You are on page 1of 26

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


2.1.1. Definisi PHBS
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah wujud keberdayaan
masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktekkan PHBS. Dalam PHBS, ada 5
program prioritas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan Lingkungan, Gaya Hidup, Dana
Sehat/Asuransi Kesehatan/JPKM. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap dan tindakan dalam menciptakan suatu kondisi bagi kesehatan
perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat secara berkesinambungan. Upaya ini
dilaksanakan melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social
Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan demikian
masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam
tatanan masing-masing, dan masyarakat dapat menerapkan cara-cara hidup sehat
dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Depkes, 2005).
Manfaat PHBS adalah terwujudnya rumah tangga yang derajat kesehatannya
meningkat dan tidak mudah sakit serta meningkatnya produktivitas kerja setiap
anggota keluarga yang tinggal dalam lingkungan sehat dalam rangka mencegah
timbulnya penyakit dan masalah-masalah kesehatan lain, menanggulangi penyakit
dan masalah-masalah kesehatan lain, meningkatkan derajat kesehatan, dan
memanfaatkan pelayanan kesehatan, serta mengembangkan dan menyelenggarakan

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

upaya kesehatan bersumber masyarakat (Depkes, 2006).

2.2 Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


Menurut Depkes RI (2002) menetapkan indikator yang ditetapkan pada
program PHBS berdasarkan area / wilayah, ada tiga bagian yaitu sebagai berikut:
I. Indikator Nasional dan Lokal Spesifik
Indikator nasional ditambah indikator lokal spesifik masing-masing daerah
sesuai dengan situasi dan kondisi daerah. Dengan demikian Ada 16 indikator yang
dapat digunakan untuk mengukur perilaku sehat sebagai berikut :
1. lbu hamil memeriksakan kehamilannya.
2. Ibu melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan.
3. Pasangan usia subur (PUS ) memakai alat KB.
4. Balita ditimbang.
5. Penduduk sarapan pagi sebelum melakukan aktifitas.
6. Bayi di imunisasi lengkap.
7. Penduduk minum air bersih yang masak.
8. Penduduk menggunakan jamban sehat.
9. Penduduk mencuci tangan pakai sabun.
10. Penduduk menggosok gigi sebelum tidur.
11. Penduduk tidak menggunakan NAPZA (Narkotika, obat-obatan, Psikotropika
dan Zat Adiktif lainnya).
.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

12. Penduduk mempunyai Askes/ tabungan/ uang/ emas.


13. Penduduk wanita memeriksakan kesehatan secara berkala dan SADARI
(Pemeriksaan Payudara Sendiri).
14. Penduduk memeriksakan kesehatan secara berkala untuk mengukur
hipertensi.
15. Penduduk wanita memeriksakan kesehatan secara berkala dengan Pap Smear.
16. Perilaku seksual dan indikator lain yang diperlukan sesuai prioritas masalah
kesehatan yang ada di Daerah.
II. Indikator PHBS di setiap Tatanan
Indikator tatanan sehat terdiri dari indikator perilaku dan indikator lingkungan
di 5 (lima) tatanan, yaitu tatanan rumah tangga, tatanan tempat kerja, tatanan tempat
umum, tatanan Sekolah, tatanan sarana kesehatan.
1. Indikator Tatanan Rumah Tangga :
a. Perilaku :
1. Tidak merokok.
2. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.
3. Imunisasi.
4. Penimbangan balita.
5. Gizi Keluarga/sarapan.
6. Kepesertaan Askes/JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).
7. Menggosok gigi sebelum tidur.
8. Olah Raga teratur.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Selain diatas beberapa perilaku dalam menghindari penyakit kulit yaitu


dengan melakukan:
1. Mencuci pakaian dengan air bersih.
2. Mencuci handuk dengan air bersih.
3. Tidak tidur berdesakan.
4. Mandi teratur minimal 2x sehari.
5. Mencuci tangan dengan sabun.
6. Tidak memakai handuk secara bergantian.
7. Tidak tukar menukar pakaian dengan orang lain.
8. Menjemur kasur secara teratur.
9. Menjaga daya tahan tubuh.
10. Menjaga kebersihan tangan, kaki, kuku dan rambut.
Kebersihan kaki sama halnya dengan kebersihan tangan yaitu dalam
kebersihannya harus menggunakan sabun sehingga kulit kaki bersih dan bebas dari
penyakit khususnya penyakit kulit (Hadijah, 2008).
Pemeliharaan rambut sebaiknya menggunakan alat-alat pemeliharaan rambut
sendiri (Irianto, 2007).
b. Lingkungan :
1. Tersedia jamban yang sehat.
2. Tersedia air bersih.
3. Tersedia tempat sampah.
4. Ada SPAL (Saluran Pengaliran Air Limbah).

