You are on page 1of 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selama ini sub-sektor peternakan masih dipandang sebelah mata oleh banyak pihak.
Padahal jika dikerjakan dengan serius, peternakan dapat menjadi salah satu pendorong
pertumbuhan ekonomi daerah bahkan nasional. Salah satu usaha peternakan yang
mempunyai prospek yang menjanjikan adalah usaha peternakan domba (Karyadi, Didik,
2008). Domba memiliki banyak keunggulan diantaranya yaitu memiliki produktivitas cukup
baik dan memiliki keunggulan komparatif dalam kinerja pertumbuhan, kekuatan, dan
bobot badan yang dapat bersaing dengan domba impor dalam hal kualitas dan
produktivitas (Gunawan dan Noor, 2006). Upaya peningkatan populasi dan kualitas
diperlukan dalam memenuhi permintaan domba untuk konsumsi ataupun aduan. Salah satu
cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas ternak adalah melalui
perbaikan kinerja reproduksi. Kinerja reproduksi dapat ditingkatkan melalui teknologi
Inseminasi Buatan (IB).

Kualitas sperma untuk IB sangat ditentukan oleh jenis bahan pengencernya. Daya
fertilisasi optimum spermatozoa harus dipreservasi atau diawetkan untuk beberapa lama
setelah penampungan untuk mempertahankan motilitas dan viabilitasnya agar penggunaan
pejantan yang bebas penyakit dan bermutu genetik tinggi secara maksimal dapat tercapai
dalam program IB. Oleh karena itu, sperma perlu dicampur dengan larutan pengencer yang
menjamin kebutuhan fisik dan kimiawinya serta disimpan pada suhu dan kondisi tertentu
yang mempertahankan kehidupan spermatozoa selama waktu yang diinginkan untuk
kemudian dipakai sesuai kebutuhan (Dwitarizki Novia Dimar dkk, 2015).\

Salah satu pengencer yang digunakan adalah kuning telur. Khasiat kuning telur terletak
pada lipoprotein dan lesitin yang terkandung di dalamnya yang bekerja mempertahankan
dan melindungi integritas selubung lipoprotein dari sel spermatozoa. Kuning telur juga
mengandung glukosa sebagai sumber energi bagi spermatozoa (Feradis, 2010 dalam
Kewilaa, dkk. 2013).
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sterilisasi peralatan untuk penyimpanan spermatozoa ?

2. Bagaimana membuat pengencer dasar tris ?

3. Bagaimana teknik pengambilan spermatozoa ?

4. Bagaimana melakukan uji kualitas semen segar ?

5. Bagaimana proses pengenceran sperma ?

6. Bagaimana teknik penyimpanan spermatozoa ?

7. Bagaimama melakukan evaluasi spermatozoa ?

C. Tujuan

1. Mahasiswa dapat melakukan sterilisasi peralatan untuk penyimpanan spermatozoa

2. Mahasiswa dapat membuat pengencer dasar tris

3. Mahasiswa dapat melakukan teknik pengambilan spermatozoa

4. Mahasiswa dapat melakukan uji kualitas semen segar

5. Mahasiswa dapat melakukan proses pengenceran semen

6. Mahasiswa dapat melakukan teknik penyimpanan spermatozoa

7. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi spermatozoa

8. Mahasiswa dapat membuat kesimpulan dari hasil pengamatan


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Domba

Ternak domba di Indonesia kebanyakan diusahakan oleh petani petani ternak di


daerah pedesaan. Domba yang diusahakan umumnya dalam jumlah kecil yaitu 3 5 ekor per
keluarga, dipelihara secara tradisional dan merupakan bagian dari usahatani sehingga tingkat
pendapatan yang diperoleh pun sangat kecil. Sugeng (2000) dalam Karyadi, Didik (2008),
menyatakan bahwa domba merupakan salah satu jenis ternak potong kecil yang memberikan
beberapa keuntungan, antara lain: mudah beradaptasi dengan lingkungan, memiliki sifat
hidup berkelompok, cepat berkembang biak, dan modal kecil.

