You are on page 1of 15

Asuhan keperawatan pada kasus

difteri

Disusun Oleh :

1. Deny bayu pratama (2014080004)


2. Halimatus sakdiyah (2014080006)
3. Husnul khatimah (2014080007)

Dosen Pembimbing
Lina Madyastuti R S.Kep.Ns.,M.kep

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik


2015-2016

Kata Pengantar

1
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang DIFTERI.
dengan jadwal yang telah direncanakan. Terdorong oleh rasa ingin tahu, kemauan, kerjasama dan
kerjakeras, kami serahkan seluruh upaya demi mewujudkan keinginan ini.
Makalah ini kami buat untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan untuk melengkapi dan
menyempurnakan suatu mata kuliah.
Kami menyadari, bahwa selesainya makalah ini tidak lepas dari dukungan serta bantuan
baik berupa moral maupun material dari semua pihak terkait. Oleh kerena itu, dengan segala
kerendahan hati kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Dosen pembimbing memberikan
masukan dan petunjuk serta saran-saran yang baik.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita, Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa saran yang membangun.

BAB I
PENDAHULUAN
2
1.1 Latar belakang

Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease).
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri corynebacterium diphtheria yaitu kuman yang
menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, Nasofaring (bagian antara hidung dan
faring atau tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui hubungan dekat, udara
yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin
penderita.
Penderita difteri umumnya anak-anak, usia dibawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus
difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Selama permulaan pertama
dari abad ke-20, difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak-anak muda.
Penyakit ini juga dijmpai pada daerah padat penduduk dingkat sanitasi rendah. Oleh karena
itu, menjaga kebersihan diri sangatlah penting, karena berperan dalam menunjang kesehatan
kita. Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit.
Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyptheria, Pertusis, Tetanus), penyakit difteri jarang
dijumpai. Vaksi imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan system
kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan
vaksi difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini.

1.2 Rumusan masalah


1.apakah definisi difteri?
2.apa etiologi dari difteri?
3.bagaimana gejala difteri?

1.3 TUJUAN UMUM


Untuk memenuhi tugas untuk mata kuliah keperawatan anak

1.4 TUJUAN KHUSUS


Untuk mengetahui pengertian difteria
Untuk megetahui etiologi difteria
Untuk mengetahui tanda dan gejala difteria
Untuk mengetahui pengobatan dan pencegahan penyakit difteria
Untuk mengetahui askep untuk penyakit difteria

BAB II
PEMBAHASAN
3
1. Difteri
Difteria adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang di sebabkan oleh kuman
corynebacterium diphtheria.mudah menular dan yang di serang terutama traktus respiratorius
bagian atas dengan tanda khas terbentuknya pseudomembran dan di lepaskannya eksotoksin
yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal.

2. Etioloogi
Di sebabkan oleh corynebacterium diphtheria,bakteri gram positif yang bersifat
polimorf,tidak bergerak dan tidak membentuk spora.pewarnaan sediaan langsung dapat di
lakukan dengan biru metilen atau biru toluidin.basil ini dapat di temukan dengan langsung
dari lesi.

3. Sifat-sifat kuman
Polimorf,gram positif,tidak bergerak dan tidak membentuk spora,mati pada
pemanasan 60cc selama 10 menit,tahan sampai beberapa minggu dalam es,air,susu dan lender
yang telah mongering.terdapat 3jenis basil yaitu bentuk gravis,mitis dan intermedius atas
dasar perbedaan bentuk kolonin dalam biakan agar darah yang mengandung kalium telurit.
Basil dapat membentuk
1. pseudomembran yang sukar diangkat,mudah berdarah dan berwarna putih keabu-abuan
yang meliputi daerah yang terkena terdiri dari fibrin,leukosit,jaringan nekrotik dan basil.
2. eksotoksin yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan setelah beberapa jam di
absorbs dan memberikan gambaran perubahan jaringan yang khas terutama pada otot
jantung,ginjal dan jaringan saraf.satu perlima puluh ml toksin dapat membunuh marmut
dan lebih kurang 1/50 dosisi ini di pakai untuk uji schick.
Schick tes adalah Tes kulit ini digunakan untuk menetukan status imunitas penderita.tes
ini tidak berguna untuk diagnosis dini karena baru dapat dibaca beberapa hari kemudian.
Caranya:0,1 ml (1/50 MLD)cairan toksin difteri di suntikkan intradermal.bila
dalam tubuh penderita tidak ada antitoksin,terjadi pembengkakan,eritema dan sakit yang
terjadi 3-5 hari setelah suntikan.bila pada tubuh penderita terdapat antitoksin maka
toksin akan dinetralisir sehingga tidak terjadi reaksi kulit.

