You are on page 1of 10

LAPORAN EKSKURSI LAPANGAN

MATRIKULASI PROGRAM MAGISTER FAKULTAS GEOGRAFI UGM

OLEH

RIZKI ADRIADI GHIFFARI


(1605103327)

Program Magister Perencanaan dan Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS)
Fakultas Geografi - Universitas Gadjah Mada
2016

Lokasi I: Vulkanik Plain di Kabupaten Bantul

Di lokasi ini merupakan lokasi awal perjalanan ekskursi lapangan. Disini Tim Dosen yang mendampingi
menjelaskan mengenai pendekatan geografi, asal proses bentang alam dan sistem sosial dalam geografi.
Berikut ini adalah rincian materi yang disampaikan.
Pendekatan Geografi
Geografi mempelajari suatu sistem alam yang terdiri atas bagian-bagian yang saling terkait. Aliran energi
dalam suatu sistem menghasilkan perubahan. Perubahan yang berkesinambungan akan menghasilkan
suatu bentuk keseimbangan sistem. Suatu sistem terdiri dari tiga bagian berbeda, input, output dan
komponen. Pada sistem yang berfungsi baik, seluruh komponen harus tersambung bersama. Planet Bumi
yang mempunyai banyak komponen dapat dilihat sebagai sistem yang kompleks dan sangat besar. Di
dalam sistem Bumi, input adalah energi yang datang dari Matahari dan juga energi yang berasal dari dalam
Bumi, seperti tenaga tektonik. Output adalah perubahan konstan yang dapat dilihat di sekitar kita dalam
lingkungan fisik dan manusia, seperti panas serta hujan.
Sistem Bumi memang suatu sistem yang kompleks, sehingga cara terbaik untuk mempelajarinya dengan
memahami setiap komponen komponennya dengan berbagai pendekatan dalam geografi. Inilah geografi
dari sudut pendekatan sistem. Pendekatan ini terus mengalami perkembangan hingga masa geografi
modern. Dalam geografi modern yang dikenal dengan geografi terpadu (Integrated Geography) digunakan
tiga pendekatan atau hampiran. Ketiga pendekatan tersebut, yaitu analisis keruangan, kelingkungan atau
ekologi, dan kompleks wilayah.
Asal Proses Bentang Alam

asal proses vulkanik

Merupakan kelompok besar satuan bentuk lahan yang terjadi akibat aktivitas gunung api. Volkanisme
adalah berbagai fenomena yang berkaitan dengan gerakan magma yang bergerak naik ke permukaan
bumi. Akibat dari proses ini terjadi berbagai bentuk lahan yang secara umum disebut bentuk lahan
gunungapi atau vulkanik. Satuan geomorfologi dari bentukan ini ada 10 macam, yaitu kerucut vulkanik,
lereng vulkanik, kaki vulkanik, dataran vulkanik, padang lava, padang lahar, dataran antar vulkanik, bukit
vulkanik terdenudasi, boka, dan kerucut parasiter.

asal proses struktural

Merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur
geologis. Bentuk lahan struktural terbentuk karena adanya proses endogen atau proses tektonik, yang

berupa pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran. Gaya (tektonik) ini bersifat konstruktif (membangun),
dan pada awalnya hampir semua bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh kontrol struktural. Bentukan
ini dihasilkan dari struktur geologi. Terdapat dua tipe utama struktur geologi yang memberikan kontrol
terhadap geomorfologi yaitu (1) struktur aktif yang menghasilkan bentukan baru, dan (2) struktur tidak
aktif yang merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh perbedaan erosi masa lalu. Satuan geomorfologi
dari bentukan ini ada 13 macam, yaitu blok pegunungan patahan, blok perbukitan patahan, pegunungan
antiklinal, perbukitan antiklinal, pegunungan sinklinal, perbukitan sinklinal, pegunungan monoklinal,
perbukitan monoklinal, pegunungan kubah, perbukitan kubah, dataran tinggi, lembah sinklinal, dan
sembul.

asal proses fluvial

Merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas sungai. Bentuklahan asal
proses fluvial terbentuk akibat aktivitas aliran sungai yang berupa pengikisan, pengangkutan dan
pengendapan (sedimentasi) membentuk bentukan-bentukan deposisional yang berupa bentangan
dataran aluvial (fda) dan bentukan lain dengan struktur horisontal, tersusun oleh material sedimen
berbutir halus. Dataran banjir, rawa belakang, teras sungai, dan tanggul alam merupakan contoh-contoh
satuan bentuklahan ini.

