You are on page 1of 11

Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu

Ika Salamah*

Abstrak

Angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate) yang terendah biasa ditemukan pada Negara
yang memiliki homogenitas tinggi, Negara industri, dan Negara maju. Usia juga berpengaruh
pada mortalitas ibu. Tolak ukur keberhasilan dari kemampuan pelayanan kesehatan satu
Negara di ukur dengan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Indonesia termasuk
Negara dengan angka kematian ibu yang cukup tinggi bahhkan tertinggi di ASEAN. Primary
Health Care dengan inti mengupayakan pelayanan utama setiap Negara sehingga cepat dapat
menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Tindakan sanitasi dan
kesehatan masyarakat dan juga pengobatan medis lanjut, perawatan dan prosedur obstetrik
juga membantu di dalam menurunkan angka kematian ibu. Angka kematian ibu berguna
untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu,
kondisi kesehatan lingkungan, dan tingkat pelayanan kesehatan (terutama untuk ibu hamil,
ibu waktu melahirkan, dan masa nifas).
Kata kunci: AKI, Kesehatan, Puskesmas

Abstract
Maternal mortality ratio (Maternal Mortality Rate) low commonly found in countries that
have a high homogeneity, industrial countries, and developed countries. Age also has an
effect on maternal mortality. Measure of the success of the ability of the state of health care
in measuring maternal mortality and perinatal mortality. Indonesia is among countries with
maternal mortality is high enough bahhkan highest in ASEAN. "Primary Health Care" with
the main core of every State to seek services that can rapidly reduce maternal mortality and
perinatal mortality. Sanitation and public health action as well as advanced medical
treatment, care and obstetric procedures also help in reducing the mortality rate ibu.3
Maternal mortality is useful to describe the level of awareness of healthy behavior,
nutritional status and maternal health, environmental health, and level of service health
especially for pregnant women, mothers during childbirth, and puerper
Keywords: MMR, health center.health

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida, Alamat: Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510

No. Telp (021) 5694-2061, E-Mail : IKA.2014fk151@Civitas.Ukrida.ac.id Nim 102014151

Pendahuluan
Angka kematian ibu berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat,
status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, dan tingkat pelayanan kesehatan
(terutama untuk ibu hamil, ibu waktu melahirkan, dan masa nifas.1 Tolak ukur keberhasilan
dari kemampuan pelayanan kesehatan satu Negara di ukur dengan angka kematian ibu dan
angka kematian perinatal. Indonesia termasuk Negara dengan angka kematian ibu yang cukup
tinggi bahhkan tertinggi di ASEAN. Primary Health Care dengan inti mengupayakan
pelayanan utama setiap Negara sehingga cepat dapat menurunkan angka kematian ibu dan
angka kematian perinatal. Mengatasi masalah kemiskinan dan tingginya angka kematian ibu
dan perinatal, tidak mungkin hanya dilakukan dengan meningkatkan pembangunan di segala
bidang, tetapi harus dibarengi dan di imbangi dengan pelaksanaan Keluarga Berencana.
Gerakan Keluarga Berencana merupakan salah satu faktor penting untuk menurunkan Angka
Kematian Ibu. Setelah adanya kekhawatiran target di tahun 2015 sulit tercapai karena
rendahnya komitmen pemerintah daerah, angka kematian ibu juga diprediksikan sulit tercapai
targetnya. Target Millenium Developments Goals (MDGs) yang menetapkan angka kematian
ibu 102/100.000 ibu melahirkan pada tahun 2015, dinilai beberapa kalangan akan sulit
dicapai.2
Pembahasan
Angka kematian ibu
Angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate) yang terendah biasa ditemukan pada Negara
yang memiliki homogenitas tinggi, Negara industri, dan Negara maju. Negara yang belum
berkembang memiliki angka yang lebih tinggi akibat tingginya angka kemiskinan dan
kurangnya kegiatan kesehatan masyarakat. Usia juga berpengaruh pada mortalitas ibu. Angka
kematian ibu pada ibu yang yang masih remaja dan ibu yang lebih tua lebih tinggin dari pada
angka kematian ibu pada ibu dengan masa subur yang berusia 20-35 tahun. Rumah sakit dan
dokter membedakan tipe kematian ibu ke dalam dua kelompok: (1) kematian akibat penyebab
obstetrik langsung, yang dikaitkan dengan penyebab obstetric dan penyelenggara layanan
kesehatan, (2) tidak langsung, yang dikaitkan dengan kondisi yang sudah dialami dan
kematian bukan disebabkan oleh tindakan penyelenggara layanan kesehatan. Mortalitas ibu
dikaitkan dengan komplikasi kehamilan dan proses melahirkan. Tindakan sanitasi dan
kesehatan masyarakat dan juga pengobatan medis lanjut, perawatan dan prosedur obstetrik
juga membantu di dalam menurunkan angka kematian ibu.3 Angka kematian ibu berguna
untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu,
2

