Sie sind auf Seite 1von 6

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER Juli 2010 FOKUS APBN 2011 YANG MODERAT Anggaran Belanja Negara 2011 disusun

ditengah optimisme ekonomi dunia yang mulai pulih. Pada pertengahan tahun 2009 yang lalu, perekonomian dunia telah memberikan gambaran positif, dengan terjadinya pembalikan arah dari krisis global, dan masih terus berlanjut hingga triwulan I tahun 2010. Sejalan dengan itu, menurut Bank dunia dalam World Economic Outlook, bulan Juli 2010, pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2009 yang sempat mengalami kontraksi hingga 0,6 persen, pada tahun 2010 diperkirakan akan kembali menguat menjadi 4,6 persen. Penguatan laju pertumbuhan ekonomi global tersebut terutama dimotori oleh pulihnya kondisi perekonomian negara-negara berkembang. Ekonomi China, sebagai motor penggerak proses pemulihan dari krisis, diperkirakan tumbuh mencapai 10,5 persen, sementara perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan tumbuh cukup kuat. Sejalan dengan perkembangan positif ekonomi global, kinerja perekonomian domestik juga terus menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Stabilitas ekonomi Indonesia relatif terjaga dengan kecenderungan semakin menguat. Selama Januari-Juli tahun 2010, rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat 16,2 persen ke level Rp9.172/USD. Selanjutnya, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga akhir tahun diperkirakan tetap stabil, sehingga secara rata-rata di sepanjang tahun 2010 akan berada pada kisaran Rp9.200/USD. Penguatan rupiah membawa dampak positif kepada pengendalian inflasi. Laju inflasi sepanjang Januari-Juli tahun 2010 masih relatif terkendali pada tingkat 6,22 persen (y-o-y) atau 4,02 persen (y-t-d). Tekanan inflasi diperkirakan akan terjadi pada semester II tahun 2010 seiring dengan kenaikan TDL, tahun ajaran baru, serta hari raya keagamaan (puasa, lebaran, natal dan tahun baru). Namun, dengan koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia yang semakin baik, laju inflasi sampai akhir tahun 2010 diharapkan masih dalam sasaran. Sejalan dengan terjaganya laju inflasi, rata-rata suku bunga SBI 3 bulan juga cenderung terus menurun. Sepanjang Januari-Juli tahun 2010, rata-rata suku bunga SBI 3 bulan berada pada tingkat 6,58

persen, atau jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 8,29 persen. Di sisi eksternal, kinerja ekspor dan impor dalam kuartal I tahun 2010 mengalami peningkatan cukup signifikan dari periode yang sama tahun sebelumnya, masing-masing sebesar 41,8 persen dan 52,4 persen. Hal ini terutama didukung oleh penguatan kinerja sektor komoditas manufaktur, seperti industri tekstil, pakaian, alat angkut, dan kimia yang semakin membaik, sejalan dengan pulihnya kondisi ekonomi global. Sejalan dengan penguatan kinerja ekspor-impor tersebut, neraca pembayaran pada semester I tahun 2010 diperkirakan mengalami surplus sebesar USD10,9 miliar, dan cadangan devisa menguat hingga mencapai posisi USD78,8 miliar di akhir Juli 2010. Seiring dengan makin kuatnya fundamental ekonomi domestik, yang didukung oleh membaiknya faktor eksternal, maka pertumbuhan ekonomi dalam semester I tahun 2010 mencapai 5,9 persen, atau lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2009 yang sebesar 4,3 persen. Berdasarkan kondisi perekonomian dunia maupun domestik selama semester I 2010, Pemerintah kemudian menetapkan asumsi ekonomi Makro sebagai dasar perhitungan Rancangan anggaran biaya negara 2011. Tabel -1 Asumsi Ekonomi Makro, 2008 - 2011 Sumber pembiayaan dalam negri diutamakan Menurut berbagai kalangan asumsi tersebut cukup realistis walaupun banyak pihak yang mengharapkan Pemerintah lebih optimis dengan menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Misalnya dengan asumsi inflasi sebesar 5,3% seperti pada APBN 2010, Pemerintah seharusnya berani menurunkan SBI menjadi 6% untuk mendorong suku bunga kredit yang lebih rendah sehingga dunia usaha lebih bergairah Salah satu yang juga diharapkan oleh pengusaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi adalah dengan menetapkan defisit anggaran yang lebih tinggi. Menurut APBN 2011 defisit anggaran mencapai Rp. 115,6 trilyun atau sekitar 1.7% dari GDP. Sebelumnya, Partai Golkar mengusulkan untuk menaikkan defisit anggaran 2011 dari 1,7 persen menjadi 2,1 persen dan menurut