Populasi domba di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2004
mencapai 8.075.000 ekor, tahun 2005 meningkat menjadi 8.327.000 ekor dan pada tahun
2006 menjadi 8.543.000 ekor (Badan Pusat Statistik, 2006). Namun, jumlah ini tidak
sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa. Sebagian besar
populasi domba terdapat di Pulau Jawa terutama Jawa Barat. Populasi domba di wilayah
Jawa Barat tahun 2006 yaitu 3.860.896 ekor (Badan Pusat Statistik, 2006).

Blakely, J dan D. H. Bade (1998) dalam Karyadi, Didik (2008) mengemukakan


klasifikasi bangsa domba yang paling umum adalah berdasar pada wool yang dihasilkan.
Faktor faktor lainnya seperti jenis daging, warna, ada tidaknya tanduk serta karakteristik
kemampuan adaptasinya, diperhatikan pada tiap jenis; klasifikasi yang luas adalah wool
halus, wool medium, wool panjang, wool persilangan, wool permadani dan fur. Sudarmono
dan Sugeng (2005) dalam Karyadi, Didik (2008), menyatakan secara umum, ternak domba
dikelompokkan menjadi domba tipe potong, wol dan dual purpose, yakni sebagai penghasil
daging dan sekaligus penghasil wol.

Adapun penjelasannya sebagai berikut :

1. Domba tipe potong

Kelompok domba tipe potong atau pedaging memiliki ciri ciri sebagai berikut.
a. Bentuk badan padat, dada lebar dan dalam, leher pendek, garis punggung dan
pinggang lurus.

b. Kaki pendek, seluruh tubuh berurat daging yang padat. Termasuk domba tipe
pedaging antara lain southdown, hamshire, dan oxford.

2. Domba tipe wol

Kelompok domba tipe wol memiliki ciri ciri sebagai berikut :

a. Bertubuh ringan, kaki halus dan ringan, berdaging tipis, serta berperilaku lincah dan
aktif.

b. Antara permukaan daging dan kulit agak longgar dan berlipat lipat.

Termasuk dalam tipe ini antara lain merino, rambouillet, dorset dan suffolk.

Kusumaningrum (2004) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa bangsa domba yang


dipelihara oleh peternak biasanya adalah domba garut dan domba lokal. Domba yang
banyak terdapat di Indonesia antara lain adalah domba lokal, domba priangan (domba garut),
domba ekor gemuk, texel, suffolk, dorset, dan merino (Suharno dan Nazaruddin, 1994
dalam Karyadi, Didik, 2008).

B. Semen dan Spermatozoa

Semen adalah cairan atau suspensi semigelatinous yang mengandung gamet jantan atau

spermatozoa dan sekresi kelenjar pelengkap saluran reproduksi jantan. Semen mengandung

banyak spermatozoa yang berada dalam medium cair, yaitu plasma plasma. Tiap

spermatozoa terdiri dari bagian kepala dimana terkumpul bahan-bahan genetik dan bagian

ekor yang menyebabkan spermatozoa dapat bergerak maju sendiri. Sel spermatozoa

mempunyai fungsi dalan pembuahan ovum hewan betina (Feradis, 2010)


a) Struktur Spermatozoa

Spermatozoa merupakan suatu sel kecil, kompak dan sangat khas yang tidak bertumbuh

atau membagi diri. Secara esensial ia terdiri dari kepala yang membawa materi herediter

paternal, dan ekor yang mengandung sarana penggerak (Feradis, 2010). Spermatozoa terdiri

dari 2 bagian, yaitu bagian kepala yang berbentuk oval, dan bagian ekor yang memanjang.

