You are on page 1of 11

*yg dikumpul rabu itu laporan sementara, jadi ...

MOHON KERJASAMANYA
KUMPUL PALING LAMBAT HARI SELASA (23 SEPTEMBER
2014) PUKUL 19.00 WIB KE EMAIL rumahsyahid@yahoo.com
JANGAN LUPA DAFTAR PUSTAKA

Skenario A Blok 27
dr. Salim, dokter di RSUD yang terletak sekitar 40 km dari Palembang. Sekitar 100 meter
dari RSUD, terjadi kecelakaan lalu lintas. Mobil minibus yang melaju dengan kecepatan
tinggi menabrak pohon beringin. Bagian depan mobil hancur, kaca depan pecah. Sang sopir,
satu-satunya penumpang mobil terlempar keluar melalui kaca depan.
dr. Salim yang mendengar tabrakan langsung pergi ke tempat kejadian dengan membawa
peralatan tatalaksana trauma seadanya. Di tempat kejadian, terlihat sang sopir, laki-laki 28
tahun, tergeletak dan merintih, mengeluh dadanya sesak, nyeri di dada kanan dan nyeri paha
kiri.
Melalui pemeriksaan sekilas, didapatkan gambaran:
- Pasien sadar tapi terlihat bingung, cemas dan kesulitan bernafas.
- Tanda vital: laju respirasi 40x/menit, nadi 110x/menit;lemah, TD 90/50 mmHg
- Wajah dan bibir terlihat kebiruan
- Kulit pucat, dingin, berkeringat dingin
- Terlihat deformitas di paha kiri
- GCS: 13 (E:3, M:6, V:4)
Setelah melakukan penanganan seadanya, dr. Salim langsung membawa sang sopir ke UGD,
setelah penanganan awal di UGD RSUD, pasien dipersiapkan untuk dirujuk ke RSMH.
Data Tambahan
Kepala:
- Terdapat luka lecet di dahi dan pelipis kanan diameter 2-4 cm
- Yang lain dalam batas normal
Thoraks:
- Inspeksi
o Gerakan dinding dada asimetris, kanan tertinggal, frekuensi nafas 40x/menit
o Tampak memar di sekitar dada kanan bawah sampai ke samping
o Trakea bergeser ke kiri, vena jugularis distensi
- Auskultasi
o Bunyi nafas kanan melemah, bising nafas kiri terdengar jelas
o Bunyi jantung terdengar jelas, cepat, frekuensi 110x/menit
- Palpasi
o Nyeri tekan pada dada kanan bawah sampai ke samping (lokasi memar)
o Krepitasi pada kosta 9, 10, 11 kanan depan
- Perkusi: kanan hipersonor, kiri sonor
Abdomen:
- Inspeksi
o Dinding perut datar
- Auskultasi
o Bising usus: normal
- Palpasi
o Nyeri tekan (-)
Ekstremitas:
- Paha kiri
o Inspeksi
Tampak deformitas, memar, hematom pada paha tengah
o Palpasi
Nyeri tekan, krepitasi
o ROM
Pasif: limitasi gerakan
Aktif: limitasi gerakan

Klarifikasi Istilah
1. Trauma : Luka atau cedera berupa baik fisik atau psikis
2. Merintih :
3. Sesak : Kesulitan dalam bernafas
4. Nyeri : Perasaan tidak nyaman atau menderita disebabkan oleh rangsangan pada
ujung-ujung syaraf tertentu.
5. GCS : Skala untuk menilai kesadaran yang dinilai dari mata, verbal, dan gerakan.
6. Deformitas : Perubahan bentuk tubuh sebagian atau umum; malformasi.
7. UGD :
8. Sianosis : Perubahan warna kulit dan membran mukosa menjadi kebiruan akibat
konsentrasi hemoglobin tereduksi yang berlebihan dalam darah
9. Pucat :

