You are on page 1of 14

Management Accounting in Less Developed Countries:

What is Known and Needs Knowing


(Traver Hopper, Matthew Tsamenyi, Shahzad Uddin, DantureWickramasingh)

1. Motivasi Penelitian
Perkembangan penelitian bidang akuntansi di Negara kurang berkembang terus
mengalami peningkatan (Less Developed Country (LDC)). Kompetisi dan globalisasi
menjadi faktor dominan, terlebih adanya program penyesuaian struktural institusi
keuangan, jurnal akuntansi terbaru yang tidak terlalu kebaratan, dan program doktoral
barat yang mendorong perwakilannya melakukan indigenous research. Namun
demikian, penelitian bidang akuntansi manajemen khususnya Management Accounting
System (MAS) belum terlalu berkembang di negara kurang berkembang (LDC) dimana
seharusnya MAS berperan cukup penting dalam perkembangan negara. Untuk itu,
penelitian yang terkait dengan MAS diharapkan dapat memberikan manfaat empiris
terhadap permasalahan yang ada khususnya bagi negara kurang berkembang (LDC).

2. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagi berikut :
1. Mengklasifikasi penelitian terkait MAS berdasarkan negara, tahap
perkembangan, metode, topik, dan dan teori.
2. Merangkum perubahan penerapan MAS dari masa kolonial hingga
sekarang atau kapitalisme terutama di negara Ghana, Srilangka
dan Bangladesh.
3. Menjelaskan temuan penelitian terkait MAS yang telah dilakukan
sebelumnya hingga sekarang.
3. Metode Penelitian
Universitas Indonesia

Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur yang


berfokus pada analisis perubahan kontrol manajemen di negara LDC.
Analisis didasarkan pada jurnal-jurnal dari negara berkembang yang
telah

dipublikasikan

baik

yang

sudah

banyak

dikenal

secara

internasional maupun jurnal non governmental organization dan


jurnal-jurnal lokal terkait manajemen dan administrasi publik serta
development studies.
Pengelompokan penelitian MAS didasarkan atas :

1. Negara

2. Topik-Topik yang Banyak Diteliti


Adapun topik-topik berkaitan dengan MAS di negara berkembang
yang banyak diteliti :
Jumlah

Topik

Penelitian

Management accounting and control in State Owned Enterprise


(SEO) and Privatisasions
Large Private Companies and Multi National Organization (MNO)
Joint Venture with Foreign Companies
Indigenous Small Medium Enterprise
Plantations and Agriculture
Microfinance
Household Accounting
Governmental Accounting
Non Government Organization

29
10
4
6
3
4
2
10
2

Universitas Indonesia

Tabel di atas menunjukkan bahwa penelitian terkait usaha mikro kecil


dan

menengah

masih

sangat

sedikit

dimana

sektor

tersebut

merupakan sektor terbesar di negara LDC dibandingkan perusahaan


privat besar maupun perusahaan multinasional.
3.

Metode Riset yang Digunakan Dalam Penelitian MAS di

negara LDC.
Jumlah

Metode Riset
Studi Kasus (mulai dari observasi dengan wawancara sampai
dengan analisa dokumen)
Studi Lapangan dan Kuesioner
Kuesioner
Studi Literatur dan Analisa Dokumen

Penelitian
47
8
10
10

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 47 sampel penelitian dengan


metode studi kasus teknik analisisnya menggunakan wawancara dan
analisis dokumen, metode observasi, dan observasi partisipasi
dengan berbagai macam literatur review dari dokumen dan laporan
dari pemerintah dan lembaga bantuan. Masih sedikit penelitian
menggunakan metode action studies dan hanya ada satu experiental
study. Sedangkan metode studi lapangan menggunakan kuesioner
dan wawancara.
4. Teori yang Digunakan
Teori
Economics
Development Economics
Etnhography/Grounded Theory/Action/Hermeneutics
Governmentality(Foucault/Bourdieu/Structuration
Theory/Accountability)
Labour Process/Political Economy/Granscian
Institutional Theory
Contingency Theory/RAPM/Statistical
Public Administration
GST/Social Psychology
No Explicit Theory

