Sie sind auf Seite 1von 16

IDENTIFIKASI SPESIES MIKROALGA DARI BERBAGAI CARA HIDUPNYA

Oleh Nama NIM Kelompol Rombongan Asisten : Faizal Angga F. : B1J007152 :1 :I : Andrian Putra Bahari

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Alga merupakan organisme yang dianggap sebagai nenek moyang tumbuhan saat ini. Alga memiliki beberapa karakteristik yang juga dimiliki oleh tumbuhan saat ini seperti pigmen klorofil. Alga secara morfologi dapat terbagi menjadi dua golongan yaitu mikroalga (alga dengan ukuran mikroskopis) dan makroalga (alga yang berukuran makro). Namun, secara spesifik bentuk tubuh beserta ukurannya tidak akan sama persis dengan tumbuhan dan ukuran tubuhnya sekalipun dalam bentuk makro tidak mudah dilihat dengan mata telanjang. Mikroalga merupakan tumbuhan thalus yang berklorofi dan mempunyai pigmen tumbuhan yang dapat menyerap cahaya matahari melalui proses fotosintesis. Hidup di air tawar, payau, laut dan hidup secara terestrial, epifit, dan epizoic. Mikroalga merupakan mikroba tumbuhan air yang berperan penting dalam lingkungan sebagai produser primer, disamping bakteri dan fungi yang ada disekitar kita. Sebagian mikroalga bersifat fotosintetik, mempunyai korofil untuk menangkap energy matahari dan karbon dioksida menjadi karbon organic yang berguna sebagai sumber energy bagi kehidupan consumer seperti kopepoda, larva moluska, udang dan lain-lain. Selain perannya sebagai produsen primer, hasil sampinga fotosintesa mikroalga yaitu oksigen juga berperan bagi respirasi biota disekitarnya. Pengetahuan tentang fikologi telah berkembang pesat setelah beragam jenis alga dengan karakteristiknya masing-masing berhasil diidentifikasi. Mikroalga umumnya bersel satu atau berbentuk benang, sebagai tumbuhan dan dikenal sebagai fitoplankton. Fitoplankton memiliki zat hijau daun (klorofil) yang berperan dalam fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air. Sebagai dasar mata rantai pada siklus makanan di laut, fitoplankton menjadi makanan alami bagi zooplankton baik masih kecil maupun yang dewasa. Selain itu juga dapat digunakan sebagai indikator kesuburan suatu perairan. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebihan. Contoh kelas Dinoflgellata tubuhnya memiliki kromatopora yang menghasilkan toksin (racun), dalam keadaan blooming dapat mematikan ikan. Dewasa ini fitoplankton telah

banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia antara lain bidang : bidang perikanan, industri farmasi dan makanan suplemen, pengolahan limbah logam berat, sumber energi alternatif biodiesel. Keberadaan mikroalga atau kelimpahan mikroalga di lingkungan sangat bervariasi terutama di areal yang lembap. Kelimpahan mikroalga di alam yang begitu luas belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh manusia. Hal ini dikarenakan kurangnya identifikasi dari mikroalga.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman mikroalga ditinjau dari berbagai cara hidupnya di alam. C. Tinjauan Pustaka Sampai saat ini kurang lebih 20.000 jenis mikroalga telah teridentifikasi dan hanya sedikit yang telah dapat diisolasi dan dikultur. Beberapa mikroalga tidak dikultur karena belum ada yang mencoba untuk mendapatkannya. Beberapa juga belum dapat dikultur karena perkembangan metode isolasi dan kultur mikroalga belum begitu baik. Berbagai jenis mikroalga merupakan organisme fotosintetik, kebanyakan uniseluler, dan struktur reproduksinya kurang berkembang baik (Labeda, 1990). Mikroalga adalah mikroorganisme fotosintetik dengan morfologi sel yang bervariasi, baik uni-selular maupun multiselular (membentuk koloni kecil). Sebagian besar mikroalga tumbuh secara fototrofik, meskipun tidak sedikit jenis yang mampu tumbuh secara heterotrofik. Ganggang hijau-biru prokariotik (cyanobacteria) juga

termasuk dalam kelompok mikroalga. Dalam Bergey's Manual of Systematic Bacteria, kelompok mikroorganisme ini ditempatkan bersama-sama dengan klas

