You are on page 1of 73

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA

NOMOR .... TAHUN ....


TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SAMARINDA
TAHUN 2011 2031
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA SAMARINDA
Menimbang

a. bahwa dalam upaya mengarahkan pembangunan di Kota


Samarinda dilaksanakan berdasarkan azas manfaat,
keadilan, serasi, selaras, seimbang, terpadu, keselamatan
dan keamanan, fleksibel, dan berkelanjutan;
b. bahwa untuk mewujudkan keterpaduan pembangunan
antar elemen pembangunan di Kota Samarinda,
diperlukan suatu rencana tata ruang wilayah sebagai
arah dalam menetapkan investasi pembangunan baik
yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah, masyarakat
dan dunia usaha;
c. bahwa Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2000 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda sudah tidak
sesuai dengan dinamika perkembangan kota sehingga
perlu diganti; dan
d. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, b dan c
tersebut di atas, perlu ditetapkan Peraturan Daerah
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda
tahun 2011 sampai dengan tahun 2031.

Mengingat

1. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang


Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953
tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1953 Nomor
9; Tambahan Lembaran Negara Nomor 352) sebagai
Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1959 Nomor 72; Tambahan Lembaran Negara
Nomor 1820);
2. Undang-Undang
No.
32
Tahun
2004
Tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
3. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataaan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725);
4. Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 tentang Sungai
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor
44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3445);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang
Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5160);
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17 Tahun 2009
tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota;
9. Peraturan Daerah Kota Samarinda No. 6 Tahun 2003
tentang Rencana Strategis Kota Samarinda;
10.Peraturan Daerah Kota Samarinda No. 4 Tahun 2004
tentang Pembentukan Kecamatan
dan Kelurahan
Pemerintah Kota Samarinda; dan
11.Peraturan Daerah Kota Samarinda No. 2 Tahun 2010
tentang Pembentukan Kecamatan Sambutan, Kecamatan
Samarinda Kota, Kecamatan Sungai Pinang, dan
Kecamatan Loa Janan Ilir dalam Wilayah Kota Samarinda.
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SAMARINDA
DAN
WALIKOTA SAMARINDA
MEMUTUSKAN

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA TENTANG


RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA SAMARINDA
TAHUN 2011 - 2031
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan :
1.

Kota adalah Kota Samarinda;

2.

Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Samarinda;

3.

Walikota adalah WaliKota Samarinda;

4.

Dewan adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Samarinda;

5.

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lainnya hidup, melakukan kegiatan dan
memelihara kelangsungan hidupnya;

6.

Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang;

7.

Penataan Ruang adalah sistem proses perencanaan


pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;

8.

Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang;

9.

Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap


unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan
aspek administratif dan atau aspek fungsional;

tata

ruang,

10. Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda;
11. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan
sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan
fungsional;
12. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang
meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang
untuk fungsi budidaya;
13. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi
daya;
14. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya
alam dan sumber daya buatan;
15. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan sumber daya buatan;
16. Bagian Wilayah Kota yang selanjutnya disebut BWK adalah satu kesatuan
wilayah fungsional dan administratif yang dikelompokan sesuai dengan
karakteristik dan arahan pengembangan kegiatan fungsional dan kegiatan
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

spesifik. BWK dibentuk


kegiatan kota;

dalam rangka pencapaian daya guna pelayanan

17. Sistem Pusat Pelayanan Kota adalah tata jenjang dan fungsi pelayanan
pusat-pusat kegiatan kota yang meliputi pusat primer, dan pusat sekunder;
18. Pusat Primer adalah pusat kegiatan ekonomi dan sosial dengan skala
pelayanan mulai dari beberapa BWK, skala kota, sampai skala wilayah dan
nasional;
19. Pusat Sekunder adalah pusat kegiatan ekonomi dan sosial dengan skala
pelayanan pada sebagian wilayah kota atau setara dengan satu BWK;
20. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka persentase berdasarkan
perbandingan antara seluruh luas lantai dasar bangunan dengan luas
lahan/tanah perpetakan/ daerah perencanaan yang dikuasai sesuai dengan
rencana kota;
21. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah angka perbandingan antara jumlah
seluruh luas lantai seluruh bangunan terhadap luas tanah perpetakan /
daerah perencanaaan yang dikuasai sesuai dengan rencana kota;
22. KLB rata rata adalah besaran ruang yang dihitung dari nilai KLB rata-rata
pada suatu kawasan berdasarkan ketetapan nilai KLB menurut pemanfaatan
ruang yang sejenis;
23. Koefisien Tapak Bangunan yang selanjutnya disebut KTB adalah angka
prosentase luas tapak bangunan yang dihitung dari proyeksi dinding terluar
bangunan dibawah permukaan tanah terhadap luas luas perpetakan /
daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang;
24. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disebut KDH adalah angka
prosentase berdasarkan perbandingan jumlah luas lahan terbuka untuk
penanaman tanaman dan atau peresapan air terhadap luas tanah
perpetakan / daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana kota;
25. Ketinggian Bangunan yang selanjutnya disebut KB adalah jumlah lantai
penuh suatu bangunan dihitung mulai dari lantai dasar sampai lantai
tertinggi;
26. Pengendalian Pemanfataan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib
tata ruang;
27. Kawasan strategis kota adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup
kota terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan;
28. Ruang terbuka hijau (RTH) adalah area memanjang/ jalur dan/atau
mengelompok, yang penggunaannya lebih berifat terbuka, tempat tumbuh
tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam;
29. Mekanisme Insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan
rangsangan atau dorongan terhadap kegiatan yang sejalan dengan rencana
tata ruang;
30. Mekanisme Disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi
pertumbuhan atau menghambat kegiatan yang tidak sejalan dengan
rencana tata ruang;
31. Izin pemanfaaatan ruang adalah yang dipersyaratkan dalam kegiatan
pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

32. Masyarakat adalah orang perorangan,


masyarakat hukum adat atau badan hukum;

kelompok

orang

termasuk

33. Peran masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan


tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;
34. Kelembagaan adalah suatu badan yang berkekuatan hukum dengan tujuan
tertentu; dan
35. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah yang selanjutnya disingkat
dengan BKPRD adalah satu badan yang dibentuk dan diangkat oleh
Walikota, yang terdiri atas unsur dinas, badan dan/atau lembaga yang
berkaitan dengan kegiatan penataan ruang dan bertugas membantu
Walikota dalam mengkoordinasikan penataan ruang di wilayah Daerah.
Bagian Kedua
Cakupan Wilayah dan Cakupan Perencanaan
Pasal 2
(1)

Cakupan wilayah perencanaan RTR Wilayah Kota Samarinda mancakup 10


(Sepuluh) kecamatan, meliputi:
a. Kecamatan Samarinda Kota ;
b. Kecamatan Samarinda Ulu;
c. Kecamatan Samarinda Ilir;
d. Kecamatan Samarinda Seberang;
e. Kecamatan Samarinda Utara;
f.

Kecamatan Palaran;

g. Kecamatan Sungai Pinang;


h. Kecamatan Sungai Kunjang;

(2)

i.

Kecamatan Sambutan; dan

j.

Kecamatan Loajanan ilir.

Lingkup pengaturan Peraturan Daerah ini meliputi:


a. tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah Kota Samarinda;
b. rencana struktur ruang, rencana pola ruang, ketentuan pemanfaatan
ruang, dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kota
Samarinda;
c. kelembagaan; dan peran masyarakat dalam penyelenggaraan penataan
ruang di wilayah Kota Samarinda.

BAB II
TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG
Bagian Kesatu
Tujuan
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Pasal 3
Tujuan Penataan Ruang untuk mewujudkan Kota Samarinda sebagai kota tepian
yang berbasis perdagangan, jasa dan industri yang maju, berwawasan
lingkungan dan hijau, serta mempunyai keunggulan daya saing untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagian Kedua
Kebijakan Penataan Ruang
Pasal 4
Kebijakan Penataan Ruang meliputi:
a.

peningkatan akses pelayanan kota dan pusat pertumbuhan ekonomi yang


merata dan berhierarki;

b. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana dan


infrastruktur perkotaan yang terpadu dan merata di seluruh wilayah kota;
c.

perwujudan, peningkatan, keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budi


daya;

d. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk
mempertahan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati serta
mempertahakan keunikan bentang alam; dan
e.

menjamin tercapainya penetapan kawasan strategis yang optimal dengan


memperhatikan daya dukung serta memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Bagian Ketiga
Strategi Penataan Ruang
Pasal 5

Strategi Penataan ruang wilayah kota berfungsi:


(1)

Strategi untuk mewujudkan peningkatan akses pelayanan kota dan pusat


pertumbuhan ekonomi yang merata dan berhierarki sebagaimana dimaksud
dalam pasal 4 huruf a meliputi :
a. menetapkan Pusat Pelayanan Kota (PPK), Sub Pusat Pelayanan Kota (Sub
PPK) dan Pelayanan Lingkungan Kota (PL) secara merata dan berhierarki;
b. mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum
terlayani oleh pusat pertumbuhan;
c. mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih
kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya;
d. mengembangkan sistem evakuasi mitigasi bencana baik berupa bencana
alam maupun bukan seperti bencana banjir, longsor, dan kebakaran;
e. pengembangan nilai tambah terhadap produk sumber daya alam yang
ada;dan
f. pengembangan sistem birokrasi yang terpadu dan efisien;

(2)

Strategi untuk mewujudkan peningkatan kualitas dan jangkauan


pelayanan jaringan prasarana dan infrastruktur perkotaan yang terpadu dan

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

merata di seluruh wilayah kota, sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 huruf


b meliputi:
a. Peningkatan dan penambahan jaringan prasarana dan infrastruktur
perkotaan;
b. mengembangkan sistem transportasi angkutan umum yang diarahkan
untuk menghubungkan pusat permukiman, pusat ekonomi serta fasilitas
umum atau fasilitas sosial serta mengembangkan fungsi halte angkutan
umum yang diarahkan pada lokasi yang memiliki akses terhadap jaringan
utama, serta dekat dengan sumber timbulnya pergerakan;
c. meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan jaringan telekomunikasi
ke seluruh wilayah kota;
d. meningkatkan jaringan energi secara
keterpaduan sistem penyediaan listrik;

optimal

serta

mewujudkan

e. meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan


sistem jaringan sumber daya air dan meningkatkan pemerataan pelayanan
jaringan air bersih ke seluruh wilayah kota;
f. mengembangkan sistem persampahan, sistem persampahan setempat
dan sistem terpusat, mengembangkan teknologi persampahan, serta
pengelolaan TPS dan TPA secara terpadu;
g. mengembangkan sistem jaringan pengolahan air limbah (IPAL) terpadu
dan jaringan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT);
h. menata dan mengembangkan sistem jaringan yang mengakomodir
kepentingan pejalan kaki terutama di wilayah pusat-pusat pengembangan
kota;
i. menata sistem jaringan drainase baik primer dan sekunder yang melayani
seluruh bagian wilayah kota;
j. pengembangan dan pemantapan fungsi transportasi yang memadai dan
terintegrasi dalam mendukung kegiatan pengembangan pelayanan dan
perekonomian; dan
k. pemerataan fungsi prasarana wilayah untuk mendukung kegiatan.
(3)

Strategi perwujudan, peningkatan, keterpaduan dan keterkaitan antar


kegiatan budi daya, sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 huruf c
meliputi:
a. mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya
alam dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama
pengembangan wilayah;
b. mengembangkan kegiatan budidaya untuk menunjang aspek politik,
pertahanan dan keamanan, sosial budaya, serta ilmu pengetahuan dan
teknologi;
c. mengembangkan kegiatan budidaya unggulan di dalam kawasan beserta
prasarananya secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong
pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya;
d. mengembangkan kegiatan budi daya yang mempunyai daya adaptasi
bencana di kawasan rawan bencana

(4) Strategi pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup untuk mempertahan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

hayati serta mempertahakan keunikan bentang alam, sebagaimana yang


dimaksud dalam pasal 4 huruf d meliputi:
a. Mempertahankan kawasan pasca tambang sebagai kawasan hijau sebagai
penyeimbang ekosistem sekitar;
b. mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas minimal 30 (tiga puluh)
persen dari luas wilayah kota;
c. Identifikasi kawasan hijau dan berhutan sebagai penyangga lingkungan
dan pelestarian keanekaragaman hayati baik alami atau buatan;
d. Mempertahankan bentang alam wilayah kota sebagai karakteristik
topografi yang unik dan berpotensi bagi pengembangan wisata;
e. meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat
pengembangan kegiatan budi daya, dalam rangka mewujudkan dan
memelihara keseimbangan ekosistem wilayah;
f. meningkatkan perlindungan dan pelestarian serta pencegahan alih fungsi
kawasan lindung;
g. mengembangan sistem pengendalian banjir melalui program-program
pembangunan, peningkatan, dan pengembalian fungsi situ-situ sebagai
daerah penampungan air serta menjaga fungsi lindung dengan ketat
sesuai dengan arahan pemanfaatan yang berhubungan dengan tata air;
dan
h. Tidak mengeluarkan ijin baru dan melakukan konsolidasi yang terpadu
dengan perusahaan tambang yang berjalan beserta instansi terkait
dengan memperhatikan daya dukung lingkungan.
(5)

Strategi menjamin tecapainya penetapan kawasan strategis yang optimal


dengan memperhatikan daya dukung serta memberi nilai tambah bagi
masyarakat, sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 huruf e meliputi:
a. menciptakan iklim investasi yang kondusif dan selektif serta
mengoptimalkan promosi peluang investasi dan memberikan insentif
terhadap investor untuk berinvestasi;
b. Mengembangkan industri yang telah ada dan turunannya;

BAB III
RENCANA STRUKTUR RUANG KOTA
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 6
(1) Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota Samarinda meliputi:

a.

sistem pusat pelayanan kota; dan

b. sistem jaringan prasarana kota.


(2) Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota Samarinda digambarkan dalam peta

dengan tingkat ketelitian 1 : 25.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran


I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Bagian Kedua
Rencana Sistem Pusat Pelayanan Kota
Pasal 7
Rencana sistem pusat pelayanan kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat
(1) huruf a meliputi:
a.

pusat pelayanan kota (PPK);

b.

sub pusat pelayanan kota (Sub PPK); dan

c.

pusat lingkungan (PL).


Pasal 8

(1) PPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a ditetapkan sebagai Pusat
Pelayanan Perdagangan dan Jasa skala kota di Kelurahan Pasar Pagi,
Kelurahan Bugis, Kelurahan Jawa dan Kelurahan Dadimulya dalam lingkup
Kecamatan Samarinda Kota, dan Kecamatan Samarinda Ulu.
(2) Sub PPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b terdapat di :
a. Kelurahan Pasar Pagi di Kecamatan Samarinda Kota dengan fungsi pusat
pelayanan perdagangan dan jasa skala regional;
b. Kelurahan Dadimulya di Kecamatan Samarinda ulu dengan fungsi pusat
pelayanan perdagangan dan jasa skala regional;
c. Pasar Samarinda Seberang di Kelurahan Rapak Dalam, Kecamatan
Samarinda Seberang;
d. Pasar Palaran di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran;
e. Pasar Loajanan di Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Loajanan Ilir;dan
f.

Tempat yang diditetapkan sebagai pelayanan pemerintahan, pelayanan


kesehatan skala kecamatan, pelayanan pendidikan dan kegiatan
perdagangan dan jasa tersebar di Kecamatan Palaran, Kecamatan
Samarinda Seberang, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kecamatan Samarinda
Ulu, Kecamatan Samarinda Kota, Kecamatan Samarinda Ilir, Kecamatan
Sambutan, Kecamatan Sungai Kunjang, Kecamatan Sungai Pinang dan
Kecamatan Samarinda Utara.

(3) Pusat Lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf c terdapat di:
a. Kelurahan Karang Asem Ulu di Kecamatan Sungai Kunjang dengan fungsi
pusat pelayanan perdagangan dan jasa skala kecamatan;
b. Kelurahan Makroman di Kecamatan Sambutan dengan fungsi pusat
pelayanan perdagangan dan jasa skala kecamatan; dan
c. sebagai pelayanan pemerintahan skala kelurahan yang tersebar di
Kelurahan Sungai Siring, Kelurahan Tanah Merah, Kelurahan Lempake,
Kelurahan Sempaja Utara, Kelurahan Sempaja Selatan, Kelurahan
Temindung Permai, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kelurahan Gunung
Lingai, Kelurahan Mugirejo, Kelurahan Bandara, Kelurahan Bukit Pinang,
Kelurahan Air Putih, Kelurahan Air Hitam, Kelurahan Gunung Kelua,
Kelurahan Sidodadi, Kelurahan Dadi Mulya, Kelurahan Teluk Lerong Ilir,
Kelurahan Jawa, Kelurahan Karang Mumus, Kelurahan Pelabuhan,
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Kelurahan Pasar Pagi, Kelurahan Bugis, Kelurahan Sungai Pinang,


Kelurahan Pelita, Kelurahan Sidomulyo, Kelurahan Sidodamai, Kelurahan
Sungai Dama, Kelurahan Selili, Kelurahan Sungai Kapih, Kelurahan
Sambutan, Kelurahan Makroman, Kelurahan Sindang Sari, Kelurahan Pulau
Atas, Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kelurahan Karang Anyar, Kelurahan
Karang Asam Ulu, Kelurahan Karang Asam Ilir, Kelurahan Loa Bakung,
Kelurahan Loa Buah, Kelurahan Loa Bahu, Kelurahan Simpang Tiga,
Kelurahan Tani, Kelurahan Sengkotek, Kelurahan Harapan Baru, Kelurahan
Rapak Dalam, Kelurahan Mesjid, Kelurahan Sungai Keledang, Kelurahan
Baqa, Kelurahan Rawa Makmur, Kelurahan Bukuan, Kelurahan Bantuas,
Kelurahan Simpang Pasir dan Kelurahan Handil Bakti.
Pasal 9
(4) Rencana Distribusi pemanfaatan ruang dan bangunan serta bukan bangunan
dalam rencana tata ruang wilayah kota akan dijabarkan lebih rinci dalam
Rencana Detil Tata Ruang Kota yang berfungsi untuk mengatur, menata dan
mengendalikan kegiatan fungsional yang direncanakan oleh perencanaan
ruang diatasnya, dalam mewujudkan ruang yang serasi, seimbang, aman,
nyaman dan produktif.
(1) Penjabaran lebih rinci dalam rencana detail tata ruang kota sebagai mana
dimaksud pada ayat 1 meliputi:
a. Penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Samarinda kota;
b. Penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Samarinda Ulu;
c. Penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Samarinda Ilir;
d. penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Samarinda Seberang;
e. Penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Samarinda Utara;
f.

Penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Palaran;

g. Penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Sambutan;


h. Penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Sungai Pinang;
i.

Penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Sungai Kunjang;dan

j.

Penyusunan detail rencana tata ruang kecamatan Loa Janan Ilir.


Bagian Ketiga
Rencana Sistem Jaringan Prasarana Kota
Pasal 10

Rencana Sistem Jaringan Prasarana Kota, terdiri atas:


a.

rencana sistem jaringan prasarana utama; dan

b.

rencana sistem jaringan prasarana lainnya.


Paragraf Kesatu
Rencana Sistem Jaringan Prasarana Utama
Pasal 11

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(1)

(2)

(3)

(4)

Rencana sistem prasarana utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10


huruf a merupakan sistem jaringan transportasi yang terdiri atas:
a.

sistem jaringan transportasi darat;

b.

sistem jaringan transportasi laut; dan

c.

sistem jaringan transportasi udara.

Rencana sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) huruf a meliputi:
a.

sistem jaringan jalan;

b.

sistem Jaringan perkeretapian ; dan

c.

sistem jaringan angkutan sungai, danau dan penyeberangan.

Rencana sistem jaringan transportasi laut sebagaimana di maksud pada


ayat (1) huruf b meliputi:
a.

tatanan kepelabuhanan; dan

b.

alur pelayaran.

Rencana sistem jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) huruf b meliputi:
a.

tatanan kebandarudaraan;

b.

ruang udara untuk penerbangan; dan

c.

kawasan keselamatan operasional penerbangan.


Pasal 12

Sistem jaringan jalan sebagai mana dimaksud dalam ayat (2) huruf a meliputi :
1.

Jaringan Jalan;

2.

Jembatan;

3.

Jaringan prasaran lalu lintas dan angkutan jalan; dan

4.

Jaringan pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan.


Pasal 13

(1)

Jaringan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) terdiri atas:
a.

jaringan jalan arteri primer;

b.

jaringan kolektor; dan

c.

jalan lokal.

