You are on page 1of 9

6

Motivasi dan Minat

1.

Motivasi

1.2.
Definisi motivasi
Motivasi adalah proses psikologis yang mendasar dan merupakan salah satu unsur
yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Motivasi berasal dari kata movere
dalam bahasa latin yang berarti bergerak atau menggerakkan. Menurut
beberapa ahli, motivasi didefinisikan sebagai berikut :
Hamzah B. Uno (2007) mengatakan bahwa motivasi adalah dorongan dasar
yang menggerakkan tingkah laku seseorang. Dorongan ini berada pada diri
seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan
dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang didasarkan
atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang
mendasarinya.
Christine Harvey (1996) mengatakan bahwa motivasi adalah komoditi yang
sangat dibutuhkan oleh semua orang.
Thomas L. Good dan Jere E. Brophy (1990) mengatakan bahwa motivasi
sebagai konstruk hipotesis yang digunakan untuk menjelaskan keinginan, arah,
intensitas, dan keajegan perilaku yang diarahkan oleh tujuan.
Don Hellriegel dan Jhon W. Slocum (1979) mengatakan bahwa motivasi adalah
proses psikologis yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Perilaku
hakikatnya merupakan orientasi pada satu tujuan. Dengan kata lain, perilaku
seseorang dirancang untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut
diperlukan proses interaksi dari beberapa unsur. Dengan demikian, motivasi
merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk
mencapai tujuan.
1.2. Teori-teori Motivasi
Menutut Lau dan Shani (1992) dalam Zuhdi (2006), terdapat dua pendekatan
umum dalam mempelajari motivasi, yaitu teori isi dan teori proses.
1.2.1. Teori Isi
Menurut Lau dan Shani, teori isi adalah teori yang menjelaskan mengenai profil
kebutuhan yang dimiliki seseorang. Teori ini berusaha mengidentifikasikan faktorfaktor yang dapat meningkatkan motivasi kerja. Teori isi antara lain adalah Teori
Hirarki Kebutuhan, Teori E-R-G, Teori Dua Faktor, dan Teori Tiga Motif Sosial.
1.2.1.1. Teori Hirarki Kebutuhan
Teori ini dikembangkan oleh Maslow (1943). Maslow membagi kebutuhan
manusia menjadi lima kebutuhan :

7
1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
Merupakan kebutuhan pada tingkat yang paling bawah. Kebutuhan ini
merupakan salah satu dorongan yang kuat pada diri manusia, karena
merupakan kebutuhan untuk mempertahankanhidupnya. Contoh kebutuhan ini
antara lain kebutuhan akan makanan dan tempat berteduh.
2. Kebutuhan akan Rasa Aman (Security Needs)
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat kedua. Seseorang mempunyai
harapan untuk dapat memenuhi standar hidup yang dianggapnya wajar. Bila
mereka sudah memenuhi taraf hidup standar tersebut, mereka membutuhkan
jaminan bahwa mereka sekurang-kurangnya akan tetap berada pada taraf
tersebut.
3. Kebutuhan Sosial (Social Needs)
Kebutuhan sosial ini sering juga disebut kebutuhan untuk dicintai dan
mencintai, atau kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok tertentu.
Contoh dari kebutuhan ini antara lain kebutuhan untuk diterima di lingkungan
sosial tertentu.
4. Kebutuhan akan Harga Diri atau Martabat (Esteem Needs)
Kebutuhan pada tingkat keempat adalah kebutuhan akan harga diri atau
martabat. Termasuk juga kebutuhan akan status dan penghargaan. Seseorang
mempunyai kecenderungan untuk dipandang bahwa mereka adalah penting,
bahwa apa yang mereka lakukan ada artinya, bahwa mereka mempunyai
kontribusi pada lingkungan sekitarnya.
5. Kebutuhan untuk Mewujudkan Diri (Self Actualization Needs)
Kebutuhan ini merupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi. Kebutuhan ini
antara lain perasaan bahwa pekerjaan yang dilakukannya adalah penting, dan
ada keberhasilan atau prestasi yang ingin dicapai.
Teori kebutuhan manusia ini disebut Teori Hirarki Kebutuhan, karena menurut
Maslow (1943), kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut muncul dalam hirarki
yang berbeda. Kebutuhan pertama yang muncul adalah kebutuhan fisiologis.
Sebelum kebutuhan ini terpenuhi maka kebutuhan yang lebih tinggi (kebutuhan
akan rasa aman) tidak akan muncul.
Meskipun demikian, hirarki kebutuhan ini bersifat mekanikal dan kronologikal.
Artinya kebutuhan akan rasa aman tidak muncul tiba-tiba setelah kebutuhan
fisiologis sepenuhnya terpuaskan. Setelah suatu jenis kebutuhan cukup terpenuhi,
mungkin akan muncul tingkat kebutuhan berikutnya.