Jumlah
Penelitian
3
2
11
5
10
4
6
2
1
19
Universitas Indonesia

Tabel

di

atas

menunjukkan

bahwa

sebagian

penelitian menggunakan pendekatan di


menggunakan

grounded

dan

besar

preferensi

bidang ekonomi politik

institutional

data

dimana

penekananannya terletak pada pengaruh dialektikal secara objektif


dan subjektif.
4. Pembahasan
Framework Budaya Politik Ekonomi
Negara berkembang merupakan perpaduan dari kedua bentuk di
antara negara kaya dan miskin dimana tidak diketahui secara pasti
adopsi praktik akuntansi yang paling tepat. Hal ini disebabkan
pengaruh konteks budaya, ekonomi, dan politik negara. Negara kaya
membentuk kebijakan politik pada negara berkembang dari masa
kolonial, dan sekarang kerangka MAS secara konteks institusional
dipengaruhi dari bantuan institusi internasional. Dampaknya, saat
MAS diaplikasikan oleh negara berkembang muncul ketidaksesuaian
dan penolakan.
Transformasi penelitian MAS dipengaruhi oleh faktor sosial
(budaya), ekonomi, dan politik baik dalam kerangka pemikiran
(ideational) maupun institusional yang didasarkan pada pendekatan
proses tenaga kerja (Uddin dan Hopper,2001) dan pendekatan
budaya

politik

ekonomi

(Wickramasinghe

dan

Hopper,2005)

Kerangka tersebut menguraikan transformasi MAS dalam lima rezim


dimana masing-masing rezim berhubungan dengan ketiga konteks
dengan

dimensi

kunci

yaitu

karakteristik

produksi

(modes

of

production, MOP), budaya, etnis dan ras, negara, regulasi, dan


hukum,

pihak

politik,

hubungan

industrial,

dan

keuangan

internasional.
Berikut ini merupakan tahapan perkembangan MAS pada setiap
rezim.

Universitas Indonesia

Universitas Indonesia

MAS Di Masa Kolonialisme


Negara kolonial mengadopsi sistem tradisional dan kapitalis MOP, melalui modal
perdagangan, ekspor komoditas, dan akhirnya melalui imperialisme (Hindess dan Hirst,
1997). Aturan kolonial tidak memaksakan kapitalisme akan tetapi akumulasi modal
kebanyakan berada pada sektor-sektor yang menguntungkan. Kecuali Bangladesh, aturan
kolonial memaksa kapitalisme dibidang industrial. Secara umum, masyarakat di area
hubungan sosial feodal, tradisi budaya, dan pre-kapitalis mempunyai karakteristik produksi
dengan dominasi sektor pertanian, perdagangan, dan produk lokal. Terdapat pemisahan antara
hukumdan perusahaan pada negara kolonial. Penelitian pada masyarakat lokal di negara
berkembang memberikan kontribusi berupa wawasan akuntansi pada masa kolonialisme.
Negara kolonial yang berlandaskan regulasi sendiri dengan dana dari pasar modal
internasional yang beroperasi dalam company states mengendalikan banyak aktivitas
ekonomi (Burawoy, 1984). Administrasi publik berfokus pada monopoli

kapitalis di

beberapa sektor, dan membangun infrastruktur untuk perolehan bahan baku, tenaga kerja, dan
komoditas pengganti (Brewer, 1984). Beberapa perusahaan internasional dan bank mengatur
arus modal dalam divisi teritorial dagang dengan aturan imperialisme yang menimbulkan
dual economy, yaitu pertanian tradisional, perdagangan, dan domestik dan ekspor modern.
Politik kolonial membagi masyarakat menjadi imperialis kulit putih dan penduduk lokal.
Banyak pekerja lokal berupaya memperoleh kehidupan dari pertanian dimana perusahaan
kolonial menggunakan tenaga kerja kontrak dari area lokal atau koloni lain. Strategi
pembagian dan aturan kerja kolonial didasarkan atas ras dan etnis (Burawoy, 1985). Di
Bangladesh dan Ghana, colonial state membagi kerja berdasarkan agama para pekerjanya.
Pada rezim kolonialisme tidak ada struktur organisasi, promosi, aturan pelatihan dan
pengendalian. Pada rezim ini juga terdapat kekerasan fisik dan pembebanan denda pada
perusahaan besar. Di Sri Lanka, muncul perlawanan terhadap white bossesdan
kolonialisme (Jayawardena, 1972). Perusahaan imperial menggunakan MAS dalam
perencanaan dan penetapan target untuk operasi luar negeri tetapi penekanannya berdasarkan
pada pelaporan keuangan untuk stewardship and tracking remittances.

