Sie sind auf Seite 1von 6

Name

: ASGAR PURNAMA

Student #

:14613117

Date

: Monday, December 5th, 2014

Lecturer

: Prabarini Dwi Pangestu

Article

: Scientific article

English for Pharmacy


A. Review of the Article / Mind Map of the Article
The title of the article here !
(What the article is about / Summary of the article)
Please use your own words !
B. Vocabulary
(Difficult words and the meanings, may be in Bahasa or English is preferable)
C. Conclusion
the researchers drew attention to the high prevalence of cognitive
impairment, peripheral neuropathy and depression in Thailand,
Indonesia, China and Malaysia, and emphasizes that the problem is
often not diagnosed.
D. Reference
(Please look at the formats)

The problem of brain and peripheral neuropathy


are under-diagnosed in Asia and the Pacific
The prevalence of HIV-associated neurological disease is higher in
the region than previously thought. This is according to research
presented at the International AIDS Conference 16th. Diseases
such as dementia, peripheral neuropathy and depression reported
as common among people with HIV in the Asia Pacific region, but
the researchers found that the high prevalence of the disease and
is often not diagnosed among outpatients.
Edwina Wright from the Alfred Hospital in Melbourne, Australia,
which represents a consortium of Asia Pacific neuroAIDS, with
findings, and said that the discovery of the group gives the
impression that the 1.5 million people living with HIV in the region
suffer from sensory neuropathy (sensory neuropathy), mainly
associated with the use of drug-d '(eg d4T) earlier, while one
million HIV-associated dementia may suffer from undiagnosed and
a third of HIV-positive people who are not diagnosed with
depression.
Because of the prevalence of HIV-associated neurocognitive
impairment in Asia-Pacific countries is not known precisely, the
researchers conducted a study 'cross-sectional' which involved
658 HIV-positive and 161 HIV-negative patients as controls in
Thailand, Indonesia [RSCM - Dr Kamarulzaman], China, Malaysia
and the Asia Pacific region. The aim was to determine the
prevalence of cognitive impairment, peripheral neuropathy and
depression. Patients included in the study were assessed using a
series of tests. Data were also taken regarding demographics,
history of HIV disease, CD4 cell count, and the use of
antiretroviral therapy (ART).

The average patient age of 36 years, 59 percent of men, nearly


two-thirds of AIDS diagnosis, median CD4 count 203, which
suggests that a significant immunodeficiency, and 65 percent
were taking antiretroviral therapy. The researchers noted that a
significant percentage of those receiving ART taking nucleoside
analog drugs 'd', with 37 percent of d4T or ddI. The second drug is
associated with peripheral neuropathy. Almost no efavirenz, a
drug that can worsen depression in people with a history.
Very high prevalence of neurocognitive impairment among the
study participants, with 12 percent rated suffered severe
neurocognitive problems. Peripheral neuropathy also occur with
high frequency, with 19 percent of patients diagnosed with this
disease. In addition, one-third of patients diagnosed with
depression.
Then the researchers looked for a specific risk factor for this
disease. They found that patients with cognitive problems were
significantly older and had lower CD4 cell counts compared with
patients who did not experience cognitive problems (p <0.05). In
addition, patients with peripheral neuropathy significantly more
likely to use drugs 'd' as compared with patients who did not
experience this problem. Although one-third of participants
depression, less than 5 percent receiving antidepressant therapy.
By Michael Carter, August 14, 2006
Reference: Wright E et al. Neurocognitive impairment,
symptomatic peripheral neuropathy and depression are highly
prevalent in HIV-infected outpatients within the Asia Pacific:
findings of the Asia Pacific neuroAIDS consortium (APNAC) study.
Sixteenth International AIDS Conference, Toronto, abstract
MoAb0302 2006.