Kepala terdiri dari nukleus yang dilapisi akrosom. Sekitar 2/3 bagian kepala tertutup oleh

akrosom. Terdapat sambungan pendek yaitu leher yang berisi sentriol proaksimal diantara

kepala dan badan spermatozoa. Bagian badan dan ekor mampu bergerak bebas meskipun

tanpa kepala.

Gambar 2 2.1 Struktur Spermatozoa (Fakultas Peternakan UB)

Ukuran dan bentuk spermatozoa pada berbagai jenis hewan berbeda, namun memiliki

struktur morfologi yang sama. Panjang dan lebar kepala kira-kira 0.8 sampai 10 mikron kali

4.0 sampai 4.5 mikron pada spermatozoa sapi, domba dan babi, dan 7.0 mikron kali 2.7

sampai 4.0 mikron pada spermatozoa kuda. Tebal kepala lebih kurang 0.5 sampai 1.5 mikron

atau kurang pada semua spesies. Badan dan bagian tengah spermatozoa mempunyai panjang

satu setengah sampai dua kali panjang kepala, 10.0 sampai 15.0 mikron, dan diameter
sekitar 1.0 mikron pada semua spesies. Ekor spermatozoa 35.0 sampai 45.0 mikron panjang

dan 0.4 sampai 0.8 mikron diameter. Panjang keseluruhan spermatozoa pada hewan

peliharaan mencapai 50 sampai 70 mikron (Feradis, 2010).

Permukaan spermatozoa dibungkus oleh suatu membran lipoprotein. Apabila sel

tersebut mati, permeabilitas membrannya meninggi, terutama di daerah pangkal kepala, dan

hal ini merupakan dasar pewarnaan semen yang membedakan spermatozoa hidup dan yang

mati. Zat warna yang umum dipakai adalah eosin atau merah kongo terhadap latar belakang

hitam dari negrosin. Spermatozoa yang hidup tidak akan menyerap warna sehingga akan

berwarna merah (Feradis, 2010)

b) Konsentrasi

Konsentrasi sperma merupakan densitas (jumlah) sperma tiap ml semen. Konsentrasi

sperma memang merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung keberhasilan

pembuahan ( Fauziyah, A dkk, 2013).


Konsentrasi spermatozoa dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah

kematangan seksual pejantan, volume ejakulat, interval penampungan, kualitas pakan,

kesehatan reproduksi, besar testis, umur, musim, dan perbedaan geografis (Widhyari, Sus

Derthi, Anita Esfandiari, Agus Wijaya dkk, 2015).

c) Motilitas Spermatozoa

Motilitas merupakan suatu kemampuan spermatozoa untuk bergerak secara progresif.

Motilitas spermatozoa yang berasal dari gerakan mendorong spermatozoa pada bagian ekor

yang menyerupai cambuk ( Fauziyah, A dkk, 2013).


Menurut Ducha (2012), motilitas spermatozoa merupakan karakter dasar yang penting

dalam fungsi reproduksi. Spermatozoa yang diejakulasikan harus memiliki motilitas yang

baik yaitu >70% sehingga dapat melewati saluran reproduksi betina dan terjadi fertilisasi.

Motilitas atau pergerakan spermatozoa sendiri memegang peranan penting sewaktu

pertemuannya dengan ovum. Spermatozoa dalam suatu kelompok memiliki kecenderungan

untuk bergerak bersamasama ke satu arah dan membentuk gelombang-gelombang yang tebal

atau tipis, bergerak cepat atau lambat bergantung pada konsentrasi sperma hidup di

dalamnya. Semakin besar pergerakan gelombang yang terjadi, semakin tinggi motilitas dan

konsentrasi spermatozoa (Derthi, Widhyari Sus, Anita Esfandiari, Agus Wijaya dkk, 2015).