Negara Kapitalisme
Pada kapitalisasi negara, negara mendominasi atas keuangan dan pasar modal sekaligus
mengendalikan GDP. Negara juga mendanai aktivitas industri dan lebih banyak mendapat
bantuan internasional kemudian dialokasikan perusahaan publik. Pada masa kapitalisasi
Universitas Indonesia

negara perputaran pendanaan melalui pasar modal dianggap tidak penting, pembiayaan
melalui bank yang terkonsentrasi pada bank sentral. Menurut Moss (2003), pasar modal di Sri
Lanka dan Ghana tidak aktif, perusahaan perusahaan besar dinasionalisasi dan dibiayai oleh
negara, sementara perusahaan asing yang tidak dinasionalisasi pembiayaannya biasanya dari
luar. Di Bangladesh, pemerintah menasionalisasi seluruh unit industri tetapi unit pertanian
pedesaan dan industri penginapan tidak disentuh. Di Ghana dan Sri Lanka, BUMN dibentuk
dengan cara menasionalisasi hampir seluruh sektor industri, seperti manfaktur dan
infrastruktur namun tidak untuk sektor pertanian dan industri kecil dalam negri.
Perundang undangan memberikan kekuatan yang lebih terhadap BUMN sehingga akuntansi
memiliki peran yang sangat penting. Diasumsikan bahwa perencanaan yang terpusat akan
memunculkan tindakan sesuai birokrasi dan campur tangan negara dalam manajemen.
Laporan keuangan perusahaan yang telah di audit dilaporkan kepada mentri dalam parlemen
dimana menjadi dasar dari akuntabilitas dan perundangan. Anggaran menjadi koordinasi
antara rencana pusat dengan akitivitas BUMN yang menjadi dasar perencanaan dan kontrol
perusahaan. Dalam penelitian Hoque dan Hopper (1994) serta Uddin dan Hopper (1992),
yang meneliti negara Bangladesh, Killick (1978) di negara Ghana, dan Wickramasinghe dan
Hopper (2005) di negara Sri Lanka, ditemukan bahwa diketiga negara membuat regulasi baru
dalam berbagai kebijakan tekait dengan audit, laporan keuangan, perencanaan dan
membentuk satu regulasi baru dan institusi yang menanganinya seperti membentuk
Kementrian Industri, Keuangan dan Perencanaan, serta membentuk komite audit.
MAS dinilai menunjukkan kepercayaan pada perencanaan yang terpusat, kepemilikan umum,
dan industrialisasi, dan menjadikan akuntansi sebagai peran utama.
Ndzinge & Briston

Menyatakan waktu dan reliabilitas informasi akuntansi untuk keputusan

(1999)

investasi dan rencana ekonomi nasional akan menunjang pertumbuhannya.


Menyatakan sistem akuntansi turut memberikan data keuangan yang penting

Seiler (1966)

didalam sebuah bisnis dan negara, namun akuntansi memiliki keterbatasan,


dan menyajikan data yang tidak mencukupi, maka dibutuhkan pendidikan
dan orang orang yang profesional didalam pemerintah itu sendiri.
Menyatakan bahwa institusi yang mentransfer teknologi akuntansi, harus

Needles (1976)

membuat sub perencanaan dengan semua rencana ekonomi. Anggaran yang


ada menjadi landasan dari perencanaan dan pengendalian, dan informasi

Enthoven (1982)

akuntansi sangat penting untuk rasionalisasi pengalokasian di pusat.