4. patogenesis
basil hidup dan berkembang pada traktus respitarius bagian atas terlebih-lebih bila terdapat
peradangan kronis pada tonsil,sinus dan lain-lain.tetapi walaupun jarang basil dapat pula
hidup pada daerah vulva,telinga dan kulit.pada tempat ini basil membentuk pseudomembran
dan melepaskan eksotoksin.pseudomembran dapat timbul local atau kemudian menyebar dari
faring atau tonsil ke laring dan seluruh traktus respiratorius bagian atas sehingga
menimbulkan gejala yang lebih berat .kelenjar getah bening sekitarnya akan mengalami
hyperplasia dan mengandung toksin.eksotoksin dapat mengenai jantung dan menyebabkan
miokarditis toksik atau mengenai jaringan saraf perifer sehingga timbul paralisis terutama
pada otot-otot pernafasan.toksin juga menimbulkan nekrosis fokal pada hati dan
ginjal,malahan dapat timbul nefritis interstitialis(jarang sekali).kematian terutama di sebabkan
oleh sumbatan membrane pada laring dan trakea,gagal jantung,gagal pernafasanatau akibat
komplikasi yang sering yaitu bronkopneumonia.

5. Epidemiologi
Penularan umumnya melalui udara,berupa infeksi droplet selain itu dapat pula melalui
benda atau makanan yang terkontaminasi.
4
6. Klasifikasi
Biasanya pembagian di buat menurut tempat atau lokalisasi jaringan yang terkena
infeksi.pembagian berdasarkan berat ringannya penyakit jug di ajukan oleh beach dkk.
(1950) sebagai berikut:
infeksi ringan
Pseudomembran terbatas pada mukosa hidung atau fausial dengan gejala hanya nyeri
menelan.
infeksi sedang
Pseudomembran menyebar lebih luas sampai ke dinding posterior faring dengan
edema ringan laring yang dapat diatasi dengan pegobatan konservatif.
infeksi berat
Di sertai gejala sumbatan jalan nafas yang berat,yang hanya dapat diatasi dengan
trakeastomi.juga gejala komplikasi miokarditis,paralisis ataupun nefritis dapat
menyertainya.

7. Gejala klinis
Masa tunas 2-7 hari.selanjutnya gejala klinis dapat di bagi dalam gejala umum dan gejala
lokal serta gejala akibat eksotoksin pada jaringan yang terkena gejala umum yang timbul
berupa demam tidak terlalu tinggi,lesu,pucat,nyeri kepala dan anoreksia sehingga tampak
penderita sangat lemah sekali.gejala ini biasanya disertai dengan gejala khas untuk setiap
bagian yang terkena seperti pilek atau nyeri menelan atau sesak nafas dengan serak dan
stridor,sedangkan gejala akibat eksotoksin bergantung kepada jaringan yang terkena seperti
miokarditis,paralisis jaringan saraf atau nefritis.
1. Difteri hidung
Gejalanya paling ringan dan jarang terdapat (hanya 2%).mula-mula hanya tampak
pilek,tetapi kemudian sekeret yang kluar tercampur darah sedikit yang berasal dari
pseudomembran.penyebaran pseudomembran dapat pula mencapai faring dan
laring.penderita diobati seperti penderita difteri lainnya.
2. Difteri faring dan tonsil (difteri fausial)
Paling sering di jumpai (75%).terdapat radang akut tenggorokan,demam sampai
38,5cc,takikardi,tampak lemah,napas berbau,timbul pembengkakan kelenjar regional
(bull neck).membran dapat berwarna putih,abu-abu kotor,atau abu kehijauan dengan
tepi yang sedikit terangkat.bila membran diangkat akan timbul pendarahan.tetapi
prosedur ini dikontradikasikan memper cepatpenyerapan toksin.