kondisi kesehatan lingkungan, dan tingkat pelayanan kesehatan (terutama untuk ibu hamil,
ibu waktu melahirkan, dan masa nifas). 4World Health Organitation mendefinisikan moralitas
ibu sebagai kematian perempuan yang mengandung atau meninggal dalam 42 hari setelah
akhir kehamilannya, terlepas dari lamanya kehamilan atau letak kehamilannya.

Angka

mortalitas ibu yang rendah bisa ditemukan pada negara yang memiliki homogenitas tinggi,
negara industri, dan negara maju.3 Salah satu angka kematian spesifik yang paling umum
dalah angka kematian menurut usia (age specifie mortality rates).
Penyebab angka kematian
Kematian ibu (maternal death) menurut definisi WHO adalah kematian selama kehamilan
atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait
dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh
kecelakaan/cedera. Penyebab utama kematian ibu diklasifikasikan sebagai langsung dan
tidak langsung.5
1. Penyebab langsung: berhubungan dengan komplikasi obstetrik selama masa
kehamilan, persalinan dan masa nifas (post-partum). Mayoritas penyebab kematian
ibu adalah penyebab langsung antara lain terjadi pada kehamilan yang dikehendaki
atau tidak. Terdapat komplikasi kehamilan dan persalinan, pendarahan, pre-eklampsia
dan eklampsia, infeksi, emboli air ketuban dan anestesia.6
2. Penyebab tidak langsung: yang dikaitkan dengan kondisi yang sudah dialami dan
kematian bukan disebabkan oleh tindakan penyelenggara layanan kesehatan. yaitu
jangkauan daerah indonesia terlalu luas, pelayanan kesehatan bervariasi, sistem
rujukan belum optimal, baiya pelayanan kesehatan menjadi mahal. Faktor
kemiskinan, statatus gizi kurang menguntungkan, anemia kekurangan gizi, hamil
dalam keadaan tidak optimal, pengetahuan kesehatan belum memadai, keputusan
untuk rujukan terbentur biaya sehingga terlambat, status wanita indonesia sangat
rendah. Keterlambatan memberi pertolongan adekuat, terlambat rujukan, terlambat
memberikan pertolongan adekuat. Terlambat mengetahui kegawat obstetri dan
ginekologi. Terlambat menyediakan fasilitas yang cukup.5

Lingkungan masyarakat
Kondisi lingkungan masyarakat seperti tetangga, teman satu aktivitas, ataupun teman sektor
dapat memberikan dukungan. Ibu hamil akan merasa didukung apabila merasakan hal berikut
:
1. Ada teman yang menjadi teman curhat dan berbagi, selalu siap mendengarkan dan
mencarikan sosulusi jika dibutukan.
2. Para sahabat bersedia memberikan informasi terkini seputar kehamilan, persalinan,
perawatan bayi.
3. Membantu lingkunga sehat untuk ibu hamil, seperti tidak merokok didekat ibu hamil
4. Mereka selalu siap memberikan bantuann jika dibutuhkan
5.
Kantor atau perusahan membuat aturan khusus kepada ibu hamil seperti
memindahkan setiap karyawan yang hamil ke bagian tidak terlalu berat dan
mengganti pekerjaan yang tidak menggangu ibu hamil.7(kupas tuntas seputar kehamilan)
Desa siaga
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kempuan
serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawat
daruratan kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud disini adalah kelurahan atau istilah
lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang
untuk mengatur daan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormatio dalam
pemerintahnegara kesatuan republik indonesia.2(kebidanan komunikasi)
Si (siap) yaitu pendataan dan mengamati seluruh ibu hamil, siap mendapingi ibu, siap
menjadi donor darah, siap memberi bantuan kendaraan untuk rujukan, siap membantu
pendanaa, dan bidan kelurahan selalu siap memberi pelayanan. 2 (kebidanan komunikasi)
A (antar), yaitu warga desa, bidan wilayah dan komponen lainnya dengan cepat dan siaga
mendapingi dan mengatur ibu yang akan melahirkan jika memerlukan tindakan gawatdarurat.
Ga (jaga), yaitu menjaga ibu pada saat dan setelah melahirkan serta menjaga kesehatan bayi
yang baru dilahirkan.
Tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa sehat, peduli, dan tanggap
terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya. Tujuan khusus adalah sebagai
berikut.2(kebidanan komunikasi)
1. Memiliki pos kesehatan desa yang berfungsi memberi pelayanan dasar.
2. Memiliki sistem gawat-darurat berbasis masyarakat.
3. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan secara mandiri.
4

4. Masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat.


Suami siaga
Suami

siaga (siap antar jaga) merupakan suami yang selalu siap jika sang istri

membutuhkannya, selalu mengantar istri kemana pun pergi khususnya jika istri
memeriksakan kandungan ke dokter atau bidan, serta menjaga kesehatan istri dan calon
bayinya. Menjadi suami siaga adalah bukti nyata bahwa suami mendukung sepenuhnya
kehamilan sang istri. Dukungan penuh dan peran nyata suami kepada istri yang sedang hamil
dapat meningkatkan kesiapan menghadapi kehamilan dan persalinan. Bahkan, produksi ASI
akan meningkat ketika masa menyusui dimulai.7
Berdasarkan hasil penelitian di Indonesia, dukungan suami yang diharapkan istri yang sedang
hamil sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.

Suami menunjukan bahwa iya mendanbakan seorang bayi dalam kandungan istri.
Ungkapan rasa senang dan bahagia dari suami karena mendapatkan keturunan
Kesehatan istri dan janin selalu diperhatikan oleh suami.
Suami selalu mendengarkan keluhan sang istri, bahkan selalu menenagkan dan

menghibur ketika istri menghadapi masalah.


5. Suami selalu memberi nasihat kepada istri agar istri tidak bekerja terlalu lelah.
6. Suami membantu pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh seorang istri
selama ini
7. Suami selalu mengajak istri untuk bersama-sama beribadah dan berdoa memohon
kepada Tuhan kesehatan dan keselamatan ibu dan calon bayi.
8. Suami menemani istri saat proses persalinan.
Perhatian penuh dari keluarga, tidak hanya dukungan suami, dukungan dari keluarga besar
juga larut memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi ibu hamil. Kasih sayang dan
perhatian dari anggotan keluarga dapat memberikan perasaan nyaman dan aman ketika ibu
hamil merasa takut dan khawatir dengan kehamilannya.7
Faktor Ekonomi
Kondisi ekonomi ibu-ibu di pedesan pada umumnya kurang baik sehingga kesehatanpun
kurang, apalagi mereka harus bekerja berat untuk menunjang pendapatan suami dengan
demikian menyebabkan timbulnya komplikasi kehamilan yang dapat mengakibatkan
kematian.8 penghasilan ini menandakan sebuah keluarga mampu terhadap daya beli dan
ketersediaan pangan dalam memberikan asupan gizi kepada ibu hamil. Salah satu faktor yang
paling banyak di alami oleh banyak keluarga di Indonesia adalah masalah ekonomi yang
5