asal proses solusional

Bentuklahan asal solusional atau pelarutan dikenal juga dengan istilah karst. Bentuklahan karst termasuk
bentuk bentuklahan yang penting, dan banyak pula ditemukan di indonesia.Bentang alam ini terutama
memperlihatkan lubang-lubang, membulat atau memanjang, gua-gua dan bukit-bukit yang berbentuk
kerucut. Bentuklahan karst terbentuk karena batuan muda dilarutkan dalam air dan membentuk lubanglubang. Bentangalam ini terutama terjadi pada wilayah yangtersusun oleh batugamping yang mudah larut,
dan batuan dolomit atau gamping dolomitan. Akibat pelarutan yang memegang peranan utama, maka air
sangat penting artinya. Bentuk lahan asal solutional merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang
terjadi akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut, seperti batu gamping dan dolomite, karst
menara, karst kerucut, doline, uvala, polye, goa karst, dan logva, merupakan contoh-contoh bentuklahan
ini.

asal proses denudasional

Merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses degradasi seperti longsor dan
erosi. Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses pelapukan gerakan tanah
erosi dan kemudian diakhiri proses pengendapan. Semua proses pada batuan baik secara fisik maupun
kimia dan biologi sehingga batuan menjadi desintegrasi dan dekomposisi. Bentukan ini terbentuk oleh
proses gradasi yang di dalamnya terdapat dua proses yaitu (1) proses agradasi, dan (2) proses degradasi.
Proses agradasi adalah berbagai proses sedimentasi dan pembentukan lahan baru sebagai material
endapan dari proses degradasi. Sedangkan proses degradasi adalah proses hilangnya lapisan-lapisan dari
permukaan bumi. Psoses degradasi adalah proses yang paling dominan yang terjadi. Satuan geomorfologi
dari bentukan ini ada 8 macam, yaitu pegunungan terkikis, perbukitan terkikis, bukit sisa, bukit terisolasi,
dataran nyaris, lereng kaki, pegunungan/ perbukitan dengan gerakan masa batuan, dan lahan rusak.

asal proses eolin

Merupakan kelompok besar satuan bentuk lahan yang terjadi akibat proses angin. Bentuklahan asal
proses eolin dapat terbentuk dengan baik jika memiliki persyaratan: (1) Tersedia material berukuran pasir
halus hingga pasir kasar dengan jumlah yang banyak, (2) Adanya periode kering yang panjang dan tegas,
(3) Adanya angin yang mampu mengangkut dan mengendapkan bahan pasir tersebut, dan (4) Gerakan
angin tidak banyak terhalang oleh vegetasi maupun objek yang lain. Endapan oleh angin terbentuk oleh
adanya pengikisan, pengangkutan dan pengendapan bahan-bahan tidak kompak oleh angin. Pada
hakekatnya bentuk lahan asal proses eolin dapat dibagi menjadi 3, yaitu: Erosional, Deposisional, dan
Residual. Satuan bentuk lahan ini antara lain: gumuk pasir barchan, parallel, parabolik, bintang, lidah, dan
transversal.

asal proses marine

Merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses laut oleh tenaga gelombang,
arus, dan pasang-surut. Aktifitas marine yang utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut, dan
pertemuan terumbu karang. Bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktifitas marine berada di kawasan pesisir
yang terhampar sejajar garis pantai. Pengaruh marine dapat mencapai puluhan kilometer ke arah darat,
tetapi terkadang hanya beberapa ratus meter saja. Sejauh mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi,
dan pertumbuhan terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya. Proses lain yang sering
mempengaruhi kawasan pesisir lainnya, misalnya: tektonik masa lalu, berupa gunung api, perubahan
muka air laut (transgresi/regresi) dan litologi penyusun.

asal proses glasial

Merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses gerakan es (gletser). Contoh
satuan bentuklahan ini antara lain lembah menggantung dan morine. Bentukan ini tidak berkembang di
indonesia yang beriklim tropis ini, kecuali sedikit di puncak gunung jaya wijaya, papua. Bentuk lahan asal
glasial dihasilkan oleh aktifitas es/gletser yang menghasilkan suatu bentang alam.

asal proses organik

Merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat aktivitas organisme
(flora dan fauna). Contoh satuan bentuklahan ini adalah mangrove dan terumbu karang. Bentukan ini
terjadi di dalam lingkungan laut oleh aktivitas organisme endapan batu gamping cangkang dengan
struktur tegar yang tahan terhadap pengaruh gelombang laut pada ekosistem bahari.

