Sie sind auf Seite 1von 24

PRESENTASI KASUS

Anestesi Umum Menggunakan TIVA pada Pasien Post ORIF Medial Epicondyler
Humeri Sinistra Dengan Status ASA I

Diajukan Kepada :
dr. Kurnianto Trubus K, M.kes, Sp.An
Disusun Oleh :
Woro Nugroho
20100310103

BAGIAN ILMU ANESTESI DAN TERAPI INTENSIF


RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipresentasikan Presentasi Kasus dengan judul


Anestesi Umum Menggunakan TIVA pada Pasien Post ORIF Medial Epicondyler
Humeri Sinistra Dengan Status ASA I

Oleh :
Woro Nugroho

Mengetahui,
Dokter pembimbing,

dr. Kurnianto Trubus K, M.kes, Sp.An

BAB I
STATUS UJIAN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Pekerjaan
Berat badan
Diagnosis

:
:
:
:
:
:
:

Nn. D
16 tahun
Perempuan
Derman RT 6 Sumbermulyo
Pelajar
46 kg
Post ORIF Medial Epicondyler Humeri Sinistra

B. ANAMNESIS
1. Keluhan utama
Pasien ingin melepas implan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien post operasi pemasangan implan dan saat ini ingin melepas implan yang
terpasang.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Asma
Riwayat Hipertensi
Riwayat Diabetes Melitus
Riwayat Alergi
Riwayat Operasi

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: Post ORIF Medial Epicondyler Humeri Sinistra

4. Riwayat Keluarga
Riwayat penyakit serupa pada keluarga disangkal
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran
Vital Sign
A
B
C
D

: Baik
: Compos mentis

: Clear
: Spontan, RR : 21x/menit, vesikuler (+/+), wheezing (-/-), Ronkhi (-/-)
: TD = 110/80 mmHg, N = 76x/menit, S1-S2 reguler
: Afebris, oedem (-), GCS 15

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Thorak Foto : Cor dan Pulmo dalam batas normal
2. EKG
: normal sinus rithym
3. EEG
: Tidak dilakukan
4. Laboratorium
Hb
: 1216
Al
: 7.40
AE
: 4.69
AT
: 210
HMT
: 37.4
Hitung jenis
E/B/B/S/L/M : 3/1/0/52/38/6

Golongan Darah : B
Hemostasis
PPT
: 13.9 detik
C. PPT
: 14.0 detik
Kimia Klinik
Fungsi Ginjal
Ureum
: 16
Creatinin
: 0.60
Diabetes
GDS
: 123
Elektrolit
Natrium
: 140.0
Kalium
: 4.07
Klorida
: 108.6
HbSAg
: negative

APTT
C. APTT

: 32.2 detik
: 31.1 detik

E. DIAGNOSIS KERJA
Post ORIF Medial Epicondyler Humeri Sinistra dengan status fisik ASA I
Rencana General Anestesi
F. PENATALAKSANAAN
1. Persiapan Operasi
- Lengkapi Informed Consent Anestesi
- Puasa 8 jam sebelum operasi
- Tidak menggunakan perhiasan/kosmetik
- Tidak menggunakan gigi palsu
- Memakai baju khusus kamar bedah
2. Premedikasi
: Midazolam 2,5 mg; Fentanyl 50 g
3. Diagnosis Pra Bedah
: Post ORIF Medial Epicondyler Humeri Sinistra
4. Diagnosis pasca Bedah
: Post Roi
5. Jenis Anestesi
: General Anestesi
6. Teknik
: TIVA
7. Induksi
: Ketamin 30 mg; Propofol 20 mg
8. Pemeliharaan
: O2
9. Obat-obat
: Ondansentron 4 mg, Ketorolac 30 mg
10. Jenis Cairan
: Ringer laktat
11. Kebutuhan cairan selama Operasi
MO
: 2 x 46 = 92 cc
PP
: 8 x 92 = 736 cc
SO
: 4 x 46 = 184 cc
Keb. Cairan jam I
: x 736 + 92 + 184 = 644 cc
EBV
: 65 x 46 = 2.990 cc
12. Instruksi Pasca Bedah
Posisi
: Supine
Infus
: Ringer laktat 20 tpm
Antibiotik
: Sesuai dr. Operator
Analgetik
: Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV mulai jam 19.00
Anti muntah : Inj. Ondansentron 4 mg/8 jam/IV K/P mulai jam 19.00
Lain-lain
: - Awasi Vital sign dan KU

- Jika sadar penuh, Peristaltik (+) , mual (-), muntah (-), coba minum
makan perlahan.
13. Lama Operasi : 5 menit
14. Maintanence anastesi
B1 (Breathing) : Suara nafas vesikuler, nafas terkontrol
B2 (Bleeding) : Perdarahan 20 cc
B3 (Brain)

: Pupil Isokor

B4 (Bladder)

: tidak terpasang kateter

B5 (Bowel)

: BU (-)

B6 (Bone)

: Intak

15. Monitoring pasca Operasi


Skor Lockharte/Aldrete Pasien
Jam I (per 15)
Aktivitas
2
Respirasi
2
Sirkulasi
2
Kesadaran 1
Warna Kulit 2
Skor total
9

Jam II

Jam III

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Jam IV

TIVA adalah teknik anestesi umum dengan hanya menggunakan obat-obat anestesi
yang dimasukkan lewat jalur intravena tanpa penggunaan anestesi inhalasi termasuk N2O.
TIVA digunakan buat mencapai 4 komponen penting dalam anestesi yang menurut
Woodbridge (1957) yaitu blok mental, refleks, sensoris dan motorik. Atau trias A (3 A) dalam
anestesi yaitu
1.