MAS menjadi hal yang sangat penting, karena dinilai perlu untuk
mendampingi program yang sedang berkembang dalam menentukan dan
Universitas Indonesia

memperbaiki efisiensi dan produktivitas.

Dalam peninjauan kembali, peneliti peneliti sebelumnya mengidentifikasi pengabaian dari


pengembangan praktek akuntansi, kebijakan, dan penelitian. Mereka menggambarkan bahwa
idealisme dari model pengembangan negara kapitalis itu mempertimbangkan teknik serta
institusi dari negara barat. Dalam mengurangi ketidakpastian pengembangan perencanaan dan
perluasan MAS tidak menggunakan model yang dikembangkan dari negara barat (Mirghani,
1982).
Dari Negara yang Berpaham Kapitalis Menjadi tunggangan Politik
Negara Kapitalis mengasumsikan rakyat dan negara menjalankan nasionalisasi,
modernisasi, hukum pemerintahan, faham sekuler, namun dalam berbagai etnik, agama, atau
lingkungan budaya yang beragam rasionalitas menjadi sulit untuk dipertahankan. Di banyak
negara LDC serikat dagang menjadi ajang kekuatan politis, dan negara kapitalis mencoba
memilih serikat dagang melalui negosiasi. Akibatnya, kebijakan kebijakannya muncul
dengan perlakuan yang tidak sama terhadap partai yang mendominasi dan pro pemerintah
didalam perushaan BUMN. Pembiayaan dari internasional seperti dari World Bank dan IMF
mendukung industrialisasi negara. Seiring dengan bantuan yang diterima dari pihak
internasional, memunculkan berbagi korupsi atas pengelolaan ekonomi yang salah,
penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri para penguasa, seperti yang terjadi di
Ghana dan Sri Lanka. Akuntansi tidak berkaitan dengan keadaan sebenarnya yang menjadi
tidak relevan dengan manajer, khususnya pada saat ajang politik mendominasi. Di
Bangladesh, hubungan industri, akuntabilitas, didalam BUMN hanya menjadi simbol adanya
operasional yang berlangsung. Dalam pelaksanaannya masih sangat lengkap sesuai prosedur,
namun hal tersebut hanya menjadi kebiasaan yang tidak relevan dan memenuhi aturan secara
formalitas. Negara LDC kemudian melakukan reformasi struktural dengan berubah menjadi
kapitalisasi pasar.

Market Capitalism
Kapitalisme pasar awalnya berasal dari World Bank dan IMF yang menetapkan program
penyesuaian struktural (perdagangan bebas, kompetisi, private capital, terbatasnya intervensi
pemerintah, dan reformasi sektor publik) sebelum pemberian pinjaman pada suatu negara.
Program penyesuaian structural (SAP) mengharuskan negara LDC menciptakan kondisi yang
kondusif bagi modal keuangan dan pasar modal internasional dengan menghilangkan subsidi,
pengendalian harga dan halangan import, reorganisasi dan mengurangi kepemilikan publik
Universitas Indonesia

terhadap bank domestic, mempromosikan private banks dan pasar modal domestic, privatisasi
atau menutup SOE, dan memperkenalkan new public management (NPM) dalam
pemerintahan. Ndzinge and Briston (1999) menunjukkan buruknya hubungan antara akuntan
dan ahli ekonomi, dan transfer teknologi akuntansi yang tidak bisa diadaptasi lokal.
Seringkali, profesi non akuntan berasumsi bahwa akuntansi, terutama yang mengikuti standar
internasional, akan memberikan informasi dan keterbukaan bagi pasar modal untuk secara
optimal berinvestasi dan membuat perusahaan bernilai. Namun, SAP menimbulkan
pengendalian yang sewenang-wenang dalam patron politik suatu negara. SAP memberikan
solusi secara makro-ekonomi terhadap permasalahan fiskal.
Mengapa Market Capitalism ?
Kapitalisme pasar dianggap sebagai bentuk normatif yang ideal. World Bank, IMF dan
bantuan dari Barat seperti USAID seringkali dinilai mengabaikan resistensi masyarakat lokal
atas privatisasi, sistem keuangan yang tidak memadai dalam pasar modal, kebutuhan lokal,
kebijakan yang belum memadai, dan bukti yang tidak konklusif bahwa perusahaan privat
memiliki kinerja yang lebih baik daripada SOE (Commander and Killick,1988; Cook and
Kirkpatrick,1995).Talaga dan Ndubizu (1986) menemukan ketegangan antara paradigma
ortodoks dan ekonomi politik dengan akuntansi normatif dan positif . Hal ini menimbulkan
pertanyaan apakah MAS menghasilkan kapitalisme pasar atau apakah membantu pemaksaan
perkembangan politisi fraksi dan pengendalian?

