You are on page 1of 2

Bangsa Portugis adalah salah satu bangsa yang datang ke Indonesia dengan tujuan perdagangan (1292).

Pendudukan (1511) dengan sasaran Kepulauan Maluku yang berpusat di Banda dan Ternate sebagai pusat penghasil rempah-rempah adalah awal mula pendirian bangunan dengan konsep Barat. Awalnya pendatang membangun rumah dengan memakai bahan bangunan setempat (atap,dedaunan atau ijuk,dinding dan lantai kayu). Setelah ada ketegangan baik dengan pribumi maupun sesama negara Barat, maka untuk mempertahankan kekuasaan mereka, dibangunlah benteng dari batu karang yang ditumpuk dan diplester dengan tanah sehingga tingginya mencapai 2,5 m dengan tebal 1,5 m. Setelah VOC menentukan pusat perdagangan di Jawa, dengan memilih membangun pelabuhan di muara Sungai Ciliwung (1611), maka hal ini menjadi batu pertama untuk memulai Arkeologi Kolonial. Pendirian Fort Batavia dimulai dengan pembangunan benteng pertahanan di tepi pantai dengan bentuk denah bintang segi delapan. Di dalam benteng dibangun rumah untuk para koloni yang awalnya seperti rumah penduduk asli tapi kemudian perkembangannya meniru rumah negeri asalnya. Bangunan terdiri dari 3 bahan yaitu bata (didatangkan langsung dari Belanda termasuk genteng, kayu dan desain interiornya), kayu dan tanah. Setelah situasi aman maka rencana pembangunan kota dapat diatur. Kota direncanakan seperti Amsterdam yaitu dipotong-potong dengan terusan-terusan sehingga merupakan kota air. Demikian pula pusat kota dengan balai kotanya yang memberi kesan keadaan Balai Kota Amsterdam. Bangunan lain yang sekarang tidak ada lagi adalah Gerbang Kemenangan yang bernama Amsterdam Poort (1748). Gerbang ini merupakan bangunan yang sangat langka di dunia karena menggunakan tiang Doris sebagai unsur gaya arsitektur klasiknya, dan merupakan gerbang masuk ke Batavia ketika kota itu masih berupa kota tertutup. Dari segi bangunan rumah, maka tipe yang menjadi tradisi pertama ialah rumahrumah berjejer tanpa halaman. Rumahnya berlantai 2; lebar rumah sempit tetapi memanjang ke dalam; dengan atau tanpa halaman kecil di dalamnya. Segi bentuk yang khas adalah bentuk pintu masuk di muka rumah yang terdiri dari 2 bagian ; terpotong di tengah. Ada imitasi cerobong asap yang menonjol di pinggir atau di batas antara dinding samping rumah yang satu dengan yang lain. Tampak pinggir, kadang diberi bentuk seperti tangga. Rumah tipe ini kemudian menjadi ciri rumah (toko) orang Cina, setelah orang Belanda mengganti

tradisi untuk tidak Landhuizen.

hidup padat berdesakan. Rumah-rumah tersebut dikenal sebagai

Berdasarkan kebutuhan dan penyesuaian terhadap iklim maka terciptalah tipe rumah dengan serambi muka lebar seperti pendopo; sebuah gang dengan kanan kirinya kamar tidur; serambi belakang dan bangunan samping untuk dapur, kamar mandi, kamar pelayan,dll. Rumah Landhuizen ini dalam versi sederhana secara masa produksi kemudian disebut gaya kolonial. Yang khas bagi rumah gaya kolonial adalah serambi muka yang luas dan tiang bagian muka dengan gaya klasik Eropa. Pada mulanya dibuat rumah dengan 2 tingkat tapi melihat dari segi kepraktisan, maka kemudian dibangun 1 lantai saja. Bangunan yang dipengaruhi gaya neo-klasik di Jakarta di antaranya adalah Gereja Protestan yang ada di Gambir yang dulu bernama Wilhelmskerk (1834). Yang merupakan contoh gereja gaya neo-Yunani yang sederhana dengan perbandingan yang sesuai. Selain itu ada Gedung Gereja Inggris (1830), Gedung Departemen Luar Negeri yang berasal dari sebuah Landhuis (1845) Sementara di Jakarta membangun kekuasaan, pemerintah Kolonial semakin memperluas kekuasaan di pedalaman juga. Di Bogor (1763) dibangun sebuah istana yang menjadi kediaman permanen penguasa pemerintah kolonial yang mencontoh Istana Bleinheim House (Marlborough, Inggris). Istana ini dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Van Imhoff dengan arsiteknya yaitu John Rach. Di Semarang dibangun Gereja Protestan dengan gaya Psydo-Baroch. Di Surabaya, Gereja Katolik meniru gaya Romanik. Di kota besar lain, Bank Indonesia dulu membangun kantor cabang dengan gaya klasik karya arsitek Hulswit, Fermont dan Ed. Cuipers. Ada arsitek yang mengambil inspirasi justru dari gaya Indonesia. Contohnya adalah kompleks Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu juga ada gedung Ditjen Telekomunikasi dan gedung Pemda Jawa Barat. Bangunan ini merupakan kompleks bangunan simetris hasil karya J. Gerber. Adanya bentuk yang mencerminkan Arsitektur Barat adalah gejala bagi semua negara yang pernah dijajah oleh Barat. Seperti Malaysia, Singapura, India, Birma oleh Inggris; Laos, Kamboja, Vietnam oleh Perancis. Di negara tersebutpun terdapat monumen kolonial.