8
1.2.1.2. Teori E-R-G
Teori ini dikembangkan oleh Alderfer (1969) dalam Zuhdi (2006). Menurut
Alderfer, ada tiga kebutuhan yang mendasari tingkah laku manusia. Kebutuhankebutuhan tersebut adalah :
1. Existence (E)
Kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidupnya. Kebutuhan ini sama
dengan kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman dalam teori hirarki
kebutuhan dari Maslow.
2. Relatedness (R)
Kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan manusia lain. Dalam teori
hirarki kebutuhan dari Maslow, kebutuhan ini digolongkan sebagai kebutuhan
sosial.
3. Growth (G)
Kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang. Kebutuhan ini berkaitan dengan
kebutuhan akan harga diri dan perwujudan diri dari teori hirarki kebutuhan
Maslow.

1.2.1.3. Teori Dua Faktor


Teori ini dikembangkan oleh Herzberg (1966) dalam Arty (2003), yang
berpendapat bahwa faktor-faktor penyebab tercapainya kepuasan kerja berbeda
dengan faktor-faktor penyebab terjadinya ketidakpuasan kerja. Faktor-faktor
penyebab kepuasn kerja disebut faktor motivators, sedangkan faktor-faktor
penyebab ketidakpuasan kerja disebut sebagai faktor hygiene.
Beberapa konsep yang disusun oleh Herzberg (1966) adalah :
1. Ada dua dimensi yang berbeda dalam motivasi, yaitu faktor-faktor yang dapat
menyebabkan kepuasan, dan faktor-faktor yang dapat menyebabkan
2. ketidakpuasan. Jadi kepuasan dan ketidakpuasan tidak berada pada suatu
kontinum yang sama.
3. Faktor hygiene yang berkaitan dengan ketidakpuasan kerja disebut juga
dissatisfer. Faktor-faktor ini tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan
melainkan dengan konteks pekerjaan (job context).
4. Faktor motivators yang berkaitan dengan kepuasan kerja disebut juga satisfer.
Faktor-faktor ini berkaitan langsung dengan pekerjaan. Sehingga penggunaan
konsep ini lebih umum digunakan di tempat pekerjaan.

9
Faktor-faktor yang termasuk dalam faktor hygiene dan motivator dapat dilihat
pada tabel
Tabel 2.1. Faktor-faktor Hygiene dan Motivators

Faktor Hygiene
Gaji
Rasa Aman
Status
Kondisi Lingkungan Kerja
Hubungan dengan pengawas
Kebijakan perusahaan
Hubungan dengan rekan kerja

Faktor Motivators
Prestasi
Pengakuan (recognition)
Tanggung jawab
Pekerjaan menantang
Kemajuan (advancement)
Keterlibatan (involvement)

Hubungan antara faktor hygiene dan faktor motivators dapat dilihat pada tabel 2.2.
Tabel 2.2. Hubungan antara faktor Hygiene dan Motivators

Apabila tidak ada


Apabila ada

Faktor Hygiene
Muncul ketidakpuasan kerja
Tidak ada ketidakpuasan kerja

Faktor Motivators
Tidak ada kepuasan kerja
Muncul kepuasan kerja

Herzberg (1966) juga menilai ada kelompok individu yang berada dalam hal
kepuasan kerjanya, yaitu :
1. Motivators Oriented, yaitu individu yang sangat termotivasi oleh sifat-sifat dari
pekerjaan, dan mempunyai toleransi yang besar terhadap faktor lingkungan
kerja yang kurang baik.
2. Hygiene Oriented, yaitu individu yang sangat termotivasi oleh keadaan
lingkungan kerjanya, dan hanya mendapat kepuasan yang sedikit dari
keberhasilannya dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
1.2.1.4. Teori Tiga Motif Sosial
Menurut McClelland (1961) dalam Zuhdi (2006), ada tiga jenis motif sosial.
a. Motif Prestasi (Achievement Motive)
Motif prestasi adalah keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu lebih baik
daripada orang lain. Ciri-ciri seseorang yang mempunyai motif prestasi tinggi
adalah :
Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatannya.
Mencari umpan balik (feed back) tentang perbuatannya.
Memilih resiko yang moderat dalam perbuatanya.