Identifikasi Masalah
1. Seorang laki-laki, 28 tahun, yang mengendarai minibus menabrak pohon beringin dengan
kecepatan tinggi sehingga bagian depan mobil hancur, kaca depan pecah, dan sopir
terlempar keluar melalui kaca depan.
2. Sang sopir tergeletak dan merintih, mengeluh sesak dada, nyeri di dada kanan dan nyeri
paha kiri.
3. Hasil pemeriksaan sekilas:
- Pasien sadar tapi terlihat bingung, cemas dan kesulitan bernafas.
- Tanda vital: laju respirasi 40x/menit, nadi 110x/menit;lemah, TD 90/50 mmHg
- Wajah dan bibir terlihat kebiruan
- Kulit pucat, dingin, berkeringat dingin
- Terlihat deformitas di paha kiri
- GCS: 13 (E:3, M:6, V:4)
4. Hasil pemeriksaan fisik lanjutan:
Kepala:
- Terdapat luka lecet di dahi dan pelipis kanan diameter 2-4 cm
- Yang lain dalam batas normal
Thoraks:
- Inspeksi
o Gerakan dinding dada asimetris, kanan tertinggal, frekuensi nafas 40x/menit
o Tampak memar di sekitar dada kanan bawah sampai ke samping
o Trakea bergeser ke kiri, vena jugularis distensi
- Auskultasi
o Bunyi nafas kanan melemah, bising nafas kiri terdengar jelas
o Bunyi jantung terdengar jelas, cepat, frekuensi 110x/menit
- Palpasi
o Nyeri tekan pada dada kanan bawah sampai ke samping (lokasi memar)
o Krepitasi pada kosta 9, 10, 11 kanan depan
- Perkusi: kanan hipersonor, kiri sonor
Abdomen:
- Inspeksi
o Dinding perut datar
- Auskultasi
o Bising usus: normal
- Palpasi
o Nyeri tekan (-)
Ekstremitas:
- Paha kiri
o Inspeksi
Tampak deformitas, memar, hematom pada paha tengah
o Palpasi
Nyeri tekan, krepitasi
o ROM
Pasif: limitasi gerakan
Aktif: limitasi gerakan

Analisis Masalah
1. Apa jenis-jenis trauma? raven, puti
2. Bagaimana mekanisme trauma pada kasus ini? (hubungan kecepatan tinggi dengan
trauma) mey, puput
3. Apa saja kemungkinan trauma yang terjadi pada korban? puput, kardiyus
4. Apa saja peralatan minimal dalam penanganan trauma? raven, kiki
5. Bagaimana makna klinis dari:
- Merintih ridhya, puti
- Sesak mey, raven
- nyeri di dada kanan syahid, amel
- nyeri di paha kiri kiki, ferdy
6. Interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan sekilas (dampak) puti, syahid,
bella, puput, kiki, amel
- Pasien sadar tapi terlihat bingung, cemas dan kesulitan bernafas.
- Tanda vital: laju respirasi 40x/menit, nadi 110x/menit;lemah, TD 90/50 mmHg
- Wajah dan bibir terlihat kebiruan
- Kulit pucat, dingin, berkeringat dingin
- Terlihat deformitas di paha kiri
- GCS: 13 (E:3, M:6, V:4)
7. Interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan lanjutan
- Thoraks -FERRY-, bella
Jawab:
Thorax
Inspeksi: Gerakan dada asimetris , kanan tertinggal
Tampak memar disekitar dada kanan bawah sampai ke
samping
Auskultasi: Bunyi napas kanan melemah
Bising nafas kiri terdengar jelas
Bunyi jantung jelas dan cepat
Palpasi: Nyeri tekan dada kanan bawah sampai ke samping;
Krepitasi pada costa 9,10,11 kanan depan
Perkusi
Kanan : hipersonor
Kiri : sonor