3. Difteri laring dan trakea


Lebih sering sebagai jalaran difteri faring dan tonsil (3 kali lebih banyak )dari pada
primer mengenai laring.gejala gangguan jalan nafas berupa suara serak dan stiridor
inspirasi jelas dan bila lebih berat dapat timbul sesak nafas berat,sianosis,demam
sampai 40 cc dan tampak retraksi suprasternal serta epigastrium.pembesaran kelenjar
regional akan menyebabkan bull neck.pada pemeriksaan laring tampak
kemerahan,sebab,banyak sekeret dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran.bila
anak terlihat sesak dan payah sekali maka harus segera ditolong dengan tindakan
trakeostomi sebagai pertolongan pertama.
4. Difteri kutaneus
Merupakan keadaan yang sangat jarang sekali terdapatan eng tie (1965) mendapatkan
30% infeksi kulit yang diperiksanya mengandung kuman difteri.dapat pula timbul di
daerah konjungtiva,vagina dan umbilikus.

5
8. Diagnosis
Diagnosis dini difteri sangat penting karena keterlambatan pemberian antitoksin
sangat mempengaruhi prognosa penderita.Diagnosis harus segera ditegakkan berdasarkan
gejala-gejala klinik tanpa menunggu hasil mikrobiologi.karena preparat smear kurang dapat
di percaya,sedangkan untuk biakan membutuhkan waktu beberapa hari.
adanya membran di tenggorok tidak terlalu spesifik untuk difteri,karena beberapa
penyakit lain juga dapat ditemui adanya membran.tetapi membran pada difteri agak berbeda
dengan membran penyakit lain,warna membran pada difteri lebih gelap dan lebih keabu-
abuan disertai dengan lebih banyak fibrin dan melekat dengan mukosa dibawahnya.bila
diangkat terjadi pendarahan.biasanya dimulai dari tonsil dan menyebar ke uvula.

9. Diagnosa banding
Pada difteri nasal perdarahan yang timbul Harus dibedakan dengan perdarahan
akibat luka dalam hidung,korpus alienium atau sifilis kongenital.
a) Tonsilitis folikularis atau lakunaris
terutama bila membran masih berupa bintik-bintik putih.anak harus dianggap
sebagai penderita difteri bila panas tidak terlalu tinggi tetapi anak tampak lemah dan
terdapat membran putih kelabu dan mudah berdarah bila diangkat.tonsilitis lakunaris
biasanya disertai panas yang tinggi sedangkan anak tampak tidak terlampau
lemah,faring dan tonsil tampak hiperimis dengan membran putih kekuningan,rapuh
dan lembek,tidak mudah berdarah dan hanya terdapat pada tonsil saja.
b) Angina plaut vincent
penyakit ini juga membentuk membran yang rapuh,tebal,berbau dan tidak
mudah berdarah.sediaan langsung akan menunjukkan kuman fisiformis (gram
positif) dan spirila (gram negatif).
c) Infeksi tenggorok oleh mononukleosus infeksiosa
terdapat kelainan ulkus membranosa yang btidak mudah berdarah dan
disertai pembengkakan kelenjar umum.khas pada penyakit ini terdapat peningkatan
monosit dalam darah tepi.
d) Blood dyscrasia (misal agranulositosis dan leukemia)
mungkin pula ditemukan ulkus membranusa pada faring dan tonsil.difteri
laring harus dibedakan dengan laringitis akuta,laringotrakeitis,laringitis
membranosa(dengan membran rapuh yang tidak berdarah)atau benda asing pada
laring,yang semuanyaakan memberikan gejala stridor inspirasi dan sesak.