10
Berusaha untuk melakukan sesuatu dengan cara yang baru.
b. Motif Afiliasi (Affiliation Motive)
Motif afiliasi adalah keinginan seseorang untuk menjalin dan mempertahankan
hubungan yang baik dengan orang lain. Ciri-ciri seseorang yang mempunyai motif
afiliasi tinggi adalah :
Lebih suka berada bersama dengan orang lain.
Sering berhubungan dengan orang lain.
Lebih memperhatikan segi hubungan pribadi yang ada dalam pekerjaan.
Melakukan pekerjaan secara lebih efektif jika bekerja sama dengan orang
lain.
c. Motif Kekuasaan (Power Motive)
Motif kekuasaan adalah keinginan untuk mengendalikan, mempengaruhi tingkah
laku, dan bertanggung jawab untuk orang lain.
Ciri-ciri seseorang yang mempunyai motif kekeuasaan tinggi adalah :
Aktif dalam menetukan arah kegiatan organisasinya.
Peka terhadap struktur pengaruh antar pribadi dalam organisasi.
Menyukai hal-hal yang dapat menunjukkan status.
Berusaha menolong orang lain tanpa diminta.
1.2.2. Teori Proses
Teori proses menjelaskan proses melalui dimana munculnya hasrat seseorang
untuk menampilkan tingkah laku tertentu. Teori ini berkaitan dengan identifikasi
variabel dalam motivasi dan bagaimana variabel-variabel tersebut saling
berkaitan. Beberapa teori proses antara lain Teori Keadilan dan Teori Ekspektansi.
1.2.2.1. Teori Keadilan
Teori ini dikembangkan oleh Adams (1965), dan disebut juga sebagai Teori
Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory). Teori ini menyatakan bahwa
manusia menyukai perlakuan yang adil. Manusia akan termotivasi untuk bekerja
dengan baik, bila mereka merasa diperlakukan dengan adil. Keadilan dinilai
dengan membandingkan antara apa yang didapat oleh orang lain dengan upaya
yang diberikan oleh orang lain tersebut. Bila seseorang merasakan adanya
ketidakadilan, baik secara positif maupun negatif, maka keadaan ini akan
mendorong orang tersebut untuk menampilkan tingkah laku tertentu.
1.2.2.2. Teori Ekspektansi (Expectancy Theory)
Menurut teori yang dikembangkan oleh Vroom (1964) ini, besar atau kecilnya
usaha kerja yang diperlihatkan oleh seseorang, tergantung pada bagaimana orang
tersebut memandang kemungkinan keberhasilan dari tingkah lakunya itu dalam

11
mencapai atau menghindari suatu tujuan yang mempunyai nilai positif atau
negatif baginya.
Elemen-elemen dari teori Ekpektansi adalah sebagai berikut :
1. Ekspectancy (E)
Menunjukkan probabilitas bahwa suatu usaha (effort) akan memberikan hasil
(performance) tertentu. Besarnya probabilitas ini antara 0 dan 1.
2. Instrumentality (I)
Menunujukkan probabilitas bahwa tercapainya hasil (performance) tertentu
akan memeberikan keluaran (outcome) tertentu. Besarnya probabilitas ini
antara 0 dan 1.
3. Valence (V)
Menunjukkan nilai dari suatu keluaran (outcome) yang ingin atau tidak ingin
dicapai oleh seseorang. Nilai probabilitas ini berkisar antara -1 dan 1.
Rumus untuk menghitung besarnya motivasi seseorang adalah:
M = E x I x V.(2.1)
dimana:
M : Motivation
E : Ekspectancy
I : Instrumentality
V : Valence