Amnesia

2.

Arefleksia otonomik

3.

Analgesik

4.

+/- relaksasi otot


Jika keempat komponen tadi perlu dipenuhi, maka kita membutuhkan kombinasi dari

obat-obatan intravena yang dapat melengkapi keempat komponen tersebut. Kebanyakan obat
anestesi intravena hanya memenuhi 1 atau 2 komponen di atas kecuali Ketamin yang
mempunyai efek 3 A menjadikan Ketamin sebagai agen anestesi intravena yang paling
lengkap.
Kelebihan TIVA:
1. Kombinasi obat-obat intravena secara terpisah dapat di titrasi dalam dosis yang lebih
akurat sesuai yang dibutuhkan.
2. Tidak menganggu jalan nafas dan pernafasan pasien terutama pada
operasi sekitar jalan nafas atau paru-paru.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Anestesi yang mudah dan tidak memerlukan alat-alat atau mesin yang khusus.
Cepat menghasilkan efek hypnosis.
Mempunyai efek analgesi.
Disertai amnesia pasca anestesi.
Cepat dieliminasi oleh tubuh.
Dampak yang tidak baik mudah dihilangkan oleh obat antagonisnya.

Teknik anestesi intravena merupakan suatu teknik pembiusan dengan memasukkan


obat langsung ke dalam pembuluh darah secara parenteral, obat-obat tersebut digunakan
untuk premedikasi seperti diazepam dan analgetik narkotik. Induksi anestesi seperti misalnya
tiopenton yang juga digunakan sebagai pemeliharaan dan juga sebagai tambahan pada
tindakan analgesia regional. Dalam perkembangan selanjutnya terdapat beberapa jenis obat
obat anestesi dan yang digunakan di indonesia hanya beberapa jenis obat saja seperti,
Tiopenton, Diazepam , Dehidrobenzoperidol, Fentanil, Ketamin dan Propofol.

INDIKASI ANESTESI INTRAVENA


1.

Obat induksi anesthesia umum

2.

Obat tunggal untuk anestesi pembedahan singkat

3.

Tambahan untuk obat inhalasi yang kurang kuat

4.

Obat tambahan anestesi regional

5.

Menghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan SSP (SSP sedasi)

CARA PEMBERIAN
1.

Sebagai obat tunggal :

Induksi anestesi

Operasi singkat: cabut gigi

2.

Suntikan berulang :

Sesuai kebutuhan : colonoscopy

3.

Diteteskan lewat infus :

Menambah kekuatan anestesi.

OBAT OBATAN YANG DIPAKAI :


PROPOFOL
Merupakan derivat fenol yang banyak digunakan sebagai anastesia intravena dan lebih
dikenal dengan nama dagang Diprivan. Pertama kali digunakan dalam praktek anestesi pada
tahun 1977 sebagai obat induksi.
Propofol digunakan untuk induksi dan pemeliharaan dalam anastesia umum, pada pasien
dewasa dan pasien anak anak usia lebih dari 3 tahun. Mengandung lecitin, glycerol dan
minyak

soybean,

sedangkan

pertumbuhan

kuman

dihambat

oleh

adanya

asam

etilendiamintetraasetat atau sulfat, hal tersebut sangat tergantung pada pabrik pembuat
obatnya. Obat ini dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik
dengan kepekatan 1 % (1 ml = 10 mg) dan pH 7-8.1,2
Propofol adalah 98% protein terikat dan mengalami metabolisme hati untuk metabolit
glukuronat, yang akhirnya diekskresikan dalam urin.