rendah. Ekonomi yang sulit, pekerjaan yang sulit, dan penghasilan yang tak mencukupi, dan
mahalnya harga bahan makanan membuat ibu-ibu bekerja untuk membantu kecukupan
ekonomi di keluarganya.9-11
Puskesmas
Puskesmas adalah unit sarana pelayanan kesehatan terdepan dan merupakan ujung tombak
pelayanan kesehatan di seluruh Tanah Air, utamanya dalam era Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN). Saat ini, terdapat sebanyak 9599 Puskesmas tersebar di seluruh Nusantara yang
dilengkapi dengan sarana prasarana layanan kesehatan yang diperlukan, serta tenaga
kesehatan yang melayani dengan tulus dan ikhlas.12 Keberhasilan pelayanan kesehatan
melalui Puskesmas memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan kesehatan.
Fungsi Puskesmas yang semula lebih berorientasi kepada upaya kuratif dan rehabilitatif,
bergeser kepada upaya preventif dan promotif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan
rehabilitatif. Fungsi Puskesmas juga semakin kompleks karena menjadi pusat pemberdayaan
masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat tingkat pertama yaitu meliputi
pelayanan kesehatan perorangan dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan upaya kuratif dan
rehabilitatif.12
Kegiatan pokok
Puskesmas memiliki kegiatan pokok yang di laksanakan sesuai kemampuan tenaga kerja dan
fasilitas yang terdapat pada puskesmas sehingga kegiatan pokok di setiap puskesmas dapat
berbedah-bedah satu sama lain. Walapun demikian kegiatan pokok puskesmas yang wajib dan
karus di laksanakan adalah sebagai berikut:

13

1. Kesehatan ibu dan anak 2. Keluarga

berencana 3. Usaha peningkatan gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Pencegahan dan


pemberantasan penyakit menular 6. Pengobatan termasuk pelayanan darurat karena
kecelakaan 7. Penyuluhan kesehatan masyarakat 8. Kesehatan sekolah 9. Kesehatan olahraga
10. Perawatan kesehatan masyarakat 11. Kesehatan kerja 12. Kesehatan gizi dan mulut 13.
Kesehatan jiwa 14. Kesehatan mata 15. Laboraterium sederhana 16. Pencatatan dan
pelaporan dalam rangka system informasi kesehatan 17. Kesehatan usia lanjut 18. Pembinaan
pengobatan tradisional.14
Program Puskesmas

Dalam penurunan angka kematian ibu puskesmas sebagai pemyelenggara kesehatan


menjalankan berbagai macam program yang telah dilakukan anatara lain :
1. Audit maternal perinatal
Audit Maternal Perinatal (AMP) menurut Departemen Kesehatan adalahsuatu kegiatan
untuk menelusuri kembali sebab kesakitan dan kematian ibu dan perinatal dengan tujuan
mencegah kesakitan dan kematian yang akan datang. AMP merupakan suatu investigasi
kualitatif mendalam mengenai penyebab dan situasi di seputar kematian maternal dan
perinatal/neonatal baik yang ditangani difasilitas kesehatan termasuk bidan di desa atau
bidan praktek swasta secara mandiri, maupun di rumah.16,17
Dari kegiatan AMP ini dapat ditentukan : 17
Sebab dan faktor-faktor terkait dalam kesakitan / kematian ibu dan perinatal2.
Tempat dan alasan berbagi sistem dan program gagal dalam mencegahkematian3.
Jenis intervensi yang dibutuhkan
2. Keluarga Berencana
Keluarga berencana atau family planing adalah usaha menolong individu atau pasangan untuk
mencegah terjadinya kelahiran tidak di kehendaki, mengatur interval waktu kehamilan,
mengontrol waktu kelahiran yang berhubungan dengan usia orang tua, menentukan jumlah
anak dalam keluarga. Ruang lingkup program keluarga berencana yang modern tidak hanya
sebatas pada definisi tersebut. Tetapi juga melaksanakan program sterilisasi, pendidikan seks,
tes skining pada kelainan patologis sistem reproduksi, konsultasi sebelum dan sesudah
perkawinan.