Menurut Kory Oktapiani Payaran, dkk (2014) motilitas spermatozoa adalah gerakan

spermatozoa yang maju lurus dan cepat (progresif). Penilaian motilitas spermatozoa sebagai

berikut :

a. Sangat baik (+++), jika terlihat adanya gelombang-gelombang besar, banyak, tebal dan

aktif serta bergerak cepat.

b. Baik (++), bila terlihat gelombang-gelombang kecil, tipis, jarang, kurang jelas dan

bergerak lamban.

c. Kurang baik (+), jika tidak terlihat gelombang melainkan hanya gerakan gerakan

individual aktif progresif.

d. Buruk (0), bila hanya sedikit atau tidak ada gerakan-gerakan individual.

d) Viabilitas Spermatozoa

Evaluasi yang digunakan untuk mengetahui persentase spermatozoa hidup dapat

dilakukan dengan pewarnaan eosin-nigrosin. Eosin merupakan suatu cairan yang digunakan
untuk membedakan sperma yang hidup dengan sperma yang mati karena eosin tidak dapat

menembus pada sel hidup, tetapi eosin dapat menembus pada sel mati. Zat warna eosin akan

mewarnai sel spermatozoa menjadi merah atau merah muda, sedangkan sepermatozoa hidup

tidak berwarna. Zat warna negrosin memberi latar belakang biru-hitam. pada penelitian

Sukmawati, 2014., pewarnaan dilakukan dengan cara meneteskan satu tetes semen dengan

dua tetes pewarna eosin lalu dihomogenkan dan selanjutnya dibuat preparat ulas pada gelas

obyek dan difiksasi di atas heating table maupun dikeringanginkan. Berikut merupakan hasil

pengamatan viabilitas:

e)

Gambar 2.2 Viabilitas semen sapi hidup (tidak terwarnai) dan semen sapi mati
(terwarnai). (Thamrin, 2014)

C. Proses Spermatogenesis

Spermatogenesis adalah proses pembentukan spermatozoa di dalam testes yang

mengalami pematangan lebih lanjut di dalam epididimis dimana sperma disimpan sampai

ejakulasi (Feradis, 2010). Sperma dibentuk di dalam tubuli seminiferi dari sel-sel induk
spermatozoa yang diploid, disebut spermatogonia tipe A, yang terletak pada membrana

basalis. Spermatogenesis merupakan suatu proses kompleks yang meliputi pembelahan dan

diferensiasi sel.

Spermatogenesis meliputi :

a. Spermatositogenesis (spermiocytogenesis) atau pembentukan spermatosit primer dan

sekunder bagi spermatogonia tipe A

b. Spermiogenesis atau pembentukan spermatozoa dari spermatid.

Spermatositogenesis dikendalikan oleh FSH dari adenohypophysa dan spermiogenesis

berada di bawah pengaruh LH dan testosterone (Feradis, 2010).

Proses spermatogenesis pada domba dibagi dalam empat fase. Sel-sel kelamin jantan

berkembang secara progresif dan bermigrasi dari membarna basalis ke arah lumen tubuli

seminiferi. Akan tetapi selama waktu tersebut mereka berhubungan dengan sitoplasma

sel-sel sertoli yang mungkin memberikan makan pada spermatozoa (Feradis, 2010).

1. Fase I (15-17 hari)

Pembelahan mitosis spermatogonia tipe A menjadi dua anak sel yaitu spermatogonium

dormant yang menjamin kontinuitas spermatogonia dan satu spermatogonium aktif yang

membagi diri empat kali sehingga akhirnya membentuk 16 spermatosit primer (2n)

2. Fase II (kurang lebih 15 hari)

Pembelahan meiosis dari spermatosit primer (2n) menjadi spermatosit sekunder (n)

3. Fase III (beberapa jam)

Pembelahan spermatosit sekunder menjadi spermatid

4. Fase IV (kurang lebih 15 hari)

Metamorfosis spermatid menjadi spermatozoa tanpa pembelahan sel.