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

5. Rumah sehat.
6. Kepadatan.
2. Indikator Tatanan Tempat Kerja:
a. Perilaku :
1. Menggunakan alat pelindung.
2. Tidak merokok/ada kebijakan dilarang merokok.
3. Olah raga yang teratur.
4. Bebas NAPZA (Narkotika, obat-obatan, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya).
5. Kebersihan lingkungan kerja.
6. Ada Asuransi Kesehatan.
b. Lingkungan :
1. Ada jamban.
2. Ada air bersih.
3. Ada tempat sampah.
4. Ada SPAL (Saluran Pengaliran Air Limbah).
5. Ventilasi.
6. Pencahayaan.
7. Ada K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja).
8. Ada kantin.
9. Terbebas dari bahan berbahaya.
10. Ada klinik.
3. Indikator Tatanan Tempat Umum :

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

a. Perilaku :
1. Kebersihan jamban.
2. Kebersihan lingkungan.
b. Lingkungan :
1. Ada jamban.
2. Ada air bersih.
3. Ada tempat sampah.
4. Ada SPAL (Saluran Pengaliran Air Limbah).
5. Ada K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja).
4. Indikator Tatanan Sekolah :
a. Perilaku :
1. Kebersihan pribadi.
2. Tidak merokok.
3. Olah raga teratur.
4. Bebas NAPZA (Narkotika, obat-obatan, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya).
b. Lingkungan :
1. Ada jamban.
2. Ada air bersih.
3. Ada tempat sampah.
4. Ada SPAL (Saluran Pengaliran Air Limbah).
5. Ventilasi.
7. Ada warung sehat.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

8. Ada UKS (usaha Kesehatan Sekolah).


9. Ada taman sekolah.
5. Indikator Tatanan Sarana Kesehatan :
a. Perilaku :
1. Tidak merokok.
2. Kebersihan lingkungan.
3. Kebersihan kamar mandi.
b. Lingkungan :
1. Ada jamban.
2. Ada air bersih.
3. Ada tempat sampah.
4. Ada SPAL (Saluran Pengaliran Air Limbah).
5. Ada IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) rumah sakit.
6. Ventilasi.
7. Tempat cuci tangan.
8. Ada pencegahan serangga.

2.3. Manajemen PHBS


Menurut Depkes RI (2002), manajemen PHBS adalah penerapan keempat
proses manajemen pada umumnya ke dalam model pengkajian dan penindaklanjutan
berikut ini:
a.

Kualitas hidup adalah sasaran utama yang ingin dicapai di bidang

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

pembangunan

sehingga

kualitas

hidup

ini

sejalan

dengan

tingkat

kesejahteraan. diharapkan semakin sejahtera maka kualitas hidup semakin


tinggi. Kualitas hidup ini salah satunya dipengaruhi oleh derajat kesehatan.
Semakin tinggi derajat kesehatan seseorang maka kualitas hidup juga semakin
tinggi.
b.

Derajat kesehatan adalah sesuatu yang ingin dicapai dalam bidang kesehatan,
dimana dengan adanya derajat kesehatan akan tergambarkan masalah kesehatan
yang sedang dihadapi. Paling besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan
seseorang adalah faktor perilaku dan faktor lingkungan. Misalnya, seseorang
menderita diare karena minum air yang tidak dimasak, seseorang membuang
sampah sembarangan karena tidak adanya fasilitas tong sampah.

c.

Faktor lingkungan adalah faktor fisik, biologis dan sosial budaya yang
langsung/tidak mempengaruhi derajat kesehatan.

d.

