Sie sind auf Seite 1von 9

Arsitektur Tradisional Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah

berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari zaman dahulu, sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada lontar Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan petunjukpetunjuk dimaksud[1]. Konsep Dasar Arsitektur tradisional Bali memiliki konsep-konsep dasar dalam menyusun dan memengaruhi tata ruangnya, diantaranya adalah: Orientasi Kosmologi atau dikenal dengan Sanga Mandala Keseimbangan Kosmologi, Manik Ring Cucupu Hierarki ruang, terdiri atas Tri Loka dan Tri Angga Dimensi tradisional Bali yang didasarkan pada proporsi dan skala manusia

[sunting] Orientasi Kosmologi / Sanga Mandala Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sanga Mandala Sanga Mandala merupakan acuan mutlak dalam arsitektur tradisional Bali, dimana Sanga Mandala tersusun dari tiga buah sumbu yaitu: 1. 2. 3. Sumbu Tri Loka: Bhur, Bhwah, Swah; (litosfer, hidrosfer, atmosfer) Sumbu ritual: Kangin (terbitnya Matahari) dan Kauh (terbenamnya Matahari) Sumbu natural: Gunung dan Laut

[sunting] Hirarki Ruang / Tri Angga Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tri Angga Tri Angga adalah salah satu bagian dari Tri Hita Karana, (Atma, Angga dan Khaya). Tri Angga merupakan sistem pembagian zona atau area dalam perencanaan arsitektur tradisional Bali. 1. 2. 3. Utama, bagian yang diposisikan pada kedudukan yang paling tinggi, kepala. Madya, bagian yang terletak di tengah, badan. Nista, bagian yang terletak di bagian bawah, kotor, rendah, kaki.

[sunting] Dimensi Tradisional Bali Artikel utama untuk bagian ini adalah: Dimensi Tradisional Bali Dalam perancangan sebuah bangunan tradisional Bali, segala bentuk ukuran dan skala didasarkan pada orgaan tubuh manusia. Beberapa nama dimensi ukuran tradisional Bali adalah : Astha, Tapak, Tapak Ngandang, Musti, Depa, Nyari, A Guli serta masih banyak lagi yang lainnya. sebuah desain bangunan tradidsional,harus memiliki aspek lingkungan ataupun memprhatikan kebudayan tersebut.

Arsitektur Tradisional Bali

Arsitektur Tradisional Bali Arsitektur tradisional Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari jaman dahulu, sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada rontal Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan petunjuk-petunjuk dimaksud. Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai konsep-konsep dasar yang mempengaruhi tata nilai ruangnya. Konsep dasar tersebut adalah: Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga Mandala Konsep keseimbangan kosmologi, Manik Ring Cucupu Konsep proporsi dan skala manusia Konsep court, Open air Konsep kejujuran bahan bangunan

Tri Angga adalah konsep dasar yang erat hubungannya dengan perencanaan arsitektur, yang merupakan asalusul Tri Hita Kirana. Konsep Tri Angga membagi segala sesuatu menjadi tiga komponen atau zone: Nista (bawah, kotor, kaki), Madya (tengah, netral, badan) dan Utama (atas, murni, kepala)

Ada tiga buah sumbu yang digunakan sebagai pedoman penataan bangunan di Bali, sumbu-sumbu itu antara lain: Sumbu kosmos Bhur, Bhuwah dan Swah (hidrosfir, litosfir dan atmosfir) Sumbu ritual kangin-kauh (terbit dan terbenamnya matahari) Sumbu natural Kaja-Kelod (gunung dan laut)

Dari sumbu-sumbu tersebut, masyarakat Bali mengenal konsep orientasi kosmologikal, Nawa Sanga atau Sanga Mandala. Transformasi fisik dari konsep ini pada perancangan arsitektur, merupakan acuan pada penataan ruang hunian tipikal di Bali

Bangunan Hunian

Hunian pada masyarakat Bali, ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci, digunakan sebagai tempat pemujaan, Pamerajan (sebagai pura keluarga). Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah, merupakan arah masuk ke hunian. Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan aling-aling, yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Pada bagian ini terdapat bangunan Jineng (lumbung padi) dan paon (dapur). Berturut-turut terdapat bangunan-bangunan bale tiang sangah, bale sikepat/semanggen dan Umah meten. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam) merupakan bangunan terbuka. Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga, atau anak gadis. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding, sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). Hunian tipikal pada masyarakat Bali ini, biasanya mempunyai pembatas yang berupa pagar yang mengelilingi bangunan/ruang-ruang tersebut diatas.