Asal proses antropogenik

Merupakan proses terbentuknya bentang alam akibat aktivitas manusia, seperti pembangunan kota dan
lahan pertanian.
Sistem Sosial
Secara pendekatan geografi, sistem sosial dipengaruhi oleh populasi, teknologi, pengetahuan, moral dan
organisasi atau kelompok sosial. Dalam proses perubahan bentang alam yang disebabkan oleh manusia
(antropogenik), dilakukan perubahan-perubahan penggunaan lahan yang berdampak pada perubahan
sistem sosial setempat. Contohnya adalah tekanan penduduk yang kemudian menyebabkan
terkonversinya lahan pertanian menjadi lahan permukiman. Padahal petani minimal harus memiliki luas
lahan 0,6 Ha (Petani Lahan Basah) atau 0,75 Ha (Petani Lahan Kering), sebagai standar hidup layak sebagi
seorang petani.

Lokasi II: Gumuk Pasir Barchan Di Pesisir Parangtritis

Lokasi kedua eksursi lapangan, ditempuh melalui perjalanan darat sejauh 11,1 Km selama 17 menit.
Gumuk Pasir Barchan merupakan tempat yang unik, karena merupakan satu-satunya gumuk pasir yang
berpola barchan di Indonesia, dan lokasi sejenis, yakni gumuk pasir barchan di wilayah pesisir, hanya ada
di 3 lokasi di seluruh dunia, yaitu Indonesia, Brazil dan Afrika Selatan.
Di lokasi ini, tim dosen pendamping menjelaskan mengenai sumberdaya air, jenis-jenis pantai, proses
terbentuknya gumuk pasir dan potensi masalah dari bentang alam ini.
Sumberdaya Air
Siklus air tidak pernah terbalik, selalu melalui terbentuknya hujan di kawasan dengan curah hujan tinggi
(biasanya daerah pegunungan), air akan masuk pada celah-celah batuan atau meresap dari tanah dan
mengalir melalui sistem air tanah hingga dapat dimanfaatkan pada kawasan pemanfaatan air tanah.
Wilayah Provinsi DIY memiliki sistem sumberdaya air yang terbentang dari zona tangkapan air di sekitar
gunung merapi, Kabupaten Sleman, hingga zona pemanfaatan air tanah di Kota Yogyakarta dan
Kabupaten Bantul. Sementara kawasan gumuk pasir barchan memiliki sistem sumberdaya air yang
terpisah.
Kota Yogyakarta merupakan kawasan dengan cadangan air tanah (aquifer) terbesar dibandingkan
kawasan lainnya. Hal ini disebabkan lokasinya yang strategis, pada lembah yang relative datar yang tidak
terlalu jauh dari zona tangkapan air di wilayah pegunungan. Juga oleh jenis tanah lempung yang memilki
sifat aquitats (hampir kedap air) yang dapat menahan air tetap pada celah bebatuan dan pasir di bawah
tanah sebagai cadangan air tanah.
Hal berbeda dialami oleh kawasan dengan jenis tanah berpasir di permukaannya, seperti di pesisir
parangtritis. Pada kawasan tersebut, air hujan yang jatuh akan langsung masuk dengan cepat ke dalam
pasir secara gravitasi dan membuat permukaan pasir tetap kering, dan tidak subur. Air tanah tersebut
akan bertahan di dalam pasir sampai akhirnya menguap kembali secara lebih cepat dibanding pada tanah
lempung/liat.
Jenis-Jenis Pantai
Pesisir adalah zona hasil proses gelombang (daerah pasang surut air laut). Secara geografi, lingkungan
pesisir disebut dengan shore, bukan beach. Karena beach/pantai hanyalah salah satu jenis pesisir. Pantai
dibedakan atas beberapa macam, yaitu:

Beach: pesisir pantai yang tersusun atas pasir pantai


Mud flat: pesisir pantai yang tersusun atas dataran lumpur, umumnya terdapat pada muara sungai
Mangrove: pesisir pantai yang ditutupi oleh hutan tanaman mangrove
Platform: pantai yang dibentuk anjungan lepas pantai
Reef Flat: pesisir pantai yang komponen utama datarannya berasal dari hancuran terumbu karang
Cliff: berupa pesisir pantai yang terdiri dari tebing-tebing terjal
Gisik: bentuk tebing terjal yang terbuat dari sedimen yang membentang sejajar garis pantai.