10. Pengobatan

1. Pengobatan umum
terdiri dari perawatan yang baik,mutlak ditempat tidur,isolasi penderita dari
pengawasan yang ketat atas kemungkinan timbulnya komplikasi antara lain
pemeriksaan EKG setiap minggu.
2. Pengobatan spesifik ada 3 :
a. Anti diphtheria serum(ADS) diberikan sebanyak 20.000 U/hari selama 2 hari
berturut-turut dengan sebelumnya dilakukan uji kulit dan mata.bila ternyata
penderita peka terhadap serum tersebut,maka harus dilakukan desensitisasi
dengan cara besredka.
b. Antibiotika.di bagian ilmu kesehatan anak FKUI-RSCM jakarta diberikan
penisilin prokain 50.000 U/kgbb/hari sampai 3 hari bebas panas.pada pederita
yang dilkukan trakeaostomi,ditambahkan kloram fenikol 75
mg/kgbb/hari,dibagi 4 dosis.

6
c. Kortikostiroid.obat ini di maksudkan untuk mencegah timbulnya komplikasi
miokarditis yang sangat berbahaya.dapat diberikanprednison 2
mg/kgbb/hari,selama 3 minggu yang kemudian dihentikan secara bertahap.

11. Komplikasi
1. Saluran pernafasan
obstruksi jalan nafas dengan segala akibatnya,bronkopneumonia atelektasis.
2. Kardiovaskuler
miokarditis akibat toksin yang dibentuk kuman penyakit ini
3. Urogenital
dapat terjadi nefritis
4. Susunan saraf
kira-kira 10% penderita difteri akan mengalami komplikasi yang mengenai sistem
susunan saraf terutama sistem motorik.

12. Pencegahan
1. Isolasi
penderita penderita difteri harus diisolasi dan baru dapat dipulangkan setelah
pemeriksaan sediaan langsung menunjukkan tidak terdapat corynebacterium diphtheria 2
kali berturut-turut.
2. Imunisasi
imunisasi dasar di mulai pada umur 3 bulan di lakukan 3 kali berturut-turut dengan
selang waktu 1 bulan.biasanya di berikan bersama-sama toksoid tetanus dan basil
B.pertusis yang telah di matikan sehingga di sebut tripel vaksin DTP dan diberikan
dengan dosis 0,5 ml subcutan atau intramuskular .vaksinasi ulang dilakukan 1 tahun
sesudah suntikan terakhir dari imunisasi dasar atau kira-kira umur 1 -2 tahun dan pada
umur 5 tahun.selanjutnya setiap 5 tahun sampai dengan usia 15 tahun hanya di berikan
vaksin difteri dan tetanus (vaksin DT) atau apabila ada kontak dengan penderita difteri.

3. Pencarian dan kemudian mengobati karier difteri .


dilkukan dengan uji schick,yaitu bila hasil negatif (mungkin penderita karier atau
pernah mendapat imunisasi)mka harus dilakukan hapusan tenggorok.jika ternyata
ditemukan corynebacterium diphtheria,penderita harus diobati dan bila perlu dilakukan
tonsilektomi.

13.Prognosis
Nelson berpendapat kematian penderita difteri sebesar 3-5% dan sangat bergantung pada:
1. Umur penderita,karena makin muda umur anak prognosis makin buruk.
2. Perjalanan penyakit,karena makin lanjut makin buruk proknosisnya.
3. Letak lesi difteri
4. Keadaan umum penderita,misalnya prognosisnya kurang baik pada penderita gizi
kurang.
5. Pengobatan.makin lambat pemberian antitoksin,prognoasis akan makin buruk.

