Sie sind auf Seite 1von 7

Analisis Tokoh Ich erzhlerin: perempuan imigran Turki imajinatif dan ekspresif, dapat kita lihat ketika ia menggambarkan

an apa yang ia rasakan dengan mengutip sebuah lagu atau membuat perumpamaan dirinya dengan makhluk hidup lain ,, Der dich geschaffen... welche wissen, was ihr tut. (Hal. 21, baris 27) ,, Ich war wie ein neugeborener nasser Vogel, der sehr groe Geduld haben musste. (Hal 25, baris 19)

meskipun ia mengenakan jilbab tetapi ia juga menyindir perempuan Arab yang memakai baju terlalu besar ,,Ich ging den arabischen Frauen mit Kopftchern hinterher, ihre schwangeren Tchter neben ihnen, ich will unter ihre Rcke gehen, ... (Hal. 19, baris 32)

sangat menyayangi kakeknya, dapat terlihat dari ich, yang meskipun sudah berada di Berlin, rela meluangkan waktu untuk mempelajari bahasa Turki dengan aksara Arab agar dapat terus berkomunikasi dengan kakeknya ,,... (bagian Sasa)

memiliki selera humor yang polos ,,Ich liebte mein Vater. Mein Vater diese Stimmen. Ich dachte damals, diese arabischen Snger, seien beste Freunde von meinem Vater, ... (Hal. 27, baris 5) ,,Ich sagte: >>Bis diese Wrter aus deinem Land aufgestanden und zu meinem Land gelaufen sind, haben sie sich unterwegs etwas gendert.<< (Hal. 27, baris 32)

individu yang bebas, tidak hanya terlihat dari bagaimana cara ia berpakaian tetapi juga dengan frontalnya ia membahas tentang persetubuhannya dengan Ibni Abdullah
1

,,...ich gehe mit Ibni Abdullah einmal zur Mnnergesellschaft, ich habe halb Mann-, halb Frauenkostm, ich singe dort ein Lied aus dem Koran... (Hal. 20, baris 4) ,,... (bagian Peggy)

tertarik dengan Ibni Abdullah ,,Knabe, bist du aus einer Huri geboren, mein Verstand ist aus seinem Ort weggeflogen, deine Verstand ist aus seinem Ort weggeflogen, deine Wimpern sind Pfeile, die mein Blut tranken, deine saubere Stirn ist ein verfluchtes Meer, kann die Kraft am Knie bleiben, wenn man in deine schwarzen Augen guckt, dein Mund, wenn er was sagt, das bringt die Toten ins Leben zurck. (Hal. 26, baris 21)

entah dengan sengaja atau tidak, masih menggunakan konsep budaya Turki ketika membaca budaya Jerman, terlihat dari penggunaan kata Mutterzunge bukan Muttersprache. Hal ini dikarenakan makna frase Muttersprache sama dengan makna kata ... dalam bahasa Turki, yang artinya sama dengan Zunge (lidah) dalam bahasa Jerman

Ibni Abdullah: ahli tulisan Arab yang bertempat tinggal di Berlin Barat ,, ... (bagian Sasa) belum menikah dan masih tinggal bersama ibunya ,, Ich trat in das Schriftzimmer in Wilmersdorf ein. ... Seine Mutter hat ihm eine Wollweste gestrickt. (Hal. 21, baris 12) mentor ich dalam memahami bahasa Turki dalam aksara Arab, yang secara tidak langsung merupakan jembatan bagi ich untuk kembali dekat dengan nenek moyangnya

Identitas Budaya Storey (2007, 79) mengutip pendapat Stuart Hall dalam bukunya Cultural Studies: Two Paradigms yang berbunyi sebagai berikut: This view posits identity, not as something fixed and coherent, but as something constructed and always in a process of becoming, but never complete - as much about the future as the past.1 Dari kutipan Stuart Hall dalam buku John Storey di atas disebutkan bahwa identitas tidak hanya terbentuk dari satu faktor saja, melainkan dipengaruhi oleh banyak hal. Oleh karena itu, identitas tidak bisa dikatakan sebagai suatu hal yang satu dan baku. Identitas selalu dalam proses menjadi. Proses konstruksi identitas ini tidak akan pernah selesai. Identitas ini bisa dengan sengaja dikonstruksikan oleh pihak yang established melalui struktur, iklim dan sistem yang diciptakan. Selain itu, bisa juga dengan sengaja atau tidak memang dicari oleh seorang individu sebagai manusia. Hal inilah yang membuat pengkonstruksian identitas berperan penting dalam pengidentifikasian diri seorang individu. ..., identity formation is not something we can do alone. Our identity usually consist of a negotiation...2 Identitas kemudian bisa menjadi ajeg dalam diri seseorang tentunya tidak disebabkan oleh satu faktor saja, apalagi dalam waktu singkat. Dalam proses konstruksi identitas selalu ada penyesuaian atau negosiasi dari diri individu tersebut. Keunikan dari setiap individu yang sifatnya sangat personal membuat sesuatu yang lain itu kemudian tidak dapat diduplikasi secara utuh. Hal inilah yang menyebabkan identitas menjadi begitu beragam dan tidak dapat dipukul rata segala sesuatunya mengingat struktur di dalamnya yang begitu kompleks. Identities are, therefore, a mixture of interpellation and representation.3 Hal yang dinamakan identitas tidak hanya bagaimana kita melihat diri kita sendiri tetapi juga bagaimana diri kita dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu, identitas bisa dikatakan sebagai perpaduan interpellation dan representation. Kedua hal tersebut bisa saja
1