GOLKAR pemerintah tidak perlu khawatir akan naiknya defisit APBN 2011, karena saat ini defisit Indonesia relatif rendah dan yang terpenting adalah terjaminnya kesejahteraan rakyat. Menurut Partai Golkar dalam RAPBN 2011 ini, dana untuk pembangunan infrastruktur hanya dipatok sebesar Rp. 63, 6 triliun, penanggulangan kemiskinan sekitar Rp.49,3 triliun, dan transfer ke daerah hanya sebesar Rp 378,4 triliun. Dengan penambahan defisit menjadi 2,1 persen itu akan ada tambahan anggaran dalam APBN 2011 sebesar Rp 32 triliun. Dana itu bisa digunakan untuk menutup kekurangan anggaran di beberapa sektor tersebut. Untuk itu, usulan defisit anggaran sebesar 2,1 persen kalau disetujui, masih jauh lebih rendah dibanding angka defisit anggaran di negara tetangga, seperti Cina 2,8 persen, Thailand 3,8 persen, Malaysia 5,4 persen. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan tegas menolak untuk menaikkan defisit APBN 2011 dari 1,7 persen menjadi 2,1 persen yang dinilai tidak ada urgensinya, dan menyerukan penghematan anggaran kepada seluruh elemen pemerintah dimulai pada tahun 2011. SBY mengatakan jika pemerintah menaikkan defisit sebesar 0,4 persen maka sama dengan menambah pinjaman atau utang negara sebesar Rp 28 triliun. SBY menginginkan penghentian belanja-belanja negara yang tidak diperlukan, untuk itu dia akan mengeluarkan Inpres dan Perpres untuk penghematan konkret di tahun 2011. Tabel - 2 Ringkasan APBN, 2008 - 2010 Subsidi energi menjadi ganjalan Salah satu yang mengganjal dalam APBN 2011 adalah masalah subsidi. Terutama subsidi energi yaitu untuk sumbsidi BBM dan subsidi listrik. Pada saat RAPBAN 2011 diajukan Pemerintah merencanakan kenaikan TDL pada Januari 2011 agar subsidi Listrik menurun. Namun kemudian dalam pembahasan dengan DPR akhirnya Pemerintah menyepakati untuk tidak menaikan TDL tahun 2011. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya kenaikan subsidi listrik, namun dalam kesepakatan dengan DPR besarnya subsidi listrik ditetapkan sama dengan RAPBN 2011 yaitu sebesar RP. 41 trilyun. Hanya saja, pemerintah mengajukan penangguhan (carry over) subsidi listrik 2009 sebesar Rp4,6 triliun tidak diberikan pada 2011 untuk mencapai kesepakatan tersebut. Sesuai dengan Nota Keuangan RAPBN 2011 ditetapkan alokasi subsidi listrik tahun depan sebesar Rp41,02

triliun, dengan asumsi subsidi listrik berjalan 2011 Rp36,4 triliun, hutang subsidi listrik 2009 Rp4,6 triliun, dan kenaikan TDL per 1 Januari 2011 sebesar 15%. Namun, dengan tidak adanya kenaikan TDL pada tahun 2011 maka Pemerintah memilih untuk menangguhkan utang subsidi 2009 sebesar Rp4,6 triliun. Jadi tidak ada kenaikan TDL dan tidak ada penambahan besaran subsidi listrik tahun berjalan 2011. Secara keseluruhan dalam 4 tahun terakhir Pemerintah telah menurunkan anggaran untuk subsidi. Pada tahun total subsidi mencapai Rp. 275 trilyun, kemudian turun menjadi Rp. 158 trilyun tahun 2009. Hal ini dilakukan untuk mencegah defisit anggaran yang berlebihan karena menurunnya pendapatandalam negeri sebagai dampak krisis finansial global. Pada tahun 2010 subsidi meningkat kembali karena besarnya subsidi energi akibat meningkatnya kembali harga minyak dunia menyusul perbaikan ekpnomi yang berlangsung dinegara maju. Pada tahun 2011 subsidi kembali diturunkan walaupun subsidi untuk BBM masih meningkat sejalan dengan meningkatnya harga minyak dunia sementara harga dalam negeri belum bisa dinaikkan, akibat tentangan yang keras dimasyarakat. Tabel - 3 Perkembangan Subsidi dalam APBN 2008 - 2011 Sumber pembiayaan dalam negeri lebih diandalkan Untuk menutupi defisit anggaran Pemerintah merencanakan mencari sumber pembiayaan dalam negeri. Pemerintah SBY selama ini telah bertekad untuk mengurangi hutang luar negeri. Sumber pembiayaan luar negeri diutamakan berupa hibah atau pemutihan utang . Menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa, apabila memang terpaksa untuk menarik pinjaman luar negeri, Pemerintah ingin pinjaman yang biayanya rendah sehingga tidak makin memberatkan di kemudian hari. Seperti rencana penerbitan surat utang Samurai Bond, yang dijamin Pemerintah Jepang. Dengan peningkatan rating Indonesia yang telah mencapai investment grade, maka beban akan makin menurun. Sumber pembiayaan dalam negeri untuk menutup defisit anggaran pada tahun 2011 diantaranya dengan menerbitkan Obligasi dan rencana privatisasi 10 BUMN terutama BUMN di sektor Perkebunan. Saat ini diharapkan merupakan saat yang tepat untuk menerbitkan Obligasi maupun privatisasi BUMN. Sebagai negara yang mampu terus tumbuh dalam keadaan krisis global, Indonesia kemudian menjadi