Efek Klinis: propofol menghasilkan hilangnya kesadaran dengan cepat, dengan waktu
pemulihan yang cepat dan langsung kembali pada kondisi klinis sebelumnya (sebagai hasil
waktu paruh distribusi yang pendek dan tingkat clearance tinggi). Propofol menekan refleks
laring sehingga sangat cocok untuk digunakan dengan perangkat LMA agar dapat
dimasukkan dengan lancar. Ada insiden rendah mual dan muntah pasca operasi dan reaksi
alergi atau hipersensitivitas. Karena propofol tidak signifikan menumpuk setelah bolus
ulangan, propofol sangat cocok untuk infus jangka panjang selama operasi sebagai bagian
dari teknik anestesi Total intravena (Tiva) dan di ICU untuk obat penenang jangka panjang.3

Efek pada sistem kardiovaskuler


Induksi bolus 2-2,5 mg/kg dapat menyebabkan depresi pada jantung dan pembuluh darah
dimana tekanan dapat turun sekali disertai dengan peningkatan denyut nadi. Ini diakibatkan
Propofol mempunyai efek mengurangi pembebasan katekolamin dan menurunkan resistensi
vaskularisasi sistemik sebanyak 30%. Pengaruh pada jantung tergantung dari :

Pernafasan spontan mengurangi depresi jantung berbanding nafas kendali

Pemberian drip lewat infus mengurangi depresi jantung berbanding pemberian secara
bolus

Umur makin tua usia pasien makin meningkat efek depresi jantung

Efek pada sistem pernafasan


Dapat menurunkan frekuensi pernafasan dan volume tidal, dalam beberapa kasus dapat
menyebabkan henti nafas kebanyakan muncul pada pemberian diprivan. Secara lebih detail
konsentrasi yang menimbulkan efek terhadap sistem pernafasan adalah seperti berikut:

Pada 25%-40% kasus Propofol dapat menimbulkan apnoe setelah diberikan dosis

induksi yang bisa berlangsung lebih dari 30 saat.

Dosis dan penggunaan


a) Induksi : 2,0 sampai 2.5 mg/kg IV.

b) Sedasi : 25 to 75 g/kg/min dengan I.V infus


c) Dosis pemeliharaan pada anastesi umum : 100 - 150 g/kg/min IV (titrate to effect), bolus
iv 25-50mg.
d) Turunkan dosis pada orang tua atau gangguan hemodinamik atau apabila digabung
penggunaanya dengan obat anastesi yang lain.
e) Dapat dilarutkan dengan Dextrosa 5 % untuk mendapatkan konsentrasi yang minimal 0,2%
f) Propofol mendukung perkembangan bakteri, sehingga harus berada dalam lingkungan yang
steril dan hindari profofol dalam kondisi sudah terbuka lebih dari 6 jam untuk mencegah
kontaminasi dari bakteri.1,2
Efek Samping
Dapat menyebabkan nyeri selama pemberian pada 50% sampai 75%. Nyeri ini bisa muncul
akibat iritasi pembuluh darah vena, nyeri pada pemberian propofol dapat dihilangkan dengan
menggunakan lidokain (0,5 mg/kg) dan jika mungkin dapat diberikan 1 sampai 2 menit
dengan pemasangan torniquet pada bagian proksimal tempat suntikan, berikan secara I.V
melaui vena yang besar. Gejala mual dan muntah juga sering sekali ditemui pada pasien
setelah operasi menggunakan propofol. Propofol merupakan emulsi lemak sehingga
pemberiannya harus hati hati pada pasien dengan gangguan metabolisme lemak seperti
hiperlipidemia dan pankreatitis. Pada sesetengah kasus dapat menyebabkan kejang mioklonik
(thiopental < propofol < etomidate atau methohexital). Phlebitis juga pernah dilaporkan
terjadi setelah pemberian induksi propofol tapi kasusnya sangat jarang. Terdapat juga kasus
terjadinya nekrosis jaringan pada ekstravasasi subkutan pada anak-anak akibat pemberian
propofol.3
Propofol tidak diizinkan untuk digunakan pada anak-anak berusia kurang dari
3 tahun. Ada laporan kematian tak terduga pada anak-anak karena asidosis metabolik dan
kegagalan miokard setelah penggunaan jangka panjang di ICU.

TIOPENTON
Tiopental sekarang lebih dikenal dengan nama sodium Penthotal, Thiopenal, Thiopenton
Sodium atau Trapanal yang merupakan obat anestesi umum barbiturat short acting, tiopentol

dapat mencapai otak dengan cepat dan memiliki onset yang cepat (30-45 detik). Dalam waktu
1 menit tiopenton sudah mencapai puncak konsentrasi dan setelah 5 10 menit konsentrasi
mulai menurun di otak dan kesadaran kembali seperti semula.9 Dosis yang banyak atau
dengan menggunakan infus akan menghasilkan efek sedasi dan hilangnya kesadaran.
Efek pada sistem saraf pusat
Dapat menyebabkan hilangnya kesadaran tetapi menimbulkan hiperalgesia pada dosis
subhipnotik, menghasilkan penurunan metabolisme serebral dan aliran darah sedangkan pada
dosis yang tinggi akan menghasilkan isoelektrik elektroensepalogram.Thiopental turut
menurunkan tekanan intrakranial. Manakala methohexital dapat menyebabkan kejang setelah
pemberian dosis tinggi.
Efek pada mata
Tekanan intraokluar menurun 40% setelah pemberian induksi thiopental atau methohexital.
Biasanya diberikan suksinilkolin setelah pemberian induksi thiopental supaya tekanan
intraokular kembali ke nilai sebelum induksi.
Efek pada sistem kardiovaskuler
Menurunkan tekanan darah dan cardiac output ,dan dapat meningkatkan frekwensi jantung,
penurunan tekanan darah sangat tergantung dari konsentrasi obat dalam plasma. Hal ini
disebabkan karena efek depresinya pada otot jantung, sehingga curah jantung turun, dan
dilatasi pembuluh darah. Iritabilitas otot jantung tidak terpengaruh, tetapi bisa menimbulkan
disritmia bila terjadi resistensi CO2 atau hipoksia. Penurunan tekanan darah yang bersifat
ringan akan pulih normal dalam beberapa menit tetapi bila obat disuntik secara cepat atau
dosisnya tinggi dapat terjadi hipotensi yang berat. Hal ini terutama akibat dilatasi pembuluh
darah karena depresi pusat vasomotor. Dilain pihak turunnya tekanan darah juga dapat terjadi
oleh karena efek depresi langsung obat pada miokard.
Efek pada sistem pernafasan
Menyebabkan depresi pusat pernafasan dan sensitifitas terhadap CO2 menurun terjadi