Kajian Ruang Luar dan Ruang Dalam Mengamati hunian tradisional Bali, sangat berbeda dengan hunian pada umumnya. Hunian tunggal tradisional Bali terdiri dari beberapa masa yang mengelilingi sebuah ruang terbuka. Gugusan masa tersebut dilingkup oleh sebuah tembok/dinding keliling. Dinding pagar inilah yang membatasi alam yang tak terhingga menjadi suatu ruang yang oleh Yoshinobu Ashihara disebut sebagai ruang luar. Jadi halaman di dalam hunian masyarakat Bali adalah sebuah ruang luar. Konsep pagar keliling dengan masa-masa di dalamnya memperlihatkan adanya kemiripan antara konsep Bali dengan dengan konsep ruang luar di Jepang. Konsep pagar keliling yang tidak terlalu tinggi ini juga sering digunakan dalam usaha untuk meminjam unsur alam ke dalam bangunan. Masa-masa seperti Uma meten, bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam, lumbung dan paon adalah masa bangunan yang karena beratap, mempunyai ruang dalam. Masa-masa tersebut mempunyai 3 unsur kuat pembentuk ruang yaitu elemen lantai, dinding dan atap (pada bale tiang sanga, bale sikepat maupun bale sekenam dinding hanya 2 sisi saja, sedang yang memiliki empat dinding penuh hanyalah uma meten). Keberadaan tatanan uma meten, bale tiang sanga, bale sikepat dan bale sekenam membentuk suatu ruang pengikat yang kuat sekali yang disebut natah. Ruang pengikat ini dengan sendirinya merupakan ruang luar. Sebagai ruang luar pengikat yang sangat kuat, daerah ini sesuai dengan sifat yang diembannya, sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi. Pada saat tertentu natah digunakan sebagai ruang tamu sementara, pada saat diadakan upacara adat, dan fungsi natah sebagai ruang luar berubah, karena pada saat itu daerah ini ditutup atap sementara/darurat. Sifat Natah berubah dari ruang luar menjadi ruang dalam karena hadirnya elemen ketiga (atap) ini. Elemen pembentuk ruang lainnya adalah lantai tentu, dan dinding yang dibentuk oleh ke-empat masa yang mengelilinginya. Secara harafiah elemen dinding yang ada adalah elemen dinding dari bale tiang sanga, bale sikepat dan bale sekenam yang terjauh jaraknya dari pusat natah. Apabila keadaan ini terjadi, maka adalah sangat menarik, karena keempat masa yang mengelilinginya ditambah dengan natah (yang menjadi ruang tamu) akan menjadi sebuah hunian besar dan lengkap seperti hunian yang dijumpai sekarang. Keempatnya ditambah natah akan menjadi suatu ruang dalam yang satu, dengan paon dan lumbung adalah fungsi service dan pamerajan tetap sebagai daerah yang ditinggikan. Daerah pamerajan juga merupakan suatu ruang luar yang kuat, karena hadirnya elemen dinding yang membatasinya.

Kajian Ruang Positif dan Ruang Negatif Sebagai satu-satunya jalan masuk menuju ke hunian, angkul-angkul berfungsi sebagai gerbang penerima. Kemudian orang akan dihadapkan pada dinding yang menghalangi pandangan dan dibelokan ke arah sembilanpuluh derajat. Keberadaan dinding ini (aling-aling), dilihat dari posisinya merupakan sebuah penghalang visual,

dimana ke-privaci-an terjaga. Hadirnya aling-aling ini, menutup bukaan yang disebabkan oleh adanya pintu masuk. Sehingga dilihat dari dalam hunian, tidak ada perembesan dan penembusan ruang. Keberadaan alingaling ini memperkuat sifat ruang positip yang ditimbulkan oleh adanya dinding keliling yang disebut oleh orang Bali sebagai penyengker. Ruang di dalam penyengker, adalah ruang dimana penghuni beraktifitas. Adanya aktifitas dan kegiatan manusia dalam suatu ruang disebut sebagai ruang positip. Penyengker adalah batas antara ruang positip dan ruang negatip. Dilihat dari kedudukannya dalam nawa-sanga, natah berlokasi di daerah madya-ning-madya, suatu daerah yang sangat manusia. Apalagi kalau dilihat dari fungsinya sebagai pusat orientasi dan pusat sirkulasi, maka natah adalah ruang positip. Pada natah inilah semua aktifitas manusia memusat, seperti apa yang dianalisa Ashihara sebagai suatu centripetal order. Pada daerah pamerajan, daerah ini dikelilingi oleh penyengker (keliling), sehingga daerah ini telah diberi frame untuk menjadi sebuah ruang dengan batas-batas lantai dan dinding serta menjadi ruang-luar dengan ketidak-hadiran elemen atap di sana.Nilai sebagai ruang positip, adalah adanya kegiatan penghuni melakukan aktifitasnya disana. Pamerajan atau sanggah, adalah bangunan paling awal dibangun, sedang daerah public dan bangunan service (paon, lumbung dan aling-aling) dibangun paling akhir. Proses ini menunjukan suatu pembentukan berulang suatu ruang-positip; dimana ruang positip pertama kali dibuat (Pamerajan atau sanggah), ruang diluarnya adalah ruang-negatip. Kemudian ruang-negatip tersebut diberi frame untuk menjadi sebuah ruang-positip baru. Pada ruang positip baru inilah hadir masa-masa uma meten, bale tiang sanga, pengijeng, bale sikepat, bale sekenam, lumbung, paon dan lain-lain. Kegiatan serta aktifitas manusia terjadi pada ruang positip baru ini.