tujuan investasi yang menarik. Hal ini mendorong dinaikannya rating Indonesia sehingga risiko investasi di indonesia dianggap lebih rendah dan pada gilirannya menyebabkan makin rendah biaya investasi. Demikian juga BUMN Perkebunan yang kinerjanya membaik sejalan dengan naiknya harga komoditi perkebunan diharapkan akan bisa mendapatkan harga penawaran perdana yang tinggi ketika melakukan IPO. Sampai saat ini pembiayaan dari dalam negeri masih cukup tinggi biayaanya karena besarnya suku bunga yang harus ditanggung. SBI yang sebesar 6,5% adalah yang terendah selama sepuluh tahun terakhir, namun dibandingkan dengan negara lain SBI masih jauh lebih tinggi. Demikian juga biaya untuk menerbitkan surat berharga Pemerintah seperti Obiligasi dan Surat utang negara lainnya, dibanding negara lain Indonesia masih dibebani suku bunga yang tinggi. Tabel - 4 Pembiayaan Anggaran, 2008 - 2011 Pajak Sumber pendapatan utama Pajak semakin menjadi sumber penerimaan negara semenjak penerimaan negara dari minyak dan gas menyusut tajam. Demikian juga penerimaan negara bukan pajak lainnya belum mampu menggantikan penerimaan dari sektor migas. Tabel - 5 Pendapatan Negara, 2008 - 2011 Kesimpulan Setelah mengalami krisis finansial global selama tahun 2008-2009, maka kondisi ekonomi tahun 2010 telah membaik dan diperkirakan perekonomian dunia akan terus pulih tahun 2011. Menyongsong tahun 2011 ini , Pemerintah cukup optimis untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi yaitu 6,3% dibanding tahun 2010. Walaupun demikian Pemerintah cenderung berhati-hati dan memilih pertumbuhan yang moderat untuk perekonomian Indonesia pada tahun 2011. Padahal negara tetangga yang cukup berat dihantam krisis finansial pada tahun 2009, kini telah berancang-ancang meningkatkan kembali pertumbuhan ekonominya setelah berhasil memperbaiki perekonomian yang terpukul sebelumnya, seperti

Singapura, Thailand, dan Filipina. Kini negara tersebut mencanangkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari indonesia pada tahun 2011. Kehati-hatian Pemerintah ditunjukkan dengan membatasi defisit anggaran, tetap mempertahankan suku bunga SBI sebesar 6,5% dan membatasi sumber pembiayaan dengan mengutamakan pembiayaan dari dalam negeri. Kehati-hatian ini memang masuk akal karena trauma dampak dari krisis moneter tahun 1999 yang belum sepenuhnya hilang. Namun hal ini juga menyebabkan kehilangan peluang tumbuh bagi Indonesia yang seharusnya bisa start lebih dulu dibandingkan negara tetangga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ketika ekpnomi dunia telah mulai pulih. Beberapa hambatan yang dihadapi Indonesia untuk bisa lebih melonggarkan perekonomian adalah biaya uang yang cukup tinggi. Sampai saat ini bunga pinjaman bank di dalam negeri masih sangat tinggi dibanding negara tetangga lainnya. SBI yang mencapai 6,5% juga termasuk tinggi dibandingkan suku bunga yang ditetapkan bank sentral negara lain. Demikian juga obligasi Pemerintah dipatok dengan yield yang lebih tinggi dari negara lain bahkan dengan negara seperti Filipina yang ekonominya terkena dampak cukup parah ketika terjadi krisis finansial global. Namun Filipina berhasil menerbitkan obligasi dengan yield yang lebih rendah dibanding Indonesia. Dengan kondisi tersebut sebenarnya terdapat celah yang cukup besar untuk mendorong ekonomi Indonesia tumbuh lebih pesat. Kehatihatian yang dtunjukkan oleh Pemerintah sudah cukup baik untuk menstabilkan ekonomi namun masih belum memadai untuk bisa tumbuh dan bersaing dengan negara lain.