Proses Terbentuknya Gumuk Pasir Barchan

Gumuk pasir barchan di pesisir parangtritis terbentuk akibat proses eolian. Dimulai dari erupsi gunung
merapi, sehingga material pasir hasil letusan terbawa oleh aliran sungai opak ke muaranya di wilayah
pantai parangtrirtis. Kemudian pada musim kemarau, angin bertiup kencang dari laut ke daratan, dan
membawa terbang material pasir ke wilayah pesisir parangtritis, namun dalam perjalanannya, angin
terhalang oleh tebing karst dan akhirnya jatuh dan terbentuklah gumuk pasir tipe barchan di pesisir
parangtritis.
Potensi dan Masalah di Kawasan Gumuk Pasir
Gumuk pasir di pesisir parangtritis merupakan peredam gelombang laut dan tsunami, karena memiliki
sifat penyerap air paling cepat dibandingkan tanah. Potensi lainnya yakni pada musim kemarau, gumuk
pasir barchan memiliki uliran yang indah sehingga memiliki nilai jual di sector pariwisata.
Permasalahan yang dapat terjadi di gumuk pasir adalah sistem sumberdaya air yang buruk. Permukaan
tanah tidak subur untuk kegiatan pertanian, permukiman yang didirikan di kawasan ini pun akan kesulitan
air jika berharap pada air tanah. Masalah lainnya adalah pada sistem drainase dan pembuangan limbah.
Pasir memiliki sifat yang lebih buruk dari tanah lempung dalam hal menyaring air yang meresap
didalamnya. Sehingga pada kawasan ini, sumber air dapat dengan mudah tercemar apabila berdekatan
dengan sistem drainase dan limbah.

Lokasi III: Kawasan Perbukitan Karst di Gunung Kidul

Pada lokasi ketiga ini berada di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya di pinggir sebuah telaga pada kawasan
perbukitan Karst yang relatif gersang. Disini tim dosen pendamping mejelaskan mengenai bentang alam
karst, kondisi air tanahnya dan kondisi penduduknya.
Bentang Alam Karst
Karst yang terbentuk di Gunung Kidul berasal dari perbukitan yang tersusun atas batu gamping (CaCO3),
yang merupakan hasil metamorphosis dari terumbu karang. Syarat terbentuknya karst adalah: terdapat
batuan yang soluable (mudah lapuk), curah hujan harus tinggi, dan dekat garis khatulistiwa. Kandungan
CO2 di atmosfir dan di akar tumbuhan, akan menjadi katalis (mempercepat proses) terbentuknya karst.
Berikut ini adalah bagian-bagian dari bentang alam karst.

Kondisi Air Tanah di Perbukitan Karst

Tidak terdapat aliran sungai terbuka di kawasan karst. Air hujan yang jatuh akan langsung masuk melalui
celah celah batuan karst dan menuju ke gua-gua di bawah tanah dan air tersebut akan menetes,
membantu pembentukan stalagtit dan stalagnit dan akhirnya mengalir melalui sistem sungai bawah
tanah. Aliran air ini akan muncul sebagai mata air di permukaan tanah pada bagian bawah tebing karst
yang berbatasan dengan jenis tanah lempung. Mata air ini disebut resungion.
Akibat dari proses mengalirnya air hujan di celah celah batuan, terjadi proses pelarutan batu gamping,
dan terbentuklah bukit dan lembah karst. Dan jika berlangsung terus menerus, akan terbentuk sebuah
cekungan yang tertutupi celah batuannya, sehingga air mengumpul dan terbentuklah telaga karst.
Kondisi Penduduk Kawasan Karst
Akibat kondisi permukaan karst yang kurang subur, vegetasi yang dapat tumbuh pun terbatas, hanya
tanaman tahunan. Apabila terdapat aktivitas pertanian, hasilnya akan lebih rendah produktivitasnya
dibandingkan dengan tanaman sejenis yang ditanami di dataran alluvial. Kondisi ini mempengaruhi
masyarakat yang tinggal, menjadi cenderung miskin dibandingkan wilayah lainnya. Belum lagi masalah
kekeringan, karena sumber air di kawasan karst tersimpan jauh dibawah permukaan batuan yang keras.
Kondisi ini kemudian membuat masyarakat yang bermukim di kawasan karst terlatih menjadi manusia
yang tangguh. Beberapa dari penduduk di kawasan ini ada yang melakukan migrasi ke kota dan sukses
bekerja disana.
Lokasi IV: Gunung Api Purba Nglanggeran