12
2.2. Minat
2.2.1 Pengertian Minat
Minat adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai perhatian terhadap
sesuatu dan disertai keinginan untuk mengetahui dan mempelajari maupun
membuktikan lebih lanjut Bimo Walgito (1981: 38). Dalam belajar diperlukan
suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami. Sehingga
siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan.
Terjadilah suatu perubahan kelakuan. Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh
pribadi siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif.
W. S Winkel mengatakan bahwa minat adalah kecenderungan yang agak
menetap untuk merasa tertarik pada bidang-bidang tertentu dan merasa senang
berkecimpung dalam bidang itu (1983 : 38), sedangkan menurut Witherington
(1985 : 38) minat adalah kesadaran seseorang terhadap suatu objek, seseorang,
suatu soal atau situasi tertentu yang mengadung sangkut paut dengan dirinya
atau dipandang sebagai sesuatu yang sadar.
Faktor-faktor
yang
mendasari
minat
menurut
Crow&Crow yang
diterjemahkan oleh Z. Kasijan (1984 : 4) yaitu factor dorongan daridalam,
faktor dorongan yang bersifat sosial dan faktor yang berhubungan dengan
emosional. Faktor dari dalam dapat berupa kebutuhan yang berhubungan
dengan jasmani dan kejiwaan. Timbulnya minat dari diri seseorang juga
dapat didorong oleh adanya motivasi sosial yaitu mendapatkan pengakuan dan
penghargaan dari lingkungan masyarakat dimana seseorang berada sedangkan
faktor emosional memperlihatkan ukuran intensitas seseorang dalam menanam
perhatian terhadap suatu kegiatan atau obyek tertentu.
Sedangkan menurut Sumadi Suryabrata (2002:68) definisi minat adalah Suatu
rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang
menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan
antara diri sendiri dengan sesuatu hal diluar dirinya. Semakin kuat atau dekat
hubungan tersebut semakin besar minatnya.
Minat dapat diartikan sebagai Kecenderungan yang tinggi terhadap sesuatu,
tertarik, perhatian, gairah dan keinginan. Pendapat lain tentang pengertian
minat yaitu yang diungkapkan oleh T. Albertus yang diterjemahkan Sardiman
A.M, minat adalah Kesadaran seseorang bahwa suatu obyek, seseorang,
suatu soal maupun situasi yang mengandung sangkut paut dengan dirinya
(2006:32).

13

Menurut Hilgard yang dikutip oleh Slameto (2003:57) minat adalah


Kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa
kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang
diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. Sedangkan
menurut Holland yang dikutip oleh Djaali (2007:122) mengatakan bahwa Minat
adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.
Oleh karena itu minat merupakan aspek psikis yang dimiliki seseorang yang
menimbulkan rasa suka atau tertarik terhadap sesuatu dan mampu
mempengaruhi tindakan orang tersebut. Minat mempunyai hubungan yang erat
dengan dorongan dalam diri individu yang kemudian menimbulkan keinginan
untuk berpartisipasi atau terlibat pada suatu yang diminatinya. Seseorang
yang berminat pada suatu obyek maka akan cenderung merasa senang bila
berkecimpung
di dalam obyek tersebut sehingga cenderung akan
memperhatikan perhatian yang besar terhadap obyek. Perhatian yang diberikan
tersebut dapat diwujudkan dengan rasa ingin tahu dan mempelajari obyek
tersebut.
Untuk meningkatkan minat, maka proses pembelajaran dapat dilakukan
dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa yang ada di lingkungan
secara berkelompok. Di dalam kelompok tersebut terjadi suatu interaksi antar
siswa yang juga dapat menumbuhkan minat terhadap kegiatan tersebut.
2.2.2. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Minat
Minat pada seseorang akan suatu obyek atau hal tertentu tidak akan muncul
dengan sendirinya secara tiba-tiba dalam diri individu.
Minat dapat timbul pada diri seseorang melalui proses. Dengan adanya perhatian
dan interaksi dengan lingkungan maka minat tersebut dapat berkembang.
Banyak faktor yang mempengaruhi minat seseorang akan hal tertentu.
Miflen, FJ & Miflen FC, (2003:114) mengemukakan ada dua faktor yang
mempengaruhi minat belajar peserta didik, yaitu :
1. Faktor dari dalam yaitu sifat pembawaan
2. Faktor dari luar, diantaranya adalah keluarga, sekolah dan masyarakat
atau lingkungan.

14

Menurut Crow and Crow yang dikutip (Dimyati Mahmud, 2001:56) yang
menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang mendasari timbulnya minat seseorang
yaitu :
1. Faktor dorongan yang berasal dari dalam. Kebutuhan ini dapat berupa
kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani dan kejiwaan.
2. Faktor motif sosial. Timbulnya minat dari seseorang dapat didorong dari motif
sosial yaitu kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan dan lingkungan dimana
mereka berada.
3. Faktor emosional. Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang dalam
menaruh perhatian terhadap sesuatu kegiatan atau obyek tertentu.
Menurut Johanes yang dikutip oleh Bimo Walgito (1999:35), menyatakan
bahwa Minat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu minat intrinsik dan
ektrinsik. Minat intrinsik adalah minat yang timbulnya dari dalam individu
sendiri tanpa pengaruh dari luar. Minat ekstrinsik adalah minat yang timbul
karena pengaruh dari luar. Berdasarkan pendapat ini maka minat intrinsik dapat
timbul karena pengaruh sikap. Persepsi, prestasi belajar, bakat, jenis kelamin dan
termasuk juga harapan bekerja. Sedangkan minat ekstrinsik dapat timbul karena
pengaruh latar belakang status sosial ekonomi orang tua, minat orang tua,
informasi, lingkungan dan sebagainya.