D. Kuning Telur

Kuning telur mempunyai komponen berupa lipoprotein dan lesitin yang

mempertahankan dan melindungi integritas selubung lipoprotein dari sel spermatozoa dapat

mempertahankan dan melindungi spermatozoa dari cekaman dingin. Kuning telur juga

mengandung glukosa, vitamin yang larut dalam air dan larut dalam lemak sehingga

menguntungkan spermatozoa (Permatasari, W.D, E.T. Setiatin, dan D. Samsudewa, 2013).

Kuning telur tidak saja merupakan sumber lemak, namun juga sebagai sumber protein

yang berkisar antara 15-16% dan vitamin A (40.000 lU per 100 gr) . Lemak dalam kuning

telur tidak bersifat bebas, akan tetapi terikat dalam bentuk partikel lipoprotein. Lipoprotein

kuning telur terdiri atas 85% lemak dan 15% protein . Lemak dari lipoprotein terdiri atas

20% fosfolipid (lecithin, fosfatidil serin), 60% Lemak netral (trigeliserida) dan 5%

kolesterol (Ariyani, Eni, 2006).


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah peneltian eksperimental, karena adanya variabel kontrol,

variabel manipulasi, dan variabel respon serta pengulangan.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanankan pada bulan bulan 11 April 2016. Pengambilan semen

dilakukan di Teaching Farm Unair, Gresik Jawa Timur, sedangkan penelitia dilakukan di

gedung C9 Labolatorium Kultur Jaringan FMIPA Unesa.

C. Sasaran Penelitian

Sasaran peneliatian ini adalah spermatozoa domba yang diperoleh dari Teaching

Farm Unair, Gresik Jawa Timur.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel Manipulasi

Variabel manipulasi dalam penelitian ini adalah jenis semen dan suplementasi

2. Variabel Respon

Variabel respon dalam penelitian ini yaitu kualias spermatozoa meliputi motilitas dan

viabilitas spermatozoa domba.

3. Variabel Kontrol
Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah jenis domba, umur domba.

E. Alat dan Bahan

alat:

object glass

cober glass

tabung sentrifuge plastic

aluminium foil

pipet steril

stik glass

mikropipet

mikrotip

haemocytometer

water bath

hand counter

mikroskop cahaya

pembakar Bunsen

gelas beker

erlenmeyer

kertas saring

syringe ukuran 5 dan 10 ml

bahan:

semen segar domba

alcohol 70%
tris

asam sitrat

fruktosa

penisilin-streptomisin

kuning telur segar

deionize water

pewarna eosin negrosin

F. Prosedur penelitian

1. Strerilisasi peralatan

a. Semua alat dibersihkan menggunakan air

b. Direndam dengan teepol selama 1 malam

c. Digosok dan dibilas dengan air sebanyak 5x

d. Dikeringkan

e. Sterilisasi kering untuk peralatan dari gelas di dalam oven

f. Dilakukan penyinaran UV untuk peralatan dari plastik

2. Pembuatan pengencer dasar tris

a. Menimbang tris sebanyak 6,05 gr , asam sitrat sebanyak 3,4 gr, fruktosa 0,36 gr,
penisilin 0,2 gr, streptomisin 0,2 gr

b. Semua bahan tersebut dicampurkan ke dalam Erlenmeyer, kemudian ditambahkn


air DO sebanyak 200 ml, lalu digoyangkan untuk homogenisasi.

c. Selanjutnya disterilisasi menggunakan membrane milipore di LAF

d. Pengencer yang sudah jadi disimpan dalam lemari es

3. Suplementasi kuning telur

a. Mengeluarkan tris dasar dari refrigerator dan membiarkan agar suhunya naik pada
suhu ruang
b. Mengambil telur baru yang telah dibersihkan dan disterilisari dengan
menyemprotkan alcohol 70%

c. Telur dipecahkan dengan menggunakan pisat/pinset

d. Bagan kuning telur diambil, dan bagian putih telur dibuang

e. Mengambil bagian kuning telur sebanyak 20% dari total volume dengan
menggunakan syringe dan memasukkannya ke dalam tabung sentrifuge steril.