Pada lokasi yang ke empat ini, bukan lagi tim dosen yang menjelaskan, tapi dari Guide lokasi Ekowisata
yang menjelaskan kepada kami seluk beluk mengenai Gunung Api Purba Nglanggeran yang konon
terbentuk sebelum adanya gunung merapi.
Gunung Api Purba Nglanggeran memiliki tinggi 700 mdpl, dan luas kawasan situsnya adalah 48 Ha. Bukti
letusan gunung api ini adalah penemuan endapan brexit di sekitar gunung api dengan kedalaman
mencapai 400 m.
Sejarah Terbentuknya Gunung Api Purba dari Sisi Geomorfologi
Dalam istilah morfologi, gunung api purba disebut Volcanic Remnant (sisa gunung api), yang terbentuk
dari gunung api mati yang telah mengalami proses denudasi. Proses terbentuknya dimulai dari proses
terbentuknya pulau jawa, akibat tabrakan dua lempeng tektonik, lempeng samudera indo-australia dan
lempeng benua Eurasia.

Lempeng samudera yang memiliki densitas atau massa jenis yang lebih tinggi mengalami subduksi atau
penunjaman. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi penyebab terbentuknya palung laut, pegunungan,
serta aktifitas vulkanik yang memunculkan bentukan gunung berapi. Sebagian material lempeng
samudera Indo-Australia mengalami pelelehan, mencair menjadi magma dan menciptakan jalur vulkanik
dalam posisi sejajar dengan poros panjang Pulau Jawa.
Inilah kelanjutan peristiwa yang menjadi bagian penting dari rangkaian sejarah terbentuknya Pulau Jawa,
ditandai dengan mulai terbentuk gugusan gunung api purba sebagai jalur vulkanik yang berjajar di bagian
selatan dan menjadi tulang punggung Pulau Jawa jutaan tahun yang lalu. dalam kurun waktu antara 36
hingga 10,2 juta tahun lalu ini (Kala Oligosen Akhir hingga Kala Miosen Awal), pada gugusan gunung api
purba di Pulau Jawa ini, diperkirakan telah terjadi rangkaian peristiwa vulkanisme yang teramat dahsyat.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penemuan singkapan lapisan batuan piroklastik serta ditemukannya
batupasir vulkanik yang sangat tebal sebagai hasil erupsi gunung berapi purba. Berdasarkan bukti-bukti
geologis yang ditemukan di sekitarnya, setidaknya telah dikenali dua gunung api purba yang di kalangan
ahli geologi dinamai berdasarkan lokasi penemuan bukti-bukti geologisnya, bukan berdasarkan letak titik
pusat aktifitas vulkaniknya. Kedua gunung api itu adalah Gunung Api Purba Semilir dan Gunung Api Purba
Nglanggeran.
Inilah masa-masa dimana gunung api purba mengalami kejayaannya di Pulau Jawa. Namun pada kisaran
16 hingga 2 juta tahun yang lalu (Kala Miosen Tengah hingga Pliosen Akhir) kegiatan magmatisme di
gugusan gunung api purba ini mulai jauh berkurang. Pada kisaran 12 juta tahun yang lalu (Kala Miosen
Tengah), mulailah terjadi pelandaian kemiringan penunjaman lempeng samudera Indo-Australia,
sehingga proses pelelehan yang menghasilkan magma ikut bergeser ke arah utara. Proses ini terus
berlanjut sampai sekitar 1,8 juta hingga 11.500 tahun yang lalu (Kala Pleistosen) dan masih tetap berlanjut
hingga saat ini (Kala Holosen), meninggalkan gugusan gunung api purba yang telah terbentuk sebelumnya
di sisi selatan Pulau Jawa.
Pergeseran jalur vulkanik yang mencapai jarak sekitar 50 hingga 100 kilometer ke arah utara ini, secara
otomatis telah menonaktifkan semua gunung berapi purba, karena suplai magma hasil pelelehan di
bawah permukaan bumi telah bergeser ke utara. Aktifitasnya gunung api purba seperti Nglanggeran,
Semilir dan kemungkinan pusat-pusat erupsi lainnya, berangsur-angsur mulai turun, bahkan bisa
dikatakan nyaris tak bersisa lagi. Kondisi Pulau Jawa pun menjadi relatif stabil, meskipun kegiatan
magmatisme tetap terpelihara oleh alam, bergeser ke sebelah utara. Posisi gunung Nglanggeran pun
digantikan oleh Gunung Merapi hingga saat ini.