Tujuannya

menurunkan

danmengendalikan

pertumbuhan

penduduk,

menciptakan dan mewujudkan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. 15 Program
Keluarga Berencana (KB) adalah salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan keluarga.
Program Keluarga Berencana merupakan bagian terpadu dalam program pembangunan
nasional yang bertujuan untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang agar kesejahteraan
ekonomi, spiritual, dan sosial budaya penduduk Indonesia dapat tercapai. Perencanaan
jumlah keluarga dengan pembatasan dapat dilakukan dengan penggunaan alat-alat
kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran antara lain dibagi menjadi : 19
1) Non Hormonal
Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet sebagai salah satu metode kontrasepsi atau
alat untuk mencegah kehamilan dan atau penularan penyakit kelamin pada saat

bersenggama.
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim dengan menjepit kedua saluran yang
menghasilkan indung telur sehingga tidak terjadi pembuahan, terdiri dari bahan

plastik polietilena, ada yang dililit oleh tembaga dan ada yang tidak.
Tubektomi
Tubektomi (Metode Operasi Wanita/ MOW) adalah metode kontrasepsi mantap yang
bersifat sukarela bagi seorang wanita bila tidak ingin hamil lagi dengan cara
mengoklusi tuba falupii (mengikat dan memotong atau memasang cincin), sehingga

sperma tidak dapat bertemu dengan ovum


Vasektomi
Vasektomi (Metode Operasi Pria/MOP) adalah prosedur klinik untuk menghentikan
kapasitas reproduksi pria dengan cara mengoklusi vasa deferensia sehingga alur
transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak

terjadi
2) Hormonal
Progestin: pil, injeksi dan implan
Kombinasi: pil dan injeksi
3. Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar
Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) merupakan upaya pemerintah
dalam menanggulangi Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di
Indonesia yang masih tinggi dibandingkan di Negara-negara Asean lainnya. PONED
adalah pelayanan untuk menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal
yang terjadi pada ibu hamil, ibu bersalin maupun ibu dalam masa nifas dengan
komplikasi obstetri yang mengancam jiwa ibu maupun janinnya.
Puskesmas PONED adalah puskesmas yang memiliki fasilitas dankemampuan
memberikan pelayanan untuk menanggulangi kasuskegawatdaruratan obstetri dan
neonatal selama 24 jam. Sebuah Puskesmas PONED harus memenuhi standar yang
meliputi standar administrasi danmanajemen, fasilitas bangunan atau ruangan, peralatan
dan obat-obatan, tenagakesehatan dan fasilitas penunjang lain. Puskesmas PONED juga
harus mampu memberikan pelayanan yang meliputi penanganan preeklampsi, eklampsi,
perdarahan, sepsis, sepsis neonatorum, asfiksia, kejang, ikterus, hipoglikemia,hipotermi,
tetanus neonatorum, trauma lahir, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), sindroma
gangguan pernapasan dan kelainan kongenital.
Puskesmas PONED harus memiliki tenaga kesehatan yang telah dilatih PONED yaitu
TIM PONED (Dokter dan 2 Paramedis). Pelayanan yang dapat diberikan puskesmas
PONED yaitu pelayanan dalam menangani kegawatdaruratan ibu dan bayi.18
4. Jaminan Persalinan
Jampersal merupakan salah satu terobosan yang ditempuh pemerintah dalam usaha
menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu) dari 228 per 100.000 kelahiran hidup pada 2007
8

menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Terobosan ini penting
mengingat masih banyaknya ibu hamil yang belum memiliki jaminan pembiayaan untuk
persalinannya. Dengan demikan kendala penting yang dihadapi masyarakat untuk
mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dapat diatasi dengan
program Jampersal. Tidak hanya AKI yang hendak diturunkan dengan Jampersal, juga
AKB (Angka Kematian Bayi), sehingga target MDG`s tahun 2015 diharapkan dapat
tercapai. Jampersal merupakan kependekan dari Jaminan Persalinan, artinya jaminan
pembiayaan yang digunakan untuk pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan,
pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir
yang pembiayaannya dijamin oleh Pemerintah.14

Pembahasan
Angka kematian ibu menjadi indikator keberhasilan pembagun pada sektor kesehatan. AKI
mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan, persalinan dan
nifas. Salah satu faktor tingginya AKI di indonesia disebabkan karena relatif masih
rendahnya cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan. Angka kematian ibu pada tahun 1994
s.d 2007. Prediksi dan target MDGs pada tahun 2015 adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Sesuai target MDGs, AKI harus diturunkan sampai 102 per 100.000 kelahiran hidup pada
tahun 2015. Untuk dapat mencapai target MDGs, diperlukan terobosan dan upaya keras dari
seluruh pihak, baik Pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat. Untuk itu pemerintah
terus melakukan upaya menurunkan angka kematian ibu diantaranya dengan memberikan
Jaminan Persalinan atau Jampersal yang mulai berlaku tahun 2012.
Masyarakat akan mendapatkan jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi
pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan
Keluarga Berencana (KB) pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.
Kesimpulan
Angka kematian ibu berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat,
status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, dan tingkat pelayanan kesehatan
(terutama untuk ibu hamil, ibu waktu melahirkan, dan masa nifas). kematian akibat penyebab
obstetrik langsung, yang dikaitkan dengan penyebab obstetric dan penyelenggara layanan
kesehatan, (2) tidak langsung, yang dikaitkan dengan kondisi yang sudah dialami dan
kematian bukan disebabkan oleh tindakan penyelenggara layanan kesehatan.
9

Daftar pustaka
1. Syafrudin, hamidah. Kebidanan komunikasi. Edisi 1. Jakarta : EGS ; 2009, Hal 190
2. Manuaba IB. Kapita selekta penatalaksanakan rutin obstetri ginekologi dan KB. Edisi
1. Jakarta ; EGC ; 2001. Hal 19 21, 269
3. timmreck TC. Epitemiologi suatu pengatar. Edisi 2 . Jakarta : EGC ; hal 114
4. Syafrudin, Hamidin. Kebidanan komunikasi. Jakarta : EGC ; hal 190
5. http://majalahkesehatan.com/5-penyebab-utama-kematian-ibu-di-indonesia/ di unduh
hari minggu 30 november 2014)
6. Manuaba IBG. Kapita selekta penatalaksanaan rutin obsterti ginekologi dan KB.
Jakarta : EGC ; 2000. Hal 58
7. Anggarani DR, Subakti Y. Kupas tuntas seputar kehamilan. Jakarta : Agromedia
pusaka ; 20013. Hal 50-53
8. Jumiarni, Ilyas, Mulyati S, Nurlina S. Asuhan keperawatan perinatal. Jakarta : EGC ;
1995. Hal
9. Werner D, Thuman C, Maxwell J. Apa yang anda kerjakan bila tidak ada dokter. Edisi
ke-1. Yogyakarta : Penerbit Andi; 2010. Hal 137
10. Purba T. Pengelolahan lingkungan sosial, kantor menteri negara lingkungan hidup.
Edisi ke-2. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia ; 2005. Hal 134
11. Kusumawati E, Rahrjo S. Pengaruh pelayanan kesehatan terhadap gizi buruk anak
usia 6-24 bulan. Kesmas 2012; 6(4): hal 158-61
12. http://www.depkes.go.id/article/view/201408180002/penghargaan-kepada-135tenaga-kesehatan-teladan-di-puskesmas-tingkatnasional.html#sthash.9amfS4XZ.dpuf) di unduh 2014-11-30
13. Notoatmodjo S. Kesehatan masyarakat ilmu dan seni. Jakarta : Rineka Cipta ; 2011 :
Hal 22-25
14. Depkes RI. Pedoman kerja puskesmas tahun 1989-1990. Jilid 1. Jakarta:1989. Hal. 112
15. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Jakarta : penerbit buku
kedokteran EGC : 2006 ; Hal 54-58
16. Gunawan S, Meg EW, Endang A, Surekha C, Carine R. A district-basedaudit of the
causes and circumstances of maternal deaths in SouthKalimantan, Indonesia. Bulletin
of the World Health Organization2002;80:228-234.
17. Admin Dinas Kesehatan Kota Palembang. Pertemuan Audit MaternalPerinatal
Tingkat Kota Palembang. 2011. Diunduh dari http://www.dinkes.palembang.go.id /?
nmodul=berita&bhsnyo=id&bid=139,diakses pada tanggal 29 november 2014
10

18. Dewiyana. 2010. PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman.FKM UNAIR
2010 di Seksi Info & Litbangkes Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
19. Bkkbn. Pedoman pelayanan keluarga berencana pasca persalinan difasilitas kesehatan.
2012. Diunduh pada http://www.bkkbn.go.id/infoprogram/Documents/METODE
%20%20KONTRASEPSI%20BERDASARKAN%20SARAN%20DITJALPEM.pdf
Tanggal 29 november 2014

11