Sie sind auf Seite 1von 6

Pengaruh Panjang Pipa Buang Terhadap Kinerja Motor Diesel

Baharuddin Mire
Jurusan Teknik Mesin, Universitas Hasanuddin
Kampus Unhas
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea.
Makassar, 90245
No.Telepon : (0411) 588400
Fax : (0411) 588400

Pipe gas throw away is machine component needed to to weaken noise, blaze arising out fire by the end of step of
expantion. To get maximum efficiency and energy hence have to avoid by keen turn of gas pipe throw away. This
research aim to to determine machine performance. Research by Motor laboratory Burn Majors Machine Faculty Of
Technique University of Hasanuddin, research at gas pipe turn angle;corner variation of throw away , axis rotation
variation of and variation of opening of gas spillway. Result of research indicate that maximum actual horsepower
equal to 20,714 kW obtained at turn angle;corner 0, axis rotation 2300 rpm, opening of gas spillway 50%. specific
Fuel Comsumption of minimum equal to 0,272 kg / kWh obtained at turn angle;corner 30, axis rotation 1700 rpm,
combustion of gas spillway 30%. Mean effective pressure maximum equal to 651,727 kPa obtained at turn
angle;corner 0, axis rotation 1900 rpm, opening of gas spillway 50% and efficiency of ternal maximum equal to
31,069 % obtained at turn angle;corner 30 axis rotation 1700 rpm, opening of spillway 30%.
Keyword : turn angle;corner, diesel engine performance.
Pipa gas buang merupakan suatu komponen mesin diperlukan untuk meredam kebisingan, cetus api yang timbul pada
akhir langkah ekspansi. Untuk mendapatkan daya dan efisiensi maksimum maka harus dihindari belokan tajam pipa
gas buang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kinerja mesin. Penelitian dilakukan dilaboratorium Motor
Bakar Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, penelitian dilakukan pada variasi sudut belokan pipa
gas buang , variasi putaran poros dan variasi pembukaan katup gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya efektif
maksimum sebesar 20,714 kW diperoleh pada sudut belokan 0, putaran poros 2300 rpm, pembukaan katup gas 50%.
Komsumsi bahan bakar spesifik minimum sebesar 0,272 kg/kWh diperoleh pada sudut belokan 30, putaran poros
1700 rpm, pembakaran katup gas 30%. Tekanan efektif rata-rata maksimum sebesar 651,727 kPa diperoleh pada sudut
belokan 0, putaran poros 1900 rpm, pembukaan katup gas 50% dan efisiensi termal maksimum sebesar 31,069 %
diperoleh pada sudut belokan 30 putaran poros 1700 rpm, pembukaan katup gas 30%.
Kata kunci : sudut belokan, kinerja mesin diesel

PENDAHULUAN
Dewasa ini motor diesel sebagai salah satu jenis penggerak mula yang menggunakan energi format untuk
melakukan kerja mekanik sebagian besar telah menyentuh masyarakat, berdasarkan hal tersebut telah banyak
dilakukan penelitian untuk meningkatkan daya dan efisiensi.
Pada akhir langkah ekspansi gas di dalam silinder mesin masih bertekanan cukup tinggi, menimbulkan banyak
asap, kadang-kadang menimbulkan cetus api keluar bersama gas buang. Sehingga pada mesin diperlukan pipa buang
untuk meredam kebisingan, melindungi lingkungan dan memadamkan cetus api yang timbul.
Untuk mendapatkan daya dan efisiensi maksimun diperlukan sudut belokan pipa gas buang yang dapat
menghasilkan kinerja mesin yang baik , artinya sudut belokan pipa gas buang harus dibatasi..
Menurut Maleev, V.L. Tekanan balik (Back Pressure), suatu kenaikan tekanan balik sebesar 1 psi akan
menurunkan tekanan efektif rata-rata sebesar satu persen karena kerja ekstra yang dilakukan oleh torak selama
langkah buang. Tambahan gas buang yang tertinggal diruang kompressi pada silinder mesin akan menambah
perlemahan, sehingga menurunkan efisiensi pengisian sebesar 0,5 persen.
Untuk mengurangi tekanan dalam setiap bagian dari sistem buang, maka harus dihindari belokan tajam dan
mengurangi panjang pipa buang.
Berdasarkan dari masalah tersebut diatas, akan dicoba untuk malakukan penelitian dengan judul Pengaruh
Sudu Belokan Pipa Buang Terhadap Kinerja Motor Diesel.

METODE PENELITIAN
1.
2.

Waktu dan tempat


Penelitian ini akan dilaksanakan di laboratorium Motor Bakar Jurusan Mesin Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin, penelitian akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2008
Spesifikasi Mesin

3.

4.

5.

Type mesin
: Mesin perkins 4 108 V
Jumlah silinder
: 4 buah
Volume langkah
: 1790 cc
Diameter silinder
: 79,5 mm
Panjang langkah
: 88,9 mm
Perbandingan kompressi : 22
Daya maksimum
: 32 kW pada putaran 4000 opm
Fasilitas penelitian
Fasilitas penelitian merupakan faktor utama yang mempengaruhi keakuratan data pengujian.
a.
Dynamometer
Dynamometer yang terpasang pada mesin ini digunakan untuk mengukur daya efektif
mesin, yang mana merupakan daya guna yang ditimbulkan oleh poros engkol mesin setelah
mengalami tekanan gesekan dari mesin tersebut.
b.
Tachometer
Tachometer ini berfungsi untuk mengukur kecepatan putaran dari poros, pada setiap
kondisi operasi yang diberikan.
c.
Plint fuel gange
Peralatan ini berfungsi untuk mengukur konsumsi bahan bakar yang digunakan, dimana
volume bahan bakar yang terukur di batasi oleh sekat (Spocer) dengan volume tertentu yaitu 50 cc,
100 cc, dan 200 cc. Pada penelitian ini ditentukan volume yang digunakan 50 cc.
Persiapan sebelum pengujian
Hal-hal yang perlu di perhatikan sebelum pengujian adalah :
a.
Periksa suplai bahan bakar
b.
Periksa jumlah minyak pelumas
c.
Teliti dan pastikan tidak komponen mesin yang longgar
d.
Mengatur katup air pendingin yang bersikulasi pada mesin dalam kondisi normal
e.
Mengatur kedudukan dynamometer sampai keadan nol
Pengujian
Untuk menentukan daya efektif, komsumsi bahan bakar spesifik, konsumsi udara aktual dan
efisiensi termal maka ditentukan variabel sebagai berikut :
a. Variasi sudut belokan 0o, 30o, 60o dan 90o
b. Putaran poros : 1500 rpm, 1700 rpm, 1900 rpm, 2100 rpm,
2300 rpm, dan 2500 rpm
c. Pembukaan katup gas : 30 %, 40 %, dan 50 %
Untuk berbagai pembukaan katup gas (throttle) yang diinginkan,prosedur dilakukan dengan
cara menaikkan putaran mesin yang dikehendaki, dengan memberi atau mengurangi beban. Setelah
keadaan seimbang, maka dilakukan pembacaan data yang ditunjukkan arah alat ukur yang
digunakan sebagai data perhitungan adalah :
1. Momen torsi
2. Putaran poros
3. Waktu yang digunakan untuk menghabiskan 50 cc bahan bakar

Instalasi pengujian

Keterangan :
1. Mesin
2. Dinamometer
17. Gelas ukur bahan bakar
4. Tachomater
5. Momen torsi
19. Saluran gas buang

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penelitian dilakukan pada variasi sudut belokan pipa gas buang, variasi pembukaan katup gas dan variasi
putaran poros. Dari variasi tersebut terlihat bahwa ada pengaruh kinerja mesin yang signifikan yang meliputi daya
poros, konsumsi bahan bakar spesifik, tekanan efektif rata-rata dan efisiensi termal.
Daya Efektif, BHP (kW)
Nilai BHP cenderung turun seiring bertambahnya sudut belokan pipa gas buang, hal ini terlihat untuk
pembukaan katup gas 30%, nilai BHP maksimum untuk sudut belokan pipa gas buang 0 sebesar 12.284 kW, sudut
belokan 30 sebesar 12.212 kW, sudut belokan 60 sebesar 12.052 kW dan sudut belokan 90 sebesar 11.215 kW, BHP
maksimum ini masing-masing diperoleh pada putaran poros 1700 rpm, nilai minimum pada pembukaan katup gas
30% di peroleh pada sudut belokan 90 dengan putaran poros 2300 rpm sebesar 3.854 kW. Sedangkan untuk
pembukaan katup gas 40%. Nilai BHP maksimum untuk sudut belokan 0 sebesar 26.619 kW, sudut belokan 30
sebesar 15,159 kW, sudut belokan 60 sebesar 15,122 kW dan sudut belokan 90 sebesar 14.326 kW, nilai BHP
maksimum untuk pembukaan katup 40% masing-masing diperoleh pada putaran poros 1900 rpm, nilai minimum
pada pembukaan katup gas 40% diperoleh pada sudut belokan 90, putaran poros 2300 rpm sebesar 5.367 kW.
Sedangkan untuk pembukaan katup gas 50%, nilai BHP maksimum untuk sudut belokan 0 sebesar 20.714 kw pada
putaran 2300 rpm, sudut belokan 30 sebesar 20.473 kW pada putaran poros 2300 rpm, sudut belokan 60 sebesar
19.991 kW pada putaran 2300 rpm dan sudut belokan 90 sebesar 19.030 kW pada putaran 2300 rpm. Nilai BHP
minimum untuk pembukaan katup gas 50% diperoleh pada sudut belokan 90 pada putaran 1500 rpm sebesar 12.250
kW.
Penurunan daya efektif pada sudut belokan yang besar disebabkan timbulkan tahanan-tahanan atau gesekan
pada sudut belokan, sehingga semakin besar sudut belokan maka dapat menimbulkan tekanan balik, sehingga
mengakibatkan penurunan daya efektif pada mesin. Menurut V.L. Maleev, M.E, suatu kenaikan tekanan balik 1 psi
akan mengakibatkan kerja ekstra yang harus dilakukan oleh jarak selama langkah buang yang tertinggal dalam
kompressi dari silinder sehingga akan menimbulkan penurunan efisiensi pengisian sebesar 0.5%, sehingga kenaikan
1% tekanan balik akan menurunkan daya efektif sekitar 1,5%.
Tekanan Efektif Rata-rata, MEP (kPa)
Nilai MEP turun seiring bertambah besarnya sudut belokan pipa gas buang, hal ini terlihat untuk pembukaan
katup gas 30%, nilai MEP maksimum untuk sudut belokan 0 sebesar 498,589 kPa pada putaran poros 1500 rpm,
sudut belokan 30 sebesar 498.028. kPa pada putaran 1500 rpm, untuk sudut belokan 60 sebesar 484.344 kPa pada
putaran 1500 rpm dan untuk sudut belokan 90 sebesar 455.853 kPa pada putaran 1500 rpm. Sedangkan untuk
pembukaan katup gas 40% nilai MEP maksimum untuk sudut belokan 0 sebesar 584.061 kPa pada putaran 1700
rpm, untuk sudut belokan 30 sebesar 576.939 kPa pada putaran 1700 rpm, untuk sudut belokan 60 sebesar 569.816
kPa pada putaran 1700 rpm dan untuk sudut belokan 90 sebesar 541.325 kPa pada putaran 1700 rmp, sedangkan
untuk pembukaan katup gas 50% nilai MEP maksimum untuk sudut belokan 0 sebesar 651.727 kPa pada putara 1900
rpm, untuk sudut belokan 30 sebsear 648,166 kPa pada putaran 1900 rpm untuk sudut belokan 60 sebesar 630.359
kPa pada putaran 1900 rpm dan untuk sudut belokan 90 sebesar 601.610 pada putaran 2100 rpm.
Sedangkan MEP minimum untuk pembukaan katup gas 30% diperoleh pada sudut belokan 90 sebesar
113.963 kPa pada putaran 2300 rpm, untuk pembukaan katup gas 40%, nilai MEP minimum diperoleh pada sudut
belokan 90 sebesar 146.015 kPa pada putaran 2500 rpm dan untuk pembukaan katup gas 40%, nilai MEP minimum
diperoleh pada sudut belokan 90 sebesar 146.015 kPa pada putaran 2500 rpm dan untuk pembukaan katup gas 50%,
nilai MEP minimum diperoleh pada sudut belokan 90 sebesar 356.490 kPa pada putaran 2500 rpm menurut V.L.
Maleev, M.E, suatu kenaikan tekanan balik, 1 psi akan menurunkan tekanan efektif rata-rata sebesar 1%. Sehingga
penurunan tekanan efektif rata-rata (MEP) pada sudut belokan yang besar disebabkan timbulnya tahanan. Tahanan
atau gesekan yang besar pada sudut belokan, sehingga semakin besar sudut belokan, maka semakin besar tahanan
balik yang timbul sehingga menyebabkan tekanan balik yang menurunkan tekanan efektif rata-rata pada silinder
mesin.
Konsumsi Bahan Bakar Spesifik, SFC (kg/kwh)

Konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) merupakan indikasi dari ekonomisnya suatu mesin dalam mengubah
sejumlah bahan bakar menjadi daya setiap waktu. Nilai SFC sangat dipengaruhi oleh proses pembakaran didalam
silinder dari putaran mesin. Nilai SFC naik seiring bertambahnya besarnya sudut belokan pipa gas 30%, nilai SFC
minimum untuk sudut belokan 0 sebesar 0.302 kg/kWh pada putaran 1700 rpm, untuk sudut belokan 30 sebesar
0,272 kg/kWh pada putaran 1700 rpm, untuk sudut belokan 60 sebesar 0.300 kg/kWh pada putaran 1700 rpm. Nilai
SFC maksimum untuk pembukaan katup gas 30% sebesar 0,701 kg/kWh diperoleh pada sudut belokan 90 pada
putaran 2300 rpm.
Sedangkan untuk pembukaan katup gas 40% nilai SFC minimum untuk sudut belokan pipa gas buang 0
sebesar 0.300 kg/kWh pada putaran 2100 rpm, untuk sudut belokan pipa gas buang 30 sebesar 0.305 kg/kWh pada
putaran 2100 rpm, untuk sudut belokan pipa gas buang 60 sebesar 0.314 kg/kWh pada putaran 2100 rpm dan untuk
sudut belokan pipa gas buang 90 sebesar 0.336 kg/kWh pada putaran 2100 rpm, nilai SFC maksimum pada
pembukaan katup gas 40% sebesar 0.669 kg/kWh diperoleh sudut belokan 90 dengan putaran poros 2500 rpm.
Sedangkan untuk pembukaan katup gas 50% nilai SFC minimum untuk sudut belokan 0 sebesar 0.346 kg/kWh pada
putaran 2300 rpm, untuk sudut belokan pipa gas buang 30 sebesar 0.348 kg/kWh pada putaran 2300 rpm, untuk
sudut belokan pipa gas buang 60 sebesar 0.360 kg/kWh pada putaran 2300 rpm dan untuk sudut belokan pipa gas
buang 90 sebesar 0.336 kg/kWh pada putaran 2100 rpm, nilai SFC maksimum sebesar 0.500 kg/kWh diperoleh pada
sudut belokan 0 dengan putaran 1500 rpm. Kenaikan pemberian bahan bakar speifik pada sudut belokan yang besar
disebabkan bahwa dengan naiknya sudut belokan maka daya efektif yang dihasilkan dari hasil pembakaran bahan
bakar semakin menurun sehingga sangat mempengaruhi SFC. Hal ini berarti bahwa nilai SFC sangat dipengaruhi
pula oleh tekanan balik pada pipa gas buang.

550
500
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0
1300

th (%)

M E P (K pa)

Efisiensi Termal (%)


Efisiensi termal merupakan salah satu parameter yang digunakan sebagai ukuran keekonomisan suatu mesin
yang mana efisiensi termal merupakan harga perbandingan daya efektif yang dihasilkan oleh mesin terhadap
total hasil pembakaran. Nilai efisiensi termal turun seiring kenaikan sudut belokan pipa gas buang, hal ini
terlihat untuk pembukaan katup gas 30% nilai efisiensi termal maksimum untuk sudut belokan 0 sebesar 28.010%
pada putaran 1700 rpm, untuk sudut belokan 30 sebesar 31,069 % padas putaran 1700 rpm, untuk sudut belokan 60
sebesar 30.311% dan untuk sudut belokan 90 sebesar % pada putaran 1700 rpm, nilai efisiensi termal minimum
sebesar 14,424 % diperoleh pada sudut belokan 90 pada putaran 2300 rpm. Untuk pembukaan katup gas 40%, nilai
efisiensi termal maksimum untuk sudut belokan 0 sebesar 28.122% pada putaran 2100 rpm, untuk sudut belokan 30
sebesar 27,709 % pada putaran 2100 rpm, untuk sudut belokan 60 sebesar 26.931 % pada putaran 2100 rpm,
untuk sudut belokan 90 sebesar 25,147 % pada putaran 2100 rpm, nilai efisiensi termal minimum sebesar 12,062
% diperoleh pada sudut belokan 90 dengan putaran 2500 rpm. Sedangkan untuk pembukaan katup gas 50%, nilai
efisiensi termal maksimum untuk sudut belokan pipa gas buang 0 sebesar 24.427% pada putaran 2300 rpm, untuk
sudut belokan 30 sebesar 24,257 % pada putaran 2300 rpm, untuk sudut belokan 60 sebesar 23.463 % pada
putaran 2300 rpm dan untuk sudut belokan 90 sebesar 23.001 % pada putaran 2100 rpm, nilai efisiensi termal
minimum sebesar 90 pada putaran 1500 rpm. Dari ketiga pembukaan katup gas terlihat bahwa penurunan efisiensi
ternal pada sudut belokan besar disebabkan naiknya sudut belokan, maka daya efektif yang dibangkitkan mesin
menurun, sehingga efisiensi termal turun, ini berarti bahwa dengan naiknya sudut belokan maka pemanfaatan energi
termal berkurang akibat adanya sudut belokan yang menyebabkan timbulnya tekanan balik.