penurunan frekwensi nafas dan volume tidal bahkan dapat sampai menyebabkan terjadinya
asidosis respiratorik. Dapat juga menyebabkan refleks laringeal yang lebih aktif berbanding
propofol sehingga menyebabkan laringospasme. Jarang menyebabkan bronkospasme.
Dosis
Dosis yang biasanya diberikan berkisar antara 3-5 mg/kg. Untuk menghindarkan efek negatif
dari tiopental tadi sering diberikan dosis kecil dulu 50-75 mg sambil menunggu reaksi pasien.
Efek samping
Efek samping yang dapat ditimbulkan seperti alergi, sehingga jangan memberikan obat ini
kepada pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap barbiturat, sebab hal ini dapat
menyebabkan terjadinya reaksi anafilaksis yang jarang terjadi, barbiturat juga kontraindikasi
pada pasien dengan porfiria akut, karena barbiturat akan menginduksi enzim daminoleuvulinic acid sintetase, dan dapat memicu terjadinya serangan akut. Iritasi vena dan
kerusakan jaringan akan menyebakan nyeri pada saat pemberian melalui I.V, hal ini dapat
diatasi dengan pemberian heparin dan dilakukan blok regional simpatis.

KETAMIN

Ketalar sebagai nama dagang yang pertama kali diperkenalkan oleh Domino dan Carson
tahun 1965 yang digunakan sebagai anestesi umum.
Ketamin kurang digemari untuk induksi anastesia, karena sering menimbulkan takikardi,
hipertensi , hipersalivasi , nyeri kepala, pasca anasthesi dapat menimbulkan muntah muntah
, pandangan kabur dan mimpi buruk.
Ketamin juga sering menebabkan terjadinya disorientasi, ilusi sensoris dan persepsi dan
mimpi gembira yang mengikuti anesthesia, dan sering disebut dengan emergence phenomena.
Ketamin lebih larut dalam lemak sehingga dengan cepat akan didistribusikan ke seluruh
organ.10 Efek muncul dalam 30 60 detik setelah pemberian secara I.V dengan dosis
induksi, dan akan kembali sadar setelah 15 20 menit. Jika diberikan secara I.M maka efek
baru akan muncul setelah 15 menit.

Efek pada susunan saraf pusat


Apabila diberikan intravena maka dalam waktu 30 detik pasien akan mengalami perubahan
tingkat kesadaran yang disertai tanda khas pada mata berupa kelopak mata terbuka spontan
dan nistagmus. Selain itu kadang-kadang dijumpai gerakan yang tidak disadari (cataleptic
appearance), seperti gerakan mengunyah, menelan, tremor dan kejang. Itu merupakan efek
anestesi dissosiatif yang merupakan tanda khas setelah pemberian Ketamin. Apabila
diberikan secara intramuskular, efeknya akan tampak dalam 5-8 menit, sering mengakibatkan
mimpi buruk dan halusinasi pada periode pemulihan sehingga pasien mengalami agitasi.
Aliran darah ke otak meningkat, menimbulkan peningkatan tekanan darah intrakranial.
Efek pada mata
Menimbulkan lakrimasi, nistagmus dan kelopak mata terbuka spontan, terjadi peningkatan
tekanan intraokuler akibat peningkatan aliran darah pada pleksus koroidalis.
Efek pada sistem kardiovaskuler
Ketamin adalah obat anestesia yang bersifat simpatomimetik, sehingga bisa meningkatkan
tekanan darah dan jantung. Peningkatan tekanan darah akibat efek inotropik positif dan
vasokonstriksi pembuluh darah perifer.
Efek pada sistem pernafasan
Pada dosis biasa, tidak mempunyai pengaruh terhadap sistem respirasi. dapat menimbulkan
dilatasi bronkus karena sifat simpatomimetiknya, sehingga merupakan obat pilihan pada
pasien asma.
Dosis dan pemberian
Ketamin merupakan obat yang dapat diberikan secara intramuskular apabila akses pembuluh
darah sulit didapat contohnya pada anak anak. Ketamin bersifat larut air sehingga dapat
diberikan secara I.V atau I.M. Dosis induksi adalah 1 2 mg/KgBB secara I.V atau 5 10
mg/Kgbb I.M , untuk dosis sedatif lebih rendah yaitu 0,2 mg/KgBB dan harus dititrasi untuk

mendapatkan efek yang diinginkan.