Storey, John. 2007. Inventing Popular Culture. Australia: Blackwell Publishing. (hal. 79) Ibid (hal. 80) Ibid

mengidentifikasikan individu secara bertolak belakang. Namun, inilah yang membuat identitas seseorang bahkan sebuah kebudayaan menjadi sangat menarik untuk dikaji. Yang dikaji bukan semata-mata hanya fakta yang terlihat, melainkan interpretasi dan makna dari fakta tersebut. Untuk mengatakan A memiliki identitas X, kita perlu mengetahui bagaimana identitas X itu menempel pada A, dimaknai sebagai apakah identitas X tersebut, terlihat dari apa sajakah identitas X pada A, dan banyak hal lain yang nantinya akan membuat kita mengerti bahwa identitas bukan hanya pada apa yang terlihat dan tertera di penunjuk identitas konvensional saja. Seringkali identitas seseorang terkonstruksi oleh hal yang sifatnya turun temurun, misalnya agama, bahasa, kewarganegaraan, adat, kebiasaan, dan lain-lain. Hal ini membuat identitas seorang individu secara otomatis sama dengan identitas keluarga mereka. Hal ini kemudian menjadi masalah bagi individu yang tidak cukup puas bahkan tidak cocok dengan identitas yang sudah terkonstruksi secara turun temurun itu. Individu yang tunggal kemudian terpaksa dinilai sebagai individu yang tidak berdiri sendiri. Identitas seorang individu seperti tidak begitu saja dapat lepas dari nilai-nilai yang sudah terkonstruksi terlebih dahulu dalam waktu lama pada sebuah keluarga atau masyarakat tertentu. Namun, sebagai seorang manusia yang sejatinya bebas menentukan dirinya sendiri secara dewasa, identitas seharusnya tidak bersifat sekaku itu. Dengan kata lain, identitas dibentuk dari pertentangan banyaknya identifikasi, posisi subjek, dan bentuk dari representasi yang kita lakukan. Hal itu kemudian terbentuk dan membentuk narasi kehidupan kita.

Menyoal Identitas Melalui sebuah novel berisi beberapa cerita pendek, dua di antaranya Mutterzunge dan Grovaterzunge, zdamar dengan perspektifnya sebagai imigran Turki di Jerman mencoba berbagi pengalamannya yang erat dengan bahasa, budaya, dan identitas multikultural. Dua cerita pendek ini merepresentasikan ich yang kembali meredefinisi dirinya sebagai seorang imigran Turki yang berada di budaya baru, Jerman. Dalam kedua cerita ini permasalahan mengenai bahasa ibu menjadi tema utama. Ich mempertanyakan dan mencari kembali bahasa ibunya, yaitu Turki dengan aksara Arab. Bahasa sebagai unsur penting kebudayaan jelas memberikan memoar tersendiri pada diri setiap manusia sebagai pelaku kebudayaan. Ich sebagai seorang perempuan Turki yang hanya mengerti bahasa Turki dengan aksara Latin bukan dengan aksara Arab seperti kakeknya, kemudian migrasi ke Jerman dengan bahasa yang sangat jauh berbeda, akhirnya merasa resah dengan identitasnya. Kakeknya, sebagai simbol dari akar kebudayaan asli, yang sangat disayangi ich mampu membuatnya mempelajari bahasa Turki dengan aksara Arab di Berlin. Hal yang menarik di sini adalah ich mempelajari bahasa ibu dengan aksara Arab bukan di negara asalnya melainkan di Berlin sebuah tempat yang baru baginya. Hal ini menunjukkan bahwa keterbukaan untuk mengerti dapat dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja. Identitas dalam diri seseorang tidak hanya terkonstruksi dalam waktu yang singkat. Konsep bahwa Turki sebagai bahasa ibu pada diri ich terlihat jelas dalam judul kedua cerita ini. Bahasa ibu yang dalam bahasa Jerman disebut Muttersprache tidak dipilih oleh ich. Ia tetap menggunakan konsep bahasa Turki untuk penyebutan bahasa ibu yaitu ..., yang meskipun maknanya sama tetapi diksinya kurang tepat. Konstruksi identitas melalui bahasa sangat jelas terlihat di sini. Kebingungan ich tentang identitas asli, yang dalam cerita ini direpresentasikan oleh kakek ich, adalah peristiwa yang sangat manusiawi dalam proses transisi seorang manusia. Pada awal ich belajar bahasa dan budaya Jerman, secara otomatis ia akan teringat dengan memorinya tentang bahasa Turki yang sudah lebih dulu ia peroleh. Proses pemerolehan bahasa Jerman sebagai bahasa baru untuk ich membuat bahasa sebagai unsur identitas dalam diri seseorang kemudian menjadi kabur.