MAS di dalam Perusahaan Swasta


Terdapat dua penelitian mengenai praktek MAS pada perusahaan swasta di LDC

Penelitian pertama menunjukkan keterbatasan penggunaan MAS dan penerapan teknologi


muktahir pada 40 perusahaan swasta di Mesir, tidak ada teknik akuntasi lanjutan yang
digunakan, tidak mengenal ABC, dan costing hanya digunakan dalam penentuan harga
bukan untuk evaluasi kinerja maupun perbaikan proses (Van Triest and Elshahat,2007). Di
Malaysia, intellectual capital pada 199 perusahaan terkait dengan value based dan
pengukuran finansial dan non finansial, dan pengendalian beyond budgeting dibandingkan
dengan sistem orientasi laba dan kinerja. Financial capital budgeting hanya digunakan untuk
pengambilan keputusan (Tales and Sofian,2007).
Reformasi pasar mendorong perusahaan swasta untuk menggunakan MAS konvensional.
Selama 10 tahun krisis politik di Palestina, MAS menjadi lebih termekanisme saat politik
stabil namun menjadi lebih organik saat ketidakpastian politik meningkat (Kattan et al,2007).

Universitas Indonesia

Velayutham and Perera (1996) mengungkapkan bahwa mereka menekankan perjanjian antara
agen dan principal yang menggambarkan individualisme sedangkan akuntansi Asia dan
Afrika merasionalkan kebersamaan. Namun, jarang ditemukan bukti apakah MAS lebih peka
secara budaya pada perusahaan swasta yang memperkerjakan MOP kapitalis.
Kepemilikan keluarga merupakan hal biasa di LDC namun berdampak pada pengendalian
manajemen yang informal dan sewenang-wenang, penegasan informasi terbatas hanya untuk
keluarga, dan aturan atau kebijakan digantikan oleh hubungan keluarga atau pertemanan
(Black et al,2000). Pembuat kebijakan menilai pengusaha mikro sebagai sumber daya yang
penting atas pekerjaan baru namun terbatas secara keuangan oleh bank yang menggunakan
metode pemberian pinjaman secara konvensional dimana estimasi resiko yang terlalu tinggi
dalam proposal pinjaman, dan memiliki biaya transaksi yang tinggi. Konsekuensinya,
pembiayaan pengembangan meningkat bagi organisasi mikro melalui provider microfinance
seperti bank, koperasi dan NGO. Institusi pembiayaan finansial biasanya memiliki sistem
yang kreatif, simple dan efektif dengan biaya transaksi minimal dalam menghasilkan,
menaksir dan mengganti kerugian pinjaman menggunakan pengendalian sosial dalam
tradisional kultur. Hal ini menunjukkan bahwa akuntansi harus berbaur dengan struktur
social. Penelitian pada perusahaan swasta juga menyatakan bahwa reformasi pasar
mempengaruhi MAS, walaupun Vernon-Wortzel dan Wortzel (1968) berargumen bahwa
kinerja BUMN dapat tercapai dengan memperbaiki pengendalian perubahan kepemilikan.
Banyaknya bukti adopsi MAS kontemporer oleh perusahaan swasta di negara LDC mengikuti
liberalisasi pasar yang terbatas pada penyesuaian budaya, keluarga dan kondisi politik lokal
dinilai akan menghalangi sasaran pembangunan, yaitu :
1. Kekuatan perusahaan multinasional semakin meningkat. Chand and White (2007)
mengungkapkan

bahwa

perusahaan

multinasional

dan

perusahaan

internasional

mempengaruhi Fiji untuk mengadopsi standar akuntansi internasional (IAS).