(2)

Jaringan jalan arteri primer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
meliputi: Loa Janan Batas Kota Samarinda, Jln. Jembatan Mahakam, Jl.
Untung Surapati, Jl. Slamet Riyadi, Jl. RE Martadinata, Jl.Gajah Mada, Jl. Yos
Sudarso, Jl. S. Parman, Jl. Pertahanan, Jl. A Yani;

(3)

Jaringan jalan kolektor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c


meliputi: Jl. Simpang Tiga Lempake - Simpang Tiga Sambera, Jl. Antasari, Jl.
Ir. Juanda, Jl. AW Syahrani - Jl. PM. Noor, Jl. DI Pandjaitan, Jl. Samarinda
Sangasanga, Jl. Trans Kalimantan, Jl. Bung Tomo, Jl. Bendahara, Jl. Lumbalumba, Jl. Suryanata, Jl. Pasundan, Jl. Kinibalu, Jl. Merbabu, Jl. KH Hasan
Basri, Jl. Agus Salim, Jl. Mulawarman, Jl. Ahmad Dahlan, Jl. Panglima Batur, Jl.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

A Muthalib, Jl. Merdeka, Jl. Jend Sudirman, Jl. Pelita, Jl. Gerilya, Jl. Lambung
Mangkurat, Jl. Samanhudi, Jl. Suriansyah, Jl. Niaga Barat, Jl. Sentosa, Jl.
Kemakmuran, Jl. P Hidayatullah, Jl. Sultan Alimuddin, Jl. Tumenggung, Jl.
Basuki Rahmat, Jl. Niaga Timur, Jl. Imam Bonjol, Jl. Muso Salim, Jl. Sebatik, Jl.
Abdul Halid, Jl. Batu Besaung, Jl. Batu Cermin;
(4)

Jalan lokal berupa jalan-jalan di luar jalan-jalan


tercantum pada ayat (2) dan (3).

(5)

Rencana pengembangan jalan baru, meliputi:

sebagaimana yang

a.

pembukaan jalan baru untuk membuka hubungan antar wilayah serta


upaya peruntukan pembangunan yang meliputi jalan akses yang
menghubungkan kawasan-kawasan perumahan dan permukiman;

b.

pembangunan jaringan jalan inner ringroad yang menghubungkan Jl.


Slamet Riyadi - Jl. Ir. Sutami - Jl. Teuku Umar - Jl. MT Haryono - Jl. Ir.
Juanda - Jl. AW Syahrani - Jl. PM Noor - Jl. Pendekat Mahkota II (Utara) Jembatan Mahkota II - Jl. Pendekat Mahkota II (Selatan) - Jl. Cipto
Mangunkusumo Jembatan Mahakam;

c.

pembangunan jaringan jalan outer ringroad yang menghubungkan


Jembatan Mahakam - Jl. Jakarta, Jl. Jakarta - Jl. M. Said, Jl. M. Said - Jl. P.
Suryanata Ringroad III), Jl. P. Suryanata Sempaja, Sempaja Bayur
Muang Benanga, Benanga Sungai Siring, Sungai Siring Makroman,
Jl. DI Pandjaitan - Jl. Pendekat Mahkota II, Jembatan Mahkota II
Jembatan Mahulu, Jembatan Mahulu - Jl. Jakarta, Bukuan Simpang
Pasir, Sempaja - Jl. Poros Samarinda Bontang, Jl. Poros Samarinda
Bontang Makroman, Makroman Jembatan Freeway; dan

d.

pembangunan jalan bebas hambatan yang melalui Kelurahan Bantuas,


Kelurahan Handil Bhakti, Kelurahan Simpang Pasir di Kecamatan
Palaran, masing-masing sepanjang 22 (dua puluh dua) kilometer.
Pasal 14

(1)

(2)

Prasarana transportasi darat berupa jembatan sebagaimana dimaksud pada


pasal 12 ayat (2) terdiri dari :
a.

Jembatan Negara;

b.

Jembatan Propinsi;dan

c.

Jembatan Kota.

Jembatan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:


a.

Jembatan Mahulu di ruas jalan Kyai Haji Mas Mansur dan Cipto
Mangunkusumo;

b.

Jembatan Mahakam di ruas jalan Ciptomangunkusumo dan Untung


Suropati;

c.

Jembatan II Sungai Dama di ruas jalan Pangeran Hidayatullah dan


Tenggiri;

d.

Jembatan III Baru di ruas jalan Agus Salim dan Gatot Subroto;

e.

Jembatan Lambung Mangkurat di ruas jalan Achmad Dahlan dan


Lambung Mangkurat; dan

f.

Jembatan Arief Rahman Hakim di ruas jalan Arief Rahman Hakim dan
Biawan; .

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(3)

Jembatan Propinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:


a.

Jembatan Pasar Segiri di ruas jalan Perniagaan;

b.

Jembatan I Lumba-lumba di ruas jalan Lumba-lumba;

c.

Jembatan Ruhui Rahayu di ruas jalan S. Parman;

d.

Jembatan Teluk Lerong di ruas jalan R.E. Martadinata;

e.

Jembatan PM Noor I di ruas jalan PM Noor;

f.

Jembatan PM Noor II, di ruas jalan PM Noor;

g.

Jembatan Palaran di ruas jalan Adi Sucipto;dan

h.

Jembatan Karang Asam di ruas jalan Ulin.

(4)

Jembatan Kota berupa jembatan-jembatan yang ada di wilayah kota selain


jembatan sebagaimana yang tercantum pada ayat (2) dan (3).

(5)

Rencana pembangunan jembatan baru meliputi;


a.

Jembatan Freeway dengan status jembatan nasional pada ruas jalan


Pendekat Mahkota II Sisi Sungai Kapih dan Jalan Pendekat Mahkota II
Sisi Samarinda Seberang;

b.

Jembatan Kembar Mahakam dengan status jembatan provinsi pada ruas


jalan Slamet Riyadi dan Jalan Bung Tomo;

c.

Jembatan Awang Long dengan status jembatan kota pada ruas jalan
Awang Long dan Bung Tomo;

d.

Jembatan S dengan status jembatan kota pada ruas jalan Mulawarman


dan Jalan Tongkol; dan

e.

Jembatan Kehewanan dengan status jembatan kota pada ruas jalan


Muso Salim dan Marsda Abdurahman Saleh.
Pasal 15

(1)

Jaringan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) bertujuan untuk menunjang kelancaran
angkutan umum dalam dan antar kota serta dan pengembangan ekonomi.

(2)

Jaringan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) meliputi:

(3)

a.

terminal penumpang;

b.

terminal barang.

Terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a meliputi:


a.

Terminal tipe A meliputi Terminal Samarinda Seberang di Kelurahan


Baqa Kecamatan Samarinda Seberang;

b.

Terminal Tipe B meliputi:


1.

Terminal Lempake di Kelurahan Mugirejo di Kecamatan Samarinda


Utara;

2.

Terminal Sungai Kunjang


Kecamatan Sungai Kunjang;

3.

Terminal Pasar Pagi di Kelurahan Pasar Pagi, Kecamatan Samarinda


Kota; dan

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

di

Kelurahan

Karang

Asem

Ulu,

4.
c.

Terminal Pasar Segiri di Kelurahan Dadimulya di Kecamatan


Samarinda Ulu.

Terminal Tipe C meliputi Terminal Pal V / Pinang di Kelurahan Bukit


Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu.

(4)

Terminal barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b berada di


Kelurahan Tani Aman Kecamatan Loa Janan Ilir.

(5)

Rencana pengembangan terminal penumpang sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) meliputi:
a.

Terminal tipe C Sungai Siring di Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan


Samarinda Utara; dan

b.

Terminal tipe C Bukuan di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran.


Pasal 16

(1)

(1)

Jaringan pelayanan LLAJ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4)


meliputi:
a.

Jaringan trayek angkutan penumpang;

b.

Jaringan lintas angkutan barang; dan

c.

Jaringan trayek angkutan massal.

Jaringan trayek angkutan penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


huruf a meliputi:
a.

Trayek A melayani jalur yang melewati Kecamatan Samarinda Kota


Kecamatan Sungai Kunjang;
b.
Trayek B melayani jalur yang melewati Kecamatan Samarinda Kota
Kecamatan Samarinda Ulu Kecamatan Samarinda Ilir - Kecamatan
Sungai Pinang Kecamatan Samarinda Utara ;
c.
Trayek C melayani jalur yang melewati Kecamatan Samarinda Kota
Kecamatan Samarinda Utara;
d.
Trayek D melayani jalur yang melewati Kecamatan Sungai Pinang
Kecamatan Samarinda Utara ;
e.
Trayek E melayani jalur yang melalui Kecamatan Samarinda Kota
Kecamatan Samarinda Ulu Kecamatan Sungai Kunjang Kecamatan
Samarinda Seberang Kecamatan Palaran ;
f. Trayek F melayani jalur yang melewati Kecamatan Sungai Pinang
Kecamatan Samarinda Utara;
g.
Trayek G terdiri atas 2 (dua) jalur yaitu melayani jalur yang melewati
Kecamatan Samarinda Kota Kecamatan Samarinda Ulu Kecamatan
Sungai Kunjang Kecamatan Loa Janan Ilir;
h.
Trayek H terdiri atas 2 (dua) jalur yaitu melayani jalur yang melewati
Kecamatan Samarinda Kota Kecamatan Sambutan;
i. Trayek I melayani jalur melalui Kecamatan Samarinda Ilir Kecamatan
Samarinda Kota Kecamatan Samarinda Ulu Kecamatan Sungai
Kunjang Kecamatan Samarinda Seberang;
j. Trayek J melayani jalur yang melewati Kecamatan Sungai Pinang
Kecamatan Samarinda Ulu ;
k.
Trayek K melayani jalur yang melewati Kecamatan Samarinda
Seberang Kecamatan Loa Janan Ilir; dan
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

l. Trayek L melayani jalur yang melewati Kecamatan Samarinda Kota


Kecamatan Samarinda Ulu Kecamatan Sungai Kunjang Kecamatan
Samarinda Seberang Kecamatan Loa Janan Ilir.
(2)

Jaringan lintas angkutan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b dikembangkan pada jalur jalan lintasan angkutan peti kemas melalui jalur
Jl. Soekarno Hatta Jl. HM. Rifaddin Jl. Pelita Jl. Cipto Mangunkusumo Jl.
KH. Harun Nafsi Jl. Pattimura Jl. Dwikora Jl. Poros Samarinda Palaran
Jembatan Mahulu Jembatan Mahkota Ringroad Loa Buah Ringroad Loa
Bahu Ringroad III Ringroad Sempaja Utara Ringroad Lempake Jl. DI.
Pandjaitan Jl. Poros Samarinda Bontang Ringroad Tanah Merah
Ringroad Mugirejo Ringroad Sambutan Ringroad Makroman.

(3)

Jaringan angkutan missal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c


dikembangkan meliputi:
a.

b.

Trayek Jarak Jauh, dengan bis kapasitas besar (54 seat), melayani jalur:
- Ke(km 2,5) Jl. HM. Rifaddin Jl. Pelita Jl. Cipto Mangunkusumo
Jembatan Mahakam Jl. Slamet Riyadi Jl. P. Antasari Jl. Ir. Juanda
Jl. Letjen Suprapto Jl. Letjen. S. Parman Jl. Jend. A. Yani Jl. DI.
Pandjaitan Terminal Lempake ;
- Kelurahan Sungai Siring - Jl. Poros Samarinda Bontang Ringroad
Tanah Merah Ringroad Sempaja Ringroad Loa Bahu Ringroad
Loa Buah Jembatan Mahulu Jl. Soekarno Hatta ;
- Kelurahan Pulau Atas Jl. Sultan Sulaiman Jl. Perjuangan Jl. DI.
Pandjaitan Terminal Lempake ;
- Kelurahan Bukit Pinang Jl. P. Suryanata Ringroad III Jl. Sempaja
Jl. PM. Noor Jl. DI. Pandjaitan Jl. Damanhuri Jln. Perjuangan
Handil Kopi Jl. Sultan Sulaiman Jembatan Mahkota Jl.
Hasanuddin Jl. KH. Harun Nafsi Ringroad Loa Bahu .
Trayek Jarak Menengah, dengan bis kapasitas sedang (25 seat),
melayani jalur:
- Loa Buah Jl. KH. Mas Mansyur Jl. Untung Suropati Jl. Slamet
Riyadi Jl. RE. Martadinata Jl. Gajah Mada Jl. Yos Sudarso Jl.
Suriansyah Jl. Mulawarman Jl. Sebatik Jl. Imam Bonjol Jl. Arief
Rahman Hakim Jl. Amimanh Syukur Jl. Hidayatullah Jl.
Suriansyah PP;
- Loa Bakung Jl. Jakarta Jl. Rapak Indah Jl. Teuku Umar Jl. MT.
Haryono Jl. Ir. Juanda Jl. AW. Syahranie Jl. KH. Wahid Hasyim Jl.
M. Yamin Jl. Dr. Soetomo Jl. Pahlawan Jl. Bhayangkara Jl. Awang
Long Jl. Gajah Mada Jl. RE. MArtadinata Jl. Slamet Riyadi Jl.
Untung Suropati Jl. KH. Mas Mansyur Jl. Jakarta PP;
- Bukit Pinang Jl. P. Suryanata Jl. P. Antasari Jl. RE. Martadinata
Jl. Gajah Mada Jl. Yos Sudarso Jl. Suriansyah Jl. Mulawarman Jl.
Sebatik JL. Imam Bonjol Jl. Basuki Rahmat Jl. Bhayangkara Jl.
Pahlawan Jl. Dr. Soetomo Jl. Letjen. Suprapto Jl. Kadrie Oening
Jl. P. Suryanata PP.

Pasal 17
(1)

Rencana sistem jaringan kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11


ayat (2) huruf b meliputi:

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

a.

jaringan jalur kereta api; dan

b.

stasiun kereta api.

(2)

Jaringan jalur kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
meliputi Kelurahan Sungai Siring Kelurahan Tanah Merah Kelurahan
Lempake Kelurahan Sempaja Utara Kelurahan Bukit Pinang Kelurahan
Air Putih Kelurahan Loa Bahu Kelurahan Loa Bakung Kelurahan Loa
Buah Jembatan Mahakam Kelurahan Sengkotek Kelurahan Tani Aman
Kelurahan Simpang Tiga.

(3)

Stasiun Kereta Api sebagai mana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdapat di
Kelurahan Sungai Siring yang terintegrasi dengan Bandara Samarinda Baru.
Pasal 18

(1)

(2)

(3)

(4)

Sistem jaringan angkutan sungai, danau dan penyeberangan sebagaimana


dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) poin c, meliputi:
a.

Alur Pelayaran ASDP; dan

b.

Pelabuhan/ terminal ASDP

Alur pelayaran ASDP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a.

angkutan sungai dan danau yang merupakan angkutan dalam wilayah


kota yang meliputi jalur di Kecamatan Palaran, Kecamatan Samarinda
Seberang

b.

angkutan sungai dan danau yang merupakan angkutan antar wilayah


meliputi jalur menuju hulu dan hilir sungai Mahakam yang melintasi
kota .

c.

angkutan sungai dan danau yang merupakan angkutan ponton sumber


daya alam batu bara, kayu dan hasil lainnya.

Pelabuhan/ terminal ASDP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b


meliputi:
a.

pelabuhan yang melayani tambat angkutan sungai dan danau di


wilayah kota terdapat di kelurahan pasar pagi, kelurahan karang
mumus, kelurahan selili, kelurahan, sungai kapih, kelurahan pulau atas,
kelurahan bukuan, kelurahan rawamakmur, kelurahan mesjid dan
kelurahan baqa; dan

b.

pelabuhan yang melayani tambat angkutan sungai dan danau antar


wilayah kota terdapat di kelurahan karang asem ulu dan kelurahan
pasar pagi.

Pelabuhan/ terminal ASDP sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b


meliputi:
a.

Dermaga Mahakam Ulu di kelurahan Karang Asem Ulu, Kecamatan


Sungai Kunjang;

b.

Dermaga kota di Kelurahan Pasar Pagi, Kecamatan Samarinda Kota; dan

c.

Dermaga Mahakam Ilir di kelurahan Pelabuhan, Kecamatan Samarinda


Kota;
Pasal 19

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(1)

Tatanan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2)


huruf a, merupakan pelabuhan utama yang terdapat di Kelurahan Bukuan,
Kecamatan Palaran.

(2)

Alur pelayaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) huruf b


meliputi:
a.

b.

Alur pelayaran Nasional terdiri atas:


1.

Alur pelayaran penumpang yang melayani jalur Batu Licin Kumai


Parepare Samarinda Sampit Semarang Surabaya;

2.

Alur pelayaran barang yang melayani jalur


Samarinda Sangatta Tanjung Redeb Makassar.

Balikpapan

Alur pelayaran lokal


Pasal 20

(1) Tatanan kebandaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) huruf
a meliputi Bandar udara pengumpul/pengumpan Samarinda Baru yang
berada di Kelurahan Sungai Siring Kecamatan Samarinda Utara dengan
skala pelayanan sekunder untuk melayani rute penerbangan dalam negeri.
(2) Ruang Udara untuk penerbangan sebagai mana dimaksud dalam pasal 11
ayat (4) huruf b meliputi:

(3)

a.

ruang Udara diatas Bandar udara yang diperuntukan langsung untuk


kegiatan Bandar udara;

b.

ruang udara disekitar Bandar udara yang digunakan untuk operasi


penerbangan; dan

c.

ruang udara yang ditetapkan sebagai jalur penerbangan.

Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 11 ayat (4) huruf c, meliputi:
a.

kawasan ancangan pendaratan dan lepas landas;

b.

kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan;

c.

kawasan dibawah permukaan transisi;

d.

kawasan dibawah permukaan horizontal dalam;

e.

kawasan di bawah permukaan kerucut; dan

f. kawasan dibawah permukaan horizontal luar.


(4) Ruang udara untuk penerbangan diatur sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku
Paragraf Kedua
Rencana Sistem Jaringan Prasarana Lainnya
Pasal 21
Rencana sistem prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf
b merupakan sistem jaringan prasarana penunjang yang berintegrasi dan
memberikan layanan bagi fungsi kegiatan yang ada di wilayah kota, meliputi:
a.

sistem jaringan energi;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

b.

sistem jaringan telekomunikasi;

c.

sistem jaringan sumber daya air; dan

d.

infrastruktur perkotaan.
Pasal 22

(1)

(2)

(3)

(4)

Sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf a,


meliputi:
a.

sumber pembangkit tenaga listrik; dan

b.

jaringan prasarana energi listrik.

Sumber pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


huruf a
merupakan pembangkit listrik untuk pelayanan kelistrikan Kota
Samarinda berasal dari:
a.

PLTD Sungai Keledang dengan kapasitas terpasang kurang lebih 40


MW;

b.

PLTD Karang Asam dengan kapasitas terpasang kurang lebih 39 MW;


dan

c.

PLTG Tanjung Batu dengan kapasitas terpasang kurang lebih 60 MW.

Jaringan prasarana energi listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b meliputi:
a.

jaringan transmisi tenaga listrik; dan

b.

gardu induk

Jaringan transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf
a meliputi jaringan transmisi tenaga listrik dikembangkan untuk
menyalurkan tenaga listrik antar sistem, berupa kawat saluran udara
Tegangan Tinggi (SUTT) melalui Kecamatan Palaran, Samarinda sseberang,

(5) Gardu Induk sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b terletak di:
a.

Kelurahan Sungai Kapih Kecamatan Sambutan;

b.

Kelurahan Karang Anyar Kecamatan Sungai Kunjang;

c.

Kelurahan Harapan Baru Kecamatan Loa Janan Ilir; dan

d.

Kelurahan Bukuan Kecamatan Palaran.


Pasal 23

(1)

(2)

Jaringan telekomunikasi wilayah kota sebagaimana dimaksud dalam pasal


21 huruf b meliputi:
a.

Sistem jaringan kabel; dan

b.

Sistem nirkabel.

Sistem jaringan kabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa:
a.

sambungan lokal;

b.

sambungan langsung jarak jauh; dan

c.

sambungan Internasional dengan lokasi sentral di Kelurahan Bugis


kecamatan samarinda kota.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(3)

(4)

Sistem nirkabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah:


a.

sambungan telepon nirkabel; dan

b.

lokasi menara Base Tranceiver Station (BTS) terletak Kelurahan Mesjid,


Kecamatan Samarinda Seberang, Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan
Palaran, kelurahan Lempake Kecamatan Samarinda Utara, Kelurahan
Bugis Kecamatan Samarinda Kota, Kelurahan Bukit Pinang Kecamatan
Samarinda Ulu, Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu.