Pada saat kita berada di sebuah lingkungan yang berbeda, kita akan dapat melihat kebudayaan asli kita secara lebih utuh. Hal ini disadari penuh oleh ich yang merasa bahwa dirinya sebagai seorang Turki lalu samar-samar menjadi seorang Jerman. Hal yang lebih menarik lagi adalah ich bahkan merasa bahwa dirinya pun masih bukan seorang Turki yang asli karena tidak memahami bahasa Turki dengan aksara Arab seperti nenek moyangnya dulu. Dalam kedua cerita ini memang tidak disebutkan mengenai ich yang memiliki kendala dengan bahasa Jerman. Namun, dengan beberapa kali disebutkan mengenai kata Orientalin, Alemania, dan beberapa ungkapan khas Turki, jelas memperlihatkan bahwa ich adalah seorang yang berbeda dan minor dalam masyarakat Jerman. Kehidupan urban yang memungkinkan adanya interaksi antar anggota masyarakat yang berbeda bahasa dan budaya terlihat jelas di sini. Meskipun banyak masalah yang pada kenyataannya muncul terkait isu ini, dalam cerita ini hal tersebut tidak dipermasalahkan. Cerita dengan perspektif ich yang anonim memungkinkan siapapun bisa mengalami konflik yang dirasakan ich. Kedua konflik ini bukan membahas tentang masyarakat secara luas (misalnya konsep integrasi) melainkan masalah yang sangat personal. Kesederhanaan tema membuat cerita ini justru menjadi sangat kaya. Seorang imigran yang hidup di kota urban, Berlin, mempertanyaakn ke-diri-annya sebagai seorang manusia. Ich sebagai seorang perempuan Turki yang beragama Islam mendefinisikan dirinya secara sangat personal. Meskipun di satu sisi ia sangat antusias belajar bahasa Turki dengan aksara Arab dan sering mengutip ayat-ayat Al-Quran, ich juga melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama Islam, misalnya meminum Wein dan bersetubuh dengan Ibni Abdullah. Dari hal ini kita tidak dapat memberi label bahwa ich adalah seorang pendosa. Konsep agama dan kebiasaan yang sudah melekat pada ich, secara sadar direkonstruksi oleh ich sendiri. Masyarakat urban memang dekat dengan kondisi seperti ini tetapi kita juga tidak adil jika mengatakan secara mentah-mentah bahwa urban identik dengan free sex atau minuman beralkohol. Kedua hal tersebut hanyalah simbol dari pilihan-pilihan bebas yang secara sadar diambil oleh manusia. Kita tidak dapat mengatakan bahwa budaya A lebih baik daripada budaya X. Konflik dalam masyarakat urban yang bersifat sangat personal tidak bisa kita pukul rata ketika menjawabnya. Ich yang pada awalnya hanya berniat mempelajari bahasa kakeknya, mau tidak mau akhirnya berkenaan dengan ayat-ayat Al-Quran, budaya Turki, kebiasaan Islam dan hal kompleks lainnya. Situasi ini membuat konflik di dalam diri ich semakin menjadi karena ia harus menyeimbangkan semua itu di dalam budaya baru bagi dirinya, yaitu budaya Jerman.
6

Pada akhir cerita ich mengidentifikasikan dirinya sebagai Wrtersammlerin. Hal ini menunjukkan bahwa ich menyadari hal yang dilakukannya selama ini adalah proses dirinya sebagai individu untuk mencari identitasnya. Dialog pada akhir cerita yaitu ,,Ruh heit Seele dan ,,Seele heit Ruh menunjukkan bahwa sebuah kalimat yang sebenarnya berarti sama tetapi karena disampaikan oleh perspektif yang berbeda maka maknanya berbeda. Anak kecil yang bertanya pada ich mendefinisikan Ruh sebagai kata asing baginya. Hal itu berkebalikan dengan ich yang menempatkan arti Ruh sebagai terjemahan dari kata yang sudah lebih dulu ia pahami. Ich yang sudah mengalami pergeseran sudut pandang ini menunjukkan bahwa identitas budaya adalah cair.