Untuk pemeliharaan dapat diberikan secara intermitten atau kontinyu. Pemberian secara
intermitten diulang setiap 10 15 menit dengan dosis setengah dari dosis awal sampai
operasi selesai.3 Dosis obat untuk menimbulkan efek sedasi atau analgesic adalah 0,2 0,8
mg/kg IV atau 2 4 mg/kg IM atau 5 10 g/kg/min IV drip infus.

Efek samping
Dapat menyebabkan efek samping berupa peningkatan sekresi air liur pada mulut,selain itu
dapat menimbulkan agitasi dan perasaan lelah , halusinasi dan mimpi buruk juga terjadi pasca
operasi, pada otot dapat menimbulkan efek mioklonus pada otot rangka selain itu ketamin
juga dapat meningkatkan tekanan intracranial. Pada mata dapat menyebabkan terjadinya
nistagmus dan diplopia.
Kontra indikasi
Mengingat efek farmakodinamiknya yang relative kompleks seperti yang telah disebutkan
diatas, maka penggunaannya terbatas pada pasien normal saja. Pada pasien yang menderita
penyakit sistemik penggunaanya harus dipertimbangkan seperti tekanan intrakranial yang
meningkat, misalnya pada trauma kepala, tumor otak dan operasi intrakranial, tekanan
intraokuler meningkat, misalnya pada penyakit glaukoma dan pada operasi intraokuler.
Pasien yang menderita penyakit sistemik yang sensitif terhadap obat obat simpatomimetik,
seperti ; hipertensi tirotoksikosis, Diabetes militus , PJK dl1,2
OPIOID
Morphine, meperidine, fentanyl, sufentanil, alfentanil, and remifentanil merupakan golongan
opioid yang sering digunakan dalam general anestesi. efek utamanya adalah analgetik. Dalam
dosis yang besar opioid kadang digunakan dalam operasi kardiak. Opioid berbeda dalam
potensi, farmakokinetik dan efek samping.

Absorbsi cepat dan komplit terjadi setelah injeksi morfin dan meperedin intramuskuler,
dengan puncak level plasma setelah 20-60 menit. Fentanil sitrat transmukosal oral merupakan
metode efektif menghasilkan analgesia dan sedasi dengan onset cepat (10 menit) analgesia
dan sedasi pada anak-anak (15-20 g/Kg) dan dewasa (200-800 g).

Waktu paruh opioid umumnya cepat (5-20 menit). Kelarutan lemak yang rendah dan morfin
memperlambat laju melewati sawar darah otak, sehingga onset kerja lambat dan durasi kerja
juga Iebih panjang. Sebaliknya fentanil dan sufentanil onsetnya cepat dan durasi singkat
setelah injeksi bolus.6
Efek pada sistem kardiovaskuler
Sistem kardiovaskuler tidak mengalami perubahan baik kontraktilitas otot jantung maupun
tonus otot pembuluh darah.Tahanan pembuluh darah biasanya akan menurun karena terjadi
penurunan aliran simpatis medulla, tahanan sistemik juga menurun hebat pada pemberian
meperidin atau morfin karena adanya pelepasan histamin.
Efek pada sistem pernafasan
Dapat meyebabkan penekanan pusat nafas, ditandai dengan penurunan frekuensi nafas,
dengan jumlah volume tidal yang menurun .PaCO2 meningkat dan respon terhadap CO2
tumpul sehingga kurve respon CO2 menurun dan bergeser ke kanan, selain itu juga mampu
menimbulkan depresi pusat nafas akibat depresi pusat nafas atau kelenturan otot nafas, opioid
juga bisa merangsang refleks batuk pada dosis tertentu.
Efek pada sistem gastrointestinal
Opioid menyebabkan penurunan peristaltik sehingga pengosongan lambung juga terhambat.
Efek pada endokrin
Fentanyl mampu menekan respon sistem hormonal dan metabolik akibat stress anesthesia dan
pembedahan, sehingga kadar hormon katabolik dalam darah relatif stabil.1,2
a. Morfin
Penggunaanya untuk premedikasi, analgesic, anastesi, pengobatan nyeri yang berjaitan
dengan iskemia miokard, dan dipsnea yang berkaitan dengan kegagalan ventrikel kiri dan
edema paru.
Dosis :

Analgesic : iv 2,5-15 mg, im 2,5-20 mg, Po 10-30 mg, rectal 10-20 mg setiap 4 jam
Induksi : iv 1 mg/kg

Awitan aksi

: iv < 1 menit, im 1-5 menit

Lama aksi

: 2-7 jam

Efek samping obat :

