton per tahun.