2. Perubahan MAS mengiringi reformasi pasar dapat memperlemah perlindungan dan
kepentingan pemilik perusahaan lainnya. Botha (1995) menyatakan bahwa reformasi pasar
di Afrika Selatan menunjukkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan dimana seharusnya
MAS lebih kondusif bagi demokrasi, pertumbuhan yang berkelanjutan dan pemerataan
kesejahteraaan.
3. MAS tidak dapat menghilangkan patronase dalam pasar terkait dengan faksionalisme
politik.

MAS di dalam NGO

Universitas Indonesia

Korupsi

di

pemerintahan

mengakibatkan

banyak

dan

dana

buruknya

dari

program

pemerintah

organisasi-organisasi

eksternal

dialokasikan kepada NGO untuk mengerjakan program-program sosial.


Pada tahun 1992, NGO Internasional menangani dana $7,6 Miliar dana
bantuan untuk negara-negara berkembang dan 30.000 NGO menangani
15% dari total dana bantuan pembangunan. Hulme (2004), dan Matin et.
al (2002) menyatakan bahwa NGO mempunyai variasi tujuan, cakupan,
dan ukuran untuk bisa berkembang menjadi organisasi yang besar dan
berpengaruh, seperti BRAC dan Bank Grameen di Bangladesh. Namun
beberapa menyatakan bahwa NGO melakukan persaingan yang tidak
kompetitif

dengan

organisasi-organisasi

swasta,

adanya

korupsi,

kegagalan operasional, kemampuan finansial dan manajemen yang


terbatas, ketergantungan pada pemimpin karismatik, dan vocal advocacy
mengalahkan isu-isu sosial dan ekonomi. Akuntansi di dalam dan di
sekeliling

NGO

yang

berbeda

dari

organisasi-organisasi

komersial,

dibutuhkan penelitian Sistem Akuntansi Manajemen yang lebih banyak.

MAS di dalam Sektor Publik


Isu-isu terkait tuntutan akan informasi kinerja sektor publik

tidak

dapat terpenuhi karena rendahnya kapasitas institusi (Mimba et. al, 2007),
ditambah lagi adanya perubahan isu-isu manajemen seperti yang
dikemukakan oleh beberapa peneliti (Diamond, 2004; Hassan, 2005;
Marwata, 2006; Hassan, 2005; Chu and RASK, 2002; Sharma and
Lawrence, 2005; Alam et. al, 2004; dan Dixon, 2004). Everet et al. (2007)
menemukan bahwa penelitian dibidang akuntansi tidak memperhitungkan
variabel

korupsi.

Ekonom

menyebutkan

bahwa

karakteritik

tingkat

pembangunan yang rendah terhadap korupsi dapat melemahkan sistem


demokrasi, nilai-nilai kepercayaan dan toleransi, legitimasi dan kapasitas
institusi, perwakilan pembuat kebijakan, aturan hukum, dan pelayanan
yang tidak adil di administrasi publik.
mengatasi

semua

masalah

tetapi

Akuntansi memang tidak dapat

diharapkan

dapat

meningkatkan

efektivitas atas kontrol, regulasi, akuntabilitas, dan peraturan hukum.


Korupsi berkembang pada pemerintahan dengan transparansi rendah,
Universitas Indonesia

tidak ada kebebasan legislatif, pelanggaran atas kebebasan pers,


demokrasi yang tidak berjalan baik, pegawai pemerintah yang dibayar
murah, dan ketidakmampuan penduduk dalam baca tulis. Dengan
demikian, Sistem Akuntansi Manajemen diharapkan dapat memperkuat
negara dan pengaruh stakeholders dalam politik lokal yang kontras
dengan reformasi pasar dan NGO.