Konsistensi dan Konsekuensi Tidak seperti di beberapa belahan bumi yang lain dimana sebuah bangunan (rumah, tempat ibadah) berada dalam satu atap, di Bali yang disebut sebuah bangunan hunian adalah sebuah halaman yang dikelilingi dinding pembatas pagar dari batu bata dimana didalamnya berisi unit-unit atau bagian-bagian bangunan terpisah yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Sebuah hunian di Bali, sama dengan dibeberapa bagian dunia yang lain mempunyai fungsi-fungsi seperti tempat tidur, tempat bekerja, tempat memasak, tempat menyimpan barang (berharga dan makanan), tempat berkomunikasi, tempat berdoa dan lain-lain. Ruang-ruang, sebagai wadah suatu kegiatan contoh untuk aktivitas tidur, di Bali merupakan sebuah bangunan yang berdiri sendiri.Sedang dilain pihak secara umum sebuah ruang tidur merupakan bagian sebuah bangunan.Ruang tidur adalah bagian dari ruang-dalam atau interior. Uma meten, Bale sikepat, Bale sekenam, Paon merupakan massa bangunan yang berdiri sendiri. Menurut Yoshinobu Ashihara ruang-dalam adalah ruang dibawah atap, sehingga Uma meten dan lain-lain adalah juga ruang-dalam atau interior.Ruang diluar bangunan tersebut (natah) adalah ruang luar, karena kehadirannya yang tanpa atap. Apabila bagian-bagian bangunan Hunian Bali dikaji dengan kaidah-kaidah Ruang luar-Ruang dalam, terutama juga apabila bagian-bagian hunian Bali dilihat sebagai massa per massa yang berdiri sendiri, maka adalah konsekuensi apabila pusat orientasi sebuah hunian adalah ruang luar (natah) yang juga pusat sirkulasi.Pada kenyataannya ruang ini adalah bagian utama (yang bersifat manusia) dari hunian Bali. Apabila dikaji dari rumusan suatu hunian, maka natah adalah bagian dari aktifitas utama sebuah hunian yang sudah selayaknya merupakan bagian dari aktivitas ruang-dalam atau interior. Kemudian apabila dikaitkan dengan keberadaan bale sikepat, bale sekenam dan bale tiang sanga yang hanya memiliki dinding dikedua sisinya saja, serta posisi masing-masing dinding yang membuka ke arah natah jelaslah terjadi sebuah ruang yang menyatu. Sebuah ruang besar yang menyatukan uma meten disatu sisi dan bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam serta natah yang layaknya sebuah hunian. Hunian yang sama dengan yang ada pada masa kini, dimana bale-bale adalah ruang tidur, natah adalah ruang tempat berkumpul yang bisa disebut sebagai ruang keluarga. Apabila dikaitkan lebih jauh, jika kegiatan paon (dapur) bisa disamakan dengan kegiatan memasak dan ruang makan, maka hunian Bali, teryata identik dengan hunian-hunian berbentuk flat pada hunian orang Barat.