Tension Pneumothorax





Fraktur os costae IX, X,
XI

Tension pneumothorax
pada dada kanan

Patofisiologi Gejala
1) Inspeksi
Gerakan dinding dada asymetris dada kanan tertinggal : gangguan pada salah
satu sisi paru, dengan kata lain gerakan dada kiri lebih aktif dari dada kanan,
akibatnya beban untuk mengkonpensasi hipoksemi ini ditanggung oleh paru kiri
sehingga gerakannya lebih aktif
Tampak memar di sekitar dada kanan bagian tengah sampai ke samping
rupturnya pembuluh darah
Trakea bergeser ke kiri
Normalnya trakea terlihat lurus pada medial tubuh. Trakea yang bergeser ke kiri
menujukkan adanya sesuatu pada bagian kiri yang menarik trakea ke kiri atau
pada bagian kanan paru yang mendorong atau mendesak trakea untuk bergeser ke
kiri.
Mekanisme: robekan pada pleura udara dapat masuk ke rongga pleura namun
tidak dapat keluar penumpukan udara pada rongga pleura pengembangan
rongga pleura mendorong trakea ke kiri
JVP distensi menujukkan adanya peningkatan tekanan pada struktur di bawah
vena jugularis, baik itu dari jantung (atrium kanan) atau dari vena yang
menampung darah dari vena jugularis.
Mekanisme: robekan pada pleura udara dapat masuk ke rongga pleura namun
tidak dapat keluar penumpukan udara pada rongga pleura pengembangan
rongga pleura peningkatan tekanan pada rongga toraks menekan vena cava
superior atau vena subcalvia peningkatan tekanan di vena jugularis vena
jugularis distensi
2) Palpasi
Nyeri tekan pada dada kanan bawah sampai ke samping lokasi memar: fraktur
iga/flail chest, atau peregangan pleura akibat perubahan tegangan rongga pleura
atau pleuritis atau bisa juga hanya sebatas perangsangan nociceptor saraf
intercostae akibat kerusakan struktur yang ditimbulkan akibat trauma tersebut.
Krepitasi pada costa 9,10,11 kana depan :
Fraktur iga. Merupakan komponen dari dinding thorax yang paling
sering mengalami trauma, perlukaan pada iga sering bermakna, Nyeri pada
pergerakan akibat terbidainya iga terhadap dinding thorax secara keseluruhan
menyebabkan gangguan ventilasi. Batuk yang tidak efektif intuk mengeluarkan
sekret dapat mengakibatkan insiden atelaktasis dan pneumonia meningkat secara
bermakna dan disertai timbulnya penyakit paru paru. Yang paling sering
mengalami trauma adalah iga begian tengah (iga ke 4 sampai ke 9).
Flail Chest. terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai
kontinuitas dengan keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena
fraktur iga multipel pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis
fraktur. Adanya semen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan
pada pergerakan dinding dada. Jika kerusakan parenkim paru di bawahnya terjadi
sesuai dengan kerusakan pada tulang maka akan menyebabkan hipoksia yang
serius. Kesulitan utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma pada parenkim
paru yang mungkin terjadi (kontusio paru).
Walaupun ketidak-stabilan dinding dada menimbulkan gerakan
paradoksal dari dinding dada pada inspirasi dan ekspirasi, defek ini sendiri saja
tidak akan menyebabkan hipoksia. Penyebab timbulnya hipoksia pada penderita
ini terutama disebabkan nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding dada yang
tertahan dan trauma jaringan parunya.
Flail Chest mungkin tidak terlihat pada awalnya, karena splinting
(terbelat) dengan dinding dada. Gerakan pernafasan menjadi buruk dan toraks
bergerak secara asimetris dan tidak terkoordinasi. Palpasi gerakan pernafasan
yang abnormal dan krepitasi iga atau fraktur tulang rawan membantu diagnosisi.
Dengan foto toraks akan lebih jelas karena akan terlihat fraktur iga yang multipel,
akan tetapi terpisahnya sendi costochondral tidak akan terlihat. Pemeriksaan
analisis gas darah yaitu adanya hipoksia akibat kegagalan pernafasan, juga
membantu dalam diagnosis Flail Chest.
3) Perkusi
Kanan hiper sonor, kiri sonor normalnya pada saat perkusi sonor.
Mekanismenya: truma dada kanan rongga pleura paru kanan berhubungan
dengan udara luar karena tekanan di pleura > rendah tekanan atmosfer
udara dari atmosfer masuk memenuhi rongga pleura Tension pneumothoraks
saat auskultasi, bgn stetoskop mendengar banyak udara di pleura cavity selain
mendengar bunyi udara dari dlm parenkim paru itu sendiri hipersonor
4) Auskultasi
Bunyi nafas kanan melemah, Bising nafas kiri terdengar jelas Pertukaran gas
di paru kanan lebih sedikit dari paru kiri, peningkatan dead space di paru
kanan/presentasi parenkim paru yg ateletaksis besar.
Bunyi jantung jelas dan cepat tidak ada tamponade jantung, kelainan-kelainan
jantung yang berpartisipasi dalam menimbulkan keadaan hipoksemia (Shock
Kardiogenic, Kontusio jantung).

