You are on page 1of 8

(6)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY GEOTEKNIK

Januari 2009

D E P A R T E M E N

P E K E R J A A N

U M U M

D I R E K T O R A T

J E N D E R A L
B I N A

B I N A

M A R G A

D I R E K T O R A T

T E K N I K

Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110

6. POS: Survai Geoteknik

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR SURVEY GEOTEKNIK

A. Maksud Prosedur ini dimaksudkan sebagai pedoman untuk melakukan penyelidikan tanah disekitar lokasi rencana jembatan, sehingga diperoleh data tanah yang cukup akurat.

B. Ruang Lingkup Prosedur ini dilakukan untuk mengadakan peninjauan kembali terhadap semua data tanah dan material yang ada, selanjutnya mengadakan penyelidikan tanah dan material di sepanjang pelaksanaan jembatan tersebut yang akan dilakukan berdasarkan survey langsung di lapangan maupun dengan pemeriksaan di laboratorium.

C. Acuan Dokumen Kontrak

D. Pihak yang Terkait/Terlibat 1. Pemberi tugas (owner) 2. Penyedia Jasa a). Team leader b). Geoteknik Engineer c). Surveyor E. Prosedur 1. Surat Ijin Survey a). Pengajuan lokasi, jenis survey, jumlah dan waktu pelaksanaan survey oleh engineer kepada Team Leader dimaksudkan untuk mendapatkan masukan dan persetujuan.

6 - 1/7

6. POS: Survai Geoteknik

b). Hasil persetujuan dari Team Leader, selanjutnya mengajukan ijin pelaksanaan survey ke pemberi tugas berikut tanggal, jenis, jumlah dan lokasi pelaksanaan survey. c). Setelah persetujuan survey oleh pemberi tugas, selanjutnya pemberi tugas membuat surat pemberitahuan kepada instansi yang terkait dengan pelaksanaan survey yang akan dibawa oleh pelaksana survey. 2. Survey Penyelidikan Tanah Penyelidikan geoteknik disini merupakan bagian dari penyelidikan tanah yang mencakup seluruh penyelidikan lokasi kegiatan berdasarkan

klasifikasi jenis tanah yang didapat dari hasil tes dengan mengadakan peninjauan kembali terhadap semua data tanah dan material guna menentukan jenis/ tipe pondasi yang tepat dan sesuai tahapan

kegiatannya, sebagai berikut: a). Mengadakan penyelidikan tanah dan material di lokasi pelaksanaan jembatan yang akan dibangun dengan menetapkan lokasi titik-titik bor yang diperlukan langsung di lapangan. b). Melakukan penyelidikan kondisi permukaan air (sub-surface)

sehubungan dengan pondasi jembatan yang akan dibangun. c). Menyelidiki lokasi sumber material yang ada di sekitar lokasi pelaksanaan, kemudian dituangkan dalam bentuk penggambaran peta termasuk sarana lain yang ada seperti jalan pendekat/oprit, bangunan pelengkap/ pengaman dan lain sebagainya. d). Pekerjaan pengambilan contoh dengan pengeboran (umumnya

terhadap undisturbed sampling) dimaksudkan untuk tujuan penyelidikan lebih lanjut di laboratorium untuk mendapatkan informasi yang lebih teliti tentang parameter-parameter tanah dari pengetesan Index Properties (Besaran Indeks) dan Engineering Properties (Besaran Struktural Indeks). e). Penyelidikan tanah untuk desain jembatan yang umum dilaksanakan di lingkungan Bina Marga dengan bentang > 60 m (relatif dari 25 m s/d 60 m tergantung kondisi) digunakan bor-mesin (alat bor yang digerakkan

6 - 2/7

6. POS: Survai Geoteknik

dengan mesin) di mana kapasitas kedalaman bor dapat mencapai 40 m disertai alat split spoon sampler untuk Standar Penetration Test ( SPT ) menurut AASHTO T 206 74. Sedangkan untuk bentang < 60m

(relatif dari 25 m s/d 60 m tergantung kondisi) digunakan peralatan utama lapangan yang terdiri atas: Alat sondir dengan bor tangan (digerakkan dengan tangan). Pengeboran harus dilakukan sampai kedalaman yang ditentukan (bila tidak ditentukan lain) untuk mendapatkan letak lapisan tanah dan jenis batuan beserta ukurannya dan harus mencapai tanah keras/batu dan menembus sedalam kurang lebih 3.00 m. Boring dan sampling harus dikerjakan dengan memakai Manual Operated Auger dengan kapasitas hingga kedalaman 10 m. Alat tes sondir type Gouda atau sejenisnya, antara lain Dutch Cone Penetrometer yang memakai sistem metrik dan harus dilengkapi dengan Friction Jacket Cone, kapasitas tegangan konus minimum 250 kg/cm2 dan kedalamannya dapat mencapai 25 m. f). Pada setiap jembatan, penyelidikan tanah yang dibutuhkan pada masing-masing lokasi rencana pondasi harus sudah menetapkan penggunaan jenis bor dan posisi lubang bor yang direncanakan serta jumlah titik bor minimal satu titik boring, yaitu satu titik bor mesin atau satu set bor tangan dan sondir, tergantung bentang rencana jembatannya. Hal ini tergantung pada kondisi area (alam dan lokasi), kepentingan stuktur dan tersedianya peralatan pengujian beserta teknisinya. g). SPT dilakukan pada interval kedalaman 1,50 m s/d 2,00 m untuk diambil contohnya (undisturbed dan disturbed). h). Mata bor harus mempunyai diameter yang cukup untuk mendapatkan undisturbed sample yang diinginkan dengan baik, dapat digunakan mata bor steel bit untuk tanah clay, silt dan mata bor jenis core barrel. i). Digunakan casing (segera) bilamana tanah yang dibor cenderung mudah runtuh.