Pengembangan telepon nirkabel dan lokasi menara Base Tranceiver Station


(BTS) di wilayah Kota Samarinda akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Walikota.
Pasal 24

(1)

(2)

(3)

(4)

Sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam pasal 21


huruf c meliputi:
a.

wilayah sungai;

b.

jaringan air baku;

c.

sistem jaringan irigasi; dan

d.

sistem pengendalian banjir.

Wilayah Sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah:


a.

Sungai Mahakam yang melintasi Kecamatan Palaran, Samarinda


Seberang, Loajanan Ilir, Sungai Kunjang, Samarinda Ulu, Samarinda
Kota, Samarinda Ilir dan Sambutan;

b.

Sungai Karang Mumus yang melintasi Kecamatan Samarinda Ilir,


Samarinda Kota, Samarinda Ulu, Sungai Pinang, dan Samarinda Utara;

c.

Sungai Karang Asem Besar yang melintasi kecamatan sungai kunjang;


dan

d.

Sungai Karang Asem Kecil yang melintasi kecamatan Sungai Kunjang.

Jaringan dan prasarana air baku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b, terdiri atas:
a.

sungai-sungai yang melintasi kota;

b.

waduk yaitu Waduk Benanga terletak di Kecamatan Samarinda Utara;


dan

c.

embung air yang terletak di Kecamatan Samarinda Utara.

Sistem jaringan irigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilayani
oleh daerah irigasi seluas 3.212,07 hektar meliputi:
a.

Kecamatan Samarinda Utara seluas 1.027,95 hektar;

b.

Kecamatan Sambutan seluas 736,3 hektar;

c.

Kecamatan Sungai Kunjang seluas 78,07 hektar;

d.

Kecamatan Samarinda Ulu 55,5 hektar;

e.

Kecamatan Loa Janan Ilir seluas 228,5 hektar; dan

f.

Kecamatan Palaran seluas 1.085,75 hektar.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(5)

Sistem pengendalian banjir di Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) huruf d adalah dengan perlakuan membuat folder air untuk
menampung luapan air yang terletak di:
a.

folder di jalan A. W Sahranie;

b.

folder di Jalan Antasari; dan

c.

folder di Jalan Pembangunan.


Pasal 25

Infrastruktur perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf d meliputi:


a.

Sistem penyediaan air minum;

b.

Sistem persampahan;

c.

Sistem pengelolaan air limbah;

d.

Sistem drainase;

e.

penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki;

f.

jalur evakuasi bencana;

g.

Penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana perkotaan lainnya .


Pasal 26

(1)

(2)

(6)

Sistem penyediaan air minum sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 huruf


a dilakukan melalui 2 (dua) sistem meliputi:
a.

sistem penyediaan air jaringan perpipaan; dan

b.

sistem jaringan non perpipaan.

Sistem jaringan perpipaan sebagaimana yang dimaksud ayat (1) huruf a


dilayani oleh unit produksi Kota Samarinda yang terdiri dari:
a.

IPA Unit Bengkuring II, IPA Unit Pulau Atas Instalasi Pengolahan Air (IPA)
Unit I Cendana dikelurahan Teluk Lerong Ulu; dan

b.

IPA Unit II Tirta Kencana, IPA Unit III Samarinda Seberang, IPA Unit IV
Palaran, IPA Unit V Lempake, IPA Unit VI Selili, IPA Unit Bengkuring, IPA
Unit Bendang I, IPA Unit Gunung Lipan.

Sistem jaringan non perpipaan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b


dilayani oleh hidran, terminal-terminal air maupun mobil tangki.
Pasal 27

(1)

Sistem pengelolaan persampahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 25


huruf b terdiri atas:
a.

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)


terdiri dari TPA Bukit Pinang di
Kecamatan Samarinda Ulu, TPA Palaran di Kecamatan Palaran dan TPA
Sambutan di Kecamatan Sambutan;

b.

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) tersebar di Kecamatan


Palaran, Kecamatan Samarinda Seberang, Kecamatan Loa Janan Ilir,
Kecamatan Samarinda Ulu, Kecamatan Samarinda Kota, Kecamatan

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Samarinda Ilir, Kecamatan Sambutan, Kecamatan Sungai Kunjang,


Kecamatan Sungai Pinang dan Kecamatan Samarinda Utara;
c.
(2)

Wilayah pengangkutan
Samarinda.

sampah

meliputi

seluruh

wilayah

Kota

Rencana Pengelolaan sampah rumah tangga atau sejenisnya terdiri atas:


a.

pengurangan sampah;

b.

penanganan sampah melalui konsep 3 R.


Pasal 28

(1) Sistem pengelolaan air limbah sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 huruf
c, meliputi:
a.

sistem setempat

b.

sistem terpusat

(2) Sistem pengelolaan air limbah setempat yang dimaksud pada ayat 1 huruf a
terdiri dari:
a.

b.

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) meliputi:


-

IPAL Jelawat di kelurahan Karang Mumus Kecamatan Samarinda Ilir


dengan kapasitas kurang lebih 2000 liter/ jam; dan

IPAL Bukit Pinang di kelurahan Bukit Pinang Kecamatan Samarinda


Ulu dengan kapasitas kurang lebih 1680 liter/jam.

Instalasi Pengolahan Limbah Tinja yang terletak di Kelurahan Bukit


Pinang dengan kapasitas kurang lebih 6 m3/hari.
Pasal 29

(1)

Sistem penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan


kaki wilayah Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada pasal 25 huruf d
terdapat pada ruas Jl. KH. Agus Salim, Jl. KH. Abul Hasan , Jl. P. Diponegoro,
Jl. Pulau Sulawesi, Jl. Imam Bonjol, Jl. Mulawarman, Jl. P. Hidayatullah, Jl. Yos
Sudarso dan Jl. Jend. Sudirman.

(2)

Ketentuan mengenai penyediaan prasarana dan sarana jaringan jalan


pejalan kaki selanjutnya diatur dengan Peraturan Walikota.
Pasal 30

(1)

(2)

Sistem jaringan drainase sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 huruf e,


terdiri atas:
a.

saluran primer;

b.

saluran sekunder; dan

c.

saluran tersier.

Saluran primer sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 huruf a, berupa


sistem saluran yang berhubungan langsung dan bermuara ke sungai Kota
Samarinda, yaitu saluran primer yang melewati Jl.Cermai, Jl. Pasundan, Jl.
Milono, Jl. Sentosa, Jl. Kemakmuran, Jl. Lempake Jaya, Jl. Pal Besi, Jl.Bayur
Jl.Muang, Jl. Pangeran Antasari, Jl. Mangkupalas, Jl. Lambung Mangkurat, Jl.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Pangeran Antasari, Jl.Harun Nafsi, Jl.Bambang Suparno, Jl. Melanti, Jl. Handil
Karya, Saluran Primer Air Hitam, Saluran Primer Air Putih, Saluran Primer
Pertamina, Saluran Primer Jalan Anggi, Saluran Primer Karang PCI, Saluran
Primer Gang karaoke, Saluran Primer Jalan Nurul Huda, Saluran Primer
Parekesit, Saluran Primer Sungai Kapih, Saluran primer Perum RSS
Sambutan, Saluran Primer Sei Dama, Saluran Primer Jalan Pramuka, Saluran
Primer Stadion, Saluran Primer Sempaja, Saluran Primer Bengkuring,
Saluran Primer Jalan Gelatik, Saluran Primer jalan Merak, Saluran Primer
Basuki Rahmat, Saluran Primer Bandara Temindung, Saluran Primer Jalan
Pemuda, Saluran Primer Mugirejo, Saluran Primer Lempake, Saluran Primer
Pasar Kemuning, Saluran Primer Perum Korpri Loa Bakung, Saluran Primer
Gang Kiyai;
(3)

Saluran sekunder sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 huruf b, berupa


saluran sekunder berupa sistem saluran berupa selokan yang dikembangkan
mengikuti sistem jaringan jalan dan bermuara pada saluran drainase primer
yang melewati Jl. Aminah Syukur, Jl. DR. Wahidin Sudirohusodo, Jl. Arjuna, Jl.
A.M. Sangaji, Jl. Biawan, Jl. Gatot Subroto I, Jl. Gatot Subroto II, Jl. H.O.S.
Cokroaminoto, Jl. Dewi Sartika, Jl. Gelatik, Jl. Gerilya, Jl. Gurami, Jl. Pramuka,
Jl. Jelawat, Jl. Lumba-Lumba, Jl. Urip Sumaharjo, Jl. Marsda A. Saleh, Jl. Daeng
Mangkona, Jl. Kinibalu, Jl. Abdul Muthalib, Jl. KH. Hasan Basri, Jl. Merapi, Jl.
Merbabu, Jl. Merdeka, Jl. Brigjend Katamso, Jl. Mulawarman, Jl. Ade Irma
Suryani, Jl. HM. Kadrie Oening, Jl. Ulin, Jl. Kusuma Bangsa, Jl. P. Bendahara, Jl.
Pulau Irian, Jl. Pulau Samosir, Jl. Pulau Sulawesi, Jl. KH. Samanhudi, Jl.
Mayjend Sutoyo, Jl. Gunung Semeru, Jl. Sutera Kembang, Jl. Sutera Murni, Jl.
Tarmidi, Jl. Tirta Kencana, Jl. WR. Jl. Supratman, Jl. Brantas, Jl. Sungai Kapuas,
Jl. Sungai Kayan, Jl. Sungai Musi, Jl. Sungai Telen, Jl. Sungai Barito, Jl. Pulau
Flores, Jl. Pulau Banda, Jl. Subulussalam, Jl. Veteran, Jl. Bukit Barisan, Jl.
Tengkawan, Jl. Eri Suparjan, Jl. M.Said, Jl. Cut Meutia, Jl. Revolusi, Jl.
Hasanuddin, Jl. Sultan Almuddin, Jl. H. Embun Suryana, Jl. Pampang, Jl.
Sempaja- Bayur, Jl. Damanhuri, Jl. KH. Usman Ibrahim, Jl. Siti Aisyah, Jl.
Raudah, Jl. Kesehatan, Jl. Perjuangan Solong, Jl. Tanah Merah, Jl. Lempake
Jl. Sempaja, Jl. Air Putih, Jl. Karang Paci, Jl.Loa Bahu, Jl. Poros Rawa Makmur,
Jl. Gunung Lingai, Jl. Harapan Baru Jl. Loi Hui, Jl. Tantina, Jl. Menuju Air
Terjun, Jl. Jati Selili, Jl. H. Suwandi, Jl. Kahoy, Jl. Gunung Lay, Jl. Dusun
Sukorejo, Jl. Dusun Joyomulyo, Jl. Labuk Sawah Jl. Mugirejo, Jl.
Durian/Karang Paci, Jl. Poros Desa Makroman, Jl. Dermaga Pulau Atas, Jl.
Parikesit, Jl. Kenanga Indah, Jl. Padaelo, Jl. Abd. Gani Sani, Jl. Elang, Jl.
Pengeran Suriansyah, Jl. Otto Iskandardinata, Jl. M.Yamin, Jl. KH. Khalid, Jl.
KH. Abul Hasan, Jl. H. Agus Salim, Jl. Muso Salim, Jl. KH. Ahmad Dahlan, Jl.
Imam Bonjol, Jl. A.R. Hakim, Jl. Pangeran Hidayatullah, Jl. Jend. Sudirman, Jl.
KH. Abdullah Marisi, Jl. Basuki Rahmat, Jl. Lambung Mangkurat, Jl. Mas
Tumenggung, Jl. Sumber Batu, Jl. Selat Makasar, Jl. KH. Wahid Hasyim, Jl.
Stadion, Jl. W. Monginsidi, Jl. Senyiur, Jl. Kuburan, Jl. Batu Cermin, Jl. Pinang
Seribu, Jl. Betapus, Jl. Belimau, Jl. Muang, Jl. Benanga, Jl. Batu Besaung, Jl. La
Madu Kelleng, Jl. Ruhui Rahayu, Jl. Margo Mulyo, Jl. Pembangunan, Jl.
Sukorejo, Jl. Irigasi, Jl. Telkom, Jl. Sambutan Lokal, Jl. Kehewanan, Jl. Sejati, Jl.
Sungai Kapih, Jl. Begoan, Jl. Imam Bonjol, Jl. Adi Sucipto, Jl. Cempaka, Jl.
Kenangan, Jl. Parikesit, Jl. Mulawarman, Jl. Bentuas I, Jl. Bentuas II, Jl. Bentuas
III, Jl. Kopi, Jl. Diponegoro, Jl. Antasari, Jl. Gunung Sari, Jl. Gotong Royong, Jl.
Niaga, Jl. Flamboyan, Jl. Simpang Kauman, Jl. Wono Mulyo, Jl. Mangkujenang,
Jl. Semarang; dan

(4)

Saluran tersier sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 huruf c berupa


sistem salurandrainase pada jalan-jalan lingkungan.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Pasal 31
(1)

Jalur evakuasi bencana sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 25 huruf f


adalah jalur darurat yang dipergunakan untuk penanganan evakuasi saat
terjadi bencana meliputi:
a.
Jalur evakuasi bencana banjir; dan
b. Jalur evakuasi bencana kebaran.

(2)

Jalur evakuasi bencana banjir sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf a


melewati

BAB IV
RENCANA POLA RUANG KOTA
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 32
(1)

(2)

Rencana Pola Ruang Wilayah Kota meliputi:


a.

kawasan lindung; dan

b.

kawasan budi daya.

Rencana pola ruang wilayah kota digambarkan dalam peta dengan tingkat
ketelitian 1 : 25.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Kawasan Lindung
Pasal 33

Kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) huruf a


meliputi:
a.

kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan dibawahnya;

b.

kawasan perlindungan setempat;

c.

kawasan cagar alam dan ilmu pengetahuan;

d.

ruang terbuka hijau (RTH); dan

e.

kawasan rawan bencana alam.


Pasal 34

(1)

Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan dibawahnya


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf a untuk wilayah Kota
Samarinda adalah kawasan resapan air; dan

(2)

Kawasan resapan air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat di


Kecamatan Samarinda Utara dengan luas kurang lebih 183 (seratus delapan
puluh tiga) hektar.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Pasal 35
(1)

(2)

(3)

Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33


huruf b, meliputi:
a.

sempadan sungai;

b.

kawasan sempadan danau/waduk; dan

c.

kawasan sekitar embung.

Sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


kurang lebih .......terdiri atas:

huruf a seluas

a.

kawasan sempadan Sungai Mahakam dengan lebar 20 meter dengan


kaki tanggul terluar terdapat di kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda
seberang, Sambutan dan Palaran;

b.

kawasan sempadan Sungai Karang Mumus dengan lebar 10 meter


dengan kaki tanggul terluar terdapat di Kecamatan Samarinda Kota dan
Samarinda ilir; dan

c.

kawasan sempadan Sungai Karang Asam dengan lebar 5 meter dengan


kaki tanggul terluar terdapat di Kecamatan Sungai Kunjang.

Kawasan sekitar embung dengan lebar 10 meter dari titik pasang tertinggi
ke arah darat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c seluas kurang
lebih 20 hektar terdiri atas:
a.

kawasan sempadan Embung Karang Mumus dikelurahan kecamatan..,

b.

Embung Pampang di Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan Samarinda


Utara;

c.

Embung Lobang Putang; dan

d.

Embung Muang yang terletak di Kecamatan Samarinda Utara.


Pasal 36

Kawasan cagar alam dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud dalam pasal
33 huruf c meliputi Kebun Raya Samarinda yang terletak di Kecamatan
Samarinda Utara dengan luas kurang lebih 300 (tiga ratus) hektar.
Pasal 37
(1)

Ruang Terbuka Hijau kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf d


terdiri atas:
a.

(2)

RTH publik;

b.
RTH privat.
RTH publik yang telah ada di wilayah Kota Samarinda sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi kawasan seluas kurang lebih
13.040,18 hektar atau sekitar 18,16
persen dari luas wilayah Kota
Samarinda yang meliputi:
a.

taman pemakaman seluas 42 (empat puluh dua) hektar yang terletak


di Kecamatan Sambutan seluas 9 hektar, Kecamatan Samarinda Utara
30 hektar, dan Kecamatan Sungai Pinang seluas 3 hektar;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

b.

kawasan perlindungan bawahan seluas 7.028,75 hektar yang terletak


di Kecamatan Samarinda Utara dengan luas kurang lebih 3.977,79
hektar, Kecamatan Samarinda Ulu dengan luas kurang lebih 427,03
hektar, Kecamatan Samarinda Ilir dengan luas kurang lebih 270,45
hektar, Kecamatan Sungai Kunjang dengan luas kurang lebih 721,43
hektar, Kecamatan Samarinda Seberang dengan luas kurang lebih
149,2 hektar dan Kecamatan Palaran dengan luas kurang lebih
1.482,85 hektar;

c.

kawasan kebun raya, yang terletak di Kecamatan Samarinda Utara


dengan luas kurang lebih 300 (tiga ratus) hektar;

d.

kawasan hutan kota dengan seluas 580,18 hektar terletak di


Kecamatan Samarinda Utara dengan luas kurang lebih 11,75 hektar,
Kecamatan Samarinda Ulu dengan luas kurang lebih 8,98 hektar,
Kecamatan Sambutan dengan luas kurang lebih 187 hektar, Kecamatan
Samarinda Kota dengan luas kurang lebih 11,56 hektar, Kecamatan
Samarinda Ilir dengan luas kurang lebih 113,47 hektar, Kecamatan
Sungai Kunjang dengan luas kurang lebih 71,25 hektar, Kecamatan Loa
Janan Ilir dengan luas kurang lebih 88,6 hektar, Kecamatan Samarinda
Seberang dengan luas kurang lebih 32,57 hektar;

e.

kawasan hutan rakyat seluas 1.649,25 hektar terletak di Kecamatan


Samarinda Utara dengan luas kurang lebih
1.191,25 hektar,
Kecamatan Sungai Kunjang dengan luas kurang lebih 23 hektar,
Kecamatan Samarinda Ilir dengan luas kurang lebih 300 hektar dan
Kecamatan Palaran dengan luas kurang lebih 135 hektar;

f.

kawasan konservasi lahan seluas 20 hektar di Kecamatan Palaran;

g.

kawasan perkebunan sawit seluas 3.000 hektar di Kecamatan Palaran;

h.

kawasan sempadan waduk seluas lebih kurang 400 hektar; dan

i.

kawasan sempadan embung seluas lebih kurang 20 hektar.

(3)

RTH privat sebagaimana dimaksud pada ayat


pekarangan rumah tinggal, perdagangan dan
pertahanan
dan
keamanan,
pendidikan,
peribadatan, lapangan olah raga, pelabuhan dan

(4)

Rencana pengembangan RTH meliputi:


a.

RTH Publik

b.

RTH Privat

(1) huruf b, meliputi RTH


jasa, pariwisata, industri,
perkantoran,
kesehatan,
terminal, dan TPA.

Pasal 38
(1)

(2)

Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf


e meliputi:
a.

kawasan rawan banjir; dan

b.

kawasan rawan longsor.

Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a


meliputi:
a.

Kelurahan Sempaja;

b.

Kelurahan Lempake; dan

c.

Kelurahan Temindung Permai, Kelurahan Loa Bahu, Kelurahan Sungai


Siring, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kelurahan Sungai Kapih,

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Kelurahan Pulau Atas, Kelurahan Sindang Sari, Kelurahan Loa Janan Ilir,
Kelurahan Simpang Pasir, Kelurahan Rawa Makmur, Kelurahan Bukuan,
Kelurahan Bentuas, Kelurahan Karang Asam, dan Kelurahan Gunung
Kelua.
(3)

Kawasan rawan longsor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b


meliputi Kelurahan Sungai Siring, Kelurahan Lempake, Kelurahan Air Hitam,
Kelurahan Loa Buah Kelurahan Loa Bakung, Kelurahan Temindung Permai,
Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kelurahan Sambutan, Kelurahan Harapan
Baru, Kelurahan Simpang Pasir, Kelurahan Handil Bakti, Kelurahan Baqa,
Kelurahan Rapak Dalam, dan Kelurahan Bantuas;
Bagian Ketiga
Kawasan Budi Daya
Pasal 39

Rencana pola ruang kawasan budi daya untuk wilayah Kota Samarinda terdiri
atas :
a.

kawasan peruntukan perumahan;

b.

kawasan peruntukan perdagangan dan jasa;

c.

kawasan peruntukan perkantoran;

d.

kawasan peruntukan fasilitas pelayanan umum;

e.

kawasan peruntukan ruang terbuka non hijau;

f.

kawasan peruntukan pariwisata;

g.

kawasan peruntukan pertanian;

h.

kawasan peruntukan industri;

i.

kawasan peruntukan pertambangan;

j.

kawasan peruntukan ruang sektor informal;

k.

kawasan peruntukan ruang evakuasi bencana;

l.

kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan;

m.