Faktor perilaku dan gaya hidup adalah suatu faktor yang timbul karena adanya
aksi dan reaksi seseorang atau organisme terhadap lingkungannya. Faktor
perilaku akan terjadi apabila ada rangsangan, sedangkan gaya hidup merupakan
pola kebiasaan seseorang atau sekelompok orang yang dilakukan karena jenis
pekerjaannya mengikuti trend yang berlaku dalam kelompok sebayanya,
ataupun hanya untuk meniru dari tokoh idolanya. Misalnya, seseorang yang
mengidolakan aktor atau artis yang tidak merokok, dengan demikian suatu
rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu (Depkes
RI, 2002).

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

2.4 Sarana Sanitasi Lingkungan


Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup
perumahan,

pembuangan

kotoran,

penyediaan

air

bersih

dan

sebagainya

(Notoadmodjo, 2005). Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan untuk
menyediakan lingkungan pemukiman sehat yang memenuhi syarat kesehatan meliputi
penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia (jamban/ wc), pembuangan air
limbah dan pengelolaan sampah (tempat sampah). Sarana sanitasi ini merupakan
prasarana pendukung untuk melakukan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(Azwar, 2000).
2.4.1. Rumah Sehat
Kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman adalah kondisi fisik, kimia,
dan biologik di dalam rumah, di lingkungan rumah dan perumahan, sehingga
memungkinkan penghuni mendapatkan derajat kesehatan yang optimal. Persyaratan
kesehatan perumahan dan lingkungan pemukinan adalah ketentuan teknis kesehatan
yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang
bermukim di perumahan dan/atau masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan
kesehatan (Soedjadi, 2005). Persyaratan kesehatan perumahan yang meliputi
persyaratan lingkungan perumahan dan pemukiman serta persyaratan rumah itu
sendiri, sangat diperlukan karena pembangunan perumahan berpengaruh sangat besar
terhadap peningkatan derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat (Sanropie,
2000).

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Adapun ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal menurut Kepmenkes


No. 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:
1. Lokasi
a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran
lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa, dan sebagainya.
b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau
bekas tambang.
c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti jalur
pendaratan penerbangan.
2. Kualitas udara Kualitas udara ambien di lingkungan perumahan harus bebas dari
gangguan gas beracun.
3. Kebisingan dan getaran
a. Kebisingan dianjurkan 45 dB, maksimum 55 dB.A.
b. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik.
4. Kualitas tanah di daerah perumahan dan pemukiman
a. Kandungan Timah hitam (Pb) maksimum 3.00 mg/kg.
b. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 1.00 mg/kg.
c. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 2.0 mg/kg.
d. Kandungan Benzo (a) pyrene maksimum 1 mg/kg.
5. Komponen dan penataan ruangan
a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan.
b. Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar cuci kedap air

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

dan mudah dibersihkan.


c. Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan.
d. Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir.
e. Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya.
f. Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.
6. Pencahayaan alam dan/atau buatan langsung maupun tidak langsung dapat
menerangi seluruh ruangan dengan intensitas penerangan minimal 60 lux dan tidak
menyilaukan mata.
Rumah yang tidak sehat dan juga perilaku tidak sehat dapat menyebabkan dan
menularkan penyakit bagi penghuninya, seperti batuk-batuk, pilek, sakit mata,
demam, sakit kulit, maupun kecelakaan.
2.4.2. Sarana Air Bersih
Masyarakat selalu menggunakan air untuk keperluan dalam kehidupan seharihari, air juga digunakan untuk produksi pangan yang meliputi perairan, irigasi,
pertanian, mengairi tanaman, kolam ikan dan untuk minum ternak. Banyaknya
pemakaian air tergantung kepada kegiatan yang dilakukan sehari-hari, rata-rata
pemakaian air di Indonesia 100 liter/ orang/ hari dengan perincian 5 liter untuk air
minum, 5 liter untuk air masak, 15 liter untuk mencuci, 30 liter untuk mandi dan 45
liter digunakan untuk jamban (Wardhana, 2001).
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan disuatu tempat penampungan air
seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Perubahan
keadaan tersebut dapat terjadi karena masuknya zat, energi atau komponen lain ke