Oxyphotobacteria, dalam divisi Gracilicutes (Kurniawan dan Gunarto, 1999). Mikroalga terkadang hidup dengan bersimbiosis dengan organisme lain seperti fungi. Simbiosis antar keduanya dapat membentuk lichen. Mikroalga mendapatkan perlindungan sedangkan jamur mendapatkan nutrisi dari mikroalga. Identifikasi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencari dan mengenal ciri-ciri yang beraneka ragam dari individu-individu. Kemudian mencari perbedaan-perbedaan yang mantap

sifatnya diantara individu-individu yang nampaknya sama. Sel mikroalgae dapat dibagi menjadi 10 divisi dan 8 divisi algae merupakan bentuk unicellulair. Dari 8 divisi algae, 6 divisi telah digunakan untuk keperluan budidaya perikanan sebagai pakan alami. Setiap divisi mempunyai karakteristik yang ikut memberikan andil pada kelompoknya, tetapi spesies-spesiesnya cukup memberikan perbedaan-perbedaan dari lainnya. Ada 4 karakteristik yang digunakan untuk membedakan divisi mikro algae yaitu tipe jaringan sel, ada tidaknya flagella, tipe komponen fotosintesa, dan jenis pigmen sel. Selain itu morfologi sel dan bagaimana sifat sel yang menempel berbentuk koloni / filamen adalah merupakan informasi penting didalam membedakan masing-masing group.

II.

MATERI DAN METODE

A. Materi Praktikum Alat yang digunakan pada praktikum kali ini meliputi pipet tetes, beaker glass, mikroskop cahaya, object glass, cover glass, botol kecil/Konica, planktonet, ember. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel mikroalga dari air kolam, akuades steril dan formalin. B. Metode Praktikum 1. Cara kerja Identifikasi Spesies Mikroalga dari Berbagai Cara Hidupnya Sampel mikroalga dari air diambil dengan planktonet dan dimasukan botol. Dengan menggunakan pipet tetes sampel mikroalga diambil satu tetes dan diteteskan diatas objek glass, tututp dengan cover glass diamati dibawah mikroskop. Identifikasikan dan klasifikasikan jenis mikroalga yang diperoleh menggunakan buku identifikasi diantaranya Bold and Wynne (1985) ; Lee, R.E (1989) ; Sachlan (1982) dan lain-lain. 2. Diagram Alir Cara Kerja

Sampel mikro alga

Ambil satu tetes menggunakan pipet tetes

Teteskan diatas object glass dan tutup dengan cover glass

Amati dibawah mikroskop

Identifikasi

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Foto Hasil Praktikum

Hasil

Haematococcus sp.

Euastrum insulare

Derepyxis sp.

Melosira varians

Phacus sp.

B. Pembahasan

Berdasakan hasil praktikum identifikasi mikroalga dapat diketahui mikroalga yang didapatkan antana lain : Phacus sp., Euastrum insulare, Derepyxis sp., Melosira varians, dan Haematococcus sp.. Mikroalga tersebut memiliki klasifikasi/deskripsi masing-masing antara lain : Klasifikasi Melosira varians menurut Panggabean (2007) : Divis Kelas : Bacillariophyta : Bacillariophyceae

Bangsa : Centrales Suku : Melosiraceae

Marga : Melosira Jenis : Melosira varians

Menurut Taw (1990), struktur umumnya dapat dijelaskan secara sederhana : 1. Bentuk sel bilateral dan sentrik. 2. Habitat di air tawar, air laut, dan tanah yang basah. 3. Dinding sel terdiri dari pektin dengan suatu panser yang terdiri atas kersik di sebelah luarnya. 4. Panser kersik tidak menutup seluruh sel, terdiri atas dua bagian yang merupakan wadah dan penutup. 5. Permukaan kedua panser mempunyai liang-liang halus sebagai jalan untuk keluar lendir. 6. Mempunyai inti dan kromatofora yang berwarna kuning-coklat yang