Hipotensi, hipertensi, bradikardia, aritmia


Bronkospasme, laringospasme
Penglihatan kabur, sinkop, euphoria, disforia
Retensi urin, spasme ureter
Spasme traktus biliaris, konstipasi, anoreksia, mual, muntah, penundaan pengosongan

lambung
Miosis 4

b. Petidin
Penggunaannya untuk nyeri sedang sampai berat, sebagai suplemen sedasi sebelum
pembedahan, nyeri pada infark miokardium walaupun tidak seefektif morfin sulfat, untuk
menghilangkan ansietas pada pasien dengan dispnea karena acute pulmonary edema dan
acute left ventricular failure. 5
Dosis
Oral/ IM,/SK :
Dewasa :
Dosis lazim 50150 mg setiap 3-4 jam jika perlu,
Injeksi intravena lambat : dewasa 1535 mg/jam.
Anak-anak oral/IM/SK : 1.11.8 mg/kg setiap 34 jam jika perlu.
Untuk sebelum pembedahan : dosis dewasa 50 100 mg IM/SK
Petidin dimetabolisme terutama di hati
Kontraindikasi
Pasien yang menggunakan trisiklik antidepresan dan MAOi. 14 hari sebelumnya
(menyebabkan

koma,

depresi

pernapasan

yang

parah,

sianosis,

hipotensi,

hipereksitabilitas, hipertensi, sakit kepala, kejang)


Hipersensitivitas.
Pasien dengan gagal ginjal lanjut
Efek samping obat
Depresi pernapasan,
Sistem saraf : sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa mengantuk,

koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang,


Pencernaan : mual, muntah, konstipasi,
Kardiovaskular : aritmia, hipotensi postural,
Reproduksi, ekskresi & endokrin : retensi urin, oliguria.
Efek kolinergik : bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor otot, pergerakan

yg tidak terkoordinasi, delirium atau disorintasi, halusinasi.


Lain-lain : berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit

Peringatan
Hati-hati pada pasien dengan disfungsi hati & ginjal krn akan memperlama kerja & efek
kumulasi opiod, pasien usia lanjut, pada depresi sistem saraf pusat yg parah, anoreksia,
hiperkapnia, depresi pernapasan, aritmia, kejang, cedera kepala, tumor otak, asma
c.

bronchial
Fentanil

Digunakan sebagai analgesic dan anastesia


Dosis :

Analgesic : iv/im 25-100 g


Induksi : iv 5-40 g/ kg BB
Suplemen anastesi : iv 2-20 g/kg BB
Anastetik tunggal : iv 50-150 g/ kg BB

Awitan aksi

: iv dalam 30 detik, im < 8 menit

Lama aksi

: iv 30-60 menit, im 1-2 jam

Efek samping obat :

Bradikardi, hipotensi
Depresi saluran pernapasan, apnea
Pusing, penglihatan kabur, kejang
Mual, muntah, pengosongan lambung terlambat
Miosis 4

Tramadol
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. Tramadol mengikat secara
stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga menghambat sensasi nyeri dan
respon terhadap nyeri. Disamping itu tramadol menghambat pelepasan neurotransmiter dari
saraf aferen yang sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat. Tramadol
peroral diabsorpsi dengan baik dengan bioavailabilitas 75%. Tramadol dan metabolitnya
diekskresikan terutama melalui urin dengan waktu 6,3 7,4 jam.
Indikasi : Untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan.
Dosis : Dewasa dan anak di atas 16 tahun :
Dosis umum : dosis tunggal 50 mg Dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri,
apabila masih terasa nyeri dapat ditambahkan 50 mg setelah selang waktu 4 6 jam.
Dosis maksimum 400 mg sehari.
Dosis sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri yang diderita. Penderita gangguan hati
dan ginjal dengan bersihan klirens < 30 mL/menit : 50 100 mg setiap 12 jam, maksimum
200 mg sehari.

Dosis yang dianjurkan untuk pasien dengan cirrhosis adalah 50 mg setiap 12 jam.
Efek samping

Efek samping yang umum terjadi seperti pusing, sedasi, lelah, sakit kepala , pruritis, berkeringat, kulit kem
kering, mual, muntah, dispepsia dan konstipasi.

BENZODIAZEPIN
Golongan benzodiazepine yang sering digunakan oleh anestesiologi adalah Diazepam
(valium), Lorazepam (Ativan) dan Midazolam (Versed), diazepam dan lorazepam tidak larut
dalam air dan kandungannya berupa propylene glycol.
Golongan benzodiazepine bekerja sebagai hipnotik, sedative, anxiolitik, amnestik,
antikonvulsan, pelumpuh otot yang bekerja di sentral.
Obat golongan benzodiazepine dimetabolisme di hepar, efek puncak akan muncul setelah 4 8 menit setelah diazepam disuntikkan secara I.V dan waktu paruh dari benzodiazepine ini
adalah 20 jam. Dosis ulangan akan menyebabkan terjadinya akumulasi dan pemanjangan
efeknya sendiri. Midazolam dan diazepam didistribusikan secara cepat setelah injeksi bolus,
metabolisme mungkin akan tampak lambat pada pasien tua.

Efek pada sistem saraf pusat


Dapat menimbulkan amnesia, anti kejang, hipnotik, relaksasi otot dan mepunyai efek sedasi,
efek analgesik tidak ada, menurunkan aliran darah otak dan laju metabolisme.
Efek pada sistem kardiovaskuler
Menyebabkan vasodilatasi sistemik yang ringan dan menurunkan cardiac out put. Ttidak
mempengaruhi frekuensi denyut jantung, perubahan hemodinamik mungkin terjadi pada
dosis yang besar atau apabila dikombinasi dengan opioid
Efek pada sistem pernafasan
Mempengaruhi penurunan frekuensi nafas dan volume tidal , depresi pusat nafas mungkin

dapat terjadi pada pasien dengan penyakit paru atau pasien dengan retardasi mental.
EFek pada sistem saraf otot
Menimbulkan penurunan tonus otot rangka yang bekerja di tingkat supraspinal dan spinal ,
sehingga sering digunakan pada pasien yang menderita kekakuan otot rangka.4,6
a. Diazepam
Karena tidak larut air, maka obat ini dilarutkan dalam pelarut organic (propilen glikol dan
sodium benzoate). Karena itu obat ini bersifat asam dan menimbulkan rasa sakit ketika
disuntikan, trombhosis, phlebitis apabila disuntikan pada vena kecil. Obat ini
dimetabolisme di hepar dan diekskresikan melalui ginjal. 2
Obat ini dapat menurunkan tekanan darah arteri. Karena itu, obat ini digunakan untuk induksi
dan supplement pada pasien dengan gangguan jantung berat. 2
Diazepam biasanya digunakan sebagai obat premedikasi, amnesia, sedative, obat induksi,
relaksan otot rangka, antikonvulsan, pengobatan penarikan alcohol akut dan serangan panik.
Awitan aksi : iv < 2 menit, rectal < 10 menit,
oral 15 menit-1 jam
Lama aksi
: iv 15 menit- 1 jam, PO 2-6 jam 4
Dosis :
Premedikasi : iv/im/po/rectal 2-10 mg
Sedasi : 0,04-0,2 mg/kg BB
Induksi : iv 0,3-0,6 mg/kg
Antikonvulsan : iv 0,05-0,2 mg/kg BB setiap 5-10 menit dosis maksimal 30 mg,
PO/rectal 2-10 mg 2-4 kali sehari 4
Efek samping obat
:
Menyebabkan bradikardi dan hipotensi
Depresi pernapasan
Mengantuk, ataksia, kebingungan, depresi,
Inkontinensia
Ruam kulit
DVT, phlebitis pada tempat suntikan 4
b. Midazolam
Obat ini mempunyai efek ansiolitik, sedative, anti konvulsif, dan anteretrogad amnesia.
Durasi kerjanya lebih pendek dan kekuatannya 1,5-3x diazepam.
Obat ini menembus plasenta, akan tetapi tidak didapatkan nilai APGAR kurang dari 7 pada
neonatus. 2
Dosis :
Premedikasi : im 2,5-10 mg, Po 20-40 mg
Sedasi : iv 0,5-5 mg

Induksi : iv 50-350 g/kg 4

Efek samping obat :

Takikardi, episode vasovagal, komplek ventrikuler premature, hipotensi


Bronkospasme, laringospasme, apnea, hipoventilasi
Euphoria, agitasi, hiperaktivitas
Salvasi, muntah, rasa asam
Ruam, pruritus, hangat atau dingin pada tempat suntikan 4

Target controlled infusion


Propofol terutama digunakan untuk intravena Total anaesthesia, teknik konvensional dicapai
dengan hanya menyuntikkan obat melalui pompa jarum suntik pada tingkat yang telah
ditentukan (mg / jam atau ml / jam) berdasarkan berat badan. Satu masalah dengan metode ini
adalah bahwa, jika tingkat infus pompa meningkat dari, misalnya, 10 ml / jam untuk 20 ml /
jam, perubahan tidak akan secara cepat tercermin dalam konsentrasi darah atau otak.
Meningkatnya teknologi pompa, bersama dengan estimasi yang lebih baik dari konsentrasi
situs efek (konsentrasi agen di otak untuk setiap konsentrasi darah yang diberikan)
memfasilitasi pengembangan infus dikendalikan target. Dengan teknik ini, dokter anestesi
hanya menetapkan konsentrasi darah target awal (atau daerah efek) yang dibutuhkan:
konsentrasi target dicapai dan dipertahankan tanpa intervensi lebih lanjut diperlukan oleh
pengguna. Nomogram dari studi klinis (dan pengalaman klinis operator ) digunakan untuk
mengkorelasikan konsentrasi darah (atau daerah efek) dengan efek klinis. Konsentrasi darah
(atau daerah efek) ditampilkan oleh pompa adalah perkiraan dari percobaan besar yang
menghubungkan dosis infus dengan konsentrasi darah.3,7

Tabel 1. Dosis induksi TIVA7

Tabel 2. Dosis pemeliharaan TIVA 7

Tabel 3. Properti ringkasan dari obat-obat intravena anestesi3

BAB III
DISKUSI KASUS
Pada pasien dengan diagnosis Post ORIF Medial Epicondyler Humeri Sinistra ini dilakukan
anestesi umum intravena dengan nasal canule dengan alasan :
Durasi operasinya singkat dan faktor resikonya lebih rendah
Pada pemeriksaan fisik dan penunjang diketahui bahwa keadaan pasien cukup baik
(ASA I)
Lambung dalam keadaan kosong
Tidak adanya manipulasi posisi kepala
Posisi pasien terlentang
Urutan tindakan :
1. Pasien dibaringkan diatas meja operasi, kemudian dipasang monitor EKG dan manset
sfignomanometer. Lalu kita lakukan pemeriksaan tanda vital dan pemasangan infus
RL ini dikarenakan agar pasien tidak kekurangan cairan.
2. Kemudian premedikasi masukanobat sedative Midazolam 2,5mg agar pasien merasa
nyaman, serta obat analgetik Fentanyl 50 mcg yang berguna untuk menghilangkan
rasa sakit pada saat pembedahan.
3. Masukkan ketamin 30 mg kemudian propofol 20 mg sebagai obat induksi yanrg
membuat pasien dari keadaan sadar menjadi tidak sadar.
4. Kedalaman anestesi dinilai dari tanda-tanda mata (bola mata menetap), nadi tidak
cepat dan terhadap rangsang operasi tidak banyak berubah. Jika stadium anestesi
sudah cukup dalam, reflek bulu mata hilang, nasal canule dipasang dengan aliran
oksigen 2 liter.
5. Selama operasi perhatikan tanda-tanda vital.
6. Operasi berlangung 5 menit, tanda vital dan Saturasi O2 baik selama operasi.
7. Pada saat pasien sudah berada di recovery room oksigenasi dengan O 2 tetap diberikan,
kemudian dilakukan fungsi vital menurut Aldrettes score
Kesadaran
: orientasi baik, dapat dibangunkan
Pernafasan
: spontan, pasien dapat bernafas dalam
Warna kulit
: merah muda, tanpa oksigen Sat O2> 98%
Aktivitas
: 2 ekstrimitas bergerak
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Nadi
: 82 x/mnt
Pada pasien ini :

Kesadaran
Warna kulit

:2
:2

Aktivitas
Respirasi
Tekanan darah

:1
:2
:2

Jumlah pulih sadar


:9
Kesimpulan : pasien diperbolehkan keruang perawatan

KESIMPULAN
1. Pada kasus ini pasien dengan diagnosis Post ORIF Medial Epicondyler Humeri
Sinistra dilakukan Removal of Implant dengan anestesi umum intravena dengan nasal
canule dikarenakan :
Durasinya operasinya singkat dan faktor resikonya lebih rendah
Keadaan umum pasien baik (ASA I)
2. Selama anestesi dan operasi barlangsung tidak didapati kendali/masalah.

3. Setelah operasi berhasil pasien segera dipindahkan ke ruang pulih sadar. Dan
berdasarkan kriteria skala pulih sadar yang dinilai pada pasien ini, didapatkan
penilaian pulih sadar dengan nilai 9, yang bermakna pasien dapat langusng
dipindahkan ke dalam ruang perawatan.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Departement Farmakologi dan Terapeutik


Ed

2.

5 farmakologi dan Terapi. Jakarta : Gaya Baru ; 2007

Mangku G,dkk. Buku ajar Ilmu Anasthesia dan Reanimasi. Cetakan pertama. Jakarta :
Universitas Udayana Indeks ; 2010

3.

Jaideep J Pandit. Intravenous Anaesthetic Drug. 2007. ANAESTHESIA AND


INTENSIVE

CARE

MEDICINE

9:4.

Diunduh

dari

http://www.philippelefevre.com/downloads/basic_sciences_articles/iv-anaestheticagents/intravenous-anaesthetic-agents.pdf
4.

Omoigui, S. 1997. Obat-obatan Anastesia. EGC : Jakarta

5.

Mansjoer A, Triyanti K, Wardhani WI. Et all (editor), Kapita Selekta Kedokteran,


Cetakan keenam 2007 : Media Aesculapius FK UI
http//ascf.en.enzl.com/ACM619_multi_functional_anasthesia_machine

6.

Latief SA. Suryadi KA. Dachlan MR, Petunjuk Praktis Anestesiologi dan Terapi
Intensif Edisi 3. Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ; 2007

7.

Collage of anaesthesiologist Academy of Medicine Malaysia. Total Intravenous


Anaesthesiologist using target controlled infusion. A pocket reference 1st edition. 2012.