Kajian terhadap hunian Bali ini, apabila hunian tersebut dipandang sebagai satu kesatuan utuh rumah tinggal, konsekuensinya adalah ruang didalam penyengker (dinding batas) adalah ruang-dalam. Bangunan dalam hunian Bali tidak dilihat sebagai massa tetapi harus dilihat sebagai ruang didalam ruang. Apalagi bila dilihat kehadiran dinding-dinding pada bale tiang sanga, bale sikepat maupun sekenam yang membuka kearah yang me-enclose ruang, maka keadaan ini memperkuat kehadiran nuansa ruang-dalam atau interior pada hunian tradisional Bali. Dengan kondisi demikian maka penyengker adalah batas antara ruang-dalam dan ruang-luar (jalan desa). Hal ini ternyata memiliki kesamaan dengan pola yang ada di Jepang, yang oleh Ashihara (1970) dinyatakan: Pada kajian ini terlihat adanya kesamaan sifat halaman sebagai ruang-dalam atau interior pada hunian arsitektur tradisional Bali maupun arsitektur tradisional Jepang. Meskipun pada hunian Bali kesan ruang-dalam lebih terasa dan jelas dibandingkan dengan hunian Jepang. Kajian ini semakin menarik apabila dikaitkan dengan teori Yoshinubo Ashihara diatas; bahwa ruang-luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam yang tak terhingga (dengan batas/pagar dll) dan juga ruang-luar adalah ruang dimana elemen ketiga dari ruang (yaitu atap) tidak ada. Dilain pihak ruang-dalam adalah lawan dari ruang-luar (dimana terdapat elemen ruang yang lengkap yaitu alas, dinding dan atap). Maka pada kasus hunian, teori Yoshinobu Ashihara ternyata saling bertentangan. Baik pertentangan antara ruang-luar terhadap ruang-dalam dikaitkan dengan terjadinya maupun keterkaitan dengan elemen alas, dinding dan atap

Arsitektur Bali Presentation Transcript 1. ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI Oleh : Eka Kurniawan AP 2. Arsitektur Tradisional Merupakan perwujudan ruang untuk menampung aktivitas kehidupan manusia dengan pengulangan bentuk dari generasi ke generasi berikutnya. Proses penurunan tradisi dan perwujudan ruang tersebut hanya sedikit sekali mengalami perubahan, yang dilatar belakangi oleh norma-norma agama dan dilandasi adat setempat Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 3. Dasar Konsep Ruang Keseimbangan kosmologis ( Tri Hita Karana ) Hirarki tata nilai ( Tri Angga ) Orientasi kosmologis ( Sanga Mandala ) Konsep ruang terbuka ( Natah ) Proporsi dan skala Kronologis dan prosesi pembangunan Kejujuran struktur ( clarity of structure ) Kejujuran pemakaian material ( truth of material ) Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 4. Pola Tata Ruang Tradisional Pola tata ruang Bali dilandasi oleh falsafah Tri Hita Karana . Konsep itu merupakan implikasi agama Hindu dengan kehidupan masyarakat. Agama Hindu mengajarkan keselarsan antara bhuana agung (makro kosmos) dengan bhuana alit (mikro kosmos), atau manusia mengharmoniskan diri dengan lingkungan. Keseimbangan diatur melalui unsur2 Panca Mahabhuta : apah, teja, bayu, akhasa dan pertiwi (cairan, sinar, angin, udara, zat padat) Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 5. Manusia ( bhuana alit ) sebagai isi dari alam semesta ( bhuana agung ), senantiasa dalam keadaan harmonis dan selaras seperti manik (bayi) dalam cucupu (rahim ibu). Rahim sebagai tempat hidup dan berkembang bagi janin, demikian dengan alam semesta sebagai tempat hidup manusia ( manik ring cucupu ) Dengan demikian tiap lingkungan buatan harus memenuhi konsep tri hita karana. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 6. Tri Hita Karana Tri = tiga Hita = kemakmuran, baik, gembira Karana = sebab, sumber Tri hita karana tiga unsur penyebab kebahagiaan dan kesejahteraan. Tiga sumber kebahagiaan tercipta dengan memperhatikan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Pencipta, manusia dengan manusia serta manusia dengan alam. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 7. 3 unsur dalam kehidupan manusia yang seimbang sebagai refleksi tri hita karana , meliputi : Atma (roh/jiwa) Prana / khaya (tenaga) Angga (jasad/ fisik) Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 8. Seperti keseimbangan dalam diri manusia, dalam pemukiman tradisional Bali konsep keseimbangan Tri Hita Karana diterjemahkan sbb : Atma : parhyangan Prana : pawongan Angga : palemahan Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 9. Parhyangan Sebagai perwujudan unsur Atma / jiwa. Merupakan hal-hal yang mengatur hubungan yang berkaitan dengan Ketuhanan dan dilandasi oleh kepercayaan dan agama Hindu dalam memuja Hyang Widhi, sebagai pencipta semesta semesta dan sebagai asal dan tujuan manusia. Dalam permukiman, jiwa / parhyangan adalah pura desa. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P