f. Mengambil bagian pengencer sebanyak 80% dari total volume dengan


menggunakan syringe dan memasukkannya ke dalam tabung sentrifuge steril

g. Disimpan dalam refrigerator selama 3 hari, dan mengambil supernatanya untuk


pengencer

4. Proses pengenceran semen


a.
Menyipkan tabung sentrifuge steril yang telah dibungkus oleh aluminium foil.
b.
Mengambil semen domba, dan dihitung konsentrasinya dengan menggunakan
haemocytometer
c.
Dilakukan pengamatan motilitas spermatozoa dari semen segar.
d.
melakukan pengenceran dengan rumus : V1.M1 = V2.M2
e.
menentukan konsentrasi spermatozoa sebesar 25 x 106
f.
mengambil semen segar sesuai perhitungan menggunakan mikropipet, kemudian
mengambil pengencer sesuai perhitungan.

5. Pengamatan motilitas semen

a. Semen diambil menggunakan stik glass dengan mengaduk pelan.

b. Diteteskan pada gelas objek, kemudin fitutun dengan gelas penutup

c. Mengamati motilitas d bawah mikroskop

6. Pengamatan viabilitas semen

a. Semen diambil menggunakan stik glass

b. Diteteskan pada gelas objek

c. Diteteskan pewarna eosin negrosin


d. Mengambil gelas objek yang lain, dan mencampurkan semen dan pewarna eosin
negrosin

e. Membuat apusan semen, kemudian dilewatkan pada bunsen

f. Diamati di baeah mikroskop. Spermatozoa hidup tiak berwarna, sedangkan


spermatozoa yang meti menyerap warna.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Pengamata Semen Segar Domba

Makroskopis

Warna Putih susu

Bau Bau khas semen

pH 6,8

Mikroskopis

Konsentrasi 1087 x 106

Motilitas 70-75%

Viabilitas 100%

Tabel 2. Pengamatan Motilitas Semen Domba Setelah Pengenceran

Pengulangan/hari 0 1 2 3

1 50% 40% 30% 20%

2 50% 40% 30% 20%

3 50% 40% 30% 20%

Tabel 3. Pengamatan viabilitas Semen Domba Setelah Pengenceran

Pengulangan/hari 0 1 2 3

1 91,54% 90,24% 65,65% 34,78%

2 91,15% 88,63% 69,59% 36,00%

3 93,95% 82, 58% 69,40% 31,78%

Rata-rata 92.21% 87,15% 68,21% 34,18%


B. Analisis

Berdasar tabel hasil pengamatan di atas dapat diketahui uji makroskopis semen
segar pada domba yaitu memiliki warna putih susu dengan bau khas semen, dan nilai pH
yaitu 6,8. Berdasar uji mikroskopis diketahui bahwa konsentrasi semen domba sebesar
1087 x 106 dengan motilitas 70-75% dan viabilitas 100%.

Pengamatan motilitas semen domba setelah pengenceran pada hari pertama


dengan tiga kali pengulangan yaitu 50%, 40% dan 30%; hari kedua yaitu 50%, 40% dan
30% dan hari ketiga yaitu 50%, 40% dan 30%.

Pengamatan viabilitas semen domba setelah pengenceran pada hari pertama


dengan tiga kali pengulangan yaitu 91,54%; 90,24%; dan 65,65%. Pada hari kedua yaitu
91,15%; 88,63% dan 69,59%. Pada hari ketiga yaitu 93,95%; 82,58%; dan 69,40%.