mengandung klorofil-a, karotin, santofil, dan karotinoid lain yang menyerupai fikosantin. ada beberapa yang tidak mempunyai warna. 7. Di dalam sel terdapat pirenoid yang tidak dikelilingi oleh tepung. 8. Hasil asimilasi ditimbun di luar kromatofora, berupa tetes minyak dalam plasma dan vakuola, kadang juga ada leukosin. Perkembangbiakan dengan cara : 1. Membelah : mula-mula protoplas membesar, tutup dan wadahnya lepas pada ikat pinggangnya. Masing-masing bagian pada dua sel-sel anakan itu lalu membuat

wadahnya, sehingga dari tiap pembelahan terjadi dua individu, yang satu sama dengan sel induk, yang kedua lebih kecil. 2. Pembentukan auksospora : sebelum suatu sel mencapai minimum, panser dilepaskan, protoplas tumbuh menjadi sebesar sel normal, baru kemudian membuat panser lagi. 3. Seksual melalui oogami : sel-sel dengan reduksi membuat gamet yang haploid (sel telur dan spermatozoid). Melosira varians mempunyai bentuk sel yang simetri radial atau konsentrik dengan satu titik pusat. Selnya bisa berbentuk bulat, lonjong, silindris, dengan penampang bulat, segitiga atau segiempat. Habitat di air laut, yang merupakan penyusun plankton. Panser bulat dengan tonjolan yang radial atau konsentris. Terdapat alat melayang yang berupa duri, sayap atau dengan perantara lender (Insan, 2009). Klasifikasi Phacus sp. (Panggabean, 2007) : Divisi Kelas : Euglenophycota : Euglenophyceae

Bangsa : Euglenales Suku : Euglenaceae

Marga : Phacus Jenis : Phacus sp.

Menurut Brotowidjoyo (1995), Phacus mirip juga dengan Euglena, tetapi selnya lebih kaku karena memiliki keel, kloroplast discoid, tanpa pirenoid, paramylum bodi besar berbentuk seperti donat dan terletak di tengah sel. Partamylum bodi Lepocinclis berbentuk cincin tetapi di kedua sisi anterior. Tubuhnya yang memanjang dengan suatu evaginasi (reservoir) di bagian ujung anterior. Vakuola kontraktil berupa suatu kantung, dan dua flagella muncul dari dinding tersebut. Sebuah pigmen berupa suatu bintik atau berupa stigma dan bertempat di area dasar flagella yang panjang yang berfungsi untuk fotoreseptif. Pada Peranema yang tidak berwarna, kedua flagella panjang yang muncul dari suatu alur berupa jalan kecil ke arah belakang. Tubuh tertutup oleh pelikel dan bersifat fleksibel dan punggung yang longitudinal akan tampak dengan mikroskop elektron. Menurut Panggabean (2007), klasifikasi Euastrum insulare :

Kingdom: Plantae Phylum : Streptophyta Class Order : Zygnematophyceae : Zygnematales

Family : Desmidiaceae Genus : Euastrum

Species : Euastrum insulare Euastrum insulare kelas Zygnematophyceae merupakan alga berwarna hijau yang mengandung klorofil a dan b dengan satu inti. Dinding sel kelas ini terdiri dari selulosa. Uniseluler atau koloni berbentuk benang yang tidak melekat pada substrat dan sebagian besar dari kelas ini hidup di air tawar. Tidak membentuk oospore maupun gamet flagel. Reproduksi dari kelas Zygnematophyceae dengan cara kopulasi dua sel, gamet tidak berflagel bersatu menjadi zigot lalu berkecambah (Baugis, 1979). Klasifikasi Haematococcus sp. menurut Panggabean (2007) : Divisi Kelas : Chlorophyta : Chlorophyceae

Bangsa : Volvocales Suku : Haematococcaceae

Marga : Haematococcus Jenis : Haematococcus sp.