Kawasan peruntukan religius


Pasal 40

(1)

(2)

Kawasan peruntukan perumahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 39


huruf a meliputi:
a.

kawasan perumahan kepadatan tinggi dengan kepadatan ..per


km2;

b.

kawasan perumahan kepadatan sedang dengan kepadatan .. per


km2; dan

c.

kawasan perumahan kepadatan rendah dengan kepadatan.. per


km2.

Kawasan perumahan kepadatan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) huruf a ditetapkan di Kecamatan Palaran, Kecamatan Samarinda
Seberang, Kecamatan Loa Janan Ilir dan Kecamatan Sambutan.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(3)

Kawasan perumahan kepadatan sedang sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) huruf b ditetapkan di Kecamatan Samarinda Ulu, Kecamatan
Sungai Kunjang dan Kecamatan Sungai Pinang.

(4)

Kawasan perumahan kepadatan rendah sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) huruf c ditetapkan di Kecamatan Samarinda Kota, Kecamatan
Samarinda Ilir dan Kecamatan Samarinda Utara.
Pasal 41

Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal


39 huruf
b tersebar di seluruh wilayah Kota Samarinda, dengan pusat
perdagangan dan jasa meliputi Kecamatan Samarinda Kota dan Kecamatan
Samarinda Ulu.
Pasal 42
(1) Kawasan peruntukan perkantoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39
huruf c meliputi :
a.

kawasan perkantoran pemerintahan;dan

b.

kawasan perkantoran swasta.

(2) Kawasan perkantoran pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


huruf a terdapat di Kecamatan Sungai Kunjang dan Kecamatan Samarinda
Seberang.
(3) Kawasan perkantoran swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
terletak menyatu dan/atau bercampur di antara kawasan perdagangan dan
jasa yang berada di tiap-tiap sub pusat pelayanan kota di kecamatan
samarinda ulu, samarinda kota, samarinda ilir dan kecamatan samarinda
seberang.
Pasal 43
(1)

(2)

(3)

Rencana
pengembangan
kawasan
peruntukan
pelayanan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 huruf d, meliputi:
a.

kawasan pendidikan;

b.

kawasan kesehatan; dan

c.

kawasan peribadatan.

umum

Kawasan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri


atas:
a.

kawasan pendidikan dasar lokasinya diarahkan di pusat lingkungan di


seluruh kawasan perumahan permukiman;

b.

kawasan pendidikan menengah diarahkan di pusat kecamatan; dan

c.

kawasan pendidikan tinggi diarahkan di Kelurahan Gunung Kelua


Kecamatan Samarinda Ulu dan Kelurahan Makroman Kecamatan
Sambutan.

Kawasan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri


atas:

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(4)

a.

kawasan kesehatan seperti praktek dokter, apotek, klinik diarahkan di


pusat wilayah pengembangan dan menyebar merata di seluruh
kawasan kota terutama pada kawasan perumahan permukiman;

b.

Puskesmas, puskesmas pembantu, dan rumah bersalin diarahkan di


setiap pusat lingkungan;

c.

kawasan kesehatan skala regional seperti Rumah Sakit Umum Daerah


Tipe B terletak di Kecamatan Samarinda Ulu dan Rumah Sakit Umum
Daerah Tipe C skala kota terletak di Kecamatan Samarinda Seberang.

Kawasan peribadatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c


diarahkan menyebar merata di seluruh kawasan kota/permukiman dengan
jumlah yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan penduduk.
Pasal 44

Kawasan ruang terbuka non hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 huruf
e, meliputi:
a.

ruang terbuka yang berada di depan, samping atau belakang bangunan


publik maupun swasta dengan fungsi perkantoran, perdagangan dan jasa
dan fungsi lainnya;

b.

ruang terbuka peruntukan area parkir, anjungan seperti: plasa dan tempat
bermain; dan

c.

badan air seperti, permukaan folder, bendungan, kolam.


Pasal 45

(1)

(2)

(3)

Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39


huruf f meliputi:
a.

kawasan pariwisata alam;

b.

kawasan pariwisata budaya;

c.

kawasan pariwisata religius; dan

d.

kawasan pariwisata buatan.

Kawasan pariwisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,


meliputi:
a.

Lembah Hijau (Camping Ground Area) di Kecamatan Samarinda Utara;

b.

Air Terjun Tanah Merah di Kecamatan Samarinda Utara;

c.

Telaga Permai Batu Besaung di Kecamatan Samarinda Utara;

d.

Air Terjun Lubang Muda Pampang di Kecamatan Samarinda Utara; dan

e.

Waduk Jala Tunda di Kecamatan Samarinda Utara.

Kawasan pariwisata sejarah budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


huruf b, meliputi:
a.

Desa Wisata Pampang di Kecamatan Samarinda Utara;

b.

Pusat Pembuatan Tenun Sarung Samarinda di Kecamatan Samarinda


Seberang;

c.

Makam Lamohang Daeng Mangkona bergelar Puo Ado di Kecamatan


Samarinda Seberang;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(4)

(5)

d.

Tugu Makam Tentara Jepang Loa Buah di Kecamatan Sungai Kunjang;


dan

e.

Tugu Makam Tentara Belanda Loa Buah di Kecamatan Sungai Kunjang.

Kawasan pariwisata religius sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,


meliputi:
a.

Islamic Centre di Kecamatan Sungai Kunjang; dan

b.

Masjid Kayu Tua di Kecamatan Samarinda Seberang.

Kawasan pariwisata buatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d,


meliputi:
a.

Penangkaran Buaya Makroman di Kecamatan Sambutan;

b.

Pusat Cinderamata Citra Niaga di Kecamatan Samarinda Kota;

c.

Kolam Renang/Water Boom Jessica Park di Kecamatan Samarinda


Seberang; dan

d.

Kolam Pemancingan Tjiu di Kecamatan Sambutan.


Pasal 46

(1)

Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39


huruf g meliputi upaya untuk pengembangan pertanian melalui sektor
agribisnis, Pemerintah Kota Samarinda menetapkan kawasan-kawasan
agribisnis di Kota Samarinda, dengan memperhatikan daya dukung dan
ketersediaan potensi sumber daya pada kawasan-kawasan dimaksud.

(2)

Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)


meliputi:
a.

kawasan tanaman pangan dengan luas keseluruhan kurang lebih


2091,66 hektar meliputi:
1. kawasan persawahan beririgasi di Kelurahan Lempake, Sungai
Siring, Tanah , Makroman, Pulau Atas, Sungai Kapih, Sambutan dan
Sindang Sari dengan luas keseluruhan kurang lebih 1074,87 ha; dan
2. kawasan persawahan tadah hujan di Kelurahan Loa Buah, Loa Bahu,
Loa Bakung, Sengkotek, Simpang Tiga, Rapak Dalam, Harapan baru,
Tani Aman, Bantuas, Bukuan, Handil Bhakti, Simpang Pasir dan Rawa
Makmur dengan luas keseluruhan kurang lebih 1016,79 hektar.

b.

kawasan hortikultura dengan komoditas utama tanaman Palawija di


Kecamatan Palaran;

c.

kawasan perkebunan dengan komoditas utama tanaman coklat


Kecamatan Samarinda Utara;

d.

kawasan peternakan dengan komoditas utama ternak Kambing terletak


di Kecamatan Samarinda Utara dan Palaran ; dan

e.

kawasan perikanan dengan terdiri atas:

di

1. kawasan perikanan tangkap;


2. kawasan perikanan budi daya meliputi budidaya perikanan darat
terletak di Kecamatan Samarinda Ilir, budidaya perikanan keramba
yang terletak di Kelurahan Sempaja Utara Kecamatan Samarinda
Utara dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang berada di kelurahan
Selili Kecamatan Samarinda lir
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Pasal 47
(1)

Kawasan peruntukan industri di Kota Samarinda sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 39 huruf h terdiri atas:
a.

kawasan peruntukan industri kecil dan mikro;

b.

kawasan peruntukan industri sedang; dan

c.

kawasan peruntukan industry besar.

(2)

Kawasan peruntukan industri kecil dan mikro di Kota Samarinda


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi :industri tahu tempe
Kecamatan Samarinda Ulu, Kecamatan Samarinda Ilir, industri gula semut di
Kecamatan Samarinda Utara, industri amplang di Kecamatan Sungai
Kunjang, kerajinan manik di Kecamatan Sungai Kunjang, industri sapu ijuk di
Kecamatan Sungai Kunjang;

(3)

Kawasan peruntukan industri sedang dan menengah sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa Kawasan Industri Samarinda
meliputi industri sarung tenun di Kecamatan Samarinda Seberang,
Kecamatan Samarinda Ilir, Kecamatan Sungai Kunjang, Kecamatan Loa Janan
Ilir dan Kecamatan Samarinda Seberang, industri perkapalan kayu di
Kecamatan Sambutan, Kecamatan Samarinda Ilir dan Kecamatan Sungai
Kunjang, industri pengolahan hasil hutan di Kecamatan Loa Janan Ilir.
industri kayu dan pengolahan hasil hutan di Kecamatan Loa Janan Ilir,
Kecamatan Sungai Kunjang, Kecamatan Samarinda Ilir; dan

(4)

Kawasan peruntukan industri besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


huruf c berupa kawasan Industri Perkapalan Baja di Kecamatan Samarinda
Ilir, Sambutan, Samarinda Seberang dan Palaran. Industri kayu dan
pengolahan hasil hutan di Kecamatan Loa Janan Ilir, Kecamatan Sungai
Kunjang, Kecamatan Samarinda Ilir dan Palaran.
Pasal 48

Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39


huruf i meliputi:
(1)

(3)

kawasan pertambangan kelompok batuan yang meliputi:


a.

batu gunung yang terletak di Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Ilir


dan Samarinda Utara;

b.

tanah urug yang terletak di kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Ilir


dan Samarinda Utara; dan

c.

pasir sungai yang terletak di Kecamatan Loajanan Ilir dan Sambutan.

kawasan pertambangan kelompok batubara yang meliputi:


a.

batubara yang ijinnya dikeluarkan oleh Kementrian ESDM terletak di


Kecamatan Sambutan, Kecamatan Sungai Pinang, Kecamatan
Samarinda Utara, Kecamatan Samarinda Ulu, Kecamatan Sungai
Kunjang, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kecamatan Samarinda Seberang,
Kecamatan Palaran dan Kecamatan Samarinda Ilir; dan

b.

batu bara yang ijinnya dikeluarkan oleh pemerintah kota Samarinda.


Pasal 49

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Kawasan peruntukan ruang bagi sektor informal sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 39 huruf j ayat (1), meliputi: kawasan Citra Niaga di Kelurahan Pelabuahn
Kecamatan Samarinda Kota.
Pasal 50
(1)

Kawasan peruntukan sebagai ruang evakuasi


dimaksud dalam Pasal 37 huruf k, meliputi :

bencana

sebagaimana

a.

ruang evakuasi bencana banjir


Kecamatan Samarinda Ulu; dan

b.

ruang evakuasi bencana longsor di Kecamatan Samarinda ilir.

di

Kecamatan

Sungai

Pinang,

Pasal 51
Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 39 huruf l, meliputi:
a.

Kompleks Kepolisian di Kecamatan Samarinda Kota seluas kurang lebih 1


hektar di Kecamatan Samarinda Kota dan seluas kurang lebih 0,5 hektar di
Kecamatan Sungai Kunjang.

b.

Kompleks Tentara Nasional Indonesia di Kecamatan Samarinda Kota seluas


kurang lebih 10 hektar dan seluas kurang lebih 5 hektar di Kecamatan
Samarinda Seberang.

BAB V
RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS KOTA
Pasal 52
(1)

Kawasan strategis di wilayah Kota Samarinda merupakan kawasan strategis


Kota Samarinda dari sudut kepentingan ekonomi, sosial budaya, serta fungsi
daya dukung dan lingkungan.

(2)

Rencana kawasan strategis digambarkan dalam peta dengan tingkat


ketelitian 1:25.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 53

Kawasan Strategis Kota (KSK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1)
meliputi:
a. kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi meliputi:
1.

Kawasan industri di Kecamatan Palaran.

2.

Kawasan perdagangan Citra Niaga di Kecamatan Samarinda Kota;

3.

Kawasan perdagangan dan jasa skala kota di Kecamatan Sambutan.

b. kawasan strategis dari sudut kepentingan sosial budaya meliputi :

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

1.
2.

Kawasan Pariwisata Budaya Desa Pampang terletak di Kecamatan


Samarinda Utara;
Kawasan Kota Lama di Kecamatan Samarinda Seberang

c. kawasan strategis dari sudut kepentingan lingkungan meliputi :


1.
2.

Kawasan Kebun Raya Samarinda terletak di Kecamatan Samarinda


Utara;
Kawasan Tepian Sungai di sepanjang sungai Kota Samarinda.

Pasal 54
Operasionalisasi Kawasan Strategis Kota, akan ditindaklanjuti dengan Peraturan
Daerah tentang RDTR dan Peraturan Zonasi di tiap Kawasan Strategis Kota di
seluruh Wilayah Kota Samarinda.

BAB VI
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 55
(1)

Arahan pemanfaatan ruang wilayah kota merupakan upaya perwujudan


rencana tata ruang yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama
penataan kota dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai
akhir tahun perencanaan 20 (dua puluh) tahun.

(2)

Arahan pemanfaatan ruang terdiri atas:

(3)

(4)

a.

indikasi program utama;

b.

indikasi sumber pendanaan;

c.

indikasi pelaksana kegiatan; dan

d.

waktu pelaksanaan.

Arahan pemanfatan ruang wilayah kota, meliputi :


a.

indikasi program utama perwujudan struktur ruang wilayah kota;

b.

indikasi program utama perwujudan rencana pola ruang kota; dan

c.

indikasi program utama perwujudan kawasan-kawasan strategis kota.

Arahan pemanfatan ruang sebagaimana dimaksud


dilaksanakan dalam 4 (empat) periode, meliputi:
a.

periode I dari tahun 2011 sampai tahun 2016;

b.

periode II dari tahun 2017 sampai tahun 2021;

c.

periode III dari tahun 2022 sampai tahun 2026; dan

d.

periode IV dari tahun 2027 sampai tahun 2031.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

pada

ayat

(3)

(5)

Program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya sebagaimana


dimaksud pada ayat (3) termasuk jabaran dari indikasi program utama yang
termuat di dalam rencana tata ruang wilayah tercantum dalam lampiran IV
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Indikasi Program Utama
Paragraf Kesatu
Indikasi Program Utama Perwujudan Struktur Ruang Wilayah Kota
Pasal 56

Indikasi program utama perwujudan struktur ruang wilayah Kota Samarinda


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (3) huruf a meliputi:
a.

indikasi program untuk perwujudan sistem pusat pelayanan kegiatan kota;


dan

b.

indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan prasarana wilayah kota.


Pasal 57

Indikasi program untuk perwujudan sistem pusat pelayanan kegiatan kota


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf a, meliputi :
a.

program pembangunan
Samarinda;

kawasan

b.

program pembangunan
pendidikan;

c.

program penataan kawasan-kawasan perdagangan dan jasa;

d.

program pembangunan terminal Tipe C dan Tipe B yang akan dikoneksikan


dengan terminal Tipe A yang telah ada; dan

e.

program peningkatan kapasitas jalan kolektor dan jalan lokal dalam kota.

kawasan

perkantoran
pusat

pemerintahan

pelayanan

Kota

kesehatan

dan

Pasal 58
(1)

Indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan prasarana wilayah kota


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 huruf b, meliputi:
a.

indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan transportasi;

b.

indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan telekomunikasi;

c.

indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan energi;

d.

indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan sumber daya air;


dan

e.

indikasi program
perkotaan.

d.

Indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan transportasi di


wilayah Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
meliputi:

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

untuk

perwujudan

pengembangan

infrastruktur

a.

sistem prasarana transportasi darat:


1.

program percepatan pengembangan jalan outter dan inner


ringroad kota guna memperkuat struktur kota dan antisipasi
pengembangan kota ke arah utara dan ke arah selatan;

2.

program peningkatan kualitas dan pemeliharaan sistem


jaringan jalan dan prasarana pendukungnya;

3.

program pembangunan jalan baru untuk membuka hubungan


antar wilayah serta upaya peruntukan pembangunan;

4.

program
peningkatan
transportasi dalam kota;

5.

program penataan jalur transportasi antar kota dan dalam


kota dengan pemisahan jalur agar lebih efisien dalam
mengurangi angka kecelakaan dan kemacetan;

6.

program terpadu upaya peningkatan dan pemeliharaan


prasarana jalan, yaitu untuk jaringan listrik, TV kabel, telepon
serta jaringan komunikasi lainnya dan air bersih;

7.

pengembangan terminal Tipe A, Tipe B dan terminal Tipe C


untuk memadukan dua moda yaitu jalan raya dan kereta api,
serta untuk pengembangan pergerakan lokal dalam wilayah
Kota Samarinda;

8.

program pembangunan jalur kereta api dan stasiun kereta api


secara terpadu.

9.

program peningkatan prasarana


sebagai Pelabuhan Regional;

kapasitas dan kualitas prasarana

Pelabuhan

Peti

Kemas

10. program pengembangan pelabuhan pengumpul/pengumpan


dan terminal khusus peti kemas sebagai pelabuhan yang
melayani skala regional;
11. program peningkatan kualitas dan sistem alur pelayaran
penumpang dan barang; dan
12. program peningkatan kualitas dan sistem jaringan jalan dan
prasarana pendukungnya guna mewujudkan keterpaduan
pelayanan transportasi sungai.
b.

e.

sistem prasarana transportasi udara:


1.

program peningkatan prasarana Bandara Samarinda Baru


sebagai Bandara berskala Internasional; dan

2.

program peningkatan kualitas dan sistem jaringan jalan dan


prasarana pendukungnya guna mewujudkan keterpaduan
pelayanan transportasi udara.

Indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan telekomunikasi di


Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,
meliputi :
a.

program peningkatan sarana dan fasilitas telekomunikasi yang


lebih memadai dalam jangkauan yang lebih luas baik melalui
sambungan telepon pribadi maupun telepon umum;

b.

program
peningkatan
kapasitas
dan
kualitas
jaringan
telekomunikasi selular dengan memanfaatkan secara optimal
lokasi-lokasi yang telah ditetapkan;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

f.

g.

h.

c.

program peningkatan kapasitas jaringan penunjang teknologi


informasi perkotaan ke fasilitas sosial, ekonomi, umum,
permukiman dan daerah baru;

d.

program pembangunan jaringan telepon, tv kabel dan jaringan


telekomunikasi lainnya dengan mempertimbangkan rencana
pelebaran jaringan jalan, keamanan, dan keindahan;

e.

program pembangunan Base Transceiver Station (BTS) terpadu;

f.

pengaturan jumlah dan lokasi penempatan BTS berdasarkan titiktitik lokasi yang ditentukan dengan berpedoman pada ketentuan
yang terkait dengan bangunan gedung, yang mengatur tentang
jumlah dan letak BTS di Kota Samarinda

Indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan energi di Kota


Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi :
a.

program peningkatan dan pengembangan depo bahan bakar


minyak;

b.

program peningkatan kapasitas pembangkit listrik yang ada dalam


kota;

c.

program peningkatan daya dan sambungan listrik untuk pelayanan


masyarakat;

d.

program pembangunan dan pengembangan jaringan listrik ke


kawasan pengembangan kota;

e.

penyusunan Rencana Induk Kelistrikan;

f.

program perwujudan interkoneksi jaringan


besar dari sistem jaringan listrik regional;

g.

program ekstensifikasi sumber energi/kelistrikan.

listrik berkapasitas

Indikasi program untuk perwujudan sistem jaringan sumberdaya air di


Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d,
meliputi:
a.

program penyusunan Rencana Induk Air Bersih;

b.

program optimalisasi pemanfaatan jaringan sumberdaya


sebagai sumber baku penyedia air bersih bagi masyarakat;

c.

program rehabilitasi sistem air bersih yang sudah ada;

d.

program konservasi sumber-sumber air baku dan mata air yang


potensial;

e.

program pengendalian pemanfaatan air tanah dalam;

f.

program peningkatan efektifitas pengelolaan Daerah Aliran


Sungai (DAS) Mahakam sebagai upaya pelestarian sumberdaya
air; dan

g.

program pelestarian/konservasi sumber air permukaan serta


mewujudkan kerja sama pemanfaatan sumberdaya air dengan
berbagai pihak;

air

Indikasi program untuk perwujudan pengembangan infrastruktur


perkotaan di Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf e, meliputi:

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

a. program perluasan pelayanan sarana dan prasarana air minum yang


terintegrasi melalui pengembangan rencana induk dan peta
jaringan air bersih, dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan
untuk rumah tangga, jasa dan industri, kesehatan dan lainnya;
b. program rehabilitasi jaringan pipa air minum secara bertahap dan
peningkatan manajemen OP pelayanan;
c. review rencana induk jaringan air minum dan pembangunan sistem
jaringan air minum yang terintegrasi guna menjangkau seluruh
wilayah kota;
d. program peningkatan pengelolaan limbah kota (water treatment)
secara komunal pada pusat-pusat pelayanan serta pencegahan
pencemaran pada tubuh badan air Sungai Mahakam dan sumbersumber air bersih lainnya;
e. program pengelolaan limbah industri dan pertambangan serta
permukiman;
f.

program peningkatan fungsi IPAL dan IPLT;

g. program pengembangan sistem pengelolaan air limbah domestik


dan non domestik secara terpisah;
h. program pengelolaan persampahan melalui 3 R;
i.

program peningkatan alat angkut sampah, kontainer/TPS, dan


sistem transfer depo;

j.

program pembangunan dan perluasan kawasan TPA yang telah ada;

k. program pengembangan sistem drainase kota sesuai dengan


Rencana Induk Drainase Kota;
l.

program perbaikan sistem drainase pada kawasan rawan banjir


dengan sistem berjenjang dan terpadu;

m. program penertiban jaringan utilitas lain yang menghambat fungsi


drainase kota;
n. program pengembangan sarana trotoar pada semua jalan utama
untuk pengguna jasa pejalan kaki;
o. program penyediaan prasarana dan sarana jaringan jalan pejalan
kaki di Kota Samarinda; dan
p. program pengembangan sarana penunjang ruang dan jalur-jalur
evakuasi bencana.
Paragraf Kedua
Indikasi Program Utama Perwujudan Pola Ruang Wilayah Kota
Pasal 59
Indikasi program untuk perwujudan rencana pola ruang Kota Samarinda
sebagaimana dimaksud pada Pasal 55 ayat (3) huruf b, meliputi:
a.

indikasi program untuk perwujudan Kawasan Lindung; dan

b.

indikasi program untuk perwujudan Kawasan Budi daya.


Pasal 60

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(1)

(2)

(3)

Indikasi program untuk perwujudan kawasan lindung di Kota Samarinda


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 huruf a, meliputi:
a.

indikasi program untuk perwujudan perlindungan pada kawasan di


bawahnya;

b.

indikasi program untuk perwujudan kawasan perlindungan setempat;

c.

indikasi program untuk perwujudan kawasan cagar alam dan ilmu


pengetahuan;

d.

indikasi program untuk perwujudan kawasan ruang terbuka hijau; dan

e.

indikasi program untuk perwujudan kawasan rawan bencana alam.

Indikasi program untuk perwujudan perlindungan pada kawasan


bawahnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:

di

a.

perencanaan kawasan-kawasan resapan air yang berfungsi hidrologis;

b.

program rehabilitasi DAS Mahakam dan sungai-sungai lainnya yang


mengalami eksploitasi; dan

c.

program pengendalian dan pembatasan kegiatan budi daya pada


kawasan-kawasan resapan air; dan

d.

program pengembangan kawasan resapan air dan kawasan sumber


mata air yang tersebar di Kota Samarinda.

Indikasi program untuk perwujudan kawasan perlindungan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi:

setempat

a.

program pengendalian kawasan untuk menunjang fungsi kawasan dan


pelestarian lingkungan;

b.

program penataan ruang kawasan sekitar sempadan Sungai Mahakam


dan anak sungainya;

c.

program penataan ruang kawasan sekitar sempadan waduk/danau dan


mata air lainnya yang potensial;

d.

program konservasi lahan pada jalur kiri dan kanan sungai yang
berpotensi erosi dan longsor;

e.

program pengendalian kegiatan budi daya di sepanjang sempadan


sungai yang tersebar di Kota Samarinda; dan

f. program pengendalian pemanfaatan ruang kawasan tepi jurang atau

kemiringan lahan di atas 40 (empat puluh) persen untuk mencegah


rawan bencana longsor.
(4)

(5)

Indikasi program untuk perwujudan kawasan cagar alam dan


pengetahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi :

ilmu

a.

program pengendalian pengembangan budi daya di sekitar kawasan


cagar alam;

b.

program rehabilitasi dan konservasi pada kawasan-kawasan yang


memiliki vegetasi untuk dilindungi; dan

c.

program pengembangan pola insentif dan disinsentif pada kawasan


yang dilindungi.

Indikasi program untuk perwujudan ruang terbuka hijau (RTH) kota


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, meliputi:

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(6)

a.

program pengembangan taman RT dan RW yang akan didistribusikan


pada pusat unit-unit pengembangan perumahan;

b.

program percepatan pengembangan RTH Kota Samarinda untuk


pencapaian sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) persen dari luas
wilayah kota;

c.

program pengembangan taman kota yang akan didistribusikan di setiap


kelurahan dan kecamatan pada wilayah Kota Samarinda;

d.

program pembukaan RTH baru dari lahan-lahan yang terlantar, hasil


reklamasi dan alih fungsi dari kawasan budi daya menjadi RTH.

Indikasi program untuk perwujudan kawasan rawan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi:

bencana

alam

a.

program mitigasi kawasan rawan bencana Kota Samarinda;

b.

program pengembangan sistem peringatan dini jarak jauh dan jalur


evakuasi bencana alam;

c.

program peningkatan sosialisasi sistem evakuasi dan mitigasi bencana;

d.

program peningkatan infrastruktur kawasan yang mempunyai fungsi


sebagai lokasi evakuasi bencana alam.
Pasal 61

(1)

Indikasi program untuk perwujudan kawasan budidaya di Kota Samarinda


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 huruf b, meliputi :
a.

indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan perumahan;

b.

indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan perdagangan


dan jasa;

c.

indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan perkantoran;

d.

indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan fasilitas


pelayanan umum;

e.

indikasi program untuk perwujudan kawasan ruang terbuka non hijau;

f. indikasi program untuk perwujudan kawasan ruang pariwisata;


g.

indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan pertanian;

h.

indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan ruang industri;

i. indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan pertambangan;


j. indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan ruang sektor
informal;
k.

indikasi program untuk


evakuasi bencana; dan

perwujudan

l. indikasi program untuk perwujudan


pertahanan dan keamanan.
(2)

kawasan
kawasan

peruntukan

ruang

peruntukkan

ruang

Indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan perumahan di


Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:
a.

program penyusunan dan penataan ruang kawasan perkotaan (RDTRK,


RTRK/RTBL);

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

b.

progam penyusunan instrumen pengendalian kawasan perumahan


(zoning regulation);

c.

program revitalisasi titik-titik kawasan permukiman kumuh di Kota


Samarinda;

d.

program pengembangan dan penataan perumahan di Kota Samarinda;

e.

program pengembangan jaringan infrastruktur dan fasilitas umum di


kawasan-kawasan perumahan; dan

f. program peningkatan aksesbilitas di setiap wilayah di Kota Samarinda.


(3)

(4)

(5)

(6)

Indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan perdagangan dan


jasa di Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,
meliputi:
a.

progam penyusunan instrumen pengendalian kawasan perdagangan


dan jasa (zoning regulation);

b.

penataan kawasan perdagangan dan jasa terutama pada pusat dan


sub-sub pusat pelayanan kota;

c.

program pembangunan dan pengembangan pusat perbelanjaan dan


toko modern yang ada di Kota Samarinda;

d.

penataan kawasan pertokoan yang bersifat linear di sepanjang ruas


jalan; dan

e.

program pengembangan kawasan perdagangan dan jasa di berbagai


wilayah kota dengan skala lingkungan yang tersebar di setiap
kecamatan.

Indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan perkantoran di


Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi:
a.

program penataan dan pengembangan perkantoran pemerintahan


tingkat provinsi dan kota serta perkantoran swasta pada lokasi yang
telah ada di Kota Samarinda;

b.

program pembangunan dan pengembangan kawasan perkantoran


sesuai dengan zonasinya; dan

c.

program pengembangan rencana kawasan perkantoran baru tingkat


kota di Kecamatan Samarinda Seberang.

Indikasi program untuk perwujudan kawasan fasilitas pelayanan umum di


Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, meliputi:
a.

program peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan terhadap


sarana-sarana pendidikan untuk semua jenjang;

b.

program peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap sarana-sarana


pendidikan dan kesehatan;

c.

program peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan terhadap


sarana-sarana kesehatan di seluruh wilayah Kota Samarinda; dan

d.

program peningkatan kualitas sarana peribadatan dan pusat


pengembangan aktifitas dan syiar agama sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

Indikasi program untuk perwujudan kawasan ruang terbuka non hijau di


Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi
program pengembangan dan penataan Ruang Terbuka Non Hijau yang
tersebar di wilayah Kota Samarinda.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(7)

(8)

(9)

Indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan pariwisata di Kota


Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, meliputi:
a.

program penyusunan Rencana Induk Pariwisata Kota Samarinda


sebagai pedoman pengembangan dan pengelolaan pariwisata di Kota
Samarinda;

b.

program penyusunan RDTRK dan zoning regulation kawasan pariwisata;

c.

program peningkatan keterpaduan manajemen pengelolaaan industri


pariwisata daerah; dan

d.

program peningkatan dan pengembangan daya tarik obyek pariwisata


budaya, pariwisata alam, budaya, religius dan buatan baik yang telah
ada maupun rencana yang akan dikembangkan di Kota Samarinda.

Indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan pertanian di Kota


Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, meliputi;
a.

program pengendalian kegiatan lain agar tidak mengganggu fungsi


kawasan pertanian;

b.

program pengembangan pertanian melalui sektor agribisnis sesuai


kegunaan lahan secara optimal;

c.

program peningkatkan produksi dan produktivitas tanaman hortikultura


dan tanaman tahunan produktif untuk kawasan pertanian;

d.

program pengembangan peternakan terpadu;

e.

program pengembangan budidaya perikanan;

f.

program pengembangan PPI


kabupaten/kota sekitar; dan

g.

program pengendalian alih fungsi lahan lahan pertanian menjadi


kegiatan budi daya lainnya.

secara

terpadu

dengan

melibatkan

Indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan industri di Kota


Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h, meliputi:
a.

program perencanaan dan


pergudangan Kota Samarinda;

penetapan

kawasan

industri

dan

b.

progam penyusunan instrumen pengendalian kawasan industri dan


pergudangan (zoning regulation);

c.

program penataan dan pengembangan kawasan khusus industri dan


pergudangan secara terpadu dengan kawasan pelabuhan;

d.

program pengembangan infrastruktur pendukung kawasan industri dan


pergudangan;

e.

program
pengawasan kegiatan industri rumah tangga/kecil dan
industri ringan yang tersebar di wilayah Kota Samarinda; dan

f. program penataan pergudangan yang ada di dalam Kota Samarinda.


(10) Indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan pertambangan di
Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i, meliputi:
a.

program pengendalian
Samarinda;

b.

program peremajaan/revitalisasi lokasi kegiatan hasil pertambangan


yang telah dilakukan;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

kegiatan

pertambangan

di

wilayah

Kota

(11)

(12)

(13)

c.

program peningkatan koordinasi pengawasan dan pengendalian


pertambangan di sekitar DAS Mahakam, pada lahan-lahan kritis
dan/atau kawasan rawan bencana; dan

d.

program optimalisasi pertambangan dan identifikasi potensi-potensi


pertambangan lainnya.

Indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan ruang bagi


kegiatan sektor informal di Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf j, meliputi;
a.

program pengendalian kegiatan sektor informal yang tersebar di Kota


Samarinda; dan

b.

program penetapan dan penataan kegiatan sektor informal di wilayah


Kota Samarinda yang disesuaikan dengan jenis dan karakteristik sektor
informal yang ada.

Indikasi program untuk perwujudan kawasan ruang evakuasi bencana di


Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k, meliputi:
a.

program pemantapan sistem dan prosedur evakuasi dan mitigasi


bencana di semua wilayah Kota Samarinda;

b.

program peningkatan dan pengembangan infrastruktur kawasan ruang


evakuasi bencana di wilayah Kota Samarinda; dan

c.

alokasi kawasan evakuasi bencana yang tersebar di wilayah Kota


Samarinda.

Indikasi program untuk perwujudan kawasan peruntukan pertahanan dan


keamanan di Kota Samarinda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l,
meliputi program penataan kawasan-kawasan pertahanan dan keamanan
dengan tetap memperhatikan struktur ruang dan pola ruang dari Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda.

Paragraf Ketiga
Indikasi Program Utama Perwujudan Kawasan Strategis
Pasal 62
Indikasi program untuk perwujudan kawasan-kawasan strategis Kota Samarinda
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (3) huruf c, meliputi:
a.

indikasi program untuk perwujudan kawasan yang memiliki nilai strategis


dari sudut kepentingan ekonomi;

b.

indikasi program untuk perwujudan kawasan yang memiliki nilai strategis


dari sudut kepentingan sosial budaya;

c.

indikasi program untuk perwujudan kawasan yang memiliki nilai strategis


dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.

Pasal 63
(1)

Indikasi program untuk perwujudan kawasan yang memiliki nilai strategis


dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 62 huruf a meliputi:

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(2)

(3)

a.

program pemberian insentif dan kemudahan perijinan berinvestasi bagi


kegiatan yang berhubungan dengan sektor perdagangan dan/atau jasa
pada lokasi yang sesuai peruntukan dan daya dukung lahan;

b.

program peningkatan dan pembangunan jaringan


kawasan-kawasan strategis pertumbuhan ekonomi;

c.

program peningkatan layanan moda transportasi terhadap aksesibilitas


dan mobilitas pada kawasan strategis pertumbuhan ekonomi; dan

d.

program penyusunan rencana detail tata ruang kawasan strategis


pertumbuhan ekonomi di Kota Samarinda.

utilitas

pada

Indikasi program untuk perwujudan kawasan yang memiliki nilai strategis


dari sudut kepentingan sosial budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
62 huruf b meliputi:
a.

program pengembangan dan penataan kawasan-kawasan


berhubungan dengan kepentingan sosial budaya;

yang

b.

program peningkatan dan pembangunan jaringan


kawasan-kawasan strategis kepentingan sosial budaya;

pada

c.

program peningkatan layanan moda transportasi terhadap aksesibilitas


dan mobilitas pada kawasan strategis kepentingan sosial budaya; dan

d.

program penyusunan rencana detail tata ruang kawasan strategis


kepentingan sosial budaya di Kota Samarinda.

utilitas

Indikasi program untuk perwujudan kawasan yang memiliki nilai strategis


dari sudut kepentingan daya dukung lingkungan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 62 huruf c meliputi:
a.

program pengembangan dan penataan kawasan-kawasan


berhubungan dengan kepentingan daya dukung lingkungan;

yang

b.

program peningkatan dan pembangunan jaringan utilitas pada


kawasan-kawasan strategis kepentingan sdaya dukung lingkungan;

c.

program penghijauan dan rehabilitasi lahan pada kawasan hutan di


Kota Samarinda;

d.

program pengendalian pemanfaatan lahan di kawasan


berhubungan dengan kepentingan daya dukung lingkungan; dan

e.

program penyusunan rencana detail tata ruang kawasan strategis


kepentingan daya dukung lingkungan di Kota Samarinda.

yang

Bagian Ketiga
Indikasi Sumber Pendanaan
Pasal 64
(1)

Pembiayaan program pemanfaatan ruang Kota Samarinda bersumber pada:


a.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN);

b.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi;

c.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota;

d.

Investasi swasta;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(2)

e.

Kerja sama pembiayaan; dan

f.

Sumber lain
undangan.

yang

sah

sesuai

ketentuan

peraturan

perundang-

Pengelolaan aset hasil kerja sama Pemerintah dengan swasta dapat


dilakukan sesuai dengan analisa kelayakan ekonomi dan finansial.
Bagian Keempat
Indikasi Pelaksana Kegiatan
Pasal 65

(1)

Indikasi pelaksanaan kegiatan terdiri atas Pemerintah Pusat, Pemerintah


Provinsi, Pemerintah Kota, swasta dan masyarakat.

(2)

Pemanfaatan ruang wilayah kota berpedoman pada rencana struktur ruang


dan pola ruang.

(3)

Pemanfaatan ruang wilayah kota dilaksanakan melalui penyusunan dan


pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta sumber pendanaannya.

BAB VII
KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 66

(1)

Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah daerah digunakan sebagai acuan


dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang.

(2)

Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui:


a.

ketentuan umum peraturan zonasi;

b.

ketentuan perizinan;

c.

ketentuan pemberian insentif dan disinsentif; dan

d.

arahan sanksi.

Bagian Kedua
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Pasal 67
(1)

Ketentuan umum peraturan zonasi wilayah Kota Samarinda sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2) huruf a digunakan sebagai pedoman bagi
Pemerintah Kota Samarinda dalam menyusun peraturan zonasi.

(2)

Ketentuan umum peraturan zonasi memuat:


a.

ketentuan umum kegiatan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan


dengan syarat dan ketentuannya masing-masing;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(3)

b.

ketentuan umum intensitas pemanfaatan ruang;

c.

ketentuan umum prasarana dan sarana minimum yang disediakan; dan

d.

ketentuan khusus sesuai dengan karakter masing-masing zona.

Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)


meliputi :
a.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk struktur ruang; dan

b.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk pola ruang.


Paragraf Kesatu
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Untuk Struktur Ruang
Pasal 68

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk struktur ruang sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 67 ayat (3) huruf a meliputi:
a.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat pelayanan kota;

b.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk sub pusat pelayanan kota;

c.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk pelayanan lingkungan;

d.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi;

e.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan telekomunikasi;

f.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan energi;

g.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan sumber daya air; dan

h.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan infrastruktur perkotaan.


Pasal 69

(1)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat pelayanan kota


sebagaimana dimaksud pada Pasal 68 huruf a meliputi ketentuan umum
peraturan zonasi untuk pusat kegiatan terpadu perdagangan dan jasa,
perkantoran dan pusat kegiatan skala kota lainnya.

(2)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat kegiatan terpadu


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diarahkan dengan ketentuan
sebagai berikut:
a.

b.

zona kegiatan perdagangan dan jasa merupakan zona dalam kawasan


pusat kegiatan diperuntukan bagi pusat perbelanjaan, perhotelan,
toko/ruko dan perbankan, dengan ketentuan tata bangunan meliputi;
1.

KDB paling tinggi sebesar 70 (tujuh puluh) persen;

2.

KLB paling tinggi sebesar 4,0 (empat koma nol);

3.

KDH paling rendah sebesar 20 (dua puluh) persen; dan

4.

dilengkapi
dengan prasarana dan sarana umum pendukung
seperti sarana pejalan kaki yang menerus, sarana peribadatan,
ruang terbuka untuk sektor informal sarana perparkiran, dan
sarana transportasi umum;

zona kegiatan pemerintahan diperuntukan untuk pembangunan


bangunan pemerintah seperti kantor pemerintah kota, pemerintah

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

provinsi dan kantor pemerintahan lainnya, dengan ketentuan tata


bangunan meliputi:
1.

KDB paling tinggi sebesar 40 (empat puluh) persen;

2.

KLB paling tingga sebesar 3 (tiga) lantai;

3.

KDH paling tinggi sebesar 20 (dua puluh) persen;

4.

GSB paling jauh sebesar 3 (tiga) sampai dengan 4 (empat) meter;

5.

tinggi bangunan maksimum sama dengan KLB maksimum; dan

6.

dilengkapi dengan prasarana dan sarana umum pendukung seperti


sarana pejalan kaki, sarana peribadatan, sarana perparkiran,
sarana transportasi umum.;
Pasal 70

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sub pusat pelayanan kota sebagaimana
dimaksud pada Pasal 68 huruf b meliputi pusat kegiatan lingkup sub pusat
pelayanan merupakan zona untuk kegiatan perkantoran, perdagangan dan jasa
bernuansa lokal dengan kelengkapan sarana pasar lingkup kecamatan, pusat
perbelanjaan dan toko modern, pelayanan kesehatan, pendidikan dengan
ketentuan bangunan meliputi:
1.