C. Pembahasan

Berdasarkan analisis data diatas diketahui bahwa kualitas spermatozoa pada


pemeriksaan awal dijadikan standart untuk pemeriksaan awal semen. Dari hasil
praktikum diketahui warna semen domba yang ditampung adalah putih susu. Hasil ini
sesuai dengan pendapat Ax et al. (2000), Qomariah et al. (2001) dan Rizal et al. (2003)
dalam Kewilaa, dkk (2013) bahwa warna semen domba berwarna putih susu atau krem.
Persentase motilitas semen segar domba sebesar 70-75%. Hasil ini sesuai dengan
penelitian Garner & Hafez (2000) dalam Kewailaa, dkk (2013) yang menyimpulkan
semen segar domba mempunyai rata-rata sekitar 60-80%. Berdasarkan karakteristik
semen segar yang diperoleh kuantitas dan kualitas yang baik untuk memenuhi syarat
diproses lebih lanjut.

Motilitas spermatozoa sangat bergantung pada suplai energy berupa adenosine


triphospat (ATP) hasil metabolisme. Menurut Teolihere (1981) dalam Kewilaa (2013),
spermatozoa lebih mudah menggunakan glukosa dalam metabolismenya dibandingkan
dengan sumber lain yang terdapat dalam plasma semen, yaitu fruktosa. Spermatozoa
memanfaatkan ATP sebagai sumber energi dalam proses pergerakannya sehingga tetap
motil dan sekaligus mempertahankan daya hidupnya.

Fruktosa merupakan sumber energi bagi spermatozoa, penambahan fruktosa


dalam bahan pengencer akan menghasilkan fertilitas yang tinggi. Fruktosa juga berfungsi
mempertahankan tekanan osmosis dalam pelarut (Kostaman et al., 2000).

Kuning telur mempunyai komponen berupa lipoprotein dan lesitin yang


mempertahankan dan melindungi integritas selubung lipoprotein dari sel spermatozoa dapat
mempertahankan dan melindungi spermatozoa dari cekaman dingin. Kuning telur juga
mengandung glukosa, vitamin yang larut dalam air dan larut dalam lemak sehingga
menguntungkan spermatozoa (Permatasari, W.D, E.T. Setiatin, dan D. Samsudewa, 2013).
Kuning telur tidak saja merupakan sumber lemak, namun juga sebagai sumber protein
yang berkisar antara 15-16% dan vitamin A (40.000 lU per 100 gr) . Lemak dalam kuning
telur tidak bersifat bebas, akan tetapi terikat dalam bentuk partikel lipoprotein. Lipoprotein
kuning telur terdiri atas 85% lemak dan 15% protein . Lemak dari lipoprotein terdiri atas
20% fosfolipid (lecithin, fosfatidil serin), 60% Lemak netral (trigeliserida) dan 5%
kolesterol (Ariyani, Eni, 2006).
BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Ariyani, Eni. 2006. Penetapan Kandungan Kolesterol Dalam Kuning Telur Pada Ayam Petelur.
Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian. Pusat Penelitian don Pengembangan
Peternakan.

Badan Pusat Statitiska. 2006. Statistika Peternakan. Jakarta.

Ducha, N. 2012. Suplementasi Kuning Telur Dalam Pengencer CEP-2 Terhadap Kualitas dan
Integritas Membran Spermatozoa Sapi Limousin Selama Penyimpanan pada Suhu 4-5 oC.
Disertasi. Malang: Universitas Brawijaya

Dwitarizki, Novia Dimar, Ismaya, dan Widya Asmarawati. 2015. Pengaruh Pengenceran Sperma
Dengan Air Kelapa Dan Aras Kuning Telur Itik Serta Lama Penyimpanan Terhadap
Motilitas Dan Viabilitas Spermatozoa Domba Garut Pada Penyimpanan 5C. Buletin
Peternakan Vol. 39 (3): 149-156. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Fauziyah, A, P. Dwijananti. 2013. Pengaruh Radiasi Sinar X Terhadap Motilitas Sperma Pada
Tikus Mencit (Mus muculus). Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia.

Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Bandung: Alfabeta.