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

dalam air sehingga kualitas dari air tersebut turun hingga batas tertentu yang
menyebabkan air tidak berguna lagi. Mulai dari hal ringan sampai akibat yang serius
bisa terjadi karena pencemaran air. Penyakit kulit adalah contoh sederhana dari
masalah ini. Dan bukan hanya manusia yang merasakan dampak dari tercemarnya air,
bahkan makhluk yang hidup di dalam air tidak dapat mempertahankan hidupnya, baik
karena suhu air menjadi tidak sesuai ataupun rendahnya kadar oksigen (Suryana,
2011).
Berdasarkan peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/
Menkes/SK/VII/2002 tentang pengawasan dan syarat-syarat kualitas air yang disebut
sebagai air minum adalah air yang memenuhi syarat kesehatan yang dapat langsung
diminum, sedangkan yang disebut sebagai air bersih adalah air yang memenuhi syarat
kesehatan, yang harus dimasak terlebih dahulu sebelum diminum. Syarat-syarat yang
ditentukan sesuai dengan persyaratan kualitas air secara fisika, kimia dan biologi. Air
yang sehat harus memenuhi standart yang telah ditentukan.
2.4.3. Masalah yang Berkaitan dengan Air
Berdasarkan masalah yang berkaitan dengan air yaitu (Pamsimas, 2010):
a. Sarana air bersih yang tidak sehat
1. Sarana air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi
sumber penularan penyakit.
2. Masih ada masyarakat yang mengambil air untuk keperluan rumah tangga
berasal dari air sungai atau mata air yang tidak terlindungi, tindakan ini
tidak tidak baik karena air yang diambil tidak sehat.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

3. Sarana penampungan air hujan yang sudah retak-retak tidak dapat


melindungi air hujan yang disimpan di dalamnya agar tetap bersih, karena
dinding yang retak menjadi tempat berkembangbiaknya lumut yang dapat
mengotori air.
4. Sumur pompa tangan yang tidak dilengkapi lantai kedap air menjadikan
sumur tersebut tidak sehat, karena air bekas pakai dapat meresap kembali
ke dalam sumur tersebut
b. Perilaku yang sehat berkaitan dengan air
1.

Kualitas air bersih harus selalu dijaga mulai dari sumbernya, sarananya,
sampai air tersebut dikonsumsi oleh manusia. Tidak membuang kotoran,
sampah maupun limbah ke sungai, danau, sumur akan membuat air selalu
jernih.

2.

Memelihara sarana air bersih agar tetap berfungsi dengan baik serta
menjaga kebersihannya maka akan membuat kualitas air menjadi baik.

3.

Air bersih yang diambil dari sarana air bersih yang baik disimpan dalam
wadah yang tertutup dan untuk mengambilnya harus menggunakan gayung
dan tangan tidak boleh masuk ke dalam air. Air bersih yang terjaga
kualitasnya sebelum diminum harus di sterilkan dari kuman penyakit
terlebih dahulu, antara lain dengan cara direbus.

c. Perilaku tidak sehat berkaitan dengan air


1. Mengotori sungai dengan membuang sampah dan buang air besar di sungai
adalah tindakan yang tidak baik karena kualitas air sungai menjadi jelek

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

dan menjadi sumber penyakit.


2. Membuat sumur di dekat sungai yang kotor atau tercemar juga tidak baik
karena air yang mengalir ke dalam sumur kemungkinan masih tercemar.
3. Menggunakan sungai untuk keperluan mandi, mencuci, gosok gigi maupun
untuk memasak dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
4. Mengambil air dari sumber atau sarana air bersih yang tidak sehat untuk
keperluan rumah tangga akan membahayakan kesehatan penggunanya.
5. Perilaku tidak baik dengan mengambil air dari sungai atau sumur yang
tidak terjaga dapat menyebabkan sakit bagi pemakai air tersebut.
6. Mengambil air dari tempat penyimpanan air seperti tempayan, bak air, dll,
tidak boleh dengan tangan masuk ke dalam air karena dapat mengotori air.
7. Menghambur-hamburkan air adalah termasuk perilaku yang tidak baik
karena akan mengurangi kandungan air di dalam tanah. Air limpahan yang
tidak dibuang dengan benar dapat menggenang dan menjadi tempat
berkembang biak nyamuk.
8. Minum air yang belum diolah terlebih dahulu dapat menyebabkan sakit
karena kuman penyakit yang ada didalam air belum mati.
d. Penyakit yang berhubungan dengan air
Jenis penyakit yang berhubungan dengan air antara lain sakit perut, diare,
sakit kulit, sakit mata, kecacingan, demam berdarah, malaria, kaki gajah (filariasis),
dan lain-lain.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Alur penularan penyakit kulit melalui air dapat dijelaskan pada gambar
dibawah ini:

