You are on page 1of 8

TEMU ILMIAH IPLBI 2016

Penerapan Aspek Green Material pada Kriteria Bangunan


Ramah Lingkungan di Indonesia
Dewi Rachmaniatus Syahriyah

Magister Arsitektur, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung.

Abstrak

Perkembangan bangunan merupakan salah satu sektor penyumbang terbesar terjadinya pemanasan
global. Hal ini terlihat pada penggunaan material bangunan yang berasal dari sumber daya alam
yang tak terbaharukan, serta penggunaan Bahan Perusak Ozon (BPO). Untuk itu, diperlukan aturan
yang jelas mengenai penggunaan material pada bangunan yang mengarahkan pada keberlanjutan
lingkungan dan disesuaikan dengan tahapan pengadaaan bangunan. Aturan ini kemudian dapat me-
ngarah pada kriteria bangunan hijau/green bulding. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis
hubungan penerapan aspek material ramah lingkungan (green material) pada kriteria green building
dengan siklus pengadaan material bangunan (building material life cycle). Metode analisis dilakukan
dengan membandingkan kriteria green material yang berasal dari peran kebijakan pemerintah serta
peran Green Building Council Indonesia (GBCI) yang didasarkan pada siklus pengadaan material
bangunan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagai salah satu aspek penting dalam
pembangunan ramah lingkungan, pemilihan material pada kriteria green material dari kedua peran
sebaiknya diterapkan secara berkesinambungan guna mewujudkan keberlanjutan lingkungan dari
material tersebut.

Kata-kunci : bangunan hijau, green material, siklus pengadaan material bangunan

Pengantar dunia kedua terbesar setelah sektor industri


makanan. Oleh karena itu pelaku industri ba-
Isu global warming merupakan isu yang sedang ngunan mengambil peran sangat penting untuk
marak diperbincangkan oleh masyarakat dunia. dapat mengurangi dampak lingkungan yang
Hal ini berkaitan dengan data dari Kementrian menyebabkan pemanasan global.
Lingkungan Hidup Republik Indonesia, yaitu
meningkatnya emisi gas karbondioksida (CO2), Green Building merupakan salah satu konsep
chlorofluorocarbon (CFC) dan metana di atmos- yang muncul dalam mendukung pembangunan
fer yang berdampak pada rusaknya lapisan ozon rendah karbon yakni melalui kebijakan dan
atau biasa disebut bahan perusak ozon (BPO). program peningkatan efisiensi energi, air dan
Semakin meningkatnya pengguna-an BPO, maka material bangunan serta peningkatan peng-
akan semakin tinggi pula upaya yang harus dila- gunaan teknologi rendah karbon. Penerapan
kukan untuk mencegah ter-jadinya pemanasan Green Building bukan saja memberikan manfaat
global. Sistem eksploitasi sumber daya alam secara ekologis, tetapi juga bernilai ekonomis,
juga mengambil peran dalam meningkatnya pe- dengan cara menurunkan biaya operasional dan
manasan global. Salah satu cara untuk mengu- perawatan gedung. Bangunan ramah lingkungan
rangi dampak global warming adalah dengan (Green Building) menurut peraturan Menteri
melakukan konservasi energi, termasuk dalam Negara Lingkungan Hidup Nomor 8 tahun 2010
sektor bangunan. tentang Kriteria dan Sertifikasi Bangunan Ramah
Lingkungan, adalah suatu bangunan yang me-
Menurut Berge (2009), sektor industri bangunan nerapkan prinsip lingkungan dalam perancangan,
merupakan sektor konsumsi sumber daya alam pembangunan, pengoperasian, dan pengelo-

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016 | H 179


Penerapan Aspek Green Material pada Kriteria Bangunan Ramah Lingkungan di Indonesia

laannya dan aspek penting penanganan dampak harus berasal dari bahan yang dapat digunakan
perubahan iklim. kembali atau terbarukan, dibuat secara aman
dan efisien tanpa menciptakan polusi atau lim-
Green building merupakan solusi konsep pro- bah yang berbahaya. Pendapat Mulvihill yang
perty untuk mengambil peran dalam mengu- terakhir ini biasanya kita kenal dengan istilah
rangi dampak global warming. Menurut Pera- green material. Sedangkan menurut Wulfram I.
turan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 8 Ervianto (2013), material ekologis atau ramah
tahun 2010, bangunan ramah lingkungan (green lingkungan yaitu material yang bersumber dari
building) adalah suatu bangunan yang mene- alam dan tidak mengandung zat-zat yang
rapkan prinsip lingkungan dalam perancangan, mengganggu kesehatan, misalnya batu alam,
pembangunan, pengoperasian, dan pengelo- kayu, bambu, tanah liat. Selain itu, menurut
laannya dalam aspek penting penanganan dam- Frick & Suskiyatno (2007) bahan bangunan
pak perubahan iklim. Prinsip lingkungan yang dapat diklasifikasikan brrdasarkan aspek peng-
dimaksud adalah mementingkan unsur peles- golongan ramah lingkungannya, seperti bahan
tarian fungsi lingkungan. Salah satu aspek yang bangunan yang dapat dibudidayakan kembali
dilihat adalah penggunaan material, se-hingga (regenerative), bahan bangunan alam yang
material memegang peranan penting terkait de- dapat digunakan kembali (recycling), bahan
ngan tujuan hemat energi dan ramah ling- bangunan alam yang mengalami perubahan
kungan. Pemilihan material bangunan yang transformasi sederhana, bahan bangunan alam
tepat yaitu dengan menggunakan green mate- yang mengalami beberapa tingkat perubahan
rial atau material ramah lingkungan dapat transformasi, serta bahan bangunan komposit.
menghasilkan bangunan yang berkualitas seka-
ligus ramah lingkungan, khususnya peman- Kebutuhan akan pembangunan properti yang
faatan material ekologis atau material yang semakin meningkat mendorong pihak industri
ramah lingkungan. material bangunan untuk menghasilkan inovasi
produk material bangunan yang ramah ling-
Green Material memiliki arti yang lebih luas dari kungan sehingga dapat bersaing di pasar in-
sekedar material ramah lingkungan. Pengertian dustri. Pemilihan dalam produk material menjadi
material ramah lingkungan sendiri pada umum- aspek yang sangat penting dalam mewujudkan
nya menyangkut dari sisi produk material itu konsep Green Building. Menurut Siagian (2005)
sendiri. Material ramah lingkungan adalah mate- terdapat beberapa faktor dan strategi yang
rial yang pada saat digunakan dan dibuang, harus dipertimbangkan dalam memilih material
tidak memiliki potensi merusak lingkungan dan bangunan :
mengganggu kesehatan. Sedangkan, Green Ma-
terial memiliki pengertian lebih besar selain a. Bangunan yang dirancang dapat dipakai
hanya dari sisi produk materialnya saja yang kembali dan memperhatikan
ramah lingkungan. Tetapi, juga meninjau keber- sampah/buangan bangunan pada saat
lanjutan dari sumber material, proses produksi, pemakaian.
proses distribusi, dan proses pemasangan. Serta b. Bahan bangunna tersebut dapat dipakai
dapat mendukung peng-hematan energi (energi kembali (didaur ulang)
listrik dan air), meningkatkan kesehatan dan c. Keaslian material
kenyamanan, dan efisiensi manajemen pera- d. Energi yang diwujudkan (embodied energy)
watan bangunannya. e. Produksi material
f. Dampak dari material
Peneliti senior United State Green Building g. Material yang mengandung racun
Council (USGBC), Martin Mulvihill menyatakan h. Efisiensi ventilasi
bahwa bahan kimia yang digunakan dari sumber i. Teknik konstruksi yang digunakan
bahan baku ke bangunan, dan melalui deko- j. Memprioritaskan material alami
misioning, haruslah aman bagi kesehatan k. Mempertimbangkan durabilitas dan umur
manusia dan lingkungan. Selain itu, material dari produk

H 186 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016


Dewi Rachmaniatus Syahriyah
Penerapan green material dalam pemenuhan nakan sebagai tolak ukur kualitas material da-
green building harus tetap didasarkan pada lam penggunaan pada bangunan sebagai Green
tahapan bangunan, baik dari perencanaan, Material. Dari tahap pre-building yaitu manu-
konstruksi, hingga penghunian. Untuk itu, perlu facturing (extraction, processing, packa-ging
diketahui apakah aturan mengenai green mate- dan shipping) aspek Green Material yang dapat
rial dapat diterapkan pada keseluruhan siklus dilihat antara lain adalah waste reduction,
hidup bangunan, khususnya di Indonesia. Ber- pollution prevention, recycled, embodied energy
dasarkan pembahasan ini, maka tulisan ini ber- reduction dan natural material.
tujuan untuk menganalisis hubungan penerapan
aspek material ramah lingkungan (green mate- Pada tahap penggunaan yaitu building operation
rial) pada kriteria green building dengan siklus (construction, installation, operation, dan main-
pengadaan material bangunan (building material tenance) aspek Green Material yang dapat
life cycle). dilihat adalah energy efficiency, water treatment
conservation, nontoxic, renewable energy sour-
Metode ce, dan longer life. Sedangkan pada tahap post-
building yaitu disposal/waste management (re-
Metode analisis dilakukan dengan membanding- cycling dan reuse) aspek Green Material yang
kan kriteria green material yang berasal dari dapat dilihat adalah biodegradable, recycleable,
peran kebijakan pemerintah serta peran Green reusable dan lainnya.
Building Council Indonesia (GBCI) yang dida-
sarkan pada siklus pengadaan material bangu- Kriteria Green Material: Kebijakan Pemerintah
nan. Kriteria green material didapatkan dari
kebiakan pemerintah yang tertuang dalam pera- Terkait dengan pembangunan ramah lingkungan
turan serta kriteria GBCI yang tertuang dalam atau juga bisa disebut bangunan hijau / Green
GREENSHIP. Analisis dilakukan dengan mengka- Building, terdapat dua kebijakan pemerintah
tegorikan masing-masing kriteria ke dalam siklus yang memuat kriteria dari sebuah bangunan
pengadaan material bangunan (building material agar dapat disebut banguan ramah lingkungan/
life cycle), sehingga didapatkan peran kriteria green building yaitu dalam Peraturan Menteri
green material pada masing-masing tahapan pe- Negara Lingkungan Hidup dan Rancangan
ngadaan. Peraturan Menteri (Rapermen) Pekerjaan Umum.

Analisis dan Interpretasi Dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan


Hidup Nomor 8 Tahun 2010 tentang Kriteria dan
Pembahasan dalam penulisan ini adalah analisis Sertifikasi Bangunan Ramah Lingkungan. Bab II
penerapan aspek Green Material dalam kriteria pasal 4, bangunan dapat dikategorikan sebagai
bangunan ramah lingkungan di Indonesia, yaitu bangunan ramah lingkungan apabila memenuhi
dilihat dari peran kebijakan pemerintah berupa kriteria antara lain :
peraturan yang berlaku dan peran lembaga
penilaian bangunan ramah lingkungan dari Gre- a. Menggunakan material bangunan yang
en Building Council Indonesia (GBCI) berupa ramah lingkungan
GREENSHIP. Kemudian kriteria ini akan dihu- b. Terdapat fasilitas, sarana dan prasarana
bungkan dengan siklus pengadaan material untuk konservasi sumber daya air dalam
bangunan (building material life cycle). bangunan gedung
c. Terdapat fasilitas, sarana dan prasarana
Building Material Life Cycle konservasi dan diversifikasi energi
d. Menggunakan bahan yang bukan perusak
Kriteria Green Material dapat dikelompokkan ozon dalam bangunan gedung
berdasarkan tiga tahap pembangunan (Kim, e. Terdapat fasilitas, sarana dan prasarana
1998), yaitu manufacturing process (pengadaan pengelolaan air limbah domestic pada
bangunan), building operation, dan waste ma- bangunan gedung
nagement. Pengelompokan ini juga dapat digu- f. Terdapat fasilitas pemilah sampah

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016 | H 185


Penerapan Aspek Green Material pada Kriteria Bangunan Ramah Lingkungan di Indonesia

g. Memperhatikan aspek kesehatan bagi bali kemasan pembungkus, pallets, dan


penghuni bangunan material yang tidak terpakai atau material
h. Terdapat fasilitas, sarana dan prasarana sisa yang ditimbulkan oleh produk yang
pengelolaan tapak berkelanjutan disediakannya.
i. Terdapat fasilitas, sarana dan prasarana Melakukan penjadwalan pengadaan mate-
untuk mengantisipasi bencana rial secara akurat untuk mengurangi pe-
nyimpanan.
Dari Peraturan Menteri ini dapat dilihat bahwa Mendorong penggunaan kembali material
aspek material memiliki peran yang utama da- untuk kantor proyek, bedeng pekerja kons-
lam menentukan kriteria sebuah bangunan truksi, dan gudang.
ramah lingkungan. Sub kriteria dari penggunaan Mendorong penggunaan kembali alat ban-
material adalah penggunaan material bangunan tu konstruksi seperti cetakan beton, peran-
yang bersifat eco-label dan merupakan material cah, dan alat bantu lainnya
bangunan lokal.
Dari kedua kebijakan pemerintah yang berlaku,
Dalam Rancangan Peraturan Menteri (Raper- dapat dilihat bahwa terdapat beberapa kriteria
men) Pekerjaan Umum Tentang Pedoman Tek- penting dalam mewujudkan pembangunan yang
nis Bangunan Hijau [9], kriteria bangunan hijau ramah lingkungan, salah satunya adalah dengan
dibedakan menjadi dua, yaitu: Pertama, kriteria memperhatikan aspek material bangunan yang
pembangunan yang mencakup aspek peren- menjadi dasar awal dalam suatu pembangunan.
canaan dan pelaksanaan. Kedua, kriteria pe-
manfaatan yang mencakup aspek pemelihara-an, Kriteria Green Material: GBCI
aspek perawatan, dan aspek pemeriksaan ber-
kala. Kriteria spesifik dari tahap pelaksanaan GBCI merupakan lembaga yang menyeleng-
adalah: garakan kegiatan sertifikasi bangunan hijau di
Indonesia. Sistem sertifikasi ini merupakan
a. Manajemen efisiensi energi penilaian rating suatu bangunan dalam upaya-
b. Manajemen efisiensi air nya menerapkan bangunan ramah lingkungan.
c. Manajemen penggunaan material Sistem rating ini disebut dengan GREENSHIP.
d. Manajemen pelaksanaan konstruksi. Penilaian GREENSHIP terbagi menjadi enam
kategori [10], yaitu:
Pada aspek penggunaan material, dapat dibagi
lagi menjadi beberapa kriteria material dalam a. Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Deve-
bangunan ramah lingkungan, yaitu: lopment/ASD)
b. Efisiensi Energi & Refrigeran (Energy Effi-
Menggunakan material secara efisien dan ciency & Refrigerant/EER)
cermat untuk mengurangi sisa bahan tak c. Konservasi Air (Water Conservation/WAC)
terpakai (zero waste, zero defect , dan d. Sumber & Siklus Material (Material
sistem pracetak) Resources & Cycle/MRC)
Menggunakan material yang bahan baku e. Kualitas Udara & Kenyamanan Uda-
dan proses produksinya ramah lingkungan. ra (Indoor Air Health & Comfort/IHC)
Menyiapkan area pemilahan dan menye- f. Manajemen Lingkungan Bangunan (Building
lenggarakan manajemen sampah untuk & Enviroment Management)
tempat material sisa pelaksanaan proyek
sebelum digunakan kembali dan/atau dida- Masing-masing aspek terdiri atas beberapa
ur ulang. rating yang mengandung kredit yang masing-
Mengutamakan penggunaan material lokal masing memiliki muatan nilai tertentu dan akan
hasil olahan yang mudahdiperoleh di sekitar diolah untuk menentukan penilaian. Poin Nilai
kawasan proyek. memuat standar-standar baku dan rekomendasi
Menggunakan pemasok bahan konstruksi untuk pencapaian standar tersebut. Salah satu
yang bersedia membawa/mengambil kem- aspek penilaian dari GREENSHIP adalah Material
H 186 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016
Dewi Rachmaniatus Syahriyah
Resource and Cycle (MRC), yaitu menempati bahan material kayu yang berertifikat
sebanyak 14 poin atau 14% dari nilai maksimum. legal sesuai dengan Peraturan Peme-
Kategori ini dibagi lagi menjadi 1 (satu) kriteria rintah tentang asal kayu, atau ber-
prasarat dan 6 (enam) kriteria penilaian, yaitu: sertifikasi dari pihak Lembaga Ekol-
abel Indonesia (LEI) atau Forest
MRC.P. Refrigeran Fundamental (Fundamental Stewardship Council (FSC)
Refrigerant)
Mencegah pemakaian bahan dengan MRC.5. Material Prafabrikasi (Prefab Material)
potensi merusak ozon yang tinggi, Meningkatkan efisiensi dalam penggu-
yaitu Tidak menggunakan chloro naan material dan mengurangi sam-
fluoro-carbon (CFC) sebagai refrigeran pah konstruksi. Yaitu dengan meng-
dan halon sebagai bahan pemadam gunakan material modular atau prafa-
kebakaran brikasi

MRC.1. Penggunaan Gedung dan Material MRC.6. Material Regional (Regional Material)
Bekas (Building and Material Reuse) Mengurangi jejak karbon dari moda
Menggunakan material bekas bangu- transportasi untuk distribusi dan men-
nan lama dan/atau dari tempat lain dorong pertumbuhan ekonomi dalam
untuk mengurangi penggunaan bahan negeri. Yaitu dengan menggunakan
mentah yang baru, sehingga dapat material yang lokasi asal bahan baku
mengurangi limbah pada pembuangan utama dan pabrikasinya berada dalam
akhir serta memper-panjang usia pe- radius 1.000 km dari lokasi proyek
makaian suatu bahan material. atau masih berada dalam wilayah
Republik Indonesia.
MRC.2. Material Ramah Lingkungan (Environ-
mentally Friendly Material) Dari seluruh aspek penilaian GREENSHIP me-
Mengurangi jejak ekologi dari proses ngenai penggunaan material pada bangunan
ekstraksi bahan mentah dan proses Green, dapat dilihat bahwa kriteria material
produksi material. Yaitu dengan me- sebagai Green Building Material memiliki peran-
nggunakan material yang memiliki nya dan kontribusinya masing-masing dalam
sertifikat sistem manajemen ling- mewujudkan konsep Green Building.
kungan pada proses produksinya,
menggunakan material yang merupa- Kesimpulan
kan hasil proses daur ulang, atau
menggunakan material yang bahan Dari paparan di atas, dapat dilihat bahwa dalam
baku utamanya berasal dari sumber mewujudkan bangunan ramah lingkungan perlu
daya terbaharukan. memperhatikan beberapa aspek penting baik
dalam tahap perencanaan, pembengunan, peng-
MRC.3. Penggunaan Refrigeran tanpa ODP gunaan hingga tahap renovasi. Pemilihan ma-
(Non ODS Usage) terial yang akan digunakan dalam sebuah pem-
Menggunakan bahan yang tidak me- bangunan menjadi salah satu aspek penting
miliki potensi merusak ozon. Yaitu dalam mewujudkan pembangunan ramah ling-
dengan tidak menggunakan bahan kungan. Hal ini dapat dilihat dari peran material
perusak ozon (BPO) pada seluruh sis- yang terwujud dalam tiga tahap pembangunan
tem pendingin bangunan. yaitu pre-building, building operation, hingga
post-building. Hal terpenting dalam menentukan
MRC.4. Kayu Bersertifikat (Certified Wood) sebuah bangunan mengambil peran dalam me-
Menggunakan bahan baku kayu yang wujudkan konsep ramah lingkungan/green buil-
dapat dipertanggungjawabkan asal- ding adalah mencocokkan kriteria dari bangunan
usulnya untuk melindungi kelestarian ramah lingkungan/green building itu sendiri.
hutan. Yaitu dengan menggunakan Dalam paparan ini telah disebutkan bahwa

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016 | H 185


Penerapan Aspek Green Material pada Kriteria Bangunan Ramah Lingkungan di Indonesia

terdapat dua peran yang mewujudkan kriteria pemerintah dan peran lembaga penilaian Green
Green Building, yaitu dari peran kebijakan Building.

Tabel 1. Perbandingan Penerapan Kriteria Penggunaan Material terhadap Building Material Life Cycle

Building Material Life Cycle


Kriteria
Pre-Building Building Operation Post-Building
Peran Kebijakan material bangunan Menggunakan
Pemerintah yang bersifat eco- bahan yang bukan
Peraturan Menteri label perusak ozon dalam
Negara Lingkungan material bangunan bangunan gedung
Hidup lokal.
Rancangan Peraturan Menggunakan Menyiapkan area
Menteri (Rapermen) material secara pemilahan
Pekerjaan Umum efisien dan cermat dan menyelenggara
untuk mengurangi kan manajemen
sisa bahan tak sampah untuk
terpakai tempat material sisa
Menggunakan pelaksanaan proyek
material yang sebelum digunakan
bahan baku dan kembali dan/atau
proses produksinya didaur ulang.
ramah lingkungan Menggunakan
Mengutamakan pemasok bahan
penggunaan konstruksi yang
material lokal hasil bersedia
olahan yang membawa/mengam
mudahdiperoleh di bil kembali kemasan
sekitar kawasan pembungkus,
proyek pallets, dan material
Melakukan yang tidak terpakai
penjadwalan atau material sisa
pengadaan material yang ditimbulkan
secara akurat oleh produk yang
untuk mengurangi disediakannya.
penyimpanan Mendorong
penggunaan
kembali material
untuk
kantor proyek,beden
g pekerja
konstruksi, dan
gudang
Mendorong
penggunaan
kembali alat
bantu konstruksi
seperti cetakan
H 186 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016
Dewi Rachmaniatus Syahriyah

beton, perancah,
dan alat bantu
lainnya.
Peran Lembaga Penilaian Penggunaan Refrigeran
GREENSHIP Gedung dan Fundamental
Material Bekas (Fundamental
(Building and Refrigerant)
Material Reuse) Penggunaan
Material Ramah Refrigeran tanpa
Lingkungan ODP (Non ODS
(Environmentally Usage)
Friendly Material)
Kayu Bersertifikat
(Certified Wood)
Material Prafabrikasi
(Prefab Material)
Material Regional
(Regional Material)

Pada tabel 1, dapat dilihat bahwa penerapan Daftar Pustaka


aspek material dari masing-masing kriteria dapat
mewakili dari ketiga tahapan Building Material Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
(2011). Pengertian Lapisan Ozon, Bahan Perusak
Life Cycle. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga
Ozon & Dampaknya Bagi Kesehatan. Kementerian
kriteria tersebut sebaiknya digunakan secara
Lingkungan Hidup Republik Indonesia
berkesinambungan sehingga dapat mewujudkan Berge, Bjorn. (2009). The Ecology of Building
pembangunan dengan konsep Green Building Materials (second edition), London: Architectural
secara nyata. Press.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor
Adanya peran pemerintah dalam menerapkan 08 Tahun 2010 Tentang Kriteria Dan Sertifikasi
kriiteria bangunan ramah lingkungan menun- Bangunan Ramah Lingkungan
jukkan bahwa di Indonesia kesadaran akan Envisioning a Perfect Building Material, (2013).
pentingnya penggunaan Green Material sudah (http://insight.gbig.org/envisioning-a-perfect-
building-material/). diakses pada
terwujudkan. Hal ini juga diperkuat dengan
Ervianto, Wulfram I. (2013). Kajian Kerangka Legislatif
telah diwujudkannya sistem penilaian bangunan Penerapan Green Construction Pada Proyek
oleh GBCI yang bergun untuk mengevaluasi Konstruksi Gedung Di Indonesia. Institut Teknologi
kinerja dari bangunan ramah lingkungan / Green Bandung
Building yang telah terwujud. Frick, H. & Suskiyatno, FX. B. (2007). Dasar-dasar
Arsitektur Ekologis. Yogyakarta: Kanisius &
Hanya saja masih perlu dilakukan penelitian Bandung: ITB.
lebih mendalam guna mengembangka dan Siagian, Indira Shita. (2005). Bahan Bangunan yang
memfokuskan lebih terperinci mengenai peng- Ramah Lingkungan (Salah Satu Aspek Penting
Dalam Konsep Sustainable Development).
gunaan Green Material dalam konsep bangunan
Universitas Sumatera Utara.
ramah lingkungan / Green Building.
(https://www.academia.edu/8142030/Bahan_Bangu
nan_yang_Ramah_Lingkungan_Salah_Satu_Aspek_P
enting_Dalam_Konsep_Sustainable_Development).
Diakses pada
Kim, Jong-Jin. (1998). Sustainable Architecture
Module: Qualities, Use, and Examples of Sustainable

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016 | H 185


Penerapan Aspek Green Material pada Kriteria Bangunan Ramah Lingkungan di Indonesia

Building Materials. National Pollution Prevention


Center for Higher Education
Rancangan Peraturan Menteri (Rapermen) Pekerjaan
Umum Tentang Pedoman Teknis Bangunan Hijau.
Green Building Council Indonesia. (2014). GREENSHIP
untuk Bangunan Baru Versi 1.2. Ringkasan Kriteria
dan Tolak Ukur

H 186 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016