Sie sind auf Seite 1von 4

Wayang Kulit – Das Schattenspiel von Java

Das Wort Wayang stammt aus dem indonesischen und bedeutet, Geist, Schatten aber
auch Ahne. Das Wayangspiel dient zwar auch der Unterhaltung, jedoch ist es ebenso als
eine Art Spiegelbild der Gesellschaft und des Lebens zu sehen.

Abläufe und Entwicklungen innerhalb der Gesellschaft können durch die Zuschauer einer
Wayangführung verarbeitet, bewertet und reflektiert werden.

Der Puppenspieler, gennant Dhalang verwendet dabei Motive, die im koellektiven


Bewusstsein aller Javaner tief verwurzelt sind und die somit jeder verstehen kann, wobei
auf die junge Generation nicht mehr 100%-tig zutrifft.

Der indonesische Schriftsteller Ananta Pramoedya Toer bezeichnete das javanische


Schattenspiel als ein Netz von Geschichten um die Javaner sich selbst und Fremden
gegenüber zu mystifizieren und mit einem Zauber zu umgeben.

Andere Schriftsteller gaben an, dass, wer als Fremder das Wayang Kulit zu verstehen
lerne, begönne ebenso die javanischen Menschen bzw. das javanische Wesen zu
verstehen.

Die Handlung der Schauspiele wurde aus den Erzählungen Ramayana und Mahabharata
übernommen, allerdings wurden diese transformiert und in den indonesischen
Hintergrund eingepasst. So wurden zum Beispiel Ortsnamen geändert und einige
javanische Charaktere, wie der Spassmacher Semar, integriert.

Auch wurden Teile der indonesischen Vergangenheit mit im Schattenspiel verarbeitet


und so durchmischten sich die Erzählungen des Ramayana und Mahabharata mit
indonesischen Inhalten.
Der Islam auf Java trug ebenso, durch das Verbot der detaillierten Darstellung von
Gesichtern, zur Veränderung des Schattenspiels bei.

Diese Regel wurde allerdings nicht als generelles Verbot angesehen, vielmehr wurde das
Aussehen der Figuren verändert und wurde so (im
Gegensatz zum hinduistischen Bali) stärker stilisiert und es
entstand das Wayang Gedog.

Die Tradition des Wayang war in der Vergangenheit und ist


teilweise noch heute ein tiefer Ausdruck der religiösen
Vorstellungen auf Bali und Java. Der Ablauf von
Vorstellungen, die Vorbereitungen, die Einführung bzw.
der Auftritt der Charaktere entspricht genauen
zeremoniellen Regeln.

Allerdings gibt es auch Raum für Anpassungen, wenn zum


Beispiel ein Stück durch Verzögerungen zu spät begonnen
werden konnte.

Wayang Bali

Eine traditionelle und nicht nur für Touristen arrangierte Vorführung dauert vom frühen
Abend bis zum nächsten morgen, von Sonnenuntergang bis Sonnenaufgang und damit bis
zu 9 Stunden.

Der Puppenspieler, genannt Dhalang, nimmt quasi die Rolle eines Priesters ein, der seine
Botschaft an die Zuschauer vermittelt und in mehr oder weniger fest vorgegebenen
zeremoniellen Schritten seine Figuren auftreten und spielen lässt.

Einige Figurensets gelten als besonders Mächtig. Die Figuren einer solchen Sammlung
dürfen nur von einem Dhalang mit einer starken Persönlichkeit und einem starken
Charakter gespielt werden.

Begleitet wird der Dhalang von einem Gamelan-Orchester. Ein Gamelan-Orchester


besteht aus Schlaginstrumenten (Bonang, Gender etc.), Streichinstrumenten (Rebab)
und/oder Flöten (Suling). Der
Dhalang gibt dabei das Tempo
und den Einsatz des Orchesters
vor.

Terjemahan

Kata wayang berasal dari bahasa


Indonesia, yang berarti roh, tetapi
juga bayangan leluhur. Meskipun
permainan wayang adalah sebuah hiburan, tetapi juga dilihat sebagai semacam cermin
dari masyarakat dan kehidupan.

Proses dan perkembangannya di dalam masyarakat tercermin dari para penikmatnya


dapat dinilai, diproses,dan mendapat reaksi dari penonton pertunjukkan Wayang.
penggerak wayang disebut dhalang yang menggunakan cara, yang berakar dalam
kehidupan semua rakyat Jawa dan oleh karena itu semua orang dapat mengerti, dan
generasi muda tidak lagi 100% bertentangan.

Penulis Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, menjelaskan yang disebut wayang Jawa
adalah sebagai jaringan sejarah rakyat Jawa dan perantauan terhadap mistik dan dan
memberi daya tarik.

Penulis lain menjelaskan bahwa orang asing memahami wayang kulit sama seperti
memulai memahami watak dari orang – orang Jawa.

Plot drama diambil dari kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata, tetapi ini telah diubah
dan dicocokkan dalam konteks Indonesia. Sebagai contoh, nama-nama tempat telah
berubah, dan beberapa karakter Jawa sebagai penghibur, Semar pun dimasukkan.

Juga bagian dari masa lalu Indonesia telah diproses wayang dan kemudian dicampur
dengan kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata dengan konten Indonesia.
Islam di Jawa juga memberikan kontribusi, melalui larangan menyingkat sejarah
pertunjukkan, untuk mengubah pertunjukkan wayang.

Aturan ini tentu saja tidak seperti yang terlihat pada umumnya, beberapa penampilan dari
tokoh berubah (perbedaan pada umat Hindu di Bali) dengan penokohan yang kuat dan
muncullah nama Wayang Gedog.

Tradisi wayang di masa lalu dan sekarang masih bagian pengungkapan yang dalam dari
pertunjukkan keagamaan di Bali dan Jawa. Urutan ide, persiapan, pelaksanaan atau
tampilan karakter sesuai dengan aturan upacara tepat.

Namun, ada juga ruang untuk penyesuaian, contohnya ketika sandiwara mengalami
keterlambatan.

Sebuah kebiasaan dan bukan hanya untuk wisatawan jika pertunjukkan diatur
berlangsung dari sore hari sampai keesokan paginya, dari matahari terbenam hingga
matahari terbit, hingga 9 jam.

Penggerak , bernama dalang, hampir menempati peran seorang imam, pesannya yang
disampaikan kepada para penonton dan muncul lebih atau kurang telah ditentukan oleh
langkah-langkah seremonial dan membiarkan tokoh-tokohnya bermain.

Beberapa karakternya dianggap sangat kuat. Tokoh yang terkumpul harus dimainkan
dengan penokohan yang kuat dan karakter yang kuat oleh dalang.

Dalang diiringi oleh gamelan. Sebuah gamelan terdiri dari instrumen perkusi (Bonang,
Gender, dll), instrumen string (rebab) dan / atau seruling (Suling). Sementara dalang
disana mengikuti tempo dan kecepatan gamelan.