Kotoran
Sampah,
Kotoran Hewan,
Air Limbah,
Tanah/Debu

Masuk ke air
sehingga air
tercemar

Mandi dan
mencuci
dengan air
tercemar

Sakit Kulit

Gambar 2.1. Penyakit Kulit Melalui Air


Sumber: Pamsimas Tahun 2010
Sakit kulit disebabkan karena menggunakan air yang telah tercemar kotoran,
baik yang berasal dari sampah, tinja, atau kotoran hewan untuk mandi atau mencuci
baju, sehingga kotoran menempel di badan.
2.4.4. Sarana Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari
rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada umumnya
mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia
serta mengganggu lingkungan hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah
adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman,
perdagangan, perkantoran, dan industri, bersama-sama dengan air tanah dan air
permukaan (Notoadmodjo, 2003).
1. Perilaku dan Sarana pembuangan air limbah yang sehat dan tidak sehat
a. Sarana pembuangan air limbah yang sehat
Sarana pembuangan air limbah yang sehat yaitu yang dapat mengalirkan air

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

limbah dari sumbernya (dapur, kamar mandi) ke tempat penampungan air limbah
dengan lancar tanpa mencemari lingkungan dan tidak dapat dijangkau serangga dan
tikus (Pamsismas 2010).
b. Sarana pembuangan air limbah yang tidak sehat
Rumah yang membuang air limbahnya di atas tanah terbuka tanpa adanya
saluran pembuangan limbah akan membuat kondisi lingkungan di sekitar rumah
menjadi tidak sehat. Akibatnya menjadi kotor, becek, menyebarkan bau tidak sedap
dan dapat menjadi tempat berkembang biak serangga terutama nyamuk (Pamsismas,
2010).
Saluran limbah yang bocor atau pecah menyebabkan air keluar dan
menggenang serta meresap ke tanah. Bila jarak terlalu dekat dengan sumur maka
dapat mencemari sumur. Tempat penampungan air limbah yang terbuka
menyebabkan nyamuk dapat bertelur di tempat tersebut.
c. Perilaku yang sehat berkaitan dengan air limbah
Saluran air limbah agar tetap berfungsi dengan baik setiap saat perlu
dibersihkan dari sampah, lakukan perbaikan bila ada saluran yang pecah atau retak.
Menggunakan air limbah untuk menyiram tanaman dapat meningkatkan manfaat air
limbah. Mengusir tikus dari tempat pembuangan air limbah dapat menghindari
penyakit yang disebarkan oleh tikus seperti pes dan leptospirosis (Pamsisman, 2010).
d. Perilaku yang tidak sehat berkaitan dengan air limbah
Bermain di tempat pembuangan limbah sangat berbahaya karena dapat
terkena bermacam-macam penyakit.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Sakit kulit disebabkan karena menggunakan air yang telah tercemar kotoran,
baik yang berasal dari air limbah, tinja, atau kotoran hewan untuk mandi atau
mencuci baju, sehingga kotoran menempel di badan.
2.4.5. Sarana Pengolahan Sampah
Sampah adalah semua benda padat yang karena sifatnya tidak dimanfaatkan
lagi, tidak termasuk kotoran manusia. Jenis sampah terdiri dari beberapa macam yaitu
sampah kering, sampah basah, sampah berbahaya beracun (Pamsismas, 2010).
a. Sampah kering
Sampah kering yaitu sampah yang tidak mudah membusuk atau terurai seperti
gelas, besi, plastik,
b. Sampah Basah
Sampah basah yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan,
sisa sayuran, daun, ranting, bangkai binatang
c. Sampah berbahaya beracun
Sampah berbahaya dan beracun yaitu sampah yang karena sifatnya dapat
membahayakan manusia seperti sampah yang berasal dari rumah sakit, sampah
nuklir, batu baterai bekas.
Identifikasi masalah dilakukan untuk memahami sarana pembuangan sampah
yang sehat dan tidak sehat. Selain itu juga memahami perilaku baik dan tidak baik
yang berkaitan dengan sampah (Pamsismas, 2010).
a. Tempat sampah
1. Sarana pembuangan sampah yang sehat harus memehuni beberapa persyaratan

