You are on page 1of 4

1

Uji Turunan Minyak Bumi dengan Gugusan Sensor Gas


Soetarno, Suprapto, R.Y. Perry Burhan
Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Sciences

Kampus ITS, Keputih, Surabaya 60111 Coresponding Author, telp +6231 5943353, faks +6231 5928314, e-mail : tr_jkpka@yahoo.co.id

Abstrak Telah dilakukan penelitian untuk menguji senyawa turunan minyak bumi: premix, bensin, minyak tanah dan solar dengan gugusan sensor gas. Sensor gas yang digunakan dalam penelitian ini adalah sensor gas berbahan oksida timah yang diproduksi Figaro Inc: TGS2620, TGS-2602 dan Af-30. Keuntungan dari penggunaan gugusan sensor gas untuk pengujian adalah dapat digunakan analisis secara langsung tanpa preparasi sampel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi senyawa turunan minyak bumi dengan menggunakan gugusan sensor gas. Hasil analsis menunjukkan bahwa gugusan gas sensor yang digunakan dapat digunakan untuk membedakan bensin, minyak tanah, biosolar dan premix. Analisis bahan campuran dari masing-masing bahan juga dilakukan. Index Terms: sensor gas, bensin ,solar, minyak tanah, premix

menjadi satu kesatuan sistem aplikasi penciuman elektronik (enose). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi senyawa turunan minyak bumi dengan menggunakan gugusan sensor gas. II. DASAR TEORI Aplikasi gugusan sensor gas ini dibangun dengan menggunakan 4 jenis sensor gas di mana masing-masing sensor dapat digunakan untuk mendeteksi lebih dari satu jenis gas. Sensor pertama TGS-2201memiliki dua Elemen yang digunakan untuk mengukur kadar gas yang dideteksi dan sensor kedua, ketiga dan keempat, TGS-2620, TGS-2602 dan Af-30 memiliki sebuah elemen. Setiap elemen dari sensor dapat digunakan untuk mengukur beberapa macam gas sekaligus tergantung dari nilai resistansi masing-masing[4]. Sebagai contoh pada TGS-2201, elemen pertama dapat digunakan untuk mengukur kadar NO 2 dan elemen kedua untuk CO, H 2 dan EtOH. Saat perbandingan nilai Rs/Ro = 0,2 pada elemen kedua, maka sensor tersebut dinyatakan mendeteksi EtOH 2 ppm, H 2 6 ppm dan CO 30ppm. Rs/Ro adalah perbandingan antara resistansi elemen dan resistansi fix pada rangkaian pengkondisi signal yang terhubung pada masing-masing sensor. Rangkaian pengkondisi tersebut mengubah nilai resistansi elemen menjadi tegangan analog. Agar nilai tegangan ini dapat diperoleh, maka digunakan Modul DQI-04 (Delta Data Aquisition 04) yang memiliki resolusi 16 bit. Modul ini mengubah tegangan analog menjadi data serial sehingga dapat dihubungkan langsung ke PC. Untuk mendeteksi sensor-sensor tersebut dibutuhkan 5 unit DQI-04 di mana masing-masing modul dapat dialamati sehingga kelimanya dapat terhubung pada satu jalur serial. Data-data tegangan diubah menjadi data serial dan dikirim ke PC. Mengingat PC dan notebook saat ini kebanyakan sudah tidak memiliki port serial lagi maka ditambahkan Modul DU-232 yang berfungsi mengubah data serial menjadi USB. Software di PC akan mengambil datadata tegangan analog tersebut dan diubah menjadi data grafik. Masing-masing gas akan membentuk grafik di mana titik minimum dan titik maksimum grafik dibentuk pada saat proses kalibrasi. Pada saat proses kalibrasi, Nilai minimum dari grafik (Low Value) dapat diisikan secara manual dan disimpan berdasarkan kondisi tegangan ADC saat itu (Low Hex) demikian juga nilai maksimum dari grafik (High Value) yang disimpan berdasarkan kondisi tegangan ADC saat itu (High Hex). Dari persamaan yang dibentuk dari nilai-nilai tersebut, maka akan diperoleh grafik yang akan ditampilkan