6 - 3/7

6. POS: Survai Geoteknik

j). Untuk menentukan besaran index dan structural properties dari contohcontoh tanah, baik yang terganggu (disturbed) maupun yang asli (undisturbed) tersebut di atas dan contoh material (quarry), maka pengujian di laboratorium dikerjakan berdasarkan spesifikasi SNI, SK SNI, AASHTO, ASTM, BS dengan urutan terdepan sebagai prioritas pertamanya. k). Laporan penyelidikan tanah dan material harus pula berisi analisa dan hasil daya dukung tanah serta rekomendasi jenis pondasi yang sesuai dengan daya dukung tanah tersebut dan hasil bor log dituangkan dalam bentuk tabel/formulir bor log dan form drilling log yang dilengkapi dengan keterangan/data diantaranya tentang tipe bor yang digunakan, kedalaman lapisan tanah, tinggi muka air tanah, grafik log, uraian lithologi, jenis sample, nilai SPT, tekanan kekuatan (kg/cm2), liquid/ plastis limit, perhitungan pukulan dan lain sebagainya. 3. Pengolahan data dan pengujian laboratorium a). Hasil pelaksanaan survey berdasarkan data yang didapat, dilakukan pengujian laboratorium yang telah memenuhi persyaratan. b). Jenis pengujian tanah sampel ditunjukkan pada Tabel 6-2.

F. Pelaporan Laporan Akhir Geoteknik harus mencakup sekurang-kurangnya pembahasan mengenai hal-hal berikut: 1. Data pelaksanaan 2. Peta situasi pelaksanaan yang menunjukkan secara jelas lokasi

pelaksanaan terhadap kota besar terdekat 3. Kondisi morfologi sepanjang lokasi 4. Kondisi badan jalan yang ada di sepanjang trase jalan 5. Batuan penyusun (stratigrafi) sepanjang trase jalan. Untuk peta penyebaran batuan disiapkan dalam kertas HVS ukuran A3 dan diwarnai sesuai dengan standar pewarnaan geologi dan diberi notasi

6 - 4/7

6. POS: Survai Geoteknik

6. Hasil akhir pemeriksaan laboratorium dijadikan acuan untuk perbaikan hasil deskripsi secara visual 7. Penyebaran jenis tanah di sepanjang trase jalan. Untuk peta penyebaran tanah disiapkan dalam kertas kalkir ukuran A3 dan diwarnai sesuai dengan standar pewarnaan geologi dan diberi notasi 8. Analisis perhitungan konstruksi timbunan dan stabilitas lereng 9. Analisis longsoran di sepanjang trase jalan 10. Sumber bahan konstruksi jalan (jenis dan perkiraan volume cadangan) 11. Gejala struktur geologi yang ada (kekar, sesar/patahan dsb.) beserta lokasinya
12. Rekomendasi

Tabel 6-1. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat.

VI

Check List Kegiatan a a. Penetapan lokasi pelaksanaan pada peta b. Persetujuan ijin dan tanggal pelaksanaan survey c. Pembuatan surat ijin survey ke instansi terkait d. Persiapan kebutuhan peralatan, formulir dan personil e. Pelaksanaan survey sesuai lokasi yang ditentukan Pengisian data ke formulir yang sesuai Pengambilan sample Pengambilan foto survey f. Pengujian laboratorium sample tanah didiskusikan

disetujui
disetujui disetujui dilakukan dilakukan dilakukan dilakukan dilakukan dilakukan dilakukan x x x x x x

Pihak yang terlibat b c d x x x x x x

x x x

g. Pembuatan laporan pelaksanaan survey Catatan: Pihak yang terkait adalah: a. Koordinator Survey Lapangan b. Engineer (Highway, Topography, Geology, Hidrology, Environment) c. Team Leader d. Pemberi Tugas

6 - 5/7

6. POS: Survai Geoteknik

Tabel 6-2. Spesifikasi Pengujian Tanah di Laboratorium.

NO.

PENGUJIAN
SIFAT INDEKS

ACUAN

KETERANGAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kadar air Batas susut Batas plastis Batas cair Analisa saringan Berat Jenis Berat isi Chloride Content Carbonate Content Sulphate Content SIFAT KUAT GESER TANAH

ASTM D 2216-92 ASTM D 427-93 ASTM D 4318-93 SK-SNI M-07-1989-F SNI-03-3423-1994 ASTM D 854-92 SNI-1742-1989 K.H. Head, Vol.1, 1984 K.H. Head, Vol I, 1984 K.H. Head, Vol. 1, 1984 Gunakan ' Wet method ' - Fresh Condition - oven dried 100 oC

11

Direct Shear

SNI 03-2813-1992 ASTM D 3080-90

- Fresh sample dengan Penjenuhan - Fresh sample tanpa Penjenuhan - Fresh sample dioven 70 oC selama satu hari

SIFAT PEMAMPATAN TANAH 12 Swelling ASTM D 4546-90 Fresh Condition- Dioven 40 oC dan 70 oC

selama satu hari KEPADATAN 13 Pemadatan SIFAT KELULUSAN 14 Permeabilitas KH Head Vol. 2 1984 Manual of Soil Laboratory Testing. Gunakan metode Falling Head

6 - 6/7

6. POS: Survai Geoteknik

Bagan Alir (Flowchart)


Engineer Team Leader Pemberi Tugas Instansi terkait

Pengusulan Survey dan lokasi

memenuhi persyaratan

Pengajuan tanggal pelaksanaan survey

Pembuatan surat ijin ke instansi terkait

surat ijin ke instansi terkait

Pelaksanaan survey

Pengujian sampel di laboratorium

Pembuatan Laporan

Gambar 6-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey

6 - 7/7