Profil Fisik, Sosial dan Budaya di Situs Gunung Api Purba Nglanggeran
Secara fisik, kompleks gunung api purba nglanggeran tersusun atas batu-batu yang indah, hasil dari
pembekuan magma jutaan tahun yang lalu. Namun bebatuan tersebut mengalami pelapukan mengulit
bawang sehingga membuatnya rawan longsor menimpa apapun dibawahnya. Hal ini terbukti dengan
terdapat bongkahan-bongkahan batu besar yang memiliki kesamaan ciri dengan bebatuan yang terdapat
pada puncak Gunung Nglanggeran.
Secara sosial, masyarakat yang bermukim di sekitar situs ini mayoritas adalah petani. Hal ini dikarenakan
tanah vulkanik di sekitar situs sangat subur. Disini juga terdapat sebuah embung yang indah pada kawasan
yang tinggi dan berguna sebagai suplai air kawasan pertanian masyarakat setempat.
Secara budaya, terdapat perayaan-perayaan yang berasal dari budaya jawa di Yogyakarta, seperti kirab
budaya dan lainnya. Terdapat pula mitos-mitos yang dipercayai masyarakat setempat, seperti kampung
pitu, yang dari dulu hanya ditinggali 7 kepala keluarga.
Potensi dan Ancaman
Potensi dari situs ini adalah Ekowisata dan Agrowisata. Ekowisata adalah fungsi utama situs gunung api
purba Nglanggeran, sebagai museum ekologi dan saksi bisu eksistensi gunung api Nglanggeran di masa
lalu. Struktur batuan bekas gunung api ini memiliki daya Tarik pariwisata yang tinggi, juga terdapat air
terjun, area panjat tebing dan beberapa mata air di sekitar situs.
Selain wisata ekologi, terdapat pula potensi wisata agro, dikarenakan lahan yang subur akibat proses
vulkanik. Disini wisatawan diajak untuk melihat perkebunan warga, belajar bertani dan memanen buahbuahan. Selain itu, terdapat embung yang indah di puncak bukit menjadi daya Tarik tersendiri bagi
wisatawan.
Ancaman dari situs ini adalah jatuhan batu-batuan yang bias terjadi kapan saja akibat proses pelapukan
mengulit bawang dari bebatuan hasil pembekuan magma diatas puncak gunung api purb Nglanggeran.
Selain itu medan yang terjal juga cukup berbahaya apabila dilintasi pada musim penghujan. Karena itu
wisatawan disarankan untuk mengunjungi di musim kemarau apabila ingin naik ke puncak gunung
Ngelanggeran.
Manajemen Pengelolaan
Pengelolaan situs gunung api Ngelanggeran sebagai kawasan pariwisata saat ini sudah cukup baik, karena
menitikberatkan pada komponen-komponen alami (bukan buatan) yang menjadi objek destinasi tujuan
wisata (ODTW). Hal ini sejalan dengan pelestarian lingkungan di sekitar situs gunung Ngelanggeran.
Kekurangan dari segi pengelolaan adalah di aspek keamanan. Yakni pada batuan-batuan yang menjulang
sepeti tebing di puncak gunung sebaiknya diberi penyangga, agar mencegah terjadinya jatuhan batu
apabila proses pelapukan telah masuk pada sisi yang membahayakan pengunjung di sekitar kawasan
ekowisata.
Saran penulis untuk menajemen pengelola adalah penambahan wisata edukasi, berupa virtual reality
dimana terdapat animasi yang menggambarkan proses terbentuknya gunung api Ngelanggeran hingga
mati dan lapuk membentuk tebing-tebing batuan seperti sekarang ini. Juga penambahan lokasi
pembibitan anggrek langka, yang nantinya dapat dijual ke wisatawan sebagai cinderamata.