You are on page 1of 6

A. DEFINISI Stenosis/Striktur esofagus merupakan penyempitan lumen esofagus yang dapat menyebabkan keluhan disfagia.

Stenosis/striktur esofagus adalahadalah penyempitan dinding esofagitis (biasanya terletak pada 2/3 bawah) sering diakibatkan karena refluks esofagitis, mencerna zat kimia, pergeseran hianatal hernia, atau infiltrasi neoplastik(Yasmin asih dkk,1998).

B. ETIOLOGI Stenosis/striktur esofagus merupakan penyempitan lumen karena: 1) fibrosis dinding esofagus Fibrosis adalah pembentukan jaringan ikat fibrosa yang berlebihan dalam suatu organ atau jaringan dalam sebuah proses reparatif atau reaktif. Hal ini sebagai lawan pembentukan jaringan fibrosa sebagai konstituen normal dari organ atau jaringan. Fibrosis jaringan parut konfluen bahwa melenyapkan arsitektur organ atau jaringan yang mendasarinya. 2) Berdasarkan etiologinya, striktur esofagus dibedakan menjadi striktur esofagus benigna dan maligna. Striktur esofagus benigna disebabkan oleh GERD, zat korosif, web, radiasi, post anastomosis esofagus. striktur esofagus maligna disebabkan oleh keganasan baik dari dalam maupun dari luar esofagus. 3) Reaksi inflamasi Reaksi peradangan merupakan reaksi defensif (pertahanan diri) sebagai respon terhadap cedera berupa reaksi vaskular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial pada daerah cedera atau

nekrosis. Peradangan dapat juga dimasukkan dalam suatu reaksi non spesifik, dari hospes terhadap infeksi. Radang atau inflamasi adalah satu dari respon utama sistem kekebalan terhadap infeksi dan iritasi. Inflamasi distimulasi oleh faktor kimia (histamin, bradikinin, serotonin, leukotrien, dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang berperan sebagai mediator radang di dalam sistem kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari penyebaran infeksi. Hasil reaksi peradangan adalah netralisasi dan pembuangan agen penyerang, penghancuran jaringan nekrosis dan pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan 4) nekrosis esofagus

C. MANIFESTASI KLINIS 1. Disfagia merupakan gejala terpenting striktur esofagus. Pada dasarnya disfagia pada striktur esofagus lebih jelas terhadap makanan padat. Hal ini berbeda dengan disfagia pada gangguan motilitas, dimana makanan padat relatif lebih mudah turun. Gejala ini mulai dirasakan, apabila lumen menyempit sampai 50%. 2. Dapat disertai gejala lain seperti rasa nyeri atau terbakar substernal. 3. Bila striktur bertambah berat, asupan nutrisi mungkin berkurang sehingga penderita akan nampak kurang gizi.

D. PATOFISIOLOGI

Secara mikroskopik, kerusakan jaringan tidak melewati lapisan muskularis mukosa. terlihat fibrosis keras yang luas terutama di daerah sub mukosa, terjadi penebalan dinding yang kosentrik, yang menimbulkan stenosis

Striktur esofagus benigna disebabkan oleh GERD, zat korosif, web, radiasi, post anastomosis esofagus. GERD atau Gastro Esophageal Reflux Disease adalah salah satu nama penyakit pencernaan di mana asam lambung atau empedu naik atau berbalik (reflux) ke kerongkongan. Penyakit ini biasanya merupakan penyakit menahun. Meski demikian, GERD ini sebenarnya adalah fenomena fisiologis yang normal yang seringkali kita rasakan sehabis makan. Mungkin masih terdapat reaksi inflamasi seperti infiltrasi sel polimorfonuklear (PMN), hiperplasi sel basal dan elongasio papil ke arah permukaan. Bila terjadi ulserasi yang dalam seperti pada barrets esophagus atau akibat bahan korosif, fibrosis terjadi lebih dalam, meliputi seluruh dinding esofagus, sehingga dapat terjadi pemendekan esofagus.

E. PATHWAYS

Striktur/ stenosis esofagus

Striktur maligna

Striktur benigna

keganasan baik dari dalam maupun dari luar esofagus

1. 2. 3. 4. 5.