Resiko di Balik Manisnya Minuman Ringan


KOMPAS.com - Minuman ringan berdampak tak semanis rasanya.
Minuman ini cepat sekali membuat berat badan naik.
Dibandingkan makanan, kalori di dalam minuman sifatnya tidak
mengenyangkan. Kalori dalam bentuk cairan dikatakan cepat
menaikkan berat badan karena masuk ke dalam tubuh dengan
sangat mudah. Minuman itu menghilangkan dahaga tetapi tidak
mengenyahkan rasa lapar. Itu sebabnya mereka yang meneguk
minuman bersoda yang sangat manis tidak mengurangi jumlah
kalori dari makanan yang disantapnya.
Banyak orang tidak memikirkan apa yang mereka minum dan
dampaknya terhadap pola makan keseluruhan, kata Rachel
Johnson, PhD, RD, peneliti dari University of Vermont. Sebaliknya,
dengan minuman bersoda itu, ada kecenderungan untuk makan
lebih banyak. Studi dari Yale University menganalisa 88 penelitian
soal soda dan menemukan kaitan jelas antara asupan soda dan
ekstra kalori dari makanan.
Penelitian paling meyakinkan menyimpulkan bahwa ketika orang
meneguk minuman ringan, mereka mengonsumsi lebih banyak
kalori dari makanan dibandingkan di hari-hari mereka tidak
meneguk minuman ringan, kata Marlene Schwartz, peneliti dari
studi tersebut. Belakangan ini karena tekanan dari masyarakat
yang ingin hidup sehat, merek-merek minuman ringan menjual
produk soda diet. Baru ada sedikit bukti bahwa soda diet
membantu menurunkan berat badan. Faktanya, sebuah penelitian
membuktikan orang meneguk minuman bersoda untuk

membenarkan dirinya makan lebih banyak, kata Marion Nestle,


profesor gizi dari New York University.

Bukan Pembenaran

Memang minuman soda diet yang nol kalori lebih baik dari
minuman soda biasa. Boleh-boleh saja menikmati soda diet
sepanjang tidak menggunakannya sebagai pembenaran untuk
membolehkan diri makan lebih banyak. Banyak orang minum
soda diet agar bisa makan lebih banyak kue dan cake, kata
Nestle. Tekanan dari masyarakat untuk bisa hidup sehat membuat
produsen minuman ringan memproduksi minuman dengan
tambahan vitamin dan mineral. Ada juga produk minuman ringan
bersoda dengan label zero calorie alias nol kalori.
Industri minuman termasuk minuman ringan bersoda berpikir
bisa menjadi bagian dari gaya hidup seimbang dan sehat, kata
Tracey Halliday, juru bicara American Beverage Association. Ia
menunjuk produk minuman jus, minuman olah raga, minuman
ringan diet bisa menjadi bagian hidup sehat. Agak menggelikan
kalau memasarkan minuman ringan sebagai minuman sehat.
Namun konsumen sekarang membutuhkan makanan dan
minuman yang terlihat sehat dan produsen membutuhkan
kenaikan penjualan, kata Nestle.
Ia berpendapat sebetulnya sebagian besar dari kita tak
membutuhkan tambahan vitamin dari minuman. Kita tak
mengalami kekurangan vitamin. Minuman ringan yang diberi
tambahan vitamin tidak menjawab masalah obesitas, penyakit
jantung atau kanker, katanya. Menurut Johnson, bukan vitamin
dalam minuman ringan itu yang dibutuhkan tubuh. Nutrisi yang
dimasukkan ke dalam minuman bukanlah nutrisi yang selama ini
selalu dibutuhkan tubuh, seperti kalsium, potassium, folat atau

vitamin D, ujarnya. Ia menyarankan konsumen untuk memilih


minuman yang tak hanya melegakan dahaga tapi juga
memberikan tambahan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Contoh
minuman itu adalah jus buah asli bikinan sendiri tanpa tambahan
gula dan susu rendah lemak atau susu skim.
Minuman seperti inilah yang membantu kita memenuhi
kebutuhan gizi dan sesuai dengan rekomendasi kebutuhan gizi
dari para ahli, katanya.