KDB paling tinggi sebesar 70 (tujuh puluh) persen;

2.

KLB paling tinggi sebesar 4,0 (empat koma nol);

3.

KDH paling rendah sebesar 20 (dua puluh) persen; dan

4.

dilengkapi dengan prasarana dan sarana umum pendukung seperti sarana


pejalan kaki, sarana peribadatan dan sarana perparkiran, sarana
transportasi umum.
Pasal 71

(1)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pelayanan


sebagaimana dimaksud pada Pasal 68 huruf c meliputi :

lingkungan

a.

pelayanan pendidikan untuk sekolah dasar dan lanjutan pertama;

b.

pelayanan kesehatan berupa puskesmas/pustu;

c.

pelayanan perkantoran berupa kantor kelurahan;

d.

pelayanan ibadah;

e.

pelayanan keamanan berupa kantor polisi, militer;

f. pelayanan sosial dan budaya berupa bagian dari kantor pemerintahan; dan
g.
(2)

pelayanan ekonomi berupa pasar lokal.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pendidikan untuk sekolah lanjutan


pertama dan lanjutan atas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
meliputi:
a.

pendidikan untuk sekolah lanjutan pertama dan lanjutan atas terdiri


atas gedung ruang belajar (kelas), laboratorium, gedung administrasi
dan rumah penjaga sekolah;

b.

KDB paling tinggi sebesar 70 (tujuh puluh) persen;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(3)

(4)

c.

KLB paling tinggi sebesar 1.4 (satu koma empat);

d.

KDH paling rendah sebesar 30 (tiga puluh) persen; dan

e.

dilengkapi dengan prasarana dan sarana umum pendukung seperti


lapangan olah raga, sarana peribadatan, sarana perparkiran dan sarana
kantin.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pusat pelayanan kesehatan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a.

pusat pelayanan kesehatan berupa puskesmas/pustu;

b.

KDB paling tinggi sebesar 70 (tujuh puluh) persen;

c.

KLB paling tinggi sebesar 1.4 (satu koma empat); dan

d.

KDH paling rendah sebesar 30 (tiga puluh) persen.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pelayanan perkantoran berupa


kantor kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a.

pelayanan umum berupa kantor kelurahan terdiri atas gedung kantor


kelurahan bangunan penunjang lainnya;

b.

KDB paling tinggi sebesar 70 (tujuh puluh) persen;

c.

KLB paling tinggi sebesar 1.4 (satu koma empat); dan

d.

KDH paling rendah sebesar 30 (tiga puluh) persen;

(5) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pelayanan ibadah berupa masjid
dan tempat peribadatan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
d meliputi:

(6)

(7)

a.

pelayanan ibadah berupa bangunan peribadatan yang terdiri dari


gedung utama dan gedung lain pendukung kegiatan ibadah;

b.

KDB paling tinggi sebesar 70 (tujuh puluh) persen;

c.

KLB paling tinggi sebesar 0,7 (nol koma tujuh);

d.

KDH paling rendah sebesar 30 (tiga puluh) persen; dan

e.

dilengkapi dengan prasarana dan sarana umum pendukung seperti


gedung pendukung kegiatan ibadah.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pelayanan keamanan berupa


kantor polisi dan militer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e
meliputi:
a.

pelayanan keamanan berupa kantor polisi dan militer yang terdiri atas
gedung kantor dan gedung pendukung lainnya;

b.

KDB paling tinggi sebesar 70 (tujuh puluh) persen;

c.

KLB paling tinggi sebesar 1.4 (satu koma empat);

d.

KDH paling rendah sebesar 30 (tiga puluh) persen;

e.

dilengkapi dengan prasarana dan sarana umum pendukung seperti


sarana peribadatan, sarana perparkiran, dan sarana kantin.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pelayanan sosial dan budaya yang
merupakan bagian dari kantor pemerintahan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf f meliputi:
a.

pelayanan sosial dan budaya terdiri atas gedung kantor administrasi;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(8)

b.

KDB paling tinggi sebesar 70 (tujuh puluh) persen;

c.

KLB paling tinggi sebesar 1.4 (satu koma empat);

d.

KDH paling rendah sebesar 30 (tiga puluh) persen; dan

e.

pusat pelayanan kantor sosial dan budaya ini dapat berdiri sendiri atau
menjadi bagian dari pusat pelayanan kantor pemerintahan.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pelayanan ekonomi berupa pasar


kecamatan/kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g
meliputi:
a.

pelayanan ekonomi berupa pasar kecamatan/kelurahan terdiri gedung


pasar dan gedung pendukung perekonomian lainnya;

b.

KDB paling tinggi sebesar 70 (tujuh puluh) persen;

c.

KLB paling tinggi sebesar 1.4 (satu koma empat);

d.

KDH paling rendah sebesar 30 (tiga puluh) persen; dan

e.

dilengkapi dengan prasarana dan sarana umum pendukung seperti


sarana peribadatan dan sarana perparkiran, serta mempunyai
aksesibilitas tinggi.
Pasal 72

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 68 huruf d meliputi:
a.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi darat yang


terdiri atas jaringan jalan, terminal, jalur kereta api, stasiun kereta api;
jaringan transportasi sungai di sekitar pelabuhan yang terdiri atas kawasan
alur pelayaran dan kawasan di sekitar dermaga perlabuhan;

b.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sungai dan


danau;

c.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi laut; dan

d.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi udara di


sekitar bandara yang terdiri atas kawasan keselamatan operasional
penerbangan dan kawasan bandara.

(1)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi darat


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 huruf a meliputi:
a.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan jalan, meliputi:


1.

pemanfaatan jalan meliputi ruang manfaat jalan, ruang milik jalan,


dan ruang pengawasan jalan;

2.

penetapan ruang manfaat jalan untuk median, perkerasan jalan,


jalur pemisah, bahu jalan, lereng, ambang pengaman, trotoar,
badan jalan, saluran tepi jalan, peletakan bangunan utilitas dalam
tanah;

3.

penetapan ruang milik jalan untuk pelebaran jalan, dan


penambahan jalur lalu lintas serta kebutuhan ruang untuk
pengamanan jalan dan dilarang untuk kegiatan-kegiatan yang di
luar kepentingan jalan;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

b.

c.

4.

penetapan ruang pengawasan jalan untuk ruang terbuka yang


bebas pandang dan dan pengamanan konstruksi jalan serta
pengamanan fungsi jalan;

5.

penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan yang memenuhi


ketentuan ruang pengawasan jalan;

6.

penyediaan RTH pada zona ruang milik jalan minimal 20 (dua


puluh) persen dilengkapi dengan fasilitas pengaturan lalu lintas
dan marka jalan;

7.

jaringan jalan yang merupakan lintasan angkutan barang dan


angkutan umum memiliki lajur paling sedikit 2 (dua) lajur dan
menghindari persimpangan sebidang;

8.

penempatan jalur jaringan terpadu pada ruang milik jalan, untuk


jaringan listrik, TV kabel, telepon serta jaringan komunikasi lainnya
dan air bersih;

9.

dilarang untuk kegiatan yang mengakibatkan


terganggunya
fungsi jalan pada ruang manfaat jalan, ruang milik jalan, dan
ruang pengawasan jalan.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk terminal meliputi:


1.

penetapan zonasi terminal terdiri atas zona fasilitas utama, zona


fasilitas penunjang dan zona kepentingan terminal;

2.

penetapan zona fasilitas utama untuk tempat keberangkatan,


tempat kedatangan, tempat menunggu, tempat lintas, dan
dilarang kegiatan-kegiatan yang menggangu kelancaran lalu lintas
kendaraan;

3.

zona fasilitas penunjang untuk kamar kecil/toilet, musholla,


kios/kantin, ruang pengobatan, ruang informasi dan pengaduan,
telepon umum, tempat penitipan barang, taman dan tempat
tunggu penumpang dan/atau pengantar, menara pengawas, loket
penjualan karcis, rambu-rambu dan papan informasi, yang
sekurang-kurangnya memuat petunjuk jurusan, tarif dan jadual
perjalanan, pelataran parkir kendaraan pengantar dan/atau taksi,
dan dilarang kegiatan-kegiatan yang menggangu keamanan dan
kenyamanan;

4.

penetapan zona kepentingan terminal meliputi ruang lalu lintas


sampai dengan titik persimpangan yang terdekat dari terminal dan
dilarang untuk kegiatan yang menganggu kelancaran arus lalu
lintas;

5.

pengembangan fasilitas terminal penumpang harus dilengkapi


dengan fasilitas bagi penumpang penyandang cacat; dan

6.

terminal terpadu intra dan antar moda menyediakan fasilitas


penghubung yang pendek dan aman serta penggunaan fasilitas
penunjang bersama.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jalur kereta api, meliputi:


1.

penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalur kereta api yang


memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalur kereta api;

2.

penetapan zona ruang manfaat jalur kereta api berupa jalan rel
dan bidang tanah di kiri dan kanan jalan rel beserta ruang di kiri,
kanan, atas, dan bawah yang digunakan untuk konstruksi jalan rel

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

dan penempatan fasilitas operasi kereta api serta bangunan


pelengkap lainnya;

d.

3.

penetapan zona ruang milik jalur kereta api meliputi bidang tanah
di kiri dan kanan ruang manfaat jalur kereta api yang digunakan
untuk pengamanan konstruksi jalan rel yang terletak pada
permukaan tanah diukur dari batas paling luar sisi kiri dan kanan
ruang manfaat jalur kereta api, yang lebarnya paling sedikit 6
(enam) meter;

4.

penetapan zona ruang pengawasan jalur kereta api meliputi


bidang tanah atau bidang lain di kiri dan di kanan ruang milik jalur
kereta api digunakan untuk pengamanan dan kelancaran operasi
kereta api yang terletak pada permukaan tanah diukur dari batas
paling luar sisi kiri dan kanan ruang milik jalur kereta api, masingmasing selebar 9 (sembilan) meter;

5.

penyediaan RTH pada zona ruang milik jalur kereta api; dan

6.

pelarangan pendirian bangunan pada sempadan jalur KA.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk stasiun kereta api, meliputi:


1.

stasiun kereta api berfungsi sebagai tempat kereta api berangkat


atau berhenti untuk melayani naik dan turun penumpang, bongkar
muat barang, dan/atau keperluan operasi kereta api.

2.

stasiun kereta api paling sedikit dilengkapi dengan fasilitas:


keselamatan, keamanan, kenyamanan, naik turun penumpang,
penyandang
cacat,
kesehatan,
fasilitas
umum,
fasilitas
pembuangan sampah, dan fasilitas informasi.

3.

kegiatan di stasiun kereta api meliputi kegiatan pokok, kegiatan


usaha penunjang, dan kegiatan jasa pelayanan khusus;

4.

kegiatan pokok di stasiun meliputi pengaturan perjalanan kereta


api, pelayanan kepada pengguna jasa kereta api, pelayanan
keamanan dan ketertiban, dan pelayanan kebersihan lingkungan;

5.

kegiatan usaha penunjang di stasiun dapat dilakukan oleh


penyelenggara prasarana perkeretaapian dengan syarat tidak
mengganggu pergerakan kereta api, tidak mengganggu
pergerakan penumpang dan/atau barang, menjaga ketertiban dan
keamanan, dan menjaga kebersihan lingkungan;

6.

kegiatan jasa pelayanan khusus di stasiun dapat dilakukan oleh


pihak lain dengan persetujuan penyelenggara prasarana
perkeretaapian yang berupa jasa pelayanan ruang tunggu
penumpang, bongkar muat barang, pergudangan, parkir
kendaraan, dan/atau penitipan barang;

7.

pengembangan fasilitas stasiun penumpang harus dilengkapi


dengan fasilitas bagi penumpang penyandang cacat;

8.

penyediakan fasilitas penghubung yang pendek dan aman ke dan


dari moda lainnya.

(2). Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi sungai dan
danau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 huruf b terdiri atas kawasan di
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

sekitar dermaga dan alur pelayaran yang selanjutnya akan diatur sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.
(3). Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi laut
sebagaimana dimaksud dalam pasal 72 huruf c, terdiri atas pengaturan lalu
lintas kapal dan barang untuk lintas pulau
(4). Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transportasi udara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 huruf d terdiri atas kawasan bandara dan
kawasan keselamatan operasional penerbangan;
a. Ketentuan lebih lanjut mengenai kawasan jaringan transportasi
udara diatur dengan ketentuan perundang-undangan.
Pasal 73
(1)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan telekomunikasi


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 huruf e meliputi:
a.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan kabel;

b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sentral telekomunikasi;


c.
(2)

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan nirkabel.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan kabel sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi :
a.

zonasi jaringan tetap terdiri atas zona ruang manfaat dan zona ruang
bebas;

b. penetapan zona ruang manfaat untuk tiang dan kabel-kabel dan dapat
diletakkan pada zona manfaat jalan;
c.
(3)

zona ruang bebas dibebaskan dari bangunan dan pohon yang dapat
mengganggu fungsi jaringan.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sentral


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi :
a.

zonasi sentral telekomunikasi terdiri atas zona fasilitas utama dan zona
fasilitas penunjang;

b. zona
fasilitas
telekomunikasi;
c.

telekomunikasi

utama

difungsikan

untuk

instalasi

peralatan

zona fasilitas penunjang difungsikan untuk bangunan kantor pegawai,


dan pelayanan publik;

d. persentase luas lahan terbangun maksimal sebesar 50 (lima puluh)


persen;
e.

(4)

penyediaan prasarana dan sarana penunjang terdiri atas parkir


kendaraan, sarana kesehatan, ibadah gudang peralatan, papan
informasi, dan loket pembayaran.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan nirkabel (menara


telekomunikasi) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi :
a.

zona menara telekomunikasi terdiri atas zona manfaat dan zona aman;

b. zona manfaat difungsikan untuk instalasi menara baik di atas tanah


atau di atas bangunan;
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

c.

pelarangan kegiatan yang mengganggu pada zona aman sejauh radius


sesuai tinggi menara;

d. menara harus dilengkapi dengan sarana pendukung dan identitas


hukum yang jelas. sarana pendukung antara lain pentanahan,
penangkal petir, catu daya, lampu halangan penerbangan, dan marka
halangan penerbangan, identitas hukum antara lain nama pemilik,
lokasi, tinggi, tahun pembuatan/pemasangan, kontraktor, dan beban
maksimum menara;
e.

pembangunan jaringan telepon, tv kabel dan jaringan telekomunikasi


lainnya harus mempertimbangkan rencana pelebaran jaringan jalan,
keamanan, dan aspek estetika;

f.

pembangunan Base Tranceiver Station (BTS) harus memperhatikan


keamanan, dan keindahan serta dilaksanakan dengan menggunakan
teknologi BTS terpadu;

g. pengaturan jumlah, jarak dan lokasi penempatan BTS diatur


berdasarkan titik-titik lokasi yang ditentukan dengan berpedoman pada
ketentuan yang terkait dengan bangunan gedung, yang mengatur
tentang jumlah, jarak dan letak BTS di Kota Samarinda;
h. jarak antar menara BTS pada wilayah yang datar minimal 5 (lima) kilo
meter, dan pada wilayah yang bergelombang/berbukit/ pegunungan
paling sedikit 1 (satu) kilo meter;
i.

menara telekomunikasi untuk mendukung sistem transmisi radio


microwave, apabila merupakan menara rangka yang dibangun diatas
permukaan tanah dengan tinggi paling banyak 75 (tujuh puluh lima)
meter;

j.

pelarangan pembangunan jaringan telekomunikasi pada lahan dengan


topografi lebih dari 500 (lima ratus) meter dpl dan lereng lebih dari 20
(dua puluh) persen.
Pasal 74

(1)

(2)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 huruf f, meliputi:

jaringan

energi

a.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga


listrik;

b.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga listrik.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transmisi


sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a terdiri atas:
a.

listrik

ketentuan umum peraturan zonasi untuk gardu induk meliputi:


1. zona gardu induk terdiri atas zona manfaat dan zona bebas;
2. zona manfaat difungsikan untuk instalasi gardu induk dan fasilitas
pendukungnya;
3. zona bebas berjarak paling sedikit 20 (dua puluh) meter di luar
sekeliling gardu induk;
4. pelarangan pendirian bangunan dan kegiatan yang mengganggu
operasional gardu induk.

b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk SUTT meliputi:


Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

1. zona jaringan transmisi terdiri atas ruang bebas dan ruang aman;
2. zona ruang bebas harus dibebaskan baik dari orang, maupun benda

apapun demi keselamatan orang, makhluk hidup, dan benda lainnya;


3. zona ruang aman difungsikan untuk kegiatan yang tidak menggangu

fungsi SUTT dengan syarat mengikuti


minimum vertikal dan horizontal.
(3)

ketentuan

jarak

bebas

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga listrik


sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b meliputi:
a. kawasan pembangkit tenaga listrik terdiri atas
pembangkit listrik dan kawasan penyangga;

kawasan

b. kawasan manfaat pembangkit listrik adalah untuk


peralatan pembangkit listrik;

manfaat

bangunan dan

c. kawasan peyangga adalah kawasan yang dilarang untuk kegiatan yang


dapat menganggu keselamatan operasional pembangkit tenaga listrik;
d. KDB dan KLB ditetapkan dalam Rencana Rinci Tata Ruang dengan
memperhatikan aspek keamanan, kenyamanan, tata bangunan dan
lingkungan;
e. KDH paling rendah sebesar 20 (dua puluh) persen; dan
f. pada setiap lokasi instalasi penyediaan tenaga listrik dan instalasi
pemanfaatan tenaga listrik konsumen tegangan tinggi dan menengah
yang berpotensi membahayakan keselamatan umum harus diberi tanda
peringatan yang jelas.

Pasal 75
(1)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan sumber daya air


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 huruf g meliputi ketentuan umum
peraturan zonasi untuk jaringan sungai.

(2)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan sungai sebagaimana


dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
a. zonasi jaringan sungai terdiri atas;
1. zona sempadan difungsikan untuk mempertahankan kelestarian
fungsi sungai dan dilarang untuk membuang sampah, limbah padat
dan atau cair dan mendirikan bangunan permanen untuk hunian dan
tempat usaha ataupun kegiatan lain yang dapat mengganggu fungsi
sungai;
2. zona manfaat difungsikan untuk mata air dan daerah sempadan yang
telah dibebaskan;
3. zona penguasaan difungsikan untuk dataran banjir, daerah retensi,
bantaran atau daerah sempadan yang tidak dibebaskan.
b. pemanfaatan lahan di daerah sempadan adalah untuk kegiatan-kegiatan
budidaya pertanian dan kegiatan budi daya lainnya yang tidak
mengganggu fungsi perlindungan aliran sungai;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

c. zona penguasaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a persentase luas


ruang terbuka hijau minimal 30 (tiga puluh) persen;
d. garis sempadan sungai yang diukur dari tepi sungai pada kawasan yang
belum dimanfaatkan atau belum terbangun sepanjang paling sedikit 50
(lima puluh) meter, sedangkan garis sempadan sungai yang diukur dari
tepi sungai pada kawasan yang telah dihuni dan/atau sudah terbangun
sepanjang paling sedikit 10 (sepuluh) meter.
Pasal 76
(1)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan infrastruktur perkotaan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 huruf h, meliputi :
a.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan air minum;

b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem persampahan;


c.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem pengelolaan air limbah;

d. ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan pejalan kaki;

(2)

e.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan drainase;

f.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jalur evakuasi bencana.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan air minum


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a.

zonasi penyediaan air minum terdiri atas:


1. zona unit air baku difungsikan untuk bangunan penampungan air,
bangunan pengambilan/penyadapan, alat pengukuran dan peralatan
pemantauan, sistem pemompaan, dan/atau bangunan sarana
pembawa serta perlengkapannya;
2. zona unit produksi difungsikan untuk
pengolahan air baku menjadi air minum;

prasarana

dan

sarana

3. zona unit distribusi difungsikan untuk sistem perpompaan, jaringan


distribusi, bangunan penampungan, alat ukur dan peralatan
pemantauan;
4. zona unit pelayanan difungsikan untuk sambungan rumah, hidran
umum, dan hidran kebakaran;
5. zona unit pengelolaan difungsikan untuk pengelolaan teknis yang
meliputi kegiatan operasional, pemeliharaan dan pemantauan dari
unit air baku, unit produksi dan unit distribusi dan pengelolaan
nonteknis yang meliputi administrasi dan pelayanan;
b. unit produksi terdiri atas bangunan pengolahan dan perlengkapannya,
perangkat operasional, alat pengukuran dan peralatan pemantauan,
serta bangunan penampungan air minum;
c.

limbah akhir dari proses pengolahan air baku menjadi air minum wajib
diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sumber air baku dan daerah
terbuka;

d. unit distribusi memberikan kepastian kuantitas, kualitas air, dan jaminan


pelayanan secara maksimanl;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

e.

