Sie sind auf Seite 1von 4

Intro

Avian flu is back in the news. This time, the offending strain is known as H7N9. The
last avian flu to make headlines was H5N1. This virus is highly pathogenic and has a
60% case fatality rate. To date, it has only been transmitted from bird to person, so
relatively few people have been infected (approximately 600 in 15 countries since
2003). This is in contrast to the H1N1 "swine flu" pandemic of 2009, which was
passed person-to-person, and infected tens of millions of people worldwide.
However, the case fatality rate was only 0.01-0.03%, and very few infected people
died. If H5N1 ever acquires mutations that allow for transmission between humans,
the death toll will likely be catastrophic. Some scientists believe the best way to
understand influenza strains like H5N1, and now H7N9, is to perform "gain-offunction" studies, which address viral characteristics like adaptation, pathogenicity,
and drug resistance, in part by introducing random mutations. Included in these
studies is the introduction of mutations that allow the virus to become transmissible
in humans. Obviously these types of studies pose serious biosafety and bioterrorism
threats. The following case study provides an overview of the controversy that
surrounded publication of the H5N1 gain-of-function studies a few years ago. Since
then, the US Department of Health and Human Services (HHS) has announced new
guidelines for performing experiments with influenza viruses such as H5N1 and
H7N9. However, many remain unconvinced that such studies are necessary at all,
and the current H7N9 outbreak is likely to reignite the debate.
Avian flu kembali menjadi berita. Sekarang, strain yang diketahui adalah
H7N9. Strain Avian flu terakhir yang menjadi pokok berita adalah H5N1.
Virus ini sangat patogenik dan memiliki tingkat fatalitas (kematian)
sampai 60%. Sekarang, virus tersebut hanya bisa tertransmisikan dari
burung ke manusia, sehingga relatif sedikit manusia yang terinfeksi (kirakira 600 di 15 negara sejak tahun 2003). Hal ini berbeda dengan H1N1 "flu
babi" yang menjadi wabah tahun 2009, yang ditularkan dari orang-keorang, dan terinfeksi puluhan juta orang di seluruh dunia. Namun, tingkat
fatalitas (kematian) kasus tersebut hanya 0,01-0,03%, dan sangat sedikit
orang yang terinfeksi meninggal. Jika H5N1 pernah mengalami mutasi
yang memungkinkan untuk transmisi antar manusia, jumlah korban tewas
kemungkinan akan menjadi bertambah banyak. Beberapa ilmuwan percaya
bahwa cara terbaik untuk memahami strain influenza seperti H5N1, dan
sekarang H7N9, adalah untuk melakukan studi "gain-of-function", yang
membahas karakteristik virus seperti adaptasi, patogenisitas, dan
resistensi obat, dengan menggunakan mutasi acak. Termasuk dalam studi
ini adalah pengenalan mutasi yang memungkinkan virus menjadi menular
pada manusia. Jelas dari studi tersebut dapat menimbulkan biosafety yang
serius dan ancaman bioterorisme. Studi kasus tersebut dapat memberikan
gambaran dari kontroversi berdasarkan publikasi studi H5N1 "gain-offunction" beberapa tahun yang lalu. Sejak itu, Departemen Kesehatan dan

Layanan Kemanusiaan (HHS) di US, telah mengumumkan pedoman baru


untuk melakukan eksperimen dengan virus influenza seperti H5N1 dan
H7N9. Namun, banyak yang tidak yakin bahwa studi tersebut diperlukan,
dan saat ini wabah H7N9 sedang di perdebatkan (?)