Gunawan, A. dan R. R. Noor. 20065. Pendugaan nilai heritabilitas bobot lahir dan bobot sapih
domba Garut tipe laga. Media Peternakan. 29: 715.

Karyadi, Didik. 2008. Strategi Pengembangan Usaha Peternakan Domba Rakyat (Kasus Desa
Cigudeg, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor). Skripsi dipublikasikan. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.

Kewilaa, Arnold I, Yon S. Ondho, Enny T. Setiatin. 2013. Pengaruh Berbagai Jenis Pengencer
Air Kelapa Muda Dengan Penambahan Kuning Telur Yang Berbeda Terhadap Kualitas
Spermatozoa Semen Cair Domba Ekor Tipis (Det). Jurnal. Mahasiswa Magister Ilmu
Ternak PPs Universitas Diponegoro.

Kostaman, T., I. K. Sutama, P. Situmorang, & I. G. M. Budiarsana. 2000. Pengaruh jenis


pengencer terhadap kualitas semen beku kambing peranakan etawah. Prosiding Seminar
Nasional Peternakan dan Veteriner ke-18. Pusat Penelitian Peternakan Badan Penelitian
dan Pengembangan Departemen Pertanian, Bogor. pp: 156-163.

Kusumaningrum, R. 2004. Fungsi produksi usaha penggemukan domba lokal sistem koloni di
Desa Pesawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Skripsi. Program Studi
Sosial Ekonomi Industri Peternakan. Departemen Sosial Ekonomi Ternak. Fakultas
Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Permatasari, W.D, E.T. Setiatin, dan D. Samsudewa, 2013. Studi Tentang Pengencer Kuning
Telur Dan Pengaruhnya Terhadap Kualitas Semen Beku Sapi Jawa Brebes. Animal
Agriculture Journal, Vol. 2. No. 1, 2013, p 143 151
Widhyari, Sus Derthi, Anita Esfandiari, Agus Wijaya, Retno Wulansari, Setyo Widodo, Leni
Maylina. 2015. Tinjauan Penambahan Mineral Zn dalam Pakan Terhadap Kualitas
Spermatozoa pada Sapi Frisian holstein Jantan. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI).
Vol. 20 (1): 72 77
LAMPIRAN

Merendam alat pada teepol Alat dan bahan di UV Memasukkan bahan-bahan


dalam erlenmeyer

Persiapan suplementasi Mengambil kuning telur


Menambahkan air DO dan
dengan kuning telur
dihomogenkan

Menambahkan pengencer Memindahkan suplementasi


Hasil suplementasi kuning
dasar pada Erlenmeyer berisi kuning telur pada tabung
telur
kuing telur dan sentrifuse.
dihomogenkan

Penambahan eosin untuk Proses fiksasi Viabilitas spermatozoa domba


mengamati viabilitas
spermatozoa
Lampiran Perhitungan

Viabilitas hari 0 setelah pengenceran

Pengulangan 1: 119 / (119+11) x 100% = 91,54%

Pengulangan 2: 103 / (103+10) x 100% = 91,15%

Pengulangan 3: 202 / (202+13) x 100% = 93,95%

Viabilitas hari 1 setelah pengenceran

Pengulangan 1: 111 / (111+12) x 100% = 90,24%

Pengulangan 2: 117 / (117+15) x 100% = 88,63%

Pengulangan 3: 109 / (109+23) x 100% = 82,58%

Viabilitas hari 2 setelah pengenceran

Pengulangan 1: 168 / (168+88) x 100% = 65,65%

Pengulangan 2: 148 / (148+45) x 100% = 69,59%

Pengulangan 3: 152 / (152+67) x 100% = 69,40%

Viabilitas hari 3 setelah pengenceran

Pengulangan 1: 46 / (46+87) x 100% = 34,58%

Pengulangan 2 : 54 / (54+96) x 100% = 36,00%

Pengulangan 3 : 41 / (41+88) x 100% = 31,78%