(3)

untuk mengukur besaran pelayanan pada sambungan rumah dan hidran


umum harus dipasang alat ukur berupa meter air yang wajib ditera
secara berkala oleh instansi yang berwenang.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem persampahan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas:
a.

peraturan zonasi untuk Tempat Penampungan Sementara (TPS) terdiri


atas:
1. zonasi kawasan TPS terdiri atas zona ruang manfaat dan zona ruang
penyangga;
2. zona ruang manfaat difungsikan untuk penampungan sampah dan
tempat peralatan angkutan sampah;
3. zona ruang penyangga adalah zona yang dilarang untuk kegiatan
yang dapat mengganggu penampungan dan pengangkutan sampah
sampai sejarak 10 (sepuluh) meter dari sekeliling zona ruang
manfaat;
4. pengharusan penerapan persentase luas lahan terbangun sebesar
10 (sepuluh) persen;
5. dilengkapi dengan prasarana dan sarana minimum berupa ruang
pemilahan, tempat pemindah sampah yang dilengkapi dengan
landasan container dan pagar tembok keliling.

b. peraturan zonasi untuk Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) terdiri atas:


1. zonasi kawasan TPA terdiri atas zona ruang manfaat dan zona ruang
penyangga;
2. zona ruang manfaat difungsikan untuk pengurugan dan pemrosesan
akhir sampah;
3. zona ruang penyangga adalah zona yang dilarang untuk kegiatan
yang dapat mengganggu pemrosesan sampah sampai sejarak 1000
(seribu) meter untuk perumahan, dan 300 (tiga ratus) meter untuk
sumber air bersih dari sekeliling zona ruang manfaat;
4. persentase luas lahan terbangun sebesar 20 (dua puluh) persen;
5. dilengkapi dengan prasarana dan sarana minimum berupa lahan
penampungan, sarana dan peralatan pemrosesan sampah, jalan
khusus kendaraan sampah, kantor pengelola, tempat parkir
kendaraan, tempat ibadah, tempat olahraga dan pagar tembok
keliling;
6. pada lokasi yang jaraknya 1000 (seribu) meter dari TPA, dilarang
mendirikan bangunan berupa permukiman dan/atau bangunan
lainnya yang mengganggu fungsi TPA;
7. pada lokasi yang telah ditetapkan sebagai TPA, juga disediakan
ruang untuk penempatan wadah penampungan limbah B3 dan
penempatan kegiatan pengelolaan barang-barang buangan/limbah;
(4)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem pengelolaan air limbah


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berupa ketentuan umum
peraturan zonasi untuk sistem jaringan limbah domestik meliputi:
a.

zona limbah domestik terpusat terdiri atas ;


1. zona ruang manfaat difungsikan untuk bangunan atau instalasi
pengolahan limbah;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

2. zona ruang penyangga adalah zona yang dilarang untuk kegiatan


yang mengganggu fungsi pengolahan limbah hingga jarak 10
(sepuluh) meter sekeliling ruang manfaat;
3. persentase luas lahan terbangun maksimal sebesar 10 persen;
b.

pelayanan minimal sistem pembuangan air limbah berupa unit


pengolahan kotoran manusia/tinja dilakukan dengan menggunakan
sistem setempat atau sistem terpusat agar tidak mencemari daerah
tangkapan air/resapan air baku;

c.

perumahan dengan kepadatan rendah hingga sedang, setiap rumah


wajib dilengkapi dengan sistem pembuangan air limbah setempat atau
individual yang berjarak minimal 10 (sepuluh) meter dari sumur;

d.

perumahan dengan kepadatan tinggi, wajib dilengkapi dengan sistem


pembuangan air limbah terpusat atau komunal, dengan skala
pelayanan
satu
lingkungan,
hingga
satu
kelurahan
serta
memperhatikan kondisi daya dukung lahan dan SPAM serta
mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat;

e.

sistem pengolahan limbah domestik pada kawasan dapat berupa IPAL


sistem konvensional atau alamiah dan pada bangunan tinggi berupa
IPAL dengan teknologi modern;

f.

mengembangkan sistem pengelolaan air limbah domestik dan non


domestik secara terpisah.

(5)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan pejalan kaki


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diarahkan sesuai dengan
persyaratan teknis yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku
dengan memperhatikan esensi yang ada, elemen-elemen dasar teknis
antara lain bidang permukaan, kemiringan yang dipersyaratkan, area
istirahat, aspek pencahayaan, perawatan, drainase yang dilalui, dimensi
serta jalur pengamannya.

(6)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan drainase


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e diarahkan dengan ketentuan
sebagai berikut :
a.

b.
(7)

zona jaringan drainase terdiriatas:


1.

zona manfaat
difungsikan untuk penyaluran
diletakkan pada zona manfaat jalan;

air dan dapat

2.

zona bebas di sekitar jaringan drainase dibebaskan dari kegiatan


yang dapat mengganggu kelancaran penyaluran air dengan jarak
5 (lima) meter pada saluran primer yang lebarnya minimal 2 (dua)
meter.

pemeliharan dan pengembangan jaringan drainase dilakukan selaras


dengan pemeliharaan dan pengembangan atas ruang milik jalan.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jalur evakuasi bencana


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f diarahkan dengan ketentuan
sebagai berikut:
a.

jaringan jalan yang merupakan lintasan angkutan barang dan angkutan


umum memiliki lajur paling sedikit 2 (dua) lajur dan menghindari
persimpangan sebidang;

b.

dilarang untuk kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi


jalan pada saat dilakukannya kegiatan evakuasi bencana.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Paragraf Kedua
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Untuk Pola Ruang
Pasal 77
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pola ruang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 67 ayat (3) huruf b meliputi:
a.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung;

b.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budi daya.


Pasal 78

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan


dimaksud dalam Pasal 77 huruf a terdiri atas:

lindung sebagaimana

a.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan yang memberikan


perlindungan pada kawasan dibawahnya;

b.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan setempat;

c.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan cagar alam dan ilmu
pengetahuan;

d.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan ruang terbuka hijau; dan

e.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam.


Pasal 79

(1)

(2)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan yang memberikan


perlindungan pada kawasan dibawahnya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 78 huruf a adalah ketentuan umum peraturan zonasi kawasan resapan
air;
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan resapan air sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a.

pemanfaatan ruang yang merusak/mengganggu kawasan resapan air


yang telah ditetapkan lokasinya; dan

b.

mengarahkan pengembangan perumahan agar mewajibkan setiap unit


rumah memiliki minimal 1 (satu) lubang biopori untuk penyediaan
resapan air.
Pasal 80

(1)

(2)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan setempat


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf b yang meliputi:
a.

ketentuan umum peraturan zonasi sempadan sungai;

b.

ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sekitar waduk; dan

c.

ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan embung.

Ketentuan umum peraturan zonasi sempadan


dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

sungai

sebagaimana

(3)

a.

Diperbolehkan secara terbatas pemasangan reklame dan papan


pengumuman, pemasangan bentangan jaringan transmisi tenaga
listrik, kabel telepon, dan pipa air minum, pembangunan prasarana lalu
lintas air dan bangunan pengambilan dan pembuangan air, dan
bangunan penunjang sistem prasarana kota;

b.

Pelarangan kegiatan yang merusak kualitas air sungai, kondisi fisik tepi
sungai dan dasar sungai, serta mengganggu aliran air.

Ketentuan umum peraturan zonasi sempadan


dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:

waduk

sebagaimana

a.

pemanfaatan ruang untuk kegiatan rekreasi air, pengamanan waduk,


kegiatan perikanan, dan kegiatan lainnya yang tidak mengganggu
fungsi dan kualitas air waduk;

b.

kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan selain


sebagaimana dimaksud pada huruf a yang tidak mengganggu fungsi
sempadan waduk sebagai kawasan perlindungan setempat;

c.

Pelarangan kegiatan yang mengganggu fungsi sempadan waduk


sebagai kawasan perlindungan setempat.

(4) Ketentuan umum peraturan zonasi sempadan


dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:

embung

sebagaimana

a.

tidak boleh diperuntukan untuk kegiatan apapun; dan

b.

Sempadan embung ditanami tanaman yang perakarannya dapat


mengikat tanahan.
Pasal 81

Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan cagar alam dan ilmu pengetahuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 78 huruf c meliputi :
a.

Pemanfaatan

secara maksimal kawasan cagar alam dengan menetapkan


fungsi yang telah ditetapkan;

b.

dilarang untuk melakukan pengupasan tanah di kawasan tersebut; dan

c.

dapat melakukan
pendidikan.

kegiatan

didalamnya

hanya

untuk

kepentingan

Pasal 82
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan ruang terbuka hijau sebagaimana
dimaksud dalam pasal 78 huruf d meliputi :
(1)

zona ruang terbuka hijau yang dimaksud dapat berupa taman-taman kota,
taman-taman lingkungan, taman-taman pada jalur pergerakan dan kawasan
budidaya lainnya yang dapat difungsikan sebagai RTH, serta dilarang untuk
kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi ruang terbuka hijau;

(2)

proporsi RTH pada wilayah perkotaan sebesar minimal 30 (tiga puluh)


persen yang terdiri atas 20 (dua puluh) persen ruang terbuka hijau publik
dan 10 (sepuluh) persen ruang terbuka hijau privat; dan

(3)

pembangunan kavling perumahan wajib menyediakan RTH 20 (dua puluh)


persen dari luas kavling yang nantinya akan diserahkan kepada Pemerintah
Kota sebagai aset Pemerintah Kota.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Pasal 83
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan rawan bencana alam meliputi rawan
bencana tanah longsor, banjir dan puting beliung sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 78 huruf e meliputi:
(1)

pemanfaatan zona tingkat kerawanan tinggi dan sedang (lereng bukit atau
kemiringan tinggi) untuk kegiatan pertanian lahan kering terbatas,
perumahan terbatas, peternakan terbatas, kegiatan pariwisata terbatas;

(2)

dilarang untuk budi daya dan kegiatan yang dapat mengurangi gaya
penahan gerakan tanah;

(3)

pelarangan kegiatan budi daya dan kegiatan lainnya termasuk penyediaan


fasilitas umum dan sosial pada zona tingkat kerawanan tinggi dan sedang
yang dapat mengurangi gaya penahan gerakan tanah; dan

(4)

pada kawasan rawan bencana tanah longsor dilarang pengembangan


perumahan baru.
Pasal 84

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budi daya sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 77 huruf b meliputi:
a.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perumahan;

b.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perdagangan


dan jasa;

c.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perkantoran;

d.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan fasilitas


pelayanan umum;

e.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan ruang terbuka non hijau;

f.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan ruang pariwisata;

g.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian;

h.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri;

i.

ketentuan
umum
pertambangan;

j.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan ruang sektor


informal;

k.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan ruang


evakuasi bencana; dan

l.

ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertahanan


dan keamanan.

peraturan

zonasi

untuk

kawasan

peruntukan

Pasal 85
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf a meliputi:
a.

perumahan

diperbolehkan melakukan kegiatan pengembangan perumahan, perdagangan


dan jasa skala lokal, kegiatan pelayanan masyarakat;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

b.

dibatasi pengembangan kegiatan perkantoran, dan perdagangan dan jasa


skala regional;

c.

pelarangan kegiatan industri dan kegiatan lain yang dapat mengganggu


fungsi utama kawasan peruntukan perumahan;

d.

zonasi kawasan peruntukan perumahan terdiri atas:


1.

zona perumahan dengan kepadatan tinggi difungsikan untuk


pembangunan perumahan dengan kepadatan bangunan antara 51 (lima
puluh satu) sampai dengan 100 (seratus) unit perhektar;

2.

zona perumahan dengan kepadatan sedang difungsikan untuk


pembangunan rumah dan perumahan dengan kepadatan bangunan
antara 26 (dua puluh enam) sampai dengan 50 (enam puluh) unit per
hektar; dan

3.

zona perumahan dengan kepadatan rendah difungsikan untuk


pembangunan rumah dengan kepadatan bangunan paling banyak 25
(dua puluh lima) unit per hektar.

e.

intensitas kawasan perumahan untuk lingkungan kepadatan tinggi,


kepadatan sedang, dan kepadatan rendah dituangkan dalam rencana detail;

f.

penyediaan prasarana pengelolaan


pengembangan perumahan;

g.

penyediaan prasarana pengelolaan air limbah (IPAL) bagi setiap kegiatan


pengembangan perumahan;

h.

penyediaan sumur resapan, dan/atau lubang biopori pada lahan terbangun


yang diperuntukkan sebagai kawasan perumahan;

i.

pembangunan kapling perumahan wajib menyediakan RTH 20 (dua puluh)


persen dari luas kavling yang nantinya akan diserahkan kepada Pemerintah
Kota sebagai asset Pemerintah Kota Samarinda; dan

j.

prasarana dan sarana minimal perumahan


Pelayanan Minimal (SPM) bidang perumahan.

air

minum

bagi

mengacu

setiap

pada

kegiatan

Standar

Pasal 86
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukkan perdagangan dan jasa
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf b meliputi :
a.

zonasi kawasan perdagangan dan jasa terdiri atas:


1.

zona perdagangan dan jasa skala regional difungsikan untuk kegiatan


perdagangan besar dan eceran, jasa keuangan, jasa perkantoran
usaha dan profesional, jasa hiburan dan rekreasi serta jasa
kemasyarakatan;

2.

zona perdagangan dan jasa skala lokal difungsikan untuk kegiatan


perdagangan eceran, jasa keuangan, jasa perkantoran usaha dan
profesional, jasa hiburan dan rekreasi serta jasa kemasyarakatan.

b.

pelarangan kegiatan industri dan kegiatan lain yang dapat mengganggu


kegiatan perdagangan dan jasa;

c.

penerapan intensitas bangunan meliputi:


1.

intensitas ruang untuk kawasan perdagangan dan jasa Regional KDB


paling tinggi 40 (empat puluh) persen dan KDH paling rendah 30 (tiga
puluh) persen;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

2.

intensitas ruang untuk kawasan perdagangan dan jasa lokal adalah


KDB paling tinggi 50 (lima puluh) persen dan KDH paling rendah 30
(tiga puluh) persen.

d.

penyediaan prasarana dan sarana umum pendukung seperti sarana pejalan


kaki yang menerus, sarana peribadatan dan sarana perparkiran, sarana
kuliner, sarana transportasi umum, ruang terbuka; serta jaringan utilitas;

e.

penyediaan prasarana dan sarana umum pendukung aksesibilitas bagi


manula dan penyandang cacat;

f.

penyediakan zona penyangga berupa RTH untuk kawasan peruntukan


perdagangan dan jasa yang berbatasan langsung dengan kawasan lindung;
dan

g.

sarana media ruang luar komersial harus memperhatikan tata bangunan


dan tata lingkungan, kestabilan struktur serta keselamatan.
Pasal 87

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perkantoran


sebagaimana dimaksud dalam pasal 84 huruf c meliputi:
a.

diperuntukan untuk pembangunan bangunan pemerintah seperti kantor


pemerintah propinsi, kantor pemerintah kota, kantor instansi vertikal, kantor
polisi, dan lain-lain;

b.

kegiatan perdagangan dan jasa juga dapat dikembangkan pada kawasan ini
tetapi bersifat terbatas dan bersyarat;

c.

pelarangan pengembangan kegiatan untuk jenis bangunan dengan fungsi


hotel dan bioskop pada zonasi ini;

d.

pelarangan kegiatan industri besar dan menengah dan kegiatan lain yang
dapat mengganggu kegiatan perkantoran;

e.

penetapan intensitas bangunan dengan ketentuan meliputi:


1.

KDB paling tinggi 40 (empat puluh) persen;

2.

KLB paling rendah 3 (tiga) lantai;

3.

KDH paling rendah 20 (dua puluh) persen;

4.

GSB antara 3 (tiga) sampai dengan 4 (empat) meter;

5.

tinggi bangunan maksimum sama dengan KLB maksimum.


Pasal 88

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pelayanan umum


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf d, meliputi:
a.

b.

ketentuan peraturan zonasi untuk kawasan pendidikan, meliputi:


1.

tersedianya fasilitas pendidikan dasar dan lanjutan secara berjenjang;

2.

jumlah fasilitas pendidikan disesuaikan dengan jumlah penduduk


sesuai syarat yang dikeluarkan instansi terkait; dan

3.

lokasi fasilitas pendidikan disesuaikan dengan skala pelayanan.

ketentuan peraturan zonasi untuk kawasan kesehatan, meliputi:


1.

aksesibilitas terhadap sarana kesehatan;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

c.

2.

kawasan kesehatan seperti praktek dokter, apotek, klinik diarahkan di


pusat wilayah pengembangan dan menyebar merata di seluruh
kawasan kota terutama pada kawasan perumahan dan permukiman;

3.

pengembangan sarana kesehatan disesuaikan dengan skala pelayanan;

4.

jumlah sarana kesehatan disesuaikan dengan jumlah penduduk; dan

5.

lokasi sarana kesehatan dengan fungsi pelayanan sekunder, menyebar


di seluruh wilayah permukiman.

ketentuan peraturan zonasi untuk kawasan peribadatan, meliputi:


1.

kawasan peribadatan menyatu dengan lingkungan permukiman; dan

2.

jumlah sarana peribadatan berdasarkan jumlah penduduk sesuai


pemeluk agama dan rasio kebutuhan penduduk.
Pasal 89

Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukkan ruang terbuka non


hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf e selanjutnya akan diatur
dalam rencana rinci tata ruang wilayah Kota Samarinda.

Pasal 90
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf f meliputi:
a.

pariwisata

zonasi kawasan pariwisata terdiri atas:


1.

zona usaha jasa pariwisata difungsikan untuk jasa biro perjalanan


wisata, jasa agen perjalanan wisata, jasa pramuwisata dan jasa
informasi pariwisata;

2.

zona objek dan daya tarik wisata difungsikan untuk objek dan daya
tarik wisata alam, objek dan daya tarik wisata budaya, dan objek serta
daya tarik wisata minat khusus; dan

3.

zona usaha sarana pariwisata difungsikan untuk penyediaan


akomodasi, makan dan minum, angkutan wisata, dan kawasan
pariwisata;

b.

pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan
daya tampung lingkungan;

c.

perlindungan terhadap situs peninggalan sejarah dan budaya;

d.

pembatasan
pariwisata;

e.

untuk situs peninggalan sejarah dan budaya yang berada di luar kawasan
pariwisata ditetapkan zonasi tersendiri sesuai dengan kondisi di lapangan;

f.

penyediaan prasarana dan sarana minimal meliputi telekomunikasi, listrik,


air bersih, drainase, pembuangan limbah dan persampahan, WC umum,
parkir, lapangan terbuka, pusat perbelanjaan skala lokal, sarana
peribadatan dan sarana kesehatan, persewaan kendaraan, loket tiket,
tempat penukaran uang dan kegiatan pendukung pariwisata lainnya;

pendirian

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

bangunan

hanya

untuk

menunjang

kegiatan

g.

memiliki akses yang terintegrasi dengan sarana dan prasarana transportasi


lokal maupun regional;

h.

pelarangan kegiatan industri besar dan menengah dan kegiatan lain yang
dapat mengganggu kegiatan pariwisata
Pasal 91

Kentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf g, meliputi:
a.

b.

c.

pertanian

ketentuan peraturan zonasi untuk kawasan pertanian lahan basah meliputi:


1.

kawasan pertanian tanaman lahan basah dengan irigasi teknis tidak


boleh dialihfungsikan;

2.

pengembangan prasarana pengairan;

3.

pelarangan kegiatan lain yang mengganggu fungsi lahan pertanian;


dan

4.

pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budi daya non pertanian
kecuali untuk pembangunan sistem jaringan prasarana kota.

ketentuan peraturan zonasi untuk kawasan pertanian lahan kering meliputi:


1.

melakukan pola agroforestri melalui teknik tumpangsari antara


tanaman pangan dan tanaman hutan yang dapat berfungsi lindung, di
samping tanaman pangan untuk pemenuhankebutuhan masyarakat;

2.

menerapkan sistem usaha tani terpadu berupa kombinasi ternaktanaman pangan, hortikultura (sayuran, tanaman hias) dan tanaman
tahunan yang disertai masukan hara berupa kombinasi pupuk
anorganik dan organik;

3.

penggunaan lahan untuk tanaman yang menunjang pengembangan


bidang peternakan dalam upaya menghasilkan pakan ternak: jagung,
kacang tanah, kacang kedele, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, dan padi
sawah yang merupakan sumber penyusun ransum ternak;

4.

mengembangkan hutan rakyat di lahan-lahan


peruntukan pertanian yang belum digunakan; dan

5.

mengendalikan perubahan pemanfaatan lahan kawasan pertanian ke


budi daya lainnya, agar lahan pertanian bisa dipertahankan di Kota
Samarinda.

pada

kawasan

Ketentuan peraturan zonasi untuk kawasan perikanan meliputi :


1.
2.