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

yaitu, cukup kuat, mudah dibersihkan dan dapat menghidarkan dari jangkauan
serangga dan tikus. Oleh karena itu tempat sampah harus mempunyai tutup dan
selalu dalam keadaan tertutup, bila tutup terbuka maka menjadi tidak sehat
2. Membuang sampah di atas tanah terbuka sangat tidak sehat karena dapat
menyebarkan bau yang tidak sedap dan mengundang serangga dan tikus. Selain
itu dapat mencemari sumber air seperti sungai dan sumur .
b. Perilaku yang sehat dan tidak sehat berkaitan dengan sampah
1. Sampah harus diperlakukan dengan benar agar tidak membahayakan manusia
bahkan dapat mendatangkan manfaat.
2. Sampah dikumpulkan di tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan atau
dibuang di lubang tanah dan menguburnya, sehingga tidak dijangkau serangga
dan tikus.
3. Seringkali masyarakat memusnahkan sampah dengan cara dibakar, namun cara
ini tidak sehat karena asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan
manusia bahkan keracunan.
4. Sampah yang sudah terkumpul diangkut setiap hari ke tempat penampungan
sampah sementara atau ke tempat pembuangan sampah akhir pada suatu lahan
yang diperuntukkan atau ke tempat pengolahan sampah.
5. Bermain di tempat sampah sangat berbahaya karena dapat sakit atau terluka
oleh benda tajam seperti beling, paku. Bila tidak menggunakan alas kaki maka
cacing dapat masuk melalui kaki.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Sakit kulit disebabkan karena menggunakan air yang telah tercemar kotoran,
baik yang berasal dari sampah, tinja, atau kotoran hewan untuk mandi atau mencuci
baju, sehingga kotoran menempel di badan (Pamsismas, 2010)

2.5 Perilaku Kesehatan


Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau
hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung,
telinga, dan lain sebagainya).
2.5.1. Sumber-sumber Pengetahuan
Sumber pertama yaitu kepercayaan berdasarkan tradisi, adat dan agama,
adalah berupa nilai-nilai warisan nenek moyang. Sumber ini biasanya berbentuk
norma-norma dan kaidah-kaidah baku yang berlaku di dalam kehidupan sehari- hari.
Di dalam norma dan kaidah itu terkandung pengetahuan yang kebenarannya boleh
jadi tidak dapat dibuktikan secara rasional dan empiris, tetapi sulit dikritik untuk
diubah begitu saja. Jadi, harus diikuti dengan tanpa keraguan, dengan percaya secara
bulat. Pengetahuan yang bersumber dari kepercayaan cenderung bersifat tetap
(mapan) tetapi subjektif (Suhartono, 2008).
Sumber kedua yaitu pengetahuan yang berdasarkan pada otoritas kesaksian
orang lain, juga masih diwarnai oleh kepercayaan. Pihak-pihak pemegang otoritas
kebenaran pengetahuan yang dapat dipercayai adalah orangtua, guru, ulama, orang
yang dituakan, dan sebagainya. Apa pun yang mereka katakana benar atau salah, baik
atau buruk, dan indah atau jelek, pada umumnya diikuti dan dijalankan dengan patuh