I. PENDAHULUAN erkembangnya industri dan kebutuhan energi yang makin meningkat mendorong meningkatnya permintaan terhadap produksi minyak bumi untuk berbagai keperluan. Hal ini menyebabkan masalah pencemaran lingkungan dari proses pengolahan minyak bumi dan tumpahan minyak selama transportasi dan penyimpanan berlangsung. Tumpahan minyak menyebabkan gangguan ekosistem dan seringkali berefek pada lingkungan. Cara konvensional untuk analisis kwalitatif dan kwantitatif dari komposisi kimia senyawa biasanya memerlukan waktu yang lama. Dibutuhkan metode dan teknologi baru untuk identifikasi sumber tumpahan minyak atau limbah minyak dalam rangka meminimalkan pencemaran tanah dan air [1,2]. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan gugusan sensor gas untuk menguji senyawa turunan minyak bumi: bensin, minyak tanah, solar dan premix. Gugusan sensor gas tersusun dari sensor gas yang masingmasing permukaannya dilapisi timah oksida (SnO 2 ) [3]. Gugusan sensor gas dihubungkan dengan rangkaian pengkondisi yang dilengkapi dengan modul dan PC hingga

2 pada PC. Selain ditampilkan dalam grafik, data-data tersebut juga tersimpan dalam database yang dapat dibuka oleh Microsoft Access Database. Pencium utama pada rangkaian pendeteksi gas ini adalah gugusan sensor gas. Masing-masing sensor gas dalam gugusan sensor ini secara umum mempunyai tahanan sensor yang nilainya bergantung pada keberadaan oksigen. Permukaan sensor dilapisi dengan timah dioxide (SnO 2 ) yang tahan terhadap panas. Jika molekul gas menyentuh permukaan sensor maka satuan resistansinya akan mengecil sesuai dengan konsentrasi gas. Sebaliknya, jika konsentrasi gas menurun akan diikuti dengan semakin tingginya resistansi, maka tegangan keluarannya akan menurun. Dengan demikian perubahan konsentrasi gas dapat mengubah nilai resistansi sensor dan juga akan mempengaruhi tegangan keluarannya, perbedaan inilah yang dijadikan acuan bagi pendeteksi gas berbahaya dari turunan minyak bumi tersebut. III. METODE 3.1 Alat-Alat Wadah atau kabin sensor, tabung gas, alat ijeksi gas, sensor tipe TGS-2201, TGS-2620, TGS-2602 dan Af-30 . Modul DQI-04, Modul DU-232, PC. 3.2 Bahan-Bahan Bahan yang digunakan adalah premix, premium, minyak tanah dan solar merupakan produk pertamina.. 3.3 Prosedur Penelitian ini diawali dengan menyiapkan rangkaian gugusan sensor yang terhubung dengan rangkaian pengkondisi yang dilengkapi dengan modul dan PC hingga menjadi satu kesatuan sistem aplikasi enose. Menyiapkan tabung gas dan kabin sensor yang berisi gugusan sensor gas. Kabin sensor ini juga berfungsi sebagai penutup tabung. Langkah berikutnya adalah menginjeksikan 0,5ml premix kedalam tabung gas, melalui lubang di dinding tabung. Umpan gas/uap dan bau dari premix kemudian ditangkap oleh gugusan sensor (enose) diamati dalam kurun waktu 1 menit. Data-data tegangan analog yang dihasilkan diubah menjadi data grafik di tampilkan di PC juga tersimpan dalam database yang dapat dibuka oleh Microsoft Access Database. Jeda waktu 4 menit untuk membersihkan tabung gas dan mengembalikan sensor sesuai kondisi gas dalam ruang laboratorium (ambien), dilanjutkan dengan sampel bensin, minyak tanah dan solar. Pengulangan dilakukan 3 kali. Cara yang sama dilakukan untuk variasi campuran 0,25 ml premix dan 0,25 ml bensin. Kemudian berturut turut dengan jumlah yang sama premix-minyak tanah, premix-solar, bensin-minyak tanah, bensin-solar dan minyak tanah-solar IV. HASIL PENELITIAN Sistem gugusan sensor gas yang dirancang tidak digunakan langsung untuk identifikasi tumpahan minyak atau limbah produk minyak. Gugusan gas sensor diujikan untuk mengenali senyawa turunan minyak bumi produksi Pertamina yaitu premix, bensin, minyak tanah, solar serta variasi
Premix
6 Perubahan tegangan 4 2 0 -2 0 100 Waktu 200 300 sensor1 sensor2 sensor3 sensor4 sensor5

campuran sampel tersebut Mula-mula premix sebanyak 0,5 ml dan diijeksikan kedalam tabung gugusan gas sensor dalam satu menit. Dilakukan pengulangan 3 kali dengan jeda waktu 4 menit untuk membersihkan tabung gas dan mengembalikan sensor gas pada keadaan ambien. Hasil identifikasi divisualkan dalam bentuk grafik gambar 1-10, yang menunjukkan adanya perubahan tegangan pada sensor gas saat sensor mendeteksi gas atau uap premix yang diumpankan padanya. Sedangkan puncak perubahan tegangan ditunjukkan dengan plot radar yang menghasilkan pola tertentu. Semakin luas daerah dibawah diagram plot radarnya, maka dapat dikatakan kerja sensor semakin sensitif, gambar 11-20. Plot radar menunjukkan bahwa luas daerah diagram untuk premix dan bensin lebih luas dibanding minyak tanah dan solar, dapat disimpulkan bahwa gugusan sensor gas dapat mendeteksi adanya turunan minyak bumi yaitu premix, bensin, minyak tanah dan solar serta variasi campuran premix-bensin, premixminyak tanah, premix-solar, bensin-minyak tanah, bensinsolar dan minyak tanah-solar.

Gambar 1. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,5 ml Premix


Bensin
6 Perubahan tegangan 4 2 0 -2 0 100 Waktu 200 300 sensor1 sensor2 sensor3 sensor4 sensor5

Gambar 2. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,5 ml Bensin


Minyak tanah
4 Perubahan tegangan sensor1 2 0 -2 0 100 Waktu 200 300 sensor2 sensor3 sensor4 sensor5

Gambar 3. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,5 ml Minyak tanah


Solar
3 2 1 0 -1 0 -2 Perubahan tegangan sensor1 sensor2 sensor3 100 Waktu 200 300 sensor4 sensor5

Gambar 4. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,5 ml Solar

3
premix-bensin
6 perubahan tegangan 4 2 0 -2 0 100 waktu 200 300 sensor1 sensor2 sensor3 sensor4 sensor5

Prem ix

sensor1 6 4 2 sensor5 sensor2 0 -2 sensor4 sensor3

Gambar 5. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Premix-0,25 ml Bensin


Premix - minyak tanah
6 p e ru b a h an te g an g an 4 2 0 -2 0 50 100 waktu 150 200 250 sensor1 sensor2 sensor3 sensor4 sensor5

Gambar 11. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,5 ml Premix


Bensin

Gambar 6. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Premix-0,25 ml Minyak tanah


Premix - solar
6 p eru b ah an teg an g an 4 2 0 -2 0 50 100 waktu 150 200 250 sensor1 sensor2 sensor3 sensor4 sensor5

sensor1 6 4 2 sensor5 sensor2 0 -2 sensor4 sensor3

Gambar 12. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,5 ml Bensin


minyak tanah sensor1 6 4 sensor5 2 sensor2 0 -2 sensor4 sensor3

Gambar 7. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Premix-0,25 ml Solar


Bensin - minyak tanah
6 perubahan teg ang an 4 2 0 -2 0 50 100 waktu 150 200 250 sensor1 sensor2 sensor3 sensor4 sensor5

Gambar 8. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Bensin-0,25 ml Minyak tanah


Bensin - solar
6 perubahan tegangan 4 2 0 -2 0 50 100 waktu 150 200 250 sensor1 sensor2 sensor3 sensor4 sensor5

Gambar 13. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,5 ml Minyak tanah
solar
sensor1 6 4 2 sensor5 0 sensor2 -2 sensor4 sensor3

Gambar 9. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Bensin-0,25 ml Solar


Minyak tanah-solar
4 perubahan tegangan 2 0 -2 0 50 100 waktu 150 200 250 sensor1 sensor2 sensor3 sensor4 sensor5

Gambar 14. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,5 ml Solar

Gambar 10. Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Minyak tanah-0,25 ml Solar

4
Prem ix-Bensin
Bens in-Solar

sensor5

sensor1 6 4 2 0 -2

sensor2

sensor1 6 4 2 sensor5 sensor2 0 -2 sensor4 sensor3

sensor4

sensor3

Gambar 15. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Premix-0,25 ml Bensin
Prem ix-Minyak tanah

Gambar 19. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Bensin-0,25 ml Solar
Minyak tanah - solar
sensor1 6 4 2 0 -2

sensor5

sensor2

sensor1 6 4 2 sensor5 sensor2 0 -2 sensor4 sensor3

sensor4

sensor3

Gambar 20. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Minyak tanah -0,25 ml Solar V. KESIMPULAN Aplikasi sistem gugusan sensor gas yang dirancang, dapat digunakan untuk mendeteksi bensin, minyak tanah, solar dan premix. Manfaat yang sederhana, cepat, dan analisis biaya murah serta efektif membuat cara ini dapat diaplikasikan dalam identifikasi produk olahan dan tumpahan minyak bumi Perlu dilakukan penelitian lanjutan yang terkait dengan aplikasi sistem terhadap kenyataan dilapangan yang terkait adanya tumpahan dan limbah minyak minyak bumi. VI. DAFTAR PUSTAKA [1]. Shin-Hwa Tzing, Jia-Yaw Chang, Anil Ghule, Jia-Jiu Chang, Bertrand Lo and Yong-Chien Ling, A Simple and Rapid Method for Identifying the Source of Spilled Oil Using an Electronic Nose: Conrmation by Gas Chromatography with Mass Spectrometry. Rapid Commun. Mass Spectrom, vol. 17, hal. 18731880,2003. [2]. Micone P.G., Guy C., Odour quantication by a sensor array: An application to landll gas odours from two different municipal waste treatment works. Sensors and Actuators B 120 (2007) 628637, 2007 [3]. Mishra V.N., Agarwal R.P., Sensitivity, response and recovery time of SnO2 based thick-film sensor array for H2, CO, CH4 and LPG, Microelectronics Journal, Vol. 29, hal. 861-874, 1998. [4]. Zhe Zhang, Jin Tong, Dong-hui Chen, Yu-bin Lan, Electronic Nose with an Air Sensor Matrix for Detecting Beef Freshness, Journal of Bionic Engineering, Vol. 5 , hal. 6773, 2008.

Gambar 16. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Premix-0,25 ml Minyak tanah
Prem ix-Solar

sensor1 6 4 2 sensor5 sensor2 0 -2 sensor4 sensor3

Gambar 17. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Premix-0,25 ml Solar
Bensin-Minyak tanah

sensor1 6 4 2 sensor5 sensor2 0 -2 sensor4 sensor3

Gambar 18. Puncak Perubahan tegangan terhadap waktu, 0,25 ml Bensin-0,25 ml Minyak tanah