Study
In 2011, a group led by Dr. Ron Fouchier of the Erasmus Medical Center in the
Netherlands used recombinant DNA technology to artificially introduce mutations in
the H5N1 avian influenza virus that makes the virus easily transmissible from
human to human. At present, the "bird flu" has only infected humans that are in
direct contact with an animal host. However, there is a chance that the virus could
naturally mutate into a form that will allow human-to-human transmission, leading
to a pandemic. Thus, some scientists believe that it is important to study the
genetics of H5N1 transmission in order to monitor for mutated strains in the wild
and better prepare to treat outbreaks in the future. Dr. Fouchier and his colleagues
discovered that only five mutations are necessary to allow for airborne transmission
of the virus between ferrets (the model organism used to study viral transmission in
humans). Prior to publication, Dr. Fouchier presented his findings at a conference in
September 2011. Concern arose immediately regarding the release of information
on how to create deadly, transmissible viruses; were such experiments providing a
"blueprint" for the creation of a new biological weapon? Additionally, were adequate
biocontainment practices in place to ensure against the accidental release of the
mutated viruses from the laboratory? In an unprecedented action, the National
Science Advisory Board for Biosecurity (NSABB) asked the scientific journals that
had agreed to publish the work to remove certain details from the papers. The
NSABB cited a risk of bioterrorism when defending their decision. This resulted in a
delay in the publication of the papers and a voluntary year-long moratorium on such
research. Ultimately, however, in March 2012, the NSABB reversed their decision,
and in June 2012 the papers were published in full. Though the NSABB reversed
their original request, and the voluntary moratorium is over, the issue of creating
deadly viruses is still controversial. The question remains: does the benefit of
examining the pandemic potential of deadly flu viruses and bolstering early
detection methods outweigh the risks of misuse of the information published from
such studies or the threat of accidental release?
Tahun 2011, sebuah kelompok yang dipimpin oleh Dr. Ron Fouchier dari
Erasmus Medical Center di Belanda menggunakan teknologi DNA
rekombinan secara artifisial untuk memperkenalkan mutasi pada virus

H5N1 flu burung yang membuat virus mudah menular dari manusia ke
manusia. Saat ini, "flu burung" hanya menginfeksi manusia yang telah
kontak langsung dengan host hewan. Namun, ada kemungkinan bahwa
virus secara alami bisa bermutasi menjadi bentuk yang akan
memungkinkan transmisi dari manusia ke manusia, yang mengarah ke
pandemik. Dengan demikian, beberapa ilmuwan percaya bahwa penting
untuk mempelajari genetika transmisi H5N1 untuk memantau strain
bermutasi di alam liar dan lebih baik mempersiapkan diri untuk mengobati
wabah di masa depan. Dr. Fouchier dan rekan-rekannya menemukan
bahwa hanya lima mutasi yang diperlukan untuk memungkinkan transmisi
melalui udara oleh virus diantara musang (organisme model yang
digunakan untuk mempelajari penularan virus pada manusia). Sebelum
publikasi, Dr. Fouchier mempresentasikan penemuannya pada sebuah
konferensi di September 2011. Kekawatiran muncul segera mengenai
pemberian informasi tentang mematikannya, virus yang mudah menular,
karena penelitian tersebut seperti memberikan "cetak biru" dari
pembuatan senjata biologi yang baru? Selain itu, apa biocontainment dari
praktek di tempat tersebut memadai untuk memastikan virus yang
bermutasi dari laboratorium tidak keluar secara sengaja? Dalam tindakan
yang belum pernah terjadi sebelumnya, Dewan Penasehat Sains Nasional
Biosecurity (NSABB) meminta jurnal ilmiah yang telah disetujui untuk
mempublikasikan pekerjaan untuk menghapus rincian tertentu dari jurnal
tersebut. NSABB menerima risiko bioterorisme ketika membela keputusan
mereka. Hal ini mengakibatkan keterlambatan dalam penerbitan paper
tersebut dan voluntary year-long moratorium pada penelitian tersebut.
Pada akhirnya, NSABB dengan keputusan mereka, pada bulan Juni 2012
paper itu dipublikasikan secara penuh. Meskipun begitu, NSABB dibalik
permintaan asli mereka, dan voluntary moratorium is over, isu
menciptakan virus mematikan ini masih kontroversial.
The question remains:
does the benefit of examining the pandemic potential of deadly flu viruses and
bolstering early detection methods outweigh the risks of misuse of the information
published from such studies or the threat of accidental release? Apakah manfaat
meneliti potensi wabah pandemic dari virus flu yang mematikan dan menunjang
metode deteksi dini dari penyalahgunaan informasi dari publikasi dari kasus ini atau
cara wabah dari virus ini dimulai ?
Questions for discussion:
If you were a member of the National Science Advisory Board, would you
recommend publishing Dr.
Fouchier's study or other such work? Jika kalian ada bagian dari National Science
Advisory Board, apakah kalian akan merekomendasikan publikasi dari studi Dr.
Fouchier atau penelitian yang memiliki tema yang sama.