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

tanpa kritik. Karena, kebanyakan orang telah mempercayai mereka sebagai orangorang yang cukup berpengalaman dan berpengetahuan lebih luas dan benar. Boleh
jadi sumber pengetahuan ini mengandung kebenaran, tetapi persoalannya terletak
pada sejauh mana orang- orang itu bisa dipercaya. Lebih dari itu, sejauh mana
kesaksian pengetahuannya itu merupakan hasil pemikiran dan pengalaman yang telah
teruji kebenarannya. Jika kesaksiannya adalah kebohongan, hal ini akan
membahayakan kehidupan manusia dan masyarakat itu sendiri (Suhartono, 2008).
Sumber ketiga yaitu pengalaman indriawi. Bagi manusia, pengalaman indriawi
adalah alat vital penyelenggaraan kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan mata, telinga,
hidung, lidah, dan kulit, orang bisa menyaksikan secara langsung dan bisa pula
melakukan kegiatan hidup (Suhartono, 2008).
Sumber keempat yaitu akal pikiran. Berbeda dengan panca indera, akal pikiran
memiliki sifat lebih rohani. Karena itu, lingkup kemampuannya melebihi panca
indera, yang menembus batas-batas fisis sampai pada hal-hal yang bersifat metafisis.
Kalau panca indera hanya mampu menangkap hal-hal yang fisis menurut sisi tertentu,
yang satu persatu, dan yang berubah-ubah, maka akal pikiran mampu menangkap halhal yang metafisis, spiritual, abstrak, universal, yang seragam dan yang bersifat tetap,
tetapi tidak berubah-ubah. Oleh sebab itu, akal pikiran senantiasa bersikap meragukan
kebenaran pengetahuan indriawi sebagai pengetahuan semu dan menyesatkan.
Singkatnya, akal pikiran cenderung memberikan pengetahuan yang lebih umum,
objektif dan pasti, serta yang bersifat tetap, tidak berubah-ubah (Suhartono, 2008).

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Sumber kelima yaitu intuisi. Sumber ini berupa gerak hati yang paling dalam.
Jadi, sangat bersifat spiritual, melampaui ambang batas ketinggian akal pikiran dan
kedalaman pengalaman. Pengetahuan yang bersumber dari intuisi merupakan
pengalaman batin yang bersifat langsung. Artinya, tanpa melalui sentuhan indera
maupun olahan akal pikiran. Ketika dengan serta-merta seseorang memutuskan untuk
berbuat atau tidak berbuat dengan tanpa alasan yang jelas, maka ia berada di dalam
pengetahuan yang intuitif. Dengan demikian, pengetahuan intuitif ini kebenarannya
tidak dapat diuji baik menurut ukuran pengalaman indriawi maupun akal pikiran.
Karena itu tidak bisa berlaku umum, hanya berlaku secara personal belaka
(Suhartono, 2008).

2.6. Penyakit Kulit


Berdasarkan penelitian Wardhani (2007), Penyakit skabies adalah penyakit
kulit yang berhubungan dengan sanitasi dan hygiene yang buruk, saat kekurangan air
dan tidak adanya sarana pembersih tubuh, kekurangan makan dan hidup berdesakdesakan, terutama di daerah kumuh dengan sanitasi yang sangat jelek. Skabies dan
penyakit kulit lainnya juga dapat disebabkan karena sanitasi yang buruk.
Penyakit kulit pada manusia sulit diberantas terutama dalam lingkungan
masyarakat pada hunian padat tertutup dengan pola kehidupan sederhana, serta
tingkat pendidikan dan pengetahuan yang masih rendah, pengobatan dan
pengendalian sangat sulit (Iskandar, 2000).
Penyakit kulit merupakan suatu penyakit yang menyerang kulit permukaan

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

tubuh, dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab.


a. Beberapa Penyebab Penyakit Kulit:
1. Kebersihan diri yang buruk
2. Virus
3. Bakteri
4. Reaksi Alergi
5. Daya tahan tubuh rendah
6. Akibat pencemaran lingkungan
b. Tanda dan Gejala Penyakit Kulit
1. Gatal-gatal (saat pagi, siang, malam, ataupun sepanjang hari)
2. Muncul bintik-bintik merah/ bentol-bentol/ bula-bula yang berisi cairan bening
ataupun nanah pada kulit permukaan tubuh
3. Timbul ruam-ruam
4. Kadang disertai demam
c. Kemungkinan Cara Penularan
1. Penularan langsung; sentuhan/bersinggungan langsung dengan penderita
2. Melalui perantara; melalui pakaian, selimut, handuk, sabun mandi yang dipakai
oleh penderita, pencemaran lingkungan seperrti air dll.
d. Upaya Pencegahan Terjadinya Penularan
1. Tingkatkan kebersihan diri dan kebersihan sanitasi lingkungan
2. Tingkatkan kekebalan tubuh dengan cara banyak mengkonsumsi makanan
bergizi (multivitamin) dan istirahat yang cukup.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