- Kepala, abdomen, ekstremitas kardiyus, bellinda
8. Bagaimana tatalaksana saat di tempat kejadian? ferdy, -FERRY-
Jawab:
a. Tatalaksana Awal di Tempat Kejadian
Persiapan
1) Memberitahu perawat/petugas kesehatan di puskesmas untuk
mempersiapkan ruang UGD dan peralatan-peralatannya.
2) Mempersiapakan alat-alat emergency yang dibutuhkan, meliputi :
- Stetoskop
- Spet
- Ambu bag
- ETT, NGT
- Laryngoskop
- Hard neck collar
- Spalek / bidai
- Long spine board
- Perban elstic
- Kapas
- Larutan antispetik
3) Pakai baju pengaman, hasnkun, google sebagai pengaman
4) Menuju TKP dengan membawa alat tersebut dengan ditemani 2 orang
asisten.
BLS / PHTLS Di TKP
1) Pemeriksaan kesadaran :
Tanya nama pasien untuk menilai kesadaran
Nilai cara bicara untuk assessment airway
Lakukan peraba nadi (arteri radialis) sambil mengajukan pertanyaan
2) Evaluasi airway. Lakukan control serviks .Pasang neck collar, dengan
terlebih dahulu mengukur dengan teknik 4 jari
Membuka atau melonggarkan pakaian pasien, tapi cegah hipotermia,
lakukan inspeks cepat.
Nec
k
Coll
ar
Traction
splint
Long
spine
board
Spal
ek/s
plin
t
3) Breathing : Auskulatsi paru dan perkusi dada (menilai tension
pneumotorak)
Berikan tambahan oksigen dengan ambu bag.
Needle dekompresi tension pneumotoraks dengan tahapan :
Tentukan intercostals 2 dengan palpasi
Lakukan desinfeksi dengan larutan antiseptik
Gunakan spet yang ditusuk pada intercostals 2
4) Circulation :
Lakukan pemeriksaan perdarahan ekstrenal dengan teknik body sweep
Bila terdapat perdarahan eksternal lakukan control dengan balut tekan
dan elevasi.
5) Lakukan pembidaian femur (dengan spalek atau
teknik neighbouring splint) atau traksi dengan
menggunakan traction splint (penting untuk
mencegah terjadinya overriding tulang femur)
Sebelum dan sesudah memasang traction splint,
lakukan perabaan arteri dorsalis pedis untuk
menilai apakah ikatan terlalu kuat.
6) Lakukan immobilisasi pasien
Persiapkan long spine board
Lakukan penggulingan korban (90) dengan teknik logroll (teknik agar
tulang belakang, pelvis, dll tidak bergerak, membutuhkan min 3 orang)
7) Teknik transport pasien
Jika ada ambulance, transport pasien dengan ambulance. Jika tidak ada
sebaiknya menggunankan alat transport lain untuk mencegah guncangan
bila dibawa tanpa alat transpor.

9. Bagaimana prinsip mobilisasi pasien dari tempat kecelakaan? bella, syahid
10. Bagaimana tatalaksana saat di UGD? syahid, ridhya
11. Apa kriteria merujuk pasien? ridhya, -FERRY-
Jawab:
Kriteria Rujukan Antar Rumah Sakit :
1) Bila keadaan rumah sakit tidak mencukupi kebutuhan penderita
2) Keadaan klinis pasien
Susunan saraf pusat
Trauma kapitis
Luka tembus atau fraktur impresi
Luka terbuka, dengan atau tanpa kebocoran cairan serebrospinal
GCS < 14 atau penurunan GCS lebih lanjut
Tanda lateralisasi
Trauma medula spinalis atau fraktur vertebra yang berat
Toraks
Mediastinum melebar atau curiga cedera aorta
Cedera dinding dada berat atau kontusio paru
Cedera jantung
Penderita yang membutuhkan ventilasi untuk waktu lama
Pelvis/ Abdomen
Kerusakan pelvis-ring yang tidak stabil
Kerusakan pelvic ring dengan syok, dan tanda perdarahan lanjut
Fraktur pelvis terbuka
Ekstremitas
Fraktur terbuka yang berat
Traumatik amputasi yang masih mungkin dilakukan re-implantasi
Fraktur intra-artikulat yang rumit
Crush injury yang berat
Iskemia
Cedera multi-sistem
Trauma kapitis disertai trauma wajah, toraks, abdomen atau pelvis
Cedera pada lebih dari 2 anggota tubuh
Luka bakar berat, atau luka bakar dengan cedera lain
Fraktur tulang panjang proksimal pada lebih dari satu tulang
Faktor komorbid
Umur > 55 tahun
Anak-anak
Penyakit jantung atau pernapasan
Insulin dependent diabetes melitus, obesitas morbid
Kehamilan
Imunosupresi
Penurunan kesadaran lebih lanjut (late sequele)
Diperlukan ventilasi mekanik
Sepsis
Kegagalan organ tunggal atau multipel (penurunan keadaan susunan
saraf pusat, jantung, pernapasan, hepar, ginjal, atau sistem koagulasi)
Nekrosis jaringan yang luas

12. Bagaimana persiapan merujuk pasien? amel, ferdy
13. Pemeriksaan penunjang apa yang perlu dilakukan pada pasien? kardiyus, bellinda
14. Bagaimana prognosis kasus? bellinda
15. Bagaimana SKDI kasus? mey

Hipotesis
Laki-laki 28 tahun mengalami trauma multipel karena kecelakaan dengan tension
pneumothoraks, syok, fraktur tertutup femur sinistra

LI
Anatomi thoraks dan femur bellinda, raven, puti
Tension Pneumothoraks mey, ferdy, ridhya
Fraktur bella, puput
Syok amel, kardiyus
Initial Assessment -FERRY-, syahid, kiki