35
30
25
20
15
10
5

1800

2300

2800
N (rpm)

0
1300

1500

1700

1900

2100

2300

2500

N (rpm)

SFC (Kg/kWh)

Gambar 1. Unjuk Kerja Mesin pada Pembukaan Katup 30 %;


0 derajad, 30 derajad, 60 derajad, dan x 90 derajad

BHP (kW)

18.00
16.00
14.00
12.00
10.00
8.00
6.00
4.00
2.00
0.00
1300

0.800
0.700
0.600
0.500
0.400
0.300
0.200
0.100

1800

0.000
1300

2300

1800

2300

N (rpm)
h th (%)

M E P (K pa)

N (rpm)
650
600
550
500
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0
1300

2800

30
25
20
15
10
5

1800

2300

0
1300

2800
N (rpm)

1800

2300

2800
N (rpm)

SFC (Kg/kWh)

BHP (kW)

Gambar 2. Unjuk Kerja Mesin pada Pembukaan Katup 40 %;


0 derajad, 30 derajad, 60 derajad, dan x 90 derajad

25.00
20.00
15.00

0.800
0.700
0.600
0.500
0.400
0.300

10.00

0.200

5.00

0.100

0.00
1300

1800

0.000
1300

2300

1800

2300

700
650
600
550
500
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0
1300

2800
n (rpm)

30
25
h th (%)

MEP (Kpa)

N (rpm)

20
15
10
5

1800

2300

2800
N (rpm)

0
1300

1800

2300
N (rpm)

2800

Gambar 3. Unjuk Kerja Mesin pada Pembukaan Katup 50 %;


0 derajad, 30 derajad, 60 derajad, dan x 90 derajad

SIMPULAN

Notasi
BHP
T
N
FC
SFC
MEP
Q tot
t
f
LHVbb
VGU
W

Daya efektif (BHP) maksimum sebesar 20.714 kW diperoleh pada sudut belokan pipa gas buang 0
pembukaan katup gas 50% dan putaran poros 2300 rpm, sedangkan tekanan efektif rata-rata (MEP) sebesar
651.727 kPa diperoleh pada sudut belokan 0. Pembukaan katup gas 50% dan putaran poros 1900 rpm.
Konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) minimum sebesar 0.272 kg/kWh dan efisiensi termal maksimum
sebesar 31,069
% diperoleh pada sudut belokan 30, pembukaan katup gas 30% dan putaran poros 1700

= Daya Efektif, (kW)


= Torsi, (N.m)
= Putaran Mesin, (rpm)
= Konsumsi bahan bakar tiap jam, (kg/h)
= Konsumsi bahan bakar spesifik, (kg/kWh)
= Tekanan efektif rata-rata, (kPa)
= Kalor total hasil pembakaran, (kW)
= efisiensi termal, (%)
= massa jenis bahan bakar, (kg/m 3)
= Nilai kalor bawah bahan bakar, (kJ/kg)
= Volume gelas ukur bahan bakar, (CC)
= Waktu untuk menghabiskan bahan bakar sebanyak, 50 cc

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Arismunandar, Wiranto, Penggerak mula Motor Bakar Torak, Edisi ketiga, 1980, Penerbit ITB Bandung
[2]. Arismunandar, Wiranto, Motor Diesel Putaran Tinggi, Cetakan ketujuh, 1993, Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta
[3]. Heldt, P. M., High speed Contribution Engine, Chilton Company
[4]. Petrovsky, N., Marine Internal Combustion Engines, 1980, Mr Publisher, Moscow
[5]. Maleev. V. L., Internal Combustion Engines, Sixth Edition, 1951, Kogokusha Ltd & Co, Tokyo
[6]. Maleev. V. L. dan Priambodo, Bambang, Operasi dan Pemeliharaan Mesin Diesel, 1995, Penerbit Erlangga, Jakarta
[7]. Heywood, Jhon B., Internal Combustion Engines Fundamental, 1988, Mc. Graw-Hill, Inc, Singapore
[8]. Blundell J. K., Diesel Engine Text Bed TD 4a, Tecquipment Limited, Nottingham, England.