3. Hindari kontak langsung dengan penderita, bila bersinggungan/bersentuhan


dengan penderita segera cuci tangan menggunakan air bersih yang mengalir bila
perlu menggunakan sabun
4. Hindari penggunaan perlengkapan pribadi secara bersamaan (selimut, pakaian,
handuk, sabun mandi, dll)
5. Lakukan perawatan dan pengobatan pada anggota keluarga yang menderita
penyakit kulit yang cenderung menular.
e. Cara Perawatan Penyakit Kulit
1. Hindari menggaruk area yang gatal, bila gatal lebih baik diusap-usap atau bisa
juga direndam air hangat (tetapi harus dipastikan tidak ada luka/ bula-bula yang
berisi cairan/nanah tidak pecah).
2. Pada area yang gatal dan terdapat luka/ bekas bula yang pecah hindari terkena
air (bila di permukaan tubuh terdapat luka/ bekas bula yang pecah untuk
sementara waktu jangan mandi).
3. Bila terdapat bula yang berisi nanah/cairan yang pecah, segera keringkan
menggunakan kapas, dan buang kapas pada tempat sampah (jangan dileytakkan
disembarang tempat).
4. Jaga kebersihan diri dan ganti pakaian sehari minimal sekali.
5. Tingkatkan kekebalan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan
istirahat secara cukup.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

2.7. Landasan Teori


Landasan teori dalam penelitian ini mengacu pada konsep teori simpul bahwa
terjadinya penyakit kulit berbasis lingkungan pada masyarakat disebabkan oleh empat
simpul yang mencakup (Achmadi, 2008):
Sumber
Komponen
Lingkungan:
- Fisik
- Biologi
- Kimia
Komponen
Perilaku:
- Pengetahuan
- PHBS

Media Transmisi
- Air
- Limbah
- Sampah

Pajanan

Peny. Kulit

Tindakan Masy.
terhadap PHBS
pada tatanan
rumah tangga
berhubungan
dengan penyakit
kulit meliputi:
-Perilaku
-Lingkungan

-Sakit
-Sehat

Gambar 2.2. Teori Simpul Dampak Lingkungan dan Perilaku terhadap


Penyakit Kulit
(1) Simpul pertama, yaitu sumber penyakit yaitu komponen lingkungan yang baik
fisik, biologi dan kimia serta pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan
sehat yang dapat menimbulkan suatu penyakit antara lain penyakit kulit.
(2) Simpul kedua, yaitu media transmisi penyakit, dalam hal ini yaitu dan sumber
air yang digunakan akibat pencemaran dari sistem pengolahan sanitasi
lingkungan yang belum maksimal.
(3) Simpul ketiga, yaitu kebiasaan atau tindakan nyata yang dilakukan oleh
masyarakat berdasarkan tingkat pengetahuan maupun dari sistem pengolahan
sanitasi lingkungan yang berpotensi terhadap terjadi keluhan penyakit kulit.

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

(4) Simpul ke empat, yaitu kejadian penyakit, adalah bukti nyata atau outcome
dari tingkat pengetahuan masyarakat maupun dari sanitasi lingkungan yang
menyebabkan penyakit kulit.
Menurut H.L Blum (1974), dalam Natoadmodjo (2005), bahwa derajat
kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan
kesehatan dan keturunan.

Keturunan

Pelayanan
Kesehatan

STATUS
KESEHATAN

Lingkungan:
1. Fisik
2. Sosial ekonomi,
budaya dsb.

Perilaku

Gambar 2.3. Faktor yang Memengaruhi Status Kesehatan

Keempat faktor tersebut (keturunan, lingkungan, perilaku, dan pelayanan


kesehatan) disamping berpengaruh langsung pada kesehatan, juga saling berpengaruh
satu sama lainnya. Status kesehatan akan tercapai secara optimal, bilamana keempat
faktor tersebut secara bersama-sama mempunyai kondisi yang optimal pula. Salah

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

satu faktor saja berada dalam keadaan yang terganggu (tidak optimal), maka status
kesehatan akan tergeser ke arah di bawah optimal.
2.8 Kerangka Konsep Peneltian
Variabel Independen

Variabel Dependen

Pengetahuan

Perilaku Hidup Bersih dan


Sehat (PHBS) dalam
Tatanan Rumah Tangga

Sarana Sanitasi Lingkungan


1. Sarana Air Bersih
2. Sarana Pengelolaan Air Limbah
3. Sarana Pengelolaan Sampah

Gambar 2.4. Kerangka Konsep Penelitian

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA