You are on page 1of 3

Masa Renaissance sering disebut juga masa pencerahan, karena menghidupkan kembali budaya-

budaya klasik, hal ini disebabkan banyaknya pengaruh filsuf-filsuf dari Yunani dan Romawi. Selain itu
ilmu pengetahuan, ketatanegaraan, kesenian, dan keagamaan berkembang dengan baik. Di masa ini
arsitekturnya ikut berusaha menghi-dupkan kembali kebudayaan klasik jaman Yunani dan Romawi
dengan jalur garap dan jalur pikir yang tersendiri, tidak menggunakan jalur garap dan pikir Yunani-
Romawi. Dengan demikian, meskipun dalam wajah dan tatanan arsitektur dapat disaksikan keserupaan,
keserupaan ini adalah hasil dari penafsiran dan penalaran, bukan semata-mata pencontohan dan bukan
pula `penghadir-an kembali demi nostalgia.

Pada masa ini, dunia keagamaan berkembang dengan pesat, terutama agama Kristen, sehingga
pengaruh otorita seorang pemimpin gereja sangat kuat. Bersamaan dengan itu adalah tumbuhnya dan
berseminya benih-benih ambisius dari ilmu untuk men-jajarkan diri dengan agama, yang pada saatnya
nanti, akan menggantikan agama dalam perannya sebagai penguasa semesta dan penguasa manusia.



Gambar (1.1) contoh bangunan gaya renaissance yang memperlihatkan tiang-tiang
gaya klasik.

Pemerintahan dengan sistem kerajaan mulai digunakan, sehingga tercermin dalam
bangunan-bangunan istana dan benteng dengan bentuk klasik. Perhatikan, di sini
kerajaan dipimpin oleh dua kekuasaan yakni pertama adalah kekuasaan raja dan yang
kedua adalah kekuasaan pemimin agama. Konflik dan perebutan kekuasaan antara raja
dan agama yang mewarnai berjalannya jaman ini, kemudian diperramai lagi dengan
munculnya kekuasaan baru yakni ilmu dan pengetahaun. Dengan demikian, di jaman ini
da-pat kita saksikan sosok perorangan yang ilmuwan, seniman dan sekaligus orang yang religius
seperti Leonardo da Vinci; namun di sisi lain dapat pula disaksikan martir dalam keyakinan terhadap ilmu dan
pengetahuannya, seperti Galileo Galilei.






Arsitektur Renaisans (yang berjaya dalam abad 1517 M) memperlihatkan sejumlah ciri khas arsitektur. Munculnya
kembali langgam-langgam Yunani dan Romawi seperti bentuk tiang langgam Dorik, Ionik, Korintia dan sebagai-nya;
(meskipun pada perkembangan selanjutnya peng-gunaan langgam tersebut mulai berkurang) dapat disam-paikan
sebagai ciri yang pertama. Bentuk-bentuk denahnya sangat terikat oleh dalil-dalil yang sistematik, yaitu bentuk
simetris, jelas dan teratur dengan teknik konstruksi yang bersahaja (kalau dibandingkan dengan masa sekarang,
masa abad 20 khususnya). Di satu pihak, ketaatan pada dalil-dalil ini mencerminkan perlakuan yang diberlakukan
pada arsitektur yakni, arsitektur ditangani dengan menggunakan daya nalar atau pikiran yang rasional. Perlakuan
yang menggunakan daya nalar ini sekaligus menjadi titik penting perjalanan arsitektur Barat mengingat sebelumnya
arsitektur sepenuhnya diperlakukan hanya dengan menggunakan daya rasa seni bangunan. Dengan kesetiaan pada
dalil itu pula sebaiknya kehadiran detil dan perampungan yang ornamental maupun dekoratif diposisikan.
Maksudnya, unsur-unsur yang ornamental dan dekoratif dari bangunan dihadirkan sebagai penanda dan penunjuk
bagi dalil-dalil yang digunakan. Sebuah ilustrasi sederhana dapat disampaikan di sini untuk memberikan penjelasan
tentang hal itu.

Dengan perhitungan dan pertimbangan struktur/konstruksi bangunan, maka jarak antar kolom dapat dibuat sebesar a
meter. Akan tetapi, karena jarak a meter dengan tinggi kolom yang b meter tidak menghasilkan kesesuaian dengan
dalil yang menunjuk pada perbandingan 2b=3a, maka di antara kedua kolom itu dimunculkanlah rupa yang tak jauh
berbeda dari rupa kolom (dinamakan pilaster) sehingga nisbah (ratio) 2b:3a dapat dipenuhi. Ringkas kata, dalam
masa Renaisans ini terjalinlah kesatuan gerak dalam berarsitektur, yakni kesa-tuan gerak nalar dan gerak rasa. Di
masa ini pula arsitektur Yunani dan Romawi ditafsir kembali (reinterpretation) dengan menggunakan nalar (di-
matematik-kan) dengan tetap mempertahankan rupa-pokok Yunani (pedimen dan pilar/kolom yang menandai
konstruksi balok dipikul tiang)) serta Romawi (bangun dan konstruksi busur, yakni konstruksi bagi hadirnya lubangan
pada konstruksi dinding pemikul)
(gambar 1.3)
Dimana tiang-tiang beserta balok murni masuk ke dalam arsitektur Yunani. Gaya ini disebut Gaya Dorik dan lebih
murni dibandingkan gaya ionik.


(gambar 1.4a)
Tiang gaya ionik dari Bait Olympicon terkesan lebih muda. Lebih elegan dan lebih langsing.

Setelah tahun 1600-an, arsitektur Renaisans mulai meninggalkan gaya-gaya klasik, kemudian disambung dengan
kebudayaan Barok (Baroque) dan Rococo. Barok dan Rococo dianggap merupakan bentuk dari kebudayaan
Renaisans juga. Contoh dari aliran Barok adalah gereja St. Peter di Roma.





Do yang ini dak pacak di copy jadi ini link nyo http://www.anneahira.com/arsitektur-eropa.htm lumayan
lengkap do