10. Pawongan Sebagai perwujudan unsur prana / tenaga. Merupakan hal-hal yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kehidupan bermasyarakat sehingga terjadi kebaikan dan kerukunan. Dalam permukiman, prana/pawongan adalah warga desa. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 11. Palemahan Sebagai perwujudan unsur angga / jasad. Merupakan wilayah teritori dimana manusia hidup dengan lingkungannya. Dalam permukiman, jasad / palemahan adalah wilayah desa. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 12. Tri Angga dan Tri Loka Tri Angga, merupakan susunan jasad/ angga yang memberikan konsep ruang yang mengatur keseimbangan manusia dengan alam. Tri angga menekankan tiga unsur fisik, yaitu : Utama angga (kepala) Madya angga (badan) Nista angga (kaki) Konsep Tri Angga berada dalam bhuana alit. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 13. Tri Loka Merupakan konsep Tri Angga dalam bhuana agung. Tri Loka sering disebut Tri Mandala Swah Loka (sorga) Bhuah Loka (angkasa) Bhur Loka (bumi) Konsep tata nilai secara vertikal, maka nilai Utama berada pada posisi teratas, nilai Madya pada posisi tengah, dan nilai Nista pada posisi terbawah. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 14. Bhuana Agung Bhuana Alit Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P Tri Loka Tri Mandala Tri Angga Alam atas (swah loka), Utama Mandala Kepala Utama angga Alam tengah (bhuah loka), Madya Madala Badan Madya angga Alam bawah (bhur loka), Nista Mandala Kaki Nista angga 15. Tri Angga dalam Susunan Kosmos Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P Unsur Utama Angga Madya Angga Nista Angga Semesta Swah Loka Bhuah Loka Bhur Loka Wilayah Gunung Dataran Laut Perumahan Kahyangan Tiga Permukiman Setra Bangunan Atap Kolom & dinding Lantai Manusia Kepala Badan Kaki Waktu Masa depan watamana Masa kini nagat Masa lalu atita 16. Penduduk Kebudayaan Bali awal merupakan kebudayaan sederhana dari benda alam sekitar. Penduduk Bali awal disebut penduduk Bali Mula . Kemudian masuk imigran dari India, disebut Bali Aga yang mengembangkan susunan harmonis untuk menjaga keseimbangan manusia dan lingkungan. Pada masa Bali Aga terdapat arsitek terkenal (Undagi) bernama Kebo Iwa , yang memperkenalkan konsep Bale Agung, sungai sebagai potensi dan asap sebagai sandi perang. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 17. Penduduk Pada abad 14, Bali dikuasai Majapahit dan masuklah orang Majapahit ke Bali yang disebut Bali Arya . Pada masa ini dikenal Undagi besar yakni Dahyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawurauh , yang mengenalkan konsep Padmasana . Arsitektur dikembangkan undagi sebagai arsitektur tradisional dengan tidak menokohkan seseorang. Orang Bali Mula dan Bali Aga tinggal di pegunungan. Sedangkan Bali Arya tinggal di kota kerajaan. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 18. Penduduk Struktur sosial penduduk mengelompokkan masyarakat dalam 4 kasta : Brahmana, Ksatriya, Weisya dan Sudra. Catur warna fungsi sosial di Bali : Brahmana , fungsi sosial rohaniawan; Ksatriya , fungsi sosial pemerintahan; Weisya , fungsi sosial perekonomian; Sudra , fungsi sosial pelayan dan tenaga. Pada kini, kasta sudah tidak relevan lagi di Bali. Kesalah pahaman antara kasta dan catur warna di Bali disebabkan politik adu domba oleh kolonial Belanda. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 19. Penduduk Masyarakat Bali mengakui perbedaan, yang terjadi karena faktor desa (tempat), kala (waktu) dan patra (keadaan) Selain perbedaan, ada pula nilai toleransi / persamaan yang berdasar konsep tat twam asi , yang menyatakan bahwa orang lain adalah sama dengan dirinya. Sikap toleransi diperkuat dengan konsep Tri Kaya Parisadha yaitu berpikir, berkata dan bertindak yang baik dan benar. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 20. Undagi Undagi adalah sebutan bagi arsitek tradisional Bali. Seorang undagi tidak hanya membekali dirinya dengan ilmu rancang bangun, namun juga harus mempelajari serta memahami seni, budaya, adat dan agama. Hal tersebut wajib dikuasai oleh seorang undagi agar dalam proses perancangan dan penciptaan karya bangunan selaras dan sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 21. Dalam karya arsitektur, persiapan, proses konstruksi dan mantra-mantra dengan menyebut nama Bhagawan Wisma Krama sebagai Dewa Undagi . Dalam perkembangan selanjutnya setelah Bali dikuasai kolonial Belanda, arsitektur tradisional menerima pengaruh asing yang disesuaikan dengan arsitektur tradisional. Contoh : tercipta ragam hias baru seperti patra Cina, patra Olanda, patra Mesir, dsb. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 22. Kepercayaan Agama dan ilmu pengetahuan merupakan sistem yang harmonis. Sistem religi berpedoman pada panca srada sebagai pokok kepercayaan dan panca yadnya sebagai pokok upacara. Panca Srada : Brahma (percaya Hyang Widhi) Atman (percaya roh kehidupan) Samsara (percaya kelahiran kembali) Karmaphala (percaya hukum sebab akibat) Moksha (percaya kehidupan abadi di nirwana) Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P

23. Orientasi Selain memberikan nilai secara vertikal, Tri Angga juga memiliki nilai Hulu-Teben . Konsep Hulu-Teben mempunyai beberapa orientasi : Orientasi dengan konsep sumbu ritual, KanginKauh Orientasi dengan konsep sumbu bumi, Kaja-Kelod Orientasi dengan Konsep Akasa Pertiwi, atas bawah Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 24. Orientasi Sumbu Ritual, Kangin-Kauh Kangin (matahari terbit)-luan, utama Kauh (matahari tenggelam)-teben, nista Orientasi Sumbu Bumi, Kaja-Kelod Kaja (arah gunung)-luan, utama Kelod (arah laut)-teben, nista Orientasi Akasa Pertiwi Alam atas Akasa Alam bawah Pertiwi Konsep Akasa Pertiwi diterapkan pada ruang kosong (open space) disebut natah . Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 25. Orientasi Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 26. Sanga Mandala / Nawa Sanga Lahir dari sembilan manisfestasi Hyang Widhi, yaitu Dewata Nawa Sanga yang menyebar di delapan arah mata angin dan satu di tengah sebagai penjaga keseimbangan semesta. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 27. Sanga Mandala / Nawa Sanga Nawa Sanga adalah konsep 9 mata angin yang menjadi pedoman bagi kehidupan keseharian masyarakat Bali. Nawa Sanga merupakan gabungan konsep sumbu bumi arah utara-selatan (Kaja-Kelod) dan konsep sumbu ritual timur barat (Kangin-Kauh) Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 28. Sanga Mandala / Nawa Sanga Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 29. Sanga Mandala / Nawa Sanga Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 30. Bangunan Rumah Tinggal Ditinjau dari nama, rumah tempat tinggal sesuai dengan tingkat kasta yang menempatinya. Pola ruang hampir sama, hanya fungsi yang berbeda. Geria sebagai tempat tinggal kasta Brahmana. Puri sebagai tempat tinggal kasta Ksatriya yang memegang pemerintahan. Jero sebagai tempat tinggal kasta Ksatriya yang tidak memegang pemerintahan langsung. Umah sebagai tempat tinggal kasta Weisya dan kasta Sudra. Kubu / pakubon sebagai rumah tinggal di luar pemukiman. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 31. Geria Merupakan rumah tempat tinggal untuk kasta Brahmana. Sesuai dengan peran Brahmana selaku pengemban bidang spiritual, maka geria berfungsi sebagai aktivitas ritual. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 32. Puri Merupakan rumah tempat tinggal untuk kasta Ksatriya yang memegang pemerintahan. Umumnya menempati bagian kaja angin di sudut perempatan di pusat desa. Sesuai dengan peran Brahmana selaku pelaksana pemerintahan, maka puri berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 33. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 34. Jero Merupakan rumah tempat tinggal untuk kasta Ksatriya yang tidak memegang pemerintahan secara langsung. Fungsi dan pola hampir sama dengan puri, hanya lebih sederhana. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 35. Umah Merupakan rumah tempat tinggal untuk kasta Weisya maupun Sudra. Merupakan jenis rumah yang paling banyak ditemui. Umah menojol pada fungsinya menampung aktifitas kehidupan pedagang, petani dan nelayan. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 36. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 37. Kubu / Pakubon Merupakan rumah tempat tinggal di luar pemukiman yang bersifat sementara. Terletak di ladang, perkebunan. Pola ruang sama dengan umah. Berfungsi yang sementara, dihuni selama musim tanam sampai panen. Arsitektur dan konstruksi sangat sederhana. Tiang dari cabang pohon yang ditancapkan, lantai dari urugan tanah, dinding dari anyaman bambu atau daun kelapa. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 38. Tipe Bangunan Tipe bangunan tradisional Bali disesuaikan dengan tingkat golongan utama, madia dan sederhana. Tipe terkecil untuk bangunan perumahan adalah sakepat (bangunan bertiang empat). Tipe selanjutnya bertiang enam, delapan, sembilan dan bertiang dua belas. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 39. Bangunan Sakepat Merupakan bangunan sederhana, dengan luas sekitar 3 m x 2,5 m. Bertiang empat dengan denah segi empat. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 40. Bangunan Sakenem Merupakan bangunan golongan sederhana maupun madia. Bentuk sakenem segi empat, dengan panjang sekitar tiga kali lebar. Konstruksi bangunan terdiri dari enam tiang berjajar tiga tiga pada sisi panjang. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 41. Bangunan Sakutus Merupakan bangunan golongan madia. Bentuk sakutus segi empat panjang Konstruksi bangunan terdiri dari delapan tiang berjajar empat empat pada sisi panjang. Fungsi untuk tempat tidur/ bale meten . Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 42. Bangunan Tiang Sanga Merupakan bangunan golongan utama. Bentuk tiang sanga segi empat. Konstruksi bangunan terdiri dari sembilan tiang. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P

43. Bangunan Sakarolas Merupakan bangunan golongan utama. Konstruksi bangunan terdiri dari 12 tiang. Fungsi bangunan sakarolas untuk sumanggen atau kegiatan adat dan serbaguna. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 44. Kori / Angkul angkul Kori, merupakan pintu masuk pekarangan dengan atap. Dibeberapa tempat disebut bintang aring atau angkul-angkul. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 45. Penyengkar Merupakan batas pekarangan pada keempat sisi. Bisa berupa pagar hidup atau tembok. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 46. Susunan Ruang menurut Fungsi Bale Paon / perapen, tempat memasak/ dapur. Jineng /lumbung, tempat menyimpan padi. Bale Dauh , tempat segala aktivitas. Melayani berbagai kebutuhan dan berkumpul. Bale Dangin , tempat upacara perayaan kelahiran dan kematian. Bale Meten , sebagai tempat tidur. Sanggah , untuk pemujaan. Didalamnya terdapat padmasana. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 47. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 48. Bale Meten Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 49. Bale Dangin Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 50. Jineng Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 51. Padmsana Padmsana adalah sebuah tempat untuk bersembahyang dan menaruh sajian bagi umat Hindu Bali. Terdiri dari dua kata yaitu : padma artinya bunga teratai dan asana artinya sikap duduk. Padmsana juga merupakan sebuah posisi duduk dalam yoga. Bunga teratai dipilih sebagai simbol untuk menggambarkan kesucian dan keagungan Hyang Widhi. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 52. Ragam Hias Arsitektur tradisional Bali merupakan perwujudan keindahan manusia dan alamnya, yang kemudian terwujud dalam bentuk2 bangunan dengan ragam hiasnya. Benda-benda alam yang diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk ragam hias, tumbuhan, binatang dan kepercayaan. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 53. Panca Mahabhuta Dalam pengertian tradisional Bali, bumi terbentuk dalam lima unsur : Apah (air, zat cair) Teja (sinar) Bhayu (angin) Akhasa (udara) Pertiwi (tanah bebatuan, zat padat) Unsur2 tersebut melatar belakangi perwujudan bentuk2 hiasan. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 54. A. FLORA Bentuknya mendekati keadaan sebenarnya ditampilkan sebagai latar belakang hiasan bidang dalam bentuk pahatan maupun relief. Berbagai macam flora ditampilkan sebagai hiasan simbolis atau bentuk pendekatan. Ragam hias flora dinamakan sesuai jenis dan keadaannya. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 55. 1. Keketusan Merupakan motif tumbuhan yang dibuat dengan lengkungan-lengkungan serta bungabunga besar dan daun-daun yang lebar Biasanya ditempatkan pada bidang-bidang yang luas. Keketusan ini ada bermacam-macam seperti keketusan wangsa, keketusan bunga tuwung, keketusan bun-bun dan lain-lain. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 56. Keketusan Wangga Melukiskan bunga-bunga besar yang mekar atau kucup dengan daun melengkung lebar. Terdapat batang besulur di sela bawah bunga dan daun. Umumnya diletakkan pada bidang luas dengan cat perada emas. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 57. 2. Kekarangan Suatu pahatan dengan motif suatu karangan/ rancangan yang berusaha menyerupai bentuk-bentuk flora. Hiasan ini biasanya dipahatkan pada sudut sebelah atas, disebut karang simbar, dan ditempatkan pada sendi tiang tugek disebut karang suring. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 58. Karang Simbar Suatu hiasan rancangan yang mendekati atau serupa dengan tumbuhan simbar menjangan. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 59. Karang Bunga Suatu hiasan benrbentuk bunga dengan hiasan kelopak dan seberkas daun Biasa digunakan untuk hiasan sudut atau penojolan bidang-bidang. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 60. 3. Pepatran Pepatran adalah ukiran / relief Mewujudkan gubangan keindahan dalam suatu pola / patra. Ragam hias patra merupakan bentuk pola berulang . Masing-masing patra memiliki identitas yang kuat untuk penampilannya sehingga mudah dikenali. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 61. Patra Sari Menyerupai flora dari jenis berbatang jalar melingkar berulang dengan sari bunga sebagai tanda. Patra sari dapat digunakan pada bidang lebar maupun sempit. Tidak dapat divariasi karena lingkar batang jalar, daun sari kelopak dan daun bunga. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 62. Patra Bun bunan Menyerupai flora dari jenis berbatang jalar. Dipola berulang antara daun dan bunga di rangkai batang jalar. Patra Pidpid Melukiskan flora dari jenis daun bertulang tengah dengan bentuk daun simetris. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P

63. Patra Punggel Menyerupai flora dengan lengkung daun muda pohon paku. Merupakan patra yang paling sering digunakan. Dapat juga divariasi sebagai hiasan lidah naga, ekor singa dan hiasan pelengkap. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 64. Patra Samblung Menyerupai flora jalar dengan daun lebar dengan ujung melengkung. Patra Pae Merupakan bentuk tumbuhan sejenis kapu kapu yang dipola berulang & memanjang. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 65. Patra Ganggong Menyerupai flora ganggang air yang dipola berulang dan berderet memanjang. Patra Batun Timun Bentuk dasar biji mentimun yang dipola diagonal berulang, dan sela-selanya dihias bentuk patra mas-masan setengah bidang. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 66. Patra Sulur Menyerupai flora batang sulur dengan pola bentuk tiga jalur batang jalar teranyam berulang. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 67. Patra Mas Masan Patra Tali Ilut Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 68. Patra Mote Motean Patra Api Apian Patra Kakul Kakulan Patra Olanda Patra Cina Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 69. Patra Mesir Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 70. B. FAUNA Merupakan ragam hias dengan pendekatan bentuk ekspresionis. Hiasan fauna pada penempatannya disertai hiasan flora. Bentuk fauna yang digunakan biasanya kera, garuda, naga, singa, kuda, sapi. Beberapa fauna dengan corak magic dilengkapi huruf huruf simbol mantra. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 71. 1. Kekarangan Penampilan ekspresionis, meninggalkan bentuk sebenarnya sebagai wujud ekspresi desainer. Karena proses turun temurun, perwujudan ekspresionis menjadi kesepakatan. Kekarangan mengambil bentuk binatang gajah atau asti, burung dan binatang khayal primitif lain. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 72. Karang Boma Berbentuk kepala raksasa yang dilukiskan dari leher ke atas lengkap dengan hiasan dan mahkota. Karang Boma dihiasi patra bun-bunan atau patra punggel. Diletakkan sebagai hiasan di atas lubang pintu Kori Agung. Karang Boma berfungsi sebagai lambang penjaga pintu dan menyambut tamu yang masuk. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 73. Karang Boma Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 74. Karang Boma Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 75. Karang Sae Berbentuk kepala kelelawar raksasa. Bertanduk dan memiliki gigi runcing. Karang sae umumnya dilengkapi dengan tangan seperti karang boma. Dilengkapi hiasan floral patra punggel dan patra bun-bunan. Letak diatas pintu kori atau pintu rumah tinggal. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 76. Karang Sae Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 77. Karang Asti /Karang Gajah Berbentuk kepala gajah. Berbelalai dan memiliki taring gading serta bermata bulat.. Dilengkapi hiasan floral patra punggel. Letak di bebaturan bagian bawah. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 78. Karang Asti Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 79. Karang Goak Berbentuk kepala burung dengan paruh. Bertaring dan memiliki gigi runcing. Karang goakmemiliki sayap. Dilengkapi hiasan floral patra punggel. Letak di bagian atas. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 80. Karang Tapel Serupa dengan Karang Boma Bentuk lebih kecil dan hanya memiliki bibir atas. Ada beberapa karang tapel yang memiliki lidah terjulur. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 81. 2. Pepatran Merupakan ukiran relief pada bidang-bidang datar. Dihiasi pula dengan patra flora. Patra dasar fauna antara lain : Patra Penyu/kura2, Patra Naga, Patra Garuda, Patra Singa, Patra Kera. Makna simbolis: Naga simbol stabilitas gerak dinamika kehidupan, garuda simbol kesetiaan keyakinan, singa simbol kekuasaan. Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 82. Patra Penyu Patra Naga Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 83. Patra Singa Patra Kera Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P 84. Patra Garuda Arsitektur Indonesia Eka Kurniawan A.P s