GERD zat korosif web radiasi post anastomosis

Patofisiologi

Manifestasi Klinis

Komplikasi

Kerusakan jaringan tidak melewati lapisan muskularis mukosa. terlihat fibrosis keras yang luas terutama di daerah sub mukosa, terjadi penebalan dinding yang kosentrik, yang menimbulkan stenosis

Gejala ini mulai dirasakan,apabila lumen menyempit sampai 50%. Dapat disertai gejala lain seperti rasa nyeri atau terbakar substernal

Striktur akibat keganasan paling sering terjadi berturut-turut di bagian distal, tengah dan proksimal. Paling sering tumor esophagus adalah karsinoma sel skuasoma dan sebagian kecil adenokarsinoma

F. PENATALAKSANAAN MEDIS Penatalaksanaan striktur esophagus ini secara garis besar dikelompokan menjadi penatalaksanaan striktur benigna dan penatalaksanaan striktur maligna.

1) Striktur Esofagus Benigna

Dilatasi Penatalaksanaan striktur esofagus benigna yang utama yaitu dilatasi. Tujuan utama dilakukannya dilatasi esofagus adalah untuk dan

meringankan gejala striktur esofagus, pemberian nutrisi oral

menurunkan resiko aspirasi pneumoni. Disamping itu dilatasi juga

berguna untuk gastroskopi diagnostic bila endoskop tidak mampu melewati striktur serta untuk membantu pemasangan stents esofagus Kontraindikasi dilatasi Perforasi esophagus karena ini dapat memperbesar defek dan menyebabkan mediastinitis Adanya penyakit kardiorespiratori yang berat dan kelainan pembekuan darah

2) Striktur Esofagus Maligna

Pada striktur esofagus maligna, tujuan terapi adalah untuk mengatasi masalah disfagia yang disebabkan oleh tumor. Terapi pembedahan merupakan terapi utama pada striktur esofagus maligna. Terapi ini dilakukan pada tumor yang belum bermetastasis baik lokal maupun regional. Prosedur lain yang biasa digunakan adalah pemasangan stents, terapi laser dan brakiterapi. Stents Pemasangan stents pada striktur esofagus maligna merupakan terapi paliatif terhadap disfagianya. Umumnya dilakukan pada tumor yang berlokasi di bagian tengah dan distal esofagus, sedangkan tumor yang berlokasi di bagian proksimal agak sulit dilakukan, karena sulitnya penempatan stents dan tingginya resiko komplikasi yang bisa ditemukan seperti perforasi, aspirasi pneumoni dan seringnya pasien mengeluhkan nyeri serta adanya sensasi benda asing. Komplikasi akibat pemasangan stents pada striktur esofagus maligna sering terjadi disfagia berulang karena terjadinya migrasi stents dan tumbuhnya jaringan granulasi di sekitar stent. Terapi Laser Terapi laser ini dapat mengatasi keluhan disfagia pada sekitar 70% pasien dengan striktur esofagus. Terapi ini dilakukan untuk mempertahankan patensi lumen esofagus

Dengan cara memasukan laser ke dalam lumen esofagus dengan bantuan endoskopi. Pada awalnya terapi dilakukan 2-3 kali seminggu sampai keluhan disfagia hilang. Kontraindikasi terapi ini yaitu pada tumor yang telah berinfiltrasi ke jaringan sekitar atau bila terdapat fistula esofagus. Komplikasi yang dapat terjadi berupa perforasi (2,3%).

G. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN 1. Istirahat 2. Diet H. KOMPLIKASI 1. keganasan. Kesulitan dapat terjadi bila tumor berada distal dari penyempitan, sehingga tidak terlihat pada esofagoskopi. Dalam hal ini dapat diusahakan biopsi dengan melewatkan forsep melalui lumen yang sempit. Striktur akibat keganasan paling sering terjadi berturut-turut di bagian distal, tengah dan proksimal. Paling sering tumor esofagus adalah karsinoma sel skuasoma dan sebagian kecil adenokarsinoma.

Brunner and Sudarth. 1996. Buku Ajar Keperawatan medikal Bedah. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.