Ciri-ciri umum Haematococcus sp: 1. Sel-sel flagelata dan berkoloni dinding glikoprotein 2. Umumnya koloni, diselaputi oleh gelatin, dinding sel mengandung selulosa 3. 4. 5. jumlah flagel 2 bentuk koloni bulat, speris atau elipsoid sel dalam koloni ada yang seragam ada yang berbeda

6. Memiliki banyak anggota (Brotowidjoyo, 1995). Menurut Setiawan (2004), alga bangsa Volvocales dindingnya tidak mengandung selulosa, melainkan tersusun oleh glikoprotein. Banyak jenis Chlorophyceae mempunyai tipe ornamentasi dinding yang berguna dalam klasifikasi. Dinding sel selain disusun oleh selulosa sebagai penyusun utama, sel-sel tersebut juga biasanya mengandung

vakuola pusat yang besar yang diliputi oleh selapis sitoplasma. Di dalam sitoplasma terdapat butir kloroplas atau lebih. Kloroplas ini kerap berisi massa protein cadangan, yang disebut pirenoid, yang juga meupakan pusat pembentukan pati. Pirenoid umumnya diliputi oleh butiran-butiran pati. Klasifikasi Derepyxis sp. menurut Panggabean (2007) : Divisi Kelas : Haptophyta : Prymnesiophyceae

Bangsa : Isochrysidales Suku : Derepyxidaceae

Marga : Derepyxis Jenis : Derepyxis sp.

Derepyxis sp. dari kelas Prymnesiophyceae merupakan kelompok fitoplankton yang sifatnya uniseluler, warna umumnya coklat keemasan karena ada pigmen acarotene, fucoxanthin, diadinoxanthin, dan diatoxanthin. Dalam selnya. Ukuran selnya sangat kecil, sekitar 2-20 mikrom, atau tergolong nanoplankton. Oleh karena itu, ia tidak dapat ditangkap dengan jaring plankton, tetapi dapat diperoleh dengan menggunakan saringan membran seperti saringan Milipore atau Nuclepore, atau dengan cara pengendapan (Lee, 1980). Pengetahuan tentang fikologi telah berkembang pesat setelah beragam jenis alga dengan karakteristiknya masing-masing berhasil dikultur. Berbagai institusi di dunia telah menyimpan koleksi kultur mikroalga yang potensial dapat dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi (Brotowidjoyo, 1995). Mikroalgae juga berperan sebagai indikator pencemaran perairan dan agen bioremidiasi (Prihatini et al., 2007). Banyak penelitian saat ini menggunakan indikasi sintesis biotransformasi yang menggunakan berbagai jenis alga. Sintesis nanopartikel membuat pemanfaatan deposit di permukaan padat, untuk menyerap partikel yang mudah. Suatu manfaat penting dari sintesis metode nanaopartikel yang diuraikan Singaravelu et al., (2007), menguraikan penggunaan alga laut, bahwa alga ini sangat stabil dan ini akan menjadi solusi yang sangat penting untuk metode biologi jaman sekarang. Penelitian ini akan mendorong kearah pengembangan dari proses sintesis alga keemasan dengan menggunakan bioproses nanopartikel.

Alga merupakan kelompok organisme yang bervariasi baik bentuk, ukuran, maupun komposisi senyawa kimianya. Alga ini ada berbentuk uniseluler

(contoh Chlorococcus sp), koloni (Volvox sp), benang (filamen) (contoh Spyrogyra sp) serta bercabang atau pipih (contoh Ulva sp, Sargasum sp., dan Euchema sp) (Cotteau, 1996). 1. Klasifikasi Alga Alga yang hidup melayang-layang di permukaan air disebut neuston, sedangkan yang hidup di dasar perairan disebut bersifat bentik. Alga yang bersifat bentik digolongkan menjadi : Epilitik (hidup di atas batu) Epipalik (melekat pada lumpur atau pasir) Epipitik (melekat pada tanaman) Epizoik (melekat pada hewan) Berdasarkan habitatnya diperairan, alga dibedakan atas : a) Alga subaerial, yaitu alga yang hidup di daerah permukaan

b) Alga intertidal, yaitu alga yang secara periodik muncul dipermukaan karena naik turunnya air akibat pasang surut. c) Alga sublitoral, yaitu alga yang hidup di bawah permukaan air.

d) Alga edafik, yaitu alga yang hidup di dalam tanah. 2. Reproduksi Alga a. Reproduksi Aseksual Reproduksi aseksual terjadi melalui pembelahan sel menghasilkan dua sel anak yang masing-masing akan menjadi individu baru. Reproduksi dengan cara pembelahan sel umumnya terjadi pada alga bersel tunggal. Alga berbentuk koloni tanpa filament atau yang berbentuk filament umunya bereproduksi melalui fragmentasi. Fragmentasi adalah terpecah-pecahnya koloni menjadi beberapa bagian. Selain melalui pembelahan sel dan fragmentasi, alga juga dapat bereproduksi melalui pembentukan zoospora. Zoospore merupakan sel tunggal yang diselubungi oleh selaput yang dapat bergerak atau berenang bebas dengan

menggunakan satu atau lebih flagella. Setiap zoospore merupakan calon individu baru. b. Reproduksi Seksual Reproduksi seksual melibatkan peleburan dua gamet untuk membentuk zigot dan tumbuh menjadi individu baru. Terdapat dua tipe reeproduksi seksual, yaitu isogami dan oogami. Pada tipe isogami, gamet jantan dan gamet betina berukuran sama besar dan umumnya dapat bergerak. Apabila zigot gamet betina dan jantan mengalami dormansi, maka disebut zigospora. Pada tipe oogami, ukuran gamet jantan berbeda dengan betina. Gamet betina memiliki ukuran yang lebih besar dan tidak bergerak dan sebaliknya gamet jantan berukuran kecil dan bergerak. Jika zigot yang terbentuk tidak berkecambah tetapi mengalami dormansi maka disebut oospora (Sastrawijaya, 1991). Pigmen lain yang terdapat di dalam sel-sel alga adalah: Fikosianin = warna biru; Xantofil = warna kuning; Karoten = warna keemasan; Fikosantin = warna pirang; Fikoeritrin = warna merah. Salah satu biota alga yaitu fitoplankton merupakan organisme yang mempunyai peranan besar dalam ekosistem perairan dan menjadi produsen primer. Keberadaan fitoplankton dapat dijadikan sebagai bioindikator adanya perubahan lingkungan perairan yang disebabkan ketidakseimbangan suatu ekosistem akibat pencemaran. Analisis struktur, kemelimpahan dan model distribusi kemelimpahan fitoplankton juga dapat memberikan gambaran kondisi perairan sungai (Singaravelu, 2007).. Berdasarkan cara hidupnya mikroalga dapat diklasifikasikan menjadi (Insan, 2009): 1. Fitoplankton Hidup bebas mengambang/ melayang di air. Cara bergerak terbawa bebas mengikuti arus air (pasif). Ada yang aktif disebut neuston. 2. Fitobentos

Hidup melekat pada substrat/ sesuatu di dasar perairan. Berdasarkan ukuran dibedakan menjadi makroalga bentos dan mikroalga bentos. Tergantung tipe substrat, rerumputan/ tumbuhan air dan arus air. Tipe substrat: stabil misalnya batu dan tidak stabil misalnya pasir. 3. Alga simbiotik Hidup bersama dan saling berasosiasi dengan organisme lain. Keuntungan adanya simbion adalah inang mendapat makanan sedangkan alga mendapat perlindungan/ lingkungan tetap dan zat-zat makanan. Kerugiannya daerah penyerapan hara/ sinar untuk inang berkurang/ sempit. a. Lichen Alga (phycobion) Chlorophyta : Trebouxia, Pseudotrebouxia Cyanobacteria : Nostoc, Chroococcus b. Binatang di atas rambut-rambut mati, cangkang siput, dan di dalam kerangka serangga/ laba-laba. Contoh: zoochlorella pada cangkang siput, Cladophora pada sel kura-kura laut. 4. Aerial algae 1. Tumbuh di permukaan tanah yang lembab dan cukup sinar matahari untuk fotosintesis. Contoh: alga hijau di tanah asam, Cyanobacteria di tanah netral. 2. Permukaan batu, di antara batu dan banyak (endolitic), bentuk coccoid. Contoh: Cyanobacteria 3. Kulit pohon dan daun. Contoh uniseluler : Aponococcus, Protococcus, Filamen: Trentepohlia 4. Salju. Permukaan salju terlihat berwarna merah atau hijau. Contoh: Chlamydomonas nivalis Sel ada yang tunggal/ soliter, koloni, palmeloid/ agregasi, amoeboid dan filamen. Sel-sel alga ada yang berflagel dan ada yang tidak berflagel. Macam-macam bentuk sel pada alga dan beberapa contoh spesiesnya sebagai berikut: 1. uniselular a. berflagel

Jumlah dan susunan flagel bermacam-macam. Tipe ini sebagai alga eukaryotik primitif. Contoh: Trachelomonas, Chlamydomonas, Ochromonas, Euglena b. non flagel Sel tunggal dan tidak mempunyai flagen. Contoh : Chlorella, Cyclotella 2. koloni a. berflagel Koloni berubah jumlah dan susunan selnya. Contoh : Volvox, Stephanosphaera b. non flagel Sel terkumpul dalam koloni reguler dan dikelilingi lendir/ mucilaginous. Contoh: Pandorina 3. agregasi palmeloid Spesies berflagel, tetapi pada tingkat palmeloid, sel mengeluarkan lendir dan tidak berflagel. Contoh : Kurchneriella, Gloeocystis. 4. amoeboid atau sel-sel rhizopodial Sel tunggal atau berkoloni, amoeboid, dinding tipis kadang tertutup struktur lain, seperti bentuk mangkok atau lorikel. Contoh : Chrysamoeba 5. filamen a. tidak bercabang. Contoh : Erytrotrichia b. bercabang. Contoh : Tolypotrix, Callithamnion. Cabang palsu pada Scytonema

IV.

KESIMPULAN

Setelah pelaksanaan praktikum identifikasi mikroalga dapat disimpulkan bahwa identifikasi mikroalga dari alam dapat diketahui mikroalga yang didapatkan antara lain : Phacus sp., Euastrum insulare, Derepyxis sp., Melosira varians, dan Haematococcus sp..

DAFTAR REFERENSI
Baugis, P. 1979. Marine Planton Ecology. American Elsevier Publishing Company, New York. Brotowidjoyo, M. D., D. Triwibowono dan E. Mulbyantoro. 1995. Pengantar Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Liberty, Yogyakarta.

Cotteau, P. 1996. Microalgae. In: Manual on Production and Use of Live Food for Aquaculture. FAO Fisheries Insan, A. Illalqisny. 2009. Modul Praktikum Fikologi. Fakultas biologi Unsoed, Purwokerto Lee, R. E. 1980. Phycology. Cambridge University Press. Cambridge. Panggabean. 2007. Potensi Pemanfaatan Alga Laut Sebagai Penunjang Perkembangan Sektor Industri. Makalah Ilmiah Ketua Jurusan Kimia. Universitas Lampung. Bandar Lampung. Prihatini, N. B., W. Rachmayanti, W. Wardhana. 2007. Pengaruh Variasi Fotoperiodisitas Terhadap Pertumbuhan Chlorella Dalam Medium Basal Blod. Biota Vol 12 (1): 32-39. Sastrawijaya, A. T. 1991. Pencemaran Lingkungan. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Setiawan, Andi. 2004. Potensi Pemanfaatan Alga Laut Sebagai Penunjang Perkembangan Sektor Industri. Makalah Ilmiah Ketua Jurusan Kimia. Universitas Lampung. Bandar Lampung. Singaravelu G., J.S. Arockiamary, V. Ganesh Kumar, K. Govindaraju. 2007. A novel extracellular synthesis of monodisperse gold nanoparticles using marine alga, Sargassum wightii Greville. Colloids and Surfaces B: Biointerfaces 57 (2007) 97101. Sutomo. 2005. Kultur Tiga Jenis Mikroalga (Tetraselmis sp., Chlorella sp., dan Chaetoceros gracilis) dan Pengaruh Kepadatan Awal Terhadap Pertumbuhan C. Gracilis di Laboratoriun. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. No. 37: 43-58 Taw, Nyan. 1990. Petunjuk Pemeliharaan Kultur Murni dan Massal Mikroalga. Proyek Pengembangan Udang, United nations development Programme, Food and Agriculture Organizations of the United Nations.