3.

kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan budidaya perikanan dan


kegiatan pariwisata air (perikanan);
kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan selain
sebagaimana dimaksud pada huruf a yang tidak mengganggu fungsi
kawasan peruntukan perikanan;
pelarangan dan penerapan sanksi terhadap kegiatan penangkapan ikan
dengan memanfaatkan zat beracun dan bom.
Pasal 92

Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukan industri sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 84 huruf h meliputi:
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

a.

zonasi kawasan peruntukan industri terdiri atas:


1.

zona industri polutan difungsikan


menimbulkan polusi; dan

untuk

kegiatan

industri

yang

2.

zona industri non polutan difungsikan untuk industri yang tidak


menimbulkan polusi;

b.

penyediaan fasilitas penunjang industri meliputi perkantoran industri,


terminal barang, tempat ibadah, fasilitas olah raga, pemadam kebakaran,
IPAL, IPA, wartel, dan jasa-jasa penunjang industri seperti jasa promosi dan
informasi hasil industri, jasa ketenagakerjaan, dan jasa ekspedisi;

c.

pada kawasan industri diizinkan untuk kegiatan lain yang berupa hunian,
rekreasi, serta perdagangan dan jasa dengan luas total tidak melebihi 10
(sepuluh) persen total luas lantai persil;

d.

memiliki akses dari dan ke semua kawasan yang dikembangkan dalam


wilayah Kota Samarinda terutama akses ke zona perdagangan dan jasa
serta sarana transportasi kota dan regional (bandara, pelabuhan, terminal
dan sebagainya);

e.

pengembangan industri baru wajib berada di dalam kawasan peruntukan


industri;

f.

penyediaan prasarana Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) bagi setiap


kegiatan yang menghasilkan limbah cair;

g.

pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri dilakukan sesuai dengan


kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya alam dan sumber
daya manusia di wilayah sekitarnya; dan

h.

pelarangan/pembatasan pembangunan
peruntukan industri, dengan luas zona
meter yang difungsikan secara utama
khusus karyawan industri, kecuali pada
primer.

perumahan baru di sekitar kawasan


pengaman minimal 50 (lima puluh)
sebagai RTH dan untuk perumahan
area yang dibatasi sungai atau jalan

Pasal 93
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf i, meliputi :
a.

pengawasan dan pengendalian secara ketat pada kegiatan pengusahaan


pertambangan agar tidak mengganggu fungsi lindung dan fungsi-fungsi
kawasan
lainnya
dengan
memperhatikan
prinsip-prinsip
teknik
penambangan, kapasitas yang diperkenankan, kelestarian lingkungan,
keselamatan dan keberlanjutan;

b.

pemberian prioritas bagi penambang lokal yang menggunakan peralatan


manual;

c.

pemantauan peningkatan pendidikan, kesejahteraan


masyarakat sekitar kawasan pertambangan;

d.

pengawasan, pembatasan dan pengendalian pertambangan di sekitar DAS


Mahakam dan sungai-sungai lainnya; dan

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

dan

taraf

hidup

e.

pengembalian pada fungsi semula/fungsi lain yang telah ditetapkan pada


kawasan bekas pertambangan dengan segera.
Pasal 94

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan kegiatan sektor


informal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf j, meliputi:
a.

penggunaan ruang untuk sektor informal ditempatkan pada tempat tertentu


yang tersebar pada kawasan-kawasan yang sudah ditetapkan;

b.

sektor informal khususnya PKL tidak diperkenankan untuk menggunakan


badan jalan atau jalur pedestrian sebagai area perdagangan; dan

c.

Ketentuan peraturan zonasi kawasan peruntukkan ruang sektor informal


selanjutnya akan diatur dalam rencana rinci tata ruang wilayah Kota
Samarinda.
Pasal 95

(1)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan ruang evakuasi bencana


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf k, meliputi kawasan yang
diperuntukkan untuk mengamankan penduduk dari kawasan yang
mengalami bencana alam, dengan ketentuan jarak kawasan evakuasi tidak
jauh dari kawasan bencana.

(2)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukkan ruang


evakuasi bencana akan diatur dalam rencana rinci tata ruang wilayah Kota
Samarinda.
Pasal 96

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertahanan dan


keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 huruf l, meliputi:
a.

pelarangan melakukan kegiatan budi daya yang


pengurangan fungsi pertahanan dan keamanan; dan

berdampak

pada

b. pengembangan/pembangunan disesuaikan dengan peningkatan fungsi


pertahanan dan keamanan, pemanfaatan potensi alam dan budaya
masyarakat sesuai dengan daya dukung dan daya tamping lingkungan.
Bagian Ketiga
Ketentuan Perizinan
Pasal 97
(1)

Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2) huruf b


merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin
pemanfaatan ruang berdasarkan rencana struktur dan pola ruang yang
ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini.

(2)

Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk :


a.

menjamin pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang,


standar, dan kualitas minimum yang ditetapkan;

b.

menghindari eksternalitas negatif; dan

c.

melindungi kepentingan umum.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Pasal 98
Izin pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 meliputi:
a.

izin prinsip;

b.

izin peruntukan penggunaan tanah; dan

c.

izin mendirikan bangunan.


Pasal 99

(1)

Izin prinsip sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 huruf a diwajibkan bagi


perusahaan dan/atau masyarakat yang akan melakukan investasi yang
berdampak besar terhadap lingkungan sekitarnya; dan

(2)

Izin prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh suatu
badan bagi pemohon yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh
Walikota.
Pasal 100

(1)

Izin peruntukan penggunaan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98


huruf b diberikan berdasarkan rencana tata ruang, rencana rinci tata ruang
dan/ atau peraturan zonasi sebagai persetujuan terhadap kegiatan budi
daya secara rinci yang akan dikembangkan dalam kawasan.

(2)

Setiap orang atau badan hukum yang akan memanfaatkan ruang harus
memiliki izin peruntukan penggunaan tanah.

(3)

Mekanisme pemberian izin peruntukan penggunaan tanah meliputi:


a.

untuk memperoleh izin, permohonan diajukan secara tertulis kepada


WaliKota Samarinda;

b.

permohonan izin peruntukan penggunaan tanah ditolak apabila tidak


sesuai dengan rencana tata ruang, rencana detail tata ruang dan atau
peraturan zonasi serta persyaratan yang ditentukan atau lokasi yang
dimohon dalam keadaan sengketa;.

c.

Walikota dapat mencabut izin yang telah dikeluarkan apabila terdapat


penyimpangan dalam pelaksanaannya;

d.

terhadap orang atau badan hukum yang akan memanfaatkan ruang


kawasan dikenakan retribusi izin peruntukan penggunaan tanah;.

e.

besarnya retribusi sebagaimana dimaksud pada huruf d ditetapkan


berdasarkan fungsi lokasi, peruntukkan, ketinggian tarif dasar fungsi,
luas penggunaan ruang serta biaya pengukuran; dan

f. ketentuan pemberian izin peruntukan penggunaan tanah meliputi:


1.

tata bangunan dan lingkungan;

2.

peruntukan dan fungsi bangunan;

3.

perpetakan dan/atau kavling;

4.

GSB ;

5.

KLB, KDB & dan KDH;

6.

rencana elevasi dan/atau grading plan;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

7.

rencana jaringan utilitas;

8.

rencana jaringan jalan;

9.

perencanaan lingkungan dan/atau peruntukan; dan

10. ketentuan teknis pendukung lainnya.


Pasal 101
(1)

Izin mendirikan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 huruf c


diberikan berdasarkan surat penguasaan tanah, Rencana Tata Ruang
Wilayah, Rencana Rinci Tata Ruang, peraturan zonasi dan persyaratan teknis
lainnya;

(2)

Setiap orang atau badan hukum yang akan melaksanakan pembangunan


fisik harus mendapatkan izin mendirikan bangunan;

(3)

Izin mendirikan bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku


sampai pembangunan fisik selesai.

(4)

Mekanisme pemberian izin mendirikan bangunan meliputi:


a.

setiap orang atau badan hukum yang melaksanakan pembangunan


fisik tanpa memiliki izin mendirikan bangunan akan dikenakan sanksi.;

b.

untuk memperoleh izin mendirikan bangunan permohonan diajukan


secara tertulis kepada Pemerintah Kota dengan tembusan kepada Dinas
Cipta Karya dan Tata Kota;

c.

perubahan izin mendirikan bangunan yang telah disetujui wajib


dimohonkan kembali secara tertulis kepada Dinas Cipta Karya dan Tata
Kota;

d.

permohonan izin mendirikan bangunan ditolak apabila tidak sesuai


dengan fungsi bangunan, ketentuan atas KDB, KLB, GSB, dan
ketinggian bangunan, garis sempadan yang diatur dalam rencana tata
ruang serta persyaratan teknis lainnya yang ditentukan atau lokasi
yang dimohon dalam keadaan sengketa ;

e.

Pemerintah Kota dapat mencabut izin mendirikan bangunan yang telah


dikeluarkan apabila terdapat penyimpangan dalam pelaksanaannya;

f. terhadap orang atau badan hukum yang akan memanfaatkan ruang


kawasan dikenakan retribusi izin mendirikan bangunan ;
g.

besarnya retribusi sebagaimana dimaksud pada huruf f ditetapkan


berdasarkan fungsi lokasi, peruntukkan, ketinggian tarif dasar fungsi,
luas penggunaan ruang serta biaya pengukuran; dan

h.

ketentuan lebih lanjut tentang izin mendirikan bangunan diatur dalam


Keputusan Walikota.
Pasal 102

(1)

Tata cara pemberian izin prinsip sebagai berikut:


a.

pemohon mengajukan permohonan


melengkapi semua persyaratan;

b.

Tim Teknis SKPD terkait mengevaluasi permohonan yang dimaksud dan


membuat nota dinas untuk persetujuan pemberian izin prinsip;

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

kepada

Walikota

dengan

(2)

(3)

c.

permohonan yang disetujui akan diterbitkan


ditandatangani oleh WaliKota Samarinda; dan

izin

prinsip

yang

d.

setelah menerima izin prinsip pemohon harus melaporkannya pada


Pemerintah kota setempat untuk kemudian diadakan sosialisasi kepada
masyarakat.

Tata cara pemberian izin peruntukan penggunaan tanah sebagai berikut :


a.

pemohon mengajukan permohonan


melengkapi semua persyaratan;

kepada

Walikota

b.

Tim Teknis SKPD terkait mengevaluasi permohonan yang dimaksud dan


membuat nota dinas untuk persetujuan pemberian izin prinsip yang
ditanda tangani WaliKota Samarinda;

c.

permohonan yang disetujui akan diterbitkan


ditandatangani oleh WaliKota Samarinda; dan

d.

setelah menerima izin prinsip pemohon harus melaporkannya pada


Pemerintah kota setempat untuk kemudian diadakan sosialisasi kepada
masyarakat.

izin

dengan

prinsip

yang

Tata cara pemberian izin mendirikan bangunan sebagai berikut :


a.

pemohon mengajukan permohonan kepada Pemerintah kota dengan


melengkapi semua persyaratan;

b.

Pemerintah Kota mempersiapkan perencanaan


dimohon terkait untuk dibahas dan dikoreksi;

c.

apabila usulan berdampak penting, maka usulan tersebut dilakukan uji


publik; dan

d.

apabila hasil dengar pendapat publik berakibat terhadap perubahan


rencana, akan dilakukan penyesuaian rencana.

atas

lokasi

yang

Bagian Keempat
Ketentuan Insentif dan Disinsentif
Pasal 103
(1)

Pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64


ayat (2) huruf c merupakan acuan bagi Pemerintah Kota dalam pemberian
insentif dan pengenaan disinsentif.

(2)

Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana


struktur ruang, rencana pola ruang, dan indikasi arahan peraturan zonasi
yang diatur dalam Peraturan Daerah ini dalam bentuk:
a.

pembebasan atau pemberian keringanan pajak;

b.

pemberian kompensasi, atau ganti rugi;

c.

pemberian imbalan, santunan, atau bantuan;

d.

dukungan rekomendasi untuk pengembangan akses permodalan,


kelembagaan, atau usaha;

e.

pengumuman kepada publik;

f.

dukungan penyediaan infrastruktur tertentu; dan

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

g.
(3)

pemberian penghargaan.

Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah,


dibatasi, atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam
Peraturan Daerah ini dalam bentuk:
a.

pajak daerah dengan kelipatan tinggi;

b.

pembatasan penyediaan insfrastruktur;

c.

pencabutan izin, penghentian atau penutupan usaha/kegiatan;

d.

pembongkaran atau pemusnahan aset tertentu;

e.

relokasi paksa;

f.

pengumuman kepada publik;

g.

pelaksanaan kegiatan atau tindakan tertentu; dan

h.

pelarangan dan penuntutan.


Bagian Kelima
Arahan Sanksi
Pasal 104

Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2) huruf d,


merupakan acuan dalam pengenaan sanksi terhadap:
a.

pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan
pola ruang wilayah Kota Samarinda;

b.

pelanggaran ketentuan umum peraturan zonasi;

c.

pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan


berdasarkan RTRW Kota Samarinda;

d.

pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang


diterbitkan berdasarkan RTRW Kota Samarinda;

e.

pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin


pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kota Samarinda;

f.

pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh


peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum; dan

g.

pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak
benar.

ruang yang

diterbitkan

BAB VIII
HAK, KEWAJIBAN, DAN PERAN MASYARAKAT
Bagian Kesatu
Hak Masyarakat
Pasal 105
Dalam penataan ruang setiap orang berhak untuk :
a. berperan serta dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang;
b. mengetahui secara terbuka rencana tata ruang wilayah, rencana tata ruang
kawasan, dan rencana rinci tata ruang kawasan;
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

c. menikmati manfaat ruang dan atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat
dari penataan ruang; dan
d. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai
akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana
tata ruang.
Bagian Kedua
Kewajiban Masyarakat
Pasal 106
Dalam kegiatan penataan ruang masyarakat wajib untuk :
a. berperan serta dalam memelihara kualitas ruang; dan
b. berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
Bagian Ketiga
Peran Masyarakat
Pasal 107
Peran masyarakat dalam penataan ruang di daerah dilakukan antara lain melalui:
a.

partisipasi dalam perencanaan tata ruang;

b.

partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan

c.

partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang.


Pasal 108

(1)

Bentuk peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 107 huruf a berupa:
a.

b.
(2)

masukan mengenai:
1.

persiapan penyusunan rencana tata ruang;

2.

penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan;

3.

pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunan wilayah


atau kawasan;

4.

perumusan konsepsi rencana tata ruang; dan

5.

penetapan rencana tata ruang.

kerja sama dengan pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah


dan/atau sesama unsur masyarakat dalam perencanaan tata ruang.

Tata cara dan ketentuan lebih lanjut tentang peran masyarakat dalam
perencanaan tata ruang dilakukan sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Pasal 109

Bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud


pada Pasal 107 huruf b dapat berupa:
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

a.

masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang;

b.

kerja sama dengan pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah,


dan/atau sesama unsur masyarakat dalam pemanfaatan ruang;

c.

kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan


rencana tata ruang yang telah ditetapkan;

d.

peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan


ruang darat, ruang laut, ruang udara, dan ruang di dalam bumi dengan
memperhatikan kearifan lokal serta sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;

e.

kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta


memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan
sumber daya alam; dan

f.

kegiatan investasi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan.
Pasal 110

Bentuk peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana


dimaksud pada Pasal 107 huruf c dapat berupa:
a.

masukan terkait arahan dan/atau peraturan zonasi, perizinan, pemberian


insentif dan disinsentif serta pengenaan sanksi;

b.

keikutsertaan dalam memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana tata


ruang yang telah ditetapkan;

c.

pelaporan kepada instansi dan/atau pejabat yang berwenang dalam hal


menemukan
dugaan
penyimpangan
atau
pelanggaran
kegiatan
pemanfaatan ruang yang melanggar rencana tata ruang yang telah
ditetapkan; dan

d.

pengajuan keberatan terhadap keputusan pejabat yang berwenang


terhadap pembangunan yang dianggap tidak sesuai dengan rencana tata
ruang.
Pasal 111

Dalam rangka meningkatkan peran masyarakat, pemerintah daerah membangun


sistem informasi dan komunikasi penyelenggaraan penataan ruang yang dapat
diakses dengan mudah oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

BAB IX
SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 112
(1)

Pengenaan sanksi administratif terhadap pelanggaran penataan ruang


bertujuan untuk mewujudkan tertib tata ruang dan tegaknya peraturan
perundang-undangan bidang penataan ruang.

(2)

Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dilaksanakan oleh Pemerintah Kota.

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

(3)

Pelanggaran penataan ruang yang dapat dikenai sanksi adminstratif


meliputi :
a.

pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang


Wilayah Kota Samarinda; dan

b.

pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin prinsip, izin peruntukkan


penggunaan tanah, izin mendirikan bangunan yang diberikan oleh
pejabat berwenang.
Pasal 113

Jenis sanksi administratif dalam pelanggaran penataan ruang berupa :


a.

peringatan tertulis;

b.

penghentian sementara kegiatan;

c.

penghentian sementara pelayanan umum;

d.

penutupan lokasi;

e.

pencabutan izin;

f.

penolakan izin;

g.

pembatalan izin;

h.

pemulihan fungsi ruang; dan

i.

denda administratif.
BAB X
KELEMBAGAAN
Pasal 114

(1)

Dalam rangka mengoordinasikan penyelenggaraan penataan ruang dan


kerjasama antar sektor/antardaerah bidang penataan ruang dibentuk Badan
Koordinasi Penataan Ruang Daerah Kota Samarinda;

(2)

Tugas, susunan organisasi, dan tata kerja Badan Koordinasi Penataan Ruang
Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan
Walikota.

BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 115
(1)

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka semua peraturan


pelaksanaan yang berkaitan dengan penataan ruang daerah yang telah ada
dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum
diganti berdasarkan Peraturan Daerah ini.

(2)

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka:


a.

izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan dan telah sesuai


dengan ketentuan Peraturan Daerah ini tetap berlaku sesuai dengan
masa berlakunya;

b.

izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan tetapi tidak sesuai


dengan ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku ketentuan:

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

1.

untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya, izin tersebut


disesuaikan dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah
ini;

2.

untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya, dilakukan


penyesuaian dengan masa transisi berdasarkan ketentuan
perundang-undangan;

3.

untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya dan tidak


memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian dengan fungsi
kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini, izin yang telah
diterbitkan dapat dibatalkan dan terhadap kerugian yang timbul
sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat diberikan
penggantian yang layak.

c.

pemanfaatan ruang di Daerah yang diselenggarakan tanpa izin dan


bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, akan ditertibkan
dan disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini.

d.

pemanfaatan ruang yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah


ini, agar dipercepat untuk mendapatkan izin yang diperlukan.

BAB XII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 116
Peraturan Daerah tentang RTRW Kota Samarinda dilengkapi dengan
rencana/materi teknis dan album peta dengan skala 1 : 25.000 yang merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah RTRW Kota Samarinda.
Pasal 117
(1)

RTRW Kota Samarinda ini berlaku selama 20 (dua puluh) tahun dan dapat
ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun.

(2)

Dalam lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam


skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan
dan/atau perubahan batas teritorial Negara dan/atau wilayah Kota yang
ditetapkan dengan undang-undang, RTRW Kota Samarinda dapat ditinjau
kembali lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.

(3)

Peninjauan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) juga dilakukan


apabila terjadi perubahan kebijakan dan strategi nasional maupun provinsi
yang mempengaruhi pemanfaatan ruang kota dan/atau dinamika internal
kota.

Pasal 118
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Samarinda.

Ditetapkan
SEKRETARIS DAERAH KOTA SAMARINDA

( )

Draft RTRW Kota Samarinda - 2011

: di Samarinda

Pada
:
tanggal
WALIKOTA SAMARINDA

( )