5. Kesimpulan
Penelitian terkait Sistem Akuntansi Manajemen di negara LDC dengan
tingkat perekonomian dan letak geografis berbeda semakin berkembang,
akan tetapi isu-isu yang diangkat tidak relevan dengan penelitian di
bidang akuntansi. Karakteristik produksi di negara berkembang yang telah
mengalami perubahan dari tradisional ke rezim sosial-kapitalis kemudian
menjadi kapitalisme pasar, menyebabkan tendensi perubahan dalam
karakteristik produksi karena perbedaan kultur dan etnis budaya masingmasing negara.
Pengaruh Sistem Akuntansi Manajemen dengan kultur budaya
Budaya lokal dapat mempengaruhi pertanggungjawaban

dan

pelaporan akuntansi dimana hal ini dapat mengimplementasikan


MAS yang sesuai dengan budaya lokal masing-masing. Selama ini,
penelitian MAS bersifat retoris dan berfokus pada organisasi
berskala besar dibandingkan berskala kecil dimana pengaruh kultur

budaya lebih banyak ditemui di organisasi berskala kecil.


Penelitian terkait dengan Sistem Akuntansi Manajemen di NGOs

(Non-Governmental Organization) masih harus dikembangkan.


Penelitian terkait sektor private menemukan bahwa liberalisasi
ekonomi dapat meningkatkan perkembangan Sistem Akuntansi

Manajemen, namun pengaruhnya dengan isu-isu lain masih bias.


Isu regulasi di suatu negara dapat mempengaruhi MAS, terutama
mengenai tenaga kerja, regulasi bank, perubahan kebijakan akuntansi
dan pasar modal.
Keadaan politik. Banyak masalah akuntansi muncul di negara
berkembang yang dikarenakan keadaan sosial-ekonomi dan politik
Universitas Indonesia

(Wallace, 1990), dimana kekuasaan pemerintah dan New Public


Management dapat mempengaruhi kondisi politik, tingkat korupsi,
kontribusi

masyarakat,

mempengaruhi

hal

dan

tersebut,

keberadaan
serta

NGO

posisi

yang

Sistem

dapat

Akuntansi

Manajemen.
Pengaruh Institusi Eksternal terhadap penerapan kebijakan Sistem
Akuntansi Manajemen.
Masalah yang timbul karena kebijakan politik tidak hanya
terjadi di negara miskin, tetapi juga di negara kaya, seperti di
Luxemburg, Swiss, UK, USA dimana juga terdapat praktek-praktek
korupsi.

Wallace

(1990)

mengungkapkan

bahwa

penerapan

akuntansi di negara LDC adalah akibat dari tekanan peraturan dari


perusahaan

akuntansi

transnasional,

multinasional

organisasi,

proyek internasional, dan rekomendasi dari komite akuntansi


internasional.

Wickramasinghe

(2007)

menunjukkan

adanya

reformasi Sistem Akuntansi Manajemen di World Bank, IMF dan UN.


Saravanamuthu

(2004)

menyebutkan

bawa

dunia

akuntansi

internasional tidak dapat merekonsiliasi kebutuhan stakeholder


dengan menekankan aspek ekonomi dan mengabaikan degradasi
sosial dan lingkungan.
Sehingga kedepannya tanggung jawab profesional seorang
akuntan, pebisnis, dan peneliti dalam bidang Sistem Akuntansi
Manajemen harus menggabungkan dengan etika dan dimensi
humanisme untuk kepentingan publik.
6. Kritisi
Sampel yang digunakan hanya negara Bangladesh, Ghana, dan Srilanka dan tidak
dijelaskan secara spesifik alasan penggunaan hanya ketiga negara tersebut diantara

negara-negara LDC lainnya.


Penelitian ini cukup kompleks dan panjang ditambah dengan bahasa yang sedikit sulit
dipahami.

7. Future Research
Pengembangan topik di bidang pertanian (yang merupakan sektor

dominan negara LDC), NGO, dan usaha kecil dan menengah.


Pengembangan analisa pada negara-negara LDC lainnya.
Universitas Indonesia

Universitas Indonesia