ASUHAN KEPERAWATAN

7
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK An.z.,
di Ruang Anak RSUD ibnu sina bunder
Tanggal Pengkajian : 12 januari 2014
Jam : 09.30 WIB

IDENTITAS
Nama anak : An z
TTL : gresik,8/10/2004
Umur : 11 tahun
Nama Ayah/ Ibu : Tn. x/ Ny.x
Pekerjaan Ibu : Buruh
Alamat : Penanggulan RT 04 RW I Pegandon - Kendal
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pendidikan ayah : SD
Pendidikan Ibu : SD
Diagnosa :difteri

Riwayat sakit dan kesehatan


3.1.2 Riwayat Kesehatan
1. keluhan utama
batuk dan bersin
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
An z mengalami demam yang tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, sakit kepala, anoreksia
An z mengeluh sakit menelan, menggigil, malaise, sakit tenggorokan, batuk.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Tidak ada
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
ada keluarga yang mengalami difteri

3.1.3 Pemeriksaan Fisik


Secara TTV didapatkan :
1. Suhu tubuh : < 38,9 c
2. Pernafasan : 26 x/menit (meningkat)
3. Tekanan darah : 100/70 mmHg (menurun)
4. Nadi : 94x/menit (meningkat)

8
3.2 Diagnosa keperawatan
Dari beberapa data yang di dapatka pada pasien, kami menyimpulkan diagnosa yang dapat muncul
yaitu :

1. Pola nafas napas tidak efektif b/d edema laring.


2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia.
3. Nyeri akut b/d proses inflamasi.
Sumber : (Diagnosa Keperawatan : defiisi dan klasifikasi 2009-2011/editor, T. Heather Herdman ;
ahli bahasa, Made Surmawati, Dwi Widiatri, Estu Tiar ; editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester,
Jakarta : EGC, 2010 )

Intervensi Keperawatan

Sumber : ( Buku saku diagnosa dengan intervensi NIC dan criteria hasil NOC/ Judith M.
Wilkinson : ahli bahasa, Widyawati.. [et al.] : editor edisi Bahasa Indonesia, Eny Meiliya, Monica
Ester. Ed. 7. Jakarta : EGC, 2006.)

3.3 Intervensi Keperawatan

Rencana Keperawatan

Dx Keperawatan Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi

9
NOC :
Respiratory status :
Airway patency.

Vital sign status

Tujuan : Pola nafas pasien


kembali normal.

Kriteria hasil :
1. Respiratory status : Airway patency
o Frekuensi pernafasan dlm
rentang normal Akitifitas Keperawatan :

o Irama nafas sesuai dengan Observasi tanda tanda vital.


yang diharapkan.
Posisikan pasien semi fowler.
o Pengeluaran sputum pada
jalan nafas Anjurkan pasien agar tidak terlalu
banyak bergerak.
o Tidak ada suara nafas
tambahan Ajarkan pasien untuk melakukan batuk
efektif
o Bernafas mudah
1.Pola nafas napas Kolaborasi dengan tim medis dalam
tidak efektif b/d edema o Tidak ada dyspnea pemberian terapi Oxygen
laring.

2. Ketidak NOC : 1. Nutritional status : food and fluid intake


seimbangan nutrisi Nutritional status : Aktivitas Keperawatan :
kurang dari kebutuhan Adequacy of nutrient
tubuh b/d anoreksia. Monitor intake kalori dan kualitas
Nutritioal status : food konsumsi makanan.
and fluid intake

10
Tujuan : Nutrisi klien dapat
terpenuhi.

Kriteria hasil :

o Klien dapat mengetahui


tentang penyakit yang
dideritanya.

o Adanya minat dan selera Berikan porsi kecil dan makanan


makan. lunak/lembek.

o Porsi makan sesuai Berikan makan sesuai dengan selera.


kebutuhan
Timbang BB tiap hari
o BB meningkat.

3. Nyeri akut b/d NOC : 1. Pain level


proses inflamasi Pain level Aktifitas Keperawatan :

Pain control Lakukan pengkajian nyeri secara


menyeluruh meliputi lokasi, durasi,
Tujuan : nyeri berkurang atau frekuensi, kualitas, keparahan nyari dan
hilang. factor pencetus nyeri

Kriteria hasil : Observasi ketidaknyamanan non verbal

o Pasien dapat mengatakan 2. Pain control


nyeri yang dirasakan
Akitivitas Keperawatan :
o Nyeri berkurang
Ajarkan untuk menggunakan teknik non
farmakologi misal relaksasi, guided imageri,

11
terapi musik dan distraksi

Kendalikan factor lingkungan yang


dapat mempengaruhi respon pasien terhadap
o Wajah tidak meringis. ketidaknyamanan misal suhu, lingkungan,
cahaya, kegaduhan.
o Skala nyeri berkurang.( 0-2 )
Kolaborasi: pemberian analgetik sesuai
o TTV normal indikasi

Sumber : ( Buku saku diagnosa dengan intervensi NIC dan criteria hasil NOC/ Judith M.
Wilkinson : ahli bahasa, Widyawati.. [et al.] : editor edisi Bahasa Indonesia, Eny Meiliya, Monica
Ester. Ed. 7. Jakarta : EGC, 2006.)

3.4 Implementasi

No Dx Keperawatan Implementasi Keperawatan

1 Pola nafas napas tidak efektif b/d Mengobservasi tanda tanda vital.
edema laring. Memposisikan pasien semi fowler.

Menganjurkan pasien agar tidak terlalu banyak


bergerak.

12
Mengajarkan pasien untuk melakukan batuk efektif

Mengkolaborasi dengan tim medis lain, dalam


pemberian terapi Oxygen

Memonitor intake kalori dan kualitas konsumsi


makanan.
Memberikan porsi kecil dan makanan
lunak/lembek.

Memberikan makan sesuai dengan selera.


Ketidak seimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh b/d Menimbang BB tiap hari
2 anoreksia.

Melakukan pengkajian nyeri secara menyeluruh


meliputi lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, keparahan
nyari dan factor pencetus nyeri
Mengobservasi ketidaknyamanan non verbal

Mengajarkan untuk menggunakan teknik non


farmakologi misal relaksasi, guided imageri, terapi
musik dan distraksi

Mengendalikan factor lingkungan yang dapat


mempengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan misal suhu, lingkungan, cahaya,
kegaduhan.

Mengkolaborasi: pemberian analgetik sesuai


indikasi
3 Nyeri akut b/d proses inflamasi

13
3.5 Evaluasi
Setelah di lakukan implementasi, maka evaluasi kita kepada pasien yaitu :

Pola nafas pasien kembali normal, dan pasien tidak mengalami dypnea lagi
Nutrisi pasien dapat terpenuhi, dan berat badan dapat bertambah
Nyeri yang di alami pasien dapat berkurang, dan juga bisa nyerinya akan hilang

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Difteria adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman
corynebacterium diphtheria.mudah menular dan yang serang terutama traktus respiratorius
bagian atas dengan tanda khas terbentuknya pseudomembran dan dilepaskannyaeksotoksin
yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal.
Tanda dan gejalanya adalah demam yang tidak terlalau tinggi, lesu, pucat, sakit kepala,
anoreksia, lemah,nyeri telan,sesak napas,serak hingga adanya stridor.

Saran

untuk pembuatan makalah ini saya menyadari masih banyak kekurangan saya berharap
bagi pembacanya untuk mengkritik guna untuk menyempurnakan makalah ini.terima kasih

DAFTAR PUSTAKA
http://keperawatansite.blogspot.com/2013/08/askep-difteri.html. di unduh pada tanggal 28
November 2014 pukul 13.30
http://saputraaguseko.wordpress.com/keperawatan/anatomi/anatomi-sistem-pernafasan/ di
unduh pada tanggal 12 Desember 2014 pukul 14.00
Diagnosa Keperawatan : defiisi dan klasifikasi 2009-2011/editor, T. Heather Herdman ; ahli
bahasa, Made Surmawati, Dwi Widiatri, Estu Tiar ; editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester,
Jakarta : EGC, 2010

14
Buku saku diagnosa dengan intervensi NIC dan criteria hasil NOC/ Judith M. Wilkinson :
ahli bahasa, Widyawati.. [et al.] : editor edisi Bahasa Indonesia, Eny Meiliya, Monica Ester. Ed. 7.
Jakarta